Pengumuman
Coming Soon TRAIPENMADAS 2022!!!

Batasan Orang Tua Kepada Anaknya

Di tulisan ini saya sebagai penulis akan membahas hal yang mungkin banyak di pikirkan atau atau masalah yang sering di rasakan oleh remaja. Tulisan ini mungkin  banyak menuai pro kontra di antara pembaca, namun saya akan tetap menuliskannya. Opini yang akan saya sampaikan adalah mengenai batas-batasan remaja yang diberikan orang tua. Saya berharap pembaca dapat mengerti dan mungkin beberapa pembaca ada yang merasakan hal yang sama seperti yang aku tuliskan.

   Sebagai remaja, di umur ini kita merasa bahwa kita dapat melakukan semua hal yang kita suka. Hal-hal terserbut tidak semua dapat berdampak positif, pastinya akan ada yang berdampak negatif. Kebebasan itu dapat membuat kita melakukan atau terjerumus ke hal hal yang negatif seperti narkoba, prostitusi dan lain-lain. Salah satu cara untuk menanggulangi hal tersebut adalah peraturan atau batasan-batasan yang di berikan oleh orang tua, seperti tidak boleh pergi hingga larut malam, tidak keluar rumah tanpa alasan yang jelas, dan lainnya.

   Seringkali batasan-batasan tersebut terasa menjadi beban bagi kita semua. Sebenarnya kita tahu bahwa batasan-batasan tersebut diberikan oleh orang tua kita untuk anak-anaknya agar mereka hidup dengan baik dan sesuai dengan peraturan. Kita sebagai anak sering merasa bahwa aturan atau batasan tersebut membuat kita berpikir bahwa orang tua kita tidak mempercayai kita. Sebenarnya jika kita liat dari dua perspektif orang tua dan anak, hal ini memang harus di diskusikan oleh kedua pihak,karena memang kedua pihak tidak ada yang salah.

   Kesalahan tersebut akan timbul jika orang tua membatasi hal-hal yang penting di hidup kita. Contohnya cita-cita anaknya. Sebagai seorang individu yang memiliki hak untuk menentukan pilihan hidup, kita dapat membela cita-cita yang ingin kita capai dan meyakinkan orang tua. Pertanyaannya adalah salah kah kita menolak batasan orang tua kita atas cita-cita kita? Tentu saja tidak. Kita semua harus dan wajib memilih cita-cita kita sendiri. Masa depan kita adalah milik kita bukan orang lain atau pun orang tua kita. Aku dan semua pembaca harus membuktikan kepada orang tua kita bahwa cita-cita yang ingin kita capai itu akan membuahkan hasil yang baik di masa depan. Bagaimana caranya? Dengan bekerja keras untuk menggapai cita-cita tersebut.

   Batasan-batasan ini jika diterapkan dengan benar memang membawa dampak positif namun batasan ini membuat banyak anak melakukan hal-hal yang ekstrem. Contohnya seperti siswa SMP berinisial DRP di Kalimantan Utara yang memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan gantung diri. DRP diduga melakukan hal tersebut lantaran dia dilarang untuk terus bermain game oleh orang tuany. Kasus lainnya adalah siswa SMP berinisial RG asal Kecamatan Sambong, ditemukan meninggal di kamarnya karena gantung diri. RG diketahui memutuskan mengakhiri hidupnya lantaran cintanya tidak di restui oleh orang tuanya. Kasus-kasus seperti diatas lah yang mengakibatkan batasan-batasan ini terlihat hanya mempunyai dampak negatif.

   Apa yang harus kita lakukan untuk melepas diri dari batasan-batasan ini? Kita tidak perlu lepas dari batasan-batasan ini. Selama kita tahu dan yakin bahwa batasan-batasan ini diberikan untuk melindungi dan menjaga diri kita. Kita juga wajib menunjukan kepada orang tua kita bahwa batasan ini mampu membantu kita menjadi orang yang benar jika batasan itu merupakan hal yang baik untuk kita. Bagamaina cara kita mengetahui bahwa batasan atau peraturan itu baik untuk diri kita? Pasti kita akan tahu. Lihatlah lebih dalam kepada diri kalian dan kalian akan mendapatkan jawabannya.(Rayhan)

Universitas Jember Gelar Uji Publik Calon Panitia Seleksi Satgas PPKS

26/08/2022–Universitas Jember menggelar uji publik terhadap calon panitia seleksi satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (PPKS) di gedung Rektorat Universitas Jember. Kegiatan ini berlangsung selama satu setengah jam yang memiliki tujuan untuk memaparkan kepada publik terkait calon panitia seleksi satgas PPKS Universitas Jember.

Pembentukan Pansel PPKS termaktub dalam Permendikbud No.30 tahun 2021 yang disahkan satu tahun yang lalu. Kabar baik dari Permendikbud tersebut adalah Universitas Jember telah mengadakan acara “Uji Publik Calon Panitia Seleksi Satgas PPKS”, walaupun terkesan lambat hampir satu tahun.

Pihak rektorat sulit untuk ditemui dan diwawancarai, sehingga alternatif lain LPM Prima mewawancarai Wakil Dekan III FISIP UNEJ selaku tamu undangan.

“Tadi acaranya perkenalan, sifatnya hanya launching kepada publik terundang bahwa, ‘ini loh ada calon panitia seleksi satgas PPKS’. Bukan satgasnya namun menentukan panitia satgas,” Ujar Edi Wahyudi, Wakil Dekan III.

“Mereka memperkenalkan diri. Ada 10 calon terdiri dari dosen dan mahasiswa. Dosen kurang lebih 7 dan mahasiswa 3 orang,” Imbuhnya.

Hal senada juga disampaikan oleh Amar,mahasiswa FISIP, yang menjadi salah satu peserta Uji Publik Capansel PPKS.

“Diundang juga dari mahasiswa sebagai audiens 4 orang, ada dari dosen diwakili wadek III di masing-masing fakultas, ada juga wadek I. Selain itu ada undangan untuk DP3AKB, KNIT PPA, Polres Jember dan Organisasi Perlinduangan Anak dan Perempuan,” Ujarnya.

Acara Uji Publik Calon Panitia Seleksi Satgas PPKS hanya diwakili beberapa orang saja. Hal ini menimbulkan pertanyaan terkait keterbukaan acara yang diselenggarakan. Menanggapi hal tersebut, Edy Wahyudi menyampaikan bahwa dengan jumlah dan elemen undangan yang ada dapat menginterprertasikan dari sisi keterwakilan pejabat setruktural dan bidang kemahasiswaan.

“Saya yakin pertimbangan dari kantor pusat (rektorat) ada hal tersendiri mengapa uji publik hanya mengundang beberapa (elemen). Menurut hemat saya, mengundang wadek III itu mungkin bisa menginterpretasikan dari sisi keterwakilan pejabat struktural ya, yang mewakili bidang kemahasiswaan saya pikir, sudah mewakili yang dinamakan uji publik, karena yang diundang merepresentasikan perwakilan.” Ungkapnya.

Di samping itu Edy Wahyudi berharap bahwa pembentukan pansel satgas PPKS ini dapat melahirkan satgas yang dapat bekerja dengan baik sesuai dengan tugas dan kewajibannya.

“Harapan saya sebetulnya lebih kepada satgasnya ya, karena yang turun langsung kan satgas. Cuman, pansel memberikan andil besar untuk menyeleksi satgas agar bisa bekerja dengan baik. Sehingga pansel benar-benar berkomitmen untuk membentuk satgas dengan baik. Membentuk satgas yang berdedikasi tinggi,” Tambahnya.

Sedangkan Amar mewakili banyak pihak dengan tegas mengatakan untuk segera membentuk panitia satgas, “Harapannya pembentukan panitia satgas PPKS ini segera terbentuk,” Ujarnya (Diki Angger)

Artikel Hasil Mini Riset Mahasiswa

Libur semester genap telah usai, liburan berdurasi satu bulan lamanya ini banyak dimanfaatkan  Mahasiswa untuk memanfaatkan waktu luang diluar aktivitas akademik, entah untuk melakukan hobi maupun mengerjakan hal yang dapat mendukung pengembangan diri. Sebagai langkah dalam mencari tahu apa saja yang dilakukan mahasiswa pada liburan kali ini, kami anggota Biro Penelitian dan Pengembangan LPM PRIMA mengadakan mini riset guna mengumpulkan respon  beberapa mahasiswa selama menjalani masa libur semester genap yang terhitung cukup lama ini.

Berbekal respon baik dan antusiasme yang disampaikan mahasiswa melalui mini riset dengan menyebarkan formulir untuk mengetahui bagaimana para mahasiswa melewati libur semester genap kali ini menunjukkan bahwa adanya beberapa perbedaan dari kepuasaan yang dirasakan mahasiswa selama menjalani liburannya. Responden yang antusias dan senang menjalani masa liburnya rata-rata banyak mengerjakan hal-hal menyenangkan yang termasuk dalam hobinya, maupun hal menarik yang menguntungkan dan dapat berguna bagi dirinya, sehingga mahasiswa merasa senang dan enjoy dalam menjalani liburannya. Beberapa kegiatan yang mereka lakukan ini juga dapat menjadi rujukan untuk dikerjakan selama masa liburan adalah ber-volunteer, mengikuti magang, kepanitiaan, meningkatkan self improvement secara mandiri, maupun hanya menghabiskan waktu untuk menghibur diri dengan membaca novel, marathon menonton series drama, atau hal lainnya. Berdasarkan jawaban para responden, mereka mengaku bahwa perubahan mood saat liburan mempengaruhi aktifitas yang mereka lakukan, sehingga untuk menikmati masa libur mereka berusaha meningkatkan mood dengan melakukan hal-hal yang disukai.

