SELF SERVICE, SAMPAH DAN MAHASISWA

By LPM PRIMA FISIP UNEJ

14 Nov 2022 - 02:48:40

1668394118_self (1) (1) (1) (1).png
LPM PRIMA

Bagaimana cara menyadarkan mahasiswa bahwa kebersihan lingkungan itu sangat diperlukan?

Mahasiswa merupakan “maha “dari segala “siswa” yang penuh tanggung jawab, kritis dalam berpikir dan bertindak. Namun, mengapa hal sepele seperti ini terus saja terulang? Bukan suatu hal yang besar namun pada akhirnya tetap berdampak pada diri sendiri. Self-service bukan berarti mengajarkan individualisme atau malah gaya kebarat-baratan. Hal ini seharusnya sudah tertanam sejak usia dini.

Kebersihan itu merupakan bagian yang tidak boleh lepas dari mahasiswa, bukan begitu? Sebagai calon penyongsong negeri, sikap dan sifat yang baik perlu ditanamkan. Melihat sampah dan bekas makanan yang bercecer di meja, bukankah hal tersebut akan membuat tidak nyaman? Atau malah hal itu biasa? Jawabannya tidak ada yang benar maupun salah, hanya masalah perspektif

Usaha mencintai lingkungan dan kebersihan sedari dini dirasa kurang berdampak pada diri—atau malah tidak tertanam pada diri?—hingga banyak maha dari segala siswa menjadi insan cendekia yang malah memperburuk lingkungannya. Memang hal ini tidak secara tiba-tiba berdampak pada diri sendiri, namun bagaimana orang lain?

apa tugas pelayan kebersihan jika self-service ada?

Itu pertanyaan keliru, tetapi seharusnya: bagaimana cara membantu sesama? Bukan, begitu? Sebagai mahasiswa, membantu orang merupakan keharusan. Mahasiswa ditempa untuk dapat berbakti pada masyarakat hingga ke unsur paling utama: sesama manusia.

Ini bukan masalah estetika, melainkan perilaku, sifat dan kebiasaan. Membersihkan limbah milik sendiri merupakan perilaku yang sangat berdampak positif pada orang lain. Dengan hanya menumpuk piring bekas makanan itu merupakan insiatif yang sudah siap diapresiasi. Tingkatan apresiasi akan bertambah ketika bersedia mengantarkan piring bekas makanan kepada penjual dan mengucapkan terima kasih. Tetapi, arahan ini bukan diperuntukkan untuk anak TK atau anak SD, bukan? Mahasiswa tentunya sudah tahu hal semacam ini.

Tak hanya itu, sampah adalah salah satu limbah yang dihasilkan manusia, bagaimana jika sampah berada di depan rumah? Lantai kamar? Atau bahkan tempat yang ingin didatangi untuk melepas penat, tetapi malah muncul di tempat itu? Apakah hal tersebut tidak mengusik? Siapa yang tidak menyukai tempat yang bersih dan nyaman?

Bagaimana fungsi tempat sampah yang setia berdiri di tempat? Bagaimana sampah yang menjadi makanan tempat sampah jarang diberi makan? Sampah berceceran di mana-mana tanpa ada kepedulian dari manusia di sekitarnya. Tidak ada sebuah kemungkinan sampah dapat berjalan sendiri dan masuk pada tempatnya.

Ini saatnya bagi mahasiswa—kita semua—mawas diri. Bagaimana semua yang telah dilakukan dapat berdampak pada diri sendiri dan orang lain serta lingkungan. Sampah berasal dari kita, jika kita tidak memperlakukannya dengan benar, semua akan kembali pada kita. Kesadaran itulah yang merupakan langkah kecil menuju calon cendekia penerus bangsa.

Teks : Elham (Traipenmadas 21)

Editor : Tim Redaksi Prima 

Artikel Lainnya
1668924560_WhatsApp Image 2022-07-26 at 14.26.19 (1).jpeg

20 Nov 2022

Sarana Dan Prasarana FISIP: Ada Perkembangan Atau Stagnan

LPM PRIMA- Berbicara tentangpermasalahan yang ada di kampus, memang tak luput dari sarana dan prasarana yang kurang maksimal diberikan oleh pihak kampus, tak terkecuali FISIP. berbagai keluhan dilontarkan mahasiswa terkait prasarana yang kurang memadai sehingga berdampak pada keefektifan proses belajar-mengajar di lingkup Fakultas. bukan tanpa aksi nyata, beberapa bulan lalu, Aliansi Gerakan Mahasiswa FISIP SOLID yang berisikan mamahasiswa FISIP dari berbagai Organisasi Mahasiswa (ORMAWA) dan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) FISIP telah melaksanakan Audiensi dengan Dekanat untuk menuntut perbaikan sarana dan prasarana Fakultas. Hal ini bukan tanpa alasan, kami meyakini Sarana dan prasarana yang memadai akan berpengaruh terhadap keefektifan segala bentuk aktivitas didalamnya. 

Berdasarkan hasil wawancara yang telah dilakukan pada 18 November 2022 terhadap beberapa mahasiswa FISIP mengenai kepuasaan akan sarana dan prasarana. Semua dari mereka mengeluhkan terkait sarana dan prasarana yang belum memadai dan masih banyak evaluasi yang perlu dilakukan.

"Saya merasa tidak nyaman dengan salah satu fasilitas FISIP yaitu TSW (Taman Super WIFI), lantai retak seringkali membuat saya terjatuh ketika hujan, dan penerangan yang kurang memadai ketika malam hari menjadikan FISIP terlihat menyeramkan. Selanjutnya, sampah yang berserakan karena minimnya tempat sampah di TSW, tidak mengenakan mata. Tidak hanya itu, kondisi miris juga dapat dilihat dari kursi ruang kelas yang tidak diganti selama bertahun-tahun." Ujar Krisdian Tata, mahasiswa Kesejahteraan Sosial.

Untuk fasilitas lainnya, yang diperlukan oleh mahasiswa dan menjadi keluhan beberapa dosen yaitu tidak adanya tempat penitipan helm, sehingga ketika pembelajaran di dalam kelas, terdapat mahasiswa yang harus membawanya ke dalam kelas.

