Pengumuman

Masalah Sosial dan Jurusan KS Menurutku

Masalah sosial yang terjadi di indonesia semakin hari semakin banyak tapi pekerja sosial yang ada untuk menangani masalah tersebut sangat terbatas jumlahnya sehingga banyak orang yang seharusnya mendapatkan pelayanan tidak mendapatkan nya. Padahal rasa nyaman dalam menjalani hidup itu sangat penting. Coba bayangin kalau kita punya banyak masalah dalam hidup pastinya gak mungkin nyaman dong menjalani hidup nanti ada aja yang pusing atau marah-marah secara tiba -tiba dan masih banyak lagi sebagai akibat dari banyaknya masalah yang ada dalam kehidupan ini.

Jumlah manusia seperti yang kita tau setiap harinya semakin banyak dan kita juga tau bahwabmasalah tidak bisa dipisahkan dari kehidupan setiap orang. Kurang lebih saat ini ada 26 jenis masalah sosial yang ada di indonesia mulai dari yang biasa kita lihat di jalan jalan seperti pengemis pemulung sampai yang mungkin tidak terbayangkan atau jarang kita dengar atau telusuri seperti korban trafficking dan komunitas adat terpencil. Mungkin ada yang belum tau tentang traficking nah aku mau jelasin sekilas aja nih tentang trafficking. Trafficking itu tindakan perdagangan manusia. Nah mungkin ada yang bertanya tanya nih gimana sih cara cara pelakunya ngeyakinin si korban? Menurutku ada veberapa cara yang dilakukannantara lain diancam entah diancam mau dibunuh kalau gak msu ikut sama si pelaku atau diancam keluargavnya yang akan dibunuh atau diancam korban akan disiksa sama si pelaku dan lain lain. Yang ke dua dengan cara korban di janjikan sesuatu oleb pelaku pekerjaan dengan gaji gede tali harus tinggal disana dalam waktu tertentu misalnya jadi akhirnya korban mau ikut eh pas udah sampai dilokasi dan mulai tinggal di sana fakta ysng terjadi gak sesuai dengan omongan di awal dong tentunya. Dan akhirnya jadilah dia budak dari orang yang beli. Nah berdasaekan data dari BPS ( badan pusat statistik) tahun 2016 juga dapat diketahui bahwa untuk diwilayah jember aja nih ada 21 kasus korban traficking serta 776 pemulung. Itu baru jember aja lo ya belum yang lain lain coba bayangin masa manusia dibuat jual beli yang bener aja yang dijual itu barang kek ini kok malah orang kayak gak ada yang lain aja. Menurutku pribadi halnini gak bisa dibenarkan dengan alasan apapun.

Oleh karena itu jurusan ilmu kesejahteraan sosial sebagai jurusan yang nantinya ajan melahirkan pekerja sosial yang tugas nya adalah menangani masalah masalah sosial semacam ini sangat penting. Sayangnya ada beberapa hal miris yang aku temukan selama jadi mahasiswa KS beberapa diantaranya adalsh universitas yang membukajurusan ini jumlahnya masih sangat sedikit salah satunya adalah universitas jember tempatku belajar saat ini. Jurusan ini juga masih terbatas di perguruan tinggi negri aja setauku belum.ada perguruan tinggi swasta yang membuka jurusan ini.

Berdasarkan pengalamanku sendiri jurusan ini kurang dikenal masyarakat kebanyakan nih kalau ditanya “kamu ambil jurusan apa?” terus aku jawab “ilmu kesejahteraan sosial” respon nya kebanyakan jurusan apa itu atau aku ngga pernah denger” dan sejenisnya. Padahal jurusan ini nih penting banget buat masyarakat. Nah dari semua orang yang masuk di jurusan ini juga belum tentu semua nya jadi pekerja sosial. Udah yang masuk dikit yang jadi pekerja sosial semakin dikit. Di sisi lain masalah yang harus ditangani semakin banyak. Pertanyaan ysng muncul ksn gimana cara nangani nyabksn pekerja sosial juga manusia punya batas juga dan cara penangananya pun gak asal asalan harus bener bener sampe tuntas kalau gini terus gimana maiu tertangani semua masalahnya. Menurutku pribadi sih hal hal gini harus dibiasakan sejak dini dalam arti misalnya pekerja sosial melakukan kunjungan gitu ke anak-anak SD terus diajak lah anak-anak itu buat ngeliat gimana sih cara pekerja sosial ini kerja? Selain cara itu bisa buat anak-anak punya jiwa sosial yang tinggi terhadap sesama nya gal itu juga bisa msmpengaruhi mereka agar nantinya jadi pekerja sosial dan juga prodfesi peksos ini bisa lebih dikenal mulai dari anak anak usia dini.

Di sekolah tingkat dasar (SD) sampai sekolah menengah atas (SMA) itu kan ada pelajaran ilmu pengetahuan sosial nah ini bisa dibuat sebagai praktrk nya dilapangan buat mempraktekkan apa yang udah di dapat dari pelajaran ilmu pengetahuan sosial ini. Jadi bukan Cuma teori aja harus ada prakteknya dong. Atau bisa juga dengan cara ngadain seminar atau sejenisnya gitu buat ngenalin profesi pekerja sosial di kalangan masyarakat umum. Nah dengan begitu profesi peksos ini akan senmakin dikenal di masyarakat dan juga kalau bisa universitas yang buka jurusan kesejahteraan sosial diperbanyak vuat mempermudah orang jalsu msu daftar di jurusan KS kalau bisa juga bukan cm universitas negri yang buka jurusan ini tapi universitas swasta juga.

 

Penulis : Surya

Audiensi: Pakta Integritas Ditolak

PRIMA-FISIP. Audiensi diselenggarakan di Aula FISIP (fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik) oleh Himpunan Mahasiswa Ilmu Administrasi mendapat penolakan dari Kaprodi (kepala program studi). sebab salah satu poin tuntutan terdapat kesalahan diksi yang tidak menjamin hasil sesuai yang diharapkan. sehingga membutuhkan berbaikan ulang mengenai tuntutan tersebut. “silahkan direvisi.  Kalau “berusaha mengembalikan” Kita bisa, kita bukan tuhan kok, kalau harus A kami jawab insya allah, karena ini hukum fikih dan dunia akhirat” Ujar Bapak Sutomo Kaprodi Ilmu Administrasi.

Bapak Supranoto selaku Sekertaris Jurusan Administrasi menegaskan bahwa akan melakukan usaha apapun untuk memperbaiki Akreditasi, namun kalau untuk mengharuskan meraih akreditasi A sesuai tuntan tersebut dirasa kurang pasti. “kalau saya gak mau mentandatangai, kalau pernyataan ‘harus mengembalikan’ saya gak mau mentanda tangani. Berbeda loh pak. kalau berjuang sekuat tenaga kita yes, Kalau harus mendapat A enggak kami gak menjamin” Ungkapnya saat Audiensi berlangsung.  

Sehingga dengan demikian membuat Ketua Himaistra (Himpunan Mahasiswa Ilmu Administrasi) Mahardika merasakan cukup kecewa terhadap Prodi yang tidak mentandatangani pakta integritas tersebut. “kita memiliki titik kekecewaan mana kala pihak prodi itu secara tegas meminta untuk perubahan dari tuntutan itu artinya ketika kita merubah poin tuntutan itu maka kita merubah isi dari kesepakatan bersama, maka hal ini bisa saya katakan untuk hasil pada hari ini sebenarnya cukup memberikan informasi namun belum cukup berani untuk memberikan kepastian dari poin-poin tuntutan yang kita sampaikan” ungkapnya      

Penulis: Priyo & NabilaDev

Cemarut Diksi Pemerintah, Seberapa Penting Sih

Tak habis cara pemerintah dalam menyadarkan masyarakat selama masa pandemi Covid-19, dimana baru-baru ini diberlakukannya perubahan diksi yang semula berupa new normal menjadi kebiasaan baru. Ya walaupun hanya hasil terjemahan semata.

Perubahan diksi ini dikata bahwa pemahaman akan new normal pada masyarakat tidak sesuai dengan apa yang diharapkan pemerintah. Masyarakat lebih terpaku pada kata normal dan tidak mengindahkan arti kata yang sebenarnya berupa tata cara hidup baru selama pandemi.

Pemerintah yang memilih merombak diksi dari yang selama ini telah tersebar pada masyarakat seperti pengubahan istilah orang dalam pemantauan (ODP), pasien dalam pengawasan (PDP), orang tanpa gejala (OTG) menjadi kasus suspek, kasus probable, dan kontak erat, maka akan membuat usaha sosialisasi yang telah dilakukan dan berjalan menjadi terlihat setengah hati.

Perubahan ini pun akan semakin membingungkan masyarakat dimasa pandemi ini, dimana masyarakat akan kembali disuguhkan kumpulan kata yang tidak familiar namun sangat penting dan vital dalam kehidupan masyarakat pada masa pandemi.