Sebaliknya, beberapa responden berkomentar bosan dan tidak terlalu menikmati libur semester yang ada diakibatkan karena terlalu lamanya masa liburan. Rata-rata mereka hanya bermalas-malasan atau terpaksa melakukan hal-hal produktif atas perintah sehingga libur semester yang dijalani karena terasa suntuk dan membosankan. Mereka mengaku bingung dan terbatas untuk melakukan sesuatu yang menarik dan produktif saat liburan, terlebih dengan durasi yang cukup lama.

Kesimpulan dari beberapa respon mahasiswa yang diberikan menunjukkan bahwa mahasiswa lebih banyak yang senang mendapat durasi jangka libur yang lama. Hal ini menurut mereka dapat menjadi masa dimana selain untuk membebaskan diri dari serentetan kewajiban akademik kuliah, juga sebagai langkah untuk fokus meningkatkan kemampuan diri secara mandiri. Disisi lain mereka yang merasa suntuk dan bosan memiliki alasan utama bingung dan terbatasnya kegiatan yang hendak mereka lakukan, ini bisa jadi dikarenakan mereka masih belum mengenal diri mereka sendiri, seperti apa yang mereka sukai dan tidak serta hal-hal positif apa yang dapat dikerjakan selama liburan semester.

Diskusi Publik Sebagai Pendidikan Politik Kampus

Jumat 12 Agustus 2022 Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik selenggarakan Diskusi Publik membahas tentang kampanye dan pendidikan politik kampus dengan judul “Teropong Mahasiswa SOSPOL: Menimbang Wacana Kampanye Pemilu sebagai Pendidikan Politik di Perguruan Tinggi”. Diskusi ini  diselenggarakan secara online melalui zoom meeting dengan mengundang Divisi SDM & Partisipasi Masyarakat KPU Kab. Jember sebagai pemateri.

Menurut Amiq diskusi semacam ini adalah wadah bagi mahasiswa FISIP untuk melakukan analisis dan sumbang pemikiran atas wacana pemilu kampus yang telah beredar.

“Latar belakangnya jelas, Ketua KPU Republik Indonesia mengeluarkan pendapat atau wacana ya lebih wacana yaa. Pemilu sebagai pendidikan politik di kampus oleh karena itu, memang ada klausulnya, kami sebagai mahasiswa FISIP bereaksi dan juga akan menyuarakan pendapat dan melakukan diskusi untuk menimbang wacana ini.” Terang Amiq

Sebelum dilakukannya diskusi ini BEM FISIP telah membuat kajian tertulis dengan judul “Teropong Mahasiswa SOSPOL: Menimbang Wacana Kampanye Pemilu di Perguruan Tinggi” untuk menunjukkan pro dan kontra terkait dengan wacana kampanye yang akan dilaksanakan di kampus. Sehingga dengan adanya diskusi ini menambah lebih banyak perspektif sesuai dengan focus masing-masing pemateri sebagai bahan pertimbangan bagi mahasiswa untuk menyikapi wacana ini.

Menurut Pramudya Ananta, Menko Analisis BEM FISIP 2022 bahwa dari segi hukum pelaksanaan kampanye kampus tidak diperbolehkan dibeberapa tempat, namun hari ini masih ada pelanggaran dalam hal ini.

“Secara pribadi, secara Yuridis sebenarnya kampanye di kampus tidak diperbolehkan karena emang ada beberapa tempat yang diperbolehkan seperti tempat ibadah, tempat pemerintah…. Dan kampanye di kampus itu sudah ada pelanggarannya”. Jelasnya.

Kesimpulan dari penyelenggaraan diskusi ini ialah dimana belum adanya regulasi yang mengatur atas wacana tersebut sehingga belum menemukan kejelasan yang konkrit untuk jawaban atas pelaksanaan kampanye yang akan dilakukan di dalam kampus.

Oleh : Ardiah Ratrie 

Himasos Fisip Unej Gandeng  XR Jember dan XR Jatim Lakukan Aksi Toy Strike dan Open Donation Boneka

LPM PRIMA, Jember – Himasos Fisip Unej bersama Extention Rebellion Jember (XR Jember) dan Extention Rebellion Jawa Timur (XR Jatim) menggelar aksi simbolik di alun-alun Jember, pada 14 Agustus 2022. Aksi tersebut dilakukan untuk mengampanyekan terkait isu krisis iklim.

Sebelumnya mereka telah melakukan “Open Donation Boneka atau Mainan Anak ”,  yang masih layak. Donasi terbuka dilakukan sejak 8-13 Agustus lalu. Terkumpul lebih dari 3 kardus besar berisi  mainan dan boneka. Boneka-boneka itu nantinya akan disumbangkan kepada adik-adik di Lembata, NTT yang merupakan daerah terdampak banjir dan longsor pada 2021 silam.

Aksi berlangsung selama satu setengah jam dari pukul 09.00 – 10.30 WIB. Ada sekira 20 peserta yang turut menyuarakan terkait krisis iklim. Boneka-boneka dari hasil open donasi juga dipajang di atas kain hitam.

Aksi simbolik tersebut diisi orasi oleh Ketua Umum Himasos Fisip Unej, Aulian Milki Toha Larobi dan pembacaan puisi oleh Ananda Rizky dari XR Jatim. Dalam orasinya Aulian menyampaikan peringatan bahwa waktu kita sudah habis untuk menyelamatkan bumi dari krisis iklim.

“Dunia sedang tidak baik-baik saja. Waktu kita sudah habis, jika semua lini masyarakat tidak segera sadar akan bahaya krisis iklim. Tunggu saja masa kepunahan umat manusia!” pekiknya dengan lantang.

Ananda Rizky, perwakilan XR Jatim mengatakan, peran pemuda sangat berpengaruh untuk menciptakan perubahan dalam isu krisis iklim saat ini.

“Kami mengampanyekan krisis iklim yang terjadi sekarang. Kami memanfaatkan peran pemuda yang mempu mengubah banyak hal, salah satunya melalui kegiatan ini. Di mana ini sangat perlu mengingat di masa sekarang, dengan bumi yang sekarang kita tinggali mengalami krisis iklim,” kata Rizky saat diwawancara Prima.

Aulian mewakili Himasos Fisip Unej sekaligus XR Jember menyampaikan harapannya agar masyarakat segera sadar akan krisis iklim yang sedang terjadi.

“Harapannya masyarakat segera sadar dan semakin peduli terhadap bumi dan lingkungannya. Dan harapan terbesar kami adalah pemerintah segera mendeklarasikan darurat krisis iklim,” ujarnya saat diwawancara Prima.

Senada dengan hal tersebut, Rizky menyampaikan imbauannya kepada seluruh elemen masyarakat agar sesegera mungkin untuk terlibat dalam penanggulangan krisis iklim ini.  

“Masalah iklim ini merupakan masalah besar yang mengglobal dan harus semua elemen terlibat dalam penanggulangan ini. Dari masyarakat terkecil sampai pemegang regulasi tertinggi juga harus berkesinambungan untuk bekerja sama dalam menanggulangi krisis iklim ini,” ujarnya.

Di akhir aksi, mereka menyampaikan deklarasi berupa tiga hal penting. Adapun isi dari deklarasi tersebut sebagai berikut:

  1. Menuntut peran pemerintah lebih serius menanggapi krisis iklim yang ada di Indonesia. Melihat bencana di Indonesia semakin banyak dan parah masalah ini tidak bisa di biarkan begitu saja.
  2. Kami para pemuda Jember mewakili pemuda Indonesia yang peduli kepada bumi dan lingkungan, mengajak seluruh lapisan masyarakat Jember agar turut menjaga bumi dan lingkungannya.
  3. Kami menolak punah.

 

Oleh: Diki Angger

Jordan Peele, Sutradara Film Horor Terbaik Melalui Film Khasnya Get Out (2017), Us (2019) dan Nope (2022)

Oleh: Elham Aprilian

Traipenmadas 2021

Jordan Peele adalah sosok sutradara yang digadang-gadang sebagai sutradara film horor terbaik sepanjang masa. Peele sendiri dikenal sebagai komedian, aktor, penulis naskah hingga produser Amerika Serikat.

Namanya terkenal ketika film bergenre horor-thriller besutanya, Get Out, yang rilis pada 2017 lalu yang sangat menyita perhatian publik. Kemudian, namanya semakin melambung ketika film keduanya rilis, Us, pada 2019. Hingga 2022 ini, film terbarunya telah ditunggu oleh penikmat film horor di seluruh dunia. Film yang bertajuk Nope yang rilis pada bulan Agustus (jadwal Indonesia) ini.

Ciri khas yang dapat dilihat dari film-film produksinya adalah menggunakan aktor dan aktris berkulit hitam sebagai pemeran utama. Hal ini dianggap sebagai upaya eksistensi para warga kulit hitam yang diketahui telah banyak terjadi kasus diskriminatif dan rasisme di Amerika Serikat. Bukan hanya itu, Peele rajin memasukkan beberapa pesan tersirat penuh makna yang sering kali tidak disadari oleh para penonton.

Peele sebagai sutradara berkulit hitam, ingin memberikan tempat yang pantas bagi orang-orang kulit hitam melalui karya-karyanya. Hal ini jelas diperlihatkan oleh Peele melalui film perdananya dengan tema rasisme yang kental dan tajam, Get Out.

Secara garis besar, Get Out mengisahkan seorang pria kulit hitam, Chris Washington (diperankan oleh Daniel Kaluuya), dengan seorang wanita kulit putih, Rose Armitage (diperankan Allison Willimas).

Kisah ini dimulai ketika Rose mengajak Chris bertemu dengan keluarganya dalam pesta keluarga yang tinggal di pinggiran kota. Acara itu diketahui selalu diselenggarakan di setiap tahunnya. Namun, beberapa kejanggalan yang dirasakan Chris ketika ia berada di rumah Rose hingga membuatnya sadar bahwa ada sesuatu yang salah sedang terjadi. Beberapa orang yang berkulit hitam dalam acara itu yang ia temui tampak seperti orang aneh. Hingga Chris akhirnya menyadari adanya bahaya yang mengancam hidupnya dan ia harus melarikan diri.

