Menyelami Kisah Jeffrey Dahmer Si Monster Milawaukee

Belakangan terkenalnya serial “Monster: The Jeffrey Dahmer Story” yang menimbulkan banyak reaksi bagi para penikmat film. Serial ini tayang di salah satu media penyedia layanan streaming film terkenal, Netflix, pada 21 September lalu. Serial ini diangkat dari sebuah kisah nyata pembunuh berantai, Jeffrey Dahmer, yang terjadi di Kota Milawaukee, Negara bagian Wiconnsin, Amerika Serikat pada tahun 1991.

Dalam serial ini, semua yang mengenai Dahmer ditampilkan secara gamblang. Serial dibangun berdasarkan sisi pandang masa hidup Jeffrey Dahmer, keluarga korban hingga warga kulit hitam di Kota Milawaukee. Pria yang berjumlah 17 dan anak laki-laki menjadi korban Dahmer secara keji selama 1978-1991. Kisah ini benar-benar mengingatkan betapa buruknya peradilan pada masa itu, kebrutalan, serta rasisme yang diikuti bobroknya sistem kepolisian.

Tidak mengagetkan bahwa serial ini mampu membawa mimpi buruk bagi para penontonnya. Rasa jijik dan mual bahkan mampu dihadirkan oleh serial ini. Reaksi-reaksi muncul dari banyak pihak. Beberapa memberikan pujian terhadap serial ini, sisi berlawanan menanggap serial ini tidak pantas karena tidak menghormati keluarga para korban.

Beberapa adegan kilas balik dalam serial ini, Dahmer ditampilkan sebagai sesosok pria dengan masa kecil yang tidak begitu menyenangkan: pertikaian kedua orang tua yang berujung perceraian. Dalam narasi yang disajikan pada awal serial, belum ada yang mengetahui apa yang membuat seorang Dahmer dapat melakukan kekejian seperti itu.

Dahmer kecil ditampilkan sebagai anak yang pendiam dan dianggap aneh bagi anak-anak seumurnya. Keanehannya ditambah dengan ketertarikannya pada nekropsi (pembedahan bangkai) hewan. Dahmer menyukai bagaimana cara dan proses melakukan pembedahan pada hewan yang telah mati: rakun, janin babi hingga tikus.

Ayah Dahmer—yang ingin menjadi seorang ayah yang baik untuk anaknya juga memiliki kemampuan dalam melakukan nekropsi mengajarkan Dahmer bagaimana cara melakukannya dengan benar. Ayah Dahmer melihat ketertarikan putranya sebagai hal yang dapat menjadikannya seorang saintis di masa depan.

Masa kecil semakin runyam ditambah dengan adanya masalah pada ibunya yang pencandu obat penenang hingga menimbulkan pertikaian dengan ayahnya. Ibunya menjadi pemarah dan tak acuh pada Dahmer, di sisi lain ayahnya sudah tidak kuasa menanggapi semua yang dilakukan istrinya. Pada akhirnya semuanya berdampak pada Dahmer kecil, menjadikannya anak yang sukar bersosialisasi dan lebih sering menyendiri. 

Dalam keluarga kecilnya itu, Dahmer tidak pernah mendapatkan perhatian secara penuh oleh kedua orang tuanya, terutama ibunya. Hingga menjelang remaja, Dahmer semakin menujukan keabnormalannya. Dia menjadi sosok yang kikuk dengan orientasi seksual pada laki-laki.

Hal yang dialami Dahmer dapat menunjukkan bahwa lingkungan sosial seseorang sangat berpengaruh terhadap pembentukan sifat dan perilaku dirinya, terutama lingkungan keluarga. Selain itu, luka masa lalu yang tidak disadari juga dapat menghasilkan pola perilaku yang menyimpang.

