Persaingan Film Horor Indonesia Dalam Kancah Internasional

By LPM PRIMA FISIP UNEJ

14 Aug 2022 - 10:04:48

1660471488_tulisan Prima (film) 1.jpg
pixabay.com

 Oleh: Elham Aprilian

Traipenmadas 2021

Genre film horor masih menjadi pusat perhatian sebagian masyarakat Indonesia. Tak pelak para sineas berlomba-lomba membuat sebuah film yang dapat disukai masyarakat. Perbanyak rombak sana-sini adalah strategi para sineas untuk menyesuaikan cerita dengan perkembangan zaman dan perfilman horor di dunia yang tak melulu soal hantu seram yang ditonjolkan dan kesurupan yang membosankan. Tujuannya agar tak hanya diterima dikalangan masyarakat Indonesia, namun tentunya dunia.

Dengan mengangkat budaya Indonesia yang mempunyai ciri khas, apalagi mitos-mitos yang melegenda di berbagai daerah yang kental akan adat istiadat yang menjadi bagian kehidupan masyarakat, menjadikan film horor Indonesia cukup mampu bersaing.

Tentunya di mata dunia, mitos-mitos masyarakat tradisional dianggap sebagai hal yang unik dan sangat menarik. Budaya yang kental dapat membuat sebuah cerita semakin berwarna ditambah dengan menonjolkan sisi mistis yang menakutkan.

Tak hanya budaya, sama halnya dengan perkembangan perfilman horor dunia saat ini, sentuhan psikologis atau permainan pikiran tak luput ditambahkan sebagai pemanis. Sentuhan itulah yang telah memberikan kesan mengerikan dari pada hanya kekagetan semata.

Kini, seberapa seram sang hantu yang disajikan sudah tidak menjadikan patokan sebuah film agar dapat menghantui penonton di sepanjang pemutaran film. Sebagai gantinya, para sineas dapat menitikberatkan metode psikologis supaya dapat menyuguhkan fenemona mengerikan yang memberikan efek yang tak terduga dan berkesan, serta menancap dipikiran para penonton setelah menontonnya.

Sentuhan psikologis yang dapat mempermanis cerita menjadi tantangan yang penting untuk para sineas. Mereka harus membuat metode yang kuat untuk film mereka. Alih-alih menonjolkan hantu sebagai “bintang” utama, para sineas dapat lebih menonjolkan bagaimana peran utama menyelesaikan masalahnya dengan akhir yang sulit ditebak.

Mengingat perfilman horor 90-an yang mayoritas dibintangi oleh Suzanna, banyak menyuguhkan adegan “berperang” antara hantu dengan manusia. Tak hanya itu, budaya dan mitos-mitos juga turut dimasukkan dalam cerita dan hasilnya pun cukup diminati masyarakat Indonesia pada masa itu.

Namun, berbeda tahun sesudah zaman Suzanna atau tahun antara 2000-2010. Kebanyakan film horor lebih identik dengan adegan vulgar dan cerita yang monoton. Tak hanya itu, hantu-hantu yang disuguhkan pun hanya itu-itu saja, seperti halnya kuntilanak yang hampir ada di setiap film horor Indonesia pada zaman itu.

Sekarang pun para sineas muda mulai berlomba-lomba me-remake film-film jadul menjadi lebih modern. Contohnya Pengabdi Setan yang sebelumnya sudah diproduksi di tahun 90-an kemudian di remake oleh Joko Anwar. Hasilnya pun sangat memuaskan. Masyarakat sangat tertarik walaupun cerita telah diproduksi sebelumnya. Joko Anwar mengemas dengan sentuhan yang modern.

Selain itu, Perempuan Tanah Jahanam besutannya juga sudah wara-wiri di beberapa bioskop dan festival film di luar negeri. Dengan judul internasional Impetigore, masyarakat asing sangat menyukai jalan cerita yang segar, klenik dan tidak melulu soal hantu.

Menurut mereka sebagai masyarakat barat yang minim akan budaya, film yang menambahkan unsur budaya tradisional menjadi daya tarik yang tidak bisa dilewatkan. Hal yang serupa dengan film Bollywood atau India yang kental akan budayanya dan sudah dikenal dunia. Film Indonesia patut mengangkat unsur budaya dan menambahkan sentuhan modern di dalamnya.

Kini, film horor Indonesia sudah mulai dikenal karena mengangkat budaya Tanah Air yang dianggap unik. Unsur-unsur budaya yang dekat dengan masyarakat adalah aset yang dapat dikembangkan dan dipertimbangkan ke mata dunia. Seperti kisah-kisah mitos yang tumbuh di pedesaan yang berkaitan erat dengan adat istiadat dam tatanan sosial masyarakat tradisional. Menjadikan perfilman horor Indonesia dapat berjejer dengan film-film produksi barat.

 

Artikel Lainnya
1661840343_WhatsApp Image 2022-08-29 at 18.11.12.jpeg

30 Aug 2022

Batasan Orang Tua Kepada Anaknya

Di tulisan ini saya sebagai penulis akan membahas hal yang mungkin banyak di pikirkan atau atau masalah yang sering di rasakan oleh remaja. Tulisan ini mungkin  banyak menuai pro kontra di antara pembaca, namun saya akan tetap menuliskannya. Opini yang akan saya sampaikan adalah mengenai batas-batasan remaja yang diberikan orang tua. Saya berharap pembaca dapat mengerti dan mungkin beberapa pembaca ada yang merasakan hal yang sama seperti yang aku tuliskan.

