Pengumuman

Rumpang

Dia manusia yang membuatku merasa nyaman. Penyelamatku, cintaku, dan satu-satunya manusia tempatku bersandar. Ia hebat, pun kuat. Dia lelaki yang menyeretku dari gelapnya dunia. Dunia yang kala itu ku pandang sebagai neraka. Dunia dimana mereka menelantarkan anak gadisnya. Tempat yang membuatku trauma akan tatapan mereka. Dan ia datang, menatapku seraya tersenyum. Senyum yang tak pernah kulihat dari manusia manapun. Senyum murni yang menenangkan. Tangannya terulur menunggu untuk diraih. Dialah Sagara, laki-laki sebatang kara yang memiliki hati seluas lautan seperti namanya.

Kuberanikan diri menatap sorot matanya yang berbinar. Mata itu hitam dan bulat seakan menerawang. Ku ulurkan tanganku menggapainya. Kami duduk berdampingan di tepi jembatan. Ia tak bertanya, pun berbicara. Hanya menatap ke atas langit hitam tak berbintang sembari diiringi suara kendaraan yang ramai. Begitupun denganku, aku tak dapat berbicara sepatah katapun saat bersamanya. Di dalam benakku timbul banyak sekali pertanyaan seperti dia siapa, mengapa ia menemaniku, apakah ia mengenalku, berapa usianya, dari mana asalnya, dan banyak pertanyaan lain yang entah muncul darimana. Satu jam pun berlalu. Ia menoleh. Matanya menyorotiku seakan menembus ke relung jiwa. Kulihat bibirnya terbuka hendak berucap, tetapi berakhir diurungkannya. Sebenarnya apa mau manusia ini? Jika tak ingin berbicara, lalu mengapa ia menemaniku selama ini?

Malam itu hanya berlalu begitu saja tanpa ada percakapan di antara kami. Ia pergi begitu saja setelah menatapku dalam dan tersenyum seakan itu pertanda bahwa kita pasti bertemu lagi. Aku tertimpa perasaan asing yang tak bisa kuartikan sendirian. Perasaan bahwa aku ingin bertemu dengannya lagi dan memulai percakapan. Namun, apakah itu mungkin bagi diriku yang tampak lusuh ini. Senyumnya yang cerah telah menyelamatkanku yang ingin kabur dari bayangan mereka. Tatapannya membuatku memiliki harapan untuk berhenti berpikir bahwa mati adalah akhir dari segalanya. Auranya amat kuat hingga mengisi sedikit tenaga di jiwa dan ragaku. Untukmu, aku harap kita akan bertemu lagi.

Aku terus menelusuri jembatan panjang ini seraya berharap bertemu dengannya. Sejak pagi, tak henti-hentinya kulihat kendaraan yang melintas seolah ia ada disana. Petang pun tiba, ia tak kunjung menampakkan batang hidungnya. Kuputuskan untuk duduk menghadap sungai di bawah jembatan. Sungai yang kupikir akan menjadi akhir dari hidupku. Aliran sungai yang tak berhenti membuatku sadar bahwa waktu pun seperti itu. Waktu tak akan menunggu apalagi berhenti, itu mustahil. Sama sepertiku yang harus terus berjalan meskipun jiwa ingin beristirahat. Terkadang aku berpikir sebenarnya untuk apa aku dilahirkan. Katanya semua yang dilahirkan ke dunia merupakan anugerah dari tuhan. Tuhan mana yang mereka maksudkan? Tuhan mana yang membiarkan hambanya terlantar tak beraturan? Tuhan mana yang membuat seorang anak dibuang orang tuanya? Aku sungguh tak paham. Dunia ini seakan berpaling dariku yang hanya seorang gadis kecil sebatang kara. Tuhan, jika engkau memang ada, maka bawalah dia ke hadapanku. Biarkan ia yang menjadi perantaramu untuk melindungiku dan membawaku kembali ke jalanmu.

Malam telah kembali. Bulan pun menampakkan sinarnya yang lembut. Sapuan angin terasa sejuk membelai permukaan kulit. Kulihat seseorang datang menghampiriku. Wajahnya tersamarkan lampu jalanan yang menutupinya. Tangannya membawa sekantong plastik yang melambai terayun tangannya. Namun, aku tahu dia adalah seseorang yang kunanti. Saat dia mendekat, tanpa sadar ku lebarkan senyum ke arahnya. Tatapan lembut terpancar dari wajah laki-laki itu. Laki-laki yang berhasil menarikku dari kegelapan. Tuhan, kau berhasil meyakinkanku bahwa kau benar ada di dunia ini. Terimakasih telah menghadirkannya kembali di hadapanku.

“Kau menungguku?” ucapnya yang kubalas dengan cengiran.

Ia duduk disampingku seraya mengulurkan bingkisan itu yang kuterima tanpa rasa sungkan. Aku ingin bertanya, tetapi…

“Ini adalah makanan kesukaanku, aku harap kau juga menyukainya.”

“Terima kasih.”

“Maaf kemarin aku tak berbicara apapun karena kupikir kau butuh waktu.”

“Tak apa. Mengapa kau menghampiriku padahal kita tak saling mengenal?”

“Sebenarnya aku mengenalmu. Kau Azura, bukan? Kita tinggal di pemukiman yang sama.”

“Lalu kau siapa? Aku tak pernah melihatmu sebelumnya.”

“Namaku Sagara, rumahku tak jauh dari milikmu. Aku tau bahwa kau jarang bahkan hampir tak pernah keluar rumah.”

Ia bercerita panjang lebar mengenai bagaimana ia mengenalku, kisah yang kupikir tak ada orang lain yang tau, bagaimana ia menahan dirinya untuk tidak menemuiku, dan banyak cerita remeh temeh lain yang membuatnya terus membuka mulut. Namun, tak kusangka aku nyaman mendengarnya. Padahal ini merupakan kali pertama kami bercakap-cakap. Walau ku akui hanya dia yang berbicara sedangkan aku mendengarkan sembari menyantap makanan yang diberikannya. Aku menyantapnya dengan lahap karena tak menerima asupan selama sehari penuh. Tentu saja perutku berteriak kelaparan. Mendengar ceritanya, mengingatkanku kembali pada masa-masa suram itu. Dimana aku tak pernah dipedulikan dan selalu mendapat perlakuan kasar dari Ibu. Ibu yang sewaktu aku kecil sangat menyayangi dan melindungiku tiba-tiba saja berubah membenciku saat aku berusia 5 tahun. Harusnya aku tak perlu mengingatnya, tetapi pikiran berkehendak lain. Aku masih ingat ketika Ibu memaksaku masuk dalam bak mandi berisi air yang dingin. Aku menggigil hingga rona tubuhku pucat tapi ibu tak peduli. Saat itu aku berumur 6 tahun. Saat usiaku 9 tahun, ia membawa seorang lelaki ke rumah dan minum-minum yang berakhir dengan pelampiasan kemarahan Ibu padaku. Tak pernah sehari pun tubuhku bersih dari luka atau lebam. Walau aku sering merasakannya tetapi aku tak pernah terbiasa. Ingin aku kabur dari rumah dan mencari perlindungan baru. Namun, aku sadar bahwa aku hanya punya Ibu. Ibu yang masih kusayangi.

