Pengumuman

The Platform

Genre: Sci-Fi/Thriller

Sutradara: Galder Gaztelu-Urrutia

Tahun: 2019

Film Spanyol besutan sutradara Galder yang ditayangkan pada platform Netflix ini memberikan gambaran pada penonton akan perjuangan tahanan yang terjadi pada setiap level. Dimana pada realitanya hal seperti ini merupakan gambaran dari kondisi yang terjadi di dunia nyata. Film yang sarat akan kekejian dan perebutan makanan oleh penghuni tahanan, menyiratkan dengan jelas bahwa terdapat kesenjangan sosial yang terjadi, baik pada penjara tersebut ataupun pada masyarakat.

Film ini dimulai dengan sebuah proses yang berjalan pada level 0, dimana orang-orang pada bagian tersebut merupakan gambaran akan sistem yang mengatur dan memiliki privilege terbesar akan apa yang terjadi pada level dibawahnya. Pada film, level inilah yang nantinya akan menentukan dan memberikan makan apa pada tahanan di bawah. Hal-hal yang berjalan secara terorganisir, perfeksionis, dan terstruktur pada level ini, merupakan suatu hal yang kontradiktif dengan keadaan yang didapati para tahanan. Dimana pada setiap Ievel yang bertambah turun, bertambah pula kesensaraan dan keputusasaan yang dirasakan oleh mereka.

Berbagai kejadian keji bermula dari seorang tokoh bernama Goreng, yang merupakan tokoh utama pada film ini. Goreng yang merupakan seorang tahanan, masuk secara sukarela demi mendapatkan sertifikasi diploma yang akan didapat ketika ia keluar dari penjara nantinya. Seiring dengan berjalannya waktu, timbul adanya kesadaran akan perjuangan dan perlawanan sistem yang harus dilakukan bersama oleh setiap tahanan. Hal ini didapati Goreng setelah melihat dan mendapati berbagai sisi liar manusia pada setiap level yang akan terus turun.

Berbagai kengerian tergambarkan secara vulgar dari setiap scene yang terjadi pada film. Dimana mimbar yang membawa makanan akan bergerak turun dan memberikan makan bagi tahanan beruntung yang ada di level atas -atau setidaknya level tengah dengan memakan bekas-bekas makanan yang tersisa walaupun telah tercampur dengan berbagai hal, termasuk kotoran. Tahanan yang saling berebutan dan memakan sepuasnya, merupakan gambaran akan bentuk ketamakan seseorang pada masyarakat. Dimana orang-orang ini mengakuisisi kepemilikan akan suatu makanan secara semena-mena dengan tidak memedulikan tahanan di bawahnya.

Tak cukup dengan kondisi yang ditampakkan pada level menengah, film ini pun menampakkan akan bagaimana kondisi tahanan di level terbawah. Dimana mereka harus bertindak sesuai dengan keadaan mereka. Para tahanan ini siap untuk saling memakan satu sama lain, seperti apa yang telah dilalui Goreng pada jalannya film. Goreng yang telah melalui ketiga macam level, mencoba untuk menyadarkan akan sesama tahanan, namun apa yang didapat justru pencelaan dan perlawanan dari tahanan lain. Hal ini membuat Goreng harus melakukan aksinya melalui kekerasan demi kepentingan bersama. Bukanlah hal yang asing bukan pada dunia nyata? Dimana hal tersebut identik dengan perjuangan kelas yang dapat dilalui dengan tindakan revolusioner.

Goreng sendiri tergambarkan sebagi seorang idealis sejati, dimana semenjak hari pertama ia telah mencoba untuk melakukan perlawanan terhadap sistem yang berlaku pada setiap tahanan. Selain itu, wujud kenampakan yang ingin diperlihatkan film pada sosok Goreng sendiri terlihat dari sebuah buku yang ia bawa, Don Quixote De La Mancha. Dimana buku ini merupakan kisah seorang kesatria yang berjuang melawan para monster raksasa, yang ternyata hal tersebut hanyalah imajinasi dari kesatria tersebut. Keadaan yang dialami dan dihadapi sosok Goreng di film ini sama dengan sosok Don Quixote pada buku, bahkan gambaran fisik pun terlihat serupa.

Pada film ini sosok akan tokoh antagonis dan protagonis pun menjadi kabur karena tuntutan dari sistem yang terjadi pada tahanan. Berbagai isu, baik isu sosial, ekonomi, dan permasalahan rasial pun tersaji menjadi suatu sistem yang saling mengikat. Kecacatan akan sistem pun ditunjukkan dengan twist pada bagian akhir film. Dimana seorang tahanan yang tidak semestinya ada, justru terdapat pada level terbawah. Gambaran penting lain yang menggambarkan masyarakat pada film ini yaitu level dari setiap tahanan yang akan selalu berpindah, menggambarkan akan bagaimana seseorang di dunia nyata tidak dapat memilih untuk terlahir dari kelas sosial yang diinginkan. Mereka harus melalui berbagai rintangan dan melawan sesamanya, walaupun moralitas yang menjadi taruhannya.

[Dimas Nugroho]

Kajian Kolaborasi, Himpunan Mahasiswa Jurusan

PRIMA - Aliansi Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Jember mengadakan sebuah  kegiatan kolaborasi antar himpunan pertama dalam sejarah di FISIP.

Acara tersebut bertajuk kolaborasi kajian online antar himpunan jurusan di FISIP.
Kajian online tersebut mengusung tema "Refleksi Hari Buruh : Gerakan Buruh dan RUU Cipta Lapangan Kerja." 