   Sebagai remaja, di umur ini kita merasa bahwa kita dapat melakukan semua hal yang kita suka. Hal-hal terserbut tidak semua dapat berdampak positif, pastinya akan ada yang berdampak negatif. Kebebasan itu dapat membuat kita melakukan atau terjerumus ke hal hal yang negatif seperti narkoba, prostitusi dan lain-lain. Salah satu cara untuk menanggulangi hal tersebut adalah peraturan atau batasan-batasan yang di berikan oleh orang tua, seperti tidak boleh pergi hingga larut malam, tidak keluar rumah tanpa alasan yang jelas, dan lainnya.

   Seringkali batasan-batasan tersebut terasa menjadi beban bagi kita semua. Sebenarnya kita tahu bahwa batasan-batasan tersebut diberikan oleh orang tua kita untuk anak-anaknya agar mereka hidup dengan baik dan sesuai dengan peraturan. Kita sebagai anak sering merasa bahwa aturan atau batasan tersebut membuat kita berpikir bahwa orang tua kita tidak mempercayai kita. Sebenarnya jika kita liat dari dua perspektif orang tua dan anak, hal ini memang harus di diskusikan oleh kedua pihak,karena memang kedua pihak tidak ada yang salah.

   Kesalahan tersebut akan timbul jika orang tua membatasi hal-hal yang penting di hidup kita. Contohnya cita-cita anaknya. Sebagai seorang individu yang memiliki hak untuk menentukan pilihan hidup, kita dapat membela cita-cita yang ingin kita capai dan meyakinkan orang tua. Pertanyaannya adalah salah kah kita menolak batasan orang tua kita atas cita-cita kita? Tentu saja tidak. Kita semua harus dan wajib memilih cita-cita kita sendiri. Masa depan kita adalah milik kita bukan orang lain atau pun orang tua kita. Aku dan semua pembaca harus membuktikan kepada orang tua kita bahwa cita-cita yang ingin kita capai itu akan membuahkan hasil yang baik di masa depan. Bagaimana caranya? Dengan bekerja keras untuk menggapai cita-cita tersebut.

   Batasan-batasan ini jika diterapkan dengan benar memang membawa dampak positif namun batasan ini membuat banyak anak melakukan hal-hal yang ekstrem. Contohnya seperti siswa SMP berinisial DRP di Kalimantan Utara yang memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan gantung diri. DRP diduga melakukan hal tersebut lantaran dia dilarang untuk terus bermain game oleh orang tuany. Kasus lainnya adalah siswa SMP berinisial RG asal Kecamatan Sambong, ditemukan meninggal di kamarnya karena gantung diri. RG diketahui memutuskan mengakhiri hidupnya lantaran cintanya tidak di restui oleh orang tuanya. Kasus-kasus seperti diatas lah yang mengakibatkan batasan-batasan ini terlihat hanya mempunyai dampak negatif.

   Apa yang harus kita lakukan untuk melepas diri dari batasan-batasan ini? Kita tidak perlu lepas dari batasan-batasan ini. Selama kita tahu dan yakin bahwa batasan-batasan ini diberikan untuk melindungi dan menjaga diri kita. Kita juga wajib menunjukan kepada orang tua kita bahwa batasan ini mampu membantu kita menjadi orang yang benar jika batasan itu merupakan hal yang baik untuk kita. Bagamaina cara kita mengetahui bahwa batasan atau peraturan itu baik untuk diri kita? Pasti kita akan tahu. Lihatlah lebih dalam kepada diri kalian dan kalian akan mendapatkan jawabannya.(Rayhan)


1661641944_konten_Tipe Riset Penelitian Berdasarkan Pendekatan, Fungsi dan Tujuannya.jpg

27 Aug 2022

Artikel hasil mini riset mahasiswa

Libur semester genap telah usai, liburan berdurasi satu bulan lamanya ini banyak dimanfaatkan  Mahasiswa untuk memanfaatkan waktu luang diluar aktivitas akademik, entah untuk melakukan hobi maupun mengerjakan hal yang dapat mendukung pengembangan diri. Sebagai langkah dalam mencari tahu apa saja yang dilakukan mahasiswa pada liburan kali ini, kami anggota Biro Penelitian dan Pengembangan LPM PRIMA mengadakan mini riset guna mengumpulkan respon  beberapa mahasiswa selama menjalani masa libur semester genap yang terhitung cukup lama ini.

Berbekal respon baik dan antusiasme yang disampaikan mahasiswa melalui mini riset dengan menyebarkan formulir untuk mengetahui bagaimana para mahasiswa melewati libur semester genap kali ini menunjukkan bahwa adanya beberapa perbedaan dari kepuasaan yang dirasakan mahasiswa selama menjalani liburannya. Responden yang antusias dan senang menjalani masa liburnya rata-rata banyak mengerjakan hal-hal menyenangkan yang termasuk dalam hobinya, maupun hal menarik yang menguntungkan dan dapat berguna bagi dirinya, sehingga mahasiswa merasa senang dan enjoy dalam menjalani liburannya. Beberapa kegiatan yang mereka lakukan ini juga dapat menjadi rujukan untuk dikerjakan selama masa liburan adalah ber-volunteer, mengikuti magang, kepanitiaan, meningkatkan self improvement secara mandiri, maupun hanya menghabiskan waktu untuk menghibur diri dengan membaca novel, marathon menonton series drama, atau hal lainnya. Berdasarkan jawaban para responden, mereka mengaku bahwa perubahan mood saat liburan mempengaruhi aktifitas yang mereka lakukan, sehingga untuk menikmati masa libur mereka berusaha meningkatkan mood dengan melakukan hal-hal yang disukai.

