Pengumuman

Baju Baru Hari Raya: Antara Tradisi dan Konsumerisme

Pandemi covid-19 penyakit menular yang disebabkan oleh coronavirus telah melanda Indonesia selama kurang lebih 3 tahun sejak tahun 2020. Virus ini pertama kali mewabah di Wuhan, Tiongkok. Covid-19 menjadi sebuah pandemi yang melanda banyak negara di seluruh dunia. Covid-19 dapat menyebar dari orang ke orang melalui percikan-percikan dari hidung atau mulut yang keluar saat orang yang terinfeksi batuk, bersin atau berbicara, kemudian menempel di benda dan permukaan lainnya. Orang dapat terinfeksi dengan menyentuh benda atau permukaan tersebut. Menurut databoks katadata, Indonesia telah kehilangan 160,49 ribu orang per 23 Desember 2022 akibat covid-19. Dengan jumlah tersebut, Indonesia menduduki peringkat kedua tertinggi dari Worldometer pada angka kematian covid-19 di Asia. Adanya pandemi covid-19, membuat pemerintah mengeluarkan kebijakan untuk mencegah penularan virus dengan memberlakukan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM). 

Kebijakan PPKM membuat kehidupan masyarakat menjadi berbeda dengan sebelumnya, terutama masyarakat yang beragama Islam terpaksa melalui Bulan Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri di rumah saja. Salah satu tradisi yang biasa dilakukan saat menjelang lebaran ialah membeli pakaian baru di pusat perbelanjaan atau pasar tradisional untuk dikenakan saat Hari Raya Idul Fitri. Namun, karena adanya pandemi dan PPKM masyarakat menjadi tidak bisa membeli pakaian baru secara langsung di mall atau pasar. Akan tetapi, pada tahun 2020 saat menjelang lebaran, masyarakat menjadi lupa kondisi pandemi. Masyarakat berbondong-bondong pergi ke pusat perbelanjaan dan pasar tradisional untuk membeli pakaian baru tanpa memperhatikan protokol kesehatan. Hal ini nyata terlihat dalam beberapa foto yang tersebar di media sosial pada bulan Mei 2020, seperti yang terjadi di Roxy Mall Kabupaten Jember dan Pasar Tradisional Tanah Abang di Jakarta Pusat. Aksi ini merupakan bentuk pelanggaran protokol kesehatan COVID-19. 

Dalam foto yang beredar tersebut, terlihat masyarakat berdesak-desakan menuju pintu masuk mall, bahkan ada warga yang terlihat menggendong anak-anak dan tidak memakaikan anaknya masker. Padahal, anak-anak sangat rentan terpapar virus karena daya tahan tubuhnya yang lemah. Perintah untuk jaga jarak minimal 1 meter pun tak diindahkan sama sekali. Selain itu, terlihat salah satu warga tidak mengenakan masker, ada pula yang mengenakan masker akan tetapi masker diturunkan hingga ke leher. Fenomena ini kembali terjadi pada tahun berikutnya pada bulan Mei 2021 saat menjelang lebaran, Pasar Tradisional Tanah Abang di Jakarta Pusat kembali dibanjiri pengunjung. Masyarakat yang mayoritas beragama islam berbondong-bondong membeli pakaian baru untuk lebaran sebagai simbol rebirth atau lahir kembali ke dunia dalam keadaan bersih. Hal ini dikarenakan Hari Raya Idul Fitri merupakan momen untuk bermaaf-maafan atau biasa disebut kembali ke fitrah (bebas dari dosa). Setelah satu bulan menghapus dosa dengan menjalankan ibadah puasa, maka bulan Ramadan menjadi bulan pengampunan yang akan melahirkan kembali orang Islam seperti bayi tanpa dosa. Sehingga memakai baju baru saat lebaran menjadi simbol umat islam kembali ke dunia dalam keadaan yang bersih.

Ketika pandemi belum benar-benar berakhir, pada tahun 2022 fenomena tahunan ini tetap terjadi. Jumlah kasus positif covid-19 pada tahun 2022 memang sudah banyak mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya. Hal inilah yang memicu bangkitnya euforia masyarakat untuk berbelanja pakaian baru untuk lebaran. Tidak adanya lagi kebijakan PPKM, membuat masyarakat seperti harimau lapar yang siap menerkam (membeli) pakaian baru di mall dan pasar. Dari tahun ke tahun, saat menjelang lebaran Pasar Tradisional Tanah Abang memang selalu banjir pengunjung. Fenomena ini juga menyebabkan lalu lintas disekitarnya menjadi macet. Pada akhir tahun 2022 kebijakan PPKM telah dicabut, kemudian disusul pada tahun 2023 Presiden Jokowi telah memperbolehkan masyarakat tidak menggunakan masker di luar ruangan. Hal ini menunjukkan pandemi telah berakhir di Indonesia, tidak ada lagi yang akan menghalangi masyarakat untuk berbelanja baju lebaran seperti biasanya, semua back to normal. Melansir dari kompas.id, Pasar Tradisional Tanah Abang telah ramai dibanjiri pengunjung yang akan membeli baju lebaran pada 12 Maret 2023. Padahal pada saat itu bulan suci Ramadan saja belum dimulai, tapi antusias masyarakat untuk melaksanakan tradisi membeli baju baru sudah tinggi.

Bulan suci Ramadan dianggap sebagai bulan pengampunan, yang mana umat islam biasanya akan lebih rajin beribadah dan mengerjakan amalan agar mendapat ampunan dari Allah SWT. Asketisme juga menjadi sebuah ajaran dari datangnya bulan suci Ramadan, kita dianjurkan untuk berfokus ibadah dan meninggalkan segala hal yang sifatnya hanya duniawi. Akan tetapi, tradisi atau kebiasaan yang ada di umat islam Indonesia justru berbanding terbalik, konsumerisme saat bulan Ramadan justru meningkat. Adanya perkembangan teknologi membuat masyarakat menjadi semakin konsumtif dengan berbelanja online. Tak hanya pasar dan mall saja yang ramai, namun berbagai e-commerce juga banjir pembeli. Berdasarkan hasil riset Snapcart tahun 2023, sebanyak 85% responden memilih gratis ongkir sebagai promosi yang paling dicari untuk Ramadan. Lalu, sebanyak 75% responden memilih voucher diskon atau potongan harga, 68% responden memilih cashback, 65% responden memilih flash sale, dan 31% responden memilih keseruan hadiah. Riset lain dari JakPat pada tahun 2022 juga menunjukkan aktivitas belanja online meningkat pada pekan ketiga bulan Ramadan, dengan produk yang paling banyak dibeli adalah pakaian (38%). Sebanyak 28% responden menghabiskan Rp300.000 hingga Rp500.000 untuk berbelanja pakaian pada pekan ketiga bulan Ramadan. 

Fenomena tahunan ini merupakan wujud dari gaya hidup yang konsumtif sebagai ciri dari konsumerisme. Konsumerisme adalah “atribut masyarakat” (Bauman, 2007: 28), lebih dari sebuah tindakan konsumsi yang dilakukan tidak dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan (Lodziak, 2002: 2). Konsumerisme selama bulan Ramadan yang meningkat menjadi perdebatan karena sebagian orang berpikir menyambut lebaran harus dengan membeli pakaian baru apapun situasinya, sedangkan sebagian masyarakat yang lain memilih tidak berbelanja dengan mengedepankan kerasionalan pemikiran untuk membeli pakaian hanya jika sudah tidak layak pakai dan ingin mengurangi limbah pakaian. Fenomena konsumerisme setiap lebaran ini disebabkan oleh beberapa hal yaitu pertama, tradisi yang sudah tertanam secara turun temurun sulit diubah. Tradisi berbelanja pakaian baru sudah tertanam sejak dahulu pada masyarakat beragama Islam. Hal ini didasarkan atas pemikiran Hari Raya Idul Fitri memiliki arti kembali suci, berarti masyarakat mengenakan sesuatu yang baru dan suci dalam menyambut dan merayakan lebaran.