Ketika seorang anak melihat kedua orang tuanya bertengkar, anak akan merasa tidak nyaman, ketakutan bahkan merasa tidak nyaman berada di sekitar orang tuanya. Mereka akan cemas karena melihat kemarahan kedua orang tuanya dan menimbulkan pikiran negatif. Disisi lain, ayah atau ibu yang sering bertengkar berpotensi sukar menunjukkan sikap hangat dan kasih saya kepada anaknya.

Ketika semua kasih sayang yang diinginkan tidak tercapai akan mempengaruhi mental anak. Seperti yang dilakukan Dahmer, ketika seseorang yang dia sukai menyukainya juga, Dahmer merasa bahwa dia memiliki orang yang memberikan perhatian kepadanya dan dia merasa tidak sendirian. Sehingga, ketika orang yang dia sukai ingin meninggalkannya, walaupun hanya untuk kembali ke rumahnya, Dahmer merasa terancam akan ditinggalkan dan kembali sendirian. Berbagai cara dilakukan untuk membujuk mereka agar tinggal hingga menimbulkan pembunuhan yang entah disengaja olehnya atau tidak—agar mereka dapat tetap bersama.

Dalam serial ini, ditampilkan bobroknya kepolisian yang masih menunjukkan sikap rasis terhadap warga kulit hitam dan selalu menganggap mereka sepele. White supermacy benar-benar terlihat pada kasus ini. Hingga beberapa kali tetangga Dahmer melaporkan kecurigaannya pada polisi, namun polisi terus mengabaikannya karena dia merupakan wanita kulit hitam.

Pada akhirnya, kasus ini dapat memberikan pengajaran bagi para orang tua bahwa kasih sayang penuh terhadap anak sangat penting bagi tumbuh kembang mereka. Hal ini juga mengingatkan bahwa orang tua harus mengetahui minat maupun bakat anak yang dapat mengarah ke hal negatif sehingga dapat diantisipasi di masa dewasanya.

 

TEKS : ELHAM (TRAIPENMADAS 21)

EDITOR : TIM REDAKSI 

Sarana Dan Prasarana FISIP: Ada Perkembangan Atau Stagnan

LPM PRIMA- Berbicara tentangpermasalahan yang ada di kampus, memang tak luput dari sarana dan prasarana yang kurang maksimal diberikan oleh pihak kampus, tak terkecuali FISIP. berbagai keluhan dilontarkan mahasiswa terkait prasarana yang kurang memadai sehingga berdampak pada keefektifan proses belajar-mengajar di lingkup Fakultas. bukan tanpa aksi nyata, beberapa bulan lalu, Aliansi Gerakan Mahasiswa FISIP SOLID yang berisikan mamahasiswa FISIP dari berbagai Organisasi Mahasiswa (ORMAWA) dan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) FISIP telah melaksanakan Audiensi dengan Dekanat untuk menuntut perbaikan sarana dan prasarana Fakultas. Hal ini bukan tanpa alasan, kami meyakini Sarana dan prasarana yang memadai akan berpengaruh terhadap keefektifan segala bentuk aktivitas didalamnya. 

Berdasarkan hasil wawancara yang telah dilakukan pada 18 November 2022 terhadap beberapa mahasiswa FISIP mengenai kepuasaan akan sarana dan prasarana. Semua dari mereka mengeluhkan terkait sarana dan prasarana yang belum memadai dan masih banyak evaluasi yang perlu dilakukan.

"Saya merasa tidak nyaman dengan salah satu fasilitas FISIP yaitu TSW (Taman Super WIFI), lantai retak seringkali membuat saya terjatuh ketika hujan, dan penerangan yang kurang memadai ketika malam hari menjadikan FISIP terlihat menyeramkan. Selanjutnya, sampah yang berserakan karena minimnya tempat sampah di TSW, tidak mengenakan mata. Tidak hanya itu, kondisi miris juga dapat dilihat dari kursi ruang kelas yang tidak diganti selama bertahun-tahun." Ujar Krisdian Tata, mahasiswa Kesejahteraan Sosial.

