Pengumuman

Pandemi Persulit BEM Lakukan Regenerasi

Pelaksanaan kegiatan perkuliahan secara daring melalui MMP, serta larangan mahasiswa untuk beraktivitas di area kampus Universitas Jember sebagai upaya pencegahan dan pengendalian Covid-19, menghambat re-organisasi Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (BEM FISIP). Presiden BEM FISIP terpilih, Ghandy Herwanto mengungkapkan, BEM FISIP terpaksa harus mengadakan Open Recruitment (Oprec) kepengurusan melalui media online karena kondisi saat ini yang menghambat calon pendaftar untuk mengumpulkan berkas-berkas pendaftaran secara langsung. Sampai saat ini, jumlah pendaftar pada hari pertama belum menunjukkan angka antusiasme yang signifikan.

“Ada dampak yang kami tidak bisa menolak seperti sekarang tanggal 6 April yang hari pertama pendaftaran,  jumlah pendaftar belum menyentuh angka sepuluh pendaftar” ungkap Ghandy.

Ghandy menjelaskan awalnya antusiasme dari warga FISIP untuk Oprec kepengurusan ini cukup bagus, dilihat dari pertanyaan yang masuk kepada BEM FISIP terkait pendaftaran dan persyaratan. “Itu yang sepuluh yang sudah beres, cuman buat yang tanya soal file pdf untuk persyaratan itu udah lumayan banyak, cuman yang final untuk mendaftar itu belum sampai sepuluh” jelas Ghandy

Untuk sistem penyeleksian dari pendaftar nantinya masih akan dibicarakan dengan Wakil Presiden BEM terpilih, Kasfianti Zulhaenah, dengan mempertimbangkan jumlah pendaftar nantinya dimana wawancara untuk OPREC ini akan diadakan via online. “Kalau misalkan dirasa yang mendaftar banyak, maka akan kami bagi dua. Jadi wakil saya juga punya hak buat mewawancarai begitu juga saya” jelas Ghandy.

Akan tetapi Ghandy juga menekankan bahwa dalam wawancara tersebut terdapat rules seperti pemberian bobot nilai jawaban yang akan dijadikan pedoman oleh Presiden BEM maupun wakilnya dalam memberikan penilaian serta keputusan nantinya.

(NABILA DEV)

Rekapitulasi Suara HMJ Pemira FISIP 2020

Telah berlangsung proses penghitungan suara oleh Komisi Pemilihan Umum Mahasiswa (KPUM) di pelataran Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) pada Kamis malam hingga Jumat pagi (13/03/2020). Ketua KPUM, Rachmat Hidayat menyebutkan daftar nama nama ketua terpilih dari masing masing Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ). 
"Untuk dari setiap HMJ yang pertama HIMAHI atas nama Muhammad Dzaki Taufikur Hakim, untuk yang HIMAISTRA Debby Andrean Ady Mahardika, untuk yang HIMAKES Ali Ausath, dan yang terakhir HIMASOS yaitu Bayu Aji Sastra Jendra" jelasnya

Berikut hasil rekapitulasi pemungutan suara dari masing masing HMJ:
1.    HIMAHI (Himpunan Mahasiswa Hubungan Internasional) 
Jumlah Daftar Pemilih Tetap (DPT): 421 mahasiswa
Calon nomor urut 1, M. DZAKY TAUFIQUL HAKIM: 101 suara
Calon nomor urut 2, ARIF SETIAWAN: 52 suara
Jumlah Pemungut:  162 suara
Suara tidak sah: 9 suara

2.    HIMAISTRA (Himpunan Mahasiswa Administrasi)
Jumlah Daftar Pemilih Tetap (DPT): 906 mahasiswa
Calon nomor urut 1, ALFAREZA FIRDAUS: 233 suara
Calon nomor urut 2, DEBBY  ANDEAN ADY MAHARDIKA: 262 suara
Jumlah Pemungut: 507 suara
Suara tidak sah: 12 suara

3.    HIMAKES (Himpunan Mahasiswa Kesejahteraan Sosial)
Jumlah Daftar Pemilih Tetap (DPT): 436 mahasiswa
Calon nomor urut 1, AGUSTINA ANNISATUL KHOFIFAH: 139 suara
Calon nomor urut 2, ALI AUSATH: 154 suara
Jumlah Pemungut: 304 suara
Suara tidak sah: 11 suara

