Wings

By LPM PRIMA FISIP UNEJ

23 Jul 2022 - 15:07:42

1658588860_wings.png
LPM PRIMA FISIP

Oleh : Farhan Surya Indarta

Hari ini cuaca cerah, matahari memancarkan sinar cahayanya yang begitu terang dan terik seakan tersenyum. Aku selalu bersemangat ketika bel sekolah berbunyi tanda pembelajaran sudah berakhir. Seperti biasanya aku pulang sekolah berjalan kaki menyusuri jalan sambil bersenandung dan mengamati orang-orang disekitar yang sedang melakukan aktivitasnya masing-masing. Memang lelah rasanya, tetapi langkah kakiku begitu ringan karena sudah terbiasa berjalan kaki sejuh 2 km setiap harinya.

......

“Assalamualaikum, ibu !” Panggilku bersemangat.

“Waalaikumsalam nak, bagaimana perasaanmu sekolah hari pertama setelah libur semester selama 2 minggu?” Tanya ibuku.

“Senang sekali bu, tadi ibu guru yang mengajarku sangat ramah sekali. Beliau begitu telaten mengajariku dan teman-teman lainnya yang kesulitan dalam memahami materi.” Ceritaku dengan penuh semangat.

“Alhamdulillah kalau kamu senang, yaudah sana makan siang dulu ibu tadi sudah masak tempe penyet kesukaanmu.” Suruh ibuku.

“Baik bu.” Jawabku sambil bergegas menuju meja makan.

Sore harinya setelah tidur siang aku minta izin ibu untuk pergi bermain bola di lapangan karena kemarin sudah janji dengan Joko, teman bermain di rumah yang sepantaran denganku tetapi beda sekolah.

“Bu, aku izin pergi main dulu ya?” tanyaku sambil memohon.

“Iya Dika, hati-hati ya. Ingat jangan pulang larut malam, jam 4 kamu sudah harus ada di rumah.” Jawab ibuku dengan nada yang agak tinggi

“Siap bu.”

Sebelum pergi ke lapangan aku terlebih dahulu ke rumah Joko yang tidak terlalu jauh dari rumahku.

“Assalamualaikum, Joko!” Seruku.

“Waalaikumsalam, eh nak Andika.” Jawab ibu joko.

“Iya, Jokonya ada bu?” Tanyaku kepada ibu Joko.

“Ada nak Dika, sebentar ibu panggilkan.”

“Joko.. Joko.. Joko! dicari nak Andika di depan” Panggil ibu Joko

“Iya bu.” Jawab Joko.

“Ayo Ko main bola di lapangan!” Ajakku kepada Joko

“Baiklah, sebentar aku mau ambil bola dulu ya.”

Aku dan Joko pun bergegas menuju lapangan. Setelah bermain bola cukup lama, aku dan Joko beristirahat sambil bersandar di bawah pohon besar yang berada di tepi lapangan sembari berbincang-bincang.

“Eh Dika, tidak terasa ya kita sekarang sudah kelas 5 SD.” Ujar Joko memulai perbincangan.

“Iya Ko, habis kelas 5 naik kelas 6 habis itu kita akan masuk SMP.” Jawabku sambil memejamkan mata dan menikmati hembusan angin yang sangat sejuk.

“Oh iya, rencana kamu nanti mau masuk SMP mana?” Tanya Joko.

“Sepertinya aku mau masuk SMP Wijaya, kamu tau sendiri kan Ko bagaimana kondisi perekonomian keluargaku.” Jawabku sambil menghela nafa panjang.

“Jangan gitu dong Dika, bagaimanapun keadaannya kita harus tetap bersyukur.” Jawab Joko memberi semangat.

“Iya Ko, bagaimanapun keadaannya aku sudah berjanji pada diriku sendiri kalau aku harus tetap sekolah sampai jenjang yang paling tinggi.” Jawabku sambil mengepalkan tangan dan mengangkatnya tinggi-tiggi.

“Nah gitu dong semangat.” Jawab Joko sambil tersenyum.

“Eh Ko, udah sore nih ayo pulang.” Ajakku sambil bergegas karena takut dimarahin ibu kalau pulangnya kesorean.

Sesampainya dirumah aku langsung mandi kemudian sholat ashar. Setelah selesai sholat aku bersama ibu menonton televisi di ruang tengah sambil menunggu ayah pulang kerja. Tak lama kemudian terdengar suara montor ayah.

“Assalamualaikum.”

“Waalaikumsalam.” Jawab ibu sambil membukakan pintu rumah.

“Andika dimana bu?” Tanya ayah kepada ibu.

“Ada di ruang tengah lagi nonton televisi” Jawab ibu sambil melepaskan jaket yang dipakai ayah.

Ayahku berprofesi sebagai tukang ojek, maka dari itu setiap hari beliau mengenakan jaket untuk melindungi tubuhnya yang tak lagi muda dari teriknya matahari dan guyuran air hujan.

“Andika!” Panggil ayah sambil menghampiriku di ruang tengah.

“Ayah!” Sautku sambil memeluk ayah erat-erat.

“Nak, jangan lama-lama ya nonton televisinya. Ingat, jangan lupa belajar yang rajin supaya apa yang kamu cita-citakan bisa terwujud.” Pesan ayahku.

“Siap komandan.” Jawabku sambil sikap hormat dan kemudian bergegas ke kamar untuk belajar.

Hari sudah semakin malam, aku mengakhiri belajarku dan bersiap untuk tidur. Sebelum aku tidur terlebih dahulu aku ke kamar mandi untuk menggosok gigi. Setiap kali aku mau ke kamar mandi aku selalu mendengar ayah batuk. Entah kenapa setiap malam tiba-tiba ayah sering sekali batuk, aku selalu bertanya-tanya dalam hati. Sampai akhirnya suatu ketika aku bertanya langsung kepada ibuku mengenai hal tersebut. Ibuku bilang kalau ayah hanya sakit batuk biasa saja dan akan reda kalau sudah minum obat dari warung. Tetapi aku merasa ada yang disembunyikan oleh ibuku.

.....

Karena aku sudah berjanji untuk menomersatukan pendidikan, kulalui hari-hari dengan senang hati. Hingga aku merasa memiliki sayap yang bisa membawaku kesana kemari dengan ringannya. Aku membayangkan kalau sayap yang kumiliki ini merupan perwujudan dari kedua orang tua yang selalu mendampingiku dan menjadi motivasi terbesarku untuk terus belajar agar bisa mencapai apapun yang aku cita-citakan.

“Andika Pratama, putra dari Bapak Sujono.”

Pembawa acara wisuda dengan lantangnya memanggil namaku. Tak terasa aku sudah purna dalam menempuh pendidikan selama 6 tahun di SD Utomo. Aku sangat senang  dapat lulus dengan nilai tertiggi. Senyum lebar terpancar pada wajah kedua orang tuaku yayangelihatky menaiki panggung untuk diberi penghargaan karena telah lulus dengan nilai tertinggi.

.....

Aku melanjutkan jenjang pendidikan sekolah menengah pertama di SMP Wijaya walapun sekolah ini bukan termasuk sekolah favorit. Aku masuk SMP Wijaya karena menyesuaikan kondisi perekonomian keluargaku yang bisa dibilang pas-pasan. Selain itu, sekolah ini tidak terlau jauh dari rumah sehingga aku tidak menghabiskan terlalu banyak waktu untuk berjalan kaki pulang ke rumah agar bisa segera membantu ibu berjualan di pasar.

Setelah beberapa bulan masuk sekolah, wali kelasku Ibu Sundarsih memberithukan bahwa akan ada seleksi untuk mengikuti lomba olimpiade matematika tingkat kabupaten mewakili sekolah. Berhubung aku sangat suka dengan pelajaran matematika, begitu mendengar informasi tersebut aku langsung mendaftar dan mengikuti seleksi. Sebelum mengikuti seleksi aku mempersiapkan diri dengan belajar dengan sungguh-sungguh. Seringkali ibu mendapatiku tertidur di meja belajar dengan kondisi buku yang masih terbuka dan pena yang masih dalam genggaman.

“Dika!” Panggil ibuku lirih sambil mengusap kepalaku pelan berusaha membangunkanku.

“Iya bu.” Jawabku sambil merentangkan kedua tangan dan menguap.

“Kalau memang sudah benar-benar mengantuk tidurlah di tempat tidur nak, ini juga sudah larut malam.” Suruh ibuku.

“Baik bu.” Jamwabku sambil membereskan buku

Tiba saatnya seleksi berlangsung, dengan ucapan basmalah aku mulai mengerjakan soal-soal seleksi. Seleksi berjalan dengan lancar, beberapa hari kemudian hasil seleksi diumumkan di papan pengumuman. Aku terkejut dan merasa senang sekali karena namaku berada diposisi nomor 1 dan dinyatakan lolos seleksi dan berhak mengikuti lomba olimpiade matematika tingkat kabupaten mewakili sekolah. Aku langsung memberitahu kabar baik ini kepada ayah dan ibu setelah pulang sekolah.

“Ayah ibu, Andika punya kabar baik.” Kataku memulai obrolan.

“Kabar baik apa nak?” jawab serentak ayah dan ibu yang terlihat penasaran karena sebelumnya aku tidak memberitahu mereka kalau aku mengikuti seleksi olimpiade matematika.

“Mau tau aja atau mau tau banget?” Jawabku meledek.

“Kabar apa sih nak, ibu jadi tambah penasaran.” Jawab ibu sambil saling pandang dengan ayah.

“Andika berhasil lolos seleksi untuk mengikuti lomba olimpiade matematika tingkat kabupaten.” Jawabku sambil memeluk kedua orang tuaku.

“Alhamdulillah, kamu hebat nak. Ayah doakan kamu bisa menang dalam lomba olimpiade matemtika yang nantinya akan kamu ikuti.”

“Ibu juga akan terus mendoakanmu nak.” Saut ibu berkaca-kaca

“Terimakah yah, bu atas doanya, Dika janji akan berusaha semaksimal mungkin untuk melakukan yang terbaik.”

.......

Aku berhasil menjadi juara 1 olimpiade matematika tingkat kabupaten berkat doa dari kedua orang tua dan juga usaha kerasku selam ini. Juara 1, 2, dan 3 olimpiade matematika tingkat kabupaten berhak untuk mengikuti olimpiade matematika tingkat provinsi. Aku sangat senang dan bersemangat menyambut olimpiade matematika tingkat provinsi yang akan berlangsung satu bulan lagi. Disamping mempersiapkan untuk mengikuti lomba olimpiade matematika tingkat provinsi aku juga tidak lupa dengan tugas-tugas sekolah yang diberikan oleh bapak ibu guru.

Aku benar-benar sudah berusaha semaksimal mungkin dan ku pasrahkan semuanya pada Allah SWT. Lagi-lagi alhamdulillah terucap, aku berhasil menjadi juara 1 lomba olimpiade matematika tingkat provinsi dan berhak mengikuti lomba olimpiade matematika tingkat nasional. Selama dua minggu aku dibimbing oleh Pak Sucipto selaku guru pengajar pelajaran matematika di sekolah untuk mempersiapkan mengikuti lomba. Selama bimbingan aku mendapatkan dispensasi untuk tidak mengikuti pelajaran dalam kelas selama dua minggu.

Saat lomba akan berlangsung aku benar-benar merasa sangat gugup dan kurang percaya diri. Pak Sucipto yang saat itu mendampingiku berusaha untuk menenangkanku.

“Andika jangan gugup ya, Pak Sucipto yakin kamu pasti bisa.”

“Iya pak, bismillah mudah-mudahan lombanya berjalan dengan lancar.”

“Aamiin.” Saut Pak Sucipto.

Lomba berakhir, aku dan Pak Sucipto cemas menunggu hasil lomba yang akan langsung diumumkan segera. Setelah 2 jam menunggu, akhirnya hasilnya diumumkan. Namaku disebut pertama kali dan dinobatkan sebagai pemenang lomba olimpiade matematika tingkat nasional dan mendapatkan beasiswa masuk SMA favorit. Ucapan hamdalah tak henti-hentinya ku ucapkan sambil memeluk Pak Sucipto yang menangis bangga kepadaku. Setelah acara berakhir aku diantar Pak Sucipto pulang ke rumah. Sesampainya di rumah entah kenapa raut wajah ibu terlihat sedih.

“Bu, ada apa?” Tanyaku penasaran.

“Ayah nak, ayah masuk rumah sakit.” Jawab ibu terbata-bata.

“Kok bisa bu? Sebenarnya ayah sakit apa?” Tanyaku semakin penasaran.

“Ayah sebenarnya sakit paru-paru.” Jawab ibu sambil meneteskan air mata.

“Jadi selama ini batuk yang dialami ayah itu sudah parah? Kenapa ibu baru cerita sekarang.” Sedikit kecewa.

“Maafin ibu nak, ibu merahasiakan ini karena biaya untuk berobat ayah itu mahal dan ibu takut kamu cemas.”

“Seharusnya ibu tidak perlu seperti itu.”

Aku dan ibu pergi ke rumah sakit untuk mengetahui kondisi ayah.

“Yah, bagaimana kondisi ayah sekarang?” Tanyaku sambil berkaca-kaca.

“Ayah baik-baik saja nak tidak usah khawatir.” Jawab ayah berusaha kuat dan baik-baik saja.

“Alhamdulillah, ayah sehat-sehat terus ya jangan sampai kecapean.”

“Iya nak.”

“Yah, bu sebenarnya aku mau memberitahukan sesuatu.”

“Ada apa nak?” Tanya ayah.

“Aku berhasil menang lomba olimpiade matematika tingkat nasional.” Jawabku sambil meneteskan air mata karena masih tidak menyangka.

“Alhamdulillah Ya Allah.” Ucap ibuku sambil sujud syukur.