Kegiatan yang di pelopori oleh lima HMJ FISIP, yakni Himpunan Mahasiswa Administrasi (Himaistra), Himpunan Mahasiswa Kesejahteraan Sosial (Himakes), Himpunan Mahasiswa Hubungan International (Himahi), Himpunan Mahasiswa Diploma Tiga (Himadita), dan yang terkahir Himpunan Mahasiswa Sosiologi (Himasos).

"Diharapkan dari kegiatan tersebut dapat meningkatkan pemahaman mahasiswa terkait perjuangan buruh yang sedang dihadapi dan permasalahan yang terjadi pada RUU Cipta Lapangan Kerja (CILAKA)," ungkap salah satu koordinator kegiatan dari Himaistra Mahardika yang dihubungi via WhatsApp
Kegiatan tersebut berlangsung pada hari Minggu 3 Mei 2020 , via aplikasi teleconference Zoom, dengan pemateri Umar Faruk DPC Serikat Buruh Muslim Indonesia (SARBUMUSI), Serta Hadi Makmur dosen FISIP Universitas Jember.

Andresa berpendapat kegiatan aliansi Himpunan Mahasiswa ini merupakan sebuah inisiasi yang dilakukan sebagai trobosan membuka ruang diskusi seputar fenomena di FISIP. 
"Kalo menurut pendapatku, kegiatan kemarin itu merupakan trobosan baru yg memberi angin segar bagi warga fisip, ditengah pandemi seperti saat ini, yg perlu dijaga bukan hanya kesehatan fisik tapi juga kewarasan diri dalam melihat fenomena sekitar kita," ucap Andresa selaku ketua Himadita, yang dihubungi via WhatsApp.

Kegiatan seperti memang diharap dapat menjadi wadah untuk meningkatkan critical thinking dari Mahasiswa Fisip ini sendiri. "Kegiatan diskusi kolaboraksi kemarin itu salah satu cara merawat kewarasan diri dan nalar kita. Sebagai anak fisip kita dituntut menjadi pribadi yg lebih kritis dan solutif, salah satu caranya adalah dengan menciptakan iklim diskusi ditengah mahasiswa". Lanjut Andresa

Kemudian Bayu dari Himasos menyampaikan bahwa kegiatan ini sudah bagus walaupun masih ada beberapa hal yang perlu di perbaiki dikemudian hari.
Selain itu bayu melanjutkan "Tujuan dari acara ini sudah dapat tersampaikan dengan baik, terkait perspektif buruh melalui kelima Hmj, dan sebenarnya dari kegiatan tersebut bisa dibuat beberapa rekomendasi."

Penulis: Jibril Lazuardi

“KITA” MAHASISWA

Perkenalkan, aku adalah mahasiswa
Yang katanya selalu berjajar membela rakyat
Disebut sebagai civitas akademika karena melawan birokrasi
Namun pada era ini katanya hilang eksistensi

Tahun 1998 kata “kita” seakan menjadi agung bagi mahasiswa
Kata “kita” menyatukan mahasiswa, rakyat dan Indonesia
Tapi itu dulu pada era birokrasi menggila
Namun pada era ini apa arti “kita” bagi mahasiswa ?

“Kita” ialah sebuah kata pronomina pesona pertama
Yang terdefinisi dengan begitu banyak arti
Dan semua terarah pada sebuah makna
Tapi sering diartikan kata romantis muda mudi

Namun kini kata “kita” menjadi begitu tabu bagiku
Sering tak selaras dengan hati walau terbelenggu
Tak jarang kata “kita” seakan menjadi benalu
Tapi tetap ku terjebak pada sebuah gang buntu

Hai mahasiswa! Kini apa arti “kita” bagimu ?
Masihkah “kita” menjadi tanggungjawab sosialmu ?
Masihkah kepentingan bersama menjadi prioritas bagimu ?
Ataukah sudah tergerus zaman dan egoismu ?

”Tugas mahasiswa adalah belajar
namun sungguh sangat rugi jika belajar disempitkan 
hanya sebatas bangku perkuliahan saja“
Begitu najwa shihab berkata 

Lalu bagaimana saat ini hai mahasiswa yang agung!
Membawa nama universitas kasana kemari
Memakai jas sekedar untuk sombong pada teman SMU
Namun kerjamu tak berarti bagi negeri

Sungguh aku malu disebut sebagai mahasiswa
Dihormati sebagai orang berpendidikan
Menjadi harapan rakyat bagi keberlangsungan bangsa
Namun yang kulakukan hanya berdiam diri saja

Sungguh teman-temanku wahai mahasiswa 
Tunjukkan pada mereka bahwa kata “kita” tidak mati
Wujudkan tanggungjawab sosial “kita” hai mahasiswa!
Generasi muda bangsa Indonesia!

[Dev]

Rela

            Malam ini, aku duduk sendiri di tepian sungai Han. Disebuah bangku panjang berwarna putih, menatap aliran sungai yang tampak tenang. Angin berhempus menerpa dingin kulit wajahku. Tersenyum sumbang saat dinginnya angin menjalar ke seluruh tubuh.

            “Ku cari di rumah, tak tahunya kau ada disini..” atensiku teralihkan oleh suara bariton milik lelaki yang aku kenal menghampiri gendang telinga. Ku tolehkan kepala pada sumber suara. Netraku menangkap satu sosok dengan senyum lebarnya.

            “Ada apa kau mencariku?” tanyaku kemudian dengan menggeser duduk memberi dia ruang untuk menempati tempat tersebut.

            “Hanya, mencarimu saja... tidak boleh? Salah ya?” hanya tersenyum. Itulah jawabanku untuk lelaki yang kini sudah duduk disamping kananku. Helaan nafasnya terasa berat saat di dengar.

            “Ceritalah, bila kau ingin bercerita.. kau tahu kan kalau aku bisa menjadi kotak surat berjalan?”