Untuk fasilitas lainnya, yang diperlukan oleh mahasiswa dan menjadi keluhan beberapa dosen yaitu tidak adanya tempat penitipan helm, sehingga ketika pembelajaran di dalam kelas, terdapat mahasiswa yang harus membawanya ke dalam kelas.

Ruang belajar atau perpustakaan yang tidak terlihat di area FISIP juga menjadi problem tersendiri bagi beberapa mahasiswa.

Adnino selaku anggota BEM FISIP mengungkapkan, "Dari pihak BEM sendiri sudah pernah memberikan tuntutan terhadap fakultas mengenai sarana dan prasarana. Namun, kami masih belum mekaukan Tindakan lanjut lagi dan mengkaji terkait hal tersebut."

Tuntutan yang disampaikan oleh pihak BEM telah membuahkan hasil berupa perbaikan beberapa ruang kelas dan tempat olahraga. Walaupun terlihat kurang maksimal.

Hal tersebut menciptakan sebuah statement yang diberikan mahasiswa mengenai berbagai harapan terkait kenyamanan dan kemaksimalan sarana dan prasarana di FISIP.

"Semoga bisa terus melakukan renovasi secara bertahap, sehingga menciptakan kondisi yang nyaman dan lebih layak lagi. Terutama pada ruang kelas, yang mana merupakan tempat pembelajaran bagi mahasiswa. Karena ketika belajar, kami membutuhkan tempat yang kondusif dan nyaman." Jelas Maiguna, salah satu mahasiswa Administrasi Bisnis.

Harapan lain juga disampaikan oleh Nabila, seorang mahasiswa Sosiologi, "Harapannya, semoga pihak fakultas bisa lebih fokus terhadap perbaikan fasilitas yang ada di FISIP." Ujarnya.

Banyak harapan, doa dan semoga-semoga yang tidak dapat ditulis namun letaknya beriringan dengan aksi nyata.

Barangkali didengar, segala bentuk perbaikan terhadap sarana dan prasarana, selalu menjadi hal yang dinantikan oleh seluruh penghuni FISIP, khususnya mahasiswa. (Bagus Kurniawan)

Sarana Dan Prasarana FISIP: Ada Perkembangan Atau Stagnan

LPM PRIMA- berbicara terkait permasalahan yang ada di kampus, memang tak luput dari sarana dan prasarana yang kurang maksimal diberikan oleh pihak kampus, tak terkecuali FISIP. berbagai keluhan dilontarkan mahasiswa terkait prasarana yang kurang memadai sehingga berdampak pada keefektifan proses belajar-mengajar di lingkup Fakultas. bukan tanpa aksi nyata, beberapa bulan lalu, Aliansi Gerakan Mahasiswa FISIP SOLID yang berisikan mamahasiswa FISIP dari berbagai Organisasi Mahasiswa (ORMAWA) dan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) FISIP telah melaksanakan Audiensi dengan Dekanat untuk menuntut perbaikan sarana dan prasarana Fakultas. Hal ini bukan tanpa alasan, kami meyakini Sarana dan prasarana yang memadai akan berpengaruh terhadap keefektifan segala bentuk aktivitas didalamnya. 

Berdasarkan hasil wawancara yang telah dilakukan pada 18 November 2022 terhadap beberapa mahasiswa FISIP mengenai kepuasaan akan sarana dan prasarana. Semua dari mereka mengeluhkan terkait sarana dan prasarana yang belum memadai dan masih banyak evaluasi yang perlu dilakukan.

"Saya merasa tidak nyaman dengan salah satu fasilitas FISIP yaitu TSW (Taman Super WIFI), lantai retak seringkali membuat saya terjatuh ketika hujan, dan penerangan yang kurang memadai ketika malam hari menjadikan FISIP terlihat menyeramkan. Selanjutnya, sampah yang berserakan karena minimnya tempat sampah di TSW, tidak mengenakan mata. Tidak hanya itu, kondisi miris juga dapat dilihat dari kursi ruang kelas yang tidak diganti selama bertahun-tahun." Ujar Krisdian Tata, mahasiswa Kesejahteraan Sosial.

