Pengumuman
Coming Soon TRAIPENMADAS 2022!!!

Menyelami Kisah Jeffrey Dahmer Si Monster Milawaukee

Belakangan terkenalnya serial “Monster: The Jeffrey Dahmer Story” yang menimbulkan banyak reaksi bagi para penikmat film. Serial ini tayang di salah satu media penyedia layanan streaming film terkenal, Netflix, pada 21 September lalu. Serial ini diangkat dari sebuah kisah nyata pembunuh berantai, Jeffrey Dahmer, yang terjadi di Kota Milawaukee, Negara bagian Wiconnsin, Amerika Serikat pada tahun 1991.

Dalam serial ini, semua yang mengenai Dahmer ditampilkan secara gamblang. Serial dibangun berdasarkan sisi pandang masa hidup Jeffrey Dahmer, keluarga korban hingga warga kulit hitam di Kota Milawaukee. Pria yang berjumlah 17 dan anak laki-laki menjadi korban Dahmer secara keji selama 1978-1991. Kisah ini benar-benar mengingatkan betapa buruknya peradilan pada masa itu, kebrutalan, serta rasisme yang diikuti bobroknya sistem kepolisian.

Tidak mengagetkan bahwa serial ini mampu membawa mimpi buruk bagi para penontonnya. Rasa jijik dan mual bahkan mampu dihadirkan oleh serial ini. Reaksi-reaksi muncul dari banyak pihak. Beberapa memberikan pujian terhadap serial ini, sisi berlawanan menanggap serial ini tidak pantas karena tidak menghormati keluarga para korban.

Beberapa adegan kilas balik dalam serial ini, Dahmer ditampilkan sebagai sesosok pria dengan masa kecil yang tidak begitu menyenangkan: pertikaian kedua orang tua yang berujung perceraian. Dalam narasi yang disajikan pada awal serial, belum ada yang mengetahui apa yang membuat seorang Dahmer dapat melakukan kekejian seperti itu.

Dahmer kecil ditampilkan sebagai anak yang pendiam dan dianggap aneh bagi anak-anak seumurnya. Keanehannya ditambah dengan ketertarikannya pada nekropsi (pembedahan bangkai) hewan. Dahmer menyukai bagaimana cara dan proses melakukan pembedahan pada hewan yang telah mati: rakun, janin babi hingga tikus.

Ayah Dahmer—yang ingin menjadi seorang ayah yang baik untuk anaknya juga memiliki kemampuan dalam melakukan nekropsi mengajarkan Dahmer bagaimana cara melakukannya dengan benar. Ayah Dahmer melihat ketertarikan putranya sebagai hal yang dapat menjadikannya seorang saintis di masa depan.

Masa kecil semakin runyam ditambah dengan adanya masalah pada ibunya yang pencandu obat penenang hingga menimbulkan pertikaian dengan ayahnya. Ibunya menjadi pemarah dan tak acuh pada Dahmer, di sisi lain ayahnya sudah tidak kuasa menanggapi semua yang dilakukan istrinya. Pada akhirnya semuanya berdampak pada Dahmer kecil, menjadikannya anak yang sukar bersosialisasi dan lebih sering menyendiri. 

Dalam keluarga kecilnya itu, Dahmer tidak pernah mendapatkan perhatian secara penuh oleh kedua orang tuanya, terutama ibunya. Hingga menjelang remaja, Dahmer semakin menujukan keabnormalannya. Dia menjadi sosok yang kikuk dengan orientasi seksual pada laki-laki.

Hal yang dialami Dahmer dapat menunjukkan bahwa lingkungan sosial seseorang sangat berpengaruh terhadap pembentukan sifat dan perilaku dirinya, terutama lingkungan keluarga. Selain itu, luka masa lalu yang tidak disadari juga dapat menghasilkan pola perilaku yang menyimpang.

Ketika seorang anak melihat kedua orang tuanya bertengkar, anak akan merasa tidak nyaman, ketakutan bahkan merasa tidak nyaman berada di sekitar orang tuanya. Mereka akan cemas karena melihat kemarahan kedua orang tuanya dan menimbulkan pikiran negatif. Disisi lain, ayah atau ibu yang sering bertengkar berpotensi sukar menunjukkan sikap hangat dan kasih saya kepada anaknya.

Ketika semua kasih sayang yang diinginkan tidak tercapai akan mempengaruhi mental anak. Seperti yang dilakukan Dahmer, ketika seseorang yang dia sukai menyukainya juga, Dahmer merasa bahwa dia memiliki orang yang memberikan perhatian kepadanya dan dia merasa tidak sendirian. Sehingga, ketika orang yang dia sukai ingin meninggalkannya, walaupun hanya untuk kembali ke rumahnya, Dahmer merasa terancam akan ditinggalkan dan kembali sendirian. Berbagai cara dilakukan untuk membujuk mereka agar tinggal hingga menimbulkan pembunuhan yang entah disengaja olehnya atau tidak—agar mereka dapat tetap bersama.

Dalam serial ini, ditampilkan bobroknya kepolisian yang masih menunjukkan sikap rasis terhadap warga kulit hitam dan selalu menganggap mereka sepele. White supermacy benar-benar terlihat pada kasus ini. Hingga beberapa kali tetangga Dahmer melaporkan kecurigaannya pada polisi, namun polisi terus mengabaikannya karena dia merupakan wanita kulit hitam.

Pada akhirnya, kasus ini dapat memberikan pengajaran bagi para orang tua bahwa kasih sayang penuh terhadap anak sangat penting bagi tumbuh kembang mereka. Hal ini juga mengingatkan bahwa orang tua harus mengetahui minat maupun bakat anak yang dapat mengarah ke hal negatif sehingga dapat diantisipasi di masa dewasanya.

 

TEKS : ELHAM (TRAIPENMADAS 21)

EDITOR : TIM REDAKSI 

Sarana Dan Prasarana FISIP: Ada Perkembangan Atau Stagnan

LPM PRIMA- Berbicara tentangpermasalahan yang ada di kampus, memang tak luput dari sarana dan prasarana yang kurang maksimal diberikan oleh pihak kampus, tak terkecuali FISIP. berbagai keluhan dilontarkan mahasiswa terkait prasarana yang kurang memadai sehingga berdampak pada keefektifan proses belajar-mengajar di lingkup Fakultas. bukan tanpa aksi nyata, beberapa bulan lalu, Aliansi Gerakan Mahasiswa FISIP SOLID yang berisikan mamahasiswa FISIP dari berbagai Organisasi Mahasiswa (ORMAWA) dan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) FISIP telah melaksanakan Audiensi dengan Dekanat untuk menuntut perbaikan sarana dan prasarana Fakultas. Hal ini bukan tanpa alasan, kami meyakini Sarana dan prasarana yang memadai akan berpengaruh terhadap keefektifan segala bentuk aktivitas didalamnya. 

Berdasarkan hasil wawancara yang telah dilakukan pada 18 November 2022 terhadap beberapa mahasiswa FISIP mengenai kepuasaan akan sarana dan prasarana. Semua dari mereka mengeluhkan terkait sarana dan prasarana yang belum memadai dan masih banyak evaluasi yang perlu dilakukan.

"Saya merasa tidak nyaman dengan salah satu fasilitas FISIP yaitu TSW (Taman Super WIFI), lantai retak seringkali membuat saya terjatuh ketika hujan, dan penerangan yang kurang memadai ketika malam hari menjadikan FISIP terlihat menyeramkan. Selanjutnya, sampah yang berserakan karena minimnya tempat sampah di TSW, tidak mengenakan mata. Tidak hanya itu, kondisi miris juga dapat dilihat dari kursi ruang kelas yang tidak diganti selama bertahun-tahun." Ujar Krisdian Tata, mahasiswa Kesejahteraan Sosial.

Untuk fasilitas lainnya, yang diperlukan oleh mahasiswa dan menjadi keluhan beberapa dosen yaitu tidak adanya tempat penitipan helm, sehingga ketika pembelajaran di dalam kelas, terdapat mahasiswa yang harus membawanya ke dalam kelas.

Ruang belajar atau perpustakaan yang tidak terlihat di area FISIP juga menjadi problem tersendiri bagi beberapa mahasiswa.