            “Aku merasa lelah dengan hubunganku bersama Haera. Dia seperti anak kecil yang selalu merengek. Selalu ingin dimengerti tapi dia tidak mau mengerti padaku.” Kembali, helaan nafas itu masuk dalam gendang telingaku.

            “Lalu, kau masih ingin bertahan dengannya?”

            “Tidak, aku tidak ingin.. aku sudah lelah dengannya. Bantulah aku memikirkan cara untuk memutuskan hubungan laknat ini dengannya.”

            “Yak! Hubungan laknat katamu? Oh Tuhan.. di awal kau sangat menikmati hubunganmu itu bukan? Dan sekarang kau mengatakan itu hubungan laknat? Kau pria kejam Sungjin-ah!” sungguh, aku sudah tidak bisa menahan amarahku pada lelaki satu ini. Bagaimana mungkin, ia mudah bosan saat menjalin hubungan? Tak bisa ku pikirkan.

            “Kau tahu sifat asliku Han, kau mengerti dengan amat sangat jelas. Dan, yah beginilah aku.”

            “Dari pada kau marah, lebih baik kau bantu aku untuk memutuskan hubungan dengannya..” Sungjin menjambak rambutnya frustasi. Selalu seperti ini apabila ia sudah bosan dengan hubungan percintaanya. Datang, dan meminta saran padaku. Aku tak masalah, hanya saja....

            “Bertengkar. Setahuku, itu cara yang paling ampuh untuk memutuskan hubungan bukan?!”

            “Sudah ku lakukan..” ada jeda sesaat sebelum ia melanjutkan kata-katanya.

            “Tak berhasil.. dan aku kehabisan akal untuk meminta putus dengannya.”

            “Selingkuh?” Sungjin membulatkan netranya. Tak percaya dengan kata yang baru saja terucap dari mulutku.

            “Kau gila Han!” mendengar ucapan itu, aku tersenyum masam. Memandang lelaki itu dengan tatapan dalam.

            ‘Ya, aku gila.. dan kamu penyebabnya.’ Jawabku dalam hati.

            Menjadi seorang wanita itu sulit. Banyak yang tidak bisa dilakukan karena tuntutan menjadi seorang wanita yang lemah lembut serta penuh dengan kehormatan. Banyak pula ucapan yang ingin dilontarkan namun tidak bisa terucap karena takut dengan martabat dan kodrat sebagai wanita.

            Soal perasaan, wanita lebih sering memendam dan tidak mau mengutarakan. Entah itu hal yang diinginkan atau tak diinginkannya. Wanita lebih memilih untuk diam dan menutupi segalanya. Berpura-pura bahwa ia baik-baik saja. Mungkin tak semua, namun, mayoritas dari wanita itu sama.

            Begitu pula denganku, yang lebih memilih untuk diam tanpa berucap dan menutupi segalanya dengan berkata bahwa ‘aku tidak apa-apa’ atau ‘aku baik-baik saja’. Karena bagiku, itu adalah sebuah tameng yang bisa menjaga hati agar tidak terluka. Membatasi diriku agar tidak menangis karena hal yang sia-sia.

            Aku mencintai seseorang yang tak akan pernah bisa aku miliki. Meskipun tahu seperti apa akhirnya, hatiku tak mau berhenti untuk mendamba serta memuja. Setiap hari aku dibuatnya jatuh cinta. Kepada laki-laki yang saat ini tengah gundah karena ikatan yang ia buat. Kepada kawanku, kepada partnerku.

            Ini hanyalah sebuah kisah klasik. Berawal dari ikatan pertemanan, yang merasa nyaman satu sama lain, dan berujung pada salah satu dari mereka yang meginginkan lebih. Dalam kisah ini, akulah yang menginginkan kelebihan itu. terdengar tidak tahu diri, namun itulah yang sedang ku hadapi.

            “Ah! Molla! Apapun yang terjadi, aku harus putus dengannya esok.”\

            “Lakukan semaumu.. ku beri saranpun kau tak menggubris.”

&&&

            Siklus kehidupan ‘percintaan’ yang aku jalani terdengar sangat monoton. Siklus itu bergantung pada satu sosok. Seseorang yang mampu membuat hatiku berdebar lebih cepat dari biasanya. Apabila pria itu tengah menjalin hubungan dengan seorang wanita, secara otomatis aku akan membuat jarak dengannya.

            Bukan karena aku membencinya, bukan. Namun aku tak ingin hatiku terluka melihat keduanya. Karena aku berusaha menghargai diriku juga wanita itu. Seberapa lama hubungan itu aku terus bertahan untuk menghindar atau bahkan menghilang. Hanya sesekali aku memantau keduanya. Memastikan keadaan.

            Ketika dia datang dan meminta saran padaku, seperti malam itu, barulah aku mendekat kearahnya lagi. Mencoba memahami dan mengerti kepribadiannya. Berusaha menjadi kotak surat yang mau mendengarkan keluh kesahnya. Aku senang. Karena itu, menandakan bahwa ia percaya sepenuhnnya kepadaku. Aku sungguh menghargai itu.

            “Hentikanlah cinta sepihakmu itu Han.” Tegur Alea padaku sembari memberikan cup americano yang ku pesan beberapa waktu lalu.

            “Sudah saatnya kau bahagia Han. Jangan terbelenggu oleh cinta sepihakmu itu.”

            “Aku tidak terbelunggu Al, dan aku bahagia dengan perasaanku ini.” Sergahku.

            “Bahagia katamu? Kau gila?! Bagaiaman kau bahagia disaat dia terus menyakitimu dengan mengencani wanita lain seperti itu?! Tuhan! Sadarkanlah kawanku ini!”