Kedua, stigma negatif yang diberikan oleh sebuah kelompok masyarakat sebagai konsekuensi dari tradisi yang sudah tertanam. Stigma itu akan muncul ketika salah satu dari anggota kelompok masyarakat  tidak menjalankan tradisi. Mereka akan dianggap sudah melenceng dari tradisi dan terkesan tidak menghargai datangnya Hari Raya yang suci. Dalam Islam saat merayakan Hari Raya Idul Fitri hal yang harus kembali suci adalah diri seseorang, bukan penampilan luar seseorang. Maka merayakan lebaran tanpa mengenakan pakaian baru bukan suatu kewajiban melainkan hanya sebuah kebiasaan. Ketiga, rasa gengsi dan eksistensi.  Dahulu ada ungkapan cogito ergo sum oleh Descartes seorang filsuf ternama asal Prancis yang berarti aku berpikir maka aku ada. Sekarang di era konsumerisme seolah muncul ungkapan baru yaitu aku belanja maka aku ada. Dimana masyarakat berlomba-lomba berbelanja untuk memenuhi rasa gengsi dan menjaga eksistensi agar diakui oleh masyarakat. Pemenuhan rasa gengsi dan eksistensi dapat terpenuhi dari simbol yang melekat pada barang yang dibeli. 

Sebagaimana yang diungkapkan oleh Jean Baudrillard bahwa yang dikonsumsi bukan lagi use atau exchange value, melainkan “symbolic value”,  maksudnya orang tidak lagi mengkonsumsi objek berdasarkan karena kegunaan atau nilai tukarnya, melainkan karena nilai simbolis yang sifatnya abstrak dan terkonstruksi (Boudrillard, 2004). Simbol yang dimaksud adalah sesuatu yang bersifat abstrak yang melekat pada barang yang dibeli, sehingga mengenakan pakaian baru menjadi simbol yang tersorot pada saat merayakan lebaran atau lambang merayakan. Eksistensi yang berusaha dibangun justru melupakan nilai kebenaran, hal ini dapat dilihat ketika masyarakat nekat berdesak-desakan untuk belanja pakaian saat pandemi covid-19. Mereka rela untuk tidak menjaga jarak (melupakan kebenaran), demi menjaga eksistensi saat lebaran dengan berpakaian baru. Hal ini menunjukkan tindakan yang dilakukan bukanlah tindakan rasional instrumental, yang mana seharusnya tindakan ini dilakukan apabila antara keinginan memenuhi tradisi berpakaian baru saat lebaran (tujuan) dan pembelian pakaian baru sesuai protokol COVID-19 (cara) masuk akal.

 

Penulis: Fatimah Alya (FA)

 

Referensi:

Darmawan, Agus Dwi. (2022). Total Kematian Covid-19 Indonesia Urutan Ke-2 di Asia. Diakses pada 30 Maret 2023, dari https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2022/12/23/total-kematian-covid-19-indonesia-urutan-ke-2-di-asia

Dihni, Vika Azkiya. (2022). Belanja Online Meningkat Jelang Lebaran, Ini Produk yang Banyak Dibeli. Diakses pada 30 Maret 2023, dari https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2022/05/01/belanja-online-meningkat-jelang-lebaran-ini-produk-yang-banyak-dibeli

Rahayu, Isna Rifka Sri. (2023). Tren Perilaku Konsumen Jelang Ramadhan: Pilih Gratis Ongkir Ketimbang Promo Lainnya. Diakses pada 30 Maret 2023, dari https://money.kompas.com/read/2023/03/18/183000226/tren-perilaku-konsumen-jelang-ramadhan.

Ramadhan, Azhar Bagas. (2023). Jokowi: Di Luar Ruangan Sudah Tak Wajib Pakai Masker. Diakses pada 30 Maret 2023, dari https://news.detik.com/berita/d-6584262/jokowi-di-luar-ruangan-sudah-tak-wajib-pakai-masker.

Enola Holmes

Judul : Enola Holmes

Tahun : 2020
Sutradara : Harry Bradbeer

Produser : Mary Parent, Alex Gracia, Millie Bobby Brown, Paige Brown
Pemeran : Millie Bobby Brown (Enola Holmes), Henry Cavill (Sherlock Holmes), Sam Claflin (Mycroft Holmes)

Genre : Misteri, petualangan, crime

Sinopsis

Enola Holmes merupakan film adaptasi dari sebuah novel dengan judul yang sama karya Nancy Springer. Film ini menceritakan seorang remaja perempuan yang cerdik bernama Enola Holmes, tidak lain adalah adik dari detektif terkenal Sherlok Holmes. Enola hidup berdua dengan Ibunya, Eudoria Holmes. Sedangkan kedua kakaknya, Sherlock dan Mycroft Holmes telah memiliki kehidupan dan pekerjaan mereka sendiri di London. 

Enola juga memiliki kecerdasan dan kemampuan bela diri yang baik, ini berkat Ibunya yang mendidik Enola untuk membaca seluruh buku di perpustakaan rumah mereka. Enola juga diajari sains, bela diri, olahraga, serta permainan teka-teki kata. Hal ini berbeda dengan didikan remaja perempuan lainnya pada kala itu, dimana latar film ini merupakan Inggris pada tahun 1880-an.

Pagi saat ulang tahunnya yang ke-16, ibunya menghilang tanpa memberikan ‘jejak’ apapun. Ditengah kebingungan Enola, kedua kakaknya pulang dan justru memberikan beban tambahan bagi Enola karena Mycroft memaksanya untuk masuk ke sekolah asrama perempuan milik Miss Harrison.

Di tengah kepanikan yang melandanya, Enola memilih untuk kabur dari rumah untuk mencari ibunya. Ia hanya berbekal ilmu dan keberanian yang ia miliki. Enola juga mulai mencari ‘petunjuk tersembunyi’ dari sang ibu. Di tengah perjalanan, Enola bertemu dengan seorang pria bangsawan bernama Tewkesbury yang sedang melakukan pelarian juga, dan hidupnya sedang berada dalam masalah serius. Akankah Enola melanjutkan pencariannya dalam mencari Ibunya? Atau membantu Tewkesbury untuk menyelamatkan diri?

 

Kelebihan

Bagi kalian yang suka dengan tontonan bergenre detektif pasti akan menyukai film ini. Film ini juga menggambarkan bagaimana posisi wanita pada masa itu, dimana patriarki masih sangat dijunjung tinggi. Film ini fresh dan memberikan sajian sinematografi yang mempesona. Instrumental-instrumental yang dimainkan dalam beberapa scene memberikan perasaan yang seakan ikut masuk dalam film ini.

 

Kekurangan

Film ini memiliki pembahasan yang sedikit berat dengan memasukkan unsur politik di dalamnya, sehingga bagi yang suka dengan film ringan mungkin akan sedikit kebingungan.

 

Penulis : Maulyda Putri Pangesti (MPP)

Lagi lagi Terjadi, Penjahat Kelamin Semakin Berkeliaran

LPM PRIMA, Jember – Belum lama tersebar kabar viralnya aksi pamer organ intim (ekshibisionisme) di Jl. Jawa 6 melalui sosial media twitter, kini aksi meresahkan tersebut kembali terjadi. Kejadian tersebut terekam kamera CCTV dan tersebar melalui berbagai akun Instagram, salah satunya akun Media Informasi Kabupaten Jember atau @infojember. Dalam salah satu postingannya, tertulis lokasi kejadian aksi pamer kelamin tersebut tepatnya di Perumahan Mastrip yang menunjukkan bahwa pelaku kejahatan ini semakin berkeliaran di daerah kampus dan sekitarnya.   

Tim Pribadi Merdeka Mahasiswa (PRIMA) melakukan wawancara pada pelapor video rekaman CCTV yang tersebar melalui akun Instagram @infojember untuk menanyakan lebih lanjut mengenai sumber dari beredarnya video aksi kejahatan kelamin tersebut. 

“Teman sejurusan dan satu organisasi. Dia mengalami hal itu kebetulan ada cctv di kosnya. Dia cek ternyata terekam sama cctv yg ada. Dia menyebarkan ke grup angkatan dan organisasi agar lebih hati-hati, dan minta tolong disebar luaskan gitu aja si. Terus sampe pada akhirnya beritanya tersebar luas. Sempat ada aparat yg datang juga untuk memintai keterangan ke korban” jelas B selaku teman korban, Selasa (28/3)

Baca Juga Ekshibisionisme, Laki laki Pamer Kelamin di Jl. Jawa 6

Keberadaan pelaku penjahat kelamin hingga saat ini masih dalam proses pencarian karena plat nomor yang digunakan palsu. Korban pun tidak terlalu hafal pada ciri-ciri pelaku, sehingga proses pencarian akan sedikit lebih susah.