Bukan sekali ini saja pemerintah mengeluarkan diksi-diksi kontroversial. Ambil contoh penggunaan diksi mudik dengan pulang kampung yang dikeluarkan Presiden Jokowi di saat momen menjelang Idul Fitri lalu.

Pemerintah menilai bahwa kata mudik merupakan bentuk dari kembali ke kampung halaman disaat menjelang lebaran, sedangkan kata pulang kampung ialah bentuk kembali ke kampung halaman dan keluarga dimana orang tersebut telah tidak memiliki pekerjaan di kota perantauan.

Walaupun memiliki perbedaan pemaknaan sebagaimana yang diutarakan Presiden Jokowi, namun sejatinya dua diksi tersebut memiliki substansi yang sama karena merupakan sinonim satu sama lain.

Menurut Profesor linguistik Universitas Gajah Mada, I Dewa Putu Wijana menyatakan bahwa perbedaan tersebut dikarenakan adanya faktor kemasyarakatan yang mengakibatkan sebuah kata mengalami perubahan makna. Setidaknya dalam kasus ini terjadi pada persepsi pemerintah.

Menjadi kontroversial dikarenakan pembedaan dua diksi tersebut berpotensi membingungkan masyarakat disaat masa pandemi. Mungkin bagi mereka para pemikir ulung yang senantiasa membahas persoalan kosa kata dan gaya bahasa serta selalu mengikuti perkembangan informasi mungkin saja hal ini mudah dipahami.

Namun bagi kalangan yang sehari-harinya tidak pernah terpikirkan akan hal tersebut, yang hanya memikirkan cara agar mendapatkan penghidupan yang layak, akan dirasa sukar dan tidak tahu menahu perihal tersebut. Sehingga kembali lagi, hal ini tidak akan berdampak pada efektivitas dari peraturan tersebut.

Keraguan tersebut pun menjadi nyata apabila melihat jumlah laporan yang dikeluarkan Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya yang menyatakan terdapat hampir 20 ribu jumlah kasus pelanggar mudik selama masa pandemi ini.

Komunikasi Krisis Pemerintah

Penggunaan diksi-diksi ini pun menjadi penting, terutama bagi pemerintah, dalam membangun gagasan dan persepsi di masyarakat melalui suatu bentuk komunikasi dimasa pandemi. Komunikasi pada masa seperti ini merupakan bentuk dari komunikasi krisis yang bertujuan untuk meyakinkan publik selama krisis berlangsung.

Terdapat tiga prinsip utama dalam komunikasi krisis yang wajib pemerintah penuhi sebagaimana yang diutarakan Timothy Coombs, yaitu mencakup cepat, konsistensi, dan terbuka. Krisis yang bersifat tiba-tiba akan memberikan dampak kekosongan informasi yang harus segera diisi oleh pemerintah.

Informasi ini pun selanjutnya harus konsisten, dimana perihal konsistensi inilah pemerintah dirasa bermasalah. Mulai dari ditetapkannya aturan dan anjuran serta yang paling penting bagi pemerintah yaitu diksi, yang acap kali berubah seiring waktu. Hal ini sebenarnya dapat dimaklumi melihat dari Covid-19 itu sendiri sebagai pandemi baru yang mau tidak mau seluruh pemerintahan di dunia akan memberlakukan kebijakan baru apabila terdapat temuan baru.

Keterbukaan memiliki andil besar pada terhadap kepercayaan masyarakat pada pemerintah, dimana hal ini dapat memberikan informasi se-transparan mungkin namun di satu sisi dapat berpotensi menimbulkan  rasa panik dan keresahan seperti apa yang di ungkapkan Presiden Jokowi.

Tarik ulur akan keterbukaan informasi diantara pemerintah dan masyarakat terasa kental di awal penyebaran masa pandemi. Pemerintah secara terang-terangan merahasiakan persebaran Covid-19 walaupun hal ini sebenarnya berlawanan dengan UU Nomor 36 tahun 2009 tentang  Kesehatan pada pasal 154 ayat (1) yang berbunyi bahwa pemerintah secara berkala menetapkan dan mengumumkan jenis dan persebaran penyakit yang berpotensi menular dan/atau menyebar dalam waktu yang singkat, serta menyebutkan daerah yang dapat menjadi sumber penularan.

Dimasa pandemi masyarakat membutuhkan adanya kejelasan informasi perihal Covid-19, dimana disaat yang bersamaan gencarnya arus informasi terutama pada media sosial sebagai media yang bebas membawa pula informasi yang tidak pasti dan bias pada masyarakat.

Mungkin dari pandangan pemerintah perihal pengubahan-pengubahan diksi ini merupakan hal yang fundamental dari jalannya program pada masyarakat. Namun, di satu sisi hal ini dapat berpotensi menimbulkan sentimen di masyarakat terhadap kinerja pemerintah akibat ketidakpastian dan ketidakseriusan dari pemerintah yang hanya berfokus pada permasalahan diksi disaat jumlah korban Covid-19 terus meningkat.

Kepatuhan Masyarakat Terhadap Pemerintah

Terlepas dari perubahan berbagai diksi yang dilakukan pemerintah, muncul sebuah pertanyaan berupa akankah hal ini akan berdampak besar pada masyarakat. Melihat dari tingkat kepatuhan masyarakat yang masih rendah, meski telah muncul berbagai himbauan dan anjuran sebelumnya.

Hal tersebut dimungkinkan terjadi karena adanya tingkat literasi yang rendah pada masyarakat, terutama perihal lingkup kesehatan. Literasi disini bukanlah kemampuan yang hanya berupa calistung yang mencakup membaca, menulis, dan menghitung, namun berupa pemahaman serta pengaplikasian dalam tindakan yang menyangkut kesehatan kehidupan.

Masyarakat sendiri selama pandemi dihadapkan dengan tindakan pemerintah yang acap kali berubah-ubah, baik dari segi teknis maupun non-teknis. Hal ini pun diperparah dengan semrawutnya koordinasi antar lini di pemerintah, entah itu di pemerintah pusat dengan daerah atau kementerian dengan dinas daerah.

Seperti adanya perbedaan yang sempat terjadi pada beberapa kepala daerah perihal informasi Covid-19,  hingga permasalahan yang terjadi diantara Ibu Risma dengan Ibu Khofifah perihal penanganan Covid-19 di Jawa Timur yang sampai saat ini terus bertambah dan tak kunjung turun.

Masyarakat sendiri yang telah dihadapkan dengan beragam tuntutan dan masalah yang diakibatkan dari dampak pandemi, kini semakin dibuat pusing dengan kesemerawutan informasi dan komunikasi yang diciptakan pemerintah, dimana hal ini dikenal sebagai infodemik.

Rasa kepercayaan yang menurun di masyarakat terhadap pemerintah akibat kebingungan yang muncul dari komunikasi yang buruk dan semrawut, membuat masyarakat tidak mengindahkan lagi peraturan yang berlaku. Kekosongan akan pihak yang dipercaya pun tergantikan dengan penilaian yang dipercayai masyarakat.

Fenomena tidak mengindahkan aturan tersebut disebabkan karena adanya bias kognitif yang berarti cara berperilaku, bertindak, dan menilai pada seseorang didasari dari kesalahan cara berpikirnya. Terdapat tiga bias kognitif yang dapat menjadi penyebab munculnya sikap tersebut pada masyarakat.

Bias optimisme atau juga disebut sebagai optimisme tidak realistis, menurut Rhee, Ryu, & Kim bias ini merupakan penafsiran informasi yang tidak pasti yang digunakan untuk mementingkan diri sendiri dengan adanya dorongan probabilitas subjektif atau derajat kepercayaan. Atau dalam artian singkatnya berupa keyakinan seseorang untuk tidak mungkin dapat menerima hal yang negatif.

Bias konfirmasi merupakan kecenderungan dalam mencari dan menggunakan sumber informasi yang sesuai dan mendukung akan keyakinan orang tersebut, sehingga dapat membenarkan akan tindakan seseorang tersebut pada masyarakat.

Efek Dunning-Kruger bias ini menjelaskan akan kecenderungan seseorang untuk menilai kemampuan kognitif yang lebih besar daripada kenyataan yang ada. Pada masyarakat Indonesia bias ini terlihat dari kecendurungan masih ditemukannya masyarakat yang merasa lebih paham akan masalah Covid-19.

Penunjukkan Artis dimasa Pandemi

Melihat dari berbagai bentuk kewajiban pemerintah tersebut dan pelaksanaanya di lapangan, pemerintah bak sebuah bahtera rumah tangga yang kesemua anggota keluarganya memiliki peran sebagai seorang kepala keluarga, yang seringkali berbenturan arah tujuan dengan setiap orang.