Ruang belajar atau perpustakaan yang tidak terlihat di area FISIP juga menjadi problem tersendiri bagi beberapa mahasiswa.

Adnino selaku anggota BEM FISIP mengungkapkan, "Dari pihak BEM sendiri sudah pernah memberikan tuntutan terhadap fakultas mengenai sarana dan prasarana. Namun, kami masih belum mekaukan Tindakan lanjut lagi dan mengkaji terkait hal tersebut."

Tuntutan yang disampaikan oleh pihak BEM telah membuahkan hasil berupa perbaikan beberapa ruang kelas dan tempat olahraga. Walaupun terlihat kurang maksimal.

Hal tersebut menciptakan sebuah statement yang diberikan mahasiswa mengenai berbagai harapan terkait kenyamanan dan kemaksimalan sarana dan prasarana di FISIP.

"Semoga bisa terus melakukan renovasi secara bertahap, sehingga menciptakan kondisi yang nyaman dan lebih layak lagi. Terutama pada ruang kelas, yang mana merupakan tempat pembelajaran bagi mahasiswa. Karena ketika belajar, kami membutuhkan tempat yang kondusif dan nyaman." Jelas Maiguna, salah satu mahasiswa Administrasi Bisnis.

Harapan lain juga disampaikan oleh Nabila, seorang mahasiswa Sosiologi, "Harapannya, semoga pihak fakultas bisa lebih fokus terhadap perbaikan fasilitas yang ada di FISIP." Ujarnya.

Banyak harapan, doa dan semoga-semoga yang tidak dapat ditulis namun letaknya beriringan dengan aksi nyata.

Barangkali didengar, segala bentuk perbaikan terhadap sarana dan prasarana, selalu menjadi hal yang dinantikan oleh seluruh penghuni FISIP, khususnya mahasiswa. (Bagus Kurniawan)


1668924560_WhatsApp Image 2022-07-26 at 14.26.19 (1).jpeg

20 Nov 2022

Sarana Dan Prasarana FISIP: Ada Perkembangan Atau Stagnan

LPM PRIMA- berbicara terkait permasalahan yang ada di kampus, memang tak luput dari sarana dan prasarana yang kurang maksimal diberikan oleh pihak kampus, tak terkecuali FISIP. berbagai keluhan dilontarkan mahasiswa terkait prasarana yang kurang memadai sehingga berdampak pada keefektifan proses belajar-mengajar di lingkup Fakultas. bukan tanpa aksi nyata, beberapa bulan lalu, Aliansi Gerakan Mahasiswa FISIP SOLID yang berisikan mamahasiswa FISIP dari berbagai Organisasi Mahasiswa (ORMAWA) dan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) FISIP telah melaksanakan Audiensi dengan Dekanat untuk menuntut perbaikan sarana dan prasarana Fakultas. Hal ini bukan tanpa alasan, kami meyakini Sarana dan prasarana yang memadai akan berpengaruh terhadap keefektifan segala bentuk aktivitas didalamnya. 

Berdasarkan hasil wawancara yang telah dilakukan pada 18 November 2022 terhadap beberapa mahasiswa FISIP mengenai kepuasaan akan sarana dan prasarana. Semua dari mereka mengeluhkan terkait sarana dan prasarana yang belum memadai dan masih banyak evaluasi yang perlu dilakukan.

"Saya merasa tidak nyaman dengan salah satu fasilitas FISIP yaitu TSW (Taman Super WIFI), lantai retak seringkali membuat saya terjatuh ketika hujan, dan penerangan yang kurang memadai ketika malam hari menjadikan FISIP terlihat menyeramkan. Selanjutnya, sampah yang berserakan karena minimnya tempat sampah di TSW, tidak mengenakan mata. Tidak hanya itu, kondisi miris juga dapat dilihat dari kursi ruang kelas yang tidak diganti selama bertahun-tahun." Ujar Krisdian Tata, mahasiswa Kesejahteraan Sosial.

Untuk fasilitas lainnya, yang diperlukan oleh mahasiswa dan menjadi keluhan beberapa dosen yaitu tidak adanya tempat penitipan helm, sehingga ketika pembelajaran di dalam kelas, terdapat mahasiswa yang harus membawanya ke dalam kelas.

Ruang belajar atau perpustakaan yang tidak terlihat di area FISIP juga menjadi problem tersendiri bagi beberapa mahasiswa.

Adnino selaku anggota BEM FISIP mengungkapkan, "Dari pihak BEM sendiri sudah pernah memberikan tuntutan terhadap fakultas mengenai sarana dan prasarana. Namun, kami masih belum mekaukan Tindakan lanjut lagi dan mengkaji terkait hal tersebut."

Tuntutan yang disampaikan oleh pihak BEM telah membuahkan hasil berupa perbaikan beberapa ruang kelas dan tempat olahraga. Walaupun terlihat kurang maksimal.

Hal tersebut menciptakan sebuah statement yang diberikan mahasiswa mengenai berbagai harapan terkait kenyamanan dan kemaksimalan sarana dan prasarana di FISIP.

"Semoga bisa terus melakukan renovasi secara bertahap, sehingga menciptakan kondisi yang nyaman dan lebih layak lagi. Terutama pada ruang kelas, yang mana merupakan tempat pembelajaran bagi mahasiswa. Karena ketika belajar, kami membutuhkan tempat yang kondusif dan nyaman." Jelas Maiguna, salah satu mahasiswa Administrasi Bisnis.

Harapan lain juga disampaikan oleh Nabila, seorang mahasiswa Sosiologi, "Harapannya, semoga pihak fakultas bisa lebih fokus terhadap perbaikan fasilitas yang ada di FISIP." Ujarnya.

Banyak harapan, doa dan semoga-semoga yang tidak dapat ditulis namun letaknya beriringan dengan aksi nyata.