“Ayah bangga nak padamu.” Sambil meneteskan air mata dan berusaha memelukku dengan kondisi yang masih lemas.

.....

Sungguh tak disangka aku bisa masuk SMA Bangsa yang merupakan slah satu sekolah favorit. Sekarang aku tidak perlu memikirkan lagi mengenai biaya sekolah, karena aku masuk sekolah favorit ini melalui beasiswa yang dIberikan saat aku berhasil menjadi juara pada lomba olimpiade matematika tingkat nasional.

Satu tahun telah ku lalui di SMA Bangsa, menginjak kelas 11 aku mencoba mendaftarkan diri untuk mengikuti OSIS (Organisasi Siswa Intra Sekolah). Setelah mengikuti berbagai tahapan seleksi, pada akhirnya aku terpilih untuk mengemban jabatan sebagai ketua OSIS. Disela-sela kesibukan sekolah dan juga kegiatan OSIS aku juga tidak lupa untuk membantu ibu berjualan di pasar. Dari hasil jualan inilah ibu bisa membayar biaya rumah sakit ayah yang masih dirawat. Aku juga memberikan sedikit tabunganku kepada ibu untuk tambahan membayar biaya rumah sakit ayah walaupun sedikit memaksa karena sebenarnya ibu tidak mau menerima uang pemberianku.

Aku juga menyempatkan menjenguk ayah ke rumah sakit beberapa kali ditengah-tengah kesibukanku disekolah.

“Yah, sudah waktunya makan siang ini Dika bawakan makanan kesukaan ayah.”

“Iya nak, terima kasih ya.” Jawab ayah sambil meraih sendok yang ku pegang.

“Biar Dika suapin aja yah.”

“Baik nak.”

“Ayah harus makan yang banyak ya, biar cepat sehat dan bisa kumpul bareng lagi di rumah.” Ucapku sambil menyuapi ayah.

“Ayah sudah sehat nak, kamu jangan cemas.” Saut ayah.

“Sebentar lagi Dika mau naik kelas 12, Dika mau nanti ayah sama ibu bisa menghadiri acara wisuda.”

“Iya nak, ayah janji pasti bisa cepat sembuh dan akan menghadiri acara wisuda bersama ibu.”

Satu periode masa jabatan sebagai ketua OSIS sudah berakhir. Ini adalah tahun terakhirku menempuh pendidikan di SMA Bangsa. Berbagai rangkaian ujian telah terlaksana dan terselesaikan, waktu wisudapun akan segera dilangsungkan.

Aku merasa senang karena tidak lama lagi akan diwisuda untuk yang ketiga kalinya setelah wisuda SD dan SMP. Namun, disisi lain aku juga merasa sedih karena kondisi ayah yang semakin hari semakin memburuk. Disini aku merasa salah satu dari sayapku terluka parah dan aku tidak bisa terbang jauh lagi.

Undangan wali murid untuk menghadiri acara wisuda telah dibagikan kepada setiap siswa. Sampai akhirnya tiba dimana akan dilangsungkannya wisuda ayah masih terbaring di rumah sakit. Walapun ayah sudah berjanji akan datang tapi aku memaklumi karena kondisi ayah yang tidak memungkinkan untuk bisa hadir dalam acara wisuda.

“Mutiara Citra Patmasari, putri dari Bapak Sugeng.”

“Wisudawan selanjutnya, Muhammad Faisal Malik, putra dari Bapak Maliki.”

Satu per satu nama siswa sudah dipanggil, tibalah giliran namaku dipanggil.

“Andika Pratama, putra dari Bapak Sujono.”

Aku pun berjalan menaiki panggung dengan raut wajah campur aduk, tersenyum tetapi juga ada rasa sedih karena ayah tidak bisa hadir dalam acara penting ini. Ketika menuruni panggung aku melihat ibu nampak sedang berbincang-bincang ditelepon sambil sesenggukan. Ku hampiri ibu dan bertanya.

“Kenapa bu?” Tanyaku panik.

“Ayahmu nak?” Jawab ibu sambil tak berhenti meneteskan air mata.

“Ayah kenapa bu?” Tanyanku semakin panik dan cemas.

“Barusan ibu mendapat telepon dari dokter kalau ayahmu sudah dinyatakan meninggal dunia.” Jawab ibu sambil gemetar

“Tidak mungkin bu, pasti ayah baik-baik saja kan? Ayah pasti segera sembuh kan bu? Pasti ibu salah dengar.” Sambil menangis.

“Tidak nak, dokter benar-benar mengatakan kalau ayahmu sudah meninggal dunia.”

“Ayah! Ayah!” teriakku sekencang-kencangnya

Aku dan ibu segera bergegas ke rumah sakit meninggalkan acara wisuda yang masih berlangsung. Sesampainya rumah sakit, ayah sudah terselimuti oleh kain kafan. Disitulah tangisan ibu dan tangisanku pecah sejadi-jadinya.

“Ayah bangun! Yah bangun!” Seruku sambil menggerak-gerakkan badan ayah.

“Sudah nak, ikhlaskan saja ayahmu. Doakan agar ayah mendapatkan tempat terbaik disisiNya.” Ibu mencoba menenangkanku sambil mengelus bahuku.

Kemudian jenazah ayah dibawa ke rumah menggunakan mobil ambulan rumah sakit. Sesampainya dirumah jenazah ayah disholatkan kemudian segera dimakamkan di TPU (Tempat Pemakaman Umum) terdekat.

Terhitung dua bulan ayah telah meninggalkanku dan ibu untuk selamanya. Masih terasa sulit untuk melepaskan ayah, tetapi aku percaya ini semua sudah menjadi suratan dari Sang Pencipta. Sayapku patah satu, yang dulunya aku bisa terbang kesana kemari sekarang untuk berjalan saja aku sempoyongan seperti tak punya tenaga. Aku benar-benar terpuruk dengan kepergian ayah.

Aku tidak mungkin membiarkan ibuku yang hampir menginjak kepala lima bekerja sendirian, aku putuskan untuk mencari pekerjaan dan mengubur sementara impianku yang ingin melanjutkan pendidikan lebih tinggi lagi di bangku perkuliahan. Lulusan SMA sepertiku mungkin nantinya tidak bisa mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang tinggi, tetapi setidaknya aku bisa sedikit meringankan beban ibuku.

Aku diterima kerja di toko kelontong, setiap harinya aku harus menjaga toko tersebut hingga larut malam. Sebelum aku berangkat bekerja, setiap habis subuh aku membantu ibu untuk menyiapkan barang dagangan yang akan dijual di pasar. Mungkin seharusnya upah yang aku terima menyesuaikan jam kerjaku, tetapi realitanya upahku tak sebanding dengan lamanya aku bekerja. Meskipun begitu aku tetatap bersyukur menerima apa yang telah Allah SWT berikan kepadaku.

Semakin hari keadaan perekonomian keluargaku semakin memburuk karena lilitan beberapa hutang untuk tambahan biaya rumah sakit bapak dulu. Suatu ketika saat aku berangkat bekerja, aku melihat sosok laki-laki yang sudah lanjut usia menjajakan koran di lampu merah. Aku memanggil laki-laki itu dengan tujuan untuk membeli korannya.

“Pak! Pak!” Teriakku sambil melambaikan tangan kepadanya.

Sosok laki-laki itu menoleh dan menghampiriku di tepi jalan.

“Iya nak, ada apa ya?” Tanya laki-laki itu.

“Saya mau beli koran bapak.” Sambil menyodorkan uang yang sengaja kulebihkan.

“Wohh iya, ini nak korannya. Nak, ini uangnya kelebihan.” Ujar laki-laki itu.

“Tidak apa-apa pak, anggap saja itu rezeki dari Allah SWT.” Jawabku sambil menolak pengembalian dari laki-laki itu.

“Makasih ya nak. Maaf sebelumnya, ini dengan nak siapa ya?” Tanya laki-laki itu sambil mengajukan tangannya untuk bersalaman.

“Nama saya Andika pak, bapak sendiri namanya siapa?” Jawabku sambil bersalaman.

“Panggil saja Pak Sujiwo, saya lihat dari raut wajah nak Andika apa benar sedang ada masalah?” Ujar Pak Sujiwo yang seperti dapat membaca pikiranku.

“Iya pak.” Jawabku singkat sambil menundukkan kepala.

“Kalau nak Andika tidak keberatan, nak Andika bisa cerita ke bapak mungkin nanti bapak bisa memberikan solusi.”

“Baru beberapa bulan yang lalu saya ditinggal pergi selamaya oleh ayah saya, semenjak itu saya benar-benar terpuruk dan tidak tau lagi mau melakukan apa serta harus bagaimana?” Jawabku sambil menahan air mata.

“Apa ibunya nak Andika masih ada?”

“Masih pak, kenapa?” Tanyaku penasaran.

“Nak Andika, intinya kehidupan itu harus tetap berjalan bagaimanapun kondisi dan keadaannya. Kita harus tetap bersyukur dengan apa yang kita miliki saat ini. Nak Andika masih punya ibu, sudah sepatutnya kebahagian ibu nak Andika yang nomer satu. Nak Andika harus mencari dan menemukan cara bagaimana supaya ibu nak Andika selalu bahagai dalam kondisi apapun. Mungkin masalah nak Andika sekarang masih terbilang ringan karena Pak Jiwo dulu dilahirkan dalam keluarga yang terpecah, ayah dan ibu Pak Jiwo bercerai. Semenjak usia dua tahun Pak Jiwo dirawat dan dibesarkan oleh nenek hingga Pak Jiwo menemukan tambatan hati dan akhirnya menikah. Setelah usia 7 tahun pernikahan Pak Jiwo belum juga diberikan keturunan, dimana dalam berkeluarga itu yang dinanti-nantikan adalah seorang anak. Menginjak usia 8 tahun pernikahan istri Pak Jiwo mulai depresi karena permasalahan tersebut dan mulai menyalahkan diri sendiri serta yang paling parah ingin mengakhiri hidupnya. Tepat usia pernikahan ke 9 tahun, setelah pulang kerja Pak Jiwo mendapati istri Pak Jiwo gantung diri di pintu kamar. Kejadian itu juga membuat Pak Jiwo terpukul dan terpuruk. Semenjak meninggalnya istri Pak Jiwo, Pak Jiwo memutuskan tidak menikah lagi dan memilih untuk hidup sendiri. Seperti yang nak Andika bisa lihat sendiri, semangat Pak Jiwo saat ini masih membara setelah melewati masalah yang cukup berat dan juga usia yang tidak lagi muda.” Jawab Pak Jiwo panjang lebar.

Cerita Pak Jiwo membuat semangatku untuk melanjutkan kehidupan muncul lagi. Aku mulai mencari informasi mengenai beasiswa untuk kuliah melalui media cetak seperti koran, majalah, poster-poster di jalan hingga melaui media sosial. Aku juga menghubungi beberapa guru SMA untuk meminta bantuan agar aku diberitahu nantinya jika beliau-beliau mendapatakan informasi mengenai beasiswa untuk sekolah.

Beberapa hari kemudian setelah melakukan pencarian informasi beasiswa kuliah, Bu Sundarsih wali kelasku dulu waktu SMA menghubungiku dan memeberikan informasi terkait beasiswa masuk kuliah. Menurut informasi yang kudapatkan, beasiswa ini tidak hanya dapat digunakan untuk kuliah di dalam negeri tetapi juga dapat digunakan untuk kuliah di luar negeri. Aku segera mungkin mempersiapkan berkas-berkas yang butuhkan dan segera mendaftarkan diri. Untuk bisa mendapatkan beasiswa ini aku juga harus menempuh tes wawancara.

Satu minggu berlalu setelah aku mendaftar beasiswa. Pengumumanpun dikirim melalui email masing-masing. Beribu-ribu alhamdulillah ku ucapkan, aku dinyatakan lulus dari seleksi dan berhak mendapatkan beasiswa tersebut. Aku memberitahu ibu segara mengenai hal ini.

“Ibu!” Panggilku sambil sedikit berteriak.

“Iya nak, ada apa?”

“Ini lo bu, aku lolos seleksi beasiswa untuk kuliah.” Jawabku sambil memeluk erat ibu.

“Beneran nak?” Tanya ibu sekali lagi yang masih belum percaya.

“Iya bu, benar.”

“Ibu doakan kuliahmu nanti lancar, bisa mendapatkan nilai terbaik dan bisa lulus cepat.”

“Aamiin bu.” Sautku.

Terlihat jelas raut wajah ibu begitu sangat bahagia mendengar kabar baik dariku. Aku memutuskan menggunakan beasiwa itu untuk mendaftar kuliah di luar negeri dengan harapan bisa mendapatkan ilmu yang jauh lebih banyak dan beragam dan nantinya dapat dijadikan bekal untuk meningkatkan derajat ibu serta dapat selalu membahagiakan ibu. Sebenarnya berat meninggalkan ibu sendiri dirumah, tetapi aku benar-benar berjanji akan sungguh-sungguh dalam menempuh bangku perkuliahan agar bisa segera lulus dan kembali ke pelukan ibu.

Dengan ini, sayap patahku rasanya seperti kembali utuh dan aku bisa terbang lagi kesana kemari. Kembalinya sayapku membuatku tidak lagi merasakan beban dan aku akan terbang lebih tinggi lagi serta lebih jauh lagi untuk bisa menggapai semua yang telah aku cita-citakan. Tunggu aku bu, aku akan segera pulang dan juga akan mengajak ibu terbang bersamaku menuju kebahagiaan yang luar biasa.

 

 

 

Artikel Lainnya
1698411314_WhatsApp Image 2023-10-25 at 17.48.00.jpeg

27 Oct 2023

Pesan Untuk Jingga Yang Terluka

Kepada Jingga yang terkasih, telah lama aku mengenalmu di dalam perjalanan kehidupanku, satu tahun lebih lamanya. Banyak sekali cerita yang telah kita lalui bersama- sama dari cerita tentang pertemanan, tentang perjuangan, tentang menjadi dewasa, tentang percintaan, hingga cerita menyeramkan pun dirasakan.