Untuk fasilitas lainnya, yang diperlukan oleh mahasiswa dan menjadi keluhan beberapa dosen yaitu tidak adanya tempat penitipan helm, sehingga ketika pembelajaran di dalam kelas, terdapat mahasiswa yang harus membawanya ke dalam kelas.

Ruang belajar atau perpustakaan yang tidak terlihat di area FISIP juga menjadi problem tersendiri bagi beberapa mahasiswa.

Adnino selaku anggota BEM FISIP mengungkapkan, "Dari pihak BEM sendiri sudah pernah memberikan tuntutan terhadap fakultas mengenai sarana dan prasarana. Namun, kami masih belum mekaukan Tindakan lanjut lagi dan mengkaji terkait hal tersebut."

Tuntutan yang disampaikan oleh pihak BEM telah membuahkan hasil berupa perbaikan beberapa ruang kelas dan tempat olahraga. Walaupun terlihat kurang maksimal.

Hal tersebut menciptakan sebuah statement yang diberikan mahasiswa mengenai berbagai harapan terkait kenyamanan dan kemaksimalan sarana dan prasarana di FISIP.

"Semoga bisa terus melakukan renovasi secara bertahap, sehingga menciptakan kondisi yang nyaman dan lebih layak lagi. Terutama pada ruang kelas, yang mana merupakan tempat pembelajaran bagi mahasiswa. Karena ketika belajar, kami membutuhkan tempat yang kondusif dan nyaman." Jelas Maiguna, salah satu mahasiswa Administrasi Bisnis.

Harapan lain juga disampaikan oleh Nabila, seorang mahasiswa Sosiologi, "Harapannya, semoga pihak fakultas bisa lebih fokus terhadap perbaikan fasilitas yang ada di FISIP." Ujarnya.

Banyak harapan, doa dan semoga-semoga yang tidak dapat ditulis namun letaknya beriringan dengan aksi nyata.

Barangkali didengar, segala bentuk perbaikan terhadap sarana dan prasarana, selalu menjadi hal yang dinantikan oleh seluruh penghuni FISIP, khususnya mahasiswa. (Bagus Kurniawan)

SELF SERVICE, SAMPAH DAN MAHASISWA

Bagaimana cara menyadarkan mahasiswa bahwa kebersihan lingkungan itu sangat diperlukan?

Mahasiswa merupakan “maha “dari segala “siswa” yang penuh tanggung jawab, kritis dalam berpikir dan bertindak. Namun, mengapa hal sepele seperti ini terus saja terulang? Bukan suatu hal yang besar namun pada akhirnya tetap berdampak pada diri sendiri. Self-service bukan berarti mengajarkan individualisme atau malah gaya kebarat-baratan. Hal ini seharusnya sudah tertanam sejak usia dini.

Kebersihan itu merupakan bagian yang tidak boleh lepas dari mahasiswa, bukan begitu? Sebagai calon penyongsong negeri, sikap dan sifat yang baik perlu ditanamkan. Melihat sampah dan bekas makanan yang bercecer di meja, bukankah hal tersebut akan membuat tidak nyaman? Atau malah hal itu biasa? Jawabannya tidak ada yang benar maupun salah, hanya masalah perspektif

Usaha mencintai lingkungan dan kebersihan sedari dini dirasa kurang berdampak pada diri—atau malah tidak tertanam pada diri?—hingga banyak maha dari segala siswa menjadi insan cendekia yang malah memperburuk lingkungannya. Memang hal ini tidak secara tiba-tiba berdampak pada diri sendiri, namun bagaimana orang lain?

apa tugas pelayan kebersihan jika self-service ada?