Pemerintah sendiri sebenarnya semakin getol dalam upaya menekan laju pertumbuhan Covid-19, mulai dari diberlakukannya berbagai peraturan semenjak awal pandemi hingga penunnjukkan tokoh publik sebagai juru bicara serta dipilihnya kalangan artis untuk membantu sosialisasi program pemerintah.

Namun apakah dipilihnya sederet artis tersebut dapat menjadi penanda akan ketidakmampuan pemerintah dalam menangani Covid-19 di negeri ini. Melihat hal tersebut tidak lama dan dibarengi pula dengan munculnya pernyataan Presiden Jokowi yang tidak puas serta tidak segan untuk me-reshuffle menteri-menterinya yang tidak memuaskannya.

Ya walaupun jika dipikir kembali terasa masuk akal juga alasan Bapak Jokowi mengundang para artis untuk membantu sosialisasi program pemerintah, toh mereka sudah ahlinya berseliweran di masyarakat mulai dari jadi penyanyi, komedian, hingga prankster gembel penyembah adsense.

 

Penulis : Dimas Nugroho

Audiensi Terlaksana, Tuntutan Solidaritas HMJ Dijawab Rektorat

Solidaritas Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) bersama dengan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dan Rektorat Universitas Jember, pada Senin (22/6/2020) melakukan audiensi terkait permasalahan yang terjadi di Universitas Jember. Audiensi yang dilakukan ini terjadi sebagai buntut dari tuntutan solidaritas HMJ kepada pihak Dekanat beberapa waktu lalu. 

Ali Ausath selaku koordinator solidaritas HMJ menuturkan, pihaknya telah mengirimkan surat permohonan audiensi melalui BEM kepada Rektorat dan ditindak lanjuti dengan pelaksanaan audiensi pada hari Senin (22/6/2020). Bertempat di lantai 3 gedung rektorat, audiensi tersebut dihadiri oleh solidaritas HMJ bersama dengan BEM Fakultas dan BEM Universitas. Pada audiensi tersebut, pihak HMJ menyampaikan 4 poin besar sebagai tuntutan kepada Rektorat.

"Untuk poin-poin yang dibawa sebenarnya sama, cuma kalo di poin-poin HMJ kita kan ada 6 poin besar, namun pada saat tadi kita audiensi kita membawa 4 poin besarnya yaitu yang pertama terkait dengan  permasalahan mahasiswa tingkat akhir terkait dengan pembebasan ukt, kemudian yang kedua terkait dengan ukt untuk mahasiswa on going, kemudian yang ketiga perihal bantuan kuliah daring dan yang keempat terkait denga transparansi realokasi anggaran covid di universitas jember” tutur Ali.

Ali juga menyampaikan, dalam audiensi tersebut pihak rektorat telah memberikan jawaban terkait dengan mekanisme dan permasalahan yang terjadi di lapangan. Namun dari audiensi tersebut tujuan dari Gerakan Solidaritas Mahasiswa ini belum tercapai sepenuhnya. Ali mengatakan bahwa tuntutan dalam pakta integritas belum ditanda tangani oleh Iwan Taruna selaku rektor Universitas Jember

“kalo untuk tujuannya sendiri dari kita (Gerakan Solidaritas Mahasiswa) bersama dengan bem fakultas, disana kan kita juga membawa pakta integritas dan pakta integritas itu terdapat 4 poin terkait dengan tuntutan kita dan pakta integritas itu sudah kita serahkan ke pihak rektor pak Iwan Taruna, namun ternyata masih belum ditanda tangani pada hari ini juga dengan dalih pak Iwan masih ingin mempelajari terkait dengan poin-poin”. 

Terkait dengan pakta integritas yang belum ditanda tangani oleh Rektor, Ali mengatakan Gerakan Solidaritas Mahasiswa akan terus melakukan tindak lanjut karena pihak Rektorat juga tidak memberi kepastian kapan pakta integritas tersebut ditanda tangani.

 

Penulis : Erdhi Setya

Peringatan Tidak Diindahkan Dekanat, Solidaritas HMJ Akan Layangkan Surat Kepada Rektorat

Prima Fisip - Tindak lanjut dari tuntutan solidaritas Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Jember rupanya berbuntut pada keputusan  HMJ untuk melayangkan surat kepada Rektorat Universitas Jember. Ali Ausath selaku koordinator solidaritas HMJ mengatakan, pihaknya telah mengirimkan surat kepada Badan Perwakilan Mahasiswa (BPM) Universitas Jember yang berisi permohonan advokasi dan pendampingan terkait dengan poin poin tuntutan yang akan diteruskan pada pihak Rektorat nantinya.

"jadi kami meminta pendampingan advokasi kepada BPM Universitas atas permasalahan yang kami ajukan kepada pihak Dekanat FISIP untuk kemudian diteruskan kepada pihak Rektorat, hal ini agar kami mahasiswa FISIP mendapat solusi perihal permasalahan tersebut"

Diketahui pada 10 Juni lalu, solidaritas HMJ telah melayangkan surat permohonan audiensi kepada Dekanat perihal poin poin tuntutan yang telah tertulis di dalam press release. Namun menurut keterangan, pihak Dekanat menyanggupi audiensi dilakukan pada hari Selasa tanggal 16 Juni, yang mana telah melampaui 3 hari dari batas waktu yang telah ditentukan.

"kemarin kami pada tanggal 10 Juni 2020 telah melayangkan surat kepada Dekanat yang berisi permohonan untuk dilakukannya sebuah audiensi perihal poin poin tuntutan yang terdapat pada press release, namun ternyata dari pihak Dekanat menginginkan audiensi pada hari Selasa, dan hal tersebut sangat bertentangan pada apa yang terdapat pada surat kami, yakni tentang batas waktu 3 hari untuk dilakukannya audiensi"

Terkait dengan informasi serap aspirasi Dekanat yang diedarkan oleh BPM pada 11 Juni lalu, Ali memberikan tanggapan bahwa informasi yang disampaikan masih belum dapat menjawab dan merepresentasikan poin poin pokok yang menjadi tuntutan mereka. Hal ini juga yang menguatkan pihak HMJ untuk meneruskan tuntutan ini kepada Rektorat.

"kemarin sempat ada sebuah informasi yang disampaikan oleh BEM dan BPM dalam akun ignya BPM FISIP, disana terdapat beberapa poin poin yang menegaskan terkait dengan informasi perihal ukt dan bantuan daring, dari poin poin tersebut kita lihat apa yang dibawakan dari BEM dan BPM masih belum merepresentasikan apa yang menjadi poin poin pokok apa yang menjadi tuntutan dari kolaborasi HMJ ini, maka dari itu, kami akhirnya melayangkan surat kepada Rektorat" [rkn, pry]

Solidaritas HMJ FISIP Desak Dekanat Berikan Solusi

Prima - Fisip, Solidaritas Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Jember mengeluarkan sebuah Press Release pada Selasa, 10 Juni 2020, pagi tadi. Diketahui, press release tersebut memuat beberapa poin tuntutan yang selama ini menjadi keresahan mahasiswa terkait beberapa permasalahan yang ada di kampus.


Ali Ausath selaku koordinator Solidaritas HMJ mengatakan, ada tiga poin tuntutan dasar yang melandasi beberapa point yang disebutkan dalam press release tersebut. Pertama mengenai birokrasi kampus yang  dinilai tidak konsisten dalam menjalankan kebijakan, khususnya mengenai bantuan kuliah dalam jaringan (daring) yang sempat berubah-ubah dalam pelaksanaannya. Kedua, mengenai pengajuan pembebasan Uang Kuliah Tunggal (UKT). Lalu yang terakhir mengenai kebijakan keringanan pembayaran UKT. 


"Kita membicarakan secara umum ada 3 hal yang menjadi pokok pembahasan ini. Yang pertama terkait dengan inkonsistensi kebijakan bantuan kuliah daring kemudian ada juga terkait pengajuan pembebasan ukt, kemudian yang terakhir berkaitan dengan kebijakan keringanan pembayaran UKT. Jadi dilihat dari 3 poin ini yang menjadi permasalahan dasar" Ungkap Ali saat ditemui.


Ali menambahkan, pasca diterbitkannya press release ini, pihaknya akan mengadakan audiensi dengan Dekanat untuk membahas poin poin tuntutan yang mereka bawa. Hal ini merupakan desakan bagi pihak kampus untuk segera merespon dan menindak lanjuti terkait permasalahan permasalahan yang ada.
 

"Jadi alur seperti apa yang sebenarnya nantinya diterapkan di Fakultas, kemudian juga terkait dengan keringanan tersebut. Jadi mungkin dari pihak Fakultas nantinya akan ada beberapa opsi seperti misalnya terkait dengan penundaan pembayaran, atau misalnya cicilan atau seperti apa, nanti pihak Fakultas bisa memberikan respon."
 

