Pulihlah

By LPM PRIMA FISIP UNEJ

09 Apr 2020 - 03:28:12

1586827332_20200414_082119_0000.png

Hai hati, mengapa kau terus merasa kecewa?

Padahal semua memberi yang terbaik padamu

Mengapa kau terus merasa tersalahkan?

Padahal mereka yang mendukungmu

 

Hai hati, mengapa kau lagi lagi menuduh?

Padahal rumah tempatmu berteduh

Mengapa kau terus menerus menghindar?

Padahal kau sebut mereka keluarga

 

Hai hati, bagaimana bisa kau merasa dibohongi?

Padahal semua terjadi demi melindungimu

Mengapa latar belakang terus kau salahi?

Padahal kau terbentuk tegar dari hal itu

 

Berhentilah hati! Sadarlah! Terbukalah!

Jangan lagi kau terbakar kata mereka!

Ingatlah hutang budimu padanya!

Terbukalah agar kau tersadar akan jasanya!

 

[Dev]

Artikel Lainnya
1695023668_photo_6070905040350066081_x.jpg

18 Sep 2023

Bumi Kelabu

Indonesia negeri yang kaya  

Namun tidak dengan jiwanya 

Mereka bilang Harga Mati  

Kemanusiaan pun turut mati 

 

Pada kala itu,,  

September menjadi saksi bisu  

Kebebasan berada dititik terjauh 

Hak keadilan tertinggal jatuh 

Para pejuang merintih hancur  

 

Terasa geram tak ingin lari  

Terkuak sudah wangi melati 

Banyak pihak beralasan memperbaiki  

Rupanya, langkah awal mendominasi  

 

Sudah waktunya perbaiki  

Segala beban jeratan oligarki  

Sudah waktunya berjuang kembali  

Kabur dari penjara liberalisasi  

 

Nestapa September menjadi saksi 

Indonesia juga pernah sakit  

Lemahnya Demokrasi  

Lemahnya Konstitusi  

Binasa HAM dalam Negeri  

 

Setiap jiwa perlu dijuangkan 

Segala hak perlu ditunaikan  

Sungguh mulia jasa Munir  

Mati dahulu melawan takdir 

Tewas mulia misi perjuangan 

 

Pada September Kelabu  

Menjadi potret kelam waktu  

Bumi terkikis meminta ampun  

Tanda lelah untuk bangun 

Harap cemas pada pemilik negeri  

Berjuang lagi dengan misi  

Membela lebih baik daripada melarikan diri 

 

Penulis : Sadira Sinta A.

Editor   : Tim Redaksi LPM PRIMA FISIP

 


1658583854_marriage-cartoon-proposal.jpg

23 Jul 2022

PROPOSAL

Oleh : Lyn

Kedinginan malam menyelimuti kita

Dua pasang ciptaan Tuhan mengeratkan dekapan

Di bawah sorot bulan merah itu

Kedua mata ini memandangmu dalam

Akankah baik-baik saja bila kuteruskan

 

Detik itu Kau bertanya padaku

Bagaimana malam yang indah itu

Malam indahku tergantung keberadaanmu

Karena kamulah bintang bercahayaku

Sinar terangmu melenyapkan ketakutanku

 

Pertahankan senyum di bibirmu itu

Di setiap pertemuan kita yang tiada akhir

Biarkan nafasku bebas di sisimu

Kau pasti tahu arti ucapanku

 

Selamanya nikmati gemerlap malam denganku

Walaupun cahaya langit telah sirna

Aku tak peduli karena kaulah sinar yang paling terang

Ijinkan aku bercahaya ditiap malammu juga

Mari tetap seperti ini bahkan di nirwana nanti (Nanda)

 

 


1604200772_97693996690-80926999915-1.jpg

01 Nov 2020

Lahirlah Muhammad Saw

bocah perempuan itu tak beranjak

ketika deburan debu menerpa tubuhnya

sang ibu terdiam kaku dengan kelumpuhannya

sedang para tetangga sudah banyak meninggalkan kampungnya

 

lelaki tegap dengan keperkasaannya

menendang pintu dengan bengis dan kepongahan

ibu dan anak diam terkunci mulutnya

segala tanya tak ada jawaban

 

bocah-bocah perempuan dipenggal lehernya

karena kelahirannya dianggap pembawa sial

jangan sampai bumi suci diinjak najis kakinya

karena selaksa kutuk dan laknat akan melanda

 

bocah-bocah perempuan terus dikejar-kejar bagai hewan buruan

tak terhitung berapa yang tertangkap

dan berapa sudah yang ditanam hidup-hidup di dalam tanah

padang pasir jadi saksi bisu kezaliman merajalela

 

awan panas berarak-arakan

rahasia tetap menyelimutinya

dari jauh di antara pegunungan terjadi kegelisahan

akan datang barisan pasukan membawa pedang dan keangkaramurkaan

 

mereka menyingkir ke perbukitan

di tengah arus pengungsian

seorang perempuan dengan kandungannya

sudah tiba saat kelahirannya

 

gajah-gajah dikerahkan

berlaksa burung beterbangan

batu-batu serentak berjatuhan

pasukan gajah dalam kelumpuhan

 

di waktu itu

ada cahaya menyatu

menembus relung waktu

tangis bayi

lengkingannya sampai kini

ya, Muhammad saw                        

Penulis: Andan P


1586829100_20200414_085009_0000.png

14 Apr 2020

“KITA” MAHASISWA

Perkenalkan, aku adalah mahasiswa
Yang katanya selalu berjajar membela rakyat
Disebut sebagai civitas akademika karena melawan birokrasi
Namun pada era ini katanya hilang eksistensi

Tahun 1998 kata “kita” seakan menjadi agung bagi mahasiswa
Kata “kita” menyatukan mahasiswa, rakyat dan Indonesia
Tapi itu dulu pada era birokrasi menggila
Namun pada era ini apa arti “kita” bagi mahasiswa ?

“Kita” ialah sebuah kata pronomina pesona pertama
Yang terdefinisi dengan begitu banyak arti
Dan semua terarah pada sebuah makna
Tapi sering diartikan kata romantis muda mudi

Namun kini kata “kita” menjadi begitu tabu bagiku
Sering tak selaras dengan hati walau terbelenggu
Tak jarang kata “kita” seakan menjadi benalu
Tapi tetap ku terjebak pada sebuah gang buntu

Hai mahasiswa! Kini apa arti “kita” bagimu ?
Masihkah “kita” menjadi tanggungjawab sosialmu ?
Masihkah kepentingan bersama menjadi prioritas bagimu ?
Ataukah sudah tergerus zaman dan egoismu ?

”Tugas mahasiswa adalah belajar
namun sungguh sangat rugi jika belajar disempitkan 
hanya sebatas bangku perkuliahan saja“
Begitu najwa shihab berkata 

Lalu bagaimana saat ini hai mahasiswa yang agung!
Membawa nama universitas kasana kemari
Memakai jas sekedar untuk sombong pada teman SMU
Namun kerjamu tak berarti bagi negeri

Sungguh aku malu disebut sebagai mahasiswa
Dihormati sebagai orang berpendidikan
Menjadi harapan rakyat bagi keberlangsungan bangsa
Namun yang kulakukan hanya berdiam diri saja

Sungguh teman-temanku wahai mahasiswa 
Tunjukkan pada mereka bahwa kata “kita” tidak mati
Wujudkan tanggungjawab sosial “kita” hai mahasiswa!
Generasi muda bangsa Indonesia!

[Dev]