            “Selama aku bisa dekat dengannya, aku bahagia Al.. toh kalau nanti jadian bisa putus.. sedangkan hubunganku dengannya tidak akan pernah putus. Dia juga tidak mengetahui perasaanku.”

            ‘semoga’ tambahku dalam hati.

            “Dia itu tahu perasaanmu Han! Tapi dia berpura-pura tidak tahu dan dengan brengseknya menyakiti hatimu secara terus menerus! Dia tak pernah melihatmu lebih dari sekedar teman. Dia tak pernah melihatmu sebagai seorang wanita! Mengertilah.” Alea terus saja memekik. Meluapkan amarahnya kepadaku. Aku mengerti perasaannya, tapi apa mau dikata? Hatiku terus menolak untuk melupakan dia.

            “Aku tahu Alea, aku tahu..”

            “Kalau kau tahu dan mengerti, lepaskan dia Han. Aku tak kuasa melihatmu terus menerus disakiti oleh pria brengsek itu. Dia hanya menghamprimu jika dia butuh.. selanjutnya? Tidakkan?!”

            “Aku yang memintanya seperti itu.” Alea menggeram. Berusaha menetralkan emosinya dan menengguk cappucino miliknya.

            “Aku akan berhenti Al. Sungguh. Ketika dia sudah bahagia dan tidak bosan dengan pilihannya. Aku berhenti. Setidaknya, aku ingin melihatna bahagia, tersenyum tanpa beban dan tanpa sesal. Setelah itu, aku akan berhenti.” Jelasku kemudian.

            “Sampai kapan kau akan bertahan Han?”

            “Sampai waktunya tiba.”

&&&

Hari terus berganti menjai bulan. Bulan-bulan pun berganti menjadi tahun. Selama satu tahun ini, siklusnya masih sama. Aku masih bergantung padanya. Dan satu tahun terakhir ini, ia tak bercerinta tentang wanita. Selama satu tahun ini ia habiskan bersamaku. Melalui berbagai musim bersama. Sungguh, aku bahagia karenanya.

            Pernah terbesit tanya dihatiku, apakah dia mulai emelihatku sebagai wanita? Namun pertanyaan itu tak mampu aku lontarkan. Aku terlalu takut mendengar jawabannya. Terlalu takut mengetahui sebuah fakta. Takut dengan segala resikonya.

            Selama satu tahun ini, perasaanku padanya tak pernah berubah. Malah semakin menjadi karena momen-momen bahagia yang telah kami lalui bersama. Kalaupun boleh meminta, aku hanya menginginkan satu permintaan. Tuhan, bisakah kau rubah hatinya? Bisakah kau buat ia jatuh cinta kepada seorang wanita sepertku?

            “Apa yang kau pikirkan?” tanya lelaki itu padaku.

            “Tak ada..”

“Han, selama beberapa bulan terakhir ini aku dekat dengan seorang wanita.. aku ingin menjadikannya wanitaku, menurutmu bagaimana?” hatiku merasa nyeri saat mendengar pengakuannya. Seperti tergores dengan pisau.

“Bisa kau ceritakan dia seperti apa?”

“Dia cantik, baik.. dan dia juga pendengar yang baik sepertimu. Dia mirip dengan tipe ku.” Ia pun mulai bercerita tentang wanita itu. tentang segala perasaannya terhadap wanita itu. aku terus mendengarkannya. Membiarkannya berceloteh tentang wanita itu. rasa nyeri yang aku alami semakin menjadi saat ia mengatakan sudah mantap dan yakin akan pilihannya kali ini.

Aku hanya tersenyum saat mendengarkan celotehannya. Bukan senyum bahagia seprti biasanya, namun senyuman getir untuk menutupi luka. Luka yang teramat sakit dan mungkin sulit untuk terobati. Netraku terus saja menatap wajahnya. Menatap bagaimana binaran netranya saat ia bercerita tentang wanita itu. Terasa panas dan pedih, seolah air mataku ingin tumpah ruah dan membasahi pipi. Ingin rasanya aku berteriak, meluapkan segalanya. Namun, yang aku lakukan sekarang hanyalah tersenyum bodoh dan diam seribu bahasa.

“Doakan agar aku diterima esok hari.” Pintanya padaku. Aku hanya mengangguk, setelah itu, ia pergi meninggalkanku sendiri. Lagi, dan lagi terjadi seperti ini. Terulang kembali dengan luka yang menyayat hati.

&&&

Enam bulan berlalu. Namun, aku masih merasa terbelenggu, dengan sosok dirinya yang masih senantiasa memenuhi hatiku. Memori enam bulan lalu, saat ia bercerita tentang sosok wanita itu, masih terasa segar dalam benakku. Seakan tak ingin enyah begitu saja.

Alea menjadi saksi betapa hancurnya aku hari itu. Betapa kerasnya aku menumpahkan segala emosiku. Kini, iapun menjadi saksi, bagaimana rapuhya diriku etelah menerima kabar bahwa lelaki idamanku akan menihaki wanitanya. Menjadikan wanita itu miliknya dan untuk selamanya.

Dia memberiku sebuah undangan pernikahan yang bertuliskan namanya dan juga wanita itu. ia memberikannya dengan sebuah senyum bahagia, yang enggan untuk memudar barang sesaat.

“Aku gak akan datang Al, aku gak mau..”

“Apa aku salah kalau gak datang Al?”

“Aku bukannya apa, hanya saja aku ingin menjaga hatiku untuk terakhir kalinya..” gumaman-gumaman itu terus saja keluar dari bibirku. Disertai dengan isakan-isakan yang tak mau mereda.

“It’s okay Han.. gapapa.. itu tandanya kamu masih menghargai perasaan kamu sendiri.. udah ya,, jangan nangis lagi..”