Ali juga menegaskan, apabila selama 3 hari ini pihak Dekanat tidak memberikan tanggapan atau respon yang diharapkan, maka pihaknya akan membawa tuntutan ini pada tingkatan Rektorat.
 

"jadi kalau semisal dalam waktu 3 hari belum ada respon dari pihak fakultas kami kemungkinan besar akan membawa hasil press release ini kepada pihak rektorat" Tutup Ali. 

 

Penulis : Priyo Labda

Pembebasan UKT, Mahasiswa Keluhkan Alur Birokrasi Ruwet

PRIMA - FISIP, Mahasiswa Keluhkan terkait dengan alur pembebasan Uang Kuliah Tunggal (UKT). Sebelumnya diadakan audiensi Badan Eksekutif MAhasiswa (BEM) Se Universitas Jember (UNEJ) bersama dengan Rektor dan Jajarannya, salah satunya terkait dengan Pembebasan UKT pada hari Jumat, 8 Mei 2020. Namun di Fakukltas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP), banyak mahasiswa yang mengeluhkan terkait dengan alur yang harus dilalui.

Salah satunya Agus Wedi selaku mahasiswa Tingkat akhir mengatakan dalam pembahasan mengenai pembebasan UKT telah disepakati bersama antara rektor dengan mahasiswa di audiensi tersebut. Namun FISIP belum mampu menerapkan kebijakan mengenai pembebasan UKT yang di bahas dan disepakati bersama terkait kebijakan pembebasan UKT tersebut.

“saya sempet mengikutin terkait dengan ini apa kesepakatan antara mahasiswa sama rektorat kemarin, terkait pembebasan ukt ini seperti apa , lah itu tidak diberlakukan sama sekali terkait dengan (Kebijakan pembebasan UKT), sebenarnya mahasiwa yang sudah upload dan nempuh skipsi tapi tidak ada tanggungan kuliah itu dapat pembebasan ukt, lah di FISIP ini belum diterapkan, belum dilaksanakan” Ucap Agus Wedi saat kami temui.

Ia menemui pihak Fakultas untuk menanyakan terkait dengan kebijakan pembebasan UKT tersebut. Namun pihak fakultas menyatakan mahasiswa harus melewati alur yang ditetapkan. “Mangkanya tadi saya tanya ke bu Probo, bu Probo ya masih minta maaf untuk sementara ini SITA yang terlambat itu diselesaikan dulu” ungkapnya.

Sehingga pihak fakultas mengeluarkan kebijakan kepada mahasiswa tingkat akhir dengan memberikan memo sebagai bukti telah melaksanakan seminar proposal Sementara itu, mahasiswa yang terkendala dengan jarak dapat menghubungi pihak fakultas dan operator jurusan.  

“itu bagi mahasiswa yang diluar kota itu mungkin ya gotong royong aksi-aksi kemanusiaan, saling bantu yang masih bisa dibantu, temen-temen yang di Jember dibantu dulu. Tapi yang tidak bisa dibantu bisa ngubungin bu probo atau operatornya masing-masing untuk minta solusi seperti apa, atau ngirim file nya aja gitu”. Ungkap Agus saat diwawancarai

Mengenai dengan alur yang harus dilakukan ada beberpa hal yang harus dilakukan,  menurut Ibu Probowati selaku Kasubag Akademik FISIP UNEJ, ada tiga syarat yang harus dipenuhi oleh mahasiswa yang ingin bebas UKT yakni :

  1. Mahasiswa harus sudah melakukan seminar proposal dan tidak memiliki mata kuliah yang ditanggung
  2. SITA harus diisi sebelum tanggal 14 April 2020
  3. Harus ada surat keterangan pembimbing yang hadir pada waktu seminar proposal untuk dijadikan sebagai berkas yang akan dilaporkan ke pihak Rektorat

Namun pada poin dua pengisian SITA diisi sebelum tanggal 14 April 2020, banyak mahasiswa tidak mengisi SITA tersebut. Berdasarkan desakan mahasiswa yang mengeluh belum mendaftar, ataupun bingung dengan alur yang harus dilalui, pihak fakultas memfasilitasi dengan mengusulkan kepada pihak Rektorat untuk meloloskan mahasiswa yang mengisi SITA diatas 14 April.

Bu Probowati megatakan bahwa hal ini sifatnya masih usulan, tergantung kepada Rektorat apakah menerima usulan tersebut atau tidak. Mahasiswa belum menemui kepastian mengenai kebijakan pembebasan UKT tersebut.  

“SITA diatas 14 April diperbolehkan dengan catatan sudah melakukan seminar proposal sebelum 14 April dan ada surat keterangan dari dosen pembimbing, tetapi masih dalam usulan kepada Rektorat karena yang meng-acc semuanya adalah Rektorat” imbuhnya.

Hal Serupa dinyatakan oleh Pak Dulkhalim selaku kepala Biro Kemahasiswaan menyatakan, “Mengenai permasalahan ini kami tidak berani menyatakan. Apabila sesuai surat, maka memang tidak boleh. Tapi yang menentukan Kebijakan itu Pak WR 1. Kami hanya secara administrasi.”

Mengenai kepastian kebijakan pembebasan UKT masih belum ada kepastian, dikarenakan ketentuan masih ada ditangan pihak rektorat, khususnya pada Wakil Rektor 1 yang menentukan kebijakan tersebut.

Saat tim reporter datang kepada bapak Zulfikar selaku Wakil Rektor 1 dikantornya, beliau tidak bisa ditemui.[MLR]

Membawa poin tuntutan, BEM FISIP tidak melibatkan ORMAWA

Beberapa poin tuntutan yang dibawa oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Univeritas Jember (UNEJ) ternyata tidak melalui proses kajian yang melibatkan pihak Organisasi Mahasiswa (ORMAWA) FISIP.

Ghandy Herwanto, Ketua BEM FISIP mengatakan, poin tuntutan yang dibawa melalui Aliansi BEM Fakultas Se-Universitas Jember merupakan hasil dari kajian advokasi dan data aspirasi yang dirangkum oleh Badan Perwakilan Mahasiswa (BPM). Ghandy menambahkan, pihaknya mendapatkan data permasalahan yang didapat dari hasil survei yang dilakukan kepada mahasiswa.

“poin yang kita bawa berdasarkan survei.” Ungkapnya saat ditemui.

Ghandy menjelaskan, keadaan yang dinilai cukup mendesak membuat pihaknya berinisiatif untuk mengadakan pendataan sendiri. Selain itu, Gandy juga mempertimbangkan mengenai kondisi beberapa ormawa FISIP yang masih belum memiliki SK dan BPM yang kala itu masih fokus pada kegiatan oprec

“Hak-hak yang harus diperjuangkan temen-temen kemudian itu kondisinya waktu itu diormawa fisip itu terkendala terkait tidak adanya SK, jadi dari BPM juga waktu itu kondisinya masih terpecah fokus akan adanya oprec sehingga kita itu menginisiasi untuk melakukan pendataan sendiri, survei sendiri terus karena dirasa memang kondisinya mendesak dan mewakili aspirasi dari temen-temen mahasiswa secara general maka kita bawa.” Ujarnya.

Sejauh ini dari hasil audiensi diketahui menghasilkan beberapa kesepakatan. Namun pihaknya merasa perlu ada pembahasan lebih lanjut, dikarenakan ada beberapa hal yang meleset dari apa yang dituntutkan. Selain itu, Gandy juga mengatakan bahwa masih ada beberapa poin yang perlu dibahas atau ditambahkan untuk kedepannya.

“kalau kita lihat kondisi lapangan setelah adanya aliansi ini itu dirasa sudah mewakili semua aspirasi mahasiswa, cuman buat kedepan kita masih membuka kembali mungkin ada poin-poin yang luput ataupun kelupaan dibawa mungkin dari temen-temen bisa menghadap ke pihak fakultas atau rektorat.”

Audiensi yang dilaksanakan Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Se-Universitas Jember bersama Rektor dan jajarannya pada Jum’at lalu merupakan kelanjutan dari desakan atas poin-poin tuntutan yang di publikasikan oleh Aliansi BEM Fakultas Se-Universitas Jember melalui Press Release. Terkait dengan poin tuntutan yang dituliskan merupakan apa yang menjadi permasalahan mahasiswa. Hal ini merupakan apa yang dikaji oleh BEM sebagai lembaga eksekutif untuk mengadvokasikan perihal permasalahan yang ada diranah mahasiswa. [rkn]

Audiensi Tuntutan BEM Se Universitas Jember

Prima Fisip –Audiensi yang dilakukan oleh Rektorat bersama Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) baik Universitas maupun Fakultas dan bersama dengan dua perwakilan Fakultas Hukum dan Fakultas Ilmu Budaya berlangsung pada tanggal 8 Mei 2020 Kemarin melalui media teleconference. Hal ini dikonfirmasi dari Ketua BEM Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Jember Ghandy Herwanto.