Adnino selaku anggota BEM FISIP mengungkapkan, "Dari pihak BEM sendiri sudah pernah memberikan tuntutan terhadap fakultas mengenai sarana dan prasarana. Namun, kami masih belum mekaukan Tindakan lanjut lagi dan mengkaji terkait hal tersebut."

Tuntutan yang disampaikan oleh pihak BEM telah membuahkan hasil berupa perbaikan beberapa ruang kelas dan tempat olahraga. Walaupun terlihat kurang maksimal.

Hal tersebut menciptakan sebuah statement yang diberikan mahasiswa mengenai berbagai harapan terkait kenyamanan dan kemaksimalan sarana dan prasarana di FISIP.

"Semoga bisa terus melakukan renovasi secara bertahap, sehingga menciptakan kondisi yang nyaman dan lebih layak lagi. Terutama pada ruang kelas, yang mana merupakan tempat pembelajaran bagi mahasiswa. Karena ketika belajar, kami membutuhkan tempat yang kondusif dan nyaman." Jelas Maiguna, salah satu mahasiswa Administrasi Bisnis.

Harapan lain juga disampaikan oleh Nabila, seorang mahasiswa Sosiologi, "Harapannya, semoga pihak fakultas bisa lebih fokus terhadap perbaikan fasilitas yang ada di FISIP." Ujarnya.

Banyak harapan, doa dan semoga-semoga yang tidak dapat ditulis namun letaknya beriringan dengan aksi nyata.

Barangkali didengar, segala bentuk perbaikan terhadap sarana dan prasarana, selalu menjadi hal yang dinantikan oleh seluruh penghuni FISIP, khususnya mahasiswa. (Bagus Kurniawan)

Sarana Dan Prasarana FISIP: Ada Perkembangan Atau Stagnan

LPM PRIMA- berbicara terkait permasalahan yang ada di kampus, memang tak luput dari sarana dan prasarana yang kurang maksimal diberikan oleh pihak kampus, tak terkecuali FISIP. berbagai keluhan dilontarkan mahasiswa terkait prasarana yang kurang memadai sehingga berdampak pada keefektifan proses belajar-mengajar di lingkup Fakultas. bukan tanpa aksi nyata, beberapa bulan lalu, Aliansi Gerakan Mahasiswa FISIP SOLID yang berisikan mamahasiswa FISIP dari berbagai Organisasi Mahasiswa (ORMAWA) dan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) FISIP telah melaksanakan Audiensi dengan Dekanat untuk menuntut perbaikan sarana dan prasarana Fakultas. Hal ini bukan tanpa alasan, kami meyakini Sarana dan prasarana yang memadai akan berpengaruh terhadap keefektifan segala bentuk aktivitas didalamnya. 

Berdasarkan hasil wawancara yang telah dilakukan pada 18 November 2022 terhadap beberapa mahasiswa FISIP mengenai kepuasaan akan sarana dan prasarana. Semua dari mereka mengeluhkan terkait sarana dan prasarana yang belum memadai dan masih banyak evaluasi yang perlu dilakukan.

"Saya merasa tidak nyaman dengan salah satu fasilitas FISIP yaitu TSW (Taman Super WIFI), lantai retak seringkali membuat saya terjatuh ketika hujan, dan penerangan yang kurang memadai ketika malam hari menjadikan FISIP terlihat menyeramkan. Selanjutnya, sampah yang berserakan karena minimnya tempat sampah di TSW, tidak mengenakan mata. Tidak hanya itu, kondisi miris juga dapat dilihat dari kursi ruang kelas yang tidak diganti selama bertahun-tahun." Ujar Krisdian Tata, mahasiswa Kesejahteraan Sosial.

Untuk fasilitas lainnya, yang diperlukan oleh mahasiswa dan menjadi keluhan beberapa dosen yaitu tidak adanya tempat penitipan helm, sehingga ketika pembelajaran di dalam kelas, terdapat mahasiswa yang harus membawanya ke dalam kelas.

Ruang belajar atau perpustakaan yang tidak terlihat di area FISIP juga menjadi problem tersendiri bagi beberapa mahasiswa.

Adnino selaku anggota BEM FISIP mengungkapkan, "Dari pihak BEM sendiri sudah pernah memberikan tuntutan terhadap fakultas mengenai sarana dan prasarana. Namun, kami masih belum mekaukan Tindakan lanjut lagi dan mengkaji terkait hal tersebut."

Tuntutan yang disampaikan oleh pihak BEM telah membuahkan hasil berupa perbaikan beberapa ruang kelas dan tempat olahraga. Walaupun terlihat kurang maksimal.

Hal tersebut menciptakan sebuah statement yang diberikan mahasiswa mengenai berbagai harapan terkait kenyamanan dan kemaksimalan sarana dan prasarana di FISIP.

"Semoga bisa terus melakukan renovasi secara bertahap, sehingga menciptakan kondisi yang nyaman dan lebih layak lagi. Terutama pada ruang kelas, yang mana merupakan tempat pembelajaran bagi mahasiswa. Karena ketika belajar, kami membutuhkan tempat yang kondusif dan nyaman." Jelas Maiguna, salah satu mahasiswa Administrasi Bisnis.

Harapan lain juga disampaikan oleh Nabila, seorang mahasiswa Sosiologi, "Harapannya, semoga pihak fakultas bisa lebih fokus terhadap perbaikan fasilitas yang ada di FISIP." Ujarnya.

Banyak harapan, doa dan semoga-semoga yang tidak dapat ditulis namun letaknya beriringan dengan aksi nyata.

Barangkali didengar, segala bentuk perbaikan terhadap sarana dan prasarana, selalu menjadi hal yang dinantikan oleh seluruh penghuni FISIP, khususnya mahasiswa. (Bagus Kurniawan)

Carut Marut LKPM FISIP, Tanggung Jawab Siapa

 

Nita, bukan nama sebenarnya, seharusnya melaksanakan praktikum kebijakan sosial—salah satu mata kuliah wajib prodi jurusan Ilmu Kesejahteraan Sosial—pada semester 6 lalu. Absennya Nita bukan tanpa alasan, pelaksanaan praktikum kebijakan sosial yang seharusnya ditempuh sejak bulan Maret harus mundur hingga awal Juni karena belum adanya surat pengantar praktikum dari LKPM (Laboratorium Kajian Pemberdayaan Masyarakat) FISIP UNEJ.

“Gak praktikum karena surat dari fakultas baru turun jadi 2 minggu sebelum jadwal selesai praktikum. Dinas terkait menolak surat izin praktikum yang sudah ada saat itu karena waktu yang tertera di surat (Maret-Juni) gak sesuai sama waktu yang nantinya kita akan praktikum di situ”, jelasnya ketika diwawancarai oleh tim Redaksi PRIMA.

Disisi lain, pada praktikum dan semester yang sama, Ani tetap dapat melaksanakan praktikum sejak bulan Maret hingga Juni 2022 tanpa surat pengantar praktikum dari kampus. “Dosen pembimbing ku minta tetap praktikum, dari awal semester sampai akhir meskipun surat pengantar dari jurusan belum turun. Aku pribadi bisa masuk karena faktor kedekatan dan sudah pernah magang di Dinas Sosial Kota X, setelah itu juga harus mengurus surat pengantar sendiri ke Bangkesbangpol. Untuk keadaan teman-teman di kelompok yang sama, yang aku tahu ada beberapa yang kesulitan juga”, jelas Ani.

Berbeda dengan Ani dan Nita, Yola merasakan pengalaman yang berbeda. Praktikum konselor psikososial yang ia jalani pada semester ini mengalami hambatan karena alur surat pengantar yang tidak jelas. “Setelah dapat surat dari LKPM, aku langsung menyerahkan ke tempat ku praktikum. Namun setelah bimbingan dengan dosen penguji, aku dan teman-teman baru tahu kalau suratnya harus di proses di Dekanat dulu baru nanti akan jadi surat terjun lapang”, jelas Yola. Ia juga menambahkan bahwa pengajuan surat ke Dekanat akhirnya ia dan teman-temannya lakukan sendiri.