“Aku mau berhenti, tapi susah Al..”

“Pelan-pelan kamu teangin diri kamu..” aku masih saja sesenggukan dalam pelukan Alea. Saat memejamkan mata, bayangan wajah bahagianya terlintas dalam pikiranku. Bayangan tawa serta senyumnya terasa nyata dan mampu menyayat hatiku.

Tuhan, apakah ini saatnya untuk aku melepas pria itu? apakah ini waktu yang tepat untuk aku memulai kehidupan yang baru? Tanpa adanya dia disampingku? Bila ini saatnya, mampu kah aku untuk bertahan? Mampukah Tuhan?!

&&&

Hari ini adalah hari pernikahannya. Aku memilih untuk tidak datang, karena aku takut merusak acara bahagianya. Aku duduk bersimpuh diatas ranjang. Ditemani oleh Alea yang masih setia bersamaku. Bila tak ada Alea, aku tidak yakin kalau aku masih hidup saat ini. Karena aku sudah lelah oleh kehidupanku, dan berpikir untuk mengakhiri hidupku. Karena setelah mendapat undangan itu, duniaku serasa berhenti berputar. Terpaku dalam satu waktu yang menyakitkan.

“Udah, jangan di inget terus.. kamu berhak bahagia Han karena kamu wanita yang baik.. kamu mempunyai banyak teman yang sayang dan penuh perhatian padamu.. kamu juga punya kerabat yag masih senantiasa mendukungmu.. you deserve someone better than him Han. You should be happy in your way.”

“Aku pamit pulang dulu, kalau ada apa-apa kamu bisa hubungi aku.”

Selepas kepergian Alea, aku terpaku. Merenungi segala ucapannya. Membuat berbagai pertanyaan tentang ucapan Alea barusan. Setelah lama aku merenung, ku rasa aku mendapatkan jawabannya. Seperti kata Alea, aku harus mampu bahagia tanpa pria itu.

Ku raih ponsel yang tergeletak di nakas dekat ranjang milikku. Jariku mengetikkan beberapa nomor pada dial pad, usai tanda hijau ku tekan, ku dekatkan ponsel itu ke telinga.

“...”

“Maaf, aku tak bisa datang ke pernikahanmu, karena ada banyak alasan yang membuatku memilih untuk tidak datang. Kau tau Sungjin-ah,, aku bahagia atas pilihan yang kau buat.. aku berharap yang terbaik untukmu.. aku bahagia melihat kau bisa menentukan pilihanmu pada seorang wanita yang kau cinta.. aku harap, ini yang terakhir ya.. hahaha”

“..”

“Kau harus bahagia dengan pilihanmu itu.. jangan sampai bosan dengannya karena aku yakin dia tidak semembosankan aku.. jangan sakiti dia, karena aku yakin jika dia adalah wanita yang sangat baik, tentunya lebih baik dariku.. perlakukan dia dengan baik, pantas dan lembut, karena aku yakin bahwa dia berhak mendapatkan hal itu darimu..”

‘Lebih pantas dariku’ imbuhku dalam hati.

“Karena kau sudah bahagia, mungkin ini saatnya untuk diriku merasakan arti kata bahagia. Kau tahu, sampai sekarang aku tak paham betul dengan arti kata itu.. sekarang, aku ingin lebih memahaminya, dan aku tidak mau memahaminya bersamamu. Aku ingin kita berjalan sendiri terlebih dahulu. Mencoba untuk melupa sesaat hingga saat yang lebih baik nantinya.. terdengar egois memang, tapi, ini adalah pertahanan terakhir dari diriku.. ku harap kau mengerti itu. terima kasih atas segalanya. Semoga kau bahagia atas pernikahanmu. Aku pergi dulu, sampai bertemu di lain waktu..”

 

TUT... TTUUTT.... TTTUUUTT...

 

Penulis : [bungsu]

Ketika Pendidikan Tidak Lagi Bermakna

      Baru baru ini terbit sebuah surat pemberitahuan dari Rektor Universitas Jember yang mengundang tanda tanya. Surat ini diterbitkan guna mengatasi wabah covid 19 yang semakin hari semakin ganas di Indonesia. Sekilas surat ini terlihat sebagai upaya yang sangat baik dari Universitas Jember untuk mencegah penyebaran covid 19. Namun jika diteliti lagi, ada beberapa keputusan rektor yang terlihat ganjil. Tepatnya keputusan dalam halaman kedua surat tersebut poin yang ke 6 poin 9, yang mengatakan bahwa:

  1. Penilaian diberikan pada mahasiswa yang hadir/mengikuti kuliah daring dengan rentang nilai BC-B.
  2. Penilaian diberikan pada mahasiswa yang hadir/mengikuti kuliah daring dan mengumpulkan tugas pengganti UTS dan UAS dengan rentang nilai B-AB.
  3. Penilaian diberikan pada mahasiswa yang hadir/mengikuti kuliah daring dan mengumpulkan tugas pengganti UTS dan UAS serta mengumpulkan tugas mandiri,quiz, dan lainnya dengan rentang nilai AB-A.
  4. Penilaian diberikan pada mahasiswa yang hadir/mengikuti kuliah daring secara penuh, mengumpulkan tugas pengganti UTS dan UAS serta mengumpulkan tugas mandiri, quiz, dan lainnya dengan nilai A.

Keganjilan yang saya maksud adalah di dalam keputusan itu tidak dijelaskan bahwa tugas tersebut harus dikerjakan dengan isi yang seperti apa dan bagaimana. Hal ini dapat menimbulkan asumsi bahwa mengumpulkan tugas bagaimana pun isi tugas itu, entah benar atau salah atau dibuat asal asalan, yang penting mengumpulkan semua tugas yang diberikan dosen dan mengikuti kuliah online secara penuh, maka otomatis akan mendapat nilai A.. Tentunya tidak adil jika dibandingkan antara mahasiswa yang benar benar bekerja keras dalam mengerjakan tugas tersebut dengan mahasiswa yang mengerjakan tugas itu secara asal asalan yang penting mengumpulkan tugas tersebut.