“Dari yang BEM itu ada ketua BEM, ditambah 2 perwakilan dari temen-temen FH sama FIB. terus kalau dari BEM Universitas itu kalau gak salah ada dua perwakilan, dari ketuanya sendiri sama dayat bidang advokasinya itu.” Konfirmasi Ghandy saat kami temui langsung.

Diadakan audiensi ini merupakan tindak lanjut dari apa yang dituntut oleh BEM Se Universitas Jember. Diketahui ada beberapa yang dibahas didalam audiensi yang diadakan bersama Rektor beserta jajarannya, seperti halnya Standar Operasional Prosedur (SOP) Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang dpermasalahkan mengenai alur kejelasannya, mekanisme keringanan UKT ditengah pandemik dan bantuan lima puluh ribu kepada mahasiswa.

“Tuntutan pertama, sebenarnya ada poin-poin yang pertama itu tentang KKN tematik yang temen-temen ingin kejelasan alur SOP, terus dari makanisme pembebasan ukt mahasiswa tingkat akhir, kan masih menjadi polimik buat buat temen-temen mahasiswa tingkat aakhir yang masih tunggangan sks, terus juga disana ada bantuan perkuliahan dari senilai 50 ribu itu karena penurunannya masih belum jelas mekanismenya belum jelas cuman audiensi kemarin kan sudah terlaksana turunnya bantuan 50 ribu itu cuman dirasa belum serentak, akhirnya itu menjadi poin tuntutan kemudian evaluasi perkuliahan daring.” Lanjut Ghandy menjelaskan.

Adapun poin-poin yang menjadi hasil dari acara audiensi tersebut dikatakan oleh Ghandy bahwa ada beberapa kesepakatan seperti halnya KKN yang tetap diadakan namun SOP-nya lebih diperjelas kepada mahasiswa. Lalu terkait dengan bantuan nominal 50 yang saat ini sudah diturunkan kepada mahasiswa yang mendaftar sudah beberapa ada yang dicairkan. Selanjutnya juga terkait dengan pembebasan Uang Kuliah Tunggal (UKT) tidak dapat diterima, namun dapat mengajukan permohonan kepada Rektorat.

“Hasil ini kemarin yang sudah ada gambaran nih kkn yang kita tuntutkan mungkin itu dihapuskan atau seperti apa. Contohnya kan seperti itu, cuman kesepakatan dari rektorat itu KKN tetap dilaksanakan cuman dari temen-temen itu mengawal segera diturunkannya SOP tentang mekanisme dari pelaksanaan kkn ini, terus juga terkait bantuan 50 ribu itu kita juga diberi penjelasan kenapa nominal yang muncul 50 ribu tidak bisa di naikkan itu. karena sudah menjadi kesepakatan untuk universitas yang berstatuskan satuan kerja, nah untuk pembebasan ukt masa reguler itu tidak dapat diterima itu yang cukup kita sayangkan, namun kita tetep mengharapkan adanya kebijakan-kebijakan baru yang nantinya juga memudahkan temen-temen” Tambahnya.

Diketahui diadakannya audiensi merupakan tindak lanjut dari apa yang dituntut oleh BEM kepada rektorat mengenai permasalahan mahasiswa yang tak kunjung terealisasikan. Namun Ghandy menjelaskan ada beberapa poin yang belum terselesaikan dan bersama dengan pihak BEM lainnya akan menindak lanjut kawalan tuntutan tersebut.

“Tindakan kedepan yang pertama kita tetep mengawal SOP mekanisme tentang pelaksanaan kkn itu segera turun terus kemudian juga mengawal akan adanya penurunan secara serentak terhadap bantuan perkuliahan dari 50 ribu itu. dan juga kita masih mengusahakan kemudahan bagi temen-temen mahasiswa reguler terkait pembayaran ukt di semester selanjutnya, dengan melihat kondisi yang seperti ini tidak dapat tau pasti kapan akan selesai.”

(Priyo)

The Platform

Genre: Sci-Fi/Thriller

Sutradara: Galder Gaztelu-Urrutia

Tahun: 2019

Film Spanyol besutan sutradara Galder yang ditayangkan pada platform Netflix ini memberikan gambaran pada penonton akan perjuangan tahanan yang terjadi pada setiap level. Dimana pada realitanya hal seperti ini merupakan gambaran dari kondisi yang terjadi di dunia nyata. Film yang sarat akan kekejian dan perebutan makanan oleh penghuni tahanan, menyiratkan dengan jelas bahwa terdapat kesenjangan sosial yang terjadi, baik pada penjara tersebut ataupun pada masyarakat.

Film ini dimulai dengan sebuah proses yang berjalan pada level 0, dimana orang-orang pada bagian tersebut merupakan gambaran akan sistem yang mengatur dan memiliki privilege terbesar akan apa yang terjadi pada level dibawahnya. Pada film, level inilah yang nantinya akan menentukan dan memberikan makan apa pada tahanan di bawah. Hal-hal yang berjalan secara terorganisir, perfeksionis, dan terstruktur pada level ini, merupakan suatu hal yang kontradiktif dengan keadaan yang didapati para tahanan. Dimana pada setiap Ievel yang bertambah turun, bertambah pula kesensaraan dan keputusasaan yang dirasakan oleh mereka.

Berbagai kejadian keji bermula dari seorang tokoh bernama Goreng, yang merupakan tokoh utama pada film ini. Goreng yang merupakan seorang tahanan, masuk secara sukarela demi mendapatkan sertifikasi diploma yang akan didapat ketika ia keluar dari penjara nantinya. Seiring dengan berjalannya waktu, timbul adanya kesadaran akan perjuangan dan perlawanan sistem yang harus dilakukan bersama oleh setiap tahanan. Hal ini didapati Goreng setelah melihat dan mendapati berbagai sisi liar manusia pada setiap level yang akan terus turun.

Berbagai kengerian tergambarkan secara vulgar dari setiap scene yang terjadi pada film. Dimana mimbar yang membawa makanan akan bergerak turun dan memberikan makan bagi tahanan beruntung yang ada di level atas -atau setidaknya level tengah dengan memakan bekas-bekas makanan yang tersisa walaupun telah tercampur dengan berbagai hal, termasuk kotoran. Tahanan yang saling berebutan dan memakan sepuasnya, merupakan gambaran akan bentuk ketamakan seseorang pada masyarakat. Dimana orang-orang ini mengakuisisi kepemilikan akan suatu makanan secara semena-mena dengan tidak memedulikan tahanan di bawahnya.

Tak cukup dengan kondisi yang ditampakkan pada level menengah, film ini pun menampakkan akan bagaimana kondisi tahanan di level terbawah. Dimana mereka harus bertindak sesuai dengan keadaan mereka. Para tahanan ini siap untuk saling memakan satu sama lain, seperti apa yang telah dilalui Goreng pada jalannya film. Goreng yang telah melalui ketiga macam level, mencoba untuk menyadarkan akan sesama tahanan, namun apa yang didapat justru pencelaan dan perlawanan dari tahanan lain. Hal ini membuat Goreng harus melakukan aksinya melalui kekerasan demi kepentingan bersama. Bukanlah hal yang asing bukan pada dunia nyata? Dimana hal tersebut identik dengan perjuangan kelas yang dapat dilalui dengan tindakan revolusioner.

Goreng sendiri tergambarkan sebagi seorang idealis sejati, dimana semenjak hari pertama ia telah mencoba untuk melakukan perlawanan terhadap sistem yang berlaku pada setiap tahanan. Selain itu, wujud kenampakan yang ingin diperlihatkan film pada sosok Goreng sendiri terlihat dari sebuah buku yang ia bawa, Don Quixote De La Mancha. Dimana buku ini merupakan kisah seorang kesatria yang berjuang melawan para monster raksasa, yang ternyata hal tersebut hanyalah imajinasi dari kesatria tersebut. Keadaan yang dialami dan dihadapi sosok Goreng di film ini sama dengan sosok Don Quixote pada buku, bahkan gambaran fisik pun terlihat serupa.

Pada film ini sosok akan tokoh antagonis dan protagonis pun menjadi kabur karena tuntutan dari sistem yang terjadi pada tahanan. Berbagai isu, baik isu sosial, ekonomi, dan permasalahan rasial pun tersaji menjadi suatu sistem yang saling mengikat. Kecacatan akan sistem pun ditunjukkan dengan twist pada bagian akhir film. Dimana seorang tahanan yang tidak semestinya ada, justru terdapat pada level terbawah. Gambaran penting lain yang menggambarkan masyarakat pada film ini yaitu level dari setiap tahanan yang akan selalu berpindah, menggambarkan akan bagaimana seseorang di dunia nyata tidak dapat memilih untuk terlahir dari kelas sosial yang diinginkan. Mereka harus melalui berbagai rintangan dan melawan sesamanya, walaupun moralitas yang menjadi taruhannya.