4.    HIMASOS (Himpunan Mahasiswa Sosiologi) 
Jumlah Daftar Pemilih Tetap (DPT): 376 mahasiswa
Calon nomor urut 1, TERRY SISWANTO: 115 suara
Calon nomor urut 2, BAYU AJI JENDRA: 123 suara
Jumlah Pemungut: 246 suara
Suara tidak sah: 8 suara

Sementara itu, diketahui HIMADITA (Himpunan Mahasiswa D Tiga) hanya memiliki satu calon tunggal, Andresa Putri Purwanto dalam kontestasi PEMIRA tahun ini. Andresa Putri secara aklamasi terpilih menjadi ketua HIMADITA tanpa melewati proses pemungutan suara. [pry]

Antusiasme meningkat, TSW Ramai Pencoblos

Kamis, 12 Maret 2020, telah berlangsung agenda Pemilu Raya (Pemira) yang di laksanakan di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP). Ketua KPUM, Rachmat Hidayat, mengatakan fenomena ini berbeda dengan tahun sebelumnya. Antusiasme warga FISIP untuk PEMIRA tahun ini begitu besar. Hal ini terlihat dari banyaknya mahasiswa yang memadati area Taman Super Wifi (TSW) dan pelataran FISIP untuk mengikuti agenda pencoblosan. 
"perbedaan dari Pemira tahun lalu saya rasa untuk pemira tahun ini antusiasnya sangat banyak." ujarnya

Rachmat menambahkan, KPUM tidak menyediakan waktu ishoma lantaran banyaknya mahasiswa yang terus berdatangan. Bahkan, sampai batas waktu pencoblosan, masih banyak mahasiswa yang ingin berpatisipasi
"terbukti dari KPUM sendiri tidak mengadakan Ishoma karena kita melihat antusias dari warganya juga banyak, juga kita lihat kali ini sampai pukul 4 pun masih banyak yang mencoblos juga"

Kemeriahan Pemira tahun ini juga dirasakan oleh para mahasiswa, salah satunya Tifa, Jurusan Administrasi Bisnis 18, ia menjelaskan bagaimana dirinya harus lama menunggu antrian pencoblosan.
"antrinya lama banget, kan banyak ktm ktm yang tertumpuk, jadi aku tinggal, balik lagi belum dipanggil panggil" 

Sementara itu, malam hari usai pencoblosan, akan dilaksanakan proses pengitungan suara. Rachmat mengatakan, pihaknya sudah mempersiapkan dengan matang hal hal yang dibutuhkan untuk proses penghitungan.
"InsyaAllah untuk perkap penghitungan suara sudah, terkait kertas untuk menghitung, jadi sebelum penghitungan kita melakukan.. Mencocokan data terlebih dahulu" [aas, rkn]

Sepakat PEMIRA diundur Kamis Depan

Hasil pertemuan empat pihak sepakati Pemilihan Umum Raya (PEMIRA) di undur tanggal 12 Maret. Demikian disampaikan ketua Badan Perwakilan Mahasiswa, Muhammad Lutfi. Ia mengaku Senin Kemarin, bersama Komisi Pemilihan Umum Mahasiswa (KPUM), Badan Perwakilan Mahasiswa (BPM), dan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) menyepakati PEMIRA dilaksanakan kamis depan.

"Kita menghasilkan solusi untuk mengadakan PEMIRA pada tanggal 12. Sebelumnya kami melakukan pertemuan dengan pihak Dekanat. Jadi disitu dihadiri oleh ketua BPM, ketua KPUM dan juga dari Wakil BEM. Musyawarah itu dipimpin oleh Wadek 3 bu Annas dan dihadiri oleh KTU, Kemahasiswaan, dan juga Kasubag" Ungkap Lutfi.

Pertemuan tersebut, lanjut Lutfi, diarahkan untuk tidak saling menyalahkan dan lebih berkoordinasi untuk mengutamakan pelaksanaan PEMIRA.

"Terkait dengan koordinasi antar pihak yang memang berangkutan terkait dengan PEMIRA diminta untuk saling bersinergi, bukan saling menyalahkan" Tambah Lutfi.

Sementara Ketua KPUM Rahmad Hidayat mengatakan, pertemuan keempat pihak ini sepakat ingin mencari solusi terkait PEMIRA dan tidak saling menyalahkan terkait dengan permasalahan yang terjadi baru baru ini. 