Setali tiga uang dengan Yola, Tias juga memiliki pengalaman yang hampir sama. Ia harus mengurus surat praktikumnya sendiri. “Kalau kemarin kita dikasih format, suruh bikin sendiri, minta tanda tangan Ketua Jurusan sama Ketua LKPM, terus diajukan ke fakultas. Udah gitu aja, tapi ya lumayan lama karena di dekanatnya juga lama kan. Terus kalau teman-teman yang lain mungkin yang lama dari fakultasnya juga”, jelasnya ketika kami wawancarai.

Pengalaman keterlambatan dan hambatan praktikum seperti halnya diatas tentu bukan hanya dirasakan oleh Nita, Ani, Yola dan Tias saja. Mahasiswa jurusan Ilmu Kesejahteraan Sosial yang melaksanakan praktikum tentu akan mengalami hal yang sama karena distribusi surat praktikum berasal dari satu pintu; yaitu Laboratorium Kajian Pemberdayaan Masyarakat (LKPM). Apa itu LKPM? Apa tugas dan wewenangnya? Mengapa surat pengantar praktikum kerap mengalami hambatan?

LKPM merupakan lembaga yang secara struktural berada di bawah jurusan Ilmu Kesejahteraan Sosial FISIP Universitas Jember. Hingga berita ini turun, kami belum menemukan sumber yang komprehensif mengenai struktur organisasi dalam LKPM, pun dengan tugas dan wewenangnya secara formal. Hingga saat ini, LKPM aktif mengurusi surat-menyurat untuk kebutuhan praktikum serta sertifikasi pekerja sosial yang dilaksanakan sebelum pandemi.

Ketidaktahuan publik (setidaknya mahasiswa Ilmu Kesejahteraan Sosial) tentang hal formal dan struktural LKPM menjadi isu yang serius jika kita tilik lagi korelasinya dengan keterlambatan surat pengantar praktikum Kesejahteraan Sosial. Transparansi LKPM kemudian mutlak dibutuhkan dalam hal ini. Praktikum-praktikum pada jurusan Ilmu Kesejahteraan Sosial merupakan mata kuliah wajib prodi 4 sks yang harus dijalankan dengan baik oleh mahasiswa Ilmu Kesejahteraan Sosial. Bukan hanya mahasiswa yang menjalani, namun juga jurusan Ilmu Kesejahteraan Sosial sebagai pengawas, termasuk LKPM sebagai lembaga yang memiliki andil besar dalam penyelenggaraan praktikum-praktikum ini. Jika dalam praktik akademi yang esensial dalam jurusan Ilmu Kesejahteraan Sosial saja masih banyak terdapat cacat formal, bagaimana dengan hal lain?

Sebut saja pengalaman Yola dan Tias serta teman-teman kelompoknya yang harus mengurusi surat praktikum secara individu ke Dekanat. Hal ini lalu menjadi tanda tanya besar, mengapa mahasiswa harus mengurus surat praktikum secara individu jika LKPM memang telah ditugaskan dalam ranah ini? Meskipun sekarang Yola, Tias dan teman-temannya dapat melaksanakan praktikum, ketidakhadiran LKPM dalam mengurusi surat sampai selesai ke Dekanat perlu ditinjau lebih lanjut lagi.

Pun dengan yang dirasakan oleh Ani pada praktikum semester lalu. Ia dan teman-temannya harus pintar-pintar memanfaatkan koneksi dan mengurus surat ke Bangkesbangpol sendiri dengan bantuan lembaga tempat ia praktikum. Padahal hal-hal formal seperti ini harusnya menjadi tupoksi LKPM. Hal yang dialami Yola, Tias dan Ani inilah yang kami maksud sebagai “kecacatan formal”

Transparansi struktural dan tupoksi LKPM sudah seharusnya menjadi isu penting bagi mahasiswa Ilmu Kesejahteraan Sosial. Terlambat dan terhambatnya alur keluarnya surat kemudian memunculkan pertanyaan lain, mengapa hal tersebut dapat terjadi?

Struktural LKPM 

Tias, salah satu narasumber kami bercerita mengenai alasan ia dan teman-teman angkatannya harus mengurusi surat sendiri. “Yang surat ini (surat praktikum), kenapa Pak Arif (Ketua LKPM) gak mau ngurusin lagi karena takutnya lama, takutnya fakultas memperlama kalau Pak Arif yang ngurusin. Makanya ke mahasiswa langsung. Jadi alasannya ke mahasiswa itu biar gak diperlama, makanya disuruh mahasiswanya yang gerak sendiri”, jelasnya kepada Redaksi PRIMA ketika diwawancarai. 

Mahasiswa FISIP (terutama pengurus Ormawa) sepertinya sudah tidak asing dengan birokrasi FISIP yang bertele-tele dan “mbulet”. Hal ini ikut menjadi salah satu faktor keterlambatan surat-surat perizinan praktikum di Ilmu Kesejahteraan Sosial. Kesemrawutan birokrasi FISIP memang sudah menjadi rahasia umum, namun benarkah hanya karena proses internal yang bertele-tele saja? Narasumber kami mengungkapkan bahwa selain faktor internal dalam birokrasi FISIP, terdapat gesekan personal antara pihak Dekanat dengan LKPM sehingga surat sering terlambat untuk di distribusikan ke mahasiswa. Hal inilah yang menjadi faktor mengapa mahasiswa akhirnya diminta untuk mengurusi surat praktikum secara individu.

Keterlibatan Mahasiswa dalam Struktural LKPM

Tak hanya berhenti pada persoalan struktural LKPM yang tidak transparan, masalah lain muncul ketika mahasiswa-mahasiswa jurusan Ilmu Kesejahteraan Sosial diketahui “bekerja” dibawah LKPM. Narasumber kami menjelaskan “Cara masuknya ya ditawarin aja. Misalnya ditanya, mau gak jadi ini (di LKPM) gitu. Misalnya teman yang direkrut ditanya kenapa kok mau, bakal dijawab ‘Iya soalnya aku lihat kamu rajin, makanya pas LKPM nyari orang kamu aku rekomendasikan’ gitu saja. Jadi perekrutannya mulut ke mulut gitu, bukan LKPM yang nyari. Tapi ditawari nya bukan jadi anggota LKPM, tapi membantu Pak Arif.”

Narasumber kami juga menjelaskan apa saja yang dikerjakan mahasiswa yang “bekerja” dibawah LKPM, seperti mengurus surat-surat pengantar Praktikum dan ikut andil dalam mengatur ploting tempat praktikum (khusus untuk praktikum lembaga pelayanan sosial semester ini). Keterlibatan mahasiswa yang “bekerja” di bawah LKPM kemudian memunculkan pertanyaan, mengapa mahasiswa harus dilibatkan dalam tugas-tugas yang seharusnya menjadi tupoksi LKPM? Jika memang kekurangan SDM dan anggota, mengapa bukan staf LKPM saja yang dilibatkan? 

Tidak hanya itu, diketahui bahwa mahasiswa yang “bekerja” di bawah LKPM tidak menerima upah yang pantas mereka dapatkan setelah mengerjakan “tugas-tugas” LKPM. “Sebenarnya dulu pernah ada isu, kalau yang di LKPM (mahasiswa) akan digaji, tapi akhirnya gak digaji sampai sekarang. Cuma konsumsi setiap kumpul di LKPM, ada makanan, minuman dan jajan”, jelas salah satu narasumber kami ketika kami wawancarai. 

Meskipun hingga berita ini turun kami belum bisa menemukan aturan dan regulasi mengenai struktur dan sistem upah di LKPM, namun sudah menjadi seharusnya tiap individu yang “bekerja” mendapatkan upah yang layak, apalagi pekerjaan ini berada di lingkungan akademis. Pun jika memang secara struktural mahasiswa ada di dalam struktur organisasi LKPM, sudah seharusnya jurusan Ilmu Kesejahteraan Sosial mengatur regulasi mulai dari perekrutan secara terbuka (bukan hanya dari mulut ke mulut seperti yang selama ini dilakukan), tugas pokok fungsinya hingga aturan upah. 

Ketika kita tilik lagi, masalah-masalah di atas bukan hanya tanggung jawab LKPM sebagai lembaga. Jurusan dan fakultas yang menaungi lembaga juga memiliki andil yang besar untuk mengawasi jalannya LKPM, baik dari sistem maupun pengorganisasiannya. 