Dalam film ini, Jordan Peele mengangkat isu-isu perbudakan orang-orang kulit hitam pada zaman modern. Pasalnya, Chris dan orang kulit hitam lainnya di rumah itu dijadikan sebagai komoditi oleh keluarga Rose untuk kepentingan-kepentingan khusus mereka.

Setelah sukses dengan film pertamanya serta mendapatkan penghargaan Oscars pada 2018 dalam kategori Naskah Skenario Orisinil Terbaik dalam Academy Awards, Jordan Peele mencoba peruntungan di film keduanya yang ia beri tajuk “Us”. Keberhasilan film keduanya ini juga membawa Peele sebagai sutradara film horor yang patut diperhitungkan.

Dalam Us, para pemeran utama adalah para aktor dan aktris yang sebelumnya sama-sama bermain dalam film Black Panther (2018), Lupito Nyong’o dan Winston Duke. Film ini mengisahkan teror yang sadis dan mengerikan tiada hentinya dari seseorang yang mirip dengan “kita”. Dari film ini, para penonton juga mendapat pesan yang cukup tegas di mana pemerintah harus memiliki tanggung jawab penuh dalam proyek yang mereka lakukan.

Ulasan positif dari para penonton dan para kritikus film membuat Jordan Peele semakin terkenal. Ditambah, film ketiganya yang telah rilis pada bulan Juli lalu disambut meriah oleh para penikmat film di seluruh dunia. Nope, film tentang fenomena misterius yang mempengaruhi perilaku hewan dan manusia dengan sentuhan horor-fiksi khas Jordan Peele.

Tentunya film-film seperti ini dapat menjadi referensi para sineas lain dalam memproduksi film-film horor mereka. Alih-alih mengedepankan unsur seram semata tanpa memberikan pesan penuh makna, menjadikan film lebih berkesan, membekas dan menantang untuk diminati adalah salah satu harapan para penikmat film.

Persaingan Film Horor Indonesia Dalam Kancah Internasional

 Oleh: Elham Aprilian

Traipenmadas 2021

Genre film horor masih menjadi pusat perhatian sebagian masyarakat Indonesia. Tak pelak para sineas berlomba-lomba membuat sebuah film yang dapat disukai masyarakat. Perbanyak rombak sana-sini adalah strategi para sineas untuk menyesuaikan cerita dengan perkembangan zaman dan perfilman horor di dunia yang tak melulu soal hantu seram yang ditonjolkan dan kesurupan yang membosankan. Tujuannya agar tak hanya diterima dikalangan masyarakat Indonesia, namun tentunya dunia.

Dengan mengangkat budaya Indonesia yang mempunyai ciri khas, apalagi mitos-mitos yang melegenda di berbagai daerah yang kental akan adat istiadat yang menjadi bagian kehidupan masyarakat, menjadikan film horor Indonesia cukup mampu bersaing.

Tentunya di mata dunia, mitos-mitos masyarakat tradisional dianggap sebagai hal yang unik dan sangat menarik. Budaya yang kental dapat membuat sebuah cerita semakin berwarna ditambah dengan menonjolkan sisi mistis yang menakutkan.

Tak hanya budaya, sama halnya dengan perkembangan perfilman horor dunia saat ini, sentuhan psikologis atau permainan pikiran tak luput ditambahkan sebagai pemanis. Sentuhan itulah yang telah memberikan kesan mengerikan dari pada hanya kekagetan semata.

Kini, seberapa seram sang hantu yang disajikan sudah tidak menjadikan patokan sebuah film agar dapat menghantui penonton di sepanjang pemutaran film. Sebagai gantinya, para sineas dapat menitikberatkan metode psikologis supaya dapat menyuguhkan fenemona mengerikan yang memberikan efek yang tak terduga dan berkesan, serta menancap dipikiran para penonton setelah menontonnya.

Sentuhan psikologis yang dapat mempermanis cerita menjadi tantangan yang penting untuk para sineas. Mereka harus membuat metode yang kuat untuk film mereka. Alih-alih menonjolkan hantu sebagai “bintang” utama, para sineas dapat lebih menonjolkan bagaimana peran utama menyelesaikan masalahnya dengan akhir yang sulit ditebak.

Mengingat perfilman horor 90-an yang mayoritas dibintangi oleh Suzanna, banyak menyuguhkan adegan “berperang” antara hantu dengan manusia. Tak hanya itu, budaya dan mitos-mitos juga turut dimasukkan dalam cerita dan hasilnya pun cukup diminati masyarakat Indonesia pada masa itu.

Namun, berbeda tahun sesudah zaman Suzanna atau tahun antara 2000-2010. Kebanyakan film horor lebih identik dengan adegan vulgar dan cerita yang monoton. Tak hanya itu, hantu-hantu yang disuguhkan pun hanya itu-itu saja, seperti halnya kuntilanak yang hampir ada di setiap film horor Indonesia pada zaman itu.

Sekarang pun para sineas muda mulai berlomba-lomba me-remake film-film jadul menjadi lebih modern. Contohnya Pengabdi Setan yang sebelumnya sudah diproduksi di tahun 90-an kemudian di remake oleh Joko Anwar. Hasilnya pun sangat memuaskan. Masyarakat sangat tertarik walaupun cerita telah diproduksi sebelumnya. Joko Anwar mengemas dengan sentuhan yang modern.

Selain itu, Perempuan Tanah Jahanam besutannya juga sudah wara-wiri di beberapa bioskop dan festival film di luar negeri. Dengan judul internasional Impetigore, masyarakat asing sangat menyukai jalan cerita yang segar, klenik dan tidak melulu soal hantu.

Menurut mereka sebagai masyarakat barat yang minim akan budaya, film yang menambahkan unsur budaya tradisional menjadi daya tarik yang tidak bisa dilewatkan. Hal yang serupa dengan film Bollywood atau India yang kental akan budayanya dan sudah dikenal dunia. Film Indonesia patut mengangkat unsur budaya dan menambahkan sentuhan modern di dalamnya.

Kini, film horor Indonesia sudah mulai dikenal karena mengangkat budaya Tanah Air yang dianggap unik. Unsur-unsur budaya yang dekat dengan masyarakat adalah aset yang dapat dikembangkan dan dipertimbangkan ke mata dunia. Seperti kisah-kisah mitos yang tumbuh di pedesaan yang berkaitan erat dengan adat istiadat dam tatanan sosial masyarakat tradisional. Menjadikan perfilman horor Indonesia dapat berjejer dengan film-film produksi barat.

 

Rumah Sekap Rapunzel

Banyak yang bilang, kampus merupakan miniatur negara. Terdapat beberapa Lembaga seperti eksekutif, legislatif dan yudikatif. Jika di FISIP Lembaga eksekutif adalah BEM, HMJ dan UKM. Sedangkan legislatif adalah BPM dan dekanat adalah presidennya. Pemerintah mempunyai tugas untuk memberikan dan melakukan pemberdayaan pada rakyatnya. Sama dengan mahasiswa, perlunya sebuah pemberdayaan melalui pembangunan kesejahteraan sosial untuk meningkatkan kualitas mahasiswa sendiri guna tercapainya kata ‘sejahtera’.

Pembangunan kesejahteraan sosial adalah usaha yang terencana dan melembaga yang meliputi berbagai bentuk intervensi sosial dalam pelayanan sosial untuk memenuhi kebutuhan manusia, mencegah dan mengatasi masalah sosial, serta memperkuat institusi-institusi sosial (Suharto, 1997). Tujuan pembangunan kesejahteraan sosial adalah untuk meningkatkan kualitas hidup manusia secara menyeluruh. Pada ontologi aliran dualisme, manusia dapat dikatakan sejahtera apabila terdapat keseimbangan. Jika melihat definisi tersebut maka untuk meningkatkan kualitas mahasiswa perlu melakukan pemberdayaan yang seimbang. Pemberdayaan yang seimbang bisa dilakukan dengan cara memberikan koginisi otak untuk meningkatkan skill mahasiswa dan terpenuhinya fasilitas-fasilitas pendukung proses belajar. Fasilitas pendukung haruslah nyaman, aman, dan bersih.  

Banyak hal yang perlu dibenahi menyoal infrastruktur. Namun, melihat kondisi tersebut, apakah mereka tidak melihat sekitar mereka terlebih dahulu? Fakultas yang sehari-harinya kita tempati menjadi ruang belajar kita di kampus. Kebanyakan mahasiswa baru membayangkan kuliah dengan kursi putih serta meja sambung di depannya, gedung bertingkat dan masjid yang melintang serta area taman yang begitu nyaman sebagai tempat bersantai hingga berdiskusi bersama rekan mahasiswa lain. Membayangkan itu saja, ingin sekali menyegerakan memasuki bangku kuliah. Namun, setelah memasuki fakultas betapa mirisnya dan betapa kagetnya mahasiswa baru melihat kondisi yang sebenarnya. Ruang kelas sempit dengan kursi rotan Panjang dan diisi 3-4 orang dan pendingin ruangan yang rusak, taman yang penuh daun dan bangunan kuno, lapangan olahraga yang bolong dan tidak terawat. Apakah sebenarnya fakultas punya keinginan menjadikan tempat belajar seperti rumah penyihir yang digunakan untuk menyekap Rapunzel?

Mahasiswa baru tentunya membayangkan kuliah dengan kursi putih serta meja sambung di depannya, gedung bertingkat dan masjid yang melintang serta area taman yang begitu nyaman sebagai tempat bersantai hingga berdiskusi bersama rekan mahasiswa lain. Membayangkan itu saja, ingin sekali menyegerakan memasuki bangku kuliah. Namun, setelah memasuki fakultas betapa mirisnya dan betapa kagetnya mahasiswa baru melihat kondisi yang sebenarnya. Ruang kelas sempit dengan kursi rotan Panjang dan diisi 3-4 orang dan pendingin ruangan yang rusak, taman yang penuh daun dan bangunan kuno, lapangan olahraga yang bolong dan tidak terawat. Apakah sebenarnya fakultas punya keinginan menjadikan tempat belajar seperti rumah penyihir yang digunakan untuk menyekap Rapunzel?