"Kita mencari solusi dan jalan tengah tidak ingin saling menyalahkan. Karena yang kita butuhkan disini solusi. Maka dari itu keempat pihak tersebut, dekanat, KPUM, BEM dan BPM mencari jalan tengah melaksanakan PEMIRA tanggal 12" Ujar Rahmad.

Rahmad menambahkan, ada beberapa pertimbangan yang menyebabkan PEMIRA diundur pada kamis depan, seperti Laporan Pertanggungjawaban BEM yang belum terlaksana hingga hari ini, hingga permasalahan pendanaan PEMIRA yang belum sepenuhnya cair.

"Pertimbangannya LPJ BEM yang belum selesai, persiapan dari KPUM dan yang terakhir pendanaan yang belum sepenuhnya cair" Tambahnya.[raja]

Bayu : Saya Sempat Sakit, Setelah Dibilang Sesat

Tersebarnya isu sesat yang ditujukan kepada pasangan calon ketua HIMASOS, Bayu diakui sempat membuat dirinya drop dan jatuh sakit. Bayu merasa sangat sedih begitu mendengar bahwa ia dituduh memiliki aliran sesat oleh salah satu mahasiswa. Apalagi, orang yang menyebarkan isu tersebut sebelumnya memiliki hubungan yang baik dengannya

“ya setelah mendengar isu itu, selain sedih saya juga sempat drop ya, pikiran pusing, kok bisa sampe sampenya kaya gitu, lagian kita ini berteman disini, ga ada.. awalnya ga ada saling bermusuhan atau apapun, kita sering ngopi bareng, kaya gitu”

Bayu menceritakan pada awalnya, begitu mendengar isu yang beredar, dirinya sempat merasa bingung dan heran. Dirinya bertanya tanya mengapa isu tersebut bisa ditujukan padanya dan viral di media sosial. Dirinya pun bingung sebab tidak merasa pernah mengajarkan teman-temannya ajaran-ajaran sesat.

“Ya saya saat mendengar ada yang menyebarkan kalo saya katanya membawa atau mengangkat ajaran ajaran sesat itu ya gatau, bagaimana ko bisa sampe menyerang.. maksudnya sampe membawa bawa hal hal yang sangat. bisa dikatakan kurang logis ya, karena saya sendiri, menurut saya ya gak ada gerakan gerakan yang seperti itu, seperti yang disampaikan oleh orang orang itu”

Meski demikian, Bayu tidak ingin membawa masalah ini lebih jauh lagi. Ia hanya berharap agar teman teman dapat bijak menanggapi sebuah isu dan mampu menilai sendiri seperti apa ia yang sebenarnya. Ia juga mendoakan, orang orang yang mengatakan dan menyebarkan isu tersebut diampuni dosanya dan masuk surga.

“ya kalo saya sendiri ga perlu panjang lebar menyelesaikan masalah kaya gini ya, biar temen temen sendiri yang mengilhami sebenernya saya itu seperti apa, saya banyak.. sudah sering bertemu teman teman, dan teman teman juga tau saya seperti apa, jadi saya ga mau bawa permasalahan ini lebih jauh, intinya orang orang yang menyebut saya sesat di ampuni dosa dosanya oleh yang maha kuasa, dan semoga khusnul khotimah dan masuk surga” [rkn]

Viral! Maba Sebarkan Isu Sesat Saat PEMIRA

Isu beredarnya pesan suara yang tersebar di media sosial Whatsapp mengundang pembicaraan beberapa kalangan mahasiswa khususnya jurusan Sosiologi. Pasalnya dari pesan suara sekitar 1 menit tersebut, diketahui jelas menyebut nama calon ketua Himpunan Mahasiswa Sosiologi (HIMASOS), Bayu dan Calon Wakil Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Ardy. Kedua calon tersebut dikaitkan dengan salah satu Organisasi Mahasiswa Ekstra (ORMEK) kampus.

Diketahui pesan suara tersebut adalah R, dirinya merupakan mahasiswa baru atau angkatan 2019 Jurusan Sosiologi.

Saat dihubungi melalui telfon seluler, R membenarkan bahwa pesan suara tersebut benar adanya. Namun dirinya mengatakan tidak memiliki motif lain atau mempengaruhi.

"Saya tidak ada motif mempengaruhi atau gimana, jadi kan saya biasa seperti ke teman sendiri cerita-cerita" Ungkap R setelah kami hubungi via telfon. 