“Untuk pelaku sampai saat ini masih proses pencarian, karena nopol yg dipakai palsu tidak bisa dilacak. Korban juga ga terlalu hafal ciri-ciri pelaku dan wajahnya. Jadi mungkin sedikit lebih susah” ungkap B, Selasa (28/3)

Maraknya kejadian aksi pamer organ intim menimbulkan keresahan di masyarakat. Siapapun bisa menjadi korban dari kejahatan ini. Adanya instrumen hukum dianggap tidak sejalan dengan penegakan hukum, sehingga pelaku dari kasus seperti ini tidak pernah tertangani hingga tuntas. 

“Menurutku sih kan juga pelecehan seksual sudah dilengkapi dengan instrumen hukum yang cukup, tapi penegakan hukumnya kurang tegas sama ngentengin. Dari dulu belum ada satu pun orang yg tertangkap, entah memang masih dalam pencarian atau mungkin juga ga dilanjutkan proses hukumnya. Apakah sesusah itu? Menurutku ngga sih kalo untuk polisi karena dengan fasilitas yg mereka punya harusnya bisa. Jadi dari diri kita sendiri lebih hati-hati aja. Apalagi cewe yg suka makai pakaian yg minim dan lain sebagainya. Bukan tentang pakaiannya, mau make baju apapun sebenarnya bisa jadi korban.” jelas B, Selasa (28/3)

 

Penulis : Hauriska Lukmaningtiyas (HL)

Editor   : Tim Redaksi LPM PRIMA FISIP

Tipsen, Kebiasaan Buruk Mahasiswa yang Dilestarikan Bersama

Fenomena titip absen atau tipsen di kalangan mahasiwa, merupakan sebuah fenomena buruk yang tidak jarang kita temui selama masa perkuliahan dan mungkin, kita juga pernah melakukan tipsen semasa perkuliahan kita. Sebenarnya, mengapa tipsen ini masih marak dilakukan oleh mahasiswa?

Titip absen masih marak dilakukan bisa disebabkan oleh banyak hal. Contohnya seperti kurangnya rasa tanggung jawab atas dirinya-sendiri. Dengan kurangnya rasa tanggungjawab ini, mahasiswa akan menggampangkan perkuliahan dan merasa “yang penting presensi aja”. Selain itu, kegiatan tipsen yang sebenarnya adalah pelanggaran justru dianggap sebagai sesuatu yang biasa (dinormalisasi oleh mahasiswa). Sebab itu, kebiasaan buruk ini terus berlangsung hingga sekarang, dan tentunya dampak tipsen ini merugikan mahasiswa itu sendiri. Walaupun jumlah presensi mahasiswa tetap penuh 100% tetapi tentu saja mahasiswa melewatkan pembelajaran penting yang disampaikan dosen. 

Selanjutnya, aktivitas tipsen selain berdampak buruk untuk pelaku juga berdampak buruk bagi mahasiswa lain, terkhusus teman sekelas. Dalam perkuliahan di kelas ketika ada salah satu mahasiswa yang melakukan tipsen, dosen melakukan pengecekan presensi dan diketahui bahwa ada mahasiswa yang mengisi presensi namun tidak hadir. Maka dosen akan menilai kelas tersebut sebagai kelas yang buruk dan mereka yang datang yang mendapatkan getahnya, seperti; omelan dan sindiran. Sehingga kebiasaan tipsen ini harus diubah. Dengan berubahnya kebiasaan buruk tipsen ini, mahasiswa bisa menjadi manusia yang lebih bertanggungjawab atas dirinya-sendiri dan sekitarnya sebagai seorang mahasiswa.

Untuk mengurangi kebiasaan tipsen selain dari mahasiswa, dosen juga perlu mengambil peran dengan cara melakukan pengecekan ulang mengenai siapa saja yang presensi dan siapa yang hadir, apakah sesuai atau tidak. Dosen juga bisa menggunakan wewenangnya untuk menindak lanjut siapa-siapa saja yang melakukan tipsen. Dengan upaya aktif dari pihak mahasiswa dan dosen, kita bisa meminimalisir para oknum mahasiswa tipsen ini. 

Terimakasih. Jangan tipsen, ayo kelas!

 

Penulis: Rima Kumara Dewi (RKD) 

Editor: Tim Redaksi LPM PRIMA FISIP

You Do You

Penulis: Fellexandro Ruby

Oleh: Niken Ayu Dyah Setyorini

Anggota LPM PRIMA

Mahasiswa Hubungan Internasional, Fisip, Unej

 

Berbicara tentang passion, bakat dan minat, pekerjaan, impian hidup dan semacamnya sudah tak  asing lagi di telinga kita. Terutama pada orang berusia dewasa (19+) yang sudah dituntut untuk mempersiapkan masa depan sebaik mungkin. Hal ini membuat kita mencari jati diri, kemampuan diri, dan mencari apa yang sebenarnya kita butuhkan dalam hidup. Tak jarang saat menjalani proses tersebut banyak dari kita yang merasa putus asa, bingung, dan tak tahu arah. Namun, saat ini sudah banyak tersebar buku-buku pengembangan diri (self improvement) yang secara tidak langsung dapat membantu kita para pembaca membangkitkan semangat hidup dan menemukan berbagai cara pandang baru dalam menjalani kehidupan. Salah satu buku yang terkenal yaitu You Do You: Discovering Life Through Experiments & Self Awareness karya Fellexandro Ruby yang terbit pertama kali pada tahun 2020 lalu. Buku ini membahas berbagai masalah yang umumnya terjadi dalam kehidupan manusia seperti mencari jati diri, bimbang dalam menentukan pilihan hidup, rasa kehilangan diri sendiri, dan lain sebagainya. 

Fellexandro Ruby dikenal sebagai food photographer dari Jakarta. Ia melakukan podcast dengan Ario Pratomo yang berjudul “Thirsty Days of Lunch” yang mendapat banyak apresiasi oleh pendengarnya. Selain itu, ia juga membuat komunitas untuk pemuda yang memiliki keinginan untuk belajar belajar bersama di akun instagram @negeripembelajar dan sangat aktif membagikan ilmunya dalam Instagram maupun kanal youtube. Hal inilah yang membuatnya menulis buku You do You yang menekankan pada self awareness sebagai sebuah langkah awal dalam mencari passion dan ikigai. Penulis menyertakan hasil riset yang menunjukkan keunggulan dari orang-orang yang memiliki self awareness yang baik. Selain itu, penulis juga merekomendasikan berbagai media yang bisa digunakan untuk mengenali diri sendiri secara lebih baik lagi.

Apa itu ikigai? Ikigai merupakan kata dari Bahasa Jepang yang berarti sebuah objek yang memberikan alasan untuk hidup, contohnya: keluarga, impian, atau orang tersayang. Ikigai bukan hanya soal apa yang mau kita lakukan dalam hidup (karier/pekerjaan/living), tapi soal kita menjadi siapa dan manusia yang seperti apa (being). Di dalam buku ini, penulis mengatakan bahwa ikigai bukan hanya sebuah ‘purpose’ atau ‘reason for being’ atau alasan untuk hidup. Namun, bisa juga berupa kebahagiaan-kebahagiaan kecil dalam keseharian yang dalam jangka Panjang akan membuat hidup lebih bermakna.

Buku ini merupakan buku yang menekankan pada pengembangan diri. Dengan isi yang padat dan materi bahasan yang komprehensif membuat kita memahami diri lebih baik lagi. Gaya penulisan yang terkesan santai dan ringan membuat kita sangat mudah memahami isinya dengan baik dan merasa dekat dengan penulis. Meskipun pembahasannya tentang karir dan tujuan hidup, buku ini sama sekali tidak membosankan serta membuat kita ingin terus membacanya dalam membantu kita merefleksikan diri. Untuk orang-orang yang sedang putus asa karena usahanya yang tidak membuahkan hasil, buku ini mengingatkan bahwa percobaan dan pengalaman dapat menjadi proses untuk mengenali diri sendiri lebih dalam. Terdapat kutipan yang berbunyi “embrace failure, habiskan jatah gagalmu” karena pencarian ikigai tiap orang berbeda. Jadi, tidak ada patokan khusus bagaimana cara mencapai ikigai karena kepribadian setiap orang pun berbeda. Karena itu, buku ini menekankan pada self awareness dan meningkatkan pengalaman merupakan hal yang sangat penting untuk mencapai ikigai tersebut.