Sebaliknya, beberapa responden berkomentar bosan dan tidak terlalu menikmati libur semester yang ada diakibatkan karena terlalu lamanya masa liburan. Rata-rata mereka hanya bermalas-malasan atau terpaksa melakukan hal-hal produktif atas perintah sehingga libur semester yang dijalani karena terasa suntuk dan membosankan. Mereka mengaku bingung dan terbatas untuk melakukan sesuatu yang menarik dan produktif saat liburan, terlebih dengan durasi yang cukup lama.

Kesimpulan dari beberapa respon mahasiswa yang diberikan menunjukkan bahwa mahasiswa lebih banyak yang senang mendapat durasi jangka libur yang lama. Hal ini menurut mereka dapat menjadi masa dimana selain untuk membebaskan diri dari serentetan kewajiban akademik kuliah, juga sebagai langkah untuk fokus meningkatkan kemampuan diri secara mandiri. Disisi lain mereka yang merasa suntuk dan bosan memiliki alasan utama bingung dan terbatasnya kegiatan yang hendak mereka lakukan, ini bisa jadi dikarenakan mereka masih belum mengenal diri mereka sendiri, seperti apa yang mereka sukai dan tidak serta hal-hal positif apa yang dapat dikerjakan selama liburan semester.


1660477209_Head 1.png

14 Aug 2022

Jordan Peele, Sutradara Film Horor Terbaik Melalui Film Khasnya Get Out (2017), Us (2019) dan Nope (2022)

Oleh: Elham Aprilian

Traipenmadas 2021

Jordan Peele adalah sosok sutradara yang digadang-gadang sebagai sutradara film horor terbaik sepanjang masa. Peele sendiri dikenal sebagai komedian, aktor, penulis naskah hingga produser Amerika Serikat.

Namanya terkenal ketika film bergenre horor-thriller besutanya, Get Out, yang rilis pada 2017 lalu yang sangat menyita perhatian publik. Kemudian, namanya semakin melambung ketika film keduanya rilis, Us, pada 2019. Hingga 2022 ini, film terbarunya telah ditunggu oleh penikmat film horor di seluruh dunia. Film yang bertajuk Nope yang rilis pada bulan Agustus (jadwal Indonesia) ini.

Ciri khas yang dapat dilihat dari film-film produksinya adalah menggunakan aktor dan aktris berkulit hitam sebagai pemeran utama. Hal ini dianggap sebagai upaya eksistensi para warga kulit hitam yang diketahui telah banyak terjadi kasus diskriminatif dan rasisme di Amerika Serikat. Bukan hanya itu, Peele rajin memasukkan beberapa pesan tersirat penuh makna yang sering kali tidak disadari oleh para penonton.

Peele sebagai sutradara berkulit hitam, ingin memberikan tempat yang pantas bagi orang-orang kulit hitam melalui karya-karyanya. Hal ini jelas diperlihatkan oleh Peele melalui film perdananya dengan tema rasisme yang kental dan tajam, Get Out.

Secara garis besar, Get Out mengisahkan seorang pria kulit hitam, Chris Washington (diperankan oleh Daniel Kaluuya), dengan seorang wanita kulit putih, Rose Armitage (diperankan Allison Willimas).

Kisah ini dimulai ketika Rose mengajak Chris bertemu dengan keluarganya dalam pesta keluarga yang tinggal di pinggiran kota. Acara itu diketahui selalu diselenggarakan di setiap tahunnya. Namun, beberapa kejanggalan yang dirasakan Chris ketika ia berada di rumah Rose hingga membuatnya sadar bahwa ada sesuatu yang salah sedang terjadi. Beberapa orang yang berkulit hitam dalam acara itu yang ia temui tampak seperti orang aneh. Hingga Chris akhirnya menyadari adanya bahaya yang mengancam hidupnya dan ia harus melarikan diri.

Dalam film ini, Jordan Peele mengangkat isu-isu perbudakan orang-orang kulit hitam pada zaman modern. Pasalnya, Chris dan orang kulit hitam lainnya di rumah itu dijadikan sebagai komoditi oleh keluarga Rose untuk kepentingan-kepentingan khusus mereka.

Setelah sukses dengan film pertamanya serta mendapatkan penghargaan Oscars pada 2018 dalam kategori Naskah Skenario Orisinil Terbaik dalam Academy Awards, Jordan Peele mencoba peruntungan di film keduanya yang ia beri tajuk “Us”. Keberhasilan film keduanya ini juga membawa Peele sebagai sutradara film horor yang patut diperhitungkan.

Dalam Us, para pemeran utama adalah para aktor dan aktris yang sebelumnya sama-sama bermain dalam film Black Panther (2018), Lupito Nyong’o dan Winston Duke. Film ini mengisahkan teror yang sadis dan mengerikan tiada hentinya dari seseorang yang mirip dengan “kita”. Dari film ini, para penonton juga mendapat pesan yang cukup tegas di mana pemerintah harus memiliki tanggung jawab penuh dalam proyek yang mereka lakukan.

Ulasan positif dari para penonton dan para kritikus film membuat Jordan Peele semakin terkenal. Ditambah, film ketiganya yang telah rilis pada bulan Juli lalu disambut meriah oleh para penikmat film di seluruh dunia. Nope, film tentang fenomena misterius yang mempengaruhi perilaku hewan dan manusia dengan sentuhan horor-fiksi khas Jordan Peele.

Tentunya film-film seperti ini dapat menjadi referensi para sineas lain dalam memproduksi film-film horor mereka. Alih-alih mengedepankan unsur seram semata tanpa memberikan pesan penuh makna, menjadikan film lebih berkesan, membekas dan menantang untuk diminati adalah salah satu harapan para penikmat film.