R mengaku, perkataan yang dibuatnya berasal dari pengaruh orang lain yang memberi tahu tentang ORMEK tersebut.

"Saya beranggapan kalau misalnya kaya gitu dari awal masuk SNMPTN dikasih tau hati-hati dek jangan ikut PMII. Jadi pemahaman saya seperti itu tanpa saya lihat atau tanya langsung" tambahnya.

Sementara mahasiswa lain yang tidak ingin disebutkan namanya juga mengkonfirmasi bahwa pesan suara yang viral tersebut benar suara temannya, R. 

"Awalnya kan chat biasa atau basa basi, kamu ini coblos nomor satu jangan yang lain" Ungkap mahasiswa tersebut.

Ia menambahkan, dalam pesan suara kurang lebih satu menit tersebut, R menjelaskan semuanya termasuk dengan ujaran tidak mengenakan pada ORMEK tersebut.

"Dia ngirim VN, dia jelasin semuanya. VN satu menit ada" tambah seorang mahasiswa tersebut. [raja]

Ketua Banwaslu Diduga Tidak Netral

Seorang mahasiswa Hubungan Internasional (HI) menduga Ketua Badan Pengawas Pemilu (Banwaslu) FISIP tidak netral. Hal ini terkait dengan beredarnya screenshot chat dari Ketua Banwaslu yang dikirim melalui grup chat angkatan, HI 18, Jum’at lalu saat Debat BEM berlangsung. Isi dari chat tersebut dinilai menyudutkan pasangan calon nomor urut 2 dengan mengungkit kesalahan yang pernah dilakukan oleh paslon tersebut.

“jadi kemaren waktu debat pasangan calon ketua BEM, si Putri Ketua Banwaslu ini mengirim chat ke grup angkatan yang mana bertendensi menyudutkan salah satu anggota pasangan calon BEM, dimana si Putri ini mengungkit ungkit kesalahan kesalahan yang pernah dibuat oleh salah satu anggota pasangan calon BEM tersebut” ungkap mahaisiswa HI yang tidak ingin disebut namanya.

Mahasiswa tersebut merasa kecewa akan tindakan yang dilakukan oleh Ketua Banwaslu. Dia juga menilai, sikap tersebut sangatlah tidak profesional mengingat dirinya menjabat sebagai Ketua Banwaslu.

 “untuk itu saya sangat menyayangkan sikap dari Ketua Banwaslu ini sama sekali memperlihatkan ketidak profesionalannya dia”

Sementara itu, Ketua Banwaslu FISIP, Putri Ria, saat ditanyai perihal screenshot chat yang beredar, ia membenarkan jika memang dirinya yang mengatakan hal tersebut pada grup chat angkatan HI 18.

“kalo itu iya, saya sendiri”

Namun ia membantah jika dirinya dituduh tidak netral. Ia menjelaskan, alasan ia mengirim chat tersebut hanya untuk menggaet teman teman mahasiswa HI agar datang ke acara debat BEM.

“iya, tujuan saya sebenernya untuk menggaet supaya teman teman saya pada dateng di acara debat BEM itu, karena kebetulan sekali untuk jadwal di Hubungan Internasional angkatan 2018 itu pada hari Jumat itu memang tidak ada jadwal, jadi kebanyakan libur, jadi untuk aktivitas di kampus itu kebanyakan dari mereka malas”

Putri menegaskan, kita sebagai mahasiswa juga perlu mengetahui moral dan mental dari masing masing pasangan calon. Ia hanya merasa kecewa akan tindakan paslon nomor urut 2 dimasa lalu saat menjabat sebagai kahim Himakes.

“mohon maaf sebelumnya, dari BEM nomor urut 2 ini kan dari kahim Himakes, nah sehingga dari sini saya berusaha untuk mencari.. istilahnya pemimpin yang terbaik, disini saya ingin tau sebenarnya seperti apa, kaya gitu, karna disini seperti merasa tidak sadar diri bahwa dari nomor urut dua ini, BEM nomor urut dua ini, pernah merebut ruangan kita, sewaktu osjur” [rkn]

KPUM dikhawatirkan Langgar Undang Undang PEMIRA

Pengunduran Pemilihan Umum Raya (PEMIRA) yang dilakukan Komisi Pemilihan Umum Mahasiswa (KPUM) mengundang reaksi keras dari sejumlah pihak. Ketua Badan Perwakilan Mahasiswa (BPM) Muhammad Lutfi menyayangkan pihak KPUM mengundurkan PEMIRA tanpa adanya konfirmasi sebelumnya, sebab hal itu dikhawatirkan melanggar UU terkait PEMIRA. Namun Lutfi mengaku tidak ingin terjebak isu yang beredar, sebab persoalan tersebut masih bisa dikomunikasikan.