Awal berkenalan denganmu semua seakan baik-baik saja, tak ada bedanya dirimu dari saudaramu yang lain. Engkau dikenal sebagai salah satu saudara tertua diantara saudaramu yang lain. Tampilan luarmu membuatku berpikir betapa sederhananya engkau dibanding dengan saudara yang berumur sepantaran denganmu. Namun, lebih lama dan jauh mengenalmu, semua hal yang aku pikirkan tentangmu telah berubah. Kau yang dulu aku anggap wajar dan baik-baik saja ternyata penuh luka.

Jingga, aku mengira dirimu memiliki penampilan yang begitu asri dan rindang, ada banyak pepohonan yang tumbuh subur di sekitarmu, sampai sulit melihat dirimu karena tertutup lebatnya pepohonan. Pepohonan yang aku anggap menenangkan dan menyejukan itu ternyata juga menyimpan ragam masalah. Lebatnya pepohonan di sekitarmu, mengakibatkan lembabnya tanah  dan banyak rumput liar yang tumbuh. Ketika hujan tiba, jalanmu yang bergelombang menjadi tempat air untuk menggenangkan diri kerena tak dapat mengalir menuju irigasi. Apakah engkau memang memiliki irigasi yang buruk sehingga air tak dapat mengalir?

Engkau memiliki ruang terbuka yang berukuran tak cukup besar, tempat yang kau sebut TSW (Taman Super Wi-fi). Dari awal mengenalmu, aku curiga dengan nama yang engkau berikan kepada tempat tersebut, agaknya melebih-lebihkan untuk diucapkan    . Akan benar sesuai dengan nama taman tersebut jika Wi-fi digunakan pada jam 12 malam ketika keadaan telah sepi.

 

Tak hanya nama taman yang tak sesuai dengan kenyataan, pencahayaan yang engkau berikan pada saat malam tiba juga sangat minim untuk digunakan sebagai ruang umum akibat dari lampu yang engkau berikan terlalu hemat untuk menerangi taman tersebut. Menghasilkan suasana yang remang cenderung horor, tidak bersahabat dengan para mahasiswa untuk membaca dan berdiskusi. Dedaunan yang jatuh dari pepohonan yang tak dibersikan menambah kesan seram sebagai tempat umum. Apakah engkau memang sengaja begitu adanya untuk membatasi ruang sosial mahasiswa untuk berdiskusi dan mencari ilmu? Ataukah begitu caramu membatasi ruang mahasiswa untuk membicarakanmu dari luar hingga dalam dirimu?

Masih ada sudut toilet yang tidak terawat bahkan lebih layak menjadi gudang saking kacaunya tempat itu. Bagaikan perasaan yang sensitif, dibutuhkan perawatan khusus untuk menjaga kebersihan itu. Kebersihan tempat tersebut juga datang dari mereka yang menggunakan, namun sebagai sudut “kotor” saja engkau masih belum memberikan fasilitas kebersihan. Bagaimana kebersihan bisa tercipta jika alat kebersihan sabun atau cairan pembersih saja masih kurang bahakan tidak tersedia?

 

 

Beranjak lebih kedalam, Jingga, engkau masih menggunakan peralatan penunjang pembelajaran seperti kursi dan bangku – mahasiswa sekarang menyebutnya “kursi prasejarah” yang kurang atau bahkan dikatakan tidak layak lagi digunakan. Kursi yang terlihat rapuh dan ringkah ketika digunakan sudah memakan cukup banyak korban akibat diduduki. Hal ini aku lihat sendiri sejak pertama mengenalmu. Kenyamanan dalam menjalankan kelas perkuliahan saja sulit didapatkan akibat tidak ada ruang yang nyaman ketika menggunakan kursi kayu tersebut. Bahkan saudara-saudaramu tidak ada yang memakai kursi semacam itu di dalam ruang kelas mereka.

Jingga, masih banyak yang harus engkau benahi dan perbaiki lagi, seperti tempat sampah, ruang sekret, lapangan olahraga dan fasilitas umum lainnya yang masih belum bisa dikatakan layak untuk digunakan. Besar harapan para mahasiswa yang menempatimu untuk mendapatkan keadilan berupa fasilitas yang memadai. Tidak hanya untuk mahasiswa yang menempatimu, tatapi mereka yang dari luar juga bisa menilai dan menempatimu dengan nyaman jika engkau memiliki fasilitas yang layak.

 

 

Kalimat penutup pesan ini untukmu, Jingga, Bagaimana kabarmu saat ini? Semoga engkau lekas sembuh dan untuk “mereka” yang bertanggung jawab kepadamu ,semoga dapat merawatmu dan membesarkanmu lebih baik lagi.

Penulis : Muhammad Rizky Al Zam Zami

Editor: Tim redaksi LPM Prima


1683123713_rumpang.jpg

03 May 2023

Rumpang

Dia manusia yang membuatku merasa nyaman. Penyelamatku, cintaku, dan satu-satunya manusia tempatku bersandar. Ia hebat, pun kuat. Dia lelaki yang menyeretku dari gelapnya dunia. Dunia yang kala itu ku pandang sebagai neraka. Dunia dimana mereka menelantarkan anak gadisnya. Tempat yang membuatku trauma akan tatapan mereka. Dan ia datang, menatapku seraya tersenyum. Senyum yang tak pernah kulihat dari manusia manapun. Senyum murni yang menenangkan. Tangannya terulur menunggu untuk diraih. Dialah Sagara, laki-laki sebatang kara yang memiliki hati seluas lautan seperti namanya.

Kuberanikan diri menatap sorot matanya yang berbinar. Mata itu hitam dan bulat seakan menerawang. Ku ulurkan tanganku menggapainya. Kami duduk berdampingan di tepi jembatan. Ia tak bertanya, pun berbicara. Hanya menatap ke atas langit hitam tak berbintang sembari diiringi suara kendaraan yang ramai. Begitupun denganku, aku tak dapat berbicara sepatah katapun saat bersamanya. Di dalam benakku timbul banyak sekali pertanyaan seperti dia siapa, mengapa ia menemaniku, apakah ia mengenalku, berapa usianya, dari mana asalnya, dan banyak pertanyaan lain yang entah muncul darimana. Satu jam pun berlalu. Ia menoleh. Matanya menyorotiku seakan menembus ke relung jiwa. Kulihat bibirnya terbuka hendak berucap, tetapi berakhir diurungkannya. Sebenarnya apa mau manusia ini? Jika tak ingin berbicara, lalu mengapa ia menemaniku selama ini?

Malam itu hanya berlalu begitu saja tanpa ada percakapan di antara kami. Ia pergi begitu saja setelah menatapku dalam dan tersenyum seakan itu pertanda bahwa kita pasti bertemu lagi. Aku tertimpa perasaan asing yang tak bisa kuartikan sendirian. Perasaan bahwa aku ingin bertemu dengannya lagi dan memulai percakapan. Namun, apakah itu mungkin bagi diriku yang tampak lusuh ini. Senyumnya yang cerah telah menyelamatkanku yang ingin kabur dari bayangan mereka. Tatapannya membuatku memiliki harapan untuk berhenti berpikir bahwa mati adalah akhir dari segalanya. Auranya amat kuat hingga mengisi sedikit tenaga di jiwa dan ragaku. Untukmu, aku harap kita akan bertemu lagi.

Aku terus menelusuri jembatan panjang ini seraya berharap bertemu dengannya. Sejak pagi, tak henti-hentinya kulihat kendaraan yang melintas seolah ia ada disana. Petang pun tiba, ia tak kunjung menampakkan batang hidungnya. Kuputuskan untuk duduk menghadap sungai di bawah jembatan. Sungai yang kupikir akan menjadi akhir dari hidupku. Aliran sungai yang tak berhenti membuatku sadar bahwa waktu pun seperti itu. Waktu tak akan menunggu apalagi berhenti, itu mustahil. Sama sepertiku yang harus terus berjalan meskipun jiwa ingin beristirahat. Terkadang aku berpikir sebenarnya untuk apa aku dilahirkan. Katanya semua yang dilahirkan ke dunia merupakan anugerah dari tuhan. Tuhan mana yang mereka maksudkan? Tuhan mana yang membiarkan hambanya terlantar tak beraturan? Tuhan mana yang membuat seorang anak dibuang orang tuanya? Aku sungguh tak paham. Dunia ini seakan berpaling dariku yang hanya seorang gadis kecil sebatang kara. Tuhan, jika engkau memang ada, maka bawalah dia ke hadapanku. Biarkan ia yang menjadi perantaramu untuk melindungiku dan membawaku kembali ke jalanmu.

Malam telah kembali. Bulan pun menampakkan sinarnya yang lembut. Sapuan angin terasa sejuk membelai permukaan kulit. Kulihat seseorang datang menghampiriku. Wajahnya tersamarkan lampu jalanan yang menutupinya. Tangannya membawa sekantong plastik yang melambai terayun tangannya. Namun, aku tahu dia adalah seseorang yang kunanti. Saat dia mendekat, tanpa sadar ku lebarkan senyum ke arahnya. Tatapan lembut terpancar dari wajah laki-laki itu. Laki-laki yang berhasil menarikku dari kegelapan. Tuhan, kau berhasil meyakinkanku bahwa kau benar ada di dunia ini. Terimakasih telah menghadirkannya kembali di hadapanku.

“Kau menungguku?” ucapnya yang kubalas dengan cengiran.

Ia duduk disampingku seraya mengulurkan bingkisan itu yang kuterima tanpa rasa sungkan. Aku ingin bertanya, tetapi…

“Ini adalah makanan kesukaanku, aku harap kau juga menyukainya.”

“Terima kasih.”

“Maaf kemarin aku tak berbicara apapun karena kupikir kau butuh waktu.”

“Tak apa. Mengapa kau menghampiriku padahal kita tak saling mengenal?”

“Sebenarnya aku mengenalmu. Kau Azura, bukan? Kita tinggal di pemukiman yang sama.”

“Lalu kau siapa? Aku tak pernah melihatmu sebelumnya.”

“Namaku Sagara, rumahku tak jauh dari milikmu. Aku tau bahwa kau jarang bahkan hampir tak pernah keluar rumah.”

Ia bercerita panjang lebar mengenai bagaimana ia mengenalku, kisah yang kupikir tak ada orang lain yang tau, bagaimana ia menahan dirinya untuk tidak menemuiku, dan banyak cerita remeh temeh lain yang membuatnya terus membuka mulut. Namun, tak kusangka aku nyaman mendengarnya. Padahal ini merupakan kali pertama kami bercakap-cakap. Walau ku akui hanya dia yang berbicara sedangkan aku mendengarkan sembari menyantap makanan yang diberikannya. Aku menyantapnya dengan lahap karena tak menerima asupan selama sehari penuh. Tentu saja perutku berteriak kelaparan. Mendengar ceritanya, mengingatkanku kembali pada masa-masa suram itu. Dimana aku tak pernah dipedulikan dan selalu mendapat perlakuan kasar dari Ibu. Ibu yang sewaktu aku kecil sangat menyayangi dan melindungiku tiba-tiba saja berubah membenciku saat aku berusia 5 tahun. Harusnya aku tak perlu mengingatnya, tetapi pikiran berkehendak lain. Aku masih ingat ketika Ibu memaksaku masuk dalam bak mandi berisi air yang dingin. Aku menggigil hingga rona tubuhku pucat tapi ibu tak peduli. Saat itu aku berumur 6 tahun. Saat usiaku 9 tahun, ia membawa seorang lelaki ke rumah dan minum-minum yang berakhir dengan pelampiasan kemarahan Ibu padaku. Tak pernah sehari pun tubuhku bersih dari luka atau lebam. Walau aku sering merasakannya tetapi aku tak pernah terbiasa. Ingin aku kabur dari rumah dan mencari perlindungan baru. Namun, aku sadar bahwa aku hanya punya Ibu. Ibu yang masih kusayangi.

Saat ini aku berusia 12 tahun. Tepat 3 hari lalu Ibu meninggalkanku dan dunia ini. Aku tidak merasa senang karena orang yang memberiku trauma telah tiada. Karena ia lah satu-satunya Ibu yang kupunya. Sepeninggal Ibu, nenek yang tak pernah ku tahu datang ke rumah kami. Ia mengambil semua surat-surat yang ditinggalkan Ibu dan mengusirku dari tempat tinggalku sendiri. Aku berteriak marah padanya. Mengapa ia yang tak pernah berkunjung tiba-tiba mengambil barang yang bukan miliknya? Ibu macam apa tak pernah ingin tau kabar anaknya? Dan nenek mana yang menelantarkan cucunya? Namun, kalimat itu tak pernah tersampaikan. Kata terakhir yang kudengar darinya yaitu “Kau tak pantas menjadi cucuku! Manusia bermata biru itu tak pantas disebut keluarga. Pergilah pada ayahmu sang pecundang!”. Air mata yang luruh seketika membuat semuanya buram dan samar. Kulangkahkan kaki keluar rumah dan menelusuri jalanan malam tanpa membawa uang sepeserpun dengan pakaian seadanya. Di malam itu, ketika pertama kali bertemu dengannya.

“Kau tidak apa? Azura!”

Suaranya membuatku tersadar akan lamunan peristiwa beberapa hari yang lalu. Aku terkesiap ketika merasakan jemarinya menelusuri pipi seraya menghapus air mataku. Ah, ternyata aku menangis. Betapa malunya aku sekarang hingga ingin menjatuhkan diri ke sungai itu. Sagara terdiam memberiku waktu untuk menenangkan diri. Aku sangat menyukai kepekaannya tersebut.