Dunia pendidikan Indonesia tercederai sebab hal ini bertentangan dengan peraturan kementrian pendidikan dan kebudayaan RI nomor 3 tahun 2020 tentang standar nasional pendidikan tinggi bab II bagian II pasal 6 ayat 2 yang berbunyi pengetahuan merupakan penguasaan konsep, teori, metode atau falsafah tentang ilmu tertentu secara sistematis yang diperoleh melalui penalaran dalam proses belajar pengalaman kerja mahasiswa penelitian dan pengabdian masyarakakat yang terikat. Pasal 6 ayat 3 yang mengatakan bahwa keterampilan merupakan kemampuan melakukan unjuk kerja dengan menggunakan konsep teori metode atau falsafah tentang ilmu tertentu. Serta keterampilan itu meliputi keterampilan umum yang harus dimiliki sebagai tanda kesetaraan dengan lulusan lain serta keterampilan khusus yang harus dimiliki setiap mahasiswa bidang ilmu tertentu. Bagaimana tingkat pengetahuan seseorang dapat diukur? Serta bagaimana cara dosen dapat mengetahui seseorang memiliki keterampilan umum yang sama dengan lulusan lain? Lebih-lebih mengukur lulusan bidang ilmu tertentu jika kebijakan sistem penilaian perkuliahan yang diberlakukan rektorat seperti ini? Yang penting memgumpulkan semua tugas yang diberikan dosen dan mengikuti kuliah daring secara penuh, maka otomatis mendapat nilai A tanpa memandang isi tugas tersebut.. Bukankah tugas, atau uas diberikan untuk menguji seberapa tinggi dan dalam pemahaman mahasiswa mengenai materi yang diajarkan? Semakin baik tugas dikerjakan atau semakin mendalam jawaban yang diberikan atas soal ujian maka nilai akhir yang didapatkan mahasiswa semakin tinggi. Semua didapatkan dari usaha dan kerja keras tidak dengan asal asalan.

Terkait dengan UUD 1945 pasal 31 ayat 3 dinyatakan bahwa pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan suatu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur dengan undang undang. Dengan sistem penilaian seperti ini, tidak lah mencerdaskan kehidupan bangsa. Mengapa demikian, sebab isi tugas tugas yang dikumpulkan tidak diperhatikan jika mahasiswa mengumpulkan tugas yang isinya adalah hasil plagiasi dari karya orang lain atau mengumpulkan secara asal asalan maka tentunya mahasiswa yang bersangkutan tidak mendapat pengetahuan baru apapun dari tugas tugas yang diberikan pada mata kuliah tersebut. Hal ini tentu tidak dapat dikatakan sebagai upaya mencerdaskan kehidupan bangsa.

 

Penulis : Surya Teguh Wijaya

Pandemi Persulit BEM Lakukan Regenerasi

Pelaksanaan kegiatan perkuliahan secara daring melalui MMP, serta larangan mahasiswa untuk beraktivitas di area kampus Universitas Jember sebagai upaya pencegahan dan pengendalian Covid-19, menghambat re-organisasi Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (BEM FISIP). Presiden BEM FISIP terpilih, Ghandy Herwanto mengungkapkan, BEM FISIP terpaksa harus mengadakan Open Recruitment (Oprec) kepengurusan melalui media online karena kondisi saat ini yang menghambat calon pendaftar untuk mengumpulkan berkas-berkas pendaftaran secara langsung. Sampai saat ini, jumlah pendaftar pada hari pertama belum menunjukkan angka antusiasme yang signifikan.

“Ada dampak yang kami tidak bisa menolak seperti sekarang tanggal 6 April yang hari pertama pendaftaran,  jumlah pendaftar belum menyentuh angka sepuluh pendaftar” ungkap Ghandy.

Ghandy menjelaskan awalnya antusiasme dari warga FISIP untuk Oprec kepengurusan ini cukup bagus, dilihat dari pertanyaan yang masuk kepada BEM FISIP terkait pendaftaran dan persyaratan. “Itu yang sepuluh yang sudah beres, cuman buat yang tanya soal file pdf untuk persyaratan itu udah lumayan banyak, cuman yang final untuk mendaftar itu belum sampai sepuluh” jelas Ghandy

Untuk sistem penyeleksian dari pendaftar nantinya masih akan dibicarakan dengan Wakil Presiden BEM terpilih, Kasfianti Zulhaenah, dengan mempertimbangkan jumlah pendaftar nantinya dimana wawancara untuk OPREC ini akan diadakan via online. “Kalau misalkan dirasa yang mendaftar banyak, maka akan kami bagi dua. Jadi wakil saya juga punya hak buat mewawancarai begitu juga saya” jelas Ghandy.

Akan tetapi Ghandy juga menekankan bahwa dalam wawancara tersebut terdapat rules seperti pemberian bobot nilai jawaban yang akan dijadikan pedoman oleh Presiden BEM maupun wakilnya dalam memberikan penilaian serta keputusan nantinya.