Itu pertanyaan keliru, tetapi seharusnya: bagaimana cara membantu sesama? Bukan, begitu? Sebagai mahasiswa, membantu orang merupakan keharusan. Mahasiswa ditempa untuk dapat berbakti pada masyarakat hingga ke unsur paling utama: sesama manusia.

Ini bukan masalah estetika, melainkan perilaku, sifat dan kebiasaan. Membersihkan limbah milik sendiri merupakan perilaku yang sangat berdampak positif pada orang lain. Dengan hanya menumpuk piring bekas makanan itu merupakan insiatif yang sudah siap diapresiasi. Tingkatan apresiasi akan bertambah ketika bersedia mengantarkan piring bekas makanan kepada penjual dan mengucapkan terima kasih. Tetapi, arahan ini bukan diperuntukkan untuk anak TK atau anak SD, bukan? Mahasiswa tentunya sudah tahu hal semacam ini.

Tak hanya itu, sampah adalah salah satu limbah yang dihasilkan manusia, bagaimana jika sampah berada di depan rumah? Lantai kamar? Atau bahkan tempat yang ingin didatangi untuk melepas penat, tetapi malah muncul di tempat itu? Apakah hal tersebut tidak mengusik? Siapa yang tidak menyukai tempat yang bersih dan nyaman?

Bagaimana fungsi tempat sampah yang setia berdiri di tempat? Bagaimana sampah yang menjadi makanan tempat sampah jarang diberi makan? Sampah berceceran di mana-mana tanpa ada kepedulian dari manusia di sekitarnya. Tidak ada sebuah kemungkinan sampah dapat berjalan sendiri dan masuk pada tempatnya.

Ini saatnya bagi mahasiswa—kita semua—mawas diri. Bagaimana semua yang telah dilakukan dapat berdampak pada diri sendiri dan orang lain serta lingkungan. Sampah berasal dari kita, jika kita tidak memperlakukannya dengan benar, semua akan kembali pada kita. Kesadaran itulah yang merupakan langkah kecil menuju calon cendekia penerus bangsa.

Teks : Elham (Traipenmadas 21)

Editor : Tim Redaksi Prima 

MENYOAL KEGIATAN BEM FISIP UNEJ YANG TERLIHAT GEMERLAP, NYATANYA PENUH SISI GELAP

Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) merupakan organisasi mahasiswa yang seksi dipandang mata. Begitupun yang terjadi di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jember (FISIP UNEJ). BEM FISIP UNEJ yang dinahkodai oleh Amiq Iqmal ini sukses menyelenggarakan beberapa kegiatan seperti pelatihan, seminar, Sharing Session dan Volunteer. Hal tersebut memantik ribuan sorotan mata untuk melihat gemerlap kesuksesan setiap kegiatan yang diselenggerakan oleh BEM FISIP UNEJ. Hujan pujian pun dilontarkan oleh berbagai kalangan kepada BEM. Namun, dibalik gemerlapnya kesuksesan tersebut, apakah BEM FISIP telah menjalankan tugas dengan semestinya?

Menilik kegiatan BEM Sabtu, 5 November 2022 tepatnya kegiatan dibawah naungan Kementrian Pergerakan dan Pemberdayaan Gender bertemakan “Sharing Session 4.0 : Speak Your Mind, Even Your Voice Shakes” terdapat cela dalam penyelenggaraannya. Acara tersebut memang terkesan bagus dan responsif terhadap isu terkini, akan tetapi peserta yang sedikit menjadikan acara BEM tersebut antara ada dan tiada alias percuma. Kepada awak redaksi PRIMA, salah satu peserta berinisial ARH mahasiswi Kesejahteraan Sosial mengatakan, peserta kegiatan Sharing Session 4.0 begitu minim. “Saya mengikuti kegiatan yang diadakan BEM sabtu lalu, tapi saya sangat menyayangkan melihat angka partisipan yang tidak menyentuh angka 30 padahal mahasiswa fisip itu banyak sekali”, tukas ARH.