“Kau tidak pulang, Sagara?” Tanyaku padanya.

“Kau juga tidak pulang, aku akan menemanimu, jika kau mau.”

“Mengapa?”

“Aku tak ingin kau sendirian.” 

“Baiklah.”

Hampir setiap hari Sagara menemuiku di jembatan itu dan ia selalu membawakanku sesuatu seperti makanan, pakaian, bahkan sejumlah uang yang sering kali kutolak. Aku hanya merasa bahwa aku tak pantas untuk menerimanya. Sudah setahun lamanya sejak kematian Ibuku, dan ia masih bersikap sama seperti awal kami bertemu. Aku merasa senang sekaligus takut suatu saat ia akan pergi meninggalkanku. Aku sudah memiliki tempat tinggal. Saat itu, Sagara mengenalkanku pada sebuah panti asuhan di dekat kota. Aku menurut saja karena memang membutuhkannya. Beruntung ibu dan pengurus panti disana sangat baik dan tulus merawat anak-anak yang membutuhkan perlindungan. Karena usiaku yang beranjak remaja, maka aku pun ikut membantu mengurus anak-anak kecil yang ada di panti.

Kringg,,,, kringg,, kriingg!!!!!

“Ibu ada telpon!” Teriakku pada penjaga disana.

“Itu mungkin untukmu, angkatlah!”

“Halo, dengan Azura disini.”

“Halo Azura, kau merindukanku?” Nada bicara yang sangat kukenal.

“Kakak! Ada apa?” Aku kegirangan menerima telpon darinya.

“Ayo kita bertemu nanti, ada yang ingin kakak bicarakan denganmu.”

“Siap kak! Sampai jumpa nanti malam.”

Ya. Aku memanggilnya kakak sejak tau bahwa dia lebih tua dariku. Umur kami selisih 6 tahun dan ia sekarang berumur 19 tahun sedangkan aku 13 tahun. Malam ini aku bertemu dengannya di ruang tamu panti kami. Tak biasanya kita berbicara di dalam ruangan seperti ini. Apa pembicaraan ini sangat serius atau kak Sagara hanya tidak ingin kita pergi keluar. Entahlah.

“Hai Azura, bagaimana kabarmu hari ini?”

“Halo Kak, aku senang menantikan pertemuan ini.”

Kita pun berbincang dari hal yang remeh temeh seperti menceritakan kisah hari ini atau kisah berkesan lainnya seperti pertemuan kita biasanya. Hingga ia mulai menatapku lebih dalam dan sorot matanya seakan menembus penglihatanku. Aku tau hal ini sangat serius. Aku pun menyiapkan hati untuk mendengarkan apa yang akan diutarakannya. Dan ia pun berkata…

“Azura, aku akan meninggalkan negara ini dan pergi ke luar negeri untuk sementara waktu.”

Aku terdiam, terpaku sejenak mendengar perkataannya. Apa maksudnya dia akan pergi meninggalkanku?

“Aku tau seharusnya aku tetap menemanimu, tetapi aku harus pergi. Waktuku tidak bersisa banyak.”

“Sebenarnya apa yang sedang terjadi? Apa yang kakak maksud untuk pergi? Apa terjadi sesuatu dengan dirimu?”

“Aku diminta mengunjungi keluargaku di China. Mereka memintaku untuk menemui nenekku yang sedang sekarat. Maaf aku memberitahumu secara mendadak.”

“Ternyata seperti itu. Tak apa pergilah. Kau tetap akan kembali, bukan?”

“Aku harap bisa kembali setidaknya dalam 3 tahun.”

“APA?! 3 TAHUN?!” kunjungan keluarga macam apa hingga selama itu.

“Aku harus mengurus keperluan dan pabrik milik keluargaku disana. Maaf aku tak bisa menceritakannya lebih rinci lagi.” Raut wajahnya terlihat amat khawatir dan penuh penyesalan. Ia mengatakannya dengan air mata yang tertahan di pelupuk matanya.

“Baiklah, aku hanya bisa mendoakanmu dan berharap kau kembali secepat mungkin. Aku tau bahwa aku bahkan tak bisa jadi keluargamu. Namun, aku harap kau menganggap dan mengingatku sebagai orang terdekatmu.”

Ia pergi begitu saja setelah kami berpelukan. Pelukan pertama dan terakhir yang pernah kami lakukan. Ia pergi dengan senyuman yang menyiratkan kegundahan. Aku pun melepasnya dengan senyuman menyakitkan. Tak kusangka akhirnya aku pun melepas kepergiannya di hadapanku sendiri. Walaupun aku tau ia akan kembali, tetapi 3 tahun adalah waktu yang tidak sebentar. Terutama bagi kami yang sering menghabiskan waktu bersama.

Pada awal kepergiannya aku seperti merasakan déjà vu. Berat sekali menjalani hari tanpa kehadirannya. Berbulan-bulan aku menangis merindukannya. Mengharapkan suatu telpon atau pesan darinya. Hingga air mataku kering tak bersisa. Dan perasaan ditinggal oleh manusia tempat kita bernaung terulang kembali. Namun, sekarang berbeda dengan perasaanku saat ditinggal Ibu dulu. Aku masih punya harapan bahwa dia akan kembali suatu hari nanti. Hari-hari saat aku dan Sagara bercerita dan tertawa bersama terus terngiang di kepalaku. Aku ingat ketika dia mengajakku ke taman bermain di pinggir kota, betapa senangnya kami saat itu. Aku bercerita padanya bahwa itu kali pertamaku pergi ke taman bermain yang diresponnya dengan wajah muram karena dia merasa empati saat itu. Dia selalu ada saat aku membutuhkannya. Terutama saat aku teringat dengan perlakuan kasar Ibu. Aku tau penyebab ibu dan nenek berlaku kasar padaku. Ternyata mataku mengingatkan mereka pada seseorang yang menghancurkan hidup Ibuku. Ia menelantarkan kami dan pergi bersama wanita selingkuhannya. Aku tau dari tetangga lamaku yang kutemui beberapa hari lalu. Miris sekali hidupku ini.

Kini, sudah 5 tahun sejak kepergian Sagara. Ya, sudah lebih 2 tahun dari waktu yang dijanjikannya. Aku sudah tak terlalu bergantung lagi padanya. Aku pun sudah remaja yang akan beranjak dewasa. Ternyata benar, waktu akan menyembuhkan kita dari rasa sakit yang pernah dialami. Walaupun rasa itu tak hilang sepenuhnya, tetapi ini sudah cukup. Sagara, laki-laki yang kunanti kedatangannya hingga kini tak kunjung menampakkan dirinya. Setidaknya ia bisa memberiku kabar melalui surat atau telepon, tapi tak pernah ia lakukan. Mungkin dia punya alasan tersendiri yang tak bisa kumengerti. Biarlah. Hidup ini akan tetap berjalan meski tanpa dirinya.

Esok paginya seseorang tak ku kenal menemuiku di depan panti asuhan. Aku masih tetap tinggal disana dan mengurus anak-anak panti yang lainnya. Aku juga mendapat pendidikan khusus selama tinggal di panti ini. Orang itu menghampiriku dengan raut wajah yang tak bisa kugambarkan.

“Sudah lama aku mencarimu, Azura.”

“Maaf, anda siapa?” Tanyaku pada seorang pria yang usianya sekitar 30 tahunan.

“Aku adalah dokter yang menangani Sagara. Dia menyuruhku menyampaikan pesan ini langsung padamu.”

“Apa yang terjadi padanya? Mengapa ia tidak datang sendiri menemuiku?”

“Dia telah tiada sejak 2,5 tahun yang lalu saat menjalani pengobatan di Rumah Sakit Umum di China. Dia berkata bahwa ia sebatang kara sehingga tidak ada keluarga yang dapat kami hubungi. Namun, ia memberiku tulisan ini sebagai peninggalan terakhirnya untukmu.”

Aku tak mampu berucap sepatah katapun. Air mata mengalir deras menumpahkan kesedihannya. Apa yang telah kupikirkan selama ini. Bagaimana bisa aku tak sadar bahwa dia sedang kesakitan selama ini.

SAGARAAAA!!! AKKHHH!!

TUHAN, TAK BISAKAH KAU MEMBIARKANKU MEMILIKI SESEORANG SEPERTI DIRINYA?

Aku Lelah. Penantianku selama ini sia-sia. Selamat tinggal Sagara. Kakak yang paling kusayang. Lelaki satu-satunya yang kucinta. Ternyata seperti inilah perpisahan kita. Kita memang tak pernah memulai hubungan serius. Aku dengan perasaanku dan kau dengan keteguhanmu. Kita bukan pernah namun sudah. Maafkan aku yang terlambat mengetahuinya. Perlu kau tahu, hidupku memang terus berjalan. Namun, tanpa kehadiranmu ada suatu celah yang tak dapat kututup. Ada satu ruang kosong yang tak dapat kuisi. Hidupku tanpamu bagaikan kalimat rumpang yang tak akan pernah sempurna.

 

Penulis: Niken Ayu Dyah Setyorini


1681310893_hujan 1.jpg

12 Apr 2023

Hujan

Sore ini, langit mendung berhiaskan awan kelabu. Gemuruh terus menggaung memenuhi pendengaran. Suara rintikan hujan sangat serasi menemaniku yang terduduk menatapnya. Ia terbaring, menghadap langit-langit putih. Entah sudah berapa lama ia menatapnya dengan tatapan kosong. Melihatnya tergeletak lemas seperti itu, sungguh terenyuh hatiku. Andai aku bisa menggantikannya berbaring, akan kulakukan hal itu. 

Tak terasa, sudah belasan jam aku duduk di ruangan ini. Ruangan yang tak pernah ingin kudatangi. Ruangan dengan bau menyengat yang tak ingin ku pijak. Namun, disinilah aku berada. Di rumah tempat manusia pergi menyembuhkan dirinya, Rumah Sakit Umum Jaya Kusuma.

Aku terbangun saat adzan magrib berkumandang. Kupandangi sekeliling, rupanya ini bukan sekedar mimpi. Kuputar balik memori mengingat kembali apa yang terjadi pada kami beberapa jam yang lalu. Hari Minggu adalah hari dimana kami biasa menghabiskan waktu bersama. Karena hanya hari itu kami dapat berbagi cerita dengan tenang. Hari yang selalu kunantikan setiap waktu. Dia berjanji akan membawaku berjalan di pusat kota. Disana terdapat banyak kuliner dan penjual barang-barang unik yang menarik perhatian. 

Kami berjalan di pusat kota untuk mengisi liburan dan membeli jajanan kaki lima. Disana ramai sekali manusia maupun kendaraan berlalu-lalang. Aku membeli beberapa makanan seperti crepes, kue kering, dan juga siomay. Semuanya makanan favoritku. Tentu saja dia yang membayar semuanya. Kulihat sekeliling, betapa senangnya ketika menemukan makanan yang paling aku suka. Kubilang padanya bahwa aku ingin membeli makanan manis kesukaanku, yaitu pudding. Aku menyukainya karena pudding mengingatkanku pada Ibu yang telah tiada beberapa tahun lalu.

“Ayah, aku ingin membeli pudding.”

“Dimana?” tanya Ayahku.

“Itu disana, pudingnya enak sekali.” kataku sambal bergegas menuju tempat penjual pudding yang kusukai, tanpa memedulikan Ayahku yang berteriak menyuruhku agar hati-hati.

Aku berjalan cepat menerobos kerumunan orang yang sibuk berjalan kesana kemari. Tempat penjual pudding itu berada di seberang jalan, tentu saja aku menyeberang jalan untuk mencapainya. Tepat sampai di ujung jalan, aku menunggu nyala lampu hijau untuk pejalan kaki. 

Tak lama kemudian, kulihat seekor kucing menyeberang tanpa memerdulikan kendaraan yang melaju. Tanpa banyak berpikir aku berlari untuk menyelamatkan kucing itu. Ayah yang sedang menyusulku, langsung sigap mendorongku agar terhindar dari sebuah mobil yang melaju kencang.

“BRAKKK!!!!!” suara tabrakan itu keras sekali hingga membuatku terkejut setengah mati. Aku terlempar beberapa meter dari kecelakaan itu.

“AYAHH!! AYAH BANGUN!” Aku berteriak panik dan histeris saat melihatnya terbaring bersimbah darah di jalanan. Rintikan hujan membasahi, membuat darah itu mengalir sampai di kakiku. Aku takut sekali saat itu.

Terdengar suara teriakan dan keributan di sekitar. Sirene ambulans pun terus terngiang menyakiti telinga. Hingga pandanganku kabur dan pendengaranku menjadi samar, tak lama aku pun pingsan. Aku masih bisa sedikit mendengar orang-orang yang memanggilku, seseorang dengan pakaian berwarna putih. Ia membawaku bersama rekan-rekannya ke dalam sebuah kendaraan. 

Setelah itu, aku tak ingat lagi apa yang terjadi. Begitu aku terbangun, aku sendirian di dalam ruangan yang bernuansa putih ini. Tak lama kemudian, datang seorang suster menanyakan keadaanku yang kujawab baik-baik saja. Jujur, aku hanya merasa kepalaku sedikit berdenyut, selebihnya tak apa-apa. 

“Sudah berapa lama aku tak sadarkan diri?” tanyaku begitu ia selesai memeriksa.

“Anda pingsan selama dua jam setelah kecelakaan.” jawabnya yang kutanggapi dengan anggukan saja. Begitu kuingat bahwa Ayahku lah yang mengalami kecelakaan, aku bergegas meminta suster untuk mengantarku pada Ayah.

“Suster, Ayah dimana? Aku ingin menemuinya.” tanyaku dengan gelisah.

“Beliau ada di ruang UGD untuk sementara waktu. Karena kondisinya masih kritis, anda baru bisa menemuinya ketika sudah dipindahkan ke ruang rawat inap.”