Barangkali didengar, segala bentuk perbaikan terhadap sarana dan prasarana, selalu menjadi hal yang dinantikan oleh seluruh penghuni FISIP, khususnya mahasiswa. (Bagus Kurniawan)


1667903201_WhatsApp Image 2022-11-08 at 17.16.54.jpeg

08 Nov 2022

MENYOAL KEGIATAN BEM FISIP UNEJ YANG TERLIHAT GEMERLAP, NYATANYA PENUH SISI GELAP

Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) merupakan organisasi mahasiswa yang seksi dipandang mata. Begitupun yang terjadi di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jember (FISIP UNEJ). BEM FISIP UNEJ yang dinahkodai oleh Amiq Iqmal ini sukses menyelenggarakan beberapa kegiatan seperti pelatihan, seminar, Sharing Session dan Volunteer. Hal tersebut memantik ribuan sorotan mata untuk melihat gemerlap kesuksesan setiap kegiatan yang diselenggerakan oleh BEM FISIP UNEJ. Hujan pujian pun dilontarkan oleh berbagai kalangan kepada BEM. Namun, dibalik gemerlapnya kesuksesan tersebut, apakah BEM FISIP telah menjalankan tugas dengan semestinya?

Menilik kegiatan BEM Sabtu, 5 November 2022 tepatnya kegiatan dibawah naungan Kementrian Pergerakan dan Pemberdayaan Gender bertemakan “Sharing Session 4.0 : Speak Your Mind, Even Your Voice Shakes” terdapat cela dalam penyelenggaraannya. Acara tersebut memang terkesan bagus dan responsif terhadap isu terkini, akan tetapi peserta yang sedikit menjadikan acara BEM tersebut antara ada dan tiada alias percuma. Kepada awak redaksi PRIMA, salah satu peserta berinisial ARH mahasiswi Kesejahteraan Sosial mengatakan, peserta kegiatan Sharing Session 4.0 begitu minim. “Saya mengikuti kegiatan yang diadakan BEM sabtu lalu, tapi saya sangat menyayangkan melihat angka partisipan yang tidak menyentuh angka 30 padahal mahasiswa fisip itu banyak sekali”, tukas ARH.

Tidak hanya itu, awak redaksi PRIMA juga menemui mahasiswa lain yang pernah mengikuti kegiatan BEM yaitu kegiatan Pelatihan Proposal PKM pada salah satu rangkaian kegiatan Loka Karya 2.0. Mahasiswa berinisial DA dari jurusan Ilmu Hubungan Internasional mengatakan “ Loka Karya ini termasuk ide bagus yang diinisiasi BEM, akan tetapi sosialisasi yang minim dan terkesan dadakan menjadikan mahasiswa yang mengikuti pun sangat minim.” DA juga mengatakan seiring berjalannya kegiatan peserta PKM pada Loka Karya mengalami penurunan. “ Peserta yang mendaftar terdapat dua puluhan, yang hadir 14 peserta dan mirisnya dipenutupan tersisa 5 peserta saja” Tambahnya.  Ini menunjukkan bahwa kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh BEM tidak Well-Prepared dan cenderung dadakan. Seolah proker yang mereka rumuskan di awal kepengurusan itu hanya sebuah bentuk gemerlap cahaya bintang, namun tak bisa menyinari malam yang gelap. Banyak, namun tak berisi.

Dari ungkapan dua narasumber tersebut memang terlihat tidak ada masalah yang benar-benar serius. Namun, ketika dicermati ulang periode BEM sekarang memiliki anggota puluhan yang hampir mendekati seratus. Dimana anggota puluhan tersebut? apakah sedang mengerjakan proker lain? Apakah terdapat koisidental kegiatan? Hal tersebut membuktikan bahwasannya BEM saat ini telah menciderai tubuhnya sendiri. “Badan Gemuk” BEM yang merekrut puluhan anggota dari berbagai jurusan bagai patung atau terkesan diam. Bukan serangan dari luar yang yang menjadi ancaman, melainkan kebobrokan internal yang menghancurkan dirinya sendiri.

Ketika awak redaksi PRIMA menanyakan mengenai kegiatan yang kopong pada periode ini, Amiq Iqmal dengan santai menanggapi hal tersebut. “Dari BEM tidak mentargetkan partisipant yang banyak, namun yang kami targetkan adalah bagiamana kajian-kajian kami menjadi wacana kedepan dapat diketahui minimal satu atau dua warga FISIP sekaligus sebagai referensi pada periode selanjutnya”. Tuturnya. “Terkait loka karya itu program unggulan kami, yang kami targetkan adalah bagimana ada wadah yang menjadi inkubator baru dengan mentoring dan lain sebagainya, ada beberapa yang patut dievaluasi ketika ditemukan BEM maupun panitia itu istilahnya promosinya kurang dan lain-lainya kurang, kami mencoba dalam masa transisi ini antara online ke offline minimal ada inkubator karya baru”. Tambahnya.

Kemudian terkait dengan “Badan Gemuk”  BEM periode sekarang antara efektif atau tidak, Amiq mengatakan “ Kami diperiode ini berusaha membentuk kepengurusan yang inklusif, yang kami artikan bahwa kami berusaha menyentuh setiap lini” Tuturnya. Ia menanggapi Tidak hadirnya anggota BEM pada saat acara berlangsung tidak menjadi ukuran pokok. “Nah adapun apabila kegiatan tidak diikuti oleh pengurus BEM yang lain itu karena dari pengurus BEM sendiri ada kesibukan yang lain, akan tetapi ketika Pre-Event dan After Event teman-teman anggota BEM turut hadir dan saling memberikan pendapat satu sama lain” Lanjutnya. 

(TIM REDAKSI PRIMA)

 


1663736766_9d70d2df-b4ae-4617-9746-2e8a0f25ad7b.jfif

21 Sep 2022

Menilik Bagaimana Perploncoan Tetap Eksis dalam Kegiatan Pengenalan Kampus

Akhir-akhir ini media masa digemparkan dengan berbagai berita mengenai perploncoan oleh beberapa mahasiswa “senior” kepada mahasiswa baru dalam kegiatan pengenalan kampus atau sering dikenal sebagai ospek.