(NABILA DEV)

Rekapitulasi Suara HMJ Pemira FISIP 2020

Telah berlangsung proses penghitungan suara oleh Komisi Pemilihan Umum Mahasiswa (KPUM) di pelataran Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) pada Kamis malam hingga Jumat pagi (13/03/2020). Ketua KPUM, Rachmat Hidayat menyebutkan daftar nama nama ketua terpilih dari masing masing Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ). 
"Untuk dari setiap HMJ yang pertama HIMAHI atas nama Muhammad Dzaki Taufikur Hakim, untuk yang HIMAISTRA Debby Andrean Ady Mahardika, untuk yang HIMAKES Ali Ausath, dan yang terakhir HIMASOS yaitu Bayu Aji Sastra Jendra" jelasnya

Berikut hasil rekapitulasi pemungutan suara dari masing masing HMJ:
1.    HIMAHI (Himpunan Mahasiswa Hubungan Internasional) 
Jumlah Daftar Pemilih Tetap (DPT): 421 mahasiswa
Calon nomor urut 1, M. DZAKY TAUFIQUL HAKIM: 101 suara
Calon nomor urut 2, ARIF SETIAWAN: 52 suara
Jumlah Pemungut:  162 suara
Suara tidak sah: 9 suara

2.    HIMAISTRA (Himpunan Mahasiswa Administrasi)
Jumlah Daftar Pemilih Tetap (DPT): 906 mahasiswa
Calon nomor urut 1, ALFAREZA FIRDAUS: 233 suara
Calon nomor urut 2, DEBBY  ANDEAN ADY MAHARDIKA: 262 suara
Jumlah Pemungut: 507 suara
Suara tidak sah: 12 suara

3.    HIMAKES (Himpunan Mahasiswa Kesejahteraan Sosial)
Jumlah Daftar Pemilih Tetap (DPT): 436 mahasiswa
Calon nomor urut 1, AGUSTINA ANNISATUL KHOFIFAH: 139 suara
Calon nomor urut 2, ALI AUSATH: 154 suara
Jumlah Pemungut: 304 suara
Suara tidak sah: 11 suara

4.    HIMASOS (Himpunan Mahasiswa Sosiologi) 
Jumlah Daftar Pemilih Tetap (DPT): 376 mahasiswa
Calon nomor urut 1, TERRY SISWANTO: 115 suara
Calon nomor urut 2, BAYU AJI JENDRA: 123 suara
Jumlah Pemungut: 246 suara
Suara tidak sah: 8 suara

Sementara itu, diketahui HIMADITA (Himpunan Mahasiswa D Tiga) hanya memiliki satu calon tunggal, Andresa Putri Purwanto dalam kontestasi PEMIRA tahun ini. Andresa Putri secara aklamasi terpilih menjadi ketua HIMADITA tanpa melewati proses pemungutan suara. [pry]

Antusiasme meningkat, TSW Ramai Pencoblos

Kamis, 12 Maret 2020, telah berlangsung agenda Pemilu Raya (Pemira) yang di laksanakan di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP). Ketua KPUM, Rachmat Hidayat, mengatakan fenomena ini berbeda dengan tahun sebelumnya. Antusiasme warga FISIP untuk PEMIRA tahun ini begitu besar. Hal ini terlihat dari banyaknya mahasiswa yang memadati area Taman Super Wifi (TSW) dan pelataran FISIP untuk mengikuti agenda pencoblosan. 
"perbedaan dari Pemira tahun lalu saya rasa untuk pemira tahun ini antusiasnya sangat banyak." ujarnya

Rachmat menambahkan, KPUM tidak menyediakan waktu ishoma lantaran banyaknya mahasiswa yang terus berdatangan. Bahkan, sampai batas waktu pencoblosan, masih banyak mahasiswa yang ingin berpatisipasi
"terbukti dari KPUM sendiri tidak mengadakan Ishoma karena kita melihat antusias dari warganya juga banyak, juga kita lihat kali ini sampai pukul 4 pun masih banyak yang mencoblos juga"

Kemeriahan Pemira tahun ini juga dirasakan oleh para mahasiswa, salah satunya Tifa, Jurusan Administrasi Bisnis 18, ia menjelaskan bagaimana dirinya harus lama menunggu antrian pencoblosan.
"antrinya lama banget, kan banyak ktm ktm yang tertumpuk, jadi aku tinggal, balik lagi belum dipanggil panggil" 

Sementara itu, malam hari usai pencoblosan, akan dilaksanakan proses pengitungan suara. Rachmat mengatakan, pihaknya sudah mempersiapkan dengan matang hal hal yang dibutuhkan untuk proses penghitungan.
"InsyaAllah untuk perkap penghitungan suara sudah, terkait kertas untuk menghitung, jadi sebelum penghitungan kita melakukan.. Mencocokan data terlebih dahulu" [aas, rkn]

Sepakat PEMIRA diundur Kamis Depan

Hasil pertemuan empat pihak sepakati Pemilihan Umum Raya (PEMIRA) di undur tanggal 12 Maret. Demikian disampaikan ketua Badan Perwakilan Mahasiswa, Muhammad Lutfi. Ia mengaku Senin Kemarin, bersama Komisi Pemilihan Umum Mahasiswa (KPUM), Badan Perwakilan Mahasiswa (BPM), dan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) menyepakati PEMIRA dilaksanakan kamis depan.

"Kita menghasilkan solusi untuk mengadakan PEMIRA pada tanggal 12. Sebelumnya kami melakukan pertemuan dengan pihak Dekanat. Jadi disitu dihadiri oleh ketua BPM, ketua KPUM dan juga dari Wakil BEM. Musyawarah itu dipimpin oleh Wadek 3 bu Annas dan dihadiri oleh KTU, Kemahasiswaan, dan juga Kasubag" Ungkap Lutfi.

Pertemuan tersebut, lanjut Lutfi, diarahkan untuk tidak saling menyalahkan dan lebih berkoordinasi untuk mengutamakan pelaksanaan PEMIRA.

"Terkait dengan koordinasi antar pihak yang memang berangkutan terkait dengan PEMIRA diminta untuk saling bersinergi, bukan saling menyalahkan" Tambah Lutfi.