Aku hanya duduk terdiam mendengar jawaban dari suster, merenungi perbuatanku beberapa jam yang lalu. Setelah beberapa waktu, suster datang kembali ke kamarku dan mengajakku untuk menemui ayah di ruangannya. Aku berjalan dengan perasaan yang tak karuan. Gelisah, takut, sedih, dan segala macam perasaan negatif menyelimutiku. Namun, aku harus kuat dan bisa menerima apa yang akan kulihat nantinya. Dan disinilah aku, menatapnya terbaring lemah tak berdaya.

Ayah, maafkan aku.

Dia terbaring dengan selang yang menempel di hidungnya dan juga alat electrocardiogram yang berdiri di sampingnya. Ia sangat nyenyak sama sekali tak terusik oleh suara tangisanku. Aku takut ia nyaman dalam kondisinya saat ini dan tak akan pernah terbangun lagi. 

Andai saja aku tak berlari hari itu. Andai aku tak menginginkan pudding kesukaanku. Andai saja aku tak menolong kucing yang sedang menyeberang, pasti ini tak akan terjadi. Aku mulai menyesali semua tindakan ceroboh yang kulakukan.

Ya tuhan, kuatkanlah Ayahku dalam menghadapinya. Aku pasrah kepadamu atas semua yang terjadi pada kami.

Aku terus menemani di sisinya, berharap ia akan segera bangun dari tidurnya. Segala doa telah kucurahkan pada Yang Maha Kuasa. Sampai aku pun tak tau apalagi yang harus kusampaikan padaNya. Jangan tanyakan kemana keluargaku yang lainnya. Aku hanya hidup berdua dengan Ayah semenjak Ibu tiada. Kami hidup sebagai pendatang di tengah kota yang memiliki gedung pencakar langit ini. Untuk itu, aku tak ingin merasakan kehilangan untuk yang kedua kalinya.

Air mata terus menghujani pipi tanpa henti. Hingga kurasakan tangan yang menggenggam lengan Ayahku bergerak perlahan. Ya, dia tersadar. Ayahku telah sadar. Aku melihatnya membuka mata dan menatapku dengan netranya.

Ayah,,,

Cepat-cepat kutekan bel untuk memanggil dokter. Setelah dokter selesai memeriksa, ia memberitahuku mengenai kondisi ayah. Dia berkata bahwa Ayahku mengalami kelumpuhan ingatan sementara karena kepalanya terbentur sangat keras ketika kecelakaan itu terjadi. Ayah juga mengalami keretakan tulang pada lengan kanannya saat berusaha mendorongku menjauh. 

Setelah mendengarnya, aku pun terdiam kembali. Apa Ayah tak mengenaliku? Apa Ayah akan baik-baik saja seperti semula? Apa kami dapat berjalan-jalan kembali? Berbagai pertanyaan terus terngiang di kepalaku. Dan yang terpenting, bagaimana aku akan menjalani hari-hariku dengan Ayah yang terbaring seperti ini? kuatkanlah aku Ya Tuhan.

Selang seminggu semenjak kecelakaan itu terjadi, Ayah mulai mengingatku sebagai anaknya. Lengannya juga sudah mulai bisa digerakkan dengan perlahan. Aku bahagia sekali dengan perubahan ini. walau kuakui tak mudah merawatnya saat hari pertama, tetapi kini aku sudah terbiasa. 

—------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Setiap hari aku pulang pergi dari rumah sakit ke sekolah. Aku adalah murid SMA kelas akhir, tentu saja aku harus rajin agar bisa lulus dengan nilai sempurna. Saat malam, ketika Ayah terlelap, aku menyempatkan waktu untuk mengulang pelajaran hari itu. Terkadang, aku juga termenung memikirkan kapan Ayah pulih sepenuhnya dan kami bisa pulang ke kediaman. Hah.. sungguh tak terkira apa yang menimpa kami saat ini.

Hari-hari telah kami lalui bersama di rumah sakit. Tak terasa, kini sudah hampir tiga minggu Ayahku dirawat dan hari ini dokter mengizinkan kami pulang. Namun, dengan beberapa syarat dan peraturan yang harus kami lakukan untuk membantu pemulihan Ayahku. Dokter juga menyarankan untuk melakukan check-up satu minggu sekali ke rumah sakit dalam memastikan kondisi Ayah. Tentu semua itu kusanggupi demi kebaikan ayahku.

“Ayah, sekarang kita sudah pulang.” kataku begitu tiba di kediaman kami.

“Maaf, karena Ayah kamu menjadi tidak terurus dengan baik.”

“Tidak kok, aku bisa merawat diriku sendiri.”

Ayah hanya tersenyum menatapku, tapi aku tau bahwa ia merasakan kesedihan di balik senyumnya itu. Senyumannya hanya kubalas dengan anggukan kecil seraya memapahnya ke dalam kamar.

“Ryura, sini duduk di samping Ayah.”

“Kenapa, Ayah?”

“Kamu fokus belajar aja ya untuk ujian, sudah dekat kan ujian kelulusannya?”

“Tentu saja aku rajin belajar. Aku ingin jadi lulusan yang terbaik saat kelulusan nanti.”

“Ayah harap kamu memilih jalan yang benar. Apapun yang kamu pilih nanti, Ayah berharap kamu dapat bertanggung jawab sampai akhir.”

Air mata menggenang ketika mendengar ayah berpesan seperti itu. Namun, aku harus kuat menahannya agar tidak jatuh di hadapannya.

“Kamu anak yang kuat, kamu mandiri. Kelak, kamu akan jadi manusia hebat yang selalu ayah banggakan.” Perkataannya membuat tangisku pecah seketika. Aku memeluknya erat, sangat erat hingga membuatku sesak. Ada apa ini, mengapa Ayah berkata seperti ini. Tangisku tumpah di dada Ayahku.

Keesokan paginya, aku menyiapkan sarapan kesukaan Ayahku, sup ayam. Ya, aku pandai memasak sejak ditinggal oleh ibu. Setelah masakan siap, kupanggil Ayah untuk bersiap sarapan. Tiga kali aku memanggil, tak ada satu pun yang terjawab. Aku mulai khawatir, bergegas lari ke kamar Ayahku. 

Dan benar saja, Ayah terbaring di lantai dengan detak jantung yang amat cepat. Lagi-lagi aku menangis seraya menelpon ambulans untuk datang ke rumah. Belum genap sehari aku bersamanya di rumah, tetapi hal tak terduga terjadi lagi. Pikiranku kacau balau mencerna semua peristiwa yang kualami.

Ya Tuhan, mengapa ini terjadi lagi…

Aku menunggu di depan ruang UGD dengan perasaan cemas dan was-was. Jangan sampai hal buruk terjadi lagi pada Ayah. Selang beberapa waktu, dokter datang menemuiku dengan raut wajah tak terbaca. Perasaanku semakin tak karuan melihatnya. Hingga kudengar dia berkata

“Mohon maaf, kami berusaha semaksimal mungkin untuk menormalkan detak jantungnya, tetapi Ayah Anda tetap tidak tertolong.”

Seketika kakiku lemas, aku jatuh terduduk di lantai rumah sakit yang dingin itu. Pandanganku buram dan pendengaranku semakin samar. Lantas dokter membawaku untuk duduk demi menyadarkanku. Benar, aku harus sadar dalam situasi ini. Ayah hanya punya aku, demikian juga diriku yang hanya punya Ayah. Kutatap nanar ruangan yang berbau antiseptik itu. 

Ternyata Ayah pulang untuk selamanya

Bukan ke rumah kami, melainkan rumah-Nya

—------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Kini, aku sedang berdiri di atas podium. Aku, Ryura, berhasil menjadi siswi lulusan terbaik diantara ribuan siswa lainnya. Namun, aku tak tahu apa yang kurasakan. Aku tidak merasa bahagia dengan penghargaan ini. mungkin karena beliau telah tiada. Mereka telah tiada, untuk selamanya.

Ayah, kupersembahkan ini untukmu. 

Jaga aku dari tempatmu berada.

Aku takut akan salah langkah.

Ibu, aku berhasil menjadi yang terbaik, sesuai harapanmu dulu.

Aku selalu merindukan kalian. Aku selalu mendoakan kalian. 

Ku harap Tuhan selalu menyertaiku dan membimbingku di jalan yang benar. 

Karena itu merupakan harapan terbesar kalian.

Itulah perkataanku di hadapan makam Ayah dan i=Ibu dengan disaksikan hujan lebat yang menghantamku. Bait terakhir yang terucap sebelum aku pergi ke tempat yang asing tak kukenali. 

Aku pergi untuk menenangkan diri, dan mungkin tak kan pernah kembali. Hatiku kutinggalkan disini. Ternyata benar, takdir tak kan kemana. Begitu pula dengan kematian mereka. 

Hujan, engkau selalu setia menemani mereka. Ya, hujan selalu mejadi saksi kisah memilukan yang kualami.

 

Penulis: Niken Ayu Dyah Setyorini (NADS)


1679051548_Enigma.jpg

17 Mar 2023

ENIGMA

Kurasa eksistensi ibu peri yang sering diceritakan dalam buku dongeng pengantar tidur memang benar adanya. Bukan seorang wanita bertudung dengan tongkat ajaib yang terayun-ayun di tangannya atau makhluk bersayap yang turun dari langit dengan bubuk kerlip yang mengitari tubuhnya ketika ia berjalan. Wujud ibu periku datang dalam bentuk seorang gadis bernama Skylar.

Sebelum bertemu dengannya, aku tinggal bersama ibuku. Hari-hariku selalu ditemani oleh umpatan membabi buta yang keluar dari mulutnya. Aku yakin akan tiba hari dimana dia akan menyingkirkanku dari kehidupannya, dan sebelum hal itu terjadi, aku memutuskan untuk kabur.

Skylar membawaku ke Pluto, Pluto yang kumaksud disini bukanlah benda yang berhubungan dengan tata surya, melainkan sebuah bangunan sempit dua lantai di sudut kota Whitecapel yang dingin. Seperti sebagian besar bangunan di East End, kesan yang ditampilkan adalah lusuh dan kumuh. Jelaga mengerak pada dinding luarnya, tirai-tirai tipis menggantung di jendela, lampu depannya berkedip-kedip dan kurasa tidak ada yang berniat untuk menggantinya. Pemilik bangunan ini adalah Mrs.Evans, seorang janda baik hati yang memiliki sebuah toko buku di pusat kota. Melihat dari keadaan Pluto sekarang ini, sepertinya bisnis itu tidak berjalan lancar.

Di tengah kemelaratan dan lingkungan yang serba buruk ini kami hidup bahagia, aku, Skylar, si kembar Isabel dan Isaac, Jensen, Mrs.Evans dan Reaper, kucing jalanan botak milik Isabel. Kami menghabiskan waktu musim dingin di depan perapian, mendengarkan cerita-cerita dari koleksi buku setinggi pinggang milik Skylar (yang tentu saja dibacakan oleh Skylar sendiri). Mungkin hal itu terdengar payah, tapi kami tidak pernah bosan mendengar ceritanya. Semangat Syklar yang menggebu-gebu dan senyumannya yang mengembang saat bercerita membuat kami teralihkan dari rasa dingin yang menggigit kulit.

Skylar yang baik, Skylar dengan semangat yang menyala-nyala dan rasa ingin tahu tanpa batas, dia adalah gabungan dari semua warna indah dalam tingkat kecerahan yang paling tinggi. Semua orang menyayanginya, semua pujian yang ditumpahkan orang lain kepadanya membuatku senang dan bangga karena aku adalah salah satu teman baiknya.

Aku merasa sudah mengenal Skylar dengan baik. Tapi, ternyata aku salah.

Selama tinggal di Pluto, aku hampir tidak pernah mendengar apa-apa tentang masa lalunya. Aku tidak tahu apakah orang tuanya berada di kota ini, bagaimana kehidupannya sebelum tinggal di Pluto, atau kenapa dia memanggil rumah ini dengan sebutan ‘Pluto’? Aku bahkan tidak tahu nama belakangnya. Skylar jarang membicarakan emosi, hasrat atau pengaruh yang mendorongnya untuk melakukan hal-hal usil seperti melempari penduduk yang lewat dengan balon air.

Rahasia membuntuti Skylar seperti kibaran rambutnya yang tertiup angin. Pada awalnya ini tidak menjadi masalah bagiku, sebelum ulang tahunnya yang ke-17. Aku melihatnya sedang terduduk di undakan pintu luar dan menangis sambil memeluk kedua lutut. Aku tidak mengingat ada hal buruk yang terjadi padanya waktu itu, yang kuingat hanyalah permohonannya sebelum ia meniup lilin dan memakan kue basi itu. “Aku ingin menemukan tempat yang belum pernah dikunjungi orang lain, aku tidak peduli dimanapun itu. Aku harap tempat itu memiliki sinar matahari yang hangat, damai, tenang dan tidak ada kucing bau yang mengganggu waktu tidurku.” Ia melirik ke arah Reaper yang meringkuk di pangkuan Isabel dan meniup lilin. 

Itu pertama kalinya Skylar mengatakan hal yang ia inginkan kepada kami.

 

 

Aku terbangun oleh suara benda jatuh dan rintihan dari seseorang. Sepertinya. aku tidak terlalu yakin. Aku mengangkat kepala dan menemukan Skylar yang tengah memandangku dengan kengerian luar biasa, seolah aku ini adalah mayat yang bangkit dari kubur.

“Sky?”

Ia meletakkan jari telunjuknya di depan bibir dan berjalan mendekat ke arahku. Sinar redup dari lentera yang kuletakkan di nakas mengenai wajahnya, disitulah aku menyadari bahwa kedua pipinya basah.