Buku ini menggunakan bahasa gaul anak muda. banyak digunakan kata gue-elo sebagai kata ganti panggilan penulis dan pembaca, dicampur dengan Bahasa Indonesia serta Bahasa Inggris. Saat membacanya kita merasa sedang mengobrol dengan teman sebaya dengan santai. Untuk itu, buku sangat cocok untuk para pemuda yang baru memulai karir hidup dan tujuan hidup kedepannya. Selain itu, penulis menyajikan berbagai pengalaman hidup dalam menggapai tujuan hidupnya yang membuat kita merasa mampu mencoba dan memiliki keinginan improve yang tinggi. Sehingga kita tidak hanya merasakan iri atas kehidupan orang lain. Lalu, penulis memberikan link untuk menentukan tips belajar yang efektif sesuai dengan kepribadian seseorang yaitu visual, audio, membaca dan menulis, serta kinestetik. 

Buku You Do You adalah salah satu buku yang cukup menarik untuk dibaca. Sebab, tak hanya isinya saja yang bermanfaat bagi kehidupan karir kita, tapi juga gaya bahasa yang digunakan mudah untuk dipahami. Penjelasan yang ada di dalamnya mampu membuat para pembaca merefleksikan diri dan berpikir tentang ke arah mana kita harus berjalan untuk menemukan passion kita. Meski media atau link yang diberikan di dalam buku ini tergolong sedikit. Namun, isi dari buku ini sudah lebih dari cukup untuk membuat para pembaca sadar atas diri mereka sendiri dan membangkitkan rasa semangat dalam mencari jalan hidup serta mengerti dengan apa yang sebenarnya kita butuhkan dalam hidup ini.

Terimakasih, selamat membaca buku! 

 

Identitas Buku

Judul Buku : You Do You

Jenis Buku : Non Fiksi

Nama Pengarang : Fellexandro Ruby

Nama Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

Tahun Terbit : 2020

Ketebalan Buku : 235 Halaman

Nomor ISBN : 978-602-06-4934-4

Harga Buku : Rp 128.000,00

Ngabuburit di Masjid Al Hikmah UNEJ: Ada Ratusan Takjil Gratis

LPM PRIMA, Jember -- Setiap hari UKM Mustika dan Panitia Ramadan Masjid Al-Hikmah UNEJ membagikan takjil secara gratis. Mahasiswa atau masyarakat umum bisa mendapatkan takjil tersebut dengan cara mendatangi Masjid Al-Hikmah yang ada di Universitas Jember. Tak hanya takjil, mereka juga membagikan makanan berat (mamirat) secara gratis.

Jumlah takjil yang disediakan Masjid Al-Hikmah UNEJ setiap harinya berkisar 250 porsi, sedangkan untuk mamiratnya disediakan sekitar 200 porsi. Jumlah tersebut bisa bertambah apabila terdapat sumbangan dari pihak luar atau masyarakat umum. 

Setiap sore terdapat Kajian Ramadan (KAROMAH) di Masjid Al-Hikmah, bagi yang hadir akan diberikan kupon. Nantinya kupon tersebut dapat ditukarkan makanan berat (mamirat) gratis untuk buka puasa bersama.

Baca Juga Masjid Al Hikmah UNEJ Gelar Banyak Kegiatan Selama Ramadan

Jumlah porsi mamirat setiap harinya untuk laki-laki sebanyak 100 porsi dan 100 porsi lainnya untuk perempuan. Sedangkan untuk pembagian takjil tidak perlu kupon dan bisa didapatkan selama masih tersedia.

Pembagian takjil ini akan tersedia selama bulan Ramadan. “Itu juga sampai lebaran,” jelas salah satu Panitia Ramadan di Masjid Al-Hikmah, Rabu (29/3)

Selain bagi-bagi takjil, selama bulan suci Ramadan Masjid Al-Hikmah juga menggelar beberapa kegiatan seperti buka bersama, salat tarawih, tadarus al-qur’an, kajian, dan menerima akumulasi distribusi zakat, infaq, maupun shadaqah (ADZIZ). Akumulasi distribusi ini dibuka mulai awal Ramadan hingga menjelang salat idul fitri.

Sampai saat ini belum ada yang mendistribusikan zakat maupun infaq, akan tetapi untuk shadaqah sudah diterima dari kalangan mahasiswa maupun masyarakat umum.         

Kalo untuk ADZIZ belum, kalo untuk shadaqah alhamdulillah dari awal sudah ada,” jawab salah satu Panitia Ramadan yang menjabat sebagai bendahara, Rabu (29/03) 

 

Penulis : Allysa Salsabillah (AS)

Editor   : Tim Redaksi LPM PRIMA FISIP

Diskusi, Ibarat Senjata Perang bagi Mahasiswa

Diskusi mampu menciptakan iklim kompetitif yang akan melahirkan ide untuk diangkat sebagai topik pembicaraan. Mencari ide untuk topik diskusi terkadang sulit untuk beberapa orang, tetapi bagi sebagian orang lain menciptakan ide adalah hal yang biasa. Sebagai contoh topik pembicaraan dapat menemukan kejadian yang sedang hangat di lingkungan sekitarnya dan isu atau wacana baru yang sedang terjadi.

Berstatus sebagai mahasiswa di kampus, dugaan saya mereka hanya berorientasi untuk mendapatkan nilai “A” atau “AB”; tanpa ada kebolongan kehadiran; lulus cepat; dan cari kerja. Lebih jauh dari itu, seorang mahasiswa akan dihadapkan dengan tanggung jawab dibenaknya, atas yang didapatkan selama dibangku perkuliahan. Mahasiswa yang memang benar-benar berjuang dan meniti proses pembelajaran di kampus akan merasakan pahitnya menjalani proses itu. Belum lagi gelarnya, belum lagi peranannya di kala pengabdian kepada masyarakat.

Kehidupan kampus merupakan dunia yang menyimpan begitu banyak potensi yang dapat dieksplorasi dengan baik. Potensi itu ada di dalam diri seorang mahasiswa dengan memanfaatkan fasilitas yang ada. Diri seorang mahasiswa akan berkembang jika ada dukungan dari faktor lingkungan yang mumpuni, serta faktor usaha kesadaran akademik sehingga mampu memupuk kemajuan intelektual mahasiswa dari adanya interaksi positif. Faktor usaha tersebut menyoroti bahwa mahasiswa merupakan generasi muda yang memiliki peranan penting dalam proses maju dan berkembangnya suatu bangsa. Sebab, tanggung jawab mahasiswa salah satunya adalah “Meneruskan keberlangsungan negara yang merupakan tugas kaum muda, termasuk mahasiswa di dalamnya”.

Jika dicermati, arah perkembangan mahasiswa lebih kepada tuntutan akan potensi dan semangat untuk melahirkan motivasi. Menjadikan mahasiswa yang luar biasa, cerdas, serta berbudi pekerti luhur yang sejalan dengan negara dan bangsa ini memang tidaklah mudah. Untuk itu, mahasiswa benar-benar harus mengasah kepribadiannya dengan kesadaran di mana dirinya berada. Budaya membaca, diskusi, dan menulis merupakan budaya yang mengakar secara turun-temurun yang masih melekat menjadi tradisi.

Mahasiswa tanpa membaca, berdiskusi, dan menulis. Selayaknya perang tanpa membawa senjata, karena dari ketiga tradisi itu membuat pribadinya dapat menggali banyak pengetahuan. Membiasakan membaca adalah suatu hal yang dapat dikatakan wajib bagi seorang mahasiswa, dengan membaca dapat memperoleh banyak informasi dan pengetahuan baru tak terbatas. Jika mengikuti perkembangan media kini yang sedang hangat, ialah “Pengesahan Perppu Cipta Kerja” yang melahirkan isu turunan “Degradasi Check and Balances dalam Negara Hukum”, “Perppu Cipta Kerja Untuk Siapa?” ataupun “Kepentingan Rakyat atau Kepentingan Oligarki?”.

Diskusi adalah proses pertukaran pikiran, gagasan dan pendapat antara dua orang atau lebih. Tujuannya adalah untuk mencari kesepakatan dari pandangan ataupun pendapat, tetapi tidak semua proses pertukaran pikiran itu disebut diskusi. Diskusi dilakukan jika ada permasalahan yang hendak dicari alternative solusinya untuk memunculkan solusi (kesepakatan akhir dari hasil berdiskusi) tentang segala persoalan yang dijadikan bahan pembicaraan.