"Sangat kami sayangkan tidak adanya pemberitahuan terhadap BPM. Padahal disana jelas di undang - undang PEMIRA tahun 2018 pasal 65 ayat 2, ketika KPUM ingin mengundurkan tanggal PEMIRA itu harus ada rekomendasi dari BANWAS dan persetujuan dari BPM, tapi saya gak mau terjebak isu, saya coba komunikasi baik baik dengan ketua KPUM" Ungkapnya setelah ditemui jurnalis PRIMA.

Menurut Lutfi pengunduran pelaksanaan PEMIRA memang harus ada rekomendasi dari Banwaslu dan persetujuan dari BPM. Oleh karena itu dirinya hingga saat ini masih berupaya berkomunikasi dengan Ketua KPUM dan meminta klarifikasi.

"Kami mengklaim pengunduran PEMIRA tidak ada legalitas. Karena kami belum menerima surat rekomendasi dari Banwaslu, ini saya masih nyoba hubungin Ketua KPUM" lanjut Lutfi.

Hingga saat ini, tambah Lutfi, Ketua KPUM masih belum bisa dihubungi, sehingga dirinya masih belum bisa komentar lebih jauh. Nantinya jika sudah bisa dihubungi BPM akan mengajak KPUM dan Banwaslu untuk rapat bersama menyelesaikan persoalan tersebut.

"Saya sudah mencoba untuk menghubungi KPUM namun masih belum ada hasil. Sampai sekarang saya menghubungi ketua KPUM dan masih belum ada balasan, juga anggota KPUM lainnya, mereka juga tidak ada respon. Ya nanti kalo sudah bisa dihubungi kami ajak rapat bareng Banwaslu". 

Hingga berita ini ditayangkan, jurnalis PRIMA masih belum bisa menghubungi Ketua KPUM, Rahmad Hidayat, melalui telfon.

Diketahui sebelumnya kesepakatan pelaksanaan PEMIRA disepakati pada tanggal 9 Maret 2020. Namun KPUM memutuskan ditunda akibat diundurnya Kongres IKMF. [raja]

Kongres Kembali Ditunda, Pemira Terpaksa Mundur

Komisi Pemilihan Umum Mahasiswa (KPUM) terpaksa memundurkan agenda pemilu raya lantaran kongres Ikatan Keluarga Mahasiswa FISIP (IKMF) yang kembali ditunda selasa depan. Ketua KPUM, Rachmat Hidayat menjelaskan, hal ini terpaksa diputuskan oleh pihak KPUM sebab agenda kongres yang dijadwalkan setelah proses pemungutan suara. Menurut Rachmat, hal ini dinilai dapat menimbulkan dualisme di dalam kepemimpinan BEM.

“kita melihat dari kongres, kongres dilaksanakan Selasa, sedangkan kita pemira hari Senin, disitu ketika kita melaksanakan pemira hari Senin, otomatis kita menentukan ketua baru, nah disitu BEM yang lama belum demisioner, sedangkan kita membentuk ketua baru, itu menyebabkan dualisme kepemimpinan” jelas Rachmat.

Rachmat mengaku tidak ingin tejadi persoalan dikemudian hari, jika pemira tetap harus dilaksanakan Senin besok. Untungnya anggota KPUM yang hadir memahami kondisi tersebut dan sepakat untuk menunda pemira setelah mendapatkan kejelasan terkait kongres.

“ya kita si tidak mau terjadi permasalahan dikemudian hari, alhamdulillah temen temen KPUM memaklumi persoalan yang sedang terjadi, dan sepakat untuk pemira diundur”

Rachmat menambakan, selain persoalan kongres, KPUM juga memiliki kendala mengenai dana fakultas yang belum juga cair hingga saat ini. Pihak KPUM sudah mengeluarkan banyak dana untuk menutupi kekurangan demi jalannya agenda KPUM, bahkan banyak diantaranya menggunakan dana pribadi anggota KPUM.