“Aku ingin pergi sebentar…” Ia menaikkan selimutku hingga ke dagu dan berjalan pelan kearah pintu agar tidak membangunkan yang lain.

Aku ingin menanyakan banyak hal padanya, kenapa ia pergi di tengah malam seperti ini? kemana? Kenapa ia menangis di undakan tadi? Apa dia baik-baik saja? Pertanyaan-pertanyaan itu terus menghantam kepalaku seperti meteor, tapi aku tidak mengatakan apapun karena kepalaku pusing dan sebagian nyawaku hilang entah kemana.

“Maafkan aku Ann…” Ia bergumam pelan, pelan sekali. Tapi aku masih bisa mendengar ucapannya .

Dari sudut mataku, aku melihat bayangan Skylar yang perlahan menghilang di balik pintu. Rasa kantuk yang luar biasa menyerangku, lalu aku kembali terlelap seperti bayi.

 

 

Aku kembali terbangun oleh tangan mungil Isabel yang mengguncang tubuhku. Aku langsung terjaga penuh, duduk tegak di ranjang, kebingungan hingga akhirnya pikiranku cukup jernih untuk mendengar.

“Kau tidur seperti orang mati.” Jensen berdiri di ambang pintu dengan segelas susu.

“Jam berapa ini?”

Aku melirik ke arah ranjang Skylar dan mendapati bahwa ranjang itu kosong. Hanya ada beberapa buku yang diletakkan di atasnya.

“Dimana Sky?” 

Pertanyaan yang keluar dari mulut Isabel membuat kepingan-kepingan memori dari kemarin malam kembali memasuki benakku. Aku bangkit dari ranjang dengan gerakan kaku, mulutku mencecap rasa tidak enak, seolah baru saja menelan sesuatu yang busuk dan aromanya masih bertahan. Rasa takut mulai merayapi diriku.

Dia belum kembali?

“Annie, kau baik-baik saja?” Jensen bertanya kepadaku, tapi aku tidak mempedulikannya.

Dengan gerakan secepat kilat, aku menyambar mantel, berlari menuruni tangga dan pergi keluar rumah, tidak menghiraukan Jensen yang terus memanggil namaku.

Aku berlari lebih kencang dari biasanya, melewati gereja, toko-toko, rumah-rumah yang terkunci, dan nyaris tertabrak kereta kuda yang sedang melintas. Bulan November itu dingin, tapi peluh mengaliri tulang wajahku dan mulai menjilati leherku. Otot-ototku sakit dan kerikil kecil di jalan menusuk telapak kakiku yang tidak terbalut alas kaki, kepulan asap dingin keluar dari mulutku saat aku bernafas.

Lari. Lari. Lari.

Kakiku membawaku ke danau Porlock, tempat favorit Skylar untuk membaca buku di saat musim panas. Aku berjalan melewati pepohonan dan berhenti di tepi kolam air biru yang luas dan berselimutkan cahaya matahari. Entah kenapa waktu itu aku tidak menyadarinya, danau itu lengang dan damai. Begitu damai sehingga aku berpikir bahwa Skylar pasti sudah kembali ke Pluto sekarang, sedang memakan sepiring panekuk bersama yang lainnya.

Aku hampir saja berbalik untuk pulang, sebelum aku melihatnya.

Tas selempang milik Skylar, di atas batu besar, diletakkan di dekat sepatu bot dan mantelnya yang dilipat rapi, seolah batu itu adalah lemari pakaiannya. Aku berjalan mendekati batu itu dan terdiam, Lama sekali. Hingga aku bisa mendengar denyut nadiku sendiri di telingaku.

Tidak, Tidak

Aku berlutut di samping batu dan meletakkan kedua tanganku di atas mantelnya lalu beralih untuk merogoh isi tas seperti orang kesetanan, berharap dia akan muncul dan memarahiku karena dia tidak suka jika barang pribadinya disentuh. Aku menemukan jurnal usang milik Skylar dan memasukkannya ke saku mantelku tanpa berpikir.

“Sky…” bisikku.

Aku berdiri dan merasakan kedua mataku yang mulai memanas.

“Skylar!” Aku berteriak.

Aku melepaskan mantel dan terjun ke air. Aku menyelam sedalam yang ku mampu, mengarah langsung ke dasar. Semakin jauh aku menyelam, airnya semakin dingin dan gelap, membuatku kembali berenang ke permukaan untuk mengambil napas karena rasa takut yang menyerang. Aku menyelam lagi dan lagi, sedalam mungkin sebelum kepalaku tersentak ke permukaan karena air yang masuk ke hidungku.

Aku tidak bisa menemukannya.

Pada satu titik, aku tahu dia sudah pergi. Walaupun sudah mengetahui hal itu, aku tetap menyelam dan berenang, naik-turun dan bolak-balik hingga aku merasakan pusing yang membuatku mual, seakan ada serangga kecil yang berlarian di kulitku. Leherku pegal. Ketika aku sudah tidak kuat melakukannya, aku merangkak ke tepian, kelelahan dan seluruh badanku menggigil.

Aku mengambil mantel milik Skylar dan duduk bersandar pada batu, kedua tanganku memeluk mantelnya dengan erat seolah akan ada orang yang mengambilnya dariku saat itu juga. Aku duduk di tepi danau hingga langit biru berubah warna menjadi jingga, namun ia tidak pernah kembali. Jadi aku datang ke tempat yang sama keesokan harinya, untuk menunggu. Di hari berikutnya, lalu hari berikutnya, tapi Skylar tidak kunjung kembali.

Jika aku mencegahnya untuk pergi malam itu, apakah keadaannya akan berbeda?

Bahkan ketika Sherif Whitecapel datang dan mengangkat tubuh itu dari dalam air beberapa hari setelahnya, aku tidak pernah berpikir itu dia. Skylar yang kukenal memiliki kulit putih cemerlang, bukan kulit keriput yang membengkak, Skylar yang kukenal memiliki bibir mawar kuarsa yang cantik, bukan bibir pucat yang membiru.

Dia tidak mati, Skylar yang kukenal sedang berkelana mencari tempat baru dan melakukan hal-hal menakjubkan seperti biasanya. Aku tidak tahu dimana tempat itu, tapi aku harap, tempat itu damai, tenang, dan memiliki sinar matahari yang hangat, seperti permohonan yang ia ucapkan di hari ulang tahunnya.

Penulis: Alisha Dyah Shafira (ADS)

 


1678967809_esti.jpg

16 Mar 2023

Sudut Lembab Lemari

Cantik, pikirku. Rambutnya panjang sampai punggung, merah dan bergelombang. Kissed by fire, katanya dulu. Aku mengintip susah payah dari sudut sini, menatapnya lewat celah-celah horizontal di pintu lemari. Dia menggerutu sendirian sambil memegang jidat—oh, rupanya jerawat baru, tapi aku tidak peduli, bagiku dia perempuan paling menggemaskan dan memesona yang pernah aku lihat. Tingginya tidak bertambah banyak, dia pendek, sih—aku akui, tapi tetap saja menggemaskan!

“Lily, ready?” Itu Nyonya Johnson, Mamanya Lily, asal kalian tahu. Oh ya, perempuan yang sedang aku pandangi ini Lily Johnson, usianya 15 tahun sekarang. Dia sering marah akhir-akhir ini karena jerawat, menstruasi, mood yang seperti ombak pantai—tidak jelas.

Ready,” ujar Lily bersemangat—oh, God, dia berjalan ke arah sini. Aku menahan nafas, berharap banyak, dia membukanya, membuka lemari pakaian dan… yah—bukan aku yang dipilih. Aku menatap Black Shirt—dia kaos oversized yang sering dipakai Lily akhir-akhir ini. Black Shirt tersenyum lebar, aku bisa merasakan dia akan jadi lebih sombong saat kembali dari mesin cuci. Mama Lily mengerutkan alis, bertanya, “Pakai itu lagi?”. Lily mengangguk, mengenakan Black Shirt kemudian keluar dari kamar, dia akan pergi piknik bersama teman-temannya. Aku bergumam dalam hati, “Have fun, Lily. Cuacanya sedang cerah seperti senyumanmu”.

Helaan nafas dariku mencuri perhatian dari penghuni lemari pakaian yang lain, aku ditinggal untuk kesekian kalinya di sudut lemari yang lembab dan gelap, aku ingin digantung seperti baju-baju kesayangan Lily yang lain, aku sudah lupa rasanya dicuci, dijemur dan digantung, menjadi hightlight lemari.

“Jangan sedih, lelah tau kalau sering dipakai, sering masuk mesin cuci berkali-kali dan dijemur--“ sebelum Greenie menyelesaikan kalimatnya, aku sudah terlebih dahulu membentak “Diam, kamu cuma celana dalam, tidak tau rasanya dibanggakan di depan teman-teman Lily!” Mataku melotot ke arah celana dalam hijau di laci lemari, semua penghuni lemari diam dan tidak berkomentar apa-apa lagi.

“Kamu harusnya jangan marah pada Greenie, dia mencoba menghibur, kamu-pun juga harus menerima kalau Lily memang sudah bosan memakaimu, siapa yang masih memakai motif bunga di tahun ini? Lily bukan anak-anak lagi,” oceh Luvie. Aku meliriknya sinis dan emosiku semakin memuncak karena melihat Luvie, aku iri, Luvie itu dress mewah pertama yang dibeli Lily, merah dan berkilauan. Lily suka sekali memakainya saat ada pesta besar

Aku diam, melihat salah satu polaroid kecil di dinding kamar Lily, foto kami berdua saat Lily bermain ke kebun binatang. Lily sangat cantik kalau mengenakan pakaian berwarna cerah, aku ingat ekspresinya saat melihatku di mall, dia seperti jatuh cinta di pandangan pertama, matanya berbinar cerah sekali, usianya masih 13 tahun saat itu. Sejak Papa Lily bilang iya dan membawaku pulang ke rumahnya, Lily sering sekali memakaiku, apalagi saat musim panas. Dia bilang kalau dia suka warna kuningku yang cerah dan motif bunga matahari kecil di seluruh dressnya—dia bilang dia jatuh cinta dengan motifku. Sakit ya, Lily sudah punya pakaian yang lebih bagus dariku, dia sudah remaja dan remaja mana yang mau memakai bunga-bunga?! Tunggu, aku baru ingat, 2 hari lagi ada perayaan panen bunga matahari di rumah nenek Lily, aku yakin Lily akan memakaiku.

3 Hari Kemudian.....

Hari panen tiba, yang aku tunggu-tunggu semenjak Lily menaruhku di sudut lemari, Lily sedang mengeringkan badannya yang basah sehabis mandi—God, dia datang. Seluruh penghuni lemari menatapku dengan ekspresi heran dan takut, mereka tau kalau Lily akan memakaiku untuk Hari Panen. Aku menatap mata Lily yang sibuk melihat pakaian-pakainnya. Dia—dia memilihku. Akhirnya aku kembali merasakan kulit Lily. Mata semua penghuni lemari melotot tidak percaya, aku menatap Lily dan menelan ludah “Apakah mimpi?” batinku.

Mama Lily mengintip dari ambang pintu. “Sudah dipilih?” Tanya Mama Lily. Lily menoleh dan tersenyum, “Sudah, Ma. Anak-anak panti pasti suka dengan dress ini.” Tunggu, apa katanya? Aku kembali menatap mata Lily, dia melipatku dengan rapi kemudian memasukkanku ke dalam box kardus yang tertulis “DISUMBANGKAN”.

Penulis : Esti

Editor   : Tim Redaksi LPM Prima

 


1678713319_cerpen.jpg

13 Mar 2023

GIMANA YA

Di teras kelas saat suasana sore hari yang nampak mendung oleh karena sisa rintikan hujan membuat seorang pemuda asik melamun dan menikmati alam khayalnya. Galih namanya, ya seorang pemuda berusia 19 tahun. Galih seorang mahasiswa yang tengah menempuh kuliah semester 3 jurusan Ilmu Politik di salah satu Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di Kota Solo. Galih dapat dikatakan sebagai mahasiswa yang biasa-biasa aja dan tidak mencolok. Entah apa yang membuatnya melamun seperti orang kesambet itu, namun yang pasti ia melamun dengan menghadap ke langit. "Hadehh, gimana ya ini?" katanya sambil berdialog kepada langit. Tak lupa juga ia menyeruput Floridani yang dibelinya di kantin fakultas. 

"Masa sih nilaiku beneran ngga bisa diperbaiki? Perasaan aku ngga bodo-bodo banget dah di mata kuliah ini?" tanyanya lagi kepada diri sendiri sembari melihat website kampusnya di handphone

Tak lama kemudian nampaklah seorang pemuda sekaligus mahasiswa lain di kampus tersebut. "Dor!!" teriaknya mengagetkan Galih. Ternyata mahasiswa tersebut ialah Dodi yang notabenenya teman Galih walaupun beda jurusan, yakni mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi. 

"Kenapa Lih? Kok keliatan puyeng gitu?" tanya Dodi sebagai basa-basi.

"Iyanih Dod, bingung aku perkara nilaiku ngga bisa diperbaiki" jawab Galih. 

"Ealah, emang kamu dapet berapa sih itu nilainya?" kata Dodi.

"Ini aku dapet BC, padahal yo aku ngga bodo-bodo banget loh waktu matkul ini. Aku juga ngga pernah bolos kok, terus tugas selalu ngerjain maksimal." jelas Galih kepada Dodi sambil merengut-merengut. 

"Walahh, terus? Tapi itu tugas-tugasmu selalu ontime atau suka telat ngumpulin?" tanya Dodi balik.

"Hehehehe ya agak telat sih, soalnya aku pengen banget tugasku tuh sem-pur-na, titik ra nggawe koma." sanggah Galih sambil cengengesan. 