Beberapa reaksi beragam dari para pembaca juga banyak ditemukan di berbagai media sosial. Sebagian besar warga internet mengecam dan menyayangkan perilaku dan sikap para mahasiswa senior kepada mahasiswa baru. Namun, ditemukan pula beberapa komentar mendukung tindakan tersebut dengan beberapa alasan.

Dilansir dari situs PKKMB Universitas Jember, tujuan utama pengenalan kampus adalah memberikan pembekalan bagi mahasiswa baru dalam upaya adaptasi dalam mengenal lingkungan kampus—pendidikan maupun lingkungan sosial.

Namun, beberapa tindakan perploncoan terjadi di berbagai perguruan tinggi di Indonesia sepatutnya tidak dilestarikan dalam kegiatan pengenalan kampus maupun kegiatan kampus apa pun. Berkedok mematangkan mental agar siap dalam menghadapi dunia kerja setelah usai masa pendidikan, para mahasiswa senior bertindak “seenak jidat” mereka tanpa memikirkan konsekuensinya.

Beberapa kasus yang diberitakan di berbagai media masa bahkan menyatakan bahwa perploncoan telah menelan korban jiwa. Tidakkah hal seperti ini berlebihan? Mengingat harapan para mahasiswa yang hanya ingin menempuh pendidikan sebagaimana harapan orang tua mereka, namun harus berakhir dengan nestapa.

Betapa bebalnya masa pengenalan kampus yang diharapkan dapat informatif, edukatif dan menyenangkan tanpa adanya sesuatu yang menghantui malah menjadi masa yang dianggap suram dan menakutkan. Ditambah fakta bahwa masih banyak mahasiswa baru yang menganggap kegiatan pengenalan kampus adalah waktu di mana mental mereka akan dibombardir dengan banyaknya tindakan yang tidak menyenangkan. Tentu saja mereka akan merasa takut dan bukannya antusias dalam menantikan kegiatan ini.

Bukan sesuatu yang baru perploncoan semacam ini dilakukan. Entah sejak kapan hal seperti ini dimulai, namun hampir di setiap jenjang pendidikan selalu ditemui kasus yang sama dengan intensitas yang berbeda. Harapan-harapan mahasiswa dan masyarakat pun mengenai perbaikan sistem pengenalan kampus tanpa praktik perploncoan banyak beterbangan.

Banyak anggapan bahwa perploncoan atau sekedar sikap intimidasi dari para mahasiswa senior tidak banyak memberikan pengaruh terhadap dunia kerja. Alih-alih memberikan manfaat, hal ini justru menimbulkan rasa dendam, tidak suka hingga kebencian dari mahasiswa baru yang berpotensi memiliki kelanjutan di masa berikutnya.

Fakta yang mungkin harus diketahui oleh setiap orang, terutama mahasiswa bahwa setiap manusia memiliki mental yang berbeda-beda dengan riwayat pembangun dan sifat yang berbeda-beda juga. Menyamaratakan dan membuat setiap mahasiswa baru memiliki mental sama agaknya adalah tindakan yang keliru.

Patut diketahui pula bahwa setiap orang memiliki kesiapan dan manajemen emosi dalam mentalnya yang berbeda-beda ketika menghadapi suatu masalah ataupun tantangan. Hal itu yang patut dijadikan sebuah dasar dalam mengadakan kegiatan yang dapat membantu para mahasiswa baru dalam menghadapi masalah dan tantangan dalam dunia kerja di masa depan. Bukan melalui kekerasan verbal maupun non-verbal, menghadirkan alumni melalui berbagi informasi dan kisah-kisah inspiratif dalam menghadapi dunia kerja merupakan pilihan yang patut dihadirkan dalam daftar kegiatan pengenalan kampus.

Mengadakan kegiatan yang menyenangkan dan bermanfaat dapat menghadirkan kesan yang baik bagi mahasiswa baru. Kenangan dan kisah seru yang terkenang dari masa pengenalan kampus akan menjadi suatu yang selalu mereka rindukan. Hal seperti ini yang patut di harapkan oleh semua masyarakat, terutama mahasiswa di seluruh penjuru negeri ini. (Elham)


1663736317_download.jfif

21 Sep 2022

Mahasiswa Kuliah di Lantai : UKT Elit, Fasilitas Sulit

Pada tanggal 2 September 2022 jam 6.30  dalam kelas mata kuliah Praktik Advokasi Sosial yang diampu dosen Pak Lukman Wijaya Baratha para mahasiswa Sosiologi FISIP UNEJ angkatan 2020 kekurangan kursi tempat duduk saat kuliah berlangsung. Ruangan yang dipakai berkapasitas terbatas dan berfasilitas kurang memadai. Kondisi itu terjadi karena ada 2 kelas pada jam yang sama, sehingga terlihat bahwa tatanan jadwal mata kuliah mahasiswa yang dirancang tidak terorganisir dengan baik. Karena hal tersebut menjadikan sekitar sembilan mahasiswa sebagian duduk di bawah untuk tetap mengikuti perkuliahan hingga selesai. Hal tersebut tentu berpengaruh besar untuk menunjang keefektifan proses perkuliahan dan suasana kelas yang nyaman.

Tentu saja permasalahan itu menjadi sorotan mahasiswa,  hal ini juga diramaikan di akun instagam maba unej dan tiktok HIMASOS dengan jumlah 17 ribu lebih viewers. “Sebagai maba aku bingung dengan fasilitas FISIP di UNEJ, padahal UKT dan SPI juga besar, tapi kenapa fasilitas tidak ada perubahan, uangnya kemana?” dari akun @nnmooo_ di tiktok HIMASOS. Hingga saat ini, material kursi yang dipakai di FISIP masih berbahan kayu. Hal ini tentu menjadi perbandingan yang jauh dengan perkembangan kelengkapan fasilitas di fakultas lain. Kondisi tersebut dikomentari @ar.nolll di Instagram maba unej dengan “Kursi jaman kerajaan Singosari”.

Tidak hanya itu, keterbatasan fasilitas lain di FISIP UNEJ juga menjadi sorotan. Seperti fasilitas sinyal dan kecepatan WIFI hingga kebersihan fasilitas di FISP yang dinilai kurang.