Hubungan LKPM dan Lembaga Lain

Semrawut LKPM tidak berhenti disitu saja. Selain masalah keterlambatan surat dan upah mahasiswa, narasumber kami juga mengungkapkan bahwa ada hubungan LKPM dengan lembaga tertentu diluar FISIP dan UNEJ. Bukan hubungan sinergi yang dimaksud. Namun hubungan yang mengarah pada pencampur adukkan urusan pribadi dengan urusan lembaga LKPM sendiri, yang jika kita tilik kembali dapat disebut sebagai "penyalahgunaan" atau "penyelewengan". 

“sebenarnya masalah ini sudah menjadi rahasia umum, yaitu semenjak LKPM pindah ke ISDB teman-temanku yang mengaku akan pergi rapat mengenai urusan lembaga ini, ternyata berangkatnya ke ISDB. Padahal dulu kan tempatnya lembaga tersebut gak disitu”, ujar narasumber kepada kami.

Meskipun penyelewengan tempat ini terlihat sepele bahkan banyak mahasiswa yang tahu, namun dari sini kita dapat mengetahui bahwa pihak LKPM tidak dapat memisahkan urusan LKPM atau internal lembaganya dengan urusan pribadi. Hal ini tentu akan berdampak pada kinerja LKPM sebagai lembaga yang harusnya dapat memenuhi tanggung jawabnya.

 

REDAKSI PRIMA

Seluruh nama narasumber dalam tulisan ini kami samarkan demi keamanan narasumber.

 

 

SELF SERVICE, SAMPAH DAN MAHASISWA

Bagaimana cara menyadarkan mahasiswa bahwa kebersihan lingkungan itu sangat diperlukan?

Mahasiswa merupakan “maha “dari segala “siswa” yang penuh tanggung jawab, kritis dalam berpikir dan bertindak. Namun, mengapa hal sepele seperti ini terus saja terulang? Bukan suatu hal yang besar namun pada akhirnya tetap berdampak pada diri sendiri. Self-service bukan berarti mengajarkan individualisme atau malah gaya kebarat-baratan. Hal ini seharusnya sudah tertanam sejak usia dini.

Kebersihan itu merupakan bagian yang tidak boleh lepas dari mahasiswa, bukan begitu? Sebagai calon penyongsong negeri, sikap dan sifat yang baik perlu ditanamkan. Melihat sampah dan bekas makanan yang bercecer di meja, bukankah hal tersebut akan membuat tidak nyaman? Atau malah hal itu biasa? Jawabannya tidak ada yang benar maupun salah, hanya masalah perspektif

Usaha mencintai lingkungan dan kebersihan sedari dini dirasa kurang berdampak pada diri—atau malah tidak tertanam pada diri?—hingga banyak maha dari segala siswa menjadi insan cendekia yang malah memperburuk lingkungannya. Memang hal ini tidak secara tiba-tiba berdampak pada diri sendiri, namun bagaimana orang lain?

apa tugas pelayan kebersihan jika self-service ada?

Itu pertanyaan keliru, tetapi seharusnya: bagaimana cara membantu sesama? Bukan, begitu? Sebagai mahasiswa, membantu orang merupakan keharusan. Mahasiswa ditempa untuk dapat berbakti pada masyarakat hingga ke unsur paling utama: sesama manusia.

Ini bukan masalah estetika, melainkan perilaku, sifat dan kebiasaan. Membersihkan limbah milik sendiri merupakan perilaku yang sangat berdampak positif pada orang lain. Dengan hanya menumpuk piring bekas makanan itu merupakan insiatif yang sudah siap diapresiasi. Tingkatan apresiasi akan bertambah ketika bersedia mengantarkan piring bekas makanan kepada penjual dan mengucapkan terima kasih. Tetapi, arahan ini bukan diperuntukkan untuk anak TK atau anak SD, bukan? Mahasiswa tentunya sudah tahu hal semacam ini.

Tak hanya itu, sampah adalah salah satu limbah yang dihasilkan manusia, bagaimana jika sampah berada di depan rumah? Lantai kamar? Atau bahkan tempat yang ingin didatangi untuk melepas penat, tetapi malah muncul di tempat itu? Apakah hal tersebut tidak mengusik? Siapa yang tidak menyukai tempat yang bersih dan nyaman?

Bagaimana fungsi tempat sampah yang setia berdiri di tempat? Bagaimana sampah yang menjadi makanan tempat sampah jarang diberi makan? Sampah berceceran di mana-mana tanpa ada kepedulian dari manusia di sekitarnya. Tidak ada sebuah kemungkinan sampah dapat berjalan sendiri dan masuk pada tempatnya.

Ini saatnya bagi mahasiswa—kita semua—mawas diri. Bagaimana semua yang telah dilakukan dapat berdampak pada diri sendiri dan orang lain serta lingkungan. Sampah berasal dari kita, jika kita tidak memperlakukannya dengan benar, semua akan kembali pada kita. Kesadaran itulah yang merupakan langkah kecil menuju calon cendekia penerus bangsa.

Teks : Elham (Traipenmadas 21)

Editor : Tim Redaksi Prima 

Jalin Persaudaraan Antar Angkatan, Himasos Adakan Kegiatan Pekan Olahraga dan Seni (PORSI)

Pada akhir pekan lalu 7/11 telah berlangsung kegiatan Pekan Olahraga dan Seni (PORSI) yang diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Sosiologi (Himasos) Fisip Unej. Kegiatan PORSI tersebut diikuti oleh seluruh mahasiswa Sosiologi Fisip Unej angkatan 2022 sampai 2019. Diadakannya PORSI ini untuk dapat menyalurkan bakat dan minat dari mahasiswa Sosiologi Fisip Unej. Acara ini adalah program kerja yang diadakan tiap tahun oleh HIMASOS, pada tahun ini PORSI mengangkat tema “Burn Again Our Creativity and Sportivity in PORSI 2022”. Kegiatan ini berisikan beberapa lomba yaitu lomba olahraga Badminton, futsal, serta lomba seni cover lagu. Lomba-lomba tersebut pun dipilih melalui minat terbanyak dari mahasiswa itu sendiri.

Kegiatan ini dilakukan selama dua hari, yaitu di hari pertama dilaksanakan pertandingan bulu tangkis yang diadakan di Lapangan 8 Tegal Besar, Kecamatan Kaliwates, Jember. Sedangkan di hari kedua dilaksanakan perlombaan futsal yang bertempat di Lapangan Elpashindo Sumbersari, Kecamatan Sumbersari, Jember. Untuk lomba cover lagu sendiri diadakan secara online dengan diupload ke instagram Porsi.

Adapun pemenang dari lomba badmin diraih oleh angkatan 2020 untuk semua macam yaitu ganda putra dan ganda campuran. Untuk lomba futsal dimenangkan oleh tim angkatan 2020. Untuk lomba cover lagu dimenangkan oleh Al-Hakim Fiqri untuk kategori terbaik dan Elegi Nur Aisyah untuk kategori favorit.

PORSI pada tahun ini berlangsung dengan penuh semangat dan antusiasme yang tinggi dari mahasiswa Sosiologi angkatan 2019-2022. Mereka terlihat sangat menikmati jalannya lomba dengan semangat mendukung tim angkatannya masing-masing. Dengan diadakannya perlombaan PORSI ini diharap dapat menyalurkan bakat dan minat mahasiswa dan juga dapat membuat solidaritas antar angkatan lebih tinggi” Tutur Fahmi Hidayat selaku ketua panitia kegiatan PORSI 2022.

TEKS : ADIBA FARIZA

EDITOR : TIM REDAKSI 

MENYOAL KEGIATAN BEM FISIP UNEJ YANG TERLIHAT GEMERLAP, NYATANYA PENUH SISI GELAP

Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) merupakan organisasi mahasiswa yang seksi dipandang mata. Begitupun yang terjadi di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jember (FISIP UNEJ). BEM FISIP UNEJ yang dinahkodai oleh Amiq Iqmal ini sukses menyelenggarakan beberapa kegiatan seperti pelatihan, seminar, Sharing Session dan Volunteer. Hal tersebut memantik ribuan sorotan mata untuk melihat gemerlap kesuksesan setiap kegiatan yang diselenggerakan oleh BEM FISIP UNEJ. Hujan pujian pun dilontarkan oleh berbagai kalangan kepada BEM. Namun, dibalik gemerlapnya kesuksesan tersebut, apakah BEM FISIP telah menjalankan tugas dengan semestinya?