Saat ini aku berusia 12 tahun. Tepat 3 hari lalu Ibu meninggalkanku dan dunia ini. Aku tidak merasa senang karena orang yang memberiku trauma telah tiada. Karena ia lah satu-satunya Ibu yang kupunya. Sepeninggal Ibu, nenek yang tak pernah ku tahu datang ke rumah kami. Ia mengambil semua surat-surat yang ditinggalkan Ibu dan mengusirku dari tempat tinggalku sendiri. Aku berteriak marah padanya. Mengapa ia yang tak pernah berkunjung tiba-tiba mengambil barang yang bukan miliknya? Ibu macam apa tak pernah ingin tau kabar anaknya? Dan nenek mana yang menelantarkan cucunya? Namun, kalimat itu tak pernah tersampaikan. Kata terakhir yang kudengar darinya yaitu “Kau tak pantas menjadi cucuku! Manusia bermata biru itu tak pantas disebut keluarga. Pergilah pada ayahmu sang pecundang!”. Air mata yang luruh seketika membuat semuanya buram dan samar. Kulangkahkan kaki keluar rumah dan menelusuri jalanan malam tanpa membawa uang sepeserpun dengan pakaian seadanya. Di malam itu, ketika pertama kali bertemu dengannya.

“Kau tidak apa? Azura!”

Suaranya membuatku tersadar akan lamunan peristiwa beberapa hari yang lalu. Aku terkesiap ketika merasakan jemarinya menelusuri pipi seraya menghapus air mataku. Ah, ternyata aku menangis. Betapa malunya aku sekarang hingga ingin menjatuhkan diri ke sungai itu. Sagara terdiam memberiku waktu untuk menenangkan diri. Aku sangat menyukai kepekaannya tersebut.

“Kau tidak pulang, Sagara?” Tanyaku padanya.

“Kau juga tidak pulang, aku akan menemanimu, jika kau mau.”

“Mengapa?”

“Aku tak ingin kau sendirian.” 

“Baiklah.”

Hampir setiap hari Sagara menemuiku di jembatan itu dan ia selalu membawakanku sesuatu seperti makanan, pakaian, bahkan sejumlah uang yang sering kali kutolak. Aku hanya merasa bahwa aku tak pantas untuk menerimanya. Sudah setahun lamanya sejak kematian Ibuku, dan ia masih bersikap sama seperti awal kami bertemu. Aku merasa senang sekaligus takut suatu saat ia akan pergi meninggalkanku. Aku sudah memiliki tempat tinggal. Saat itu, Sagara mengenalkanku pada sebuah panti asuhan di dekat kota. Aku menurut saja karena memang membutuhkannya. Beruntung ibu dan pengurus panti disana sangat baik dan tulus merawat anak-anak yang membutuhkan perlindungan. Karena usiaku yang beranjak remaja, maka aku pun ikut membantu mengurus anak-anak kecil yang ada di panti.

Kringg,,,, kringg,, kriingg!!!!!

“Ibu ada telpon!” Teriakku pada penjaga disana.

“Itu mungkin untukmu, angkatlah!”

“Halo, dengan Azura disini.”

“Halo Azura, kau merindukanku?” Nada bicara yang sangat kukenal.

“Kakak! Ada apa?” Aku kegirangan menerima telpon darinya.

“Ayo kita bertemu nanti, ada yang ingin kakak bicarakan denganmu.”

“Siap kak! Sampai jumpa nanti malam.”

Ya. Aku memanggilnya kakak sejak tau bahwa dia lebih tua dariku. Umur kami selisih 6 tahun dan ia sekarang berumur 19 tahun sedangkan aku 13 tahun. Malam ini aku bertemu dengannya di ruang tamu panti kami. Tak biasanya kita berbicara di dalam ruangan seperti ini. Apa pembicaraan ini sangat serius atau kak Sagara hanya tidak ingin kita pergi keluar. Entahlah.

“Hai Azura, bagaimana kabarmu hari ini?”

“Halo Kak, aku senang menantikan pertemuan ini.”

Kita pun berbincang dari hal yang remeh temeh seperti menceritakan kisah hari ini atau kisah berkesan lainnya seperti pertemuan kita biasanya. Hingga ia mulai menatapku lebih dalam dan sorot matanya seakan menembus penglihatanku. Aku tau hal ini sangat serius. Aku pun menyiapkan hati untuk mendengarkan apa yang akan diutarakannya. Dan ia pun berkata…

“Azura, aku akan meninggalkan negara ini dan pergi ke luar negeri untuk sementara waktu.”

Aku terdiam, terpaku sejenak mendengar perkataannya. Apa maksudnya dia akan pergi meninggalkanku?

“Aku tau seharusnya aku tetap menemanimu, tetapi aku harus pergi. Waktuku tidak bersisa banyak.”

“Sebenarnya apa yang sedang terjadi? Apa yang kakak maksud untuk pergi? Apa terjadi sesuatu dengan dirimu?”

“Aku diminta mengunjungi keluargaku di China. Mereka memintaku untuk menemui nenekku yang sedang sekarat. Maaf aku memberitahumu secara mendadak.”

“Ternyata seperti itu. Tak apa pergilah. Kau tetap akan kembali, bukan?”

“Aku harap bisa kembali setidaknya dalam 3 tahun.”

“APA?! 3 TAHUN?!” kunjungan keluarga macam apa hingga selama itu.

“Aku harus mengurus keperluan dan pabrik milik keluargaku disana. Maaf aku tak bisa menceritakannya lebih rinci lagi.” Raut wajahnya terlihat amat khawatir dan penuh penyesalan. Ia mengatakannya dengan air mata yang tertahan di pelupuk matanya.

“Baiklah, aku hanya bisa mendoakanmu dan berharap kau kembali secepat mungkin. Aku tau bahwa aku bahkan tak bisa jadi keluargamu. Namun, aku harap kau menganggap dan mengingatku sebagai orang terdekatmu.”

Ia pergi begitu saja setelah kami berpelukan. Pelukan pertama dan terakhir yang pernah kami lakukan. Ia pergi dengan senyuman yang menyiratkan kegundahan. Aku pun melepasnya dengan senyuman menyakitkan. Tak kusangka akhirnya aku pun melepas kepergiannya di hadapanku sendiri. Walaupun aku tau ia akan kembali, tetapi 3 tahun adalah waktu yang tidak sebentar. Terutama bagi kami yang sering menghabiskan waktu bersama.

Pada awal kepergiannya aku seperti merasakan déjà vu. Berat sekali menjalani hari tanpa kehadirannya. Berbulan-bulan aku menangis merindukannya. Mengharapkan suatu telpon atau pesan darinya. Hingga air mataku kering tak bersisa. Dan perasaan ditinggal oleh manusia tempat kita bernaung terulang kembali. Namun, sekarang berbeda dengan perasaanku saat ditinggal Ibu dulu. Aku masih punya harapan bahwa dia akan kembali suatu hari nanti. Hari-hari saat aku dan Sagara bercerita dan tertawa bersama terus terngiang di kepalaku. Aku ingat ketika dia mengajakku ke taman bermain di pinggir kota, betapa senangnya kami saat itu. Aku bercerita padanya bahwa itu kali pertamaku pergi ke taman bermain yang diresponnya dengan wajah muram karena dia merasa empati saat itu. Dia selalu ada saat aku membutuhkannya. Terutama saat aku teringat dengan perlakuan kasar Ibu. Aku tau penyebab ibu dan nenek berlaku kasar padaku. Ternyata mataku mengingatkan mereka pada seseorang yang menghancurkan hidup Ibuku. Ia menelantarkan kami dan pergi bersama wanita selingkuhannya. Aku tau dari tetangga lamaku yang kutemui beberapa hari lalu. Miris sekali hidupku ini.

Kini, sudah 5 tahun sejak kepergian Sagara. Ya, sudah lebih 2 tahun dari waktu yang dijanjikannya. Aku sudah tak terlalu bergantung lagi padanya. Aku pun sudah remaja yang akan beranjak dewasa. Ternyata benar, waktu akan menyembuhkan kita dari rasa sakit yang pernah dialami. Walaupun rasa itu tak hilang sepenuhnya, tetapi ini sudah cukup. Sagara, laki-laki yang kunanti kedatangannya hingga kini tak kunjung menampakkan dirinya. Setidaknya ia bisa memberiku kabar melalui surat atau telepon, tapi tak pernah ia lakukan. Mungkin dia punya alasan tersendiri yang tak bisa kumengerti. Biarlah. Hidup ini akan tetap berjalan meski tanpa dirinya.