Pembagian dan ketersediaan kelas juga menjadi hal yang meresahkan. “Tentu sangat kecewa, karena fasilitas yang memadai sangat berpengaruh terhadap kualitas belajar mahasiswa” ucap Nauval dari Angkatan 2021.

Hingga saat ini permasalahan fasilitas dan jadwal yang bertabrakan tidak menemukan solusi yang tepat. Setiap pertemuan berlangsung demikian karena jadwal yang tidak sinkron dalam situasi kelas yang bahkan satu saja dirasa terbatas. Bahkan beberapa dosen mengajar dua kelas dalam waktu yang sama. Melihat kondisi saat ini yang sudah menyelenggarakan perkuliahan secara luring, tentu hal tersebut tidak memungkinkan dosen mengajar dua kelas sekaligus dalam satu waktu. Apalagi apabila mata kuliah yang berlangsung di antara keduanya berbeda. Hal tersebut tentu membuat mahasiswa merasakan bahwa penyelenggaraan perkuliahan secara luring tidak siap untuk dilakukan oleh pihak fakultas. Itu menjadi hal penting dan perlu didukung oleh ketersediaan fasilitas yang lengkap. Oleh karena itu ketersediaan fasilitas mahasiswa sangat perlu dilakukan peningkatan dan perkembangan secara berkal di Universitas Jember, khususnya Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. (Adiba)


1658821146_fisip.jpg

26 Jul 2022

3 Alasan FISIP Jadi Fakultas Paling Memprihatinkan di UNEJ

Kehidupan kampus pada situasi yang mengarah ke endemi perlu dihidupkan kembali. Kalau mendengar cerita dari angkatan terdahulu, kampus sudah menjadi “Rumah Mahasiwa”, setelah dipikir-pikir saya sepakat dengan pernyataan itu, mengingat peran kampus yang sangat vital baik dalam menunjang pembelajaran di dalam kelas, maupun produktifitas mahasiswa di luar kelas. Sayangnya tak semua kampus maupun fakultas mampu memfasilitasi mahasiswa dengan kondisi yang nyaman.

Dari sekian fakultas yang ada di Universitas Jember, saya rasa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) dalam hal pemenuhan fasilitas, layak untuk mendapat penghargaan dan dinobatkan sebagai “Fakultas Paling Memprihatinkan se-UNEJ”. Harusnya memang Pak Iwan Taruna minimal mengagendakan satu malam penganugrahan-lah di puncak Dies Natalies UNEJ untuk itu. Ya, eman aja kalau nama besar FISIP punya kesempatan penuh mendobrak panggung kancah rektorat tidak diapresiasi.

Ajang pamer fasilitas kampus macam yang ada di tren TikTok yakni “University Check” beberapa waktu lalu, jikalau untuk mahasiswa FISIP saya sarankan untuk numpang aja deh ke fakultas-fakultas lain. Saya sarankan, bisa kok nebeng ke Fakultas Hukum (FH) yang sampingnya sudah ada Taman Edukasi Kebangsaan lengkap dengan Soekarno-Hatta Corner. Tampak apik nan ciamik gedung CDAST, rektorat, IsDB, atau apalah pokok jangan FISIP, titik!.

Memang pertarungan antar kampus itu idealnya bukan soal fasilitas, akan tetapi soal akademis-nya. Namun, tak dapat dielakkan lagi jikalau fasilitas yang fundamental ndak terpenuhi, ya mahasiswanya juga kasian bos!. Kita nggak perlu ngomong ndakik-ndakik lah, soal charging station atau keran air minum di berbagai titik fakultas, udah jangan kesana dulu. Gimana mau kesana, lha wong fasilitas-fasilitas yang fundamental aja masih belum layak kok. Untuk itulah, akan saya coba jelaskan beberapa alasan dari judul yang telah tertera di atas.

  1. Sarana olahraga

Ngomongin soal sarana olahraga, FISIP memang juaranya dalam memenuhi hak-hak mahasiswanya untuk tidak bisa berolahraga di dilingkungannya sendiri. Padahal lho rek, di FISIP kita tercinta ini ada Unit Kegiatan Mahasiswa Olahraga (UKM O) yang terdiri dari UKM Futsal, Badminton, Bulutangkis, serta Bola Basket yang pusat kegiatannya, ya harusnya ada di fakultas. Sialnya lapangan futsal yang ada kondisinya sungguh menggenaskan. Lantai lapangan sudah bolong-bolong ra karuan, cat pudar juga mengelupas, Bayangkan kalau mahasiswa bermain futsal di sana, dapat dipastikan jika memakai sepatu, sepatunya ya wes pasti ancur. Belum lagi perihal keranjang ring basket yang sudah nggak layak pakai. Lebih mengerikan lagi, net bola voli yang hanya tinggal 1 tiang, dan yang super aneh adalah lapangan bulutangkis yang entah dimana rimbanya.

  1. Taman Super Wi-Fi (TSW) Kawasan Taman Super Wi-Fi (TSW) yang berisi sejumlah tempat duduk lengkap dengan payungnya yang sangat mengagetkan ketika cabang-cabang kayu jatuh dari atas, duaaang!. Menariknya, TSW yang kata tengahnya “Super” nyatanya nggak super-super amat kok. Lha wong kekuatan sinyalnya aja ndak bisa menyeluruh di semua sudut TSW, ya mungkin hanya dibeberapa sudut saja yang terjangkau. 
  2. Kamar Mandi

Sejauh pengalaman saya menjelajahi kamar mandi yang ada di FISIP, memang secara kebersihan cukup baik lah, meski ndak semua. Mirisnya, sampai saat ini nggak ada pembeda gender. Lha nek diterusnse kan bisa bahaya, apalagi habis ini kayaknya bakal kuliah luring lagi. Wahhh, sungguh juara bukan FISIP-ku?. (Aulian Milki Toha Larobi)

(LITERAKSI BEM FISIP X LPM PRIMA FISIP)

 


1658026906_dimas-.jpg

17 Jul 2022

Mahasiswa Opurtunis, Mengiyakan Segala Cara

Aku tahu betul apa yang kawan-kawan baca ini pada akhirnya hanya akan menjadi bacaan yang dilupakan, entah dalam hitung hari, minggu, bulan, atau sewaktu dihadapkan dengan situasi yang tidak mengenakkan. Tapi, saya rasa tidak ada cara terbaik selain tulisan singkat yang selalu ingin saya tulis daripada hanya bergumam kata antar kawan, baik yang dikenal atau tidak, yang sekiranya hanya bertahan sampai waktu perpisahan.