Tidak hanya itu, awak redaksi PRIMA juga menemui mahasiswa lain yang pernah mengikuti kegiatan BEM yaitu kegiatan Pelatihan Proposal PKM pada salah satu rangkaian kegiatan Loka Karya 2.0. Mahasiswa berinisial DA dari jurusan Ilmu Hubungan Internasional mengatakan “ Loka Karya ini termasuk ide bagus yang diinisiasi BEM, akan tetapi sosialisasi yang minim dan terkesan dadakan menjadikan mahasiswa yang mengikuti pun sangat minim.” DA juga mengatakan seiring berjalannya kegiatan peserta PKM pada Loka Karya mengalami penurunan. “ Peserta yang mendaftar terdapat dua puluhan, yang hadir 14 peserta dan mirisnya dipenutupan tersisa 5 peserta saja” Tambahnya.  Ini menunjukkan bahwa kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh BEM tidak Well-Prepared dan cenderung dadakan. Seolah proker yang mereka rumuskan di awal kepengurusan itu hanya sebuah bentuk gemerlap cahaya bintang, namun tak bisa menyinari malam yang gelap. Banyak, namun tak berisi.

Dari ungkapan dua narasumber tersebut memang terlihat tidak ada masalah yang benar-benar serius. Namun, ketika dicermati ulang periode BEM sekarang memiliki anggota puluhan yang hampir mendekati seratus. Dimana anggota puluhan tersebut? apakah sedang mengerjakan proker lain? Apakah terdapat koisidental kegiatan? Hal tersebut membuktikan bahwasannya BEM saat ini telah menciderai tubuhnya sendiri. “Badan Gemuk” BEM yang merekrut puluhan anggota dari berbagai jurusan bagai patung atau terkesan diam. Bukan serangan dari luar yang yang menjadi ancaman, melainkan kebobrokan internal yang menghancurkan dirinya sendiri.

Ketika awak redaksi PRIMA menanyakan mengenai kegiatan yang kopong pada periode ini, Amiq Iqmal dengan santai menanggapi hal tersebut. “Dari BEM tidak mentargetkan partisipant yang banyak, namun yang kami targetkan adalah bagiamana kajian-kajian kami menjadi wacana kedepan dapat diketahui minimal satu atau dua warga FISIP sekaligus sebagai referensi pada periode selanjutnya”. Tuturnya. “Terkait loka karya itu program unggulan kami, yang kami targetkan adalah bagimana ada wadah yang menjadi inkubator baru dengan mentoring dan lain sebagainya, ada beberapa yang patut dievaluasi ketika ditemukan BEM maupun panitia itu istilahnya promosinya kurang dan lain-lainya kurang, kami mencoba dalam masa transisi ini antara online ke offline minimal ada inkubator karya baru”. Tambahnya.

Kemudian terkait dengan “Badan Gemuk”  BEM periode sekarang antara efektif atau tidak, Amiq mengatakan “ Kami diperiode ini berusaha membentuk kepengurusan yang inklusif, yang kami artikan bahwa kami berusaha menyentuh setiap lini” Tuturnya. Ia menanggapi Tidak hadirnya anggota BEM pada saat acara berlangsung tidak menjadi ukuran pokok. “Nah adapun apabila kegiatan tidak diikuti oleh pengurus BEM yang lain itu karena dari pengurus BEM sendiri ada kesibukan yang lain, akan tetapi ketika Pre-Event dan After Event teman-teman anggota BEM turut hadir dan saling memberikan pendapat satu sama lain” Lanjutnya. 