Menilik kegiatan BEM Sabtu, 5 November 2022 tepatnya kegiatan dibawah naungan Kementrian Pergerakan dan Pemberdayaan Gender bertemakan “Sharing Session 4.0 : Speak Your Mind, Even Your Voice Shakes” terdapat cela dalam penyelenggaraannya. Acara tersebut memang terkesan bagus dan responsif terhadap isu terkini, akan tetapi peserta yang sedikit menjadikan acara BEM tersebut antara ada dan tiada alias percuma. Kepada awak redaksi PRIMA, salah satu peserta berinisial ARH mahasiswi Kesejahteraan Sosial mengatakan, peserta kegiatan Sharing Session 4.0 begitu minim. “Saya mengikuti kegiatan yang diadakan BEM sabtu lalu, tapi saya sangat menyayangkan melihat angka partisipan yang tidak menyentuh angka 30 padahal mahasiswa fisip itu banyak sekali”, tukas ARH.

Tidak hanya itu, awak redaksi PRIMA juga menemui mahasiswa lain yang pernah mengikuti kegiatan BEM yaitu kegiatan Pelatihan Proposal PKM pada salah satu rangkaian kegiatan Loka Karya 2.0. Mahasiswa berinisial DA dari jurusan Ilmu Hubungan Internasional mengatakan “ Loka Karya ini termasuk ide bagus yang diinisiasi BEM, akan tetapi sosialisasi yang minim dan terkesan dadakan menjadikan mahasiswa yang mengikuti pun sangat minim.” DA juga mengatakan seiring berjalannya kegiatan peserta PKM pada Loka Karya mengalami penurunan. “ Peserta yang mendaftar terdapat dua puluhan, yang hadir 14 peserta dan mirisnya dipenutupan tersisa 5 peserta saja” Tambahnya.  Ini menunjukkan bahwa kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh BEM tidak Well-Prepared dan cenderung dadakan. Seolah proker yang mereka rumuskan di awal kepengurusan itu hanya sebuah bentuk gemerlap cahaya bintang, namun tak bisa menyinari malam yang gelap. Banyak, namun tak berisi.

Dari ungkapan dua narasumber tersebut memang terlihat tidak ada masalah yang benar-benar serius. Namun, ketika dicermati ulang periode BEM sekarang memiliki anggota puluhan yang hampir mendekati seratus. Dimana anggota puluhan tersebut? apakah sedang mengerjakan proker lain? Apakah terdapat koisidental kegiatan? Hal tersebut membuktikan bahwasannya BEM saat ini telah menciderai tubuhnya sendiri. “Badan Gemuk” BEM yang merekrut puluhan anggota dari berbagai jurusan bagai patung atau terkesan diam. Bukan serangan dari luar yang yang menjadi ancaman, melainkan kebobrokan internal yang menghancurkan dirinya sendiri.

Ketika awak redaksi PRIMA menanyakan mengenai kegiatan yang kopong pada periode ini, Amiq Iqmal dengan santai menanggapi hal tersebut. “Dari BEM tidak mentargetkan partisipant yang banyak, namun yang kami targetkan adalah bagiamana kajian-kajian kami menjadi wacana kedepan dapat diketahui minimal satu atau dua warga FISIP sekaligus sebagai referensi pada periode selanjutnya”. Tuturnya. “Terkait loka karya itu program unggulan kami, yang kami targetkan adalah bagimana ada wadah yang menjadi inkubator baru dengan mentoring dan lain sebagainya, ada beberapa yang patut dievaluasi ketika ditemukan BEM maupun panitia itu istilahnya promosinya kurang dan lain-lainya kurang, kami mencoba dalam masa transisi ini antara online ke offline minimal ada inkubator karya baru”. Tambahnya.

Kemudian terkait dengan “Badan Gemuk”  BEM periode sekarang antara efektif atau tidak, Amiq mengatakan “ Kami diperiode ini berusaha membentuk kepengurusan yang inklusif, yang kami artikan bahwa kami berusaha menyentuh setiap lini” Tuturnya. Ia menanggapi Tidak hadirnya anggota BEM pada saat acara berlangsung tidak menjadi ukuran pokok. “Nah adapun apabila kegiatan tidak diikuti oleh pengurus BEM yang lain itu karena dari pengurus BEM sendiri ada kesibukan yang lain, akan tetapi ketika Pre-Event dan After Event teman-teman anggota BEM turut hadir dan saling memberikan pendapat satu sama lain” Lanjutnya. 

(TIM REDAKSI PRIMA)

 

Tragedi Halloween di Itaewon, Tarik Simpati Dunia Internasional

Beberapa minggu yang lalu dunia internasional dikagetkan dengan peristiwa kemanusiaan di Indonesia yaitu Tragedi Kanjuruhan. Namun, belum selesai duka yang dirasakan, tragedi baru kembali terjadi di Korea Selatan, tepatnya di Itaewon, Seoul. Tragedi di Itaewon terjadi pada perayaan Halloween yang sempat vakum karena pandemi Covid-19. Dalam tragedi kelam tersebut telah merunggut ratusan nyawa.

Menurut saksi yang selamat dari tragedi Halloween, penyebab utama kejadian ini berawal dari penumpukan pengunjung disalah satu gang sempit di Hamilton Hotel, Itaewon. Vakum beberapa tahun menjadikan perayaan ini dinanti-nanti dan mengundang antusias warga Korea Selatan dan warga negara lain untuk merayakan bersama-sama di Itaewon. Saling berdesakan dan dorong di antra pengunjung tidak terhindarkan, akibatnya banyak dari mereka yang mengalami sesak napas dan tak sedikit yang terinjak-injak antar pengunjung.

Tragedi Halloween di Itaewon terjadi pada pukul 22.20 waktu setempat yang menewaskan kurang lebih 153 orang meninggal dunia yang rata-rata berumur 20 sampai 30 tahun. Lonjakan korban yang terus bertambah memicu respon Presiden Korea Selatan Yoon Suk-Yeol. Dilansir dari Kompas.com Presiden Korea Selatan menginformasikan bahwasannya segala hal yang terkait dengan kejadian ini mulai deri perawatan medis korban hingga pemakaman korban yang telah meninggal akan sepenuhnya ditanggung oleh pemerintah.

Tidak hanya itu,  pihak kepolisian telah mengerahkan sebanyak 848 personel, termasuk 346 petugas pemadam kebakaran ke daerah tersebut, untuk segera melakukan penyelidikan apakah bar dan klub di daerah itu mematuhi peraturan keselamatan dan akan mengusut tuntas penyebab pasti tragedi ini.

Tragedi ini juga menarik atensi dunia internasional dengan tanggapan dari berbagai kalangan. Mengutip dari juru bicara CNN Richard Roth di New York, Sekjen PBB Antonio Gutters mengatakan turut prihatin terhadap insiden yang tragis ini. Selain dari Sekjen PBB, sejumlah kepala negara di dunia seperti Presiden Amerika Serikat, Presiden Prancis, dan Perdana Menteri Inggris turut menyampaikan rasa duka mendalam atas tragedi yang terjadi di Korea Selatan. Mereka juga siap untuk memberikan dukungan penuh terkait segala keperluan yang dibutuhkan oleh para korban terluka maupun yang meninggal. 