Tulisan ini sejatinya simpanan saya seorang, sebagai tulisan pelampiasan. Namun melihat banyaknya hal yang tidak saya senangi dan sepahami, saya putuskan untuk membagikannya kepada siapapun. Dengan tiada alasan selain hasrat melawan. Oleh karenanya kini tulisan ini ditujukan pada siapapun yang ingin membaca, bacalah, terkhusus pada kawan-kawan yang saya kenal atau tidak. Saya tuliskan nama karena bagi saya penulis harus dapat mempertanggung jawabkan tulisannya, menunjukkannya, meski harus memilih untuk melawan yang banyak dan kebisuan di udara.

Saya sering pandangi dan tentu bukan hal baru lagi menyoal banyak kawan memilih jalannya masing-masing. Ada yang mengabdikan diri pada satu hal dan ada pula yang lain. Tidaklah masalah, tidaklah merusak. Tapi ketika kawan mencampurkan semua hal menjadi satu, bahkan apa yang baik dan buruk menjadi tidak kentara antara perbedaan satu sama lain maka ini menjadi persoalan berbeda.

Banyak contoh jika dapat saya sebut sebagai dosa-dosa kawan, seperti:

  • Berkata menuntut perubahan, nyatanya aktif melindungi hal yang ingin dirubah.
  • Berkata sedia di awal, nyatanya meninggalkan ketika ada posisi yang lebih nyaman.
  • Berkata pelajar, tapi menanggalkan budayanya hanya karena proyek uang.
  • Berkata melawan ketidakadilan, nyatanya sukarela menjadi yang tertindas.
  • Berpendidikan sosial, parahnya mengiyakan segala cara hingga melupakan etika.

Apa yang beberapa kawan lakukan sejatinya penghinaan atas apa yang kita dan kawan perjuangkan. Atau mungkin sejatinya kawan tidak pernah memperjuangkan hal yang saya dan kawan lain perjuangkan selama ini?

Lantas untuk apa kawan memilih dan bersedia membayar mahal biaya pendidikan kampus, jika pada akhirnya kawan justru menjadi hal yang seharusnya dilawan dalam setiap pembahasan kuliah? Apakah hanya karena gelar? Tuntutan dunia kerja? Mencari jejaring? Jika kawan memang ingin menjadi oportunis kenapa tidak sekalian saja tanggalkan predikat pelajarmu dan menjadi oportunis sejati yang tidak mempertimbangkan satu dan dua hal. Boro-boro memikirkan persoalan bersama, kalau yang dipikirkan hanya soal diri sendiri.

Apakah mungkin ini sebab persoalan kampus? Atau justru masalah lain yang lebih besar? Mungkin, tapi tidaklah saya tahu pasti hal tersebut. Yang pasti masih ada kenyataan pahit dari persoalan kampus yang hanya akan membuat tulisan ini semakin panjang dan membosankan.

Banyak kawan berkata atau mungkin dapat berkata, saya memilih dan berlaku layaknya ini karena saya tercukupi. Memang benar. Saya tercukupi. Memang benar. Saya tercukupi. Saya menerima hal itu, tapi saya tidak menerima hal yang lain. Hanya karena persoalan tercukupi tidaknya maka kita dapat melunturkan bahkan meninggalkan budaya kita untuk berpikir dan mengkritisi banyak hal di dunia? Lantas budaya siapa lagi perihal itu, tugas siapa lagi itu, atau mungkin kita hanya perlu mengikuti kuatnya arus dan menerima apa yang dunia berikan tanpa usaha memikirkannya, apalagi untuk merubahnya.

Seperti kata Soe, lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan. Maka lebih baik memilih untuk menentang banyak hal, kampus, perkuliahannya, janjinya, bahkan kawanannya meski harus merasa terasing dari sekelilingnya.

Oleh    : Dimas Nugroho


1654344619_PENOLAKAN 3 PERIODE.jpg

04 Jun 2022

Suara Kebebasan Mahasiswa Dipandang Sebelah Mata

 

Berbicara mengenai kebebasan, setiap orang didunia ini berhak untuk mendapatkan kebebasan. Dengan kebebasan tersebut setiap individu mengalami keterlibatan langsung dalam pembentukan keadaan. Sesuai dengan aturan hukum yang selaras, yakni: kebebasan untuk berpendapat. Kebebasan untuk berpendapat diatur dalam Pasal 28E ayat (3) Undang-Undang Dasar 1945 (UUD 1945) sebagai berikut: Setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat[1]. Singkat penjelasan dari kandungan undang-undang tersebut ialah tentang kebebasan berpendapat dan dilakukan melalui jalan musyawarah dan mufakat.

Kebebasan dalam berpendapat memiliki relevansi dengan perwujudan “Hak Asasi Manusia (HAM)” yang menjadi sub bagian turunan dari aturan yang mengikat (UUD 1945). Dijelaskan dalam UU NO. 39 tahun 1999 tentang “Hak Asasi Manusia adalah penghormatan kepada manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan Yang Masa Esa yang mengemban tugas mengelola dan memelihara alam semesta dengan penuh ketaqwaan dan penuh tanggung jawab untuk kesejahteraan umat manusia, oleh pencipta-Nya dianugerahi hak asasi untuk menjamin keberadaan harkat dan martabat kemuliaan dirinya serta keharmonisan lingkungannya.”