(TIM REDAKSI PRIMA)

 

Menolak Lupa Black Story 30 September 1965

Berdasarkan catatan sejarah bangsa Indonesia, pada tanggal 30 september menjadi sejarah kelam bagi bangsa Indonesia.Pada waktu itu terjadi peristiwa pemberontakan G30S PKI yang mengincar perwira tinggi TNI AD Indonesia sebagai salah satu tragedy nasional yang mengancam keutuhan NKRI. Peristiwa G30S PKI sampai sekarang menjadi persada sejarah negara sebagai “Black Story” yang sampai saat ini masih menyimpan misteri. siapakah yang sebenarnya bersalah dan siapakah yang menjadi mangsa serta menjadi kambing hitam yang hingga saat ini masih menjadi persoalan yang senantiasa diperdebatkan di media Indonesia. Peristiwa pemberontakan ini berlangsung selama dua hari mulai tanggal 30 September 1965 hingga 1 Oktober 1965.

Latar belakang peristiwa G30S PKI ini terjadi karena adanya persaingan politik. PKI adalah sebagai kekuatan politik merasa khawatir dengan kondisi kesehatan presiden Soekarno yang memburuk. Dimana kejadian tersebut bermula pada awal 1 Agustus 1965 presiden Soekarno tiba-tiba pingsan setelah berpidato, sehingga banyak kalangan yang mempunyai anggapan bahwa masa hidup Soekarno tidak akan lama lagi, yang kemudian memunculkan sebuah pertanyaan besar mengenai siapa yang pantas untuk menjadi pengganti presiden soekarno berikutnya, hal tersebut menjadikan persaingan yang sangat sengit terjadi di kalangan PKI dan TNI.

Namun, sebelum peristiwa G30S PKI ini terjadi banyak pihak memaklumi mengenai pergeseran pengaruh antara pihak TNI yang sangatlah bertentangan dengan aliran faham komunis (PKI) dan pergeseran ini terjadi semakin parah tatkala pada waktu itu Soekarno dikatakan lebih condong memihak golongan Komunis (PKI). (Scoot,2009). Kecondongan Soekarno terhadap komunis semakin jelas, dimana pada waktu itu soekarno secara lantang mengkritik bantuan-bantuan barat dan menyatakan bahwa Indonesia tidak akan jatuh tanpa bantuan-bantuan tersebut. Pendirian Soekarno telah menjadi duri dalam politik Indonesia dari masa ke masa sehingga menjadikan pihak Komunis dan Tentara semakin berkonflik.

Konflik semakin panas yang kemudian terjadi pemberontakan selama dua hari satu malam, yakni mulai tanggal 30 September sampai tanggal 1 Oktober tahun 1965 yang dimulai pukul 03.00 yang melakukan penculikan dan pembunuhan enam jendral yakni Letjen Ahmad Yani, Mayjen. R. Soeprapto, Mayjen Harjono, Mayjen. S. Parman, Brigjen D.I.  Panjaitan dan Brigjen Sutoyo dan satu perwira yakni Lettu Pierre Tendean. Dimana mayat-mayat mereka dibawa ke pangkalan udara halim dan baru diketahui setelah tiga hari di satu tempat yang dikenali sebagai lubang buaya.

Dari adanya peristiwa tersebut kita sebagai generasi penerus bangsa tidak boleh kemudian melupakannya begitu saja, namun dibalik semua itu para tentara nasional Indonesia telah berkerja keras untuk mempertahankan keutuhan NKRI sampai saat ini. (Nora Zilawati)

 

Referesnsi :

https://journal.unisza.edu.my/jonus/index.php/jonus/article/view/172/141

https://news.detik.com/berita/d-6314325/kronologi-g30s-pki-secara-singkat-awal-hingga-pasca-tragedi

Menilik Bagaimana Perploncoan Tetap Eksis dalam Kegiatan Pengenalan Kampus

Akhir-akhir ini media masa digemparkan dengan berbagai berita mengenai perploncoan oleh beberapa mahasiswa “senior” kepada mahasiswa baru dalam kegiatan pengenalan kampus atau sering dikenal sebagai ospek.

Beberapa reaksi beragam dari para pembaca juga banyak ditemukan di berbagai media sosial. Sebagian besar warga internet mengecam dan menyayangkan perilaku dan sikap para mahasiswa senior kepada mahasiswa baru. Namun, ditemukan pula beberapa komentar mendukung tindakan tersebut dengan beberapa alasan.