[Dimas Nugroho]

Kajian Kolaborasi, Himpunan Mahasiswa Jurusan

PRIMA - Aliansi Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Jember mengadakan sebuah  kegiatan kolaborasi antar himpunan pertama dalam sejarah di FISIP.

Acara tersebut bertajuk kolaborasi kajian online antar himpunan jurusan di FISIP.
Kajian online tersebut mengusung tema "Refleksi Hari Buruh : Gerakan Buruh dan RUU Cipta Lapangan Kerja." 

Kegiatan yang di pelopori oleh lima HMJ FISIP, yakni Himpunan Mahasiswa Administrasi (Himaistra), Himpunan Mahasiswa Kesejahteraan Sosial (Himakes), Himpunan Mahasiswa Hubungan International (Himahi), Himpunan Mahasiswa Diploma Tiga (Himadita), dan yang terkahir Himpunan Mahasiswa Sosiologi (Himasos).

"Diharapkan dari kegiatan tersebut dapat meningkatkan pemahaman mahasiswa terkait perjuangan buruh yang sedang dihadapi dan permasalahan yang terjadi pada RUU Cipta Lapangan Kerja (CILAKA)," ungkap salah satu koordinator kegiatan dari Himaistra Mahardika yang dihubungi via WhatsApp
Kegiatan tersebut berlangsung pada hari Minggu 3 Mei 2020 , via aplikasi teleconference Zoom, dengan pemateri Umar Faruk DPC Serikat Buruh Muslim Indonesia (SARBUMUSI), Serta Hadi Makmur dosen FISIP Universitas Jember.

Andresa berpendapat kegiatan aliansi Himpunan Mahasiswa ini merupakan sebuah inisiasi yang dilakukan sebagai trobosan membuka ruang diskusi seputar fenomena di FISIP. 
"Kalo menurut pendapatku, kegiatan kemarin itu merupakan trobosan baru yg memberi angin segar bagi warga fisip, ditengah pandemi seperti saat ini, yg perlu dijaga bukan hanya kesehatan fisik tapi juga kewarasan diri dalam melihat fenomena sekitar kita," ucap Andresa selaku ketua Himadita, yang dihubungi via WhatsApp.

Kegiatan seperti memang diharap dapat menjadi wadah untuk meningkatkan critical thinking dari Mahasiswa Fisip ini sendiri. "Kegiatan diskusi kolaboraksi kemarin itu salah satu cara merawat kewarasan diri dan nalar kita. Sebagai anak fisip kita dituntut menjadi pribadi yg lebih kritis dan solutif, salah satu caranya adalah dengan menciptakan iklim diskusi ditengah mahasiswa". Lanjut Andresa

Kemudian Bayu dari Himasos menyampaikan bahwa kegiatan ini sudah bagus walaupun masih ada beberapa hal yang perlu di perbaiki dikemudian hari.
Selain itu bayu melanjutkan "Tujuan dari acara ini sudah dapat tersampaikan dengan baik, terkait perspektif buruh melalui kelima Hmj, dan sebenarnya dari kegiatan tersebut bisa dibuat beberapa rekomendasi."

Penulis: Jibril Lazuardi

“KITA” MAHASISWA

Perkenalkan, aku adalah mahasiswa
Yang katanya selalu berjajar membela rakyat
Disebut sebagai civitas akademika karena melawan birokrasi
Namun pada era ini katanya hilang eksistensi

Tahun 1998 kata “kita” seakan menjadi agung bagi mahasiswa
Kata “kita” menyatukan mahasiswa, rakyat dan Indonesia
Tapi itu dulu pada era birokrasi menggila
Namun pada era ini apa arti “kita” bagi mahasiswa ?

“Kita” ialah sebuah kata pronomina pesona pertama
Yang terdefinisi dengan begitu banyak arti
Dan semua terarah pada sebuah makna
Tapi sering diartikan kata romantis muda mudi

Namun kini kata “kita” menjadi begitu tabu bagiku
Sering tak selaras dengan hati walau terbelenggu
Tak jarang kata “kita” seakan menjadi benalu
Tapi tetap ku terjebak pada sebuah gang buntu

Hai mahasiswa! Kini apa arti “kita” bagimu ?
Masihkah “kita” menjadi tanggungjawab sosialmu ?
Masihkah kepentingan bersama menjadi prioritas bagimu ?
Ataukah sudah tergerus zaman dan egoismu ?

”Tugas mahasiswa adalah belajar
namun sungguh sangat rugi jika belajar disempitkan 
hanya sebatas bangku perkuliahan saja“
Begitu najwa shihab berkata 

Lalu bagaimana saat ini hai mahasiswa yang agung!
Membawa nama universitas kasana kemari
Memakai jas sekedar untuk sombong pada teman SMU
Namun kerjamu tak berarti bagi negeri

Sungguh aku malu disebut sebagai mahasiswa
Dihormati sebagai orang berpendidikan
Menjadi harapan rakyat bagi keberlangsungan bangsa
Namun yang kulakukan hanya berdiam diri saja

Sungguh teman-temanku wahai mahasiswa 
Tunjukkan pada mereka bahwa kata “kita” tidak mati
Wujudkan tanggungjawab sosial “kita” hai mahasiswa!
Generasi muda bangsa Indonesia!

[Dev]

Rela

            Malam ini, aku duduk sendiri di tepian sungai Han. Disebuah bangku panjang berwarna putih, menatap aliran sungai yang tampak tenang. Angin berhempus menerpa dingin kulit wajahku. Tersenyum sumbang saat dinginnya angin menjalar ke seluruh tubuh.

            “Ku cari di rumah, tak tahunya kau ada disini..” atensiku teralihkan oleh suara bariton milik lelaki yang aku kenal menghampiri gendang telinga. Ku tolehkan kepala pada sumber suara. Netraku menangkap satu sosok dengan senyum lebarnya.

            “Ada apa kau mencariku?” tanyaku kemudian dengan menggeser duduk memberi dia ruang untuk menempati tempat tersebut.

            “Hanya, mencarimu saja... tidak boleh? Salah ya?” hanya tersenyum. Itulah jawabanku untuk lelaki yang kini sudah duduk disamping kananku. Helaan nafasnya terasa berat saat di dengar.

            “Ceritalah, bila kau ingin bercerita.. kau tahu kan kalau aku bisa menjadi kotak surat berjalan?”

            “Aku merasa lelah dengan hubunganku bersama Haera. Dia seperti anak kecil yang selalu merengek. Selalu ingin dimengerti tapi dia tidak mau mengerti padaku.” Kembali, helaan nafas itu masuk dalam gendang telingaku.

            “Lalu, kau masih ingin bertahan dengannya?”

            “Tidak, aku tidak ingin.. aku sudah lelah dengannya. Bantulah aku memikirkan cara untuk memutuskan hubungan laknat ini dengannya.”

            “Yak! Hubungan laknat katamu? Oh Tuhan.. di awal kau sangat menikmati hubunganmu itu bukan? Dan sekarang kau mengatakan itu hubungan laknat? Kau pria kejam Sungjin-ah!” sungguh, aku sudah tidak bisa menahan amarahku pada lelaki satu ini. Bagaimana mungkin, ia mudah bosan saat menjalin hubungan? Tak bisa ku pikirkan.

            “Kau tahu sifat asliku Han, kau mengerti dengan amat sangat jelas. Dan, yah beginilah aku.”

            “Dari pada kau marah, lebih baik kau bantu aku untuk memutuskan hubungan dengannya..” Sungjin menjambak rambutnya frustasi. Selalu seperti ini apabila ia sudah bosan dengan hubungan percintaanya. Datang, dan meminta saran padaku. Aku tak masalah, hanya saja....

            “Bertengkar. Setahuku, itu cara yang paling ampuh untuk memutuskan hubungan bukan?!”

            “Sudah ku lakukan..” ada jeda sesaat sebelum ia melanjutkan kata-katanya.

            “Tak berhasil.. dan aku kehabisan akal untuk meminta putus dengannya.”

            “Selingkuh?” Sungjin membulatkan netranya. Tak percaya dengan kata yang baru saja terucap dari mulutku.

            “Kau gila Han!” mendengar ucapan itu, aku tersenyum masam. Memandang lelaki itu dengan tatapan dalam.

            ‘Ya, aku gila.. dan kamu penyebabnya.’ Jawabku dalam hati.

            Menjadi seorang wanita itu sulit. Banyak yang tidak bisa dilakukan karena tuntutan menjadi seorang wanita yang lemah lembut serta penuh dengan kehormatan. Banyak pula ucapan yang ingin dilontarkan namun tidak bisa terucap karena takut dengan martabat dan kodrat sebagai wanita.