Kabar hangat baru-baru ini terjadi pada aksi yang digelar oleh mahasiswa untuk menolak penundaan Pemilu 2024 dan perpanjangan masa jabatan presiden. Penolakan penundaan pemilu tersebut tepat pada hari Senin, tanggal 11 April tahun 2022. Saat aksi demonstrasi berjalan, dikejutkan oleh gelombang peristiwa pengeroyokan “Ade Armando” di depan Gedung DPR-MPR RI Jakarta Pusat. Kejadian mengejutkan tersebut menjadi “counter attack” kepada mahasiswa. Bukan lagi aksi mahasiwa yang menjadi sorotan utama, namun media nyatanya berpaling menyoroti peristiwa pengeroyokan.

Penolakan penundaan pemilu merupakan aksi yang wajar untuk dilakukan mahasiswa. Aksi ini berangkat dari nilai idealisme seorang mahasiwa yang masih terjaga. Mahasiswa sebagai insan akademis yang meilihat kecacatan fenomena yang terjadi pada negerinya menjadi dasar dalam menyuarakan aspirasi. Namun, disusul dengan kejadian Ade Armando ini menyebabkan fenomena kecacatan tersebut semakin keruh sekaligus ketidakwajaran situasi yang harus dipertontonkan. Akhirnya, menilik kejadian ini menyebabkan masyarakat sipil mengamati kembali, pemerintah sebagai tempat untuk menampung aspirasi apakah masih pantas?

Menggelitk sekali, mencoba mengalihkan isu yang terjadi. Keterlibatan rezim-rezim penguasa yang licik mencoba mengalihkan dan mencegah aspirasi yang dilakukan oleh mahasiswa. Sebab, berbicara esensi aksi atau demo yang dilakukan oleh mahasiswa untuk rakyat menjadi cuma-cuma. Dibuktikan ketika media informasi mencoba memberikan headline di berbagai macam media sebagai penghubung informasi, seperti TV, Media Sosial, dan Koran berita yang mampu menutupi aksi mahasiswa dan kasus pengeroyokan yang terjadi menjadi perhatan utama headline news.

Suara kebebasan mahasiswa lagi-lagi dibungkam! Lalu, gerakan moral apalagi yang harus dimenangkan? Mari kita flash back dengan kejadikan masa lalu, berawal dari akar dinamika gerakan moral mahasiswa pada tahun 1998 saat orde baru dilengserkan oleh orde reformasi, tepat di era Soeharto melalui para rezim yang berkuasa. Rezim berkuasa ini pun termasuk mengeruk arus tatanan ekonomi-politik dan ruang lingkup sistem pendidikan yang diberlakukan.

Pada saat orde baru suara mahasiswa dan rakyat menjadi satu hanya karena urusan perutnya terganggu (kesejahteraan rakyat). Musuh utama mereka jelas, yakni “Rezim” berkuasa atau bermain-bermain dibelakang layar peristiwa. Lalu, sangat menolak adanya relasi kuasa  yang diberikan atau ditawarkan oleh rezim-rezim licik yang hanya ingin memanfaatkan maksud kepentingan kepada mahasiswa. Seperti halnya, maksud dari kepentingan relasi kuasa yang pragmatis tidak mampu mengedepankan proses pengetahuan di masa orde baru. Tentu sadar, apabila relasi kuasa telah menggrogoti idealisme mahasiswa dimulai dari hanya ingin mendapatkan rasa bangga, kesenangan, dan kehormatan semata. Akan tetapi, dalam ajang doktrinisasi yang menutup keterbukaan pikiran tersebut, membuktikan bahwasannya runtuhnya negara dimulai dari penumpasan kaum-kaum intelektual yang seharusnya menjadi pemimpin dan menahkodai bangsa ini lebih baik. Ironi Sekali!

Sejalan dengan peranan penulis kini sebagai mahasiswa. Tentu, ada “Hak” yang harus diperoleh. Yakni: (1) Menggunakan kebebasan akademik secara bertanggung jawab untuk menuntut dan mengkaji ilmu sesuai dengan norma dan susila yang berlaku dalam lingkungan akademik; (2) Mendapat bimbingan dari dosen yang bertanggung jawab atas program studi yang diikutinya untuk penyelesaian studinya; (3) Memanfaatkan fasilitas dalam rangka kelancaran proses belajar; (4) Memperoleh layanan informasi yang berkaitan dengan program studi yang diikutinya serta hasil belajarnya; dan (5) Memanfaatkan sumber daya yang ada di dalam perguruan tinggi, melalui perwakilan atau organisasi kemahasiswaan untuk mengurus dan mengatur kesejahteraan, minat dan tata kehidupan bermasyarakat.

Akan tetapi, jangan sampai terlena dengan pemenuhan hak-haknya. Perlu dipandang serius bahwa “kewajiban” harus dilakukan oleh mahasiswa untuk: (1) Bertingkah laku, disiplin dan bertanggung jawab sehingga suasana belajar mengajar tidak terganggu; (2) Mematuhi semua peraturan dan ketentuan yang berlaku; (3) Menjaga kewibawaan dan nama baik perorangan dan lingkungan sekitar; (4) Memelihara penampilan sesuai dengan statusnya sebagai mahasiswa yang berkepribadian; dan (5) Menyiapkan diri untuk mengikuti gelaran moral.

Suara kebebasan mahasiswa akan terwujud apabila keteguhan hati dengan ketahanan bertindak melebur menjadi satu dalam perpaduan yang utuh. Mengapa demikian? Pertanyaan cukup membingungkan. Namun, ketika mahasiswa memiliki punggung moral dijadikan sebagai landasan. Sudah seharusnya menolak adanya campur tangan rezim penguasa, sebab mereka pasti memasuki dan memberikan dorongan pada orientasi “Kursi atau Jabatan” untuk memecahkan idealisme mahasiswa agar tidak kritis pada kebijakan dan regulasi yang diterapkan. Sungguh sulit menjamin nasib perorangan, ya rasionalnya “Sesuap Nasi”.

Tentu saja, perlu untuk mengetahui meskipun ini sulit dalam menyeimbangkan pola pemikiran perorangan. Meskipun itu, perlu memahami tentang: “Ketika relasi kuasa sudah berhasil dihilangkan dari sistem pendidikan”, “Persatuan mahasiswa berhasil diwujudkan”, dan “Musuh bersama atau disebut common enemy telah ditemukan” maka dapat diejawantahkan dalam bentuk aspirasi yang berarti untuk suara kebebasan mahasiswa tidak dipandang lagi: SEBELAH MATA.