Jika melihat kondisi fakultas perhari ini sangat jauh dari kata sejahtera dan dirasa belum mampu menyokong kesejahteraan mahasiswa. Jika dianalogikan sebuah negara, fakultas yang kurang akan pelayanan infrastruktur seperti perumahan kumuh yang ada di pinggir bantaran sungai dengan penuh sampah berserakan. Sehingga, negara tersebut merupakan salah satu negara yang masih berkembang karena belum bisa memenuhi kesejahteraan masyarakatnya. Andai aku jadi pemimpin, aku tidak ingin buta akan lingkungan sekitar rakyatku. Aku harus memberikan sebuah pelayanan fasilitas yang memadai untuk kesejahteraan rakyat. Tidak hanya itu, aku tidak ingin rumah yang ditempati rakyat untuk menimba ilmu menjadi rumah yang tidak nyaman dan berbahaya jika ditempati. Aku ingin meningkatkan kualitas masyarakatku dengan didukung oleh fasilitas yang memadai sehingga mereka dapat menimba ilmu dan meningkatkan kualitas diri untuk mewujudkan tujuan negaraku. (Nadia Rifatul Karomah)

(LITERAKSI BEM FISIP X LPM PRIMA FISIP)

3 Alasan FISIP Jadi Fakultas Paling Memprihatinkan di UNEJ

Kehidupan kampus pada situasi yang mengarah ke endemi perlu dihidupkan kembali. Kalau mendengar cerita dari angkatan terdahulu, kampus sudah menjadi “Rumah Mahasiwa”, setelah dipikir-pikir saya sepakat dengan pernyataan itu, mengingat peran kampus yang sangat vital baik dalam menunjang pembelajaran di dalam kelas, maupun produktifitas mahasiswa di luar kelas. Sayangnya tak semua kampus maupun fakultas mampu memfasilitasi mahasiswa dengan kondisi yang nyaman.

Dari sekian fakultas yang ada di Universitas Jember, saya rasa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) dalam hal pemenuhan fasilitas, layak untuk mendapat penghargaan dan dinobatkan sebagai “Fakultas Paling Memprihatinkan se-UNEJ”. Harusnya memang Pak Iwan Taruna minimal mengagendakan satu malam penganugrahan-lah di puncak Dies Natalies UNEJ untuk itu. Ya, eman aja kalau nama besar FISIP punya kesempatan penuh mendobrak panggung kancah rektorat tidak diapresiasi.

Ajang pamer fasilitas kampus macam yang ada di tren TikTok yakni “University Check” beberapa waktu lalu, jikalau untuk mahasiswa FISIP saya sarankan untuk numpang aja deh ke fakultas-fakultas lain. Saya sarankan, bisa kok nebeng ke Fakultas Hukum (FH) yang sampingnya sudah ada Taman Edukasi Kebangsaan lengkap dengan Soekarno-Hatta Corner. Tampak apik nan ciamik gedung CDAST, rektorat, IsDB, atau apalah pokok jangan FISIP, titik!.

Memang pertarungan antar kampus itu idealnya bukan soal fasilitas, akan tetapi soal akademis-nya. Namun, tak dapat dielakkan lagi jikalau fasilitas yang fundamental ndak terpenuhi, ya mahasiswanya juga kasian bos!. Kita nggak perlu ngomong ndakik-ndakik lah, soal charging station atau keran air minum di berbagai titik fakultas, udah jangan kesana dulu. Gimana mau kesana, lha wong fasilitas-fasilitas yang fundamental aja masih belum layak kok. Untuk itulah, akan saya coba jelaskan beberapa alasan dari judul yang telah tertera di atas.

  1. Sarana olahraga

Ngomongin soal sarana olahraga, FISIP memang juaranya dalam memenuhi hak-hak mahasiswanya untuk tidak bisa berolahraga di dilingkungannya sendiri. Padahal lho rek, di FISIP kita tercinta ini ada Unit Kegiatan Mahasiswa Olahraga (UKM O) yang terdiri dari UKM Futsal, Badminton, Bulutangkis, serta Bola Basket yang pusat kegiatannya, ya harusnya ada di fakultas. Sialnya lapangan futsal yang ada kondisinya sungguh menggenaskan. Lantai lapangan sudah bolong-bolong ra karuan, cat pudar juga mengelupas, Bayangkan kalau mahasiswa bermain futsal di sana, dapat dipastikan jika memakai sepatu, sepatunya ya wes pasti ancur. Belum lagi perihal keranjang ring basket yang sudah nggak layak pakai. Lebih mengerikan lagi, net bola voli yang hanya tinggal 1 tiang, dan yang super aneh adalah lapangan bulutangkis yang entah dimana rimbanya.

  1. Taman Super Wi-Fi (TSW) Kawasan Taman Super Wi-Fi (TSW) yang berisi sejumlah tempat duduk lengkap dengan payungnya yang sangat mengagetkan ketika cabang-cabang kayu jatuh dari atas, duaaang!. Menariknya, TSW yang kata tengahnya “Super” nyatanya nggak super-super amat kok. Lha wong kekuatan sinyalnya aja ndak bisa menyeluruh di semua sudut TSW, ya mungkin hanya dibeberapa sudut saja yang terjangkau. 
  2. Kamar Mandi

Sejauh pengalaman saya menjelajahi kamar mandi yang ada di FISIP, memang secara kebersihan cukup baik lah, meski ndak semua. Mirisnya, sampai saat ini nggak ada pembeda gender. Lha nek diterusnse kan bisa bahaya, apalagi habis ini kayaknya bakal kuliah luring lagi. Wahhh, sungguh juara bukan FISIP-ku?. (Aulian Milki Toha Larobi)

(LITERAKSI BEM FISIP X LPM PRIMA FISIP)

 

Selamat Datang Di Gedung Rimbun Fakultasku

FATAMORGANA

Oleh: Rosiana Balqis

“Selamat datang di gedung rimbun fakultasku.”

Jangan ditanya fakultas apa? Nanti akan kubuat kalian tahu tanpa kuberi tahu. Gedung tua dengan mayoritas dindingnya berwarna orange kekuningan yang membuatnya tampak lebih bersinar dari sebuah bohlam pijar. Di sekitar halamannya banyak tumbuh pepohonan hijau yang menjuntai, bahkan kala hujan pun bingung mencari celah untuk jatuh ke tanahnya. Tersebar beberapa saung yang terbuat dari kayu dengan posisi melingkar biasa digunakan untuk beradu humor dengan sesama, meski terkadang banyak serangga kecil menggigit yang seolah-olah ingin turut bercengkrama dengan manusia. Entah, mungkin karena fakultasku terlalu bersih dan asri hingga banyak serangga pun berebut ingin menempatinya. Saat malam tiba, terlihat beberapa lampu taman yang menyala sehingga tak perlu takut jika datang untuk kuliah di malam hari.

Tidak seperti hutan belantara yang menakutkan, itulah mengapa fakultasku tetap indah meski dipandang di gelapnya rembulan malam. Tentu dapat dibayangkan bukan suasana di sana? “Jangan Iri!” Ini masih bagian depan yang kuceritakan, selanjutnya ayo ikut aku masuk ke dalamnya. Fakultasku terbagi dalam 8 program studi dan saat ini aku menginjak semester pertengahan di program studi yang bergelut dalam keilmuan bisnis dan apa pun tentang perusahaan. Tak hanya itu, aku bahkan mempelajari dasar administratif dan sedikit tentang sosial ketatanegaraan.

Pasti cerebrum kalian sedang bertanya-tanya ini fakultas apa. Jangan terburu-buru! Masih banyak clue yang akan kusampaikan. Fakultasku terkenal sangat memperhatikan kenyamanan penghuni di dalamnya, bahkan banyak sekali fasilitas dan ornamen yang mendukung kegiatan mahasiswa di dalamnya seperti lapangan basket di samping gedung yang selalu dirawat sehingga tampak selalu bersih dan baru, musholah kecil lengkap dengan lemari berisi mukenah, sarung, Al – Qur’an bahkan tempat wudhu yang luas dan tertutup sehingga mahasiswa tidak perlu mengantri dan tidak terganggu dengan aktivitas lain. Ruang-ruang yang memadai untuk tiap unit kegiatan mahasiswa, bahkan fakultasku menyediakan aula khusus untuk kegiatan seni dan olahraga.

Tidak seperti fakultas sebelah yang meletakkan musholah disamping ruang seni, bagaimana penghuninya bisa beribadah dengan khusyu’ jika saat sujud justru terngiang lagu dangdut. “Huft! Untung saja bukan fakultasku”. Tak heran jika di sini tidak ada fasilitas atau ornamen terbengkalai dan tidak penting, semua fasilitas fisik dapat dimanfaatkan dengan baik dan bijak. Apa aku sudah berhasil membuat kalian iri ? Oke, belum. Selanjutnya kita masuk ke ruang kelas. Setiap ruang kelas dalam program studiku memiliki bangku yang menyatu dengan mejanya, terdapat satu papan dan satu proyektor di dalamnya, tak hanya itu ruang kelas kami dilengkapi dengan AC dan penerangan yang baik sehingga saat perkuliahan tidak merasa ‘pengap’ dan mengantuk. Sayangnya, aku baru beberapa kali menempati kelas itu karena terhambat pandemi.

Konon fakultas sebelah masih menggunakan bangku panjang terbuat dari anyaman rotan yang alas duduknya sudah remuk. Jenaka sekali bukan? Pasti mereka sedang bercanda. Selain fasilitas fisik, fakultasku juga terkenal dengan pelayanan yang amat baik. Mengapa demikian? Karena fakultasku selalu berusaha untuk bisa beradaptasi dengan perkembangan zaman.