            Soal perasaan, wanita lebih sering memendam dan tidak mau mengutarakan. Entah itu hal yang diinginkan atau tak diinginkannya. Wanita lebih memilih untuk diam dan menutupi segalanya. Berpura-pura bahwa ia baik-baik saja. Mungkin tak semua, namun, mayoritas dari wanita itu sama.

            Begitu pula denganku, yang lebih memilih untuk diam tanpa berucap dan menutupi segalanya dengan berkata bahwa ‘aku tidak apa-apa’ atau ‘aku baik-baik saja’. Karena bagiku, itu adalah sebuah tameng yang bisa menjaga hati agar tidak terluka. Membatasi diriku agar tidak menangis karena hal yang sia-sia.

            Aku mencintai seseorang yang tak akan pernah bisa aku miliki. Meskipun tahu seperti apa akhirnya, hatiku tak mau berhenti untuk mendamba serta memuja. Setiap hari aku dibuatnya jatuh cinta. Kepada laki-laki yang saat ini tengah gundah karena ikatan yang ia buat. Kepada kawanku, kepada partnerku.

            Ini hanyalah sebuah kisah klasik. Berawal dari ikatan pertemanan, yang merasa nyaman satu sama lain, dan berujung pada salah satu dari mereka yang meginginkan lebih. Dalam kisah ini, akulah yang menginginkan kelebihan itu. terdengar tidak tahu diri, namun itulah yang sedang ku hadapi.

            “Ah! Molla! Apapun yang terjadi, aku harus putus dengannya esok.”\

            “Lakukan semaumu.. ku beri saranpun kau tak menggubris.”

&&&

            Siklus kehidupan ‘percintaan’ yang aku jalani terdengar sangat monoton. Siklus itu bergantung pada satu sosok. Seseorang yang mampu membuat hatiku berdebar lebih cepat dari biasanya. Apabila pria itu tengah menjalin hubungan dengan seorang wanita, secara otomatis aku akan membuat jarak dengannya.

            Bukan karena aku membencinya, bukan. Namun aku tak ingin hatiku terluka melihat keduanya. Karena aku berusaha menghargai diriku juga wanita itu. Seberapa lama hubungan itu aku terus bertahan untuk menghindar atau bahkan menghilang. Hanya sesekali aku memantau keduanya. Memastikan keadaan.

            Ketika dia datang dan meminta saran padaku, seperti malam itu, barulah aku mendekat kearahnya lagi. Mencoba memahami dan mengerti kepribadiannya. Berusaha menjadi kotak surat yang mau mendengarkan keluh kesahnya. Aku senang. Karena itu, menandakan bahwa ia percaya sepenuhnnya kepadaku. Aku sungguh menghargai itu.

            “Hentikanlah cinta sepihakmu itu Han.” Tegur Alea padaku sembari memberikan cup americano yang ku pesan beberapa waktu lalu.

            “Sudah saatnya kau bahagia Han. Jangan terbelenggu oleh cinta sepihakmu itu.”

            “Aku tidak terbelunggu Al, dan aku bahagia dengan perasaanku ini.” Sergahku.

            “Bahagia katamu? Kau gila?! Bagaiaman kau bahagia disaat dia terus menyakitimu dengan mengencani wanita lain seperti itu?! Tuhan! Sadarkanlah kawanku ini!”

            “Selama aku bisa dekat dengannya, aku bahagia Al.. toh kalau nanti jadian bisa putus.. sedangkan hubunganku dengannya tidak akan pernah putus. Dia juga tidak mengetahui perasaanku.”

            ‘semoga’ tambahku dalam hati.

            “Dia itu tahu perasaanmu Han! Tapi dia berpura-pura tidak tahu dan dengan brengseknya menyakiti hatimu secara terus menerus! Dia tak pernah melihatmu lebih dari sekedar teman. Dia tak pernah melihatmu sebagai seorang wanita! Mengertilah.” Alea terus saja memekik. Meluapkan amarahnya kepadaku. Aku mengerti perasaannya, tapi apa mau dikata? Hatiku terus menolak untuk melupakan dia.

            “Aku tahu Alea, aku tahu..”

            “Kalau kau tahu dan mengerti, lepaskan dia Han. Aku tak kuasa melihatmu terus menerus disakiti oleh pria brengsek itu. Dia hanya menghamprimu jika dia butuh.. selanjutnya? Tidakkan?!”

            “Aku yang memintanya seperti itu.” Alea menggeram. Berusaha menetralkan emosinya dan menengguk cappucino miliknya.

            “Aku akan berhenti Al. Sungguh. Ketika dia sudah bahagia dan tidak bosan dengan pilihannya. Aku berhenti. Setidaknya, aku ingin melihatna bahagia, tersenyum tanpa beban dan tanpa sesal. Setelah itu, aku akan berhenti.” Jelasku kemudian.

            “Sampai kapan kau akan bertahan Han?”

            “Sampai waktunya tiba.”

&&&

Hari terus berganti menjai bulan. Bulan-bulan pun berganti menjadi tahun. Selama satu tahun ini, siklusnya masih sama. Aku masih bergantung padanya. Dan satu tahun terakhir ini, ia tak bercerinta tentang wanita. Selama satu tahun ini ia habiskan bersamaku. Melalui berbagai musim bersama. Sungguh, aku bahagia karenanya.

            Pernah terbesit tanya dihatiku, apakah dia mulai emelihatku sebagai wanita? Namun pertanyaan itu tak mampu aku lontarkan. Aku terlalu takut mendengar jawabannya. Terlalu takut mengetahui sebuah fakta. Takut dengan segala resikonya.

            Selama satu tahun ini, perasaanku padanya tak pernah berubah. Malah semakin menjadi karena momen-momen bahagia yang telah kami lalui bersama. Kalaupun boleh meminta, aku hanya menginginkan satu permintaan. Tuhan, bisakah kau rubah hatinya? Bisakah kau buat ia jatuh cinta kepada seorang wanita sepertku?

            “Apa yang kau pikirkan?” tanya lelaki itu padaku.

            “Tak ada..”

“Han, selama beberapa bulan terakhir ini aku dekat dengan seorang wanita.. aku ingin menjadikannya wanitaku, menurutmu bagaimana?” hatiku merasa nyeri saat mendengar pengakuannya. Seperti tergores dengan pisau.

“Bisa kau ceritakan dia seperti apa?”

“Dia cantik, baik.. dan dia juga pendengar yang baik sepertimu. Dia mirip dengan tipe ku.” Ia pun mulai bercerita tentang wanita itu. tentang segala perasaannya terhadap wanita itu. aku terus mendengarkannya. Membiarkannya berceloteh tentang wanita itu. rasa nyeri yang aku alami semakin menjadi saat ia mengatakan sudah mantap dan yakin akan pilihannya kali ini.

Aku hanya tersenyum saat mendengarkan celotehannya. Bukan senyum bahagia seprti biasanya, namun senyuman getir untuk menutupi luka. Luka yang teramat sakit dan mungkin sulit untuk terobati. Netraku terus saja menatap wajahnya. Menatap bagaimana binaran netranya saat ia bercerita tentang wanita itu. Terasa panas dan pedih, seolah air mataku ingin tumpah ruah dan membasahi pipi. Ingin rasanya aku berteriak, meluapkan segalanya. Namun, yang aku lakukan sekarang hanyalah tersenyum bodoh dan diam seribu bahasa.

“Doakan agar aku diterima esok hari.” Pintanya padaku. Aku hanya mengangguk, setelah itu, ia pergi meninggalkanku sendiri. Lagi, dan lagi terjadi seperti ini. Terulang kembali dengan luka yang menyayat hati.

&&&

Enam bulan berlalu. Namun, aku masih merasa terbelenggu, dengan sosok dirinya yang masih senantiasa memenuhi hatiku. Memori enam bulan lalu, saat ia bercerita tentang sosok wanita itu, masih terasa segar dalam benakku. Seakan tak ingin enyah begitu saja.

Alea menjadi saksi betapa hancurnya aku hari itu. Betapa kerasnya aku menumpahkan segala emosiku. Kini, iapun menjadi saksi, bagaimana rapuhya diriku etelah menerima kabar bahwa lelaki idamanku akan menihaki wanitanya. Menjadikan wanita itu miliknya dan untuk selamanya.

Dia memberiku sebuah undangan pernikahan yang bertuliskan namanya dan juga wanita itu. ia memberikannya dengan sebuah senyum bahagia, yang enggan untuk memudar barang sesaat.

“Aku gak akan datang Al, aku gak mau..”

“Apa aku salah kalau gak datang Al?”

“Aku bukannya apa, hanya saja aku ingin menjaga hatiku untuk terakhir kalinya..” gumaman-gumaman itu terus saja keluar dari bibirku. Disertai dengan isakan-isakan yang tak mau mereda.