1658821513_gedung FISIP.jpg

26 Jul 2022

Rumah Sekap Rapunzel

Banyak yang bilang, kampus merupakan miniatur negara. Terdapat beberapa Lembaga seperti eksekutif, legislatif dan yudikatif. Jika di FISIP Lembaga eksekutif adalah BEM, HMJ dan UKM. Sedangkan legislatif adalah BPM dan dekanat adalah presidennya. Pemerintah mempunyai tugas untuk memberikan dan melakukan pemberdayaan pada rakyatnya. Sama dengan mahasiswa, perlunya sebuah pemberdayaan melalui pembangunan kesejahteraan sosial untuk meningkatkan kualitas mahasiswa sendiri guna tercapainya kata ‘sejahtera’.

Pembangunan kesejahteraan sosial adalah usaha yang terencana dan melembaga yang meliputi berbagai bentuk intervensi sosial dalam pelayanan sosial untuk memenuhi kebutuhan manusia, mencegah dan mengatasi masalah sosial, serta memperkuat institusi-institusi sosial (Suharto, 1997). Tujuan pembangunan kesejahteraan sosial adalah untuk meningkatkan kualitas hidup manusia secara menyeluruh. Pada ontologi aliran dualisme, manusia dapat dikatakan sejahtera apabila terdapat keseimbangan. Jika melihat definisi tersebut maka untuk meningkatkan kualitas mahasiswa perlu melakukan pemberdayaan yang seimbang. Pemberdayaan yang seimbang bisa dilakukan dengan cara memberikan koginisi otak untuk meningkatkan skill mahasiswa dan terpenuhinya fasilitas-fasilitas pendukung proses belajar. Fasilitas pendukung haruslah nyaman, aman, dan bersih.  

Banyak hal yang perlu dibenahi menyoal infrastruktur. Namun, melihat kondisi tersebut, apakah mereka tidak melihat sekitar mereka terlebih dahulu? Fakultas yang sehari-harinya kita tempati menjadi ruang belajar kita di kampus. Kebanyakan mahasiswa baru membayangkan kuliah dengan kursi putih serta meja sambung di depannya, gedung bertingkat dan masjid yang melintang serta area taman yang begitu nyaman sebagai tempat bersantai hingga berdiskusi bersama rekan mahasiswa lain. Membayangkan itu saja, ingin sekali menyegerakan memasuki bangku kuliah. Namun, setelah memasuki fakultas betapa mirisnya dan betapa kagetnya mahasiswa baru melihat kondisi yang sebenarnya. Ruang kelas sempit dengan kursi rotan Panjang dan diisi 3-4 orang dan pendingin ruangan yang rusak, taman yang penuh daun dan bangunan kuno, lapangan olahraga yang bolong dan tidak terawat. Apakah sebenarnya fakultas punya keinginan menjadikan tempat belajar seperti rumah penyihir yang digunakan untuk menyekap Rapunzel?

Mahasiswa baru tentunya membayangkan kuliah dengan kursi putih serta meja sambung di depannya, gedung bertingkat dan masjid yang melintang serta area taman yang begitu nyaman sebagai tempat bersantai hingga berdiskusi bersama rekan mahasiswa lain. Membayangkan itu saja, ingin sekali menyegerakan memasuki bangku kuliah. Namun, setelah memasuki fakultas betapa mirisnya dan betapa kagetnya mahasiswa baru melihat kondisi yang sebenarnya. Ruang kelas sempit dengan kursi rotan Panjang dan diisi 3-4 orang dan pendingin ruangan yang rusak, taman yang penuh daun dan bangunan kuno, lapangan olahraga yang bolong dan tidak terawat. Apakah sebenarnya fakultas punya keinginan menjadikan tempat belajar seperti rumah penyihir yang digunakan untuk menyekap Rapunzel?

Jika melihat kondisi fakultas perhari ini sangat jauh dari kata sejahtera dan dirasa belum mampu menyokong kesejahteraan mahasiswa. Jika dianalogikan sebuah negara, fakultas yang kurang akan pelayanan infrastruktur seperti perumahan kumuh yang ada di pinggir bantaran sungai dengan penuh sampah berserakan. Sehingga, negara tersebut merupakan salah satu negara yang masih berkembang karena belum bisa memenuhi kesejahteraan masyarakatnya. Andai aku jadi pemimpin, aku tidak ingin buta akan lingkungan sekitar rakyatku. Aku harus memberikan sebuah pelayanan fasilitas yang memadai untuk kesejahteraan rakyat. Tidak hanya itu, aku tidak ingin rumah yang ditempati rakyat untuk menimba ilmu menjadi rumah yang tidak nyaman dan berbahaya jika ditempati. Aku ingin meningkatkan kualitas masyarakatku dengan didukung oleh fasilitas yang memadai sehingga mereka dapat menimba ilmu dan meningkatkan kualitas diri untuk mewujudkan tujuan negaraku. (Nadia Rifatul Karomah)

(LITERAKSI BEM FISIP X LPM PRIMA FISIP)


1656408811_7-Kiat-Menjaga-Kesehatan-Mental-Selama-Pandemi-1536x864.png

28 Jun 2022

Pentingnya Menjaga Kesehatan Mental bagi Mahasiswa

Dewasa ini kesehatan mental mulai mendominasi berbagai macam literatur dan ruang publik. Kesehatan mental merupakan salah satu pembahasan yang mulai mendapat atensi dari berbagai pihak. Begitu disayangkan apabila masih terdapat beberapa kekeliruan terkait pemahaman masyarakat umum mengenai kesehatan mental. Banyak diantara masyarakat yang masih menghubungkan kesehatan mental dengan gangguan kejiwaan. Pemahaman dan pandangan orang awam ini seringkali menjustifikasi makna penting dari kesehatan mental, menjadikan bahasan tersebut sebagai hal yang tabu. Akibatnya mereka yang mengalami gangguan kesehatan mental tidak jarang mendapat diskriminasi dan dianggap aneh untuk kemudian diasingkan.