Esok paginya seseorang tak ku kenal menemuiku di depan panti asuhan. Aku masih tetap tinggal disana dan mengurus anak-anak panti yang lainnya. Aku juga mendapat pendidikan khusus selama tinggal di panti ini. Orang itu menghampiriku dengan raut wajah yang tak bisa kugambarkan.

“Sudah lama aku mencarimu, Azura.”

“Maaf, anda siapa?” Tanyaku pada seorang pria yang usianya sekitar 30 tahunan.

“Aku adalah dokter yang menangani Sagara. Dia menyuruhku menyampaikan pesan ini langsung padamu.”

“Apa yang terjadi padanya? Mengapa ia tidak datang sendiri menemuiku?”

“Dia telah tiada sejak 2,5 tahun yang lalu saat menjalani pengobatan di Rumah Sakit Umum di China. Dia berkata bahwa ia sebatang kara sehingga tidak ada keluarga yang dapat kami hubungi. Namun, ia memberiku tulisan ini sebagai peninggalan terakhirnya untukmu.”

Aku tak mampu berucap sepatah katapun. Air mata mengalir deras menumpahkan kesedihannya. Apa yang telah kupikirkan selama ini. Bagaimana bisa aku tak sadar bahwa dia sedang kesakitan selama ini.

SAGARAAAA!!! AKKHHH!!

TUHAN, TAK BISAKAH KAU MEMBIARKANKU MEMILIKI SESEORANG SEPERTI DIRINYA?

Aku Lelah. Penantianku selama ini sia-sia. Selamat tinggal Sagara. Kakak yang paling kusayang. Lelaki satu-satunya yang kucinta. Ternyata seperti inilah perpisahan kita. Kita memang tak pernah memulai hubungan serius. Aku dengan perasaanku dan kau dengan keteguhanmu. Kita bukan pernah namun sudah. Maafkan aku yang terlambat mengetahuinya. Perlu kau tahu, hidupku memang terus berjalan. Namun, tanpa kehadiranmu ada suatu celah yang tak dapat kututup. Ada satu ruang kosong yang tak dapat kuisi. Hidupku tanpamu bagaikan kalimat rumpang yang tak akan pernah sempurna.

 

Penulis: Niken Ayu Dyah Setyorini

Tips Manajemen Stress Untuk Kesehatan Mental

Banyak anak muda zaman sekarang yang hidup tanpa memikirkan bahaya kesehatan mental, tak jarang orang tua juga ikut andil dalam menyepelekan kesehatan mental. Seseorang yang mengalami stress dan tidak mampu mengelola stress yang muncul dalam kehidupan sehari-hari, menjadi tanda bahwa ia sedang mengalami gangguan pada kesehatan mental. Stress merupakan suatu respon alami yang dialami oleh tubuh manusia ketika seseorang mengalami suatu situasi maupun kondisi tertekan, karena menuntut perubahan maupun penyesuaian dalam kehidupanya.

 

Berikut beberapa tips dalam manajemen stress untuk kesehatan mental:

  1. Selalu berpikir positif

Setiap orang selalu memiliki pemikiran yang kadang-kadang pemikiran itu diluar akal kendalinya sendiri. Tetapi sebagai manusia kita tentu bisa mengendalikan pikiran itu, selalu berpikir positif dapat dilakukan dengan tidak memikirkan hal-hal yang seharusnya tidak perlu dipikirkan. Percayakan semua yang terjadi kepada Tuhan dan tetap selalu punya pikiran positif, karena sesuatu yang kita pikirkan akan membawa kita ke dalam alam bawah sadar.

  1. Menghindari situasi yang memicu stress 

Hindari situasi yang memicu stress dapat membantu seseorang untuk mengelola stress ataupun emosi dengan lebih efektif. Dalam mengelola stress penting untuk memahami bahwa setiap orang memiliki cara yang berbeda-beda dalam menghadapi stress. Selain itu juga perlu mengenali tanda-tanda stress yang muncul pada diri sendiri.

  1. Menerapkan pola hidup sehat

Menerapkan pola hidup sehat seperti makan sehat, tidur cukup, menghindari kebiasaan buruk seperti sering begadang, dan tidak menjaga pola makan. 

  1. Membangun motivasi 

Kamu hanya perlu memilih dan kemudian benar-benar melakukannya. Seperti terbiasa jalan pagi hampir setiap hari atau menulis cerpen setiap sore, artinya kamu telah berkomitmen pada kebiasaan itu karena berpikir hal itu adalah kebiasaan yang sehat dan melatih otak. Kemudian kamu bisa mencoba melakukan kebiasaan ini dengan terus-menerus sehingga nantinya bisa menjadi habit, bahkan ketika tidak ingin melakukannya atau tidak memiliki motivasi. Ini adalah kunci agar dapat berkomitmen pada tindakan dan nilai hidupmu.

Ingatlah bahwa mengatasi stress membutuhkan waktu. Ini seperti membangun keterampilan baru, cara berpikir, dan berperilaku baru. Pada akhirnya, kamu akan merasa lebih baik setelah mencapai sesuatu, apa pun itu. Setiap kali akhirnya berhasil melakukan sesuatu, kamu akan mengalahkan stress dengan caranya sendiri. Mulailah dengan manajemen stress dari yang terkecil terlebih dahulu, karena yang tau dirimu itu kamu bukan orang lain.
 

 

Penulis: Sri Rahayu

Editor: Tim Redaksi LPM PRIMA FISIP

Sumber :

https://www.kompasiana.com/tag/lifestyle

https://www.kompas.id/baca/opini/2022/09/30/membangun-motivasi-untuk-atasi-depresi?utm_source=googleads_pm&utm_medium=googleadwordsk&utm_content&utm_campaign=evergreen&gclid=Cj0KCQjw6cKiBhD5ARIsAKXUdyZsBcxUC2veowML1UC6Rwpda6qsEhat7BPR3Hb3kWdPhuS6vDWVRwQaAqNFEALw_wcB

 

Kamu Tidak Layak Disebut Introvert, Kamu Itu Pemalu

“Aku introvert, aku tidak bisa bicara di depan banyak orang seperti kamu.”

Introvert dan pemalu adalah dua hal yang berbeda. Memang kedua hal ini terkadang sangat mirip dan sulit untuk dibedakan. Sama-sama memiliki kecenderungan yang menjauhi keramaian membuat introvert dan pemalu dianggap suatu hal yang sama. Orang-orang menilai bahwa keduanya memiliki kesamaan dalam hubungan bersosial. Namun, pada nyatanya introvert dan pemalu adalah dua hal yang berbeda. 

Seorang yang introvert adalah seorang yang lebih nyaman untuk menghabiskan waktunya dengan diri sendiri dibandingkan harus menghabiskan waktunya dalam sebuah keramaian. Seorang introvert memanfaatkan waktu sendiriannya untuk memperoleh suatu energi psikis dalam dirinya. Maka dari itu, tidak heran bahwa mereka menginginkan menghindari situasi sosial yang melibatkan banyak orang di dalamnya secara sengaja. Jadi, seorang introvert adalah seorang yang tidak memiliki masalah dalam bersosial, tetapi memang mereka hanya lebih memilih dan nyaman untuk menghabiskan waktu mereka dengan diri mereka sendiri. 