“It’s okay Han.. gapapa.. itu tandanya kamu masih menghargai perasaan kamu sendiri.. udah ya,, jangan nangis lagi..”

“Aku mau berhenti, tapi susah Al..”

“Pelan-pelan kamu teangin diri kamu..” aku masih saja sesenggukan dalam pelukan Alea. Saat memejamkan mata, bayangan wajah bahagianya terlintas dalam pikiranku. Bayangan tawa serta senyumnya terasa nyata dan mampu menyayat hatiku.

Tuhan, apakah ini saatnya untuk aku melepas pria itu? apakah ini waktu yang tepat untuk aku memulai kehidupan yang baru? Tanpa adanya dia disampingku? Bila ini saatnya, mampu kah aku untuk bertahan? Mampukah Tuhan?!

&&&

Hari ini adalah hari pernikahannya. Aku memilih untuk tidak datang, karena aku takut merusak acara bahagianya. Aku duduk bersimpuh diatas ranjang. Ditemani oleh Alea yang masih setia bersamaku. Bila tak ada Alea, aku tidak yakin kalau aku masih hidup saat ini. Karena aku sudah lelah oleh kehidupanku, dan berpikir untuk mengakhiri hidupku. Karena setelah mendapat undangan itu, duniaku serasa berhenti berputar. Terpaku dalam satu waktu yang menyakitkan.

“Udah, jangan di inget terus.. kamu berhak bahagia Han karena kamu wanita yang baik.. kamu mempunyai banyak teman yang sayang dan penuh perhatian padamu.. kamu juga punya kerabat yag masih senantiasa mendukungmu.. you deserve someone better than him Han. You should be happy in your way.”

“Aku pamit pulang dulu, kalau ada apa-apa kamu bisa hubungi aku.”

Selepas kepergian Alea, aku terpaku. Merenungi segala ucapannya. Membuat berbagai pertanyaan tentang ucapan Alea barusan. Setelah lama aku merenung, ku rasa aku mendapatkan jawabannya. Seperti kata Alea, aku harus mampu bahagia tanpa pria itu.

Ku raih ponsel yang tergeletak di nakas dekat ranjang milikku. Jariku mengetikkan beberapa nomor pada dial pad, usai tanda hijau ku tekan, ku dekatkan ponsel itu ke telinga.

“...”

“Maaf, aku tak bisa datang ke pernikahanmu, karena ada banyak alasan yang membuatku memilih untuk tidak datang. Kau tau Sungjin-ah,, aku bahagia atas pilihan yang kau buat.. aku berharap yang terbaik untukmu.. aku bahagia melihat kau bisa menentukan pilihanmu pada seorang wanita yang kau cinta.. aku harap, ini yang terakhir ya.. hahaha”

“..”

“Kau harus bahagia dengan pilihanmu itu.. jangan sampai bosan dengannya karena aku yakin dia tidak semembosankan aku.. jangan sakiti dia, karena aku yakin jika dia adalah wanita yang sangat baik, tentunya lebih baik dariku.. perlakukan dia dengan baik, pantas dan lembut, karena aku yakin bahwa dia berhak mendapatkan hal itu darimu..”

‘Lebih pantas dariku’ imbuhku dalam hati.

“Karena kau sudah bahagia, mungkin ini saatnya untuk diriku merasakan arti kata bahagia. Kau tahu, sampai sekarang aku tak paham betul dengan arti kata itu.. sekarang, aku ingin lebih memahaminya, dan aku tidak mau memahaminya bersamamu. Aku ingin kita berjalan sendiri terlebih dahulu. Mencoba untuk melupa sesaat hingga saat yang lebih baik nantinya.. terdengar egois memang, tapi, ini adalah pertahanan terakhir dari diriku.. ku harap kau mengerti itu. terima kasih atas segalanya. Semoga kau bahagia atas pernikahanmu. Aku pergi dulu, sampai bertemu di lain waktu..”

 

TUT... TTUUTT.... TTTUUUTT...

 

Penulis : [bungsu]

Ketika Pendidikan Tidak Lagi Bermakna

      Baru baru ini terbit sebuah surat pemberitahuan dari Rektor Universitas Jember yang mengundang tanda tanya. Surat ini diterbitkan guna mengatasi wabah covid 19 yang semakin hari semakin ganas di Indonesia. Sekilas surat ini terlihat sebagai upaya yang sangat baik dari Universitas Jember untuk mencegah penyebaran covid 19. Namun jika diteliti lagi, ada beberapa keputusan rektor yang terlihat ganjil. Tepatnya keputusan dalam halaman kedua surat tersebut poin yang ke 6 poin 9, yang mengatakan bahwa:

  1. Penilaian diberikan pada mahasiswa yang hadir/mengikuti kuliah daring dengan rentang nilai BC-B.
  2. Penilaian diberikan pada mahasiswa yang hadir/mengikuti kuliah daring dan mengumpulkan tugas pengganti UTS dan UAS dengan rentang nilai B-AB.
  3. Penilaian diberikan pada mahasiswa yang hadir/mengikuti kuliah daring dan mengumpulkan tugas pengganti UTS dan UAS serta mengumpulkan tugas mandiri,quiz, dan lainnya dengan rentang nilai AB-A.
  4. Penilaian diberikan pada mahasiswa yang hadir/mengikuti kuliah daring secara penuh, mengumpulkan tugas pengganti UTS dan UAS serta mengumpulkan tugas mandiri, quiz, dan lainnya dengan nilai A.

Keganjilan yang saya maksud adalah di dalam keputusan itu tidak dijelaskan bahwa tugas tersebut harus dikerjakan dengan isi yang seperti apa dan bagaimana. Hal ini dapat menimbulkan asumsi bahwa mengumpulkan tugas bagaimana pun isi tugas itu, entah benar atau salah atau dibuat asal asalan, yang penting mengumpulkan semua tugas yang diberikan dosen dan mengikuti kuliah online secara penuh, maka otomatis akan mendapat nilai A.. Tentunya tidak adil jika dibandingkan antara mahasiswa yang benar benar bekerja keras dalam mengerjakan tugas tersebut dengan mahasiswa yang mengerjakan tugas itu secara asal asalan yang penting mengumpulkan tugas tersebut.

Dunia pendidikan Indonesia tercederai sebab hal ini bertentangan dengan peraturan kementrian pendidikan dan kebudayaan RI nomor 3 tahun 2020 tentang standar nasional pendidikan tinggi bab II bagian II pasal 6 ayat 2 yang berbunyi pengetahuan merupakan penguasaan konsep, teori, metode atau falsafah tentang ilmu tertentu secara sistematis yang diperoleh melalui penalaran dalam proses belajar pengalaman kerja mahasiswa penelitian dan pengabdian masyarakakat yang terikat. Pasal 6 ayat 3 yang mengatakan bahwa keterampilan merupakan kemampuan melakukan unjuk kerja dengan menggunakan konsep teori metode atau falsafah tentang ilmu tertentu. Serta keterampilan itu meliputi keterampilan umum yang harus dimiliki sebagai tanda kesetaraan dengan lulusan lain serta keterampilan khusus yang harus dimiliki setiap mahasiswa bidang ilmu tertentu. Bagaimana tingkat pengetahuan seseorang dapat diukur? Serta bagaimana cara dosen dapat mengetahui seseorang memiliki keterampilan umum yang sama dengan lulusan lain? Lebih-lebih mengukur lulusan bidang ilmu tertentu jika kebijakan sistem penilaian perkuliahan yang diberlakukan rektorat seperti ini? Yang penting memgumpulkan semua tugas yang diberikan dosen dan mengikuti kuliah daring secara penuh, maka otomatis mendapat nilai A tanpa memandang isi tugas tersebut.. Bukankah tugas, atau uas diberikan untuk menguji seberapa tinggi dan dalam pemahaman mahasiswa mengenai materi yang diajarkan? Semakin baik tugas dikerjakan atau semakin mendalam jawaban yang diberikan atas soal ujian maka nilai akhir yang didapatkan mahasiswa semakin tinggi. Semua didapatkan dari usaha dan kerja keras tidak dengan asal asalan.

Terkait dengan UUD 1945 pasal 31 ayat 3 dinyatakan bahwa pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan suatu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur dengan undang undang. Dengan sistem penilaian seperti ini, tidak lah mencerdaskan kehidupan bangsa. Mengapa demikian, sebab isi tugas tugas yang dikumpulkan tidak diperhatikan jika mahasiswa mengumpulkan tugas yang isinya adalah hasil plagiasi dari karya orang lain atau mengumpulkan secara asal asalan maka tentunya mahasiswa yang bersangkutan tidak mendapat pengetahuan baru apapun dari tugas tugas yang diberikan pada mata kuliah tersebut. Hal ini tentu tidak dapat dikatakan sebagai upaya mencerdaskan kehidupan bangsa.

 

Penulis : Surya Teguh Wijaya