(Oleh: Muhammad Farhan_Redaktur Pelaksana)

 

Sumber: (Aspirasi Mahasiswa Tenggelam karena Kasus Pengeroyokan Ade Armando | LHINEWS.COM)

 

 


[1] DPR RI, Jaringan Dokumentasi dan Informasi Hukum UUD NRI Tahun 1945. J.D.I.H. - Undang Undang Dasar 1945 - Dewan Perwakilan Rakyat (dpr.go.id).


1623284340_berita fix

10 Jun 2021

Wahai Manusia, Tolong Aku

Berdasarkan data yang diambil dari diagram yang terdapat di databooks kata data.co.id Luas penurunan Lahan tutupan pohon di Indonesia pada 2001 sebesar 744.000 Lalu meningkat menjadi 1,4 juta di tahun 2007 kemudian mengalami penurunan menjadi 1,1 juta dan kemudian meningkat menjadi 1,2 juta di tahun 2019. Selain itu di data books kata data.co.id juga dicatat 10 provinsi dengan penurunan luas lahan tutupan pohon terbesar di indonesai periode 2001-2019 dengan rincian: Riau 3,8 juta Kalimantan barat 3,5 juta Kalimantan tengah 3,4 juta Kalimantan timur 3,3 juta sumatera selatan 2,8 juta jambi 1,6 juta sumatera utara 1,3 juta Kalimantan selatan 794.000 sulawesi tengah 696.000 dan Aceh 680.000 dengan demikian total kehilangan lahan Indonesia dari periode 2001-2019 berdasarkan diagram tersebut adalah sebesar 21.870 (Juta) Sebagai perbandingan saja luas seluruh pulau jawa yaitu 12,8297 juta ha sementara dalam periode 2001-2019 indonesia total telah kehilangan 21,8 juta hektar lahan tutupan pohon atau hutan itu artinya daalm waktu hanya 19 tahun saja kita sudah kehilangan hampir 2x luas pulau jawa dalam bidang hutan. Tentu ini adalah suatu angka yang fantastis bukan dan apabila mengacu kepada data tahun 2019 indonesia sudah kehilangan 324 ribu hektar  hutan hanya dalam waktu satu tahun! Yang mana berdasarkan data di atas indonsesia adalah negara tropis ke 2 yang mengalami kehilangan hutan terbesar setelah Brazil. Tentunya kehilangan hutan ini disebabkan oleh berbagai faaktor antara lain adalah kebakaran hutan yang bisa disebabkan oleh seseorang yang secara sengaja membuang punting rokok yang masih menyala  dihutan misalnya. Atau bisa juga orang yang ingin membuka hutan untuk dijadikan pemukiman atau dijadikan tempatnya berladang dan untuk itu mereka membabat hutan tidak memperdulikan apakah itu Kawasan hutan lindung atau Kawasan terbuka hijau atau apa yang penting tujuan mereka tercapai perihal efek atau dampak buruk yang akan terjadi itu adalah masalah kemudian hari. Mungkin jika ditanya yang bersangjutan tidak mengatakan hal itu tetapi sangat banyak kasus dimana terjdi pembabatan hutan secara liar dan tidak bertanggung jawab tanpa adnaya penanaman Kembali jujur hal ini sangat merugikan bagi dirikita sendiri seperti yang sudah doketahui banyak kalangan bahwa pohon atau hutan adalah paru-paru dunia nah jika hutan kita tebangi secara terus menerus tanpa ada penanaman Kembali reboisasi atau penghiiajuan misalnya bagaimana kita mendapatkan oksigen? Dalam hidup ini kita tentu sangat membutuhkan oksigen bla pohon ditebangi secara liar dan tidak bertanggung jawab lalu siapa yang menghasilkan oksigen bagi kita. Tentu tidak mungkin apabila kita harus terus bergantung kepada ventilstor untuk mendspatkan oksigen bukan? Sudah enak diberikan oksigen secara Cuma-Cuma tentu kia harus menjaga pemerian tersebut dengan  cara tetap menjaga keasrian lingkungan dan lagi jika lingkungan tempat tinggal kita hijau atau banyak tanaman nya tentu indah dipandang mata bukan daripada lihat kiri jalan lihat kaan  jalan lihat depan asap kendaraan tentu lebih indah kalua kiri pohon tau tanaman hijau kana tanaman hijau bukan? Selain itu perlu kita ketahui pula bahwa tanahh humus aatu tanah yang paling subur itu berada di lapisan paling atas dari tanah yang bersangkutan dan tanah humus bisa tetap ada ditempatnya karena ada yang menahan diayas nya agar tidak jatuh atau longsor yaitu pohon kalua pohon ditebang maka tanah humus itu rawan longsor dan akhirnya tanah tersebut yang semula subur bisa menurun kesuburannya atau bahkan jadi tanah tandus jadi mari kita jaga lingkungan kit akita jaga dunia ini agar tetap asri dan hijau kalua mau menebag pohon untuk membangun rumah misalkan ya tanam yang baru minimal tebang1 tanam 1 atau lebih bagus lagi tebang 1 tanam 2 atau 3 dan seterusnya. Mari kita jaga lingkungan kita karena kita membutuhkan lingkungan untuk bisa hidup dan lingkungan membutuhkan kita untuk merawat dan memperindah nya sehingga antara kita dan lingkungan sebenarnya saling membutuhkan satu sama lain.

Berdasarkan artikel yang bersumber dari www.voaindonesia.com yang ditulis pada tanggal 29 agustus 2020 mengatakan bahwa jaringan pemantau independen kehutana mencata sejak aal tahun 2020 ada 15 kaus pelanggaran kehutanan yang mana menurut juru bicaranya hal itu disebabkan karena kurangnya pengawasan disebabkan oleh pandemic virus covid 19 yang baru saja merebak di Indonesia. (Surya )