Di era digitalisasi saat ini, tentu perubahan kurikulum dan sistem pun semakin maju. Untuknya, perlu berbenah dalam mengubah sistem yang masih bersifat konvensional ke sistem yang modern agar tidak tertinggal. Masalah pengadministrasian di fakultasku entah perizinan kegiatan, persyaratan beasiswa hingga permohonan dana dapat diatasi dengan sekejap melalui sistem online, hal ini karena orang-orang di dalamnya sangat tanggap dan responsif terhadap kebutuhan mahasiswanya.

Aku iba, fakultas sebelah masih belum bisa menyamai fakultasku, katanya kemarin sempat ada mahasiswa yang gagal mendaftar beasiswa hanya karena belum selesai mengurus administrasi yang dipersulit dengan proses yang lama sehingga ia tertinggal. Setelah sepanjang kisah dari mahasiswa jelata ini, apakah cukup membuat kalian iri? Apakah kalian bisa menebak fakultas apa ini? Yaaa betul sekali !!!.

“Kringgg!! Kringgg!! Kringgg!!” (suara alarm berbunyi.) Ternyata aku baru bangun dari tidur dan mimpi indah semalam.

(LITERAKSI BEM FISIP X LPM PRIMA) 

Reshuffle Kepengurusan, Himasos Gelar Rapat Istimewa

Selasa, 12 Juli 2022 Himpunan Maahasiswa Sosiologi (Himasos) Fisip Unej menggelar rapat istimewa. Rapat ini diselenggarakan untuk menetapkan pergantian jabatan didalam suatu kepengurusan (Resuffle). Reshuffle pada Himasos dilakukan karena Sekretaris Bidang Akademik,  Annisa Dini Kamila, memutuskan untuk keluar dari Unej dan pindah ke kampus lain.

Sesuai dengan landasan hukum yang tertera pada peraturan organisasi (PO) Himasos Fisip Unej 2022 bab V pasal 20 ayat (3) mengenai reshuffle tentang pemberhentian pengurus atas dasar “kepindahan kuliah”.

Menurut Aulian, Ketua Himasos resuffle adalah hal yang tidak direncanakan dalam sebuah kepengurusan dan sifatnya sakral. “Reshuffle tidak bisa direncanakan karena apa yang ada dalam suatu kepengurusan sifatnya ditetapkan dan sakral jadi reshuffle di himasos ada ketentuannya seperti pindah kuliah,drop out,meninggal, nah kayak gitu jadi ga tiba-tiba.” kata Aulian saat di wawancara.

Posisi Sekretaris Bidang Akademik Himasos pun digantikan oleh Wisnu Wardhana yang sebelumnya menjabat sebagai anggota Departemen Kajian Teori Bidang Akademik. Sedangkan posisi Wisnu di anggota Departemen Kajian Teori Bidang Akademik akhirnya di gantikan oleh Alina Ratna Anjali yang dipilih oleh ketua Himasos dari warga sosiologi.

Wisnu memberikan tanggapannya mengenai reshuffle yang merubah posisinya di Himasos. Wisnu mengaku cukup kaget akan perubahan jabatannya dalam kepngurusan Himasos, sehingga butuh waku adaptasi.

kalo perasaanku pribadi sih jujur kaget ya, kan kepengurusan udah berjalan anggap lah pertengahan, jadi proker-proker itu udah mulai masuk ke yang skalanya besar, Jadi lumayan bingung juga sih awalnya. Tapi semingguan setelah menempati tempat yang baru alhamdulillah sudah mulai terbiasa. Terang Wisnu

Atas kepindahannya, Annisa mengaku berat meninggalkan tanggung jawabnya di Himasos dan butuh pertimbangan yang cukup matang.

“Perasaan ninggalin Himasos yaa pastinya berat dong, butuh pertimbangan juga kan, apalagi udah setengah jalan gitu.  Alhamdulillah dapet banyak pelajaran tentang keorganisasian, ketemu orang-orang hebat, dan banyak deh. Terus juga udah mulai acara offline, sering ketemu temen-temen banyak menciptakan kenangan berkesan menurut aku.” Ujar Annisa.

Annisa pun berharap bahwa di lain kesempatan dapat berkolaborasi lagi dengan Himasos “Namun, aku harap bakalan ada kolaborasi-kolaborasi selanjutnya walaupun udah ga di Hima lagi.” Kata Annisa.

Atas kejadian ini,Aulian, Ketua Himasos berharap anggota Himasos yang terkena reshuffle dapat bekerja dan berkontribusi penuh untuk berdedikasi kepada warga Sosiologi

“Harapannya agar bisa segera menyesuaikan,bisa bekerja bersama dan bisa berkontribusi penuh untuk berdedikasi kepada warga sosiologi.” Ujar Aulian. (Rayhan)

 

Wings

Oleh : Farhan Surya Indarta

Hari ini cuaca cerah, matahari memancarkan sinar cahayanya yang begitu terang dan terik seakan tersenyum. Aku selalu bersemangat ketika bel sekolah berbunyi tanda pembelajaran sudah berakhir. Seperti biasanya aku pulang sekolah berjalan kaki menyusuri jalan sambil bersenandung dan mengamati orang-orang disekitar yang sedang melakukan aktivitasnya masing-masing. Memang lelah rasanya, tetapi langkah kakiku begitu ringan karena sudah terbiasa berjalan kaki sejuh 2 km setiap harinya.

......

“Assalamualaikum, ibu !” Panggilku bersemangat.

“Waalaikumsalam nak, bagaimana perasaanmu sekolah hari pertama setelah libur semester selama 2 minggu?” Tanya ibuku.

“Senang sekali bu, tadi ibu guru yang mengajarku sangat ramah sekali. Beliau begitu telaten mengajariku dan teman-teman lainnya yang kesulitan dalam memahami materi.” Ceritaku dengan penuh semangat.

“Alhamdulillah kalau kamu senang, yaudah sana makan siang dulu ibu tadi sudah masak tempe penyet kesukaanmu.” Suruh ibuku.

“Baik bu.” Jawabku sambil bergegas menuju meja makan.

Sore harinya setelah tidur siang aku minta izin ibu untuk pergi bermain bola di lapangan karena kemarin sudah janji dengan Joko, teman bermain di rumah yang sepantaran denganku tetapi beda sekolah.

“Bu, aku izin pergi main dulu ya?” tanyaku sambil memohon.

“Iya Dika, hati-hati ya. Ingat jangan pulang larut malam, jam 4 kamu sudah harus ada di rumah.” Jawab ibuku dengan nada yang agak tinggi

“Siap bu.”

Sebelum pergi ke lapangan aku terlebih dahulu ke rumah Joko yang tidak terlalu jauh dari rumahku.

“Assalamualaikum, Joko!” Seruku.

“Waalaikumsalam, eh nak Andika.” Jawab ibu joko.

“Iya, Jokonya ada bu?” Tanyaku kepada ibu Joko.

“Ada nak Dika, sebentar ibu panggilkan.”

“Joko.. Joko.. Joko! dicari nak Andika di depan” Panggil ibu Joko

“Iya bu.” Jawab Joko.

“Ayo Ko main bola di lapangan!” Ajakku kepada Joko

“Baiklah, sebentar aku mau ambil bola dulu ya.”

Aku dan Joko pun bergegas menuju lapangan. Setelah bermain bola cukup lama, aku dan Joko beristirahat sambil bersandar di bawah pohon besar yang berada di tepi lapangan sembari berbincang-bincang.

“Eh Dika, tidak terasa ya kita sekarang sudah kelas 5 SD.” Ujar Joko memulai perbincangan.

“Iya Ko, habis kelas 5 naik kelas 6 habis itu kita akan masuk SMP.” Jawabku sambil memejamkan mata dan menikmati hembusan angin yang sangat sejuk.

“Oh iya, rencana kamu nanti mau masuk SMP mana?” Tanya Joko.

“Sepertinya aku mau masuk SMP Wijaya, kamu tau sendiri kan Ko bagaimana kondisi perekonomian keluargaku.” Jawabku sambil menghela nafa panjang.

“Jangan gitu dong Dika, bagaimanapun keadaannya kita harus tetap bersyukur.” Jawab Joko memberi semangat.

“Iya Ko, bagaimanapun keadaannya aku sudah berjanji pada diriku sendiri kalau aku harus tetap sekolah sampai jenjang yang paling tinggi.” Jawabku sambil mengepalkan tangan dan mengangkatnya tinggi-tiggi.

“Nah gitu dong semangat.” Jawab Joko sambil tersenyum.

“Eh Ko, udah sore nih ayo pulang.” Ajakku sambil bergegas karena takut dimarahin ibu kalau pulangnya kesorean.

Sesampainya dirumah aku langsung mandi kemudian sholat ashar. Setelah selesai sholat aku bersama ibu menonton televisi di ruang tengah sambil menunggu ayah pulang kerja. Tak lama kemudian terdengar suara montor ayah.

“Assalamualaikum.”

“Waalaikumsalam.” Jawab ibu sambil membukakan pintu rumah.

“Andika dimana bu?” Tanya ayah kepada ibu.

“Ada di ruang tengah lagi nonton televisi” Jawab ibu sambil melepaskan jaket yang dipakai ayah.

Ayahku berprofesi sebagai tukang ojek, maka dari itu setiap hari beliau mengenakan jaket untuk melindungi tubuhnya yang tak lagi muda dari teriknya matahari dan guyuran air hujan.

“Andika!” Panggil ayah sambil menghampiriku di ruang tengah.

“Ayah!” Sautku sambil memeluk ayah erat-erat.

“Nak, jangan lama-lama ya nonton televisinya. Ingat, jangan lupa belajar yang rajin supaya apa yang kamu cita-citakan bisa terwujud.” Pesan ayahku.

“Siap komandan.” Jawabku sambil sikap hormat dan kemudian bergegas ke kamar untuk belajar.