Dilansir dari situs PKKMB Universitas Jember, tujuan utama pengenalan kampus adalah memberikan pembekalan bagi mahasiswa baru dalam upaya adaptasi dalam mengenal lingkungan kampus—pendidikan maupun lingkungan sosial.

Namun, beberapa tindakan perploncoan terjadi di berbagai perguruan tinggi di Indonesia sepatutnya tidak dilestarikan dalam kegiatan pengenalan kampus maupun kegiatan kampus apa pun. Berkedok mematangkan mental agar siap dalam menghadapi dunia kerja setelah usai masa pendidikan, para mahasiswa senior bertindak “seenak jidat” mereka tanpa memikirkan konsekuensinya.

Beberapa kasus yang diberitakan di berbagai media masa bahkan menyatakan bahwa perploncoan telah menelan korban jiwa. Tidakkah hal seperti ini berlebihan? Mengingat harapan para mahasiswa yang hanya ingin menempuh pendidikan sebagaimana harapan orang tua mereka, namun harus berakhir dengan nestapa.

Betapa bebalnya masa pengenalan kampus yang diharapkan dapat informatif, edukatif dan menyenangkan tanpa adanya sesuatu yang menghantui malah menjadi masa yang dianggap suram dan menakutkan. Ditambah fakta bahwa masih banyak mahasiswa baru yang menganggap kegiatan pengenalan kampus adalah waktu di mana mental mereka akan dibombardir dengan banyaknya tindakan yang tidak menyenangkan. Tentu saja mereka akan merasa takut dan bukannya antusias dalam menantikan kegiatan ini.

Bukan sesuatu yang baru perploncoan semacam ini dilakukan. Entah sejak kapan hal seperti ini dimulai, namun hampir di setiap jenjang pendidikan selalu ditemui kasus yang sama dengan intensitas yang berbeda. Harapan-harapan mahasiswa dan masyarakat pun mengenai perbaikan sistem pengenalan kampus tanpa praktik perploncoan banyak beterbangan.

Banyak anggapan bahwa perploncoan atau sekedar sikap intimidasi dari para mahasiswa senior tidak banyak memberikan pengaruh terhadap dunia kerja. Alih-alih memberikan manfaat, hal ini justru menimbulkan rasa dendam, tidak suka hingga kebencian dari mahasiswa baru yang berpotensi memiliki kelanjutan di masa berikutnya.

Fakta yang mungkin harus diketahui oleh setiap orang, terutama mahasiswa bahwa setiap manusia memiliki mental yang berbeda-beda dengan riwayat pembangun dan sifat yang berbeda-beda juga. Menyamaratakan dan membuat setiap mahasiswa baru memiliki mental sama agaknya adalah tindakan yang keliru.

Patut diketahui pula bahwa setiap orang memiliki kesiapan dan manajemen emosi dalam mentalnya yang berbeda-beda ketika menghadapi suatu masalah ataupun tantangan. Hal itu yang patut dijadikan sebuah dasar dalam mengadakan kegiatan yang dapat membantu para mahasiswa baru dalam menghadapi masalah dan tantangan dalam dunia kerja di masa depan. Bukan melalui kekerasan verbal maupun non-verbal, menghadirkan alumni melalui berbagi informasi dan kisah-kisah inspiratif dalam menghadapi dunia kerja merupakan pilihan yang patut dihadirkan dalam daftar kegiatan pengenalan kampus.

Mengadakan kegiatan yang menyenangkan dan bermanfaat dapat menghadirkan kesan yang baik bagi mahasiswa baru. Kenangan dan kisah seru yang terkenang dari masa pengenalan kampus akan menjadi suatu yang selalu mereka rindukan. Hal seperti ini yang patut di harapkan oleh semua masyarakat, terutama mahasiswa di seluruh penjuru