Kurangnya literasi dan minimnya rasa empati menjadi penyebab terbesar seseorang melabeli gangguan kesehatan mental sebagai hal yang patut dikecam. Kesadaran masyarakat terkait pentingnya kesehatan mental sangat diperlukan. Pada dasarnya, kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik atau jasmani. Bahkan kondisi mental atau psikologis merupakan hal yang krusial bagi setiap orang agar tetap dapat menjalankan fungsi sosialnya dengan baik.

Dilansir dari Iidikti5. Kemendikbud.go.id realita gangguan mental saat ini sering dijumpai pada umur 18-25 tahun. Ditemukan 64,8% mengalami masalah kecemasan dan 61,5% mengalami gejala depresi. Tanda-tanda yang paling sering muncul adalah kecemasan, depresi, gangguan tidur dan nafsu makan, serta gangguan interaksi sosial. Umur yang mendominasi gangguan mental tersebut memiliki keterkaitan dengan mayoritas umur seorang mahasiswa.

Seseorang yang ber-label mahasiswa adalah mereka yang menjalani proses peralihan menuju fase dewasa. Yang mana hal tersebut mampu memicu keterkejutan dan masalah psikologis lainnya. Hal ini tidak lain disebabkan adanya perbedaan kondisi dan tuntutan antara masa Sekolah Menengah Atas (SMA) Dengan Perkuliahan. Keterkejutan ini dapat menimbulkan adanya beragam masalah psikologi seperti krisis emosional yang banyak di jumpai atau biasa disebut quarter life crisis.

Tak jarang mahasiswa yang sedang mengalami gangguan kesehatan mental memilih jalan untuk mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri. Pada tahun 2020 Mahasiswa salah satu perguruan tinggi swasta di Yogyakarta rela mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri. Polisi setempat memberikan penjelasan bahwasannya mahasiswa tersebut mengakhiri hidupnya lantaran depresi pada tugas skripsi yang sedang dijalaninya. Data tersebut menjadi bukti tentang begitu krusialnya seseorang mahasisawa untuk dapat menjaga kesehatan mentalnya.

Tidak hanya, hadirnya pandemi Covid-19 menjadi tantangan baru bagi mahasiswa untuk dapat memperhatikan kesehatan mental. Transisi perkulihan offline menjadi online menjadi hal baru yang begitu rawan dengan mengakibatkan mahasiswa mengalami kegoncangan mental. Akibat dari perubahan yang secara tiba-tiba tersebut, menimbulkan rasa stres pada sebagian mahasiswa. Ditambah lagi dengan terbatasnya aktivitas fisik sehingga menjadi penghalang untuk mahasiswa mengembangkan diri.

Hadirnya gangguan mental tersebut dapat diantusipasi atau diperbaiki dengan memperhatikan beberapa poin penting. Pertama, Lakukan perencanaan yang matang dalam setiap rencana yang akan direalisasikan. Kedua, Membuat skala prioritas dari rencana tujuan yang ingin dicapai. Ketiga, lakukan interaksi dengan orang lain atau meminta bantuan apabila sedang dalam kondisi stress. Keempat, atur kegiatan supaya memiliki waktu istirahat dan waktu untuk diri sendiri. Kelima, Lakukan perencanan step by step beserta pencapainnya agar kegiatan yang yang sedang atau ingin dilakukan tidak menjadi beban. Keenam lakukan konsultasi dengan psikolog atau psikiater sebagai penenang dan pemberi solusi dari permasalahan.

Mahasiswa yang dapat mengatasi permasalahan terkait dengan gangguan mental pada dirinya akan dapat lebih maksimal menjalankan perannya dalam keluarga, lingkungan dan masyarakat luas. Dengan begitu, pentingnya menjaga kesehatan mental menjadi hal yang krusial dan perlu diperhatikan.

 

REFERENSI

https://www.lp3i.ac.id/menjaga-kesehatan-mental-di-tengah-sibuknya-kegiatan-kuliah/

https://feb.ugm.ac.id/id/berita/3542-kesehatan-mental-mahasiswa-di-masa-pandemi

https://news.detik.com/berita-jawa-tengah/d-4880262/diduga-stres-skripsi-mahasiswa-yogya-tewas-bunuh-diri-dalam-kos


1651386428_buruh.jpg

01 May 2022

Perjalanan Jatuh Bangkitnya Menjadi Seorang Buruh

Berita tentang sejarah mengatakan Hari Buruh atau biasa dikenal dengan istilah May Day muncul di Amerika Serikat sejak abad 19, dimana pada saat itu banyak perusahaan yang memaksa buruh untuk bekerja selama 18 jam dalam sehari. Kegiatan tidak berperikemanusiaan tersebut begitu merugikan kaum buruh. pada 1 Mei 1886 para buruh akhirnya melakukan aksi demonstrasi besar-besaran menuntut agar jam kerja dikurangi menjadi wajar yakni 8 jam per hari. Tidak hanya itu, pemogokan kerja secara masal juga dilakukan bersama dengan anak-anak dan istri mereka. Hasil dari aksi tersebut menghasilkan keputusan pada tanggal 1 Mei Buruh diberikan kemerdekaan untuk tidak bekerja over time dan diperingatinya sebagai Hari Buruh.