Pemalu adalah seorang yang memiliki suatu kecemasan dalam bersosial. Kecemasan ini bisa menjadi pengganggu kemampuan seseorang untuk menggabungkan diri dalam situasi sosial. Seorang pemalu memiliki sebuah penghargaan yang rendah terhadap diri mereka sendiri. Terkadang seorang pemalu sampai keluar dan menghindari situasi sosial karena mereka memiliki rasa takut untuk memasuki situasi sosial tersebut meskipun mereka sangat menginginkan dan membutuhkannya. Maka dapat dikatakan bahwa keyakinan dan percaya diri adalah kunci utama bagi masalah mereka. 

Tetapi bisa digaris bawahi jika introvert dan pemalu bukanlah suatu kelemahan yang buruk. Introvert biasanya lebih memiliki sifat tenang dan pemalu biasanya bisa menjadi seorang pendengar yang baik dibandingkan orang lain. 

Lalu bagaimana kita mengetahui bahwa kita seorang introvert atau seorang pemalu? Memang sangat sulit untuk membedakan, karena keduanya hanya memiliki perbedaan yang sangat tipis jika kita lihat.

Cara membedakan 2 hal ini yang paling mudah adalah dengan mengetahui alasan kita menghindari suatu situasi sosial tersebut. Apakah kita menghindari dikarenakan kita merasa lelah saat harus berbicara dengan orang banyak (introvert) atau apakah kita menghindari situasi sosial karena kita kurang percaya diri.dengan diri kita sendiri (pemalu). 

Lalu bagaimana cara mengurangi rasa malu terhadap diri kita? Orang pemalu juga terkadang anti kritik atau enggan menerima penilaian orang lain terhadap diri mereka sendiri. Penilaian adalah suatu hal yang ditujukan bukan untuk menjatuhkan dan mempermalukan, melainkan sebagai sebuah senjata yang dapat dijadikan seorang individu menjadi individu lebih baik. Oleh karena itu, kita seharusnya bisa lebih menghargai dan menyadari bentuk penilain tersebut. Cara melakukan nya bisa dilakukan secara perlahan karena seperti banyak hal, untuk memperbaiki diri dan menghindari sifat ini kita membutuhkan suatu proses dan usaha untuk menjalankannya. 

Pertanyaannya, kalian ini seorang introvert atau pemalu?  

 

Penulis: Lio April Setiawan

Editor: Tim Redaksi LPM PRIMA FISIP

Musholla FISIP Dipenuhi Dedaunan, Sholat Menjadi Kurang Nyaman

LPM PRIMA, Jember – Akhir-akhir ini, warga FISIP mengeluhkan musholla bagian perempuan. Mereka merasa tidak nyaman dengan area tempat sholat yang terbuka dan ketika hujan terkena tampias. Rindangnya FISIP juga menyebabkan area tempat sholat perempuan yang terbuka tersebut dipenuhi oleh dedaunan yang berjatuhan, sehingga tempat sholat menjadi kotor. 

Menurut Ahmad Yani selaku Kepala Tata Usaha FISIP, jika dibandingkan dengan area tempat sholat perempuan, area tempat sholat laki-laki terlihat lebih bersih karena sering disapu. 

"Kalau untuk musholla biasanya laki-laki disapu dulu sebelum sholat untuk tempat yang kotor, kalau perempuan kayaknya tidak." ucap Ahmad Yani, Selasa (18/4)

Kebersihan musholla menjadi tanggung jawab fakultas. Ahmad Yani menerangkan bahwa setiap pagi musholla selalu dibersihkan bersamaan dengan pembersihan ruangan lainnya. 

"Kalau fakultas sama sih kalau setengah 7 (pagi) itu pasti teman-teman (petugas kebersihan) membersihkan." tambahnya lagi, (18/4)

Fakultas sebenarnya telah memberikan fasilitas untuk kebersihan musholla, yakni sapu dan cikrak. Namun, letak alat kebersihan tersebut kurang diketahui oleh warga FISIP.

"Itu di depan pojok sini itu ada sapu sama cikrak, di depan pojok kanan musholla. Disana ada gudang cikrak dan sapu.” tutur Ahmad Yani, (18/4)

Letak alat kebersihan yang kurang diketahui oleh warga FISIP menunjukkan adanya kurang koordinasi. Ahmad Yani menjelaskan bahwa kedepannya petugas kebersihan akan diminta meletakkan sapu dan cikrak di area sholat perempuan. 

“Sudah kami siapkan, mungkin ya kurang koordinasi. Kalau begitu nanti teman-teman (petugas kebersihan) tak suruh naruh di bagian perempuan, supaya bersih terus." terang Ahmad Yani, Selasa (18/4).
 

Penulis: Sri Rahayu (SR)

Editor: Tim Redaksi LPM PRIMA FISIP

Hingga Pertengahan April, Kamar Mandi Difabel Belum Ada Progress

 LPM PRIMA, Jember – Rencana pembangunan kamar mandi khusus difabel yang akan dilakukan pada akhir bulan Maret masih belum terlihat progressnya. Bahkan sampai pertengahan bulan April pembangunan juga belum terlihat dilakukan.

Tim Pribadi Merdeka Mahasiswa menemui Drs. Ahmad Yani selaku Kepala Tata Usaha FISIP. Beliau menyampaikan bahwa pembangunan kamar mandi khusus difabel telah melalui tahap survei, pengukuran, dan penyusunan RAB. Akan tetapi dari pusat (universitas) sendiri belum ada kelanjutan.

Kalo kita ngomong Maret kita mulai kerjakan. Sudah disurvei, sudah diukur, sudah di RAB. Tapi pusat?” jelasnya, Selasa (18/04)

Menurut Ahmad Yani, fakultas telah melakukan pengadaan dan mengusulkan pembangunan kamar mandi difabel, namun apabila pusat (universitas) tidak menindaklanjuti. Maka pembangunan tidak dapat dilanjutkan. 

Pengadaannya kita yang mengusulkan, tapi yang menentukan adalah pusat. Iya sudah disurvei, sudah diukur, semuanya segalanya. Tapi kalau pusat ngga disuruh ngerjakan pemborongnya, ya nggak mungkin dikerjakan lah.” tuturnya, Selasa (18/04)

Ahmad Yani juga menambahkan bahwa hal tersebut sama seperti kejadian dua tahun yang lalu, FISIP direncanakan akan membangun Gedung 8 lantai. Proses pengusulan, pembuatan RAB, dan pengukuran tempat telah dilakukan, tinggal mengeksekusi atau melakukan pembangunan. Namun, hingga kini belum ada tindak lanjut dari pusat (universitas). 

Sebelumnya, diketahui kamar mandi khusus difabel akan dibangun di Gedung D Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Pembangunan ini menjadi bentuk pelaksanaan dari rencana yang sudah ada terkait sarana-prasarana. Dekan FISIP juga menjelaskan bahwa fakultas memiliki perhatian terkait hak penyandang disabilitas di lingkungan kampus, khususnya dari sisi sarana-prasarana. 

 

Penulis: Allysa Salsabillah (AS)

Editor: Tim Redaksi LPM PRIMA FISIP 

Kursi Bolong di Ruang 103 Sudah Dibenahi, FISIP Buka Akses Untuk Aduan Mahasiswa

LPM PRIMA, Jember -- Baru-baru ini, muncul keluhan dari mahasiswa mengenai kursi kelas yang bolong di ruang 103. Permasalahan tersebut berhasil tersampaikan pada pihak fakultas, dan kursi yang bolong telah diganti dengan yang baru. Apabila terdapat hal yang ingin diadukan, FISIP memberikan akses kepada mahasiswa untuk menyampaikan aduan perihal sarana-prasarana secara langsung, terutama mengenai hal-hal yang bersangkutan untuk kenyamanan belajar.  