Hari sudah semakin malam, aku mengakhiri belajarku dan bersiap untuk tidur. Sebelum aku tidur terlebih dahulu aku ke kamar mandi untuk menggosok gigi. Setiap kali aku mau ke kamar mandi aku selalu mendengar ayah batuk. Entah kenapa setiap malam tiba-tiba ayah sering sekali batuk, aku selalu bertanya-tanya dalam hati. Sampai akhirnya suatu ketika aku bertanya langsung kepada ibuku mengenai hal tersebut. Ibuku bilang kalau ayah hanya sakit batuk biasa saja dan akan reda kalau sudah minum obat dari warung. Tetapi aku merasa ada yang disembunyikan oleh ibuku.

.....

Karena aku sudah berjanji untuk menomersatukan pendidikan, kulalui hari-hari dengan senang hati. Hingga aku merasa memiliki sayap yang bisa membawaku kesana kemari dengan ringannya. Aku membayangkan kalau sayap yang kumiliki ini merupan perwujudan dari kedua orang tua yang selalu mendampingiku dan menjadi motivasi terbesarku untuk terus belajar agar bisa mencapai apapun yang aku cita-citakan.

“Andika Pratama, putra dari Bapak Sujono.”

Pembawa acara wisuda dengan lantangnya memanggil namaku. Tak terasa aku sudah purna dalam menempuh pendidikan selama 6 tahun di SD Utomo. Aku sangat senang  dapat lulus dengan nilai tertiggi. Senyum lebar terpancar pada wajah kedua orang tuaku yayangelihatky menaiki panggung untuk diberi penghargaan karena telah lulus dengan nilai tertinggi.

.....

Aku melanjutkan jenjang pendidikan sekolah menengah pertama di SMP Wijaya walapun sekolah ini bukan termasuk sekolah favorit. Aku masuk SMP Wijaya karena menyesuaikan kondisi perekonomian keluargaku yang bisa dibilang pas-pasan. Selain itu, sekolah ini tidak terlau jauh dari rumah sehingga aku tidak menghabiskan terlalu banyak waktu untuk berjalan kaki pulang ke rumah agar bisa segera membantu ibu berjualan di pasar.

Setelah beberapa bulan masuk sekolah, wali kelasku Ibu Sundarsih memberithukan bahwa akan ada seleksi untuk mengikuti lomba olimpiade matematika tingkat kabupaten mewakili sekolah. Berhubung aku sangat suka dengan pelajaran matematika, begitu mendengar informasi tersebut aku langsung mendaftar dan mengikuti seleksi. Sebelum mengikuti seleksi aku mempersiapkan diri dengan belajar dengan sungguh-sungguh. Seringkali ibu mendapatiku tertidur di meja belajar dengan kondisi buku yang masih terbuka dan pena yang masih dalam genggaman.

“Dika!” Panggil ibuku lirih sambil mengusap kepalaku pelan berusaha membangunkanku.

“Iya bu.” Jawabku sambil merentangkan kedua tangan dan menguap.

“Kalau memang sudah benar-benar mengantuk tidurlah di tempat tidur nak, ini juga sudah larut malam.” Suruh ibuku.

“Baik bu.” Jamwabku sambil membereskan buku

Tiba saatnya seleksi berlangsung, dengan ucapan basmalah aku mulai mengerjakan soal-soal seleksi. Seleksi berjalan dengan lancar, beberapa hari kemudian hasil seleksi diumumkan di papan pengumuman. Aku terkejut dan merasa senang sekali karena namaku berada diposisi nomor 1 dan dinyatakan lolos seleksi dan berhak mengikuti lomba olimpiade matematika tingkat kabupaten mewakili sekolah. Aku langsung memberitahu kabar baik ini kepada ayah dan ibu setelah pulang sekolah.

“Ayah ibu, Andika punya kabar baik.” Kataku memulai obrolan.

“Kabar baik apa nak?” jawab serentak ayah dan ibu yang terlihat penasaran karena sebelumnya aku tidak memberitahu mereka kalau aku mengikuti seleksi olimpiade matematika.

“Mau tau aja atau mau tau banget?” Jawabku meledek.

“Kabar apa sih nak, ibu jadi tambah penasaran.” Jawab ibu sambil saling pandang dengan ayah.

“Andika berhasil lolos seleksi untuk mengikuti lomba olimpiade matematika tingkat kabupaten.” Jawabku sambil memeluk kedua orang tuaku.

“Alhamdulillah, kamu hebat nak. Ayah doakan kamu bisa menang dalam lomba olimpiade matemtika yang nantinya akan kamu ikuti.”

“Ibu juga akan terus mendoakanmu nak.” Saut ibu berkaca-kaca

“Terimakah yah, bu atas doanya, Dika janji akan berusaha semaksimal mungkin untuk melakukan yang terbaik.”

.......

Aku berhasil menjadi juara 1 olimpiade matematika tingkat kabupaten berkat doa dari kedua orang tua dan juga usaha kerasku selam ini. Juara 1, 2, dan 3 olimpiade matematika tingkat kabupaten berhak untuk mengikuti olimpiade matematika tingkat provinsi. Aku sangat senang dan bersemangat menyambut olimpiade matematika tingkat provinsi yang akan berlangsung satu bulan lagi. Disamping mempersiapkan untuk mengikuti lomba olimpiade matematika tingkat provinsi aku juga tidak lupa dengan tugas-tugas sekolah yang diberikan oleh bapak ibu guru.

Aku benar-benar sudah berusaha semaksimal mungkin dan ku pasrahkan semuanya pada Allah SWT. Lagi-lagi alhamdulillah terucap, aku berhasil menjadi juara 1 lomba olimpiade matematika tingkat provinsi dan berhak mengikuti lomba olimpiade matematika tingkat nasional. Selama dua minggu aku dibimbing oleh Pak Sucipto selaku guru pengajar pelajaran matematika di sekolah untuk mempersiapkan mengikuti lomba. Selama bimbingan aku mendapatkan dispensasi untuk tidak mengikuti pelajaran dalam kelas selama dua minggu.

Saat lomba akan berlangsung aku benar-benar merasa sangat gugup dan kurang percaya diri. Pak Sucipto yang saat itu mendampingiku berusaha untuk menenangkanku.

“Andika jangan gugup ya, Pak Sucipto yakin kamu pasti bisa.”

“Iya pak, bismillah mudah-mudahan lombanya berjalan dengan lancar.”

“Aamiin.” Saut Pak Sucipto.

Lomba berakhir, aku dan Pak Sucipto cemas menunggu hasil lomba yang akan langsung diumumkan segera. Setelah 2 jam menunggu, akhirnya hasilnya diumumkan. Namaku disebut pertama kali dan dinobatkan sebagai pemenang lomba olimpiade matematika tingkat nasional dan mendapatkan beasiswa masuk SMA favorit. Ucapan hamdalah tak henti-hentinya ku ucapkan sambil memeluk Pak Sucipto yang menangis bangga kepadaku. Setelah acara berakhir aku diantar Pak Sucipto pulang ke rumah. Sesampainya di rumah entah kenapa raut wajah ibu terlihat sedih.

“Bu, ada apa?” Tanyaku penasaran.

“Ayah nak, ayah masuk rumah sakit.” Jawab ibu terbata-bata.

“Kok bisa bu? Sebenarnya ayah sakit apa?” Tanyaku semakin penasaran.

“Ayah sebenarnya sakit paru-paru.” Jawab ibu sambil meneteskan air mata.

“Jadi selama ini batuk yang dialami ayah itu sudah parah? Kenapa ibu baru cerita sekarang.” Sedikit kecewa.

“Maafin ibu nak, ibu merahasiakan ini karena biaya untuk berobat ayah itu mahal dan ibu takut kamu cemas.”

“Seharusnya ibu tidak perlu seperti itu.”

Aku dan ibu pergi ke rumah sakit untuk mengetahui kondisi ayah.

“Yah, bagaimana kondisi ayah sekarang?” Tanyaku sambil berkaca-kaca.

“Ayah baik-baik saja nak tidak usah khawatir.” Jawab ayah berusaha kuat dan baik-baik saja.

“Alhamdulillah, ayah sehat-sehat terus ya jangan sampai kecapean.”

“Iya nak.”

“Yah, bu sebenarnya aku mau memberitahukan sesuatu.”

“Ada apa nak?” Tanya ayah.

“Aku berhasil menang lomba olimpiade matematika tingkat nasional.” Jawabku sambil meneteskan air mata karena masih tidak menyangka.

“Alhamdulillah Ya Allah.” Ucap ibuku sambil sujud syukur.

“Ayah bangga nak padamu.” Sambil meneteskan air mata dan berusaha memelukku dengan kondisi yang masih lemas.

.....

Sungguh tak disangka aku bisa masuk SMA Bangsa yang merupakan slah satu sekolah favorit. Sekarang aku tidak perlu memikirkan lagi mengenai biaya sekolah, karena aku masuk sekolah favorit ini melalui beasiswa yang dIberikan saat aku berhasil menjadi juara pada lomba olimpiade matematika tingkat nasional.

Satu tahun telah ku lalui di SMA Bangsa, menginjak kelas 11 aku mencoba mendaftarkan diri untuk mengikuti OSIS (Organisasi Siswa Intra Sekolah). Setelah mengikuti berbagai tahapan seleksi, pada akhirnya aku terpilih untuk mengemban jabatan sebagai ketua OSIS. Disela-sela kesibukan sekolah dan juga kegiatan OSIS aku juga tidak lupa untuk membantu ibu berjualan di pasar. Dari hasil jualan inilah ibu bisa membayar biaya rumah sakit ayah yang masih dirawat. Aku juga memberikan sedikit tabunganku kepada ibu untuk tambahan membayar biaya rumah sakit ayah walaupun sedikit memaksa karena sebenarnya ibu tidak mau menerima uang pemberianku.