Di Indonesia sesuai dengan Undang-Undang Nomor 22 tahun 1957 tentang Penyelesaian Perselisihan Perburuhan mendefinisikan buruh sebagai orang yang bekerja pada majikan dan menerima upah. Posisi buruh sangatlah rendah jika mereka sudah menyandang istilah “Buruh” yakni semua orang yang menerima perintah untuk melaksanakan suatu pekerjaan pada waktu tertentu dengan imbalan berupa uang. Sistem perburuhan pada awalnya sangat mengiurkan banyak orang dengan iming-iming harapan berupa perlindungan kesejahteraan hidup yang menjanjikan. Namun, realitanya berbanding terbalik dengan buruh hanyalah mereka yang ditekan, diperas, dan ditindas sampai usia produktifnya lenyap ditelan perusahaan(Suwignyo, 2012). Berakhir menjadi buruh yang lemah dan menua. Kemudian dibuang seenaknya karena sudah tidak dibutuhkan perusahaan layaknya sampah ampas yang tidak digunakan lagi.

Kondisi tidak layak yang dialami buruh terjadi karena adanya pemikiran seorang pengusaha yang mengangap bahwa buruh tidaklah mempunyai tangunggan beban resiko usaha, seperti persaingan pasar yang tajam, bahan baku mahal, hingga resiko kebangkrutan. Buruh hanya dianggap sebagai mereka yang tidak mempunyai kreatifitas dengan kesehariannya hanya mengerjakan pekerjaan itu-itu saja dan menerima upah ala kadarnya kadang tidak sesuai dengan harapan mereka. Padahal sebuah perusahaan akan mengalami kelumpuhan atau tidak akan bisa melakukan kegiatan produksi tanpa adanya bantuan tenaga dari buruh.

Kemudian ditahun 2020 hingga 2021 menjadi tahun terburuk bagi para buruh utamanya di Indonesia. Krisis perusahaan terjadi akibat guncangan bencana Covid-19 yang memberikan dampak berat bagi buruh, dimana banyak buruh dirumahkan dan tanpa digaji perusahaan. Hal buruk lainnya adalah  dilakukannya pemutusan hubungan kerja (PHK) yang menyebabkan angka pengangguran di Indonesia meningkat drastis. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tingkat pengangguran terbuka (TPT) pada Agustus 2020 sebesar 7,09 persen mengalami peningkatan 1,84 persen dibanding Agustus 2019, dimana penduduk yang bekerja awalanya sebanyak 128,45 juta orang mengalami penurunan sebanyak 0,31 juta orang, dengan penurunan terbesar di sektor industri pengolahan. Data tersebut sejalan dengan terjadinya PHK besar-besaran dilakukan perusahaan dengan dalih untuk mengurangi jumlah tenaga kerja agar perusahaan tetap bisa bertahan dan terus bergerak mempertahankan bisnisnya, karena apabila tidak dikurangi jumlah tenaga kerjanya perusahaan akan gulung tikar di masa pandemi. hal demikian, menjadikan kesejahteraan buruh terombang-ambing ibarat sudah jatuh tertimpa tangga.

Namun, seiring berjalannya waktu dengan adanya bantuan dari pemerintah mengenai percepatan vaksinasi, Pandemi covid-19 sudah berlalu dan ditahun 2022 ini menjadi angin segar bagi para buruh untuk bisa Kembali bangkit. Memulihkan kondisi ekonomi dengan Kembali mencari lapangan kerja baru. Akan tetapi, untuk mengembalikan kondisi ekonomi seperti sebelum Covid-19 bukanlah hal yang mudah dilakukan, dengan menghadapi tantangan perubahan perilaku kerja pasca pandemi para buruh harus bangkit Kembali bekerja seperti sediakala. Dan berdasarkan data BPS tingkat penganguran terbuka mengalami penurunan sebesar 0,81 persen dan penduduk yang bekerja meningkat sebanyak 2,61 juta orang. Hal tersebut menunjukkan bahwa buruh Kembali bangkit setelah ancaman Pemutusan Hubungan kerja (PHK) akibat guncangan pandemi Covid-19.

Selamat Hari Buruh 1 Mei 2022 mari bersama jadikan situasi pandemic untuk lebih berarti sebagai pijakan untuk bekerja lebih keras, terampil dan produktif. (Nora Zilawati)

Referensi

https://www.cnnindonesia.com/nasional/20200501111833-20-499177/buruh-dihimpit-bayang-corona-phk-dan-ancaman-omnibus-law

https://m.antaranews.com/berita/2833409/ksbsi-respon-buruh-pada-pandemi-buat-produktivitas-sulit-meningkat

Suwignyo, A. (2012). Buruh Bergerak: Membangun Kesadaran Kelas. In Persepsi Masyarakat Terhadap Perawatan Ortodontik Yang Dilakukan Oleh Pihak Non Profesional (Vol. 53, Issue 9).


1651214578_PENGESAHAN RUU TPKS.jpg

29 Apr 2022

All About UU Tindak Pidana Kekerasan Seksual

Pada tanggal 12 April yang lalu RUU TPKS telah disahkan oleh DPR pada rapat paripurna DPR ke-19 masa persidangan IV tahun sidang 2021-2022. Dengan disahkannya undang-undang ini diharapkan masyarakat Indonesia akan merasa lebih aman dari tindakan kekerasan seksual.