Tim Lembaga Pers Mahasiswa PRIMA menemui Ahmad Yani sebagai bagian Kepala Tata Usaha (KTU) FISIP, untuk mengkonfirmasi lebih lanjut mengenai berbagai keluhan mahasiswa, salah satunya kursi bolong di ruang kelas 103 kemarin. 

"Sudah bagus, bisa di cek lagi sudah kemarin dibenerin, Dijaga itu ya" ucap KTU, Selasa (18/4)

Ahmad Yani menjelaskan bahwa dirinya memahami trik dan maksud mahasiswa agar fasilitas fakultas terutama yang bersangkutan dengan kenyamanan belajar di ruang kelas dapat segera mendapatkan pembenahan. Namun, dirinya berpesan bahwa tindakan protes tersebut sebaiknya disampaikan pada pihak fakultas yang berwenang, bukan dengan merusaknya. 

"Juga mahasiswa tau trik-trik bagaimana untuk supaya gedung ini cepat rapi, misalnya dicoret-coret. Ya Memang kami akan mengganti tapi gak usah dicoret-coret. Ngomong ‘pak ganti’, tak ganti nanti." lanjutnya, Selasa (18/4)

Berkaitan dengan hal tersebut, Ahmad Yani memberikan akses kepada mahasiswa untuk menyampaikan aduan dan keluhannya secara langsung kepada pihak fakultas yang berwenang, yakni Wakil Dekan II. 

"Kalau sarpras ini selain Pak Dekan, diwakilkan oleh Wadek II, Pak Didik. sarpras dan SDM adalah wewenangnya Wadek II. Jadi kalau ada keluhan mahasiswa mengenai sarpras gitu ya, langsung aja ke Pak Didik." jelasnya, Selasa (18/4)

Selain melalui Wakil Dekan II, Ahmad Yani juga menyanggupi jika kedepannya mahasiswa ingin menyampaikan keluhan pada dirinya maupun mengajukan permohonan untuk menemui Dekan secara langsung. "Kamu boleh ngomong ke saya atau ke Pak Dekan. nanti saya jadwalkan Pak Dekan. Saya tanyakan ke sekdek" pungkasnya, Selasa (18/4)

 

Penulis : Hauriska Lukmaningtiyas (HL)

Editor   : Tim Redaksi LPM PRIMA FISIP

Libur Panjang Bosan, Masuk Kuliah Enggan

Seperti yang kita ketahui libur lebaran telah tiba. Sekarang ini sudah banyak mahasiswa yang pulang ke kampung halamannya untuk merayakan lebaran bersama dengan keluarganya. Banyak juga mahasiswa yang memutuskan untuk berlibur terlebih dahulu sebelum akhirnya pulang ke kampung halaman. Pastinya liburan ini membuat banyak mahasiswa senang, namun juga membuat banyak mahasiswa kesal karena adanya tugas walaupun sedang libur. Waktu libur digunakan banyak mahasiswa untuk melakukan hal-hal yang menyenangkan bersama dengan keluarganya. Pertanyaannya adalah apakah memang benar, mahasiswa lebih senang libur panjang dari pada masuk kuliah?

Pertanyaan tersebut sangat menarik untuk dijawab. Bagaimana tidak jika seorang mahasiswa ditanya pertanyaan seperti itu maka jawabannya adalah mereka senang libur panjang. Hal itu memang mungkin benar, tapi jika kita tanyakan lagi lebih dalam apakah mereka tidak akan bosan jika libur terlalu lama? Kemungkinan mereka akan bingung menjawab pertanyaan seperti itu. Hal ini memang berbeda dari setiap perspektif mahasiswa, akan ada yang menjawab senang-senang saja dan kemungkinan ada yang akan menjawab sebaliknya.

Hal ini disebabkan karena beberapa hal. Mahasiswa pastinya akan merasa senang karena berlibur dan bisa bersenang-senang bersama keluarga dan teman-teman, tapi pastinya kita pernah merasa bahwa waktu liburan kita terlalu panjang. Hal ini akan mengakibatkan kita memikirkan kembali saat-saat kuliah. Mulai tumbuhlah rasa rindu akan teman-teman dan suasana kuliah. Tidak hanya itu, diantara mahasiswa akan ada juga yang merasa ingin kembali lagi kuliah untuk belajar, karena memang mereka mempunyai niat dan cita-cita yang ingin digapai.

Di sisi lain pasti ada banyak mahasiswa yang sangat menanti-nanti hari libur walaupun bukan libur lebaran. Hal ini mungkin lebih dirasakan oleh anak rantau, yang kuliah jauh untuk menuntut ilmu. Kebanyakan dari mereka akan menunggu dan mengharapkan hari libur panjang, karena saat itulah mereka mempunyai kesempatan untuk pulang dan bertemu dengan keluarga. Hal ini kemungkinan besar tidak akan dirasakan oleh mahasiswa yang asli di daerahnya. Karena setiap hari pun mereka dapat bertemu dengan keluarganya, berbeda dengan anak rantau.

Tapi tidak bisa kita pungkiri seberapa lama pun kita akan berlibur, pastinya akhirnya kita akan masuk kuliah kembali. Sebagai seorang mahasiswa sudah wajib hukumnya bagi kita untuk kuliah menuntut ilmu, bukan wajib bagi kita untuk libur panjang. Istirahatlah dahulu bersama keluarga dan teman-teman, setelah itu bersiap kembalilah untuk menuntut ilmu.

 

Penulis: Muhammad Rayhan

Editor: Tim Redaksi LPM PRIMA FISIP

AMADEUS

Judul: Amadeus

Tahun: 1984

Sutradara: Miloš Forman 

Pemeran: Tom Hulce, F. Murray Abraham, Elizabeth Berridge, dll.

Genre: Drama, sejarah, seni klasik. 

Rating IMDb: 8.4/10

 

Film Amadeus dibuat berdasarkan buku karya Petter Shafer yang berjudul Amadeus. Film Amadeus adalah sebuah film yang menggambarkan biografi dari seorang komponis terkenal yaitu Wolfgang Amadeus Mozart (diperankan oleh Tom Hulce). Film ini memulai adegannya dengan sebuah teriakan seorang kakek tua yang mencoba membunuh dirinya sendiri di dalam sebuah kamar. Namun, usaha kakek tua untuk mencoba membunuh dirinya sendiri tidaklah berhasil dan kakek tua ini akhirnya dibawa ke suatu tempat. Tempat ini adalah sebuah penjara untuk menampung banyak orang-orang gila. 

Seorang kakek tua ini bernama Antonio Salieri (diperankan oleh oleh Murray Abraham). Antonio Salieri merupakan tesis utama dari film ini, tokoh ini adalah seorang komposer dari Italia yang sezaman dengan Mozart dan merasa iri dengan Mozart karena kesuksesan Mozart sebagai seorang Komposer. Terlepas dari sifat lemah dan irinya, Antonio Salieri memiliki rasa penyesalan karena menurutnya dia lah yang membunuh seniman terbaik itu. Film ini menceritakan masa lalu dan diceritakan dalam kilas balik oleh Saleri di akhir hidupnya. Curhatan dari Saleri menceritakan seluruh cerita di dalam film ini.  

Secara keseluruhan, isi film ini menampilkan berbagai instrumen yang dibuat oleh Mozart. Film juga menunjukkan berbagai macam budaya seni klasik seperti Teater Eropa yang sangat khas dengan drama-drama menariknya. Dengan latar belakang Vienna (Wina), Austria, film ini menjadi sangat cocok untuk seseorang yang benar-benar memiliki hobi pada seni dan tertarik dengan budaya Eropa. 