“konsekuensi ketika kita melaksanakan pemira pada tanggal 9, kita akan kekurangan dana, kita tidak akan bisa melaksanakan pemira, karena dari KPUM sendiri dananya sudah habis untuk kegiatan kegiatan sebelumnya, bahkan dari KPUM sendiri banyak uang pribadi sudah keluar untuk menutupi kekurangan kekurangan” [rkn]

BEM Dinilai Tak Berikan Solusi Terkait Kongres

BPM menilai BEM tak berikan solusi tekait kongres yang sampai saat ini telah ditunda sebanyak tiga kali. Anggota BPM, Moh. Irsyad, sekaligus presidium sidang, mengatakan penundaan ini terjadi lantaran tatib sidang yang terus saja dipermasalahkan oleh BEM. Irsyad menyayangkan tindakan BEM yang terus saja menunda kongres hingga 3 kali namun tanpa memberikan solusi konkret akan permasalahan tersebut.

“BEM selaku badan eksekutif mempermasalahkan hal tersebut, dimana tatib yang digunakan saat ini tidak bisa dijadikan acuan untuk melanjutkan kongres, akan tetapi dari tindakan BEM disini dimana kongres sudah dipending selama 3 kali, akan tetapi tidak memberikan solusi yang tepat agar kongres ini bisa berjalan dengan lancar, saya selaku pimpinan sidang juga sedikit agak kecewa terhadap tindakan BEM yang hanya bisa memolor molorkan kongres, akan tetapi tidak bisa memberikan solusi yang tepat yang bisa kita konsumsi bersama di forum, selaku forum ormawa, dimana biasanya BEM jika memang tidak disepakati, disitu harus muncul sebuah solusi yang kita bisa gunakan bersama, bukan hanya mengkritik ataupun menolak akan digunakannya tatib tersebut”

Menurut Irsyad, alasan dari penundaan kongres hanyalah dalih dari BEM sendiri untuk memperlama jalannya kongres. Hal ini terlihat bagaimana pada saat kongres terakhir kali, BEM bersikeras mengatakan bahwa tatib itu ada, dengan alasan tersebut, BEM mengatakan bahwa kongres ini tidak bisa dilanjutkan jika tidak menggunakan tatib yang asli. Bahkan Irsyad mempertanyakan pihak BEM yang bilang mengetahui adanya tatib tersebut, namun BEM bekomunikasi kepada demisioner BPM, sehingga tatib asli bisa segera ditemukan.

“sebenernya dari pihak kami dan beberapa dari perwakilan ormawa, kalau emang tatib tersebut kemarin tidak ada, kebanyakan dari ormawa juga menyetujui untuk membuat tatib baru, dengan berlandaskan beberapa referensi sebelumnya, seperti halnya hasil klb, kan tetapi dari pihak BEM sendiri tetep ngotot tidak ingin melanjutkan kongres apabila tidak menggunakan tatib asli atau emang ada keterangan pasti bahwasanya tatib yang asli ini bener bener hlang, akan tetapi muncul beberapa kekecewaan dari khususnya saya sendiri selaku pimpinan sidang dan beberapa anggota forum perwakilan dari tiap tiap ormawa di kongres pada hari Jumat malam, dimana dalih dari BEM tersebut tidak jauh berbeda dengan sebelum sebelumnya, yaitu tetep memperjuangkan tatib yang asli, dan semalam pernyataan seperti itu muncul kembali di pihak BEM, selaku Badan Eksekutif, yang lagi lagi mengatakan bahwasanya jika kongres tetap dilanjutkan disini kita menciderai konstitusi dan pihak BEM selaku pimpinan tertinggi bahasanya katanya ingin menjaga konstitusi tersbeut agar tidak diciderai oleh mahasiswa”

Irsyad menambahkan, kemunduran kongres ini sudah berdampak pada agenda pemira itu sendiri, mengingat kongres ditunda hingga selasa depan, sementara sesuai jadwal pemira senin besok sudah masuk tahap pemilihan calon ketua HMJ dan paslon BEM.

Sementara itu, Ketua BEM, Wildan Rofi membantah jika dirinya dituduh menunda nunda jalannya kongres, sebab menurutnya apa yang dilakukannya itu sudah sesuai dengan konstitusi yang ada. Wildan menjelaskan bahwa seharusnya yang lebih paham untuk menjaga konstitusi dan undang undang adalah dari pihak BPM itu sendiri sebagai lembaga legislatif.