Kata diskusi berasal dari bahasa latin “discussus” yang berarti to examine. Discussus terdiri dari akar kata “dis” dan “cuture”. Dis memiliki arti “terpisah” sedangkan “cuture” yaitu menggoncangkan atau memukul. Secara etimologi, dicuture berarti suatu pukulan yang memisahkan sesuatu atau dengan kata lain membuat sesuatu menjadi jelas dengan cara memecahkan atau menguraikan (Arief, 2002): 145).

Lebih lanjut, kegiatan akademik dilakukan oleh individu yang berusaha mengembangkan potensi dirinya guna memperluas wawasannya. Kegiatan akademik tidak terlepas dari diskusi, sebagaimana diketahui bahwa dengan berdiskusi menjadikan sarana memperluas wawasan dan jejaring sosial melalui interaksi kedua pihak ataupun lebih.

Seorang akademisi sangat penting untuk mengedepankan etika diskusi. Sebab, akan memungkinkan terjadinya keberlangsungan diskusi yang kacau-balau, seperti praktik debat kusir yang tidak menemukan titik terang. Penggunaan bahasa yang baik, menyampaikan pendapat dengan sopan santun, menghargai pendapat lawan bicara, dan menjaga sikap adalah poin penting dalam etika berdiskusi.

Seringkali diskusi masih dipandang sebelah mata. Maka, menyamakan persepsi adalah jalan untuk memudahkan dalam menyelaraskan pandangan yang disampaikan dengan baik. Bertolak belakang dengan tujuan awal bahwa berdiskusi dapat menemukan solusi, melainkan mendapati kebingungan karena informasi yang didapat tidak utuh (simpang siur).

Menurut Killen dalam (Majid, 2013): 200) “diskusi adalah metode pembelajaran yang mengedepankan seseorang pada suatu permasalahan. Tujuan utama metode ini adalah untuk memecahkan masalah, menjawab pertanyaan, menambah dan memahami pengetahuan seseorang, serta untuk membuat suatu keputusan.”

Dari sini dapat ditelaah bahwa ada manfaat dari berdiskusi, yakni: (1) Membiasakan sikap saling menghormati dan menghargai; (2) Dapat mengembangkan daya pikir kritis, pengetahuan dan pengalaman; (3) Melatih untuk berpikir kritis; (4) Menumbuhkan kreativitas; dan (5) Melatih kemampuan berbicara di depan umum. Sehingga, tidak terlepas juga dengan manfaat lingkungan yang mendukung sebagai upaya untuk meningkatkan mutu di bidang akademik ialah dengan cara melalui perbaikan proses belajar. Berbagai konsep, wawasan, dan model tentang proses belajar yang disesuaikan dengan perkembangan zaman dengan mengomparasikan konsep- konsep baru.

Aktualisasinya dapat berupa: diskusi kelas, diskusi kelompok kecil, simposium, diskusi panel, dan lokakarya untuk memaksimalkan proses pembelajaran di bidang akademik. Diskusi kelas merupakan kelompok pemecahan masalah yang biasanya ditemukan di ruang kelas dengan keterlibatan tenaga pendidik (guru/dosen) dan seluruh mahasiswa sebagai peserta diskusi. Lanjut, diskusi kelompok kecil dilakukan dengan melibatkan mahasiswa yang dikelompokkan secara spesifik/khusus yang biasanya beranggotakan 3-5 orang, pelaksanaannya dimulai dengan dosen menyajikan permasalahan secara umum, kemudian dilanjutkan kepada pembagian sub masalah yang harus dipecahkan oleh kelompok kecil. 

Kemudian, simposium sebagai metode mengajar dengan membahas suatu persoalan yang dipandang dari berbagai sudut pandang berdasarkan kemahirannya, ciri khasnya adalah sudah ada tim perumus kongkret untuk memutakhirkan dalam menyampaikan kesimpulan. Lalu, diskusi panel biasanya membahas masalah yang dilakukan oleh beberapa panelis (orang yang bertugas untuk menilai dan memberikan tanggapan, serta fenomena untuk mengujinya), keterlibatan peserta dengan berperan sebagai peninjau para panelis yang sedang melakukan kegiatan diskusi. Selanjutnya, lokakarya sebagai bentuk pertemuan yang membahas masalah praktis, teknis, dan operasional ditandai dengan tindak lanjut dari hasil seminar untuk memelihara perihal konseptual untuk diaktualisasikan secara kontekstual.

 

Penulis: Muhammad Farhan (MF)

 

Sumber Rujukan:

Arief, A. (2002). Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam. Jakarta: Ciputat Press.
Majid, A. (2013). Strategi Pembelajaran. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Majid, A. (2013). TEORI METODE DISKUSI DAN MOTIVASI BELAJAR . Retrieved Maret 25,

2023, from https://sc.syekhnurjati.ac.id/esscamp/risetmhs/BAB21413112073.pdf

Takut Sendirian dan Merasa Kesepian, Bisa Jadi Gejala Autophobia

Autophobia adalah perasaan cemas yang berlebihan terhadap kesendirian, gejala autophobia umumnya ditandai dengan adanya perasaan sering diabaikan atau tidak dicintai sehingga merasa sendiri dan kesepian. Dalam kondisi ini penderitanya memerlukan pendampingan khusus. Jika tidak segera diatasi maka kecemasan ini dapat memiliki dampak yang lebih buruk bagi penderitanya. Namun, ada pula yang hanya membutuhkan keberadaan seseorang bersama si penderita dalam satu ruangan yang sama agar tidak merasa sendiri. 

Ada beberapa faktor yang menyebabkan seseorang memiliki gangguan kecemasan berlebihan terhadap kesendirian. 

1. Merasa dirinya diabaikan 

Ketika sedang bersama tak jarang si penderita mengalami perasaan sendiri ketika berada dalam keramaian, tetapi ketika perasaan ini muncul terlalu sering maka si penderitanya akan merasa kesepian sehingga berdampak pada gangguan kecemasan yang berlebihan. 

2. Gangguan kepribadian 

Gangguan kepribadian ini tentu dapat menjadi pemicu munculnya autophobia. Orang yang memiliki gangguan kepribadian, sangat takut jika ditinggalkan sendiri. Hal ini tentu membuat si penderita merasa tidak mampu dan tidak berdaya.

3. Gangguan kecemasan 

Gangguan kecemasan ini umumnya dirasakan oleh setiap manusia, namun jika gangguan kecemasan ini dirasakan dengan perasaan yang berlebihan tentu harus segera diatasi. Seperti takut terhadap situasi secara berlebihan padahal situasi tersebut belum tentu memiliki dampak yang buruk. Orang yang memiliki gangguan kecemasan berlebihan cenderung akan mengalami autophobia dikarenakan kerap kali memiliki pikiran yang sering dibuat-buat padahal pada kenyataannya belum tentu terjadi (overthinking). 

4. Pengalaman Trauma 

Pengalaman trauma yang pernah dialami oleh penderitanya biasanya akan cenderung memunculkan autophobia. Pengalaman tersebut bisa berupa ketakutan saat berada diruangan yang sempit, atau ditinggalkan orang tua ketika sendirian pada waktu kecil. Pengalaman ini tentu bisa berbekas dalam pikiran sehingga terbawa sampai dewasa. 

5. Faktor biologis 

Faktor biologis dapat mempengaruhi timbulnya autophobia dari saraf otak. Ketika ada ancaman, otak akan secara alami membantu tubuh dan melindungi tubuh agar dapat terhindar dari ancaman tersebut. Seperti ketika denyut jantung meningkat karena akan terjadi sesuatu guna otak merespon sehingga otot akan bekerja sehingga kontraksi terjadi kemudian tubuh ikut berlari. Nah, situasi tersebut sebenarnya aman dan tidak berbahaya tetapi karena faktor biologis sehingga situasi tersebut dianggap berbahaya dan sebagai ancaman oleh sebagian orang yang sendirian hingga akhirnya memicu kecemasan berlebihan. 

Gejala autophobia dapat dirasakan oleh penderitanya. Si penderita biasanya menyadari bahwa ketakutan dan kecemasan yang dirasakan tidak masuk akal, namun si penderita tetap tidak bisa mengendalikan reaksi fisik yang dialaminya. 