Sebelum kabar gembira ini  datang, RUU TPKS yang awalnya disebut RUU PKS mengalami lika-liku perjalanan yang panjang. RUU PKS ini telah diinisiasi oleh Komnas Perempuan pada tahun 2012 lalu. Hal ini dikarenakan tindakan kekerasan seksual yang tiap tahunnya makin meningkat dan sangat meresahkan masyarakat terutama kaum wanita. Baru pada 2016 DPR dan pemerintah sepakat untuk memasukkan RUU tersebut dalam Program Legislasi Nasional (Prolegnas) Prioritas 2016. RUU PKS ini sangat lambat sekali dalam proses pengesahannya karena banyak menuai pro dan kontra dari berbagai kalangan maupun fraksi partai, sehingga sering mengalami penundaan dalam rapat pembahasannya.

Pada Juli 2020 RUU PKS sempat ditarik dari Prolegnas prioritas oleh Badan Legislasi DPR, menurut DPR usulan penarikan diajukan oleh Komisi VIII sebagai pembahas yang menilai bahwa pembahasan RUU PKS ini sulit dilakukan. Namun tahun berikutnya, RUU PKS dapat masuk kembali dalam daftar Prolegnas Prioritas 2021 yang kemudian terdapat perubahan nama menjadi RUU TPKS (Tindak Pidana Kekerasan Seksual). Pembahasan RUU ini pun tak kunjung selesai sehingga RUU TPKS ini masuk dalam Prolegnas Priorotas 2022.

Dari sepuluh tahun perjalanan RUU TPKS ini baru disahkan pada tanggal 12 April yang lalu. Disahkannya UU TPKS ini adalah hasil perjuangan dari berbagai pihak yang terus mendorong untuk mengesahkannya mulai dari Komnas Perempuan, Asosiasi Pusat Studi Wanita/Gender dan Anak Indonesia hingga para aktivis perempuan agar masyarakat Indonesia dapat merasa aman dan terhindar dari adanya kekerasan seksual.

Adanya UU TPKS ini agar dapat melindungi masyarakat Indonesia dari adanya kekerasan seksual dan dapat memberantas para pelaku kekerasan seksual. Korban kekerasan seksual memiliki hak untuk dilindungi seperti yang tercantum dalam Pasal 22 (1) Hak Korban meliputi: a. hak atas Penanganan; b. hak atas perlindungan; c. hak atas pemulihan. (2) Pemenuhan hak Korban sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan kewajiban negara dan dilaksanakan sesuai dengan kondisi dan kebutuhan Korban. Dengan adanya undang-undang ini maka diharapkan angka kekerasan seksual dapat menurun di Indonesia dan dapat menjadikan Indonesia sebagai negara yang aman dari tindakan kekerasan seksual. ( Bidang Penelitian dan Pengembangan LPM Prima)

 

References

Aditya, N. R. (2022, Februari 24). Perjalanan RUU TPKS, Enam Tahun Terombang-ambing di DPR.. Retrieved from Kompas.com: https://nasional.kompas.com/read/2022/02/24/06373451/perjalanan-ruu-tpks-enam-tahun-terombang-ambing-di-dpr?page=all

Isabela, M. A. (2022, April 13). Apa Itu RUU TPKS? Retrieved from Kompas.com: https://nasional.kompas.com/read/2022/04/13/16200051/apa-itu-ruu-tpks?page=all

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN … TENTANG PENGHAPUSAN KEKERASAN SEKSUAL. (n.d.). Retrieved from dpr.go.id: https://www.dpr.go.id/doksileg/proses2/RJ2-20170201-043128-3029.pdf

Riwayat RUU PKS di DPR: Sarat Kecurigaan, Mengulur Pembahasan. (2020, July 2). Retrieved from CNN Indonesia: https://www.cnnindonesia.com/nasional/20200702090607-32-519880/riwayat-ruu-pks-di-dpr-sarat-kecurigaan-mengulur-pembahasan

Setyawan, H. (2022, April 15). Kilas Balik 10 Tahun Perjalanan UU TPKS. Retrieved from Tempo.co: https://nasional.tempo.co/read/1582527/kilas-balik-10-tahun-perjalanan-uu-tpks/full&view=ok


1645131339_GettyImages-contested-election-trump-biden-1229459459.jpg

17 Feb 2022

STIGMA POLITIK BURUK, PENTINGNYA ARGUMENTASI ASAS DEMOKRASI KAMPUS

Pandemi Covid-19 yang terjadi dua tahun belakang ini begitu berdampak terhadap tatanan kehidupan mahasiswa. Aktivitas yang terkait dengan identitas mahasiswa, cara pandang, cara berfikir bahkan ideologi masing-masing mahasiswa juga berubah. Dengan situasi yang serba daring, menjadikan media teknologi sebagai instrumen sehari-hari. Informasi yang masif cenderung membuat mahasiswa bingung dan terbawa arus.  Hal ini berimplikasi pada iklim demokrasi dan stigma mahasiswa terhadap agenda politik kampus. Salah satunya Pemira, stigma buruk mahasiswa terkait Pemira juga menjadi hal yang tak dapat dihindari. Banyak informasi-informasi yang cenderung menggiring mahasiswa untuk menghindari kata “politik”. Hal tersebut berakibat pada antusiasme mahasiswa untuk berpartisipasi pada agenda politik kampus.