Amadeus membuktikan kesuksesannya dengan mendapatkan berbagai penghargaan di dunia perfilman. Penghargaan ini diantaranya adalah delapan Academy awards, empat BAFTA Awards, empat Golden Globe, dan juga mendapatkan sebuah penghargaan Director Guild of America (DGA). Meskipun termasuk film 90-an, pada tahun 2016 film ini berhasil mendapatkan banyak nominasi dalam kategori aktor terbaik. 

Kekurangan dari film ini adalah belum cukup dikenal oleh negara-negara barat termasuk negara kita, Indonesia. Sehingga akan sedikit sulit untuk mencari film ini dan mendapatkan penerjemahan bahasanya.   

Buat kalian yang sudah tertarik, yuk buruan nonton!

 

Penulis: Lio April Setiawan

Editor: Tim Redaksi LPM PRIMA FISIP

Build Your Personal Branding

Tahukah kamu tentang personal branding

Pentingkah sebuah personal branding itu? 

Bagaimana cara membangun sebuah personal branding

Pada dasarnya, personal branding merupakan sebuah proses untuk membentuk, membuat persepsi, dan memelihara persepsi di mata orang lain demi mencapai sebuah citra positif. Persepsi yang dibangun dan ditampilkan ini pun bermacam-macam, misalnya dari keahlian yang dimiliki, kepribadian, prestasi, dan nilai-nilai positif lainnya yang dapat ditunjukkan atau pun ditampilkan. Pada umumnya, personal branding dapat membuat seseorang mengingat kita dengan mudah.

Ketika seseorang memulai proses personal branding, maka ada tiga hal yang wajib diketahui terlebih dahulu, yakni:

  1. Siapa diri kita?
  2. Apa yang sudah kita lakukan?
  3. Apa tujuan yang ingin kita capai?

Maka, dengan demikian eksistensi dari personal branding sangatlah penting. Namun, personal branding bukan sebuah kewajiban melainkan pilihan. Hal ini kembali kepada keputusan pribadi mengenai apakah kita mau menyebarkan citra positif kita atau tidak. Kehadiran personal branding bukan berasal dari orang lain, melainkan dari diri kita sendiri. Kita yang membangun citra positif itu sendiri dan untuk diri kita sendiri, bukan orang lain. Orang lain yang mengetahui tentang citra kita itu adalah bonusnya. 

Lalu, bagaimana cara membangun sebuah personal branding tersebut? Berikut adalah tahapan yang dapat dilakukan:

  1. Pastikan sudah mengenali diri sendiri
  2. Cari tahu ingin dikenal sebagai siapa
  3. Tentukan ciri khas diri sendiri
  4. Berani mencoba suatu hal yang baru
  5. Jaga reputasi dan konsistensi
  6. Tentukan karakter yang ingin ditonjolkan

Dengan melakukan berbagai tahapan personal branding, maka kamu akan mendapatkan beberapa manfaat, yakni: 

  1. Kredibilitas 
  2. Kepercayaan diri yang positif
  3. Kepercayaan dari orang lain
  4. Memiliki kejujuran diri
  5. Memiliki networking yang luas

Jadi, jangan ragu lagi untuk melakukan personal branding, karena personal branding bukan hal yang sia-sia dan bermanfaat bagi diri kita!

 

Penulis: Christina Maharani (CM)

Editor: Tim Redaksi LPM PRIMA FISIP

Merayakan Idul Fitri dengan Deadline Tugas Ujian Tengah Semester

LPM PRIMA, Jember – Ujian Tengah Semester (UTS) telah menjadi makanan setiap semester bagi mahasiswa. Namun pada semester ini, Ujian Tengah Semester (UTS) diadakan pada bulan Ramadan dan hampir mendekati Hari Raya Idul Fitri. Hal tersebut menjadi keresahan banyak mahasiswa yang biasanya melakukan kegiatan Ramadan dan memperbanyak ibadah. Namun, justru menjadi terganggu dengan deadline tugas yang diberikan.

Pasalnya pada minggu ketiga bulan April, telah dijadwalkan Ujian Tengah Semester (UTS) yang dilaksanakan mendekati Hari Raya Idul Fitri 1444 H.  

Salah satu mahasiswa Fisip berinisial PH mengungkapkan bahwa dirinya tidak mempermasalahkan pemberian tugas UTS selama hari raya. Namun ia mempermasalahkan batas waktu pengumpulan tugas yang mepet, ditambah lagi ia harus meluangkan waktu untuk ibadah di bulan Ramadan. 

"Kalo aku pribadi gapapa sih, ga masalah mau dikasi tugas ato uts di minggu ini asalkan dosen memberi tugas yang 'wajar' hehehe dan deadlinenya ga mepet kek misal 2 minggu gituu. Gimana yaa, kalo akhir-akhir ramadhan kesibukan rumah MasyaAllah padeet belum lagi sek kudu banyakin waktu luang buat ibadah jugaa kan, man eman datang nya ramadhan ga di setiap bulan." jelas PH dalam wawancara melalui pesan WhatsApp, Senin (17/4) 

Selain PH, mahasiswa berinisial EC juga berpendapat mengenai jadwal UTS yang berdekatan dengan Hari Raya Idul Fitri.

"Menurut ku yah karena menjelang hari raya dan mahasiswa udah pada mudik semua jadi mereka mulai merasa tidak menghiraukan tugas-tugas UTS. Dan kalo menurutku dosen di fisip kurang gercep kalo mau ngasih tugas UTS jadinya nanti tugas-tugas numpuk setelah hari raya." ungkap EC, Senin (17/4) 

EC juga menjelaskan bahwa ia sebenarnya tidak merasa terganggu apabila tugas UTS diberikan jauh-jauh hari sebelum liburan lebaran. 

"Kalo menurutku gak terlalu mengganggu ya soalnya kan tenggat waktu yang dikasih dosen cukup lama, yang mengganggu tuh kalo di akhir mau liburan tapi ada tugas UTS itu yg buat mahasiswa merasa kek 'ini loh liburan aku mau pulkam kenapa mesti ada tugas. Kenapa gak dari kemarin kemarin' kalo menurutku gitu sih. Sebenarnya gak mengganggu kalo tugas UTS diberikan jauh-jauh hari sebelum mau liburan pulkam," tambahnya, Senin (17/4)

 

Penulis: Abidah Sholsholat (AS) 

Editor: Tim Redaksi LPM PRIMA FISIP

Panik, Mahasiswa Tidak Bisa Presensi di Menit Terakhir

Memasuki minggu ketiga di bulan April, Universitas Jember mengadakan perkuliahan secara daring. Hal ini dikarenakan beberapa hari lagi umat Islam akan merayakan Hari Raya Idul Fitri 1444 H. Agar para mahasiswa dapat mudik lebih awal ke kampung halaman masing-masing. 

Namun, siapa sangka pada hari pertama perkuliahan daring, sistem (Sister For Student) yang digunakan untuk mengakses seluruh jadwal, presensi, dan link Zoom mengalami gangguan.Tepat pada pukul 10.00 WIB, Sister For Student (SFS) mengalami error

Biasanya, ketika mahasiswa melakukan perkuliahan secara daring.  Mahasiswa akan melakukan presensi terlebih dahulu, kemudian mengikuti pembelajaran melalui Zoom Meeting untuk melaksanakan kuliah daring. Akan tetapi dikarenakan SFS error maka aktivitas perkuliahan seketika terhambat. 

Banyak mahasiswa yang melewatkan jam presensi, sehingga mengakibatkan tidak terekamnya presensi mahasiswa. Hal ini tentu membuat mahasiswa panik dan khawatir apabila presensi berubah, yang seharusnya hadir menjadi alpa.

Sebenarnya permasalahan Sister For Student yang mengalami gangguan sering terjadi. Sistem yang error membuat mahasiswa tidak dapat mengirimkan tugas dengan tepat waktu, tidak dapat melakukan presensi, dan tidak dapat melakukan kegiatan perkuliahan melalui Sister For Student (SFS). 