Sementara Ketua KPUM Rahmad Hidayat mengatakan, pertemuan keempat pihak ini sepakat ingin mencari solusi terkait PEMIRA dan tidak saling menyalahkan terkait dengan permasalahan yang terjadi baru baru ini. 

"Kita mencari solusi dan jalan tengah tidak ingin saling menyalahkan. Karena yang kita butuhkan disini solusi. Maka dari itu keempat pihak tersebut, dekanat, KPUM, BEM dan BPM mencari jalan tengah melaksanakan PEMIRA tanggal 12" Ujar Rahmad.

Rahmad menambahkan, ada beberapa pertimbangan yang menyebabkan PEMIRA diundur pada kamis depan, seperti Laporan Pertanggungjawaban BEM yang belum terlaksana hingga hari ini, hingga permasalahan pendanaan PEMIRA yang belum sepenuhnya cair.

"Pertimbangannya LPJ BEM yang belum selesai, persiapan dari KPUM dan yang terakhir pendanaan yang belum sepenuhnya cair" Tambahnya.[raja]

Bayu : Saya Sempat Sakit, Setelah Dibilang Sesat

Tersebarnya isu sesat yang ditujukan kepada pasangan calon ketua HIMASOS, Bayu diakui sempat membuat dirinya drop dan jatuh sakit. Bayu merasa sangat sedih begitu mendengar bahwa ia dituduh memiliki aliran sesat oleh salah satu mahasiswa. Apalagi, orang yang menyebarkan isu tersebut sebelumnya memiliki hubungan yang baik dengannya

“ya setelah mendengar isu itu, selain sedih saya juga sempat drop ya, pikiran pusing, kok bisa sampe sampenya kaya gitu, lagian kita ini berteman disini, ga ada.. awalnya ga ada saling bermusuhan atau apapun, kita sering ngopi bareng, kaya gitu”

Bayu menceritakan pada awalnya, begitu mendengar isu yang beredar, dirinya sempat merasa bingung dan heran. Dirinya bertanya tanya mengapa isu tersebut bisa ditujukan padanya dan viral di media sosial. Dirinya pun bingung sebab tidak merasa pernah mengajarkan teman-temannya ajaran-ajaran sesat.

“Ya saya saat mendengar ada yang menyebarkan kalo saya katanya membawa atau mengangkat ajaran ajaran sesat itu ya gatau, bagaimana ko bisa sampe menyerang.. maksudnya sampe membawa bawa hal hal yang sangat. bisa dikatakan kurang logis ya, karena saya sendiri, menurut saya ya gak ada gerakan gerakan yang seperti itu, seperti yang disampaikan oleh orang orang itu”

Meski demikian, Bayu tidak ingin membawa masalah ini lebih jauh lagi. Ia hanya berharap agar teman teman dapat bijak menanggapi sebuah isu dan mampu menilai sendiri seperti apa ia yang sebenarnya. Ia juga mendoakan, orang orang yang mengatakan dan menyebarkan isu tersebut diampuni dosanya dan masuk surga.

“ya kalo saya sendiri ga perlu panjang lebar menyelesaikan masalah kaya gini ya, biar temen temen sendiri yang mengilhami sebenernya saya itu seperti apa, saya banyak.. sudah sering bertemu teman teman, dan teman teman juga tau saya seperti apa, jadi saya ga mau bawa permasalahan ini lebih jauh, intinya orang orang yang menyebut saya sesat di ampuni dosa dosanya oleh yang maha kuasa, dan semoga khusnul khotimah dan masuk surga” [rkn]

Viral! Maba Sebarkan Isu Sesat Saat PEMIRA

Isu beredarnya pesan suara yang tersebar di media sosial Whatsapp mengundang pembicaraan beberapa kalangan mahasiswa khususnya jurusan Sosiologi. Pasalnya dari pesan suara sekitar 1 menit tersebut, diketahui jelas menyebut nama calon ketua Himpunan Mahasiswa Sosiologi (HIMASOS), Bayu dan Calon Wakil Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Ardy. Kedua calon tersebut dikaitkan dengan salah satu Organisasi Mahasiswa Ekstra (ORMEK) kampus.

Diketahui pesan suara tersebut adalah R, dirinya merupakan mahasiswa baru atau angkatan 2019 Jurusan Sosiologi.

Saat dihubungi melalui telfon seluler, R membenarkan bahwa pesan suara tersebut benar adanya. Namun dirinya mengatakan tidak memiliki motif lain atau mempengaruhi.

"Saya tidak ada motif mempengaruhi atau gimana, jadi kan saya biasa seperti ke teman sendiri cerita-cerita" Ungkap R setelah kami hubungi via telfon. 

R mengaku, perkataan yang dibuatnya berasal dari pengaruh orang lain yang memberi tahu tentang ORMEK tersebut.

"Saya beranggapan kalau misalnya kaya gitu dari awal masuk SNMPTN dikasih tau hati-hati dek jangan ikut PMII. Jadi pemahaman saya seperti itu tanpa saya lihat atau tanya langsung" tambahnya.

Sementara mahasiswa lain yang tidak ingin disebutkan namanya juga mengkonfirmasi bahwa pesan suara yang viral tersebut benar suara temannya, R. 

"Awalnya kan chat biasa atau basa basi, kamu ini coblos nomor satu jangan yang lain" Ungkap mahasiswa tersebut.

Ia menambahkan, dalam pesan suara kurang lebih satu menit tersebut, R menjelaskan semuanya termasuk dengan ujaran tidak mengenakan pada ORMEK tersebut.

"Dia ngirim VN, dia jelasin semuanya. VN satu menit ada" tambah seorang mahasiswa tersebut. [raja]