Yang terjadi saat ini, mahasiswa mempunyai stigma buruk terhadap agenda politik kampus. Hal ini didasari dengan rasa tidak percaya terhadap agenda politik, dan aktivitas semacam itu. Oknum-oknum yang berkepentingan turut bersuka cita karena hal-hal yang menguntungkan kelompoknya dapat dilakukan dengan mudah. Kecurangan yang dapat dilakukan dalam hal ini adalah oknum-oknum dapat melakukan peretasan dan memanipulasi data-data calon yang dapat mempengaruhi hasil kontestasi tersebut. Disisi lain permainan banyak oknum yang berkepentingan juga memanfaatkan situasi ini untuk menggiring opini yang mengatasnamakan kepentingan mahasiswa. Menggiring opini masyarakat ini dapat dilakukan dengan cara penerapan Black Campaign. Black Campaign ini diterapkan dengan tujuan dapat mendeskriditkan calon lain yang berujung pada sikap apatis. Dengan adanya calon yang mendapatkan label buruk maka calon yang diusung tersebut akan memperoleh suara banyak yang berujung pada  kemenangan. Hal-hal yang demikian ini telah menodai asas-asas demokrasi dan memperkuat Stigma buruk mahasiwa terkait pemira dengan sikap acuh tak acuh.

Evaluasi pada Pemira sebelumnya yang memiliki kondisi yang cenderung sama, menjadikan Pentingnya elemen-elemen Pemira untuk dapat membaca kondisi Pemira pada tahun ini. Elemen-elemen Pemira ini dapat berkontribusi untuk memperbaiki Pemira dengan menanamkan nilai-nilai demokrasi. Seperti halnya dengan memberikan bentuk edukasi lewat propaganda, atau aksi program yang memberikan pemahaman pada mahasiswa mengenai pentingnya politik kampus. Nilai – nilai yang dapat diedukasikan seperti asas-asas Langsung, Umum, Bebas dan Rahasia (LUBER) Jujur dan Adil (JURDIL) adalah nilai-nilai demokrasi yang patut untuk diperhatikan secara cermat. Guna asas-asas demokrasi ini diterapkan agar Pemira dapat terselenggara dengan efektif dan efesien. Jika asas-asas demokrasi dapat tersampaikan dengan baik kepada mahasiswa, maka celah dalam memunculkan stigma buruk mahasiswa dan kegagalan pemira sehat tidak dapat terjadi. Maka pentingnya elemen-elemen dalam berkolaborasi satu sama lain untuk memperbaiki situasi semacam ini menjadi hal yang perlu diperhatikan. (Wilda Aulia)


1629184489_ffeed.jpg

17 Aug 2021

Refleksi HUT RI Ke 76 “Merdeka atau Mati”

PRIMA, FISIP - Bulan ini adalah bulan dimana biasanya Rakyat Indonesia memperingati hari yang sangat istimewa, yaitu Hari Kemerdekaan Indonesia. Dalam memperingati hari kemerdekaan tahun ini mungkin berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, yang biasanya dipenuhi dengan lomba ataupun parade untuk menyemarakkan peringatan Hari Kemerdekaan, sebab saat ini Indonesia tengah dilanda pandemi covid-19. Karena pandemi yang masih berlangsung sampi saat ini, maka semua rakyat dihimbau untuk tetap melaksanakan protokol kesehatan dan tidak menimbulkan kerumunan.

Walaupun demikian, kita sebagai Rakyat Indonesia harus tetap memperjuangkan Kemerdekaan Indonesia di dalam diri kita. Dalam perjuangan tersebut, kita harus menumbuhkan kesadaran tentang hakikat merdeka yaitu dengan cara:

Melihat secara kritis tentang kondisi yang sedang terjadi di sekitar kita. Contohnya seperti kondisi yang saat ini kita alami yakni melonjaknya kasus covid-19. Kasus covid-19 saat ini meningkat tajam bahkan 7 kali lebih banyak dari data awal sekitar 30 ribu-an. Kita harus berfikir kritis tentang hal tersebut? Apa yang menyebabkan kasus ini semakin naik?Apa yang harus kita lakukan? Mengapa sampai saat ini kasus covid-19 belum juga selesai? Bagaimana cara kita melawan covid-19? Dengan berfikir kritis kita bisa memahami seperti apa kondisi di sekitar kita.

Setelah kita melihat dan berfikir secara kritis, kita harus mampu memberikan solusi dari kondisi/permasalahan yang sedang terjadi disekitar kita. Dengan begitu, kita sudah berperan dalam menyelesaikan permasalahan yang terjadi. Tidak hanya bisa melihat secara kritis dan memberikan solusi, tetapi kita juga harus melaksanakan gagasan yang telah kita sampaikan dalam menperbaiki kondisi sehingga terciptalah kesadaran tentang hakikat merdeka yang sempurna dalam diri kita.

Dalam mengisi kemerdekaan kita juga harus selalu beradaptasi dan berinovasi. Seperti saat ini, kita sedang beradaptasi dengan pandemi covid-19, kita dihimbau untuk selalu menjaga kebersihan dan mematuhi protokol kesehatan dan diharapkan ada inovasi yang ditemukan untuk membebaskan kita dari pandemi covid-19.

Mengingat kutipan Ir. Soekarno yaitu Kemerdekaan hanyalah didapat dan dimiliki oleh bangsa yang jiwanya berkobar-kobar dengan tekad “Merdeka, merdeka atau mati'!"

Dari kutipan Ir. Soekarno tersebut, dapat kita gunakan sebagai cerminan bahwa kita harus memiliki semangat dan tekad yang berkobar-kobar demi Kemerdekaan Indonesia. Bukan lagi “Merdeka atau Mati”, tetapi Merdeka sampai Mati.

Ditulis oleh Adinda Wiji P (Mahasiswa Administrasi Negara 2021)