Dare

By LPM PRIMA FISIP UNEJ

10 Mar 2022 - 09:54:06

1646906045_dare.jpg
image by google image

Berani Berubah Karena Hidup Terus Berubah

Judul buku : Dare! A Book for Those Who Dare to Change Their Lives 

Penulis buku : Wendy Grant

Penerjemah : Laila Qadria

Penerbit : Bright Publisher

Didistribusikan oleh : Mitra Media Nusantara

ISBN : 978-602-5868-03-0

Tebal halaman : 211

Hidup adalah sebuah anugerah yang diberikan oleh Tuhan kepada setiap manusia yang tinggal di dunia. Setiap manusia memiliki perjalanan hidup yang berbeda. Dalam kenyatannya jika hidup ingin mengalami perubahan maka harus berani untuk memilih dan harus berani untuk berubah karena hidup setiap harinya terus berubah. Kehidupan yang sulit ditebak membuat sebagian orang sering mengalami setres sehingga tidak bisa menikmati kehidupannya.

Buku ini berisi tentang latihan mengendalikan diri, mengajak diri untuk pergi ke arah bawa sadar, bagaimana kita belajar mengendalikan emosi, dan keegoisan diri. Berbagai macam latihan yang terdapat di dalamnya sebagai bentuk hipnoterapi. Setelah mengikuti langkah-langkah yang ada, akan bemanfaat membantu berdamai dengan diri sendiri dimana perasaan lebih rileks dan mampu kembali menjadi orang yang lebih kuat dalam menjalankan kehidupan.

“Kemampuan untuk membuang segenap bentuk pertahanan diri membutuhkan pengalaman dan keberanian. Saat bisa menyingkarkan ketakutan dan menolaknya, tidak menyerah terhadap perasaan tersebut berarti anda telah berhasil membebaskan diri”, begitulah kutipan yang terdapat dibagian pendahuluan buku.

Belajar menerima kenyataan hidup bagi sebagian orang tidaklah mudah, belajar untuk terus mencintai diri sendiri atas segala hal yang terjadi dan mengajak untuk tetap percaya diri. Diarahkan untuk melakukan pemenuhan hak terhadap diri sendiri yaitu dengan cara mengekspresikan diri sesuai keinginan tanpa harus ribet memikirkan atau mendengarkan perkataan orang lain.

Lepaskan yang membuat kamu berat, berhenti mendengarkan kata orang ikutilah kata hati dan nikmatilah hidup menurut versi terbaik dari dirimu, karena hidup tidak harus satu rasa dan satu suara dengan orang lain. Setiap orang memiliki tujuan hidup yang berbeda.

Buku ini dikemas dengan apik, memuat sebuah narasi yang bagus. Diajak untuk melakukan meditasi sendirian untuk mengenali “siapa diri kita sesungguhnya” dibantu menggunakan Teknik visualisasi dalam membuat perubahan. Buku ini sangat cocok untuk siapa saja yang ingin berdamai dengan dirinya sendiri, membantu mengurangi rasa insecure dan kecemasan mengenai sesuatu yang sudah terjadi ataupun belum tentu terjadi. Dengan adanya buku ini bukan mengajak orang untuk egois melainkan sebuah langkah untuk mengekspresikan diri dengan jujur dan membantu orang meraih tingkat kehidupan yang lebih tinggi. (Leha)

 

 

 

 

Artikel Lainnya
1650510428_WhatsApp Image 2022-04-21 at 09.41.28.jpeg

21 Apr 2022

Panggil Aku Kartini Saja

Penulis : Pramoedya Ananta Toer

Penerbit : Lentera Dipantara

Oleh : Wilda Aulia

Anggota LPM Prima 

Mahasiswa Hubungan Internasional, Fisip, Unej

“Barang siapa yang tidak berani, dia tidak bakal menang; itulah semboyanku! Maju! Semua harus dilakukan dan dimulai dengan berani! Pemberani-pemberani memenangkan tiga perempat dunia!” (R.A Kartini)