Tentu hal ini menjadi PR bagi pihak operator kedepannya agar dapat membenahi dan memperbaiki sistem supaya  dapat diakses mahasiswa dengan efektif. Dengan adanya perbaikan, diharapkan  mahasiswa tidak mengeluhkan kembali  permasalahan yang sama berulang kali. Serta, mahasiswa pun merasa aman jika sistem dalam kondisi normal, maka mahasiswa terhindar dari namanya presensi alpa. 


Penulis: Syahrina Rojabar Rizqiyah

Kursi Bolong Ruang 103: Sudah Dua Minggu Belum Ada Pembenahan

LPM PRIMA, Jember -- Sarana prasarana ruang kelas 103 menjadi bahan kritikan dari beberapa mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) dikarenakan terdapat tiga kursi bolong yang hingga dua minggu kemudian masih belum ada pembenahan. Kondisi ini membuat mahasiswa merasa tidak nyaman lantaran merasa fasilitas di kelas 103 kurang memadai. 

Salah satu mahasiswa FISIP yang telah menggunakan kelas tersebut memberikan tanggapan  kepada tim Pribadi Merdeka Mahasiswa (PRIMA) terkait kenyamanan di ruang 103.

“Jadi waktu aku ngecek di kelas 103 tu, aku kan lagi nyari yang bolong tapi kan gaada berarti kan udah diganti, tapi temenku itu notice ada kursi yang bolong tapi cuman ditutupin rotan tapi ngga yang dipasang gitu, jadi cuman nutup bolongnya aja. Nah pas aku ngecek tu didepan ada mba-mba kan nah temen mba-nya baru dateng, pas temennya duduk kursinya langsung jatuh gara-gara rotannya yang buat tutup bolongnya itu ternyata cuman nutup doang, akhirnya mbanya jatuh dan kursinya bolong lagi.” jelas salah satu mahasiswa jurusan hubungan internasional saat dihubungi melalui whatsapp, Jumat (14/04).

Mahasiswa Angkatan 21 ini juga menjelaskan bahwa kursi yang bolong tidak hanya satu dan tidak ada tanda peringatan jika kursi tersebut bolong atau rusak.

Gaada, jadi itu kursinya itu cuman ditutup aja jadi orang gatau kalau itu kursi rusak atau ngga karena emang ditutup biar ga kelihatan bolong, dan itu ada tiga tadi (kursi bolong),” tambahnya, Jumat (14/04).

Mahasiswa berinisial EE juga menjelaskan fasilitas perkuliahan di ruang kelas 103 kurang memadai dan sebaiknya segera dibenahi.

“Di ruang 103 itu banyak fasilitas yang kurang, banyak sarana dan fasilitas yang rusak salah satunya itu kursi itu ada beberapa mahasiswa lain yang menemui kalau kursinya itu rusak bolong gitu, jadi mungkin sekarang masih bisa dipake tapi alangkah baiknya kalau mau digunakan untuk jangka Panjang alangkah baiknya diganti.” jelas EE kepada wartawan LPM PRIMA,  Jumat (31/03).

Dirinya juga berharap agar fakultas untuk bisa segera memperbaiki kondisi kursi tersebut agar tidak membahayakan mahasiswa jika ada kejadian yang tidak diinginkan.

“Harapannya kursi-kursinya bisa diganti sama fakultas, bisa baik lagi. Kalaupun mau diperbaiki ya semoga diperbaiki lebih cepat karena mungkin bisa membahayakan mahasiswa kalau ada kejadian yang merugikan mahasiswa begitu,” tambahnya, Jumat (31/03).


 

Penulis : Ghoffar Machmud (GM)

Editor.   : Tim Redaksi LPM PRIMA FISIP

Mudik Lebaran, Tugas Kuliah Tetap Berjalan

Mudik lebaran tahun 2023 menjadi momen yang ditunggu-tunggu oleh kalangan mahasiswa perantau. Mudik atau pulang kampung (pulkam) ini biasa dilakukan mahasiswa ketika memasuki libur panjang. Bertepatan dengan libur perkuliahan menjadikan mudik lebaran sebagai momen paling penting mahasiswa untuk berkumpul dan bersenang-senang bersama keluarga tercinta di rumah. Namun, bagaimana dengan mahasiswa yang mudik dengan membawa beban pikiran karena deadline tugas setelah lebaran?

Normalisasi pemberlakuan mudik lebaran tahun ini menjadi kebijakan pemerintah setelah fenomena pandemi Covid-19 selama kurang lebih dalam kurun waktu 3 tahun terakhir. Tentu, hal ini menjadi momen yang dinantikan mahasiswa untuk berkumpul bersama keluarga, teman maupun kerabat di kampung halamannya. Setelah jadwal libur perkuliahan muncul, mahasiswa sangat bersemangat dan senang karena hal yang dinantikan akhirnya tiba (mudik lebaran). Bahkan, sebelum jadwal libur perkuliahan itu muncul, tidak sedikit dari mahasiswa yang bergegas membeli tiket kendaraan untuk mudik lebaran agar tidak kehabisan. 

Disamping kebahagiaan yang dirasakan, mahasiswa yang melakukan mudik lebaran dipaksa untuk terbiasa dengan kondisi yang bisa dibilang sedikit menyiksa. Pasalnya, mudik lebaran kali ini bertepatan dengan Ujian Tengah Semester (UTS). Sehingga, mau tidak mau mahasiswa harus melaksanakan tugas tersebut. Selain itu, tak sedikit dari mahasiswa yang mudik dengan menanggung beban lebih karena adanya tugas-tugas yang memiliki tenggat waktu (deadline) setelah lebaran. Tentu, hal ini menjadi beban pikiran bagi mahasiswa yang seharusnya mudik agar bisa berkumpul dan bersenang-senang dengan keluarga, teman maupun kerabatnya. Namun nyatanya mereka disibukkan dengan tugas-tugas kuliah yang menumpuk.

Terkadang, tugas-tugas perkuliahan menjadi beban tersendiri bagi mahasiswa. Namun, hal tersebut nyatanya telah menjadi bagian dari mahasiswa. Apabila seseorang telah berkomitmen menjadikan ia sebagai seorang mahasiswa, maka mengerjakan tugas menjadi salah satu hal yang bersifat wajib untuk dilaksanakan guna menunjang perkuliahan dan karir mereka. Mungkin banyak dari mahasiswa yang mengeluhkan hal tersebut, namun ketika mereka sadar akan tugas dan tanggung jawabnya maka tidak jarang dari mereka yang bersikeras untuk menuntaskan tugas mereka disamping kesibukan ataupun aktivitas mereka yang lainnya.

Namun, nyatanya tugas perkuliahan dan Ujian Tengah Semester (UTS) tidak menjadi hambatan bagi mahasiswa untuk melakukan mudik lebaran. Tidak sedikit dari mahasiswa yang telah melakukan mudik lebaran setelah perkuliahan mereka berakhir. Mereka bergegas menuju stasiun, terminal atau bahkan bersepeda motor untuk pulang ke rumah masing-masing. Mereka tetap bersemangat dan senang walaupun disisi lain harus disibukkan dengan tugas dan Ujian Tengah Semester (UTS).

Mungkin tidak sedikit pula dari mereka yang telah menyelesaikan tugas atau bahkan memiliki timeline tersendiri untuk bisa mengerjakan tugas dan mengerjakan ujian bersamaan dengan aktivitas-aktivitas mereka yang lain. Sehingga hal tersebut tidak menjadi persoalan bagi mereka untuk melakukan mudik lebaran. Namun, bagi mereka yang menjadikan hal tersebut persoalan, belum tentu mereka tidak mengeluhkan hal tersebut. Tidak jarang pula dari mereka menginginkan libur perkuliahan dengan tenang tanpa beban tugas yang mengintai. Melakukan mudik lebaran dan menikmati nuansa lebaran di rumah bersama teman, keluarga dan kerabatnya dengan santai tanpa memikirkan beban-beban perkuliahan yang sedikit menjengkelkan.