Author: Wilda Aulia

REFERENSI

https://edition.cnn.com/asia/live-news/seoul-south-korea-halloween-10-30-22/index.html

https://dunia.tempo.co/read/1651744/keponakan-anggota-kongres-as-tewas-dalam-tragedi-halloween-itaewon

https://nasional.kompas.com/read/2022/10/30/14330521/kemlu-2-wni-jadi-korban-luka-ringan-tragedi-halloween-itaewon-korsel

https://prbandungraya.pikiran-rakyat.com/internasional/pr-265764727/mengenaskan-begini-kronologi-tragedi-itaewon-sebabkan-ratusan-korban-tewas-pasca-pesta-halloween-bermula

 

Menolak Lupa Black Story 30 September 1965

Berdasarkan catatan sejarah bangsa Indonesia, pada tanggal 30 september menjadi sejarah kelam bagi bangsa Indonesia.Pada waktu itu terjadi peristiwa pemberontakan G30S PKI yang mengincar perwira tinggi TNI AD Indonesia sebagai salah satu tragedy nasional yang mengancam keutuhan NKRI. Peristiwa G30S PKI sampai sekarang menjadi persada sejarah negara sebagai “Black Story” yang sampai saat ini masih menyimpan misteri. siapakah yang sebenarnya bersalah dan siapakah yang menjadi mangsa serta menjadi kambing hitam yang hingga saat ini masih menjadi persoalan yang senantiasa diperdebatkan di media Indonesia. Peristiwa pemberontakan ini berlangsung selama dua hari mulai tanggal 30 September 1965 hingga 1 Oktober 1965.

Latar belakang peristiwa G30S PKI ini terjadi karena adanya persaingan politik. PKI adalah sebagai kekuatan politik merasa khawatir dengan kondisi kesehatan presiden Soekarno yang memburuk. Dimana kejadian tersebut bermula pada awal 1 Agustus 1965 presiden Soekarno tiba-tiba pingsan setelah berpidato, sehingga banyak kalangan yang mempunyai anggapan bahwa masa hidup Soekarno tidak akan lama lagi, yang kemudian memunculkan sebuah pertanyaan besar mengenai siapa yang pantas untuk menjadi pengganti presiden soekarno berikutnya, hal tersebut menjadikan persaingan yang sangat sengit terjadi di kalangan PKI dan TNI.

Namun, sebelum peristiwa G30S PKI ini terjadi banyak pihak memaklumi mengenai pergeseran pengaruh antara pihak TNI yang sangatlah bertentangan dengan aliran faham komunis (PKI) dan pergeseran ini terjadi semakin parah tatkala pada waktu itu Soekarno dikatakan lebih condong memihak golongan Komunis (PKI). (Scoot,2009). Kecondongan Soekarno terhadap komunis semakin jelas, dimana pada waktu itu soekarno secara lantang mengkritik bantuan-bantuan barat dan menyatakan bahwa Indonesia tidak akan jatuh tanpa bantuan-bantuan tersebut. Pendirian Soekarno telah menjadi duri dalam politik Indonesia dari masa ke masa sehingga menjadikan pihak Komunis dan Tentara semakin berkonflik.

Konflik semakin panas yang kemudian terjadi pemberontakan selama dua hari satu malam, yakni mulai tanggal 30 September sampai tanggal 1 Oktober tahun 1965 yang dimulai pukul 03.00 yang melakukan penculikan dan pembunuhan enam jendral yakni Letjen Ahmad Yani, Mayjen. R. Soeprapto, Mayjen Harjono, Mayjen. S. Parman, Brigjen D.I.  Panjaitan dan Brigjen Sutoyo dan satu perwira yakni Lettu Pierre Tendean. Dimana mayat-mayat mereka dibawa ke pangkalan udara halim dan baru diketahui setelah tiga hari di satu tempat yang dikenali sebagai lubang buaya.

Dari adanya peristiwa tersebut kita sebagai generasi penerus bangsa tidak boleh kemudian melupakannya begitu saja, namun dibalik semua itu para tentara nasional Indonesia telah berkerja keras untuk mempertahankan keutuhan NKRI sampai saat ini. (Nora Zilawati)

 

Referesnsi :

https://journal.unisza.edu.my/jonus/index.php/jonus/article/view/172/141

https://news.detik.com/berita/d-6314325/kronologi-g30s-pki-secara-singkat-awal-hingga-pasca-tragedi

Menilik Bagaimana Perploncoan Tetap Eksis dalam Kegiatan Pengenalan Kampus

Akhir-akhir ini media masa digemparkan dengan berbagai berita mengenai perploncoan oleh beberapa mahasiswa “senior” kepada mahasiswa baru dalam kegiatan pengenalan kampus atau sering dikenal sebagai ospek.

Beberapa reaksi beragam dari para pembaca juga banyak ditemukan di berbagai media sosial. Sebagian besar warga internet mengecam dan menyayangkan perilaku dan sikap para mahasiswa senior kepada mahasiswa baru. Namun, ditemukan pula beberapa komentar mendukung tindakan tersebut dengan beberapa alasan.

Dilansir dari situs PKKMB Universitas Jember, tujuan utama pengenalan kampus adalah memberikan pembekalan bagi mahasiswa baru dalam upaya adaptasi dalam mengenal lingkungan kampus—pendidikan maupun lingkungan sosial.

Namun, beberapa tindakan perploncoan terjadi di berbagai perguruan tinggi di Indonesia sepatutnya tidak dilestarikan dalam kegiatan pengenalan kampus maupun kegiatan kampus apa pun. Berkedok mematangkan mental agar siap dalam menghadapi dunia kerja setelah usai masa pendidikan, para mahasiswa senior bertindak “seenak jidat” mereka tanpa memikirkan konsekuensinya.

Beberapa kasus yang diberitakan di berbagai media masa bahkan menyatakan bahwa perploncoan telah menelan korban jiwa. Tidakkah hal seperti ini berlebihan? Mengingat harapan para mahasiswa yang hanya ingin menempuh pendidikan sebagaimana harapan orang tua mereka, namun harus berakhir dengan nestapa.

Betapa bebalnya masa pengenalan kampus yang diharapkan dapat informatif, edukatif dan menyenangkan tanpa adanya sesuatu yang menghantui malah menjadi masa yang dianggap suram dan menakutkan. Ditambah fakta bahwa masih banyak mahasiswa baru yang menganggap kegiatan pengenalan kampus adalah waktu di mana mental mereka akan dibombardir dengan banyaknya tindakan yang tidak menyenangkan. Tentu saja mereka akan merasa takut dan bukannya antusias dalam menantikan kegiatan ini.

Bukan sesuatu yang baru perploncoan semacam ini dilakukan. Entah sejak kapan hal seperti ini dimulai, namun hampir di setiap jenjang pendidikan selalu ditemui kasus yang sama dengan intensitas yang berbeda. Harapan-harapan mahasiswa dan masyarakat pun mengenai perbaikan sistem pengenalan kampus tanpa praktik perploncoan banyak beterbangan.

Banyak anggapan bahwa perploncoan atau sekedar sikap intimidasi dari para mahasiswa senior tidak banyak memberikan pengaruh terhadap dunia kerja. Alih-alih memberikan manfaat, hal ini justru menimbulkan rasa dendam, tidak suka hingga kebencian dari mahasiswa baru yang berpotensi memiliki kelanjutan di masa berikutnya.

Fakta yang mungkin harus diketahui oleh setiap orang, terutama mahasiswa bahwa setiap manusia memiliki mental yang berbeda-beda dengan riwayat pembangun dan sifat yang berbeda-beda juga. Menyamaratakan dan membuat setiap mahasiswa baru memiliki mental sama agaknya adalah tindakan yang keliru.

Patut diketahui pula bahwa setiap orang memiliki kesiapan dan manajemen emosi dalam mentalnya yang berbeda-beda ketika menghadapi suatu masalah ataupun tantangan. Hal itu yang patut dijadikan sebuah dasar dalam mengadakan kegiatan yang dapat membantu para mahasiswa baru dalam menghadapi masalah dan tantangan dalam dunia kerja di masa depan. Bukan melalui kekerasan verbal maupun non-verbal, menghadirkan alumni melalui berbagi informasi dan kisah-kisah inspiratif dalam menghadapi dunia kerja merupakan pilihan yang patut dihadirkan dalam daftar kegiatan pengenalan kampus.