Aku juga menyempatkan menjenguk ayah ke rumah sakit beberapa kali ditengah-tengah kesibukanku disekolah.

“Yah, sudah waktunya makan siang ini Dika bawakan makanan kesukaan ayah.”

“Iya nak, terima kasih ya.” Jawab ayah sambil meraih sendok yang ku pegang.

“Biar Dika suapin aja yah.”

“Baik nak.”

“Ayah harus makan yang banyak ya, biar cepat sehat dan bisa kumpul bareng lagi di rumah.” Ucapku sambil menyuapi ayah.

“Ayah sudah sehat nak, kamu jangan cemas.” Saut ayah.

“Sebentar lagi Dika mau naik kelas 12, Dika mau nanti ayah sama ibu bisa menghadiri acara wisuda.”

“Iya nak, ayah janji pasti bisa cepat sembuh dan akan menghadiri acara wisuda bersama ibu.”

Satu periode masa jabatan sebagai ketua OSIS sudah berakhir. Ini adalah tahun terakhirku menempuh pendidikan di SMA Bangsa. Berbagai rangkaian ujian telah terlaksana dan terselesaikan, waktu wisudapun akan segera dilangsungkan.

Aku merasa senang karena tidak lama lagi akan diwisuda untuk yang ketiga kalinya setelah wisuda SD dan SMP. Namun, disisi lain aku juga merasa sedih karena kondisi ayah yang semakin hari semakin memburuk. Disini aku merasa salah satu dari sayapku terluka parah dan aku tidak bisa terbang jauh lagi.

Undangan wali murid untuk menghadiri acara wisuda telah dibagikan kepada setiap siswa. Sampai akhirnya tiba dimana akan dilangsungkannya wisuda ayah masih terbaring di rumah sakit. Walapun ayah sudah berjanji akan datang tapi aku memaklumi karena kondisi ayah yang tidak memungkinkan untuk bisa hadir dalam acara wisuda.

“Mutiara Citra Patmasari, putri dari Bapak Sugeng.”

“Wisudawan selanjutnya, Muhammad Faisal Malik, putra dari Bapak Maliki.”

Satu per satu nama siswa sudah dipanggil, tibalah giliran namaku dipanggil.

“Andika Pratama, putra dari Bapak Sujono.”

Aku pun berjalan menaiki panggung dengan raut wajah campur aduk, tersenyum tetapi juga ada rasa sedih karena ayah tidak bisa hadir dalam acara penting ini. Ketika menuruni panggung aku melihat ibu nampak sedang berbincang-bincang ditelepon sambil sesenggukan. Ku hampiri ibu dan bertanya.

“Kenapa bu?” Tanyaku panik.

“Ayahmu nak?” Jawab ibu sambil tak berhenti meneteskan air mata.

“Ayah kenapa bu?” Tanyanku semakin panik dan cemas.

“Barusan ibu mendapat telepon dari dokter kalau ayahmu sudah dinyatakan meninggal dunia.” Jawab ibu sambil gemetar

“Tidak mungkin bu, pasti ayah baik-baik saja kan? Ayah pasti segera sembuh kan bu? Pasti ibu salah dengar.” Sambil menangis.

“Tidak nak, dokter benar-benar mengatakan kalau ayahmu sudah meninggal dunia.”

“Ayah! Ayah!” teriakku sekencang-kencangnya

Aku dan ibu segera bergegas ke rumah sakit meninggalkan acara wisuda yang masih berlangsung. Sesampainya rumah sakit, ayah sudah terselimuti oleh kain kafan. Disitulah tangisan ibu dan tangisanku pecah sejadi-jadinya.

“Ayah bangun! Yah bangun!” Seruku sambil menggerak-gerakkan badan ayah.

“Sudah nak, ikhlaskan saja ayahmu. Doakan agar ayah mendapatkan tempat terbaik disisiNya.” Ibu mencoba menenangkanku sambil mengelus bahuku.

Kemudian jenazah ayah dibawa ke rumah menggunakan mobil ambulan rumah sakit. Sesampainya dirumah jenazah ayah disholatkan kemudian segera dimakamkan di TPU (Tempat Pemakaman Umum) terdekat.

Terhitung dua bulan ayah telah meninggalkanku dan ibu untuk selamanya. Masih terasa sulit untuk melepaskan ayah, tetapi aku percaya ini semua sudah menjadi suratan dari Sang Pencipta. Sayapku patah satu, yang dulunya aku bisa terbang kesana kemari sekarang untuk berjalan saja aku sempoyongan seperti tak punya tenaga. Aku benar-benar terpuruk dengan kepergian ayah.

Aku tidak mungkin membiarkan ibuku yang hampir menginjak kepala lima bekerja sendirian, aku putuskan untuk mencari pekerjaan dan mengubur sementara impianku yang ingin melanjutkan pendidikan lebih tinggi lagi di bangku perkuliahan. Lulusan SMA sepertiku mungkin nantinya tidak bisa mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang tinggi, tetapi setidaknya aku bisa sedikit meringankan beban ibuku.

Aku diterima kerja di toko kelontong, setiap harinya aku harus menjaga toko tersebut hingga larut malam. Sebelum aku berangkat bekerja, setiap habis subuh aku membantu ibu untuk menyiapkan barang dagangan yang akan dijual di pasar. Mungkin seharusnya upah yang aku terima menyesuaikan jam kerjaku, tetapi realitanya upahku tak sebanding dengan lamanya aku bekerja. Meskipun begitu aku tetatap bersyukur menerima apa yang telah Allah SWT berikan kepadaku.

Semakin hari keadaan perekonomian keluargaku semakin memburuk karena lilitan beberapa hutang untuk tambahan biaya rumah sakit bapak dulu. Suatu ketika saat aku berangkat bekerja, aku melihat sosok laki-laki yang sudah lanjut usia menjajakan koran di lampu merah. Aku memanggil laki-laki itu dengan tujuan untuk membeli korannya.

“Pak! Pak!” Teriakku sambil melambaikan tangan kepadanya.

Sosok laki-laki itu menoleh dan menghampiriku di tepi jalan.

“Iya nak, ada apa ya?” Tanya laki-laki itu.

“Saya mau beli koran bapak.” Sambil menyodorkan uang yang sengaja kulebihkan.

“Wohh iya, ini nak korannya. Nak, ini uangnya kelebihan.” Ujar laki-laki itu.

“Tidak apa-apa pak, anggap saja itu rezeki dari Allah SWT.” Jawabku sambil menolak pengembalian dari laki-laki itu.

“Makasih ya nak. Maaf sebelumnya, ini dengan nak siapa ya?” Tanya laki-laki itu sambil mengajukan tangannya untuk bersalaman.

“Nama saya Andika pak, bapak sendiri namanya siapa?” Jawabku sambil bersalaman.

“Panggil saja Pak Sujiwo, saya lihat dari raut wajah nak Andika apa benar sedang ada masalah?” Ujar Pak Sujiwo yang seperti dapat membaca pikiranku.

“Iya pak.” Jawabku singkat sambil menundukkan kepala.

“Kalau nak Andika tidak keberatan, nak Andika bisa cerita ke bapak mungkin nanti bapak bisa memberikan solusi.”

“Baru beberapa bulan yang lalu saya ditinggal pergi selamaya oleh ayah saya, semenjak itu saya benar-benar terpuruk dan tidak tau lagi mau melakukan apa serta harus bagaimana?” Jawabku sambil menahan air mata.

“Apa ibunya nak Andika masih ada?”

“Masih pak, kenapa?” Tanyaku penasaran.

“Nak Andika, intinya kehidupan itu harus tetap berjalan bagaimanapun kondisi dan keadaannya. Kita harus tetap bersyukur dengan apa yang kita miliki saat ini. Nak Andika masih punya ibu, sudah sepatutnya kebahagian ibu nak Andika yang nomer satu. Nak Andika harus mencari dan menemukan cara bagaimana supaya ibu nak Andika selalu bahagai dalam kondisi apapun. Mungkin masalah nak Andika sekarang masih terbilang ringan karena Pak Jiwo dulu dilahirkan dalam keluarga yang terpecah, ayah dan ibu Pak Jiwo bercerai. Semenjak usia dua tahun Pak Jiwo dirawat dan dibesarkan oleh nenek hingga Pak Jiwo menemukan tambatan hati dan akhirnya menikah. Setelah usia 7 tahun pernikahan Pak Jiwo belum juga diberikan keturunan, dimana dalam berkeluarga itu yang dinanti-nantikan adalah seorang anak. Menginjak usia 8 tahun pernikahan istri Pak Jiwo mulai depresi karena permasalahan tersebut dan mulai menyalahkan diri sendiri serta yang paling parah ingin mengakhiri hidupnya. Tepat usia pernikahan ke 9 tahun, setelah pulang kerja Pak Jiwo mendapati istri Pak Jiwo gantung diri di pintu kamar. Kejadian itu juga membuat Pak Jiwo terpukul dan terpuruk. Semenjak meninggalnya istri Pak Jiwo, Pak Jiwo memutuskan tidak menikah lagi dan memilih untuk hidup sendiri. Seperti yang nak Andika bisa lihat sendiri, semangat Pak Jiwo saat ini masih membara setelah melewati masalah yang cukup berat dan juga usia yang tidak lagi muda.” Jawab Pak Jiwo panjang lebar.

Cerita Pak Jiwo membuat semangatku untuk melanjutkan kehidupan muncul lagi. Aku mulai mencari informasi mengenai beasiswa untuk kuliah melalui media cetak seperti koran, majalah, poster-poster di jalan hingga melaui media sosial. Aku juga menghubungi beberapa guru SMA untuk meminta bantuan agar aku diberitahu nantinya jika beliau-beliau mendapatakan informasi mengenai beasiswa untuk sekolah.