Disamping itu, tren mudik mahasiswa perantau ini juga berlaku bagi mereka yang bertempat tinggal bisa dikatakan cukup dekat dengan kampus. Bahkan setiap seminggu sekali pun mereka bisa melakukan pulang kampung (pulkam). Namun, nyatanya tetap saja mereka ingin dikatakan mudik lebaran, hehe.

 

Selamat mudik lebaran, hati-hati di jalan dan jangan lupa tugasnya dikerjakan! 

 

Penulis: Sherly Ananda C. (SAC)

Mengenal World Bank dan Perannya terhadap Ekonomi Global

World Bank atau Bank Dunia adalah lembaga keuangan internasional yang didirikan pada tahun 1944 untuk memberikan pinjaman dan bantuan teknis kepada negara-negara berkembang untuk mendorong pembangunan ekonomi dan mengurangi kemiskinan. Bank ini berkantor pusat di Washington, D.C. dan memiliki 100 kantor lebih di seluruh dunia. Misi utama Bank Dunia adalah bekerja untuk memberantas kemiskinan dan mempromosikan kesejahteraan umum. Untuk memenuhi misi ini, Bank memberikan pinjaman, hibah dan bantuan teknis kepada negara-negara berkembang di berbagai sektor termasuk pertanian, pendidikan, kesehatan, infrastruktur dan energi.

Selain memberikan bantuan keuangan, Bank Dunia melakukan penelitian dan analisis tentang berbagai masalah pembangunan dan memberikan saran serta membimbing pemerintah dan mitra pembangunan lainnya dalam merencanakan strategi dan program. Bank Dunia diatur oleh dewan yang terdiri dari perwakilan semua negara anggota Bank. Dewan bertanggung jawab untuk menentukan kebijakan umum dan strategi Bank dan menyetujui pinjaman dan proyek besar.

Operasi sehari-hari Bank Dunia diawasi oleh Dewan Direktur, yang bertanggung jawab untuk menyetujui pinjaman dan proyek serta mengelola sumber daya dan operasi Bank. Bank Dunia bekerja erat dengan mitra pembangunan lainnya, termasuk International Monetary Fund (IMF), Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan badan-badan bantuan bilateral, untuk mengoordinasikan dan menyelaraskan upaya pembangunan dan mempromosikan pendekatan holistik terhadap pembangunan.

Bank Dunia memainkan peran penting dalam ekonomi global, memberikan bantuan keuangan dan teknis kepada negara-negara berkembang, yang pada gilirannya dapat berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi dan pengentasan kemiskinan. Program dan kebijakan Bank berdampak signifikan terhadap ekonomi global, khususnya di negara-negara berkembang.

Bank Dunia juga memberikan bantuan teknis dan saran kepada pemerintah dan mitra pembangunan lainnya. Hal ini dapat mencakup panduan kebijakan dan program, serta dukungan untuk peningkatan kapasitas dan penguatan kelembagaan. Dengan berbagi pengetahuan dan keahlian, Bank dapat membantu membangun perekonomian yang lebih efisien dan efektif di negara-negara berkembang. Program bantuan teknis Bank dapat mendorong pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan tata kelola, yang dapat berdampak positif pada ekonomi global.

Melalui pinjaman, bantuan teknis dan nasihat kebijakan, Bank Dunia dapat mendorong pertumbuhan ekonomi dan mengurangi kemiskinan di negara-negara berkembang. Hal ini dapat berdampak positif pada ekonomi global karena meningkatkan permintaan barang dan jasa, menciptakan pasar baru dan meningkatkan stabilitas ekonomi. Namun, Bank harus terus mengatasi tantangan dan kritik yang dihadapi untuk memastikan bahwa program dan kebijakannya efektif, berkelanjutan dan adil.

 

Penulis: Alisha Dyah Shafira 

Editor: Tim Redaksi LPM PRIMA FISIP

Onward

Judul : Onward

Tahun : 2020
Sutradara : Dan Scanlon

Produser : Kori Rae
Pemeran : Chris Pratt, Tom Holland

Genre : Petualangan, Fantasy, animasi

 

SINOPSIS

Berlatar di dunia fantasi modern, film ini berkisah tentang dua bersaudara Barley Lightfoot (Chris Patt) dan Ian Lightfoot (Tom Holland) yang menjalankan misi untuk menemukan kembali sisa-sisa keajaiban dunia.

Kisah dimulai saat Ian merayakan ulang tahunnya yang ke-16 dan mendapat hadiah spesial dari sang Ayah yang telah meninggal saat Lan belum dilahirkan. Sang Ayah memberikan tongkat ajaib disertai sepucuk surat dan batu pertama. Dalam pesan tersebut, tertulis sebuah mantra misterius yang dipercaya dapat mengembalikan sosok Ayah mereka selama 24 jam. Ini merupakan kesempatan dan hadiah terbaik bagi Ian.

Namun harapan tidak sesuai kenyataan, Ian dan Barley hanya berhasil mengembalikan setengah badan saja. Keduanya harus menjalankan sebuah misi spesial agar dapat mengembalikan sosok Ayah mereka seutuhnya. Ian dan Barley harus bekerja sama melalui berbagai rintangan yang akhirnya membawa mereka pada sebuah perjalanan yang tak terduga. Perjalanan Ian dan Barley penuh dengan canda dan cukup membawa emosi. Barley yang sembrono dan urakan serta Ian yang canggung, membuat petualangan mereka semakin seru.

Belum lagi saat Ian merasa bahwa kakaknya adalah seorang pecundang yang tidak bisa diandalkan. Sementara itu, Barley selalu beranggapan jika sang adik adalah segalanya bahkan dia rela melakukan apapun untuk keselamatan Ian. Onward adalah sebuah film keluarga yang menitikberatkan hubungan antara kakak dan adik, bagaimana keduanya memiliki pandangan masing-masing tentang sosok yang dirindukan dan cara membahagiakan orang terkasih.

Film yang disutradarai oleh Dan Scanlon ini juga ingin menunjukkan bahwa rasa peduli dan sayang pada saudara terkadang tidak diperlihatkan secara jelas. Namun ketika dibutuhkan, mereka akan berjuang dan berusaha untuk hadir walau dalam keadaan susah sekalipun. Kisah yang terdapat dalam film Onward bisa dibilang cukup unik dan belum pernah diangkat oleh Disney dan Pixar. Pasalnya, ide cerita tersebut merupakan pengalaman dari sang sutradara.

"Kisah ini terinspirasi dari cerita saya dengan saudara laki-laki saya dan hubungan dengan ayah kami yang telah meninggal saat saya berusia satu tahun. Kita semua pasti pernah merasa kehilangan, dan kesempatan untuk menghabiskan satu hari bersama orang yang telah meninggalkan kita tentunya merupakan sebuah impian yang tak ternilai harganya," kata Dan Scanlon melalui keterangan resminya beberapa waktu lalu.

 

KELEBIHAN

Pemilihan genre fantasi sangat pas untuk menggambarkan bagaimana keajaiban tersebut bisa terjadi. Karakter dari tokoh Ian dan Barley pun sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari, sehingga terasa begitu nyata. Onward juga menyuguhkan tontonan dengan gambar dan warna yang menyenangkan mata. Ada tawa, emosi dan air mata yang menemani perjalanan Ian dan Barley dalam menemukan keajaiban.

 

Penulis: Maulyda Putri Pangesti