Mengadakan kegiatan yang menyenangkan dan bermanfaat dapat menghadirkan kesan yang baik bagi mahasiswa baru. Kenangan dan kisah seru yang terkenang dari masa pengenalan kampus akan menjadi suatu yang selalu mereka rindukan. Hal seperti ini yang patut di harapkan oleh semua masyarakat, terutama mahasiswa di seluruh penjuru negeri ini. (Elham)

Mahasiswa Kuliah di Lantai : UKT Elit, Fasilitas Sulit

Pada tanggal 2 September 2022 jam 6.30  dalam kelas mata kuliah Praktik Advokasi Sosial yang diampu dosen Pak Lukman Wijaya Baratha para mahasiswa Sosiologi FISIP UNEJ angkatan 2020 kekurangan kursi tempat duduk saat kuliah berlangsung. Ruangan yang dipakai berkapasitas terbatas dan berfasilitas kurang memadai. Kondisi itu terjadi karena ada 2 kelas pada jam yang sama, sehingga terlihat bahwa tatanan jadwal mata kuliah mahasiswa yang dirancang tidak terorganisir dengan baik. Karena hal tersebut menjadikan sekitar sembilan mahasiswa sebagian duduk di bawah untuk tetap mengikuti perkuliahan hingga selesai. Hal tersebut tentu berpengaruh besar untuk menunjang keefektifan proses perkuliahan dan suasana kelas yang nyaman.

Tentu saja permasalahan itu menjadi sorotan mahasiswa,  hal ini juga diramaikan di akun instagam maba unej dan tiktok HIMASOS dengan jumlah 17 ribu lebih viewers. “Sebagai maba aku bingung dengan fasilitas FISIP di UNEJ, padahal UKT dan SPI juga besar, tapi kenapa fasilitas tidak ada perubahan, uangnya kemana?” dari akun @nnmooo_ di tiktok HIMASOS. Hingga saat ini, material kursi yang dipakai di FISIP masih berbahan kayu. Hal ini tentu menjadi perbandingan yang jauh dengan perkembangan kelengkapan fasilitas di fakultas lain. Kondisi tersebut dikomentari @ar.nolll di Instagram maba unej dengan “Kursi jaman kerajaan Singosari”.

Tidak hanya itu, keterbatasan fasilitas lain di FISIP UNEJ juga menjadi sorotan. Seperti fasilitas sinyal dan kecepatan WIFI hingga kebersihan fasilitas di FISP yang dinilai kurang.

Pembagian dan ketersediaan kelas juga menjadi hal yang meresahkan. “Tentu sangat kecewa, karena fasilitas yang memadai sangat berpengaruh terhadap kualitas belajar mahasiswa” ucap Nauval dari Angkatan 2021.

Hingga saat ini permasalahan fasilitas dan jadwal yang bertabrakan tidak menemukan solusi yang tepat. Setiap pertemuan berlangsung demikian karena jadwal yang tidak sinkron dalam situasi kelas yang bahkan satu saja dirasa terbatas. Bahkan beberapa dosen mengajar dua kelas dalam waktu yang sama. Melihat kondisi saat ini yang sudah menyelenggarakan perkuliahan secara luring, tentu hal tersebut tidak memungkinkan dosen mengajar dua kelas sekaligus dalam satu waktu. Apalagi apabila mata kuliah yang berlangsung di antara keduanya berbeda. Hal tersebut tentu membuat mahasiswa merasakan bahwa penyelenggaraan perkuliahan secara luring tidak siap untuk dilakukan oleh pihak fakultas. Itu menjadi hal penting dan perlu didukung oleh ketersediaan fasilitas yang lengkap. Oleh karena itu ketersediaan fasilitas mahasiswa sangat perlu dilakukan peningkatan dan perkembangan secara berkal di Universitas Jember, khususnya Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. (Adiba)

Ratusan Mahasiswa di Jember Gelar Demo Tolak Kenaikan Harga BBM

Jember, Prima News - Ratusan peserta aksi dari berbagai elemen mahasiswa se-Kabupaten Jember (06/09/22) menggelar aksi demo menolak kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM).

Rentetan demo penolakan harga BBM terjadi diberbagai wilayah di Indonesia, kali ini terjadi di depan Gedung DPRD Kabupaten Jember.

Aksi ini didasari oleh keprihatinan atas putusan pemerintah dengan menaikkan harga BBM yang menimbulkan keresahan bagi masyarakat.

Menurut David, koordinator lapangan dalam aksi ini mengungkapkan bahwa mahasiswa harus menjadi lidah penyambung keluh kesah masyarakat kecil kepada pemerintah.

“Yang Jelas kita sebagai mahasiswa sebagai agen perubahan dan Agen Social of Control, kita harus mendengarkan apa yang menjadi keluh kesah masyarakat dan kita wajib hadir sebagai penyambung lidah masyarakat yang saat ini sedang terhimpit kenaikan harga BBM” Ungkap David Korlap demo mahasiswa di Jember.

Lanjutnya, David juga mengungkapkan terdapat 7 tuntutan yang dilayangkan pada aksi demo kali ini.

“Setelah kami mengkaji fenomena kenaikan harga BBM ini, ada beberapa tuntutan yang kami bawa diantaranya:

1.  menolak kenaikan harga BBM dan tarif dasar listrik,

2.  mendesak pemerintah pusat untuk mengevaluasi kinerja BPH migas,

3.   mendesak pemerintah pusat untuk memberantas pemburu rente,

4.  tunda restrategi nasional yang tidak berpihak kepada rakyat untuk dialihkan kepada subsidi BBM dan segera membangun energi terbarukan,

5. lakukan reformasi perpajakan dan wujudkan pajak berkeadilan,

6. mengajak masyarkat umum untuk mengawal kebijakan pemerintah yang berpihak kepada rakyat,

7. Mengecam represevitas aparat di ruang-ruang demokrasi”  Ungkap David.

Sebelum aksi demo dimulai, puluhan polisi telah bersiaga dilokasi untuk mengamankan jalannya seluruh kegiatan demontrasi berlangsung.(IA)

Batasan Orang Tua Kepada Anaknya

Di tulisan ini saya sebagai penulis akan membahas hal yang mungkin banyak di pikirkan atau atau masalah yang sering di rasakan oleh remaja. Tulisan ini mungkin  banyak menuai pro kontra di antara pembaca, namun saya akan tetap menuliskannya. Opini yang akan saya sampaikan adalah mengenai batas-batasan remaja yang diberikan orang tua. Saya berharap pembaca dapat mengerti dan mungkin beberapa pembaca ada yang merasakan hal yang sama seperti yang aku tuliskan.

   Sebagai remaja, di umur ini kita merasa bahwa kita dapat melakukan semua hal yang kita suka. Hal-hal terserbut tidak semua dapat berdampak positif, pastinya akan ada yang berdampak negatif. Kebebasan itu dapat membuat kita melakukan atau terjerumus ke hal hal yang negatif seperti narkoba, prostitusi dan lain-lain. Salah satu cara untuk menanggulangi hal tersebut adalah peraturan atau batasan-batasan yang di berikan oleh orang tua, seperti tidak boleh pergi hingga larut malam, tidak keluar rumah tanpa alasan yang jelas, dan lainnya.

   Seringkali batasan-batasan tersebut terasa menjadi beban bagi kita semua. Sebenarnya kita tahu bahwa batasan-batasan tersebut diberikan oleh orang tua kita untuk anak-anaknya agar mereka hidup dengan baik dan sesuai dengan peraturan. Kita sebagai anak sering merasa bahwa aturan atau batasan tersebut membuat kita berpikir bahwa orang tua kita tidak mempercayai kita. Sebenarnya jika kita liat dari dua perspektif orang tua dan anak, hal ini memang harus di diskusikan oleh kedua pihak,karena memang kedua pihak tidak ada yang salah.

   Kesalahan tersebut akan timbul jika orang tua membatasi hal-hal yang penting di hidup kita. Contohnya cita-cita anaknya. Sebagai seorang individu yang memiliki hak untuk menentukan pilihan hidup, kita dapat membela cita-cita yang ingin kita capai dan meyakinkan orang tua. Pertanyaannya adalah salah kah kita menolak batasan orang tua kita atas cita-cita kita? Tentu saja tidak. Kita semua harus dan wajib memilih cita-cita kita sendiri. Masa depan kita adalah milik kita bukan orang lain atau pun orang tua kita. Aku dan semua pembaca harus membuktikan kepada orang tua kita bahwa cita-cita yang ingin kita capai itu akan membuahkan hasil yang baik di masa depan. Bagaimana caranya? Dengan bekerja keras untuk menggapai cita-cita tersebut.