Sering kita mendengar nama “ R.A Kartini” dalam buku pelajaran sejarah yang kita pelajari pada bangku sekolah. R.A Kartini identik dengan perempuan Jawa yang berparas ayu, bersanggul dan berkebaya. Namun, jika ditanya lebih detail, siapa itu R.A Kartini? Tentu, mayoritas masyarakat mengatakan beliau adalah pahlawan nasional Indonesia, tokoh emansipasi wanita, perempuan penegak kesetaraan dan masih banyak hal serupa lainnya. Dengan rekam jejak dan kelebihan-kelebihan yang dimiliki R.A Kartini tersebut mampu membuat masyarakat Indonesia merasa kagum atas perjuangan yang telah dilakukan kala itu. Tidak terkecuali Pramoedya Ananta Toer, Seorang penulis legendaris yang menyatakan kekagumannya melalui karya tulisan. Karya tulisan Pram yang menggambarkan R.A Kartini dari berbagai sisi ini ia tuangkan melalui buku yang berjudul “Panggil Aku Kartini Saja”.

Dalam bukunya Pram memberikan pendapat bahwasannya R.A Kartini merupakan pelopor kesetaraan bagi perempuan sekaligus pemikir modern Indonesia. Perlu kita ketahui, pada masa lalu nilai-nilai budaya menjadi dasar utama dan satu-satunya untuk masyarakat bertindak. Salah satu dari nilai-nilai budaya tersebut adalah pendidikan bukan hal yang penting, sehingga buta huruf masih kerap dijumpai diberbagai daerah. Seperti termuat disalah satu suratnya Estelle Zeehandelaar tertanggal 25 Mei 1899 yang berbunyi “ Bocah perempuan sekolah masuk sekolah! Itu adalah suatu pengkhianatan besar terhadap adat kebiasaan negeriku, kami bocah-bocah perempuan keluar rumah untuk belajar dan karenanya harus meninggalkan rumah setiap hari untuk mengunjungi sekolah,” karena kata Kartini selanjutnya” lihatlah adat negeri kami melarang keras gadis-gadis keluar rumah . pergi ke tempat lain pun kami tak boleh.” Walaupun terdapat budaya demikian, R.A Kartini dengan semangat patriotisme menerjang nilai-nilai budaya yang menurutnya perlu mengalami perubahan. Pram menarasikan pada buku ini bahwasannya R.A Kartini dengan tegas mengatakan “Kami berhak untuk tidak menjadi bodoh” yang menjadi semangat perjuangannya menyuarakan kesetaraan pendidikan.

Pada buku ini Pram telah berhasil menyajikan cerita menarik tentang biografi R.A Kartini dan perjalanan hidupnya dengan begitu signifikan. Judul pada buku ini merupakan perkataan kartini yang menolak secara keras budaya feodalisme. Perkataan tersebut dikutip oleh pram yang termuat di salah satu suratnya ke Estelle Zeehandelaar tertanggal 25 Mei 1899 yang berbunyi: “Panggil aku Kartini saja—itulah namaku.” (hal. 231). Dengan membaca buku ini pembaca dapat memaknai peringatan Hari Kartini yang jatuh pada tanggal 21 April dengan penuh arti. Melalui buku ini pula Pram mempertegas ucapan Soekarno tentang sejarah yang berbunyi “ Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya”.

 


1648007664_WhatsApp Image 2022-03-22 at 21.31.27.jpeg

23 Mar 2022

It Ends With Us, Proses Mengenal dan Keluar Dari Toxic Relationship

Penulis : Colleen Hoover

Oleh : Nora Jasmine 

Anggota LPM Prima 

Mahasiswa Sosiologi,Fisip, Unej 

Stop the pattern before the pattern breaks you” kiranya menjadi benang merah tentang apa yang dibahas oleh salah satu buku bersampul pink yang sedang ramai diburu oleh pecinta buku-buku Import ini. Berawal dari kisah pahit  Lily yang dibesarkan oleh seorang bapak yang abusive, tidak segan menyiksa ibunya secara fisik dan psikis bahkan didepan matanya sendiri hingga pertemuan manisnya dengan Ryle seorang pria yang ternyata membawa nasib serupa pada Lily dengan apa yang dialami oleh ibunya. Novel ini lengkap membahas naik turunnya sebuah hubungan, bahkan separuh dari buku akan membawa perasaanmu melejit naik bahkan senyum-senyum sendiri dengan kisah perjumpaan Lily dengan Ryle, istilahnya butterfly in my tummy melihat manisnya hubungan mereka. Di saat yang sama, pembaca turut dibawa jatuh dalam ekspektasi-ekspektasi hubungan mereka yang berjalan tidak sesuai dugaan.