"Oalah pekok, ya pantesan kalau nilaimu jadi BC gitu. Worang udah tahu sendiri konsekuensi kalau telat ngumpulin itu gimana" cerca Dodi kepada Galih. 

"Ya gimana ya, maafin aja deh bang." 

"Ya udah lain kali kalau ada tugas tuh langsung dikerjain aja. Jangan yang ngoyo-ngoyo banget, sing penting kamu yakin kerjain tugasmu itu terus kelar dah dikumpulin sebelum waktu deadlinenya." kata Dodi yang menjelaskan panjang lebar kepada Galih. 

"Oke oke siap, yang penting ngga ngulang mata kuliah ini aman dah." Galih menjawab dengan nada pasrah.

"Heem, terus kamu ini mau ngapain? Mau demo nilai, mau ndeprok disini atau mau pulang?" tanya Dodi. 

"Ya pulang lah, ngapain lama-lama disini. Fakultas kita banyak nyamuk, bisa bentol-bentol nanti aku." jawab Galih dengan memperagakan orang gatel-gatel. 

"Heleh heleh, kamu kayak ngga tau fakultas kita aja. Fasilitas kurang, banyak nyamuk, area parkiran minus, eh kamar mandi juga minus, mana licin banget pavingnya. Dah lah ayo pulang ae." ajak Dodi sambil merangkul pundak Galih yang tinggi tidak seberapa itu. 

 

Penulis: Christina Maharani

 


1658820739_parkiran FISIP.jpg

26 Jul 2022

Selamat Datang Di Gedung Rimbun Fakultasku

FATAMORGANA

Oleh: Rosiana Balqis

“Selamat datang di gedung rimbun fakultasku.”

Jangan ditanya fakultas apa? Nanti akan kubuat kalian tahu tanpa kuberi tahu. Gedung tua dengan mayoritas dindingnya berwarna orange kekuningan yang membuatnya tampak lebih bersinar dari sebuah bohlam pijar. Di sekitar halamannya banyak tumbuh pepohonan hijau yang menjuntai, bahkan kala hujan pun bingung mencari celah untuk jatuh ke tanahnya. Tersebar beberapa saung yang terbuat dari kayu dengan posisi melingkar biasa digunakan untuk beradu humor dengan sesama, meski terkadang banyak serangga kecil menggigit yang seolah-olah ingin turut bercengkrama dengan manusia. Entah, mungkin karena fakultasku terlalu bersih dan asri hingga banyak serangga pun berebut ingin menempatinya. Saat malam tiba, terlihat beberapa lampu taman yang menyala sehingga tak perlu takut jika datang untuk kuliah di malam hari.

Tidak seperti hutan belantara yang menakutkan, itulah mengapa fakultasku tetap indah meski dipandang di gelapnya rembulan malam. Tentu dapat dibayangkan bukan suasana di sana? “Jangan Iri!” Ini masih bagian depan yang kuceritakan, selanjutnya ayo ikut aku masuk ke dalamnya. Fakultasku terbagi dalam 8 program studi dan saat ini aku menginjak semester pertengahan di program studi yang bergelut dalam keilmuan bisnis dan apa pun tentang perusahaan. Tak hanya itu, aku bahkan mempelajari dasar administratif dan sedikit tentang sosial ketatanegaraan.

Pasti cerebrum kalian sedang bertanya-tanya ini fakultas apa. Jangan terburu-buru! Masih banyak clue yang akan kusampaikan. Fakultasku terkenal sangat memperhatikan kenyamanan penghuni di dalamnya, bahkan banyak sekali fasilitas dan ornamen yang mendukung kegiatan mahasiswa di dalamnya seperti lapangan basket di samping gedung yang selalu dirawat sehingga tampak selalu bersih dan baru, musholah kecil lengkap dengan lemari berisi mukenah, sarung, Al – Qur’an bahkan tempat wudhu yang luas dan tertutup sehingga mahasiswa tidak perlu mengantri dan tidak terganggu dengan aktivitas lain. Ruang-ruang yang memadai untuk tiap unit kegiatan mahasiswa, bahkan fakultasku menyediakan aula khusus untuk kegiatan seni dan olahraga.

Tidak seperti fakultas sebelah yang meletakkan musholah disamping ruang seni, bagaimana penghuninya bisa beribadah dengan khusyu’ jika saat sujud justru terngiang lagu dangdut. “Huft! Untung saja bukan fakultasku”. Tak heran jika di sini tidak ada fasilitas atau ornamen terbengkalai dan tidak penting, semua fasilitas fisik dapat dimanfaatkan dengan baik dan bijak. Apa aku sudah berhasil membuat kalian iri ? Oke, belum. Selanjutnya kita masuk ke ruang kelas. Setiap ruang kelas dalam program studiku memiliki bangku yang menyatu dengan mejanya, terdapat satu papan dan satu proyektor di dalamnya, tak hanya itu ruang kelas kami dilengkapi dengan AC dan penerangan yang baik sehingga saat perkuliahan tidak merasa ‘pengap’ dan mengantuk. Sayangnya, aku baru beberapa kali menempati kelas itu karena terhambat pandemi.

Konon fakultas sebelah masih menggunakan bangku panjang terbuat dari anyaman rotan yang alas duduknya sudah remuk. Jenaka sekali bukan? Pasti mereka sedang bercanda. Selain fasilitas fisik, fakultasku juga terkenal dengan pelayanan yang amat baik. Mengapa demikian? Karena fakultasku selalu berusaha untuk bisa beradaptasi dengan perkembangan zaman.

Di era digitalisasi saat ini, tentu perubahan kurikulum dan sistem pun semakin maju. Untuknya, perlu berbenah dalam mengubah sistem yang masih bersifat konvensional ke sistem yang modern agar tidak tertinggal. Masalah pengadministrasian di fakultasku entah perizinan kegiatan, persyaratan beasiswa hingga permohonan dana dapat diatasi dengan sekejap melalui sistem online, hal ini karena orang-orang di dalamnya sangat tanggap dan responsif terhadap kebutuhan mahasiswanya.

Aku iba, fakultas sebelah masih belum bisa menyamai fakultasku, katanya kemarin sempat ada mahasiswa yang gagal mendaftar beasiswa hanya karena belum selesai mengurus administrasi yang dipersulit dengan proses yang lama sehingga ia tertinggal. Setelah sepanjang kisah dari mahasiswa jelata ini, apakah cukup membuat kalian iri? Apakah kalian bisa menebak fakultas apa ini? Yaaa betul sekali !!!.

“Kringgg!! Kringgg!! Kringgg!!” (suara alarm berbunyi.) Ternyata aku baru bangun dari tidur dan mimpi indah semalam.

(LITERAKSI BEM FISIP X LPM PRIMA) 


1603092000_wik.jpg

19 Oct 2020

BREATH

Bagaimana rasanya, menjadi sosok yang teramat dibanggakan walau hanya dengan sedikit tindakan? Bagaimana rasanya, menjadi kesayangan semua orang tanpa harus meminta belas kasihan. Pasti menyenangkan bukan?

Asya duduk termenung menatap kerumunan orang yang berada dihadapannya. Sosok yang berada ditengah kerumunan itu membuatnya iri hati. Bukan karena pencapaian yang didapatkannya namun iri terhadap kehangatan yang menyelimuti sosok itu. Dalam hatinya, Asya ingin merasakan kehangatan itu sekali saja. Sekali saja, ia ingin ditatap dengan pandangan bangga dan dielu-elukan oleh keluarganya. Sekali saja, ia ingin bertukar posisi dengan sang kakak. Sosok yang selalu menjadi nomor satu di keluarga kecilnya bahkan di keluarga besar.

Asya adalah mahasiswi semester awal yang masih berjuang untuk menyesuaikan diri dengan dunia perkuliahan. Jalannya menuju bangku perkuliahan tidak sehangat dan semudah jalan sang kakak, Jihan. Jika Jihan saat berjuang untuk mendapatkan kampus dan jurusan yang diinginkan mendapat dukungan penuh dari orang tuanya, berbeda dengan Asya yang harus mengadu urat sebelum akhirnya diperbolehkan. Jika Jihan melakukan sedikit kesalahan, orang tuanya akan memaafkan tanpa banyak bicara dengan diberi sedikit nasehat. Namun, jika Asya yang melakukan kesalahan sedikit saja, kesalahan itu akan nampak secara berlebihan dikedua mata orang tuanya.

“Hah....” Sudah kesekian kalinya, Asya menghela napas berat.

“Bengong aja...” Atensi Asya teralihkan oleh suara dengan logat jawa yang kental milik Dinda. Ia hanya menyunggingkan senyum kepada sahabatnya itu. Tak ada lagi suara yang terdengar. Asya kembali larut dalam pikirannya sendiri, sedangkan Dinda hanya duduk menemani.

Tujuh menit dihabiskan keduanya dalam diam. Dinda yakin dengan apa yang ada di pikiran Asya yang tengah menatap kakaknya saat ini. Dinda hanya menunggu Asya untuk memulai pembicaraan. Sepuluh tahun persahabatan mereka, menjadikan keduanya hafal tabiat masing-masing.

“Din, kapan ya aku bisa kaya Kak Jihan? Bisa dikerumunin keluarga kaya gitu? Dibanggain kemanapun mereka pergi.” Tanya Asya tanpa mengalihkan pandangannya.

“Sya..” Dinda tidak tahu harus menanggapi sahabatnya ini seperti apa. Hatinya ikut tersayat saat mendengarkan keluhan-keluhan yang keluar dari bibir Asya. Keluhan tentang keluarganya yang seakan tidak bisa adil dalam memberikan kasih sayang.

“Salah gak sih Din, aku suka iri sama Kak Jihan? Aku tahu ini salah, tapi aku gak bisa pungkiri kalau aku suka iri sama dia.”

Asya menatap nanar kearah gerombolan kakaknya yang tampak senang hati karena kelulusan mereka. Jihan menjadi salah satu lulusan terbaik dan mahasiswi berprestasi di jurusannya. Kedua orang tuanya sangat senang sampai tidak bisa membendung air mata. Sama seperti yang mereka lakukan saat mereka mengetahui Jihan diterima di kampus dan jurusan pilihannya.

“Aku berjuang keras untuk bisa ada di tahap ini Din. Di tahap aku kuliah di kampus dan jurusan yang aku mau. Walaupun jurusanku gak setenar jurusan Kak Jihan, setidaknya aku bisa satu kampus dan satu fakultas sama dia.”

Dinda yang paham betul hanya bisa menganggukkan kepalanya beberapa kali. Pernah sekali Asya bercerita perihal bagaimana tanggapan orang tuanya saat ia menjadi lulusan terbaik di SMA-nya dan berhasil masuk ke kampus juga jurusan pilihannya. Asya yang berangan-angan akan diberi pelukan hangat dan kata-kata menyenangkan untuk ia dengar, harus kandas dengan sebuah ucapan selamat tanpa mengalihkan pandangan dari aktivitas yang mereka lakukan.

“Sesak Din rasanya..” Tanpa disadari, air mata Asya jatuh membasahi pipinya.

OOO

Sedari kecil, Asya sering menyimpan semuanya sendiri. Ia merasa bahwa dirinya lebih aman dan nyaman ketika semua kekecewaan yang mendera dipendam dalam-dalam agar ia tidak kalut dan sedih perkepanjangan. Toh nanti akan berlalu. Begitu pikirnya sedari dulu. Asya tidak menyangka, rasa kecewa terhadap orang tua dan keluarganya itu akan mencapai titik puncak dimana dia sudah tidak sanggup lagi untuk menahan semuanya. Kilasan memori bagaimana ia diperlakukan tidak cukup adil oleh keluuarga semasa kecil hingga dewasa tengah melalang buana di pikirannya.

Ia duduk diatas kasur dengan lutut yang ditekuk, menyembunyikan parasnya di dalam sana. Dadanya seperti dihimpit oleh batu besar yang membuatnya sesak. Napasnya begitu pendek dibanding dengan biasanya. Asya merai gawai yang tergeletak tepat disamping tubuhnya. Menekan satu nama dan segera dibuat panggilan. Kurang dari satu menit, suara dengan logat jawa menyapa rungunya. Asya hanya diam, tidak memberi jawab walau sekedar menyapa kawannya itu.

Tidak seperti panggilan suara yang mendapat sahutan begitu cepat, Asya memilih untuk diam beberapa saat. Dinda, orang yang berada diseberang panggilan mengikuti kemauan kawannya ini. Dibiarkan Asya untuk menata hati serta kata-kata yang ingin ia lontarkan. Dibiarkannya Asya mencari waktu nyamannya untuk berbicara tanpa harus tergesa-gesa.

“Aku gak kuat Din.. semakin aku tahan, rasanya semakin sesak.” Keluhnya membuka suara setelah cukup lama.

“Kamu gak perlu tahan itu lagi Sya. Sudah banyak rasa kecewa yang kamu terima dan kamu pendam sendirian. Kamu gak akan kuat kalau harus menyimpannya sendiri Sya. Aku gak tahu seberat apa rasa kecewa yang kamu alamin, tapi aku yakin kamu butuh waktu seenggaknya sebentar aja buat luapin semuanya. Buat ambil napas yang cukup berat dan bisa buat kamu tenang.” Asya mendengarkan semua penuturan Dinda. Mungkin memang benar penuturan kawannya tersebut. Ia butuh waktu untuk meluapkan semuanya, dan mengambil napas walau barang sejenak.

“Sekarang waktunya kamu buat istirahat, tarik napas dampai kamu ngerasa lega. Kalaupun kamu mau nangis, gak masalah Sya. Manusia punya titik lemahnya masing-masing dan kamu dititik itu sekarang.”