   Batasan-batasan ini jika diterapkan dengan benar memang membawa dampak positif namun batasan ini membuat banyak anak melakukan hal-hal yang ekstrem. Contohnya seperti siswa SMP berinisial DRP di Kalimantan Utara yang memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan gantung diri. DRP diduga melakukan hal tersebut lantaran dia dilarang untuk terus bermain game oleh orang tuany. Kasus lainnya adalah siswa SMP berinisial RG asal Kecamatan Sambong, ditemukan meninggal di kamarnya karena gantung diri. RG diketahui memutuskan mengakhiri hidupnya lantaran cintanya tidak di restui oleh orang tuanya. Kasus-kasus seperti diatas lah yang mengakibatkan batasan-batasan ini terlihat hanya mempunyai dampak negatif.

   Apa yang harus kita lakukan untuk melepas diri dari batasan-batasan ini? Kita tidak perlu lepas dari batasan-batasan ini. Selama kita tahu dan yakin bahwa batasan-batasan ini diberikan untuk melindungi dan menjaga diri kita. Kita juga wajib menunjukan kepada orang tua kita bahwa batasan ini mampu membantu kita menjadi orang yang benar jika batasan itu merupakan hal yang baik untuk kita. Bagamaina cara kita mengetahui bahwa batasan atau peraturan itu baik untuk diri kita? Pasti kita akan tahu. Lihatlah lebih dalam kepada diri kalian dan kalian akan mendapatkan jawabannya.(Rayhan)

Universitas Jember Gelar Uji Publik Calon Panitia Seleksi Satgas PPKS

26/08/2022–Universitas Jember menggelar uji publik terhadap calon panitia seleksi satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (PPKS) di gedung Rektorat Universitas Jember. Kegiatan ini berlangsung selama satu setengah jam yang memiliki tujuan untuk memaparkan kepada publik terkait calon panitia seleksi satgas PPKS Universitas Jember.

Pembentukan Pansel PPKS termaktub dalam Permendikbud No.30 tahun 2021 yang disahkan satu tahun yang lalu. Kabar baik dari Permendikbud tersebut adalah Universitas Jember telah mengadakan acara “Uji Publik Calon Panitia Seleksi Satgas PPKS”, walaupun terkesan lambat hampir satu tahun.

Pihak rektorat sulit untuk ditemui dan diwawancarai, sehingga alternatif lain LPM Prima mewawancarai Wakil Dekan III FISIP UNEJ selaku tamu undangan.

“Tadi acaranya perkenalan, sifatnya hanya launching kepada publik terundang bahwa, ‘ini loh ada calon panitia seleksi satgas PPKS’. Bukan satgasnya namun menentukan panitia satgas,” Ujar Edi Wahyudi, Wakil Dekan III.

“Mereka memperkenalkan diri. Ada 10 calon terdiri dari dosen dan mahasiswa. Dosen kurang lebih 7 dan mahasiswa 3 orang,” Imbuhnya.

Hal senada juga disampaikan oleh Amar,mahasiswa FISIP, yang menjadi salah satu peserta Uji Publik Capansel PPKS.

“Diundang juga dari mahasiswa sebagai audiens 4 orang, ada dari dosen diwakili wadek III di masing-masing fakultas, ada juga wadek I. Selain itu ada undangan untuk DP3AKB, KNIT PPA, Polres Jember dan Organisasi Perlinduangan Anak dan Perempuan,” Ujarnya.

Acara Uji Publik Calon Panitia Seleksi Satgas PPKS hanya diwakili beberapa orang saja. Hal ini menimbulkan pertanyaan terkait keterbukaan acara yang diselenggarakan. Menanggapi hal tersebut, Edy Wahyudi menyampaikan bahwa dengan jumlah dan elemen undangan yang ada dapat menginterprertasikan dari sisi keterwakilan pejabat setruktural dan bidang kemahasiswaan.

“Saya yakin pertimbangan dari kantor pusat (rektorat) ada hal tersendiri mengapa uji publik hanya mengundang beberapa (elemen). Menurut hemat saya, mengundang wadek III itu mungkin bisa menginterpretasikan dari sisi keterwakilan pejabat struktural ya, yang mewakili bidang kemahasiswaan saya pikir, sudah mewakili yang dinamakan uji publik, karena yang diundang merepresentasikan perwakilan.” Ungkapnya.

Di samping itu Edy Wahyudi berharap bahwa pembentukan pansel satgas PPKS ini dapat melahirkan satgas yang dapat bekerja dengan baik sesuai dengan tugas dan kewajibannya.

“Harapan saya sebetulnya lebih kepada satgasnya ya, karena yang turun langsung kan satgas. Cuman, pansel memberikan andil besar untuk menyeleksi satgas agar bisa bekerja dengan baik. Sehingga pansel benar-benar berkomitmen untuk membentuk satgas dengan baik. Membentuk satgas yang berdedikasi tinggi,” Tambahnya.

Sedangkan Amar mewakili banyak pihak dengan tegas mengatakan untuk segera membentuk panitia satgas, “Harapannya pembentukan panitia satgas PPKS ini segera terbentuk,” Ujarnya (Diki Angger)

Artikel Hasil Mini Riset Mahasiswa

Libur semester genap telah usai, liburan berdurasi satu bulan lamanya ini banyak dimanfaatkan  Mahasiswa untuk memanfaatkan waktu luang diluar aktivitas akademik, entah untuk melakukan hobi maupun mengerjakan hal yang dapat mendukung pengembangan diri. Sebagai langkah dalam mencari tahu apa saja yang dilakukan mahasiswa pada liburan kali ini, kami anggota Biro Penelitian dan Pengembangan LPM PRIMA mengadakan mini riset guna mengumpulkan respon  beberapa mahasiswa selama menjalani masa libur semester genap yang terhitung cukup lama ini.

Berbekal respon baik dan antusiasme yang disampaikan mahasiswa melalui mini riset dengan menyebarkan formulir untuk mengetahui bagaimana para mahasiswa melewati libur semester genap kali ini menunjukkan bahwa adanya beberapa perbedaan dari kepuasaan yang dirasakan mahasiswa selama menjalani liburannya. Responden yang antusias dan senang menjalani masa liburnya rata-rata banyak mengerjakan hal-hal menyenangkan yang termasuk dalam hobinya, maupun hal menarik yang menguntungkan dan dapat berguna bagi dirinya, sehingga mahasiswa merasa senang dan enjoy dalam menjalani liburannya. Beberapa kegiatan yang mereka lakukan ini juga dapat menjadi rujukan untuk dikerjakan selama masa liburan adalah ber-volunteer, mengikuti magang, kepanitiaan, meningkatkan self improvement secara mandiri, maupun hanya menghabiskan waktu untuk menghibur diri dengan membaca novel, marathon menonton series drama, atau hal lainnya. Berdasarkan jawaban para responden, mereka mengaku bahwa perubahan mood saat liburan mempengaruhi aktifitas yang mereka lakukan, sehingga untuk menikmati masa libur mereka berusaha meningkatkan mood dengan melakukan hal-hal yang disukai.

Sebaliknya, beberapa responden berkomentar bosan dan tidak terlalu menikmati libur semester yang ada diakibatkan karena terlalu lamanya masa liburan. Rata-rata mereka hanya bermalas-malasan atau terpaksa melakukan hal-hal produktif atas perintah sehingga libur semester yang dijalani karena terasa suntuk dan membosankan. Mereka mengaku bingung dan terbatas untuk melakukan sesuatu yang menarik dan produktif saat liburan, terlebih dengan durasi yang cukup lama.

Kesimpulan dari beberapa respon mahasiswa yang diberikan menunjukkan bahwa mahasiswa lebih banyak yang senang mendapat durasi jangka libur yang lama. Hal ini menurut mereka dapat menjadi masa dimana selain untuk membebaskan diri dari serentetan kewajiban akademik kuliah, juga sebagai langkah untuk fokus meningkatkan kemampuan diri secara mandiri. Disisi lain mereka yang merasa suntuk dan bosan memiliki alasan utama bingung dan terbatasnya kegiatan yang hendak mereka lakukan, ini bisa jadi dikarenakan mereka masih belum mengenal diri mereka sendiri, seperti apa yang mereka sukai dan tidak serta hal-hal positif apa yang dapat dikerjakan selama liburan semester.