“ketika BEM dibilang hanya mengkritik mengkritik saja, bagi saya tidak seperti itu, karena saya pribadi disini selaku pimpinan tertinggi lembaga eksekutif, itu ya harus memegang teguh konstitusi dan undang undang, sebenernya yang lebih sadar tentang itu adalah BPM sendiri, kalau memang ada konferensi seperti itu ya saya mau bilang sebenernya yang lebih paham untuk menjaga konstitusi dan undang undang itu adalah temen temen dari BPM sendiri, yaitu selaku pihak legislatif, nah sebenernya kenapa pending pending pending, ya kamipun sebenernya BEM pengen cepet cepet selesai gitu, toh LPJan kamipun sudah siap semua, andai kata tata tertibnya itu ada, ya ga perlu pending kan, yang saya lakukan itu untuk memegang teguh dan memegang betul betul konstitusi yang ada, jangan sampai kita mengabaikan kewajiban kita untuk menjaga undang undang, menjaga kontitusi"

Wildan menambahkan, permasalahan sebenarnya ada pada BPM itu sendiri. Jika saja BPM dapat menyiapkan tatib yang asli, maka kongres ini tidak akan berkali kali mengalami penundaan. Selain itu Wildan mengaku pihak BEM sudah siap sejak awal untuk mengikuti kongres, hal itu dibuktikan dengan LPJ BEM yang sudah disiapkan sejak awal.

“menurut kami permasalahannya bukan ada di BEM, tapi permasalahannya ada di BPM yang tidak siap dengan adanya tatib lama, jadi intinya disana, ketika tatib itu ada ya kongres bisa dilanjutkan gitu, yang kami pegang teguh yang kami pegang betul betul, ya siapa lagi yang menjaga undang undang negara FISIP, siapa lagi yang menjaga konstitusi negara FISIP kalau bukan legislatif dan eksekutif" [rkn]

Paslon Dua : Kolaborasi dan Partisipasi Seluruh Elemen

Konsep kolaboratif antar elemen intra mahasiswa di lingkungan FISIP menajdi penting untuk diterapkan dalam kinerja BEM FISIP kedepan. Hal itu terungkap saat pemaparan program unggulan pasangan nomor urut dua Nur Faizal dan Ardy Choisal dalam forum debat kandidat jumat pagi. Menurut mereka, perlu adanya konsep kolaboratif governance diterapkan dalam kinerja Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM).

“Kita masih belum melihat bahwa BEM idealnya harus memframing program itu untuk digerakan secara kolaboratif governance, karena yang terjadi pada tahun kemaren program itu hanya dijalankan oleh bem, disini tidak menggerakan kesatuan IKM” Ungkap calon ketua BEM nomor urut dua, Nur Faizal.

Selain itu, lanjut Faizal, persoalan rendahnya kepekaan sosial mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) perlu dibenahi dengan mengadakan kajian maupun diskusi, sehingga bisa menjadi kontrol terhadap kebijakan yang ada di kampus. 

“Muara program kerja kami sebagai jawaban atas rendahnya kepekaan sosial mahasiswa fisip, kemarin ada wacana dan isu nasional yang seharusnya itu sebagai lahan dan ladang mahasiswa berperan, Cuma gerakan kita kurang kolektif kemudian seharusnya itu di inisiasi dari BEM. Terkait dengan millennial critical center seharusnya menjadi center mahasiswa fisip terkait mengkaji dan mendiskusikan terkait entah itu persoalan kampus maupun persoalan-persoalan nasional sehingga peran kita sebagai mahasiswa, kontrol terhadap kebijakan kampus itu ada”

Sementara calon wakil ketua BEM nomor urut dua, Ardy menambahkan langkah kinerja BEM selanjutnya akan menekankan kolaborasi dan partisipasi mahasiswa dalam setiap agenda kampus. Ardy berharap partisipasi mahasiswa bisa lebih aktif untuk ikut menyukseskan kinerja BEM.

“Langkah kongkrit dari visi yang kita tentukan itu bersifat inklusif partisipatoris nantinya outputnya menghasilkan sejahtera berbudaya, dalam hal ini juga mengusung mengenai kerja sama dan gotong royong. Inklusif partisipatoris dimaksudkan adanya keterbukaan dari setiap warga fisip untuk mendapatkan aspirasi adanya partisipasi yang aktif dari mahasiswa” Ardy. [raja]