Berikut gejala fisik yang diderita oleh autophobia

● Berkeringat 

● Lelah fisik 

● Lelah mental 

● Sesak nafas 

● Detak jantung meningkat 

● Merasakan kebingungan 

● Nyeri dada 

● Pusing 

Cara Mengatasi Autophobia 

Ketakutan yang muncul akibat autophobia bisa berdampak pada kemampuan si penderita dalam menjalankan aktivitasnya sehari-hari, namun tidak perlu khawatir umumnya autophobia dapat diatasi dengan psikoterapi. Kadang penderita autophobia hanya membutuhkan seseorang yang dapat dipercaya untuk mendengarkan segala keluh kesah dirinya sehingga dirinya tidak merasakan kesendirian yang berlebihan. 


 

Penulis : Sri Rahayu (SR)

Editor: Tim Redaksi LPM PRIMA FISIP

 

Referensi 

https://www.alodokter.com/mengenal-autophobia-rasa-takut-berlebihan-terhadap-kesendirian 

Masjid Al Hikmah UNEJ Gelar Banyak Kegiatan Selama Ramadan

LPM PRIMA, Jember– Panitia Ramadan Masjid Al-Hikmah Universitas Jember (UNEJ) mengadakan banyak kegiatan untuk mengisi waktu puasa selama bulan Ramadan. Bekerja sama dengan takmir masjid, kegiatan Ramadan di Masjid Al-Hikmah dimulai dari pagi sampai malam hari. Setiap harinya dari pukul 07.30 hingga 16.00 WIB Panitia Ramadan Masjid Al-Hikmah membuka stand yang bertujuan untuk menerima donasi dari donatur. Hasil donasi inilah yang nantinya digunakan untuk menunjang kegiatan selama Ramadan. 

Agenda kegiatan Ramadan tersebut, antara lain:

  1. MAWADDAH (MAUIDHOH BA’DA DHUHUR AL-HIKMAH), kegiatan ini dilakukan setiap hari Senin-Kamis, ba’da dzuhur.
  2. KAROMAH (KAJIAN RAMADHAN AL-HIKMAH) dan buka bersama, kegiatan ini dilakukan setiap sore selama bulan Ramadan (Ahad sore libur).
  3. Tabligh Akbar, kegiatan ini dilakukan setiap Jumat pagi selama bulan Ramadan.
  4. Sholat Tarawih
  5. Tadarus Al-Qur’an, kegiatan ini dilakukan setiap ba’da sholat tarawih dan diakhiri pada pukul 21.30 WIB.
  6. Sholat Idul Fitri
  7. ADZIS (Akumulasi dan Distribusi Zakat, Infaq, dan shodaqoh), kegiatan ini dilakukan setiap hari dari awal Ramadan sampai Idul Fitri. 

Dengan adanya kegiatan-kegiatan ini, jamaah Masjid Al-hikmah mengalami kenaikan dibanding bulan-bulan biasanya. Hal ini tentu menjadi nilai positif bagi mahasiswa UNEJ dan Masjid Al-Hikmah itu sendiri. Terlepas adanya jamaah yang mengalami kenaikan, terdapat juga hambatan yang menjadi sebuah tantangan tersendiri bagi Panitia Ramadan Masjid Al-Hikmah UNEJ. 

Baca Juga Ngabuburit di Masjid Al Hikmah UNEJ: Ada Ratusan Takjil Gratis

“Hambatan kita adalah kurangnya donatur. Contohnya, ketika berbuka puasa itu masih banyak mahasiswa yang tidak mendapatkan kupon, khususnya pada hari aktif, seperti hari Senin-Jumat.” ucap Ilham Maulana, sebagai Panitia Ramadan Masjid Al-Hikmah UNEJ dan Ketua Umum UKM MUSTIKA, Selasa (28/03).

Untuk mengatasi hambatan ini, Panitia Ramadan Masjid Al-Hikmah UNEJ juga telah mengajukan donasi ke berbagai tempat makan di luar kampus dan juga menerima donasi dari beberapa pegawai dan mahasiswa UNEJ. 
 

Penulis: Lio April Setiawan (LAS)

Editor : Tim Redaksi LPM PRIMA FISIP

The Alpha Girls Guide

Penulis: Henry Manampiring 

Oleh: Sri Rahayu

Anggota LPM PRIMA

Mahasiswa Kesejahteraan Sosial, FISIP, Unej


 

Sinopsis Buku : 

"Pendidikan yang baik itu akan memberi efek domino positif ke banyak aspek kehidupan lain. Dengan berpendidikan yang baik kamu bisa punya akses ke pekerjaan yang layak, punya kesadaran hukum, kesadaran hidup sehat, keinginan berpartisipasi politik dan usaha memberdayakan orang sekitar." said Alpha Sister ( hal 30)

 

Isi Resensi:

Ditengah maraknya generasi galau dan sendu buku ini hadir sebagai antitesis karena ngebahas kalau perempuan itu tidak selemah apa yang orang pikirkan, bahwa perempuan itu memiliki pemikiran logis yang bisa diambil dalam keputusan yang dihadapinya. Buku ini banyak mengambil sudut pandang kenapa perempuan harus logis dan lebih menggunakan akal sehatnya. 

Di dalam buku ini menceritakan tentang alpha female yang diartikan sebagai perempuan ambisius, bertekad kuat, menginspirasi, memimpin dan menggerakkan orang sekitarnya untuk menciptakan perubahan yang berarti. Mereka adalah perempuan-perempuan cerdas, percaya diri (confidence), dan independen dengan keputusannya. Tak heran banyak orang yang segan dan mengaguminya. 

Di dalam buku juga memberikan actionable tips dan juga cara-cara yang bisa digunakan agar perempuan bisa tetap bersinar dan tampil percaya diri dengan apapun tindakan atau keputusan yang diambil.

Dalam buku ini memberikan guide atau panduan untuk bisa menjadi wanita yang smart, independen, mandiri dan dapat menjadi pemimpin. Buku ini memberikan motivasi agar wanita terdorong untuk bisa menjadi alpha female agar dapat meng-upgrade diri setiap harinya menjadi wanita yang lebih baik lagi. 

 

Kelebihan

Buku ini menarik untuk dibaca bagi para kaum alpha maupun wanita yang terdorong untuk dapat menaikan value dan juga meng-upgrade diri menjadi seorang alpha female. Buku ini ini juga mudah dipahami dan bisa menjadi teman rebahan yang bermanfaat, menelisik lebih dalam tentang alpha female dan juga berpetualang untuk mengembangkan diri menjadi mereka.
 

Kelemahan 

Buku ini terlalu banyak mengambil kutipan dan ungkapan dari para alpha girls yang seharusnya halaman tersebut bisa dijadikan sebagai ruang (space) untuk menuliskan hal-hal yang lebih penting. Akan tetapi justru hanya digunakan untuk menulis ungkapan ataupun komentar dari para pembacanya.
 

Identitas Buku

Judul Buku : The Alpha Girls Guide

Penulis: Henry Manampiring 

Penerbit : Gagas Media

Tanggal Terbit : 30 Januari 2020

ISBN : 9789797809546

Tebal Halaman : 280 halaman 

Panjang : 19 cm

Lebar : 13.0 cm

Aktivitas Kuliah di Bulan Ramadan, Mahasiswa: Lemah Letih Lesu

Puasa ramadan baru berjalan selama lima hari, tetapi para mahasiswa sudah merasakan lapar dan hausnya ketika berada di kelas. Mahasiswa harus menempuh waktu kuliah yang padat dengan hanya bermodalkan sarapan di kala subuh. Perjuangan-perjuangan ini diharapkan dibayar dengan pahala berlimpah dari Sang Kuasa. 

Menjalani aktivitas kuliah di bulan ramadan tentu berbeda suasananya dengan hari biasa. Apabila setelah kelas kita akan melipir ke kantin untuk mencari sarapan, makan siang, atau hanya sekedar membeli jajanan kantin. Kini kegiatan itu tidak bisa dilakukan. 

Ditemui siang tadi di salah satu ruang kelas Gedung ISDB, mahasiswa berinsial SI terlihat lemas. Tak ada sapaan seperti  biasanya. “Aku tadi sahurnya cuma pake aoka, dan nasi dengan sosis mentega,” jelasnya. Ia juga mengaku sabar menunggu kumandang adzan maghrib ditemani dengan kelas sore dan rintik hujan sekilas. 

Sedangkan menurut mahasiswa lain yang berinisial IK, dia terlihat sama-sama tidak bertenaga. Padahal kelas saja belum dimulai apalagi dosen belum kunjung hadir. “Kalau dibilang capek ya capek sih, kalau kuliah apalagi full kan itu capek banget kalau puasa gini” kata IK memberi penjelasan. Namun, dengan kondisi lelah ini mahasiswa dengan inisial IK harus tetap mendengarkan dosen mengajar. IK menambahkan jawabannya ketika ditanya apakah perutnya sudah keroncongan. “Beh bukan kerasa lagi,” jawabnya.

Melakukan aktivitas kuliah sambil berpuasa memang tidak mudah. Pusing, lelah, perut keroncongan adalah hal yang wajar dirasakan. Dengan adanya puasa bulan ramadan ini sebagai mahasiswa kita harus belajar untuk menahan nafsu dari godaan dan tetap semangat untuk belajar. Jangan jadikan puasa sebagai terhambatnya motivasi untuk belajar

 

Penulis : Syahrina Rojabar Rizqiyah (SRR) 

Editor   : Tim Redaksi LPM PRIMA FISIP 

Kesibukan Dosen Menjadi Alasan Terhambatnya Sosialisasi Akreditasi Internasional

LPM PRIMA, Jember - Terkait progres pengajuan akreditasi Internasional yang dilakukan oleh pihak Jurusan Hubungan Internasional (HI) Universitas Jember, beberapa mahasiswa merasa tidak ada transparansi maupun sosialisasi mengenai update progres yang diberikan dari pihak jurusan kepada mahasiswa.

Pada Jumat (24/3) lalu Tim Pribadi Merdeka Mahasiswa (PRIMA) mewawancarai Ketua Jurusan (Kajur) HI, Ibu Suyani Indriastuti, tentang minimnya sosialisasi progres pengajuan akreditasi Internasional terhadap mahasiswa. Menurutnya, kesibukan dosen menjadi hambatan kurangnya sosialisasi progres akreditasi internasional kepada mahasiswa jurusan HI.

“Yang menjadi kendala sebenarnya masalah kesibukan, saat ini dosen itu tuntutan administratif-nya banyak sekali ya sehingga dosen harus mampu membagi waktu antara kegiatan akreditasi dengan kegiatan laporan-laporan pribadi dan seterusnya.” jelas Ibu Suyani, Jumat (24/3).

Baca Juga Progres Akreditasi Internasional: Borang Self Evaluation Report Telah Dikirim

Selain karena kesibukan para dosen, Ibu Suyani menjelaskan hambatan sosialisasi juga disebabkan karena kerumitan mengurus akreditasi yang menurutnya cukup kompleks.

“Hambatannya itu memang karena waktu ya, artinya namanya akreditasi itu kan kompleks dan melibatkan semua sistem gitu kan yang disini itu harus benar-benar terlibat.” tambahnya, Jumat (24/3).

Bu Suyani berharap pada waktu kedepan bisa memberi sosialisasi terhadap mahasiswa agar para mahasiswa bisa berkontribusi karena porsi penilaian akreditasi internasional terhadap mahasiswa sangat besar.

“Ya sebenarnya si tau gitu kan banyak sekali item dan porsi mahasiswa dalam akreditasi itu sangat besar. Ya mungkin kita nanti suatu saat bisa bahas itu ya bisa sharing ke mahasiswa biar mereka juga ada support gitu.” pungkasnya, Jumat (24/3).

 

Penulis: Ghoffar Machmud (GM)

Editor: Tim Redaksi LPM PRIMA FISIP

Banyak Mahasiswa Tua HI Tak Kunjung Skripsi, Kajur HI: Skripsi Itu Kan Simple, Kenapa Seolah Olah Menjadi Momok

LPM PRIMA, Jember - Hingga saat ini masih banyak mahasiswa semester akhir jurusan Hubungan Internasional (HI) yang belum bisa menyelesaikan skripsi sebagai syarat kelulusan. Ibu Suyani selaku Kajur HI menjelaskan beberapa faktor penyebab  banyak mahasiswa tak kunjung menyelesaikan skripsi. 

“Kalau dari pengamatan kami lamanya dimana, saya tidak sedang berbicara tentang siapa yang menghambat ya tetapi lamanya dimana itu memang di penulisan skripsi … begitu masuk skripsi itu anaknya hilang, kasusnya itu anaknya hilang, ada yang mungkin dosennya sibuk, kompleks ini gitu kan.” jelasnya, Jumat (24/3).

Hingga saat ini banyak mahasiswa HI angkatan 2016 dan 2017 yang belum lulus. 

"Jadi seharusnya sekarang ini Angkatan 2019 dan sebelumnya itu sudah habis di tahun ini. Angkatan 2018 berarti tahun lalu sudah habis, tapi sekarang kenyataannya kan angkatan 2016 masih ada, 2017 masih banyak, 2018 banyak sekali, 2019 bisa dihitung dengan jari yang sudah lulus gitu.” pungkas Bu Suyani, Jumat (24/3).

Baca Juga Terancam Tidak Lolos Pantau FIBAA, Bagaimana Peran Mahasiswa HI

Ibu Suyani menyayangkan mindset mahasiswa yang menganggap skripsi itu sulit.

“Skripsi itu kan simple, kenapa seolah-olah menjadi momok, itu kan konstruksi dari masing-masing saja seolah-olah susah gitu… tapi tergantung. Artinya tidak semua mahasiswa begitu, ada yang sangat aktif, sangat rajin,” tambahnya Jumat (24/3).

Pihak prodi sendiri mengaku sudah mencari berbagai macam terobosan bagi mahasiswa agar tidak merasa keberatan untuk skripsi. 

“Nah kami sebenernya sudah mencoba untuk mencari beberapa terobosan. Salah satu yang kita lakukan di tahun lalu itu kan dengan sempro menghadirkan calon penguji skripsi, harapannya dengan sudah ketemu penguji berarti anak itu akan lebih terarah jadi nanti kalau sidang tidak dipermasalahkan lagi, tetapi itu ada kendala kayak calon pengujinya sibuk akhirnya kita ubah lagi. Sekarang gausah sempro, sempro itu hanya dengan pembimbing saja, ketika mahasiswa sudah approved bisa langsung research mau apa itu sudah boleh gitu kan, hanya saja kita memberlakukan kolokium dan itu tidak akan menghambat karena hanya sebagai mekanisme latihan anak-anak ketika presentasi. Sempat juga kita kepikiran wacana apa kita treat seperti mata kuliah, tapi itu belum masih wacana karena kan kita harus mengikuti pedoman akademik. Terus juga ada wacana apakah menulis jurnal sudah publish itu sudah bisa jadi pengganti skripsi itu juga masih wacana jadi so far memang masih menggunakan sistem yang sekarang.” tuturnya, Jumat (24/3).

Terkait isu skripsi 40 halaman, Bu Suyani menjelaskan bahwa hal tersebut masih dalam tahap pembukuan dan pihak prodi belum menerima panduan terbaru terkait pedoman penulisan skripsi.

“Sebenarnya itu masih dalam tahap pembukuan karena sampai sekarang pihak prodi belum menerima surat panduan, tetapi itu sudah perna dibahas di level rektorat tentang perubahan pedomah penulisan tugas akhir, tapi sampai sekarang kami belum menerima legal formalnya seperti apa kami belum menerima.” pungkasnya, Jumat (24/3).

 

Penulis: Ghoffar Machmud (GM) 

Editor  : Tim Redaksi LPM PRIMA FISIP

Filosofi Kaizen : Peraturan Satu Menit dalam Pengembangan Diri

Setiap orang memiliki keinginan untuk belajar agar dapat mengembangkan dirinya. Sebagai contoh, kamu ingin belajar bahasa asing atau kamu ingin belajar memainkan gitar, dan sebagainya. Akan tetapi, dari beberapa daftar yang ingin kamu pelajari, tidak ada yang berjalan dengan lancar karena kamu “malas” dan menunda - nunda pekerjaan yang ingin kamu lakukan. Disinilah filosofi Kaizen dapat kamu pakai.

 

Apa itu Kaizen?

Kaizen merupakan filosofi yang digunakan masyarakat Jepang agar lebih produktif. Istilah Kaizen (改善) berasal dari kata Kai (改) yang berarti perubahan dan Zen (善) bijaksana. Dengan begitu, Kaizen dapat dikatakan perubahan diri secara perlahan tapi terus menerus dan bijaksana. 

 “Kaizen is everyday improvement-every day is a challenge to find a better way of doing things. It needs tremendous self-discipline and commitment.” (Masaaki Imai, Founder of Kaizen Institute)

 

Prinsip dari Kaizen adalah melakukan perubahan baik itu dari kegiatan kecil ataupun besar, tetapi harus dilakukan secara berkala setiap hari dengan waktu yang sama. Dalam kebudayaan Jepang, Kaizen dikenal sebagai prinsip satu menit untuk pengembangan diri yang artinya prinsip yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu selama satu menit setiap hari di waktu yang sama. Bahkan untuk orang yang malas pasti bisa melakukan sesuatu untuk waktu satu menit tersebut. Tidak harus berjam-jam tapi kamu bisa melakukannya dari hal kecil yaitu satu menit. Apabila prinsip satu menit berhasil dilakukan dalam jangka panjang, nantinya kamu bisa menaikkan lagi menjadi lima menit, setelahnya kamu bisa jadikan 30 menit atau setelahnya lagi bisa satu jam dan seterusnya. Hal yang paling penting dalam prinsip Kaizen adalah proses dan effort yang dimiliki. Karena kemalasan disebabkan oleh ambisi yang kurang atau terbebani dengan proses yang berat. Dengan begitu, prinsip Kaizen sangat cocok untuk melawan kemalasan. 

 

Menerapkan Kaizen dalam Kehidupan Sehari - hari

Terdapat lima langkah untuk menerapkan filososfi Kaizen dalam melawan kemalasan dan berhasil mengembangkan diri, antara lain : 

  1. Menentukan apa yang akan dilakukan (plan/to-do-list)

Menentukan dan melakukan kegiatan-kegiatan yang ingin dilakukan dengan prinsip satu menit yang sebelumnya secara konsisten. Poin penting tahap ini adalah membentuk kegiatan yang konsisten dan mengubah pemikiran “perubahan itu susah dan butuh waktu lama” menjadi pemikiran “perubahan itu mudah” dengan menggunakan kegiatan kecil prinsip satu menit tadi. 

  1. Membuat suasana nyaman

Membuat susana menjadi nyaman ketika melakukan kegiatan (good mood). Lingkungan juga dapat mempengaruhi proses kegiatan, tidak mungkin seseorang mau untuk melakukan sesuatu jika dipaksa atau dibawah tekanan. Membuat suasana nyaman bisa dilakukan seperti memutar musik, memainkan permainan kecil, atau kegiatan kecil yang bisa membuat suasana hati gembira sebelum melakukan kegiatan utama.

  1. Mempercayai proses (trust the process)

Prinsip satu menit ini mungkin terlihat cukup remeh karena waktu satu menit yang ditekankan ini. Akan tetapi, dari satu menit yang “konsisten” dapat menghasilkan proses yang diharapkan. Dengan percaya pada proses, memiliki pikiran positif dan percaya akan ada kemajuan, maka perlahan hal tersebut membuahkan hasil yang diperkirakan.

  1. Rayakan hasil (sense of victory)

Merayakan setiap keberhasilan kecil yang dilakukan. Dengan begitu, akan membentuk kepercayaan diri untuk berhasil, merasakan kemenangan dari kegiatan kecil. Melakukan self reward dengan usaha yang sudah dilakukan seperti contoh, berlibur ke tempat yang ingin dikunjungi, family time, membeli makanan atau barang yang disukai, atau yang lebih sederhana lagi yaitu memuji diri sendiri. Alhasil sense victory tadi membuat kita ketagihan untuk melakukan kegiatan lagi (pengembangan diri). 

  1. Evaluasi 

Seperti yang diketahui, evaluasi atau refleksi diri untuk kedepannya  menjadi lebih baik. Bukan berarti proses yang dilakukan sudah sempurna, tetapi masih perlu ditingkatkan lagi agar membantu pengembangan diri menjadi lebih baik.

 

Lakukan prinsip Kaizen ini jika ingin melawan kemalasan dalam mengembangkan diri. Cukup memulai selama satu minggu dan lihat perkembangannya, apakah berhasil untuk dirimu?

 

Penulis: Abidah Sholsholat

Editor: Tim Redaksi LPM PRIMA FISIP


 

Refrensi:

http://kaizen-corp.com/philosophy

https://in.kaizen.com/blog/post/2016/07/19/a-japanese-technique-for-overcoming-laziness 

https://satupersen.net/blog/mengenal-filosofi-kaizen 

COCO

Judul: Coco

Tahun: 2017

Sutradara: Lee Unkrich dan Adrian Molina

Produser: Darla K. Anderson

Pemeran Suara: Anthony Gonzalez (Miguel), Gael Garcia Bernal (Hector), Benjamin Bratt (Ernesto De La Cruz)

Genre:  Petualangan, komedi, musical, animation, mystery

 

SINOPSIS

   Film ini menceritakan mengenai Miguel (Anthony Gonzalez) yang sangat menyukai musik, dan dia bermimpi menjadi seorang musisi. Sayangnya keinginannya ini dikekang oleh keluarganya. Keluarga Miguel adalah keluarga pengerajin sepatu. Hal ini disebabkan karena ayah Coco yang seorang musisi, rela meninggalkan keluarganya demi menggapai impiannya. Saat itulah keluarga Miguel mulai membenci musik. Gitar Coco pun juga di hancurkan oleh neneknya saat Miguel ketahuan memainkannya. Satu-satunya orang yang mengerti impiannya dan mau mendengarkan Miguel adalah nenek buyutnya bernama Coco (Ana Ofelia).

   Saat sedang ada perayaan di De Los Muertos, yaitu sebuah perayaan untuk mengingat dan menghormati anggota keluarga yang sudah tiada. Dalam acara itu terdapat kompetisi menjadi musisi, disitulah Miguel memutuskan untuk mencari peluangnya menjadi musisi. Sayangnya untuk mengikuti kompetisi tersebut Miguel harus mempunyai alat musik, namun alat musiknya sudah dihancurkan oleh neneknya. 

   Saat itu Miguel tidak menyerah dan memutuskan mencuri gitar milik Ernesto De La Cruz (Benjamin Bratt) di makamnya. Ernesto merupakan seorang legenda musisi di kota tempat Miguel tinggal dan memang Miguel sangat mengidolakannya, sayangnya Ernesto sudah lama meninggal dunia. Saat Miguel berhasil menemukan gitar milik Ernesto dan memainkannya. Miguel masuk ke dunia baru.

   Saat memainkan gitar milik Ernesto, Miguel masuk ke dunia kematian. Disana lah Miguel bertemu dengan anggota-anggota keluarganya yang sudah meninggal. Di dunia kematian juga Miguel mempelajari seberapa pentingnya keluarga. Miguel dengan dibantu oleh anggota-anggota keluarganya juga akan memecahkan misteri di dunia kematian. Akankah Miguel bisa kembali kedunia nyata? Apakah yang akan terjadi pada keluarganya dan bagaimana impiannya menjadi musisi? Pertanyaan-pertanyaan tersebut akan terjawab ketika kita menonton film ini.

 

KELEBIHAN

   Banyak kelebihan yang bisa kita dapati dari film ini. Film Coco ini mempunyai alur yang mudah di pahami dan tidak berbelit. Film ini juga mempunyai nilai-nilai yang sangat baik, contohnya pentingnya keluarga, kewajiban kita menjaga nilai-nilai tradisi, seberapa penting mengejar mimpi, dan lain-lain. Lagu-lagu Meksiko di dalam film ini juga menarik minat para penonton. Film ini juga mendapat banyak penghargaan, contohnya Academy Award untuk film animasi terbaik (2018), Annie Award untuk film animasi terbaik (2018), BAFTA Award untuk film animasi terbaik (2018), dan lain-lain.

 

KEKURANGAN

   Kekurangan dalam film ini hanya sedikit. Film ini sering melontarkan diksi atau istilah berbahasa Meksiko, tapi tidak dijelaskan mengenai arti dari istilah-istilah tersebut. Salah satu yang dianggap menjadi kekurangan dari film Coco ini bagi banyak orang adalah terdapat film animasi frozen di awal film Coco. Hal ini dianggap sangat tidak dibutuhkan, karena memang penonton datang untuk menonton film Coco, bukan menonton film Frozen.

 

SARAN

   Film ini merupakan film yang mengajarkan kita banyak nilai kehidupan. Film ini juga meraih banyak penghargaan. Film ini sangat cocok untuk ditonton bersama keluarga, selain itu film ini juga cocok untuk ditonton bagi mereka yang ingin mengejar impiannya namun dikekang oleh orang sekitar atau keluarganya.

 

Penulis: Muhammad Rayhan