Beberapa hari kemudian setelah melakukan pencarian informasi beasiswa kuliah, Bu Sundarsih wali kelasku dulu waktu SMA menghubungiku dan memeberikan informasi terkait beasiswa masuk kuliah. Menurut informasi yang kudapatkan, beasiswa ini tidak hanya dapat digunakan untuk kuliah di dalam negeri tetapi juga dapat digunakan untuk kuliah di luar negeri. Aku segera mungkin mempersiapkan berkas-berkas yang butuhkan dan segera mendaftarkan diri. Untuk bisa mendapatkan beasiswa ini aku juga harus menempuh tes wawancara.

Satu minggu berlalu setelah aku mendaftar beasiswa. Pengumumanpun dikirim melalui email masing-masing. Beribu-ribu alhamdulillah ku ucapkan, aku dinyatakan lulus dari seleksi dan berhak mendapatkan beasiswa tersebut. Aku memberitahu ibu segara mengenai hal ini.

“Ibu!” Panggilku sambil sedikit berteriak.

“Iya nak, ada apa?”

“Ini lo bu, aku lolos seleksi beasiswa untuk kuliah.” Jawabku sambil memeluk erat ibu.

“Beneran nak?” Tanya ibu sekali lagi yang masih belum percaya.

“Iya bu, benar.”

“Ibu doakan kuliahmu nanti lancar, bisa mendapatkan nilai terbaik dan bisa lulus cepat.”

“Aamiin bu.” Sautku.

Terlihat jelas raut wajah ibu begitu sangat bahagia mendengar kabar baik dariku. Aku memutuskan menggunakan beasiwa itu untuk mendaftar kuliah di luar negeri dengan harapan bisa mendapatkan ilmu yang jauh lebih banyak dan beragam dan nantinya dapat dijadikan bekal untuk meningkatkan derajat ibu serta dapat selalu membahagiakan ibu. Sebenarnya berat meninggalkan ibu sendiri dirumah, tetapi aku benar-benar berjanji akan sungguh-sungguh dalam menempuh bangku perkuliahan agar bisa segera lulus dan kembali ke pelukan ibu.

Dengan ini, sayap patahku rasanya seperti kembali utuh dan aku bisa terbang lagi kesana kemari. Kembalinya sayapku membuatku tidak lagi merasakan beban dan aku akan terbang lebih tinggi lagi serta lebih jauh lagi untuk bisa menggapai semua yang telah aku cita-citakan. Tunggu aku bu, aku akan segera pulang dan juga akan mengajak ibu terbang bersamaku menuju kebahagiaan yang luar biasa.

 

 

 

Mahasiswa Opurtunis, Mengiyakan Segala Cara

Aku tahu betul apa yang kawan-kawan baca ini pada akhirnya hanya akan menjadi bacaan yang dilupakan, entah dalam hitung hari, minggu, bulan, atau sewaktu dihadapkan dengan situasi yang tidak mengenakkan. Tapi, saya rasa tidak ada cara terbaik selain tulisan singkat yang selalu ingin saya tulis daripada hanya bergumam kata antar kawan, baik yang dikenal atau tidak, yang sekiranya hanya bertahan sampai waktu perpisahan.

Tulisan ini sejatinya simpanan saya seorang, sebagai tulisan pelampiasan. Namun melihat banyaknya hal yang tidak saya senangi dan sepahami, saya putuskan untuk membagikannya kepada siapapun. Dengan tiada alasan selain hasrat melawan. Oleh karenanya kini tulisan ini ditujukan pada siapapun yang ingin membaca, bacalah, terkhusus pada kawan-kawan yang saya kenal atau tidak. Saya tuliskan nama karena bagi saya penulis harus dapat mempertanggung jawabkan tulisannya, menunjukkannya, meski harus memilih untuk melawan yang banyak dan kebisuan di udara.

Saya sering pandangi dan tentu bukan hal baru lagi menyoal banyak kawan memilih jalannya masing-masing. Ada yang mengabdikan diri pada satu hal dan ada pula yang lain. Tidaklah masalah, tidaklah merusak. Tapi ketika kawan mencampurkan semua hal menjadi satu, bahkan apa yang baik dan buruk menjadi tidak kentara antara perbedaan satu sama lain maka ini menjadi persoalan berbeda.

Banyak contoh jika dapat saya sebut sebagai dosa-dosa kawan, seperti:

  • Berkata menuntut perubahan, nyatanya aktif melindungi hal yang ingin dirubah.
  • Berkata sedia di awal, nyatanya meninggalkan ketika ada posisi yang lebih nyaman.
  • Berkata pelajar, tapi menanggalkan budayanya hanya karena proyek uang.
  • Berkata melawan ketidakadilan, nyatanya sukarela menjadi yang tertindas.
  • Berpendidikan sosial, parahnya mengiyakan segala cara hingga melupakan etika.

Apa yang beberapa kawan lakukan sejatinya penghinaan atas apa yang kita dan kawan perjuangkan. Atau mungkin sejatinya kawan tidak pernah memperjuangkan hal yang saya dan kawan lain perjuangkan selama ini?

Lantas untuk apa kawan memilih dan bersedia membayar mahal biaya pendidikan kampus, jika pada akhirnya kawan justru menjadi hal yang seharusnya dilawan dalam setiap pembahasan kuliah? Apakah hanya karena gelar? Tuntutan dunia kerja? Mencari jejaring? Jika kawan memang ingin menjadi oportunis kenapa tidak sekalian saja tanggalkan predikat pelajarmu dan menjadi oportunis sejati yang tidak mempertimbangkan satu dan dua hal. Boro-boro memikirkan persoalan bersama, kalau yang dipikirkan hanya soal diri sendiri.

Apakah mungkin ini sebab persoalan kampus? Atau justru masalah lain yang lebih besar? Mungkin, tapi tidaklah saya tahu pasti hal tersebut. Yang pasti masih ada kenyataan pahit dari persoalan kampus yang hanya akan membuat tulisan ini semakin panjang dan membosankan.

Banyak kawan berkata atau mungkin dapat berkata, saya memilih dan berlaku layaknya ini karena saya tercukupi. Memang benar. Saya tercukupi. Memang benar. Saya tercukupi. Saya menerima hal itu, tapi saya tidak menerima hal yang lain. Hanya karena persoalan tercukupi tidaknya maka kita dapat melunturkan bahkan meninggalkan budaya kita untuk berpikir dan mengkritisi banyak hal di dunia? Lantas budaya siapa lagi perihal itu, tugas siapa lagi itu, atau mungkin kita hanya perlu mengikuti kuatnya arus dan menerima apa yang dunia berikan tanpa usaha memikirkannya, apalagi untuk merubahnya.

Seperti kata Soe, lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan. Maka lebih baik memilih untuk menentang banyak hal, kampus, perkuliahannya, janjinya, bahkan kawanannya meski harus merasa terasing dari sekelilingnya.

Oleh    : Dimas Nugroho

KOLABORASI BEM FISIP DAN UKMKI SIKLUS, SELENGGARAKAN BAKTI SOSIAL DI HARI IDUL ADHA

Senin (11/7/2022) Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) berkolaborasi dengan UKMKI Studi Islam Konferhensif Lingkup Sospol (SIKLUS) untuk menyelenggarakan kegiatan bakti sosial yang berbarengan dengan momentum Idul Adha di Dusun Darsono Desa Padasan. Bakti sosial ini berupa penyembelihan hewan Qurban yang berasal dari donasi yang terkumpul untuk kemudian dagingnya dibagikan kepada para warga di desa padasan. 

Satya Ekasari, ketua UKMKI SIKLUS menyampaikan bahwa bakti sosial ini adalah sebuah cara untuk dapat membantu orang lain yang membutuhkan.

“Kegiatan bakti sosial ini sebagai cara kita bisa membantu orang yang membutuhkan, serta wujud rasa syukur kita karena dengan kegiatan tersebut kita bisa bermanfaat bagi orang lain. seperti sabda dari Rasulullah SAW, sebaik-baiknya manusia diantaramu adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain.” Ujar Satya.

Ia juga menjelaskan bahwa kegiatan bakti sosial ini merupakan bentuk implementasi dari program kerja yang ada dan pelaksanaannya bertepatan dengan hari raya idul adha yang dirasa sebagai momentum yag pas untuk bisa melaksanakan kegiatan bakti sosial, dimana dari hasil uang donasi yang terkumpul dibelikan satu ekor kambing yang kemudian dagingnya dibagikan kepada masyarakat Desa Padasan yang membutuhkan.

Selain itu Satya juga menyampaikan terkait jalannya kegiatan bakti sosial ini mulai dari awal penyusunan panitia hingga waktu pelaksanaan kegiatan bakti sosial yang berjalan dengan lancar meskipun terdapat beberapa hal yang tidak sesuai dengan yang direncanakan. 

“Alhamdulillah kegiatan bakti sosial ini meskipun baru pertama kali dilaksanakan melalui cara kolaborasi antara BEM dan UKMKI Siklus namun terbilang cukup lancar meskipun ada sedikit kendala di waktu pelaksanaan kegiatan, yang mana awalnya kegiatan harusnya dilaksanakan di pagi hari tetapi terlaksana di siang hari.”Jelasnya.

Atas kolaborasi pada kegiatan ini Satya mengungkapkan harapannya agar kegiatan sosial semacam ini dapat dapat diteruskan nantinya oleh kepengurusan selanjutnya agar terus tercipta rasa kekeluargaan dan bergotongroyong untuk terus memberikan kebaikan bersama.

“Hal ini semoga menjadi awal mula estafet kepenggurusan yang baik, dengan besar harapan di kepenggurusan generasi selanjutnya mampu melaksanakan kembali kegiatan bakti sosial yang dilakukan seacara kolaborasi antara BEM dan SIKLUS sebagai wujud penerus estafet dari kepenggurusan sebelumnya. dan harapan kedepanya antara BEM dan SIKLUS terus membangun kekeluargaan, kebersamaan serta saling gotong royong untuk kebaikan bersama” (Nora Zila)