Asya mencerna apa yang dilontarkan Dinda. Semakin dicerna, semakin sesak pula dadanya. Satu persatu bulir air matanya membasahi pipi. Asya terisak dalam heningnya kamar, hanya ditemani Dinda diseberang sambungan. Ia berusaha menarik napas lebih dalam, menghembuskannya dengan kasar diiringi dengan sebuah isakan. Malam ini, Asya ingin menuntaskan rasa sesak di dadanya hingga habis tak bersisa.

Diseberang sana, Dinda masih dalam diamnya. Ia sedang menyusun kata-kata penenang untuk sahabatnya. “Gak akan ada yang nyalahin kamu sekarang Sya.. lepasin aja semuanya.”

Sekarang Asya paham bahwa semua yang dipendam itu tidak baik. Asya paham, kekecewaan yang ia pendam dari lama bukannya menghilang seiring berjalannya waktu, namun terpupuk dan tumbuh subur dalam dirinya tanpa disadari. Dan disinilah dia sekarang, menuai apa yang sedari lama telah disimpan. Kesedihan dan kekecewaan yang berlipat ganda.

Dinda yang menemani Asya membungkam mulutnya. Ia mecoba memposisikan dirinya di posisi Asya saat ini. Namun sayang, rasanya mustahil untuk dilakukan. Semakin dicoba, semakin tidak sanggup pula dirinya. Bagi Dinda, tidak apa membuat kesahan, karena orang lain juga pasti melakukan kesalahan. Tidak apa mengistirahatkan diri sejenak dari hiruk-pikuk dunia untuk menghela napas. Karena menurut Dinda, semua orang punya titik lemahnya masing-masing dan merupakan hak mereka untuk meluapkan isi hati.

“Aku memang gak bisa memposisikan diri jadi kamu Sya, aku gak tau seberat apa bebanmu selama menyimpan ini semua sendiri, tapi gak masalah. Kamu bebas sekarang. Aku disini buat temani kamu sampai kamu ngerasa lega. Kamu sudah terlalu lama berjuang sendirian Sya, aku tahu itu. Kamu sudah sangat bekerja keras selama ini. Sekarang waktunya kamu ambil napas dan istirahat dari hiruk pikuknya dunia untuk sejenak.”

Kalimat panjang dari Dinda, sepenuhnya menyadarkan Asya. Dirinya memang sedang tidak baik-baik saja. Tawanya adalah bentuk tipuan guna tutupi kesedihan. Sifat riang yang selalu dia tunjukkan merupakan sebuah tameng untuk membendung kesedhian yang semakin menerjang. Mungkin benar kata Dinda, saat ini dirinya harus bernapas lebih berat sejenak dan menyingkirkan diri dari ramainya dunia.

Penulis: W


1600759542_coba ya.jpg

22 Sep 2020

Saudade

Aku menutup buku A Portugese: A Modern History setelah menyelesaikan separuhnya. Terbiasa membaca buku fiksi bertema ringan, bukan buku sejarah non-fiksi seperti ini membuatku agak kesulitan menamatkannya. Namun di separuh halaman, aku menemukan sesuatu yang menarik.

Sejarah mencatat, pada abad ke-15 Portugis mengirimkan para pemudanya ke berbagai penjuru dunia untuk membuka jalur perdagangan dan mendirikan koloni-koloni. Berpuluh-puluh tahun petualangan dan pelayaran membuat Portugis harus kehilangan sebagian besar dari mereka dan tak pernah kembali pulang.

Kehilangan itu bagi perempuan, anak-anak, dan orang tua yang ditinggalkan tidak hanya diiringi kesedihan dan mandalam, tetapi juga harapan bahwa kekasih, abang, dan anak-cucu mereka hilang bukan untuk selama-lamanya. Bukan hanya sekedar duka, apa yang mereka rasakan adalah melankolia kolektif. Melankolia membuat orang-orang mengubur objek kehilangan dalam ego masing-masing, bukan melepasnya pelan-pelan. Mereka menamai perasaan campur aduk itu saudade.

Aku menandai halaman itu dengan sticky notes sebelum berhenti membacanya dan berjanji akan menerusakannya ketika telah sampai di rumah. Menghela nafas panjang, aku merasa punya suatu hal dalam diriku yang berkaitan dengan itu. Aku memilih menyesap kopi dari papercup, lalu diam memandang keluar jendela di sisa waktu perjalananku dalam kereta Jayakarta dari Pasar Senen menuju Jogjakarta sore ini.

Tiba-tiba perasaan gugup menyergap dan reflek aku mengeratkan genggaman tangan sendiri.  Bagaimanapun, pulang ke Jogja setelah 5 tahun lamanya menjadi sesuatu yang berat buatku. Tiap libur semester saat kuliah dulu, aku lebih memilih menetap di Jakarta dan bekerja paruh waktu lebih banyak dari biasanya. Namun kali ini aku ingin pulang, tidak ada alasan partikular. Aku hanya ingin pulang

****

Di dalam rumah ini akhirnya aku berada. Semua furnitur dan hiasan dinding dalam rumah ber-cat krem ini masih terawat seperti terakhir kali aku berada disini. Tempat ini tidak pernah berubah namun keadaan iya. Aku masih dapat mengingat di ruang keluarga ini, bertahun-tahun lalu, setiap sore aku dan Ibu menonton televisi bersama sambil menunggu Ayah pulang bekerja. Semuanya terasa baik dan kami bahagia.

Lamunan ku hilang saat terdengar seorang membuka pintu. Ternyata budhe datang membawa dua tas yang aku tebak berisi rantang makanan. Belum sampai ia duduk, budhe sudah menyerangku dengan pertanyaan,

“Sampai Jogja jam berapa Kina? Kenapa ga telfon budhe? Dari stasiun naik apa kesini?”.

Aku mengambil tas budhe dan menaruhnya di atas meja.

“Jam 4 budhe, naik ojek online. Kina ngga mau merepotkan budhe makanya ngga telfon dulu.”

Budhe duduk di sampingku. Ia memandangku dengan sorot mata khawatir. Persis seperti 5 tahun lalu saat ia mengantarku ke stasiun untuk berangkat ke Jakarta. Kala itu satu-satunya yang aku punya adalah budhe dan keluarganya. Berbekal uang tabungan budhe yang cukup hanya untuk membayar biaya kuliah, makan, dan tempat tinggal selama satu semester, aku berangkat ke Jakarta untuk kuliah.

Budhe adalah kakak dari Ibu dan ia sudah kuanggap seperti Ibuku sendiri sekaligus orang yang paling mengerti aku. Ia tahu persis, aku ingin meninggalkan Jogjakarta bagaimanapun caranya. Ia lalu menyuruhku untuk mendaftar di kampus negeri yang tidak terlalu prestisius dengan uang kuliah yang tidak terlalu mahal di sana. Sepeninggal Ibu, aku hidup sendiri dan apa yang ingin aku lakukan selepas SMA  hanyalah kelur dari kota ini dan bekerja untuk menyambung hidupku sendiri.

Budhe berkali-kali meyakinkanku untuk meneruskan kuliah tapi aku yang sudah cukup dewasa saat itu mengerti bahwa biaya kuliah terlampau mahal untukku yang piatu. Namun karena budhe lah akhirnya aku berangkat. Budhe meyakinkanku berulang kali, dengan kuliah lah masa depanku dapat terjamin. Namun sepertinya kali ini budhe salah.

“Budhe senang sekali kamu pulang, nduk, setelah 5 tahun ini. Budhe tau berat buatmu ke Jogja lagi, apalagi pulang kesini,” Budhe menggenggam tanganku.

Benar, mengingat dan kembali ke Jogja sama halnya seperti menarikku ke lubang hitam masa lalu. Jakarta tidak lebih baik dari Jogja untuk urusan keteraturan, tapi setidaknya aku bisa memulai hidup menjadi Kina baru dimana tidak seorangpun di Jakarta tau aku siapa.

Aku mengelus pelan tangan budhe, tangannya terasa kasar karena harus bekerja keras memasak pesanan catering setiap hari. Aku menatap mata satu-satunya orang yang paling mempercayaiku, mengertiku, dan memberikan ruang luas untuk kasih sayangnya padaku. Wajah budhe tampak keriput dan rambutnya beruban. Perasaanku tiba-tiba menjadi sentimental. Doa  untuk keselamatan dan umurnya yang panjang adalah hal yang tak pernah selesai aku panjatkan. Aku berharap masih ada waktu buatku untuk memberi lebih dari apa yang telah budhe beri kepadaku selama ini.

Budhe tersenyum, “Gimana kabarmu, Kin? Baik?”

Aku tidak bisa menjawab apapun selain “Baik” meskipun kenyataanya sebaliknya. Memilih jurusan keguruan dan pendidikan saat kuliah, berharap aku bisa menjadi guru, suatu pekerjaan yang layak dan mapan menurutku.  Namun sepertinya hidupku tidak berakhir sebaik cerita novel atau film dimana anak yang hidup bekerja keras lalu mendapat ganjaran yang sesuai, yaitu cita-citanya terpenuhi dan sukses.

Kuliah sambil bekerja di salah satu toserba saat sore hingga malam hari adalah suatu hal yang tidak mudah. Akibatnya aku sering terlambat masuk kuliah karena terlalu lelah bekerja di hari sebelumnya. 4 tahun perkuliahan yang tidak berjalan mulus, ditambah saat setelah lulus aku susah mendapat pekerjaan dimana-mana.

Aku mendaftar di bimbingan belajar, sekolah dasar hingga menengah swasta, lembaga les privat, sampai CPNS, tidak ada satupun yang berjalan mulus kecuali salah satu sekolah dasar swasta di Jakarta Selatan yang menerimaku. Gajinya terbilang kecil, hanya cukup untuk biaya sewa kosku yang kecil dan kebutuhan sehari-hari yang harus di hemat sedemikian rupa selama satu bulan.

Selepas berbincang singkat aku membantu budhe memindahkan lauk dari rantang ke piring-piring di dapur.

“Kina apa tidak mau tinggal disini saja?” budhe bertanya padaku yang sedang mengelap piring. Aku tidak pernah siap dengan pertanyaan ini.

Rumah ini dan Jogja membawaku pada trauma masa lalu dan bagaimana aku membenci Ayahku sendiri. Aku tidak siap. Budhe masih fokus berkutat memindahkan makanan dan melanjutkan,

“Maksud budhe, Kina bisa melamar kerja jadi guru disini. SD tempat pakde mu mengajar sedang butuh guru. Budhe hanya khawatir.” Budhe melanjukan.

Aku diam dan melanjutkan mengelap piring. Nafasku tercekat ditenggorokan dan tidak tahu harus menjawab apa.

Budhe membalikan tubuhku untuk menghadapnya, ia menggenggam tanganku lagi.

“Maafkan ayahmu, Kin. Apapun yang ia lakukan, maafkan.”

Aku tidak menyangka kita akan sampai pada topik ini. Aku menghindari pembicaraan tentang hal ini sejak hari itu, bahkan kepada Ibuku sendiri. Aku tidak ingin beliau berbicara apapun tentang Ayah.

“Kina, 6 bulan yang lalu istri kedua ayahmu datang ke rumah ini. Kebetulan budhe mampir untuk membersihkan rumah. Ia datang dan mengabari kalau Ayahmu meninggal. Budhe tidak langsung memberi tahu karena budhe tahu benar kamu tidak ingin membicarakannya.” Budhe melanjutkan dan setelahnya ia menunduk. Mungkin terlampau tidak tega melihat bagaimana ekspresiku setelahnya.

Tiba-tiba ada sesuatu dalam diriku yang bergejolak dan hendak tumpah, yang akhirnya aku tahu itu adalah semua kesedihan, kekecewaan, kemarahan dan kebencian kepada Ayahku. Dalam hidupku, hanya sampai umur 12 tahun aku menganggap Ayahku adalah sosok Ayah yang baik. Selebihnya, sejak hari itu hingga sekarang umurku 25 tahun, apa yang aku bayangkan dari Ayah adalah hanya kebencian.

Ayah meninggalkan aku dan Ibu saat usiaku 12. Hari itu Ayah menyeret kopernya keluar rumah, Ibu menahannya, yang kudengar adalah teriakan, tangisan Ibuku, dan suara tamparan Ayah pada Ibu. Beberapa minggu kemudian telah ku ketahui bahwa Ayah menikah lagi. Ibuku? Sakit jiwa. Aku tidak mengerti apa yang diderita Ibu secara spesifik. Namun setidaknya itu yang aku tangkap dari apa yang Psikiater katakan saat ia memeriksa Ibu.

Setahun sebelum kepergiannya, aku merawat Ibu sendiri dan budhe sesekali mengunjungi kami. Emosi ibu tidak stabil. Ibu yang melamun sendiri di depan jendela kamarnya, lalu tiba-tiba marah dan membanting semua barang-barang adalah hal yang aku lihat setiap hari. Ibu rutin minut obat meski kadang-kadang kambuh dan akhirnya tutup usia saat usiaku 17.

Apa yang kuharapkan saat pemakaman ibu adalah Ayah datang. Namun sampai hari ini, aku tidak pernah melihatnya lagi. Ayah meninggalkan kita, itu membuat Ibu sakit jiwa. Mereka berdua meninggalkanku dan aku sendirian. 

Aku jatuh terduduk di dapur. Budhe menenangkanku yang menangis. Hal yang tidak pernah benar-benar aku pahami, aku tahu aku masih mengharap Ayah datang kerumah ini lagi, betatapun aku membencinya. Sama seperti perempuan, anak-anak, dan orang tua yang ditinggalkan kekasih, abang, dan anak-cucu mereka dalam pelayaran Portugis 6 abad lalu dan masih mengharap kehadiran mereka, hal yang sama juga terjadi padaku. Ayah memutuskan untuk pergi dan aku kehilangannya, lalu aku membencinya, tapi masih mengharap kehadirannya. Selama ini aku tidak pernah bisa benar-benar melepaskan Ayah, aku mengubur Ayah dalam egoku.