Realita hubungan yang toxic terurai dengan jelas melalui perspektif korban dalam novel ini, hingga kita dapat meresapi sedih dan kepahitan yang dirasakan oleh Lily mulai dari suara hati hingga pemilihan aksi dalam menghadapi “ketergantungan” terhadap toxic relationship yang dihadapinya. Buku ini kiranya mengajak kita untuk menyadari, peringatan-peringatan awal hubungan “racun” yang terkadang tidak kita sadari, pola-pola yang muncul dalam hubungan seperti tidak ditepatinya janji, permohonan maaf berujung omong kosong dan aksi-aksi kekerasan fisik yang terus berulang menjadi kebiasaan dari seseorang yang abusive.

Novel  kurang lebih 300  halaman ini menggunakan bahasa Inggris yang cukup sederhana dan mudah dimengerti, sehingga cocok bagi para pemula yang inign membaca buku berbahasa asing. Perlu diketahui, trigger warning novel ini yaitu : domestic abuse, gun violence, mentions of suicide, attempted rape on a pregnant women karenanya, rate usia untuk membaca buku ini perlu ditaati dan dihindari oleh sebagian orang. Akhir kata, selamat mencermati dan memahami bagaimana hubungan toxic itu bisa terjadi melalui kisah Lily. Selamat membaca!


1647883334_picture yg mau di unggah.png

21 Mar 2022

Kincir Waktu

INVESTIGASI KISAH KELAM

Oleh: Nindya Andwitasari

Mahasiswa Sosiologi Fisip, Unej

“Alam mengajarkan setiap Ibu yang melahirkan pasti mengeluarkan darah, Wi. Begitulah pemerintahan baru, juga akan diawali tumpahan darah rahim Ibu Pertiwi”

Siapa sebenarnya Dalang dari kerusuhan, pembantaian, dan pemerkosaan besar-besaran yang terjadi pada tanggal 13-15 Mei 1998? Apa motif mereka melakukan itu terhadap Etnis yang sedikit banyak membantu perekonomian Indonesia selama ini? Lalu apa hubungannya dengan pelengseran Pemerintahan diktator kala itu yang disebut dengan pemerintahan Orde Baru? Bagaimana bisa kasus sebesar itu, hingga saat ini tidak terpecahkan? Bagaimana nasib anak cucu para korban pembantaian sadis itu? Dimana mereka tinggal saat ini? Apakah masih ada semangat Merah-Putih di dalam hatinya? Pertanyaan demi pertanyaan berputar membuat asap pekat dalam pikiran Wikan Larasati setelah ia menerima telfon dari Inge dan melakukan perjalan ke kota dengan sebutan “The City that Never Sleep”. Ya telfon dari Inge, sebutan akrab yang bernama asli Elodie Appolonia Francois seorang pemimpin tertinggi Ordo Kesatria Pemeliharaan Kesucian Bumi itu telah mengantarkan Wikan, Jurnalis ternama Majalah Dimensi ke New York City.

            Setelah menginjakkan kaki di New York, tepatnya di depan patung yang masuk kedalam Situs warisan dunia UNESCO untuk bertemu dengan seseorang yang telah mengundangnya,  tragedi kecil terjadi yang ia alami di pelataran patung dengan warna hijau mint itu, tak di sangka tragedi tersebut sebagai ucapan selamat datang kepada Wikan yang akan membawa jurnalis muda terbaik majalah Dimensi kedalam hiruk pikuk tragedi-tragedi besar setelahnya terkait kasus investigasinya itu.

            Tugas pertamanya di kota kunang-kunang ini adalah menuju Safe House yang entah apa tujuannya datang kesana, ada sebuah kejanggalan, Wikan selama perjalanan menuju tempat tersebut harus menutup matanya, entah apa tujuannya yang ia bisa lakukan hanya menurut, sebab ia adalah tamu undangan disini. Tak disangka sesampainya disana ia bertemu dengan salah satu korban kejadian sadis beberapa dekade lalu itu.

Nemi, wanita cantik, berkulit putih bersih, namun sayang kondisi psikisnya tidak sebaik kondisi tubuhnya, ia diam, tatapan sinis di mata menyiratkan api amarah yang mendalam. Tidak banyak informasi yang ia dapatkan dari Nemi, sebab tak lama dari ucapan sapa Wikan yang lembut dan pelukan hangat yang ia berikan, Nemi mendadak pingsan. Tapi siapa sangka, pertemuannya dengan Nemi lebih membawa teka teki dan petualangan investigasi serta tragedi demi tragedi besar jika dibandingkan dengan tragedi kecil yang ia dapatkan di pelataran monument patung Liberty.

            Kecurigaan dan pertanyaan yang timbul setelah pertemuannya dengan Nemi gadis Tionghoa cantik asal Indonesia, ternyata membawa dia bertemu dengan banyak tokoh yang sedikit demi sedikit memberi sinyal jawaban, salah satunya yaitu pertemuannya dengan salah seorang konglomerat Chindo (China Indonesia) di Philadelphia, Papaf sebutan tenarnya dialek yang khas ketika berbicara dengannya, yakni dialek Chindo Semarang sangat kental di dalam tiap kata yang keluar, siapa sangka tokoh tersebut juga ada kaitannya dengan kasus yang di investigasi oleh Esa tentang Rumah Hantu di Tanggerang yang memakan dua korban pembunuhan di dalamnya, kebetulan yang tak disangka.

 Kasus ini semakin menarik, tak hanya Papaf, Wikan juga bertemu mantan aktivis 98 yang berperan penting saat tragedi tersebut, Baper lengkapnya Bagus Perkoso, seorang pelaku bom rakitan Tanah Kusir pada tragedi sebelum Reformasi 1998. Tak hanya Baper, dia ditarik oleh semesta untuk bertemu dengan nama besar lainnya. Seperti Jad dan Fir Tionang, saudara kembar seiras yang bisnis dan perangainya sangat licin. Perkenalannya dengan Domohadi Tjouw keponakan papaf yang hampir saja memperkosa Wikan di rumah kabin tepi sungai Schuykill dengan mencampurkan minumannya dengan obat perangsang. Bertemunya dia dengan Donna, sahabat Tabitha Suradipura, wawancaranya bersama Jenderal Zoelini, datangnya Eunice fotografer muda Dimensi yang mengenal baik Oxa.

 pertemanan antara tamu dan pengawal pribadi yang ditugaskan oleh Inge untuk Wikan selama di New York City yaitu Natasha yang ia rasa ada kejanggalan, Jam Rolex seri terbaik di dunia yang ternyata palsu, yang di dalamnya terdapat alat penyadap suara yang diberikan Glen, wawancara singakatnya dengan Gentari Mudaris anak dari pembisnis ulung yang juga ikut bermain api dalam kasus Investigasi ini. Semua kejadian dan orang yang ia kenal dalam investigasi ini sangat rumit dan spektakuler, sebab bagi Wikan ini seperti susunan Puzzle yang berserakan, yang semuanya saling terhubung kuat. Petualangan yang ia harus selesaikan demi tugasnya, nama baiknya, rahasia besar Ibu Pertiwi, dan martabat bangsanya di mata dunia.

            Novel series karya Akmal Nasery Basral ini sangat apik, bahasa yang mudah dipahami bagi pembaca setianya, alur cerita yang mampu menyulut segala emosi, kejutan-kejutan yang diberikan penulis dalam alur cerita yang membuat pembaca terus penasaran. Latar tempat dan suasana yang tergambar jelas, serta topik yang diangkat menjadi cerita dalam novel ini mampu membuat hati terenyuh dan membayangkan betapa rumit dan sadisnya kedaan dunia dalam melihat suatu tragedi kemanusiaan. Novel ini sangat di rekomendasikan untuk pembaca yang ingin mengenal dunia dan hiruk pikuk dunia hitam dari suatu tragedi di dalam negara dengan bahasa dan pembahasan yang tidak terlalu berat namun mampu menciptakan rasa cinta untuk membaca, namun terdapat beberapa kekurangan, seperti tidak adanya kalimat penjelas dari dialog-dialog pendek yang menggunakan bahasa asing di awal cerita.

 

Penulis: Akmal Nasery Basral

Penerbit: Republika Penerbit

Tahun Terbit: Cetakan I, November 2021

Tebal: 570 Halaman

ISBN: 978-602-9474-40-4     


1625634459_buku.jpg

07 Jul 2021

Please Look After Mom

Mengenal Lebih Dalam Sisi Lain dari Ibu yang Kita Lupakan

 

Identitas Buku :

Judul buku : Please Look After Mom

Pengarang : Kyung Sook-Shin

Penerjemah : Tanti Lesmana

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

Waktu Terbit : Februari 2020

ISBN : 9786020315409

Tebal halaman : 296 Halaman

 

Sinopsis :

Sepasang suami-istri ke kota untuk mengunjungi anak-anak mereka yang telah dewasa. Sang suami bergegas naik ke gerbong kereta bawah tanah dan mengira istrinya mengikuti di belakangnya. Setelah melewati beberapa stasiun, barulah dia menyadari bahwa istrinya tidak ada. istrinya tertinggal di stasiun Seoul.

Perempuan yang hilang itu tak kunjung ditemukan, dan keluarga yang kehilangan ibu/istri/ipar itu mesti mengatasi trauma akibat kejadian tersebut. Satu per satu mereka teringat hal-hal di masa lampau yang kini membuat mereka tersadar betapa pentingnya peran sang ibu bagi mereka; dan betapa sedikitnya mereka mengenal sosok sang ibu selama ini. Perasaan-perasaannya, harapan-harapannya, dan mimpi-mimpinya.

 

Ibu, kata yang sering kita ucap untuk memanggil seseorang yang membawa kita ke dalam dunia ini. Seiring dengan waktu, kita cenderung melupakan banyak momentum dan orang-orang yang hadir dalam perjalanan hidup. Termasuk atas diri kita sendiri dan sosok “Ibu” yang kita kenal. Buku Kyung-Sook Shin yang mendapat berbagai penghargaan salah satunya Prix de I’Inapercu dari Prancis ini bercerita tentang hilangnya seorang perempuan tua di tengah-tengah kota Seoul ketika hendak mengunjungi anaknya. Anak-anaknya yang hidup jauh dari kampung halaman dan sibuk dengan kehidupannya sendiri-sendiri adalah alasan Park So-Nyo dan suaminya bergegas mengunjungi mereka untuk melepas kerinduan. Di tengah-tengah stasiun yang padat, di dalam kerumunan orang-orang yang sibuk di stasiun Seoul itu, dirinya menghilang dan lepas dari genggaman tangan suaminya.

Satu dua cara dilakukan oleh suami dan anaknya untuk menemukan ibu mereka yang hilang tak berbuah apa-apa. Ibunya yang hilang itu, hanya meninggalkan bekas langkah dan kenangan di dalam kepala semua orang yang merasa kehilangan dirinya.

Waktu berlalu, jurang antara ketidakpastian dan hilangnya harapan semakin dalam. Pada saat itu, barulah satu persatu orang yang ditinggalkan merasakan apa itu arti “kehilangan” pada diri mereka. Rumah mereka di desa kecil Chong-up yang hanya ditinggali berdua dengan sang suami menjadi semakin lengang dan berantakan, tidak ada tangan halus yang merapikan kasur dan menyiapkan makan siang. Sang suami pun teringat, bagaimana selama 50 tahun hidup bersama tidak pernah sekalipun ia menunjukkan rasa kasih dan sayang, hingga sesederhana membelikan obat untuk sakit kepala saja tidak dilakukannya “Baru sekarang kau menyadari, dengan hati pedih, bahwa selama ini kau telah menutup mata terhadap kondisi istrimu yang sering bingung dan lupa”.

Buku ini dikemas dengan apik, memuat narasi dan dialog antar tokoh-tokoh yang ada di dalamnya. Bahasa terjemahan yang mudah dipahami sedemikian rupa, tidak seperti buku terjemahan bahasa asing lain yang justru lebih sering membuat kebingungan.

Namun, suguhan alur yang maju mundur akan membuat sebagian pembaca sedikit kebingungan dan membutuhkan waktu lebih untuk mengingat kejadian yang sudah dipaparkan sebelumnya ketika kembali dibahas pada halaman yang saat itu dibaca. Hal inilah yang kiranya membuat sebagian orang akan kesulitan dalam membaca buku ini.

Terlepas dari itu semua, buku ini sangat perlu dibaca setidaknya sekali dalam hidup, mengingat buku ini menyuguhkan sudut pandang lain yang mungkin tidak kita sadari dalam melihat orang lain, khususnya sosok “Ibu” dalam kehidupan kita. Selain menjadi pelajaran, kisah dalam buku ini pun dapat menjadi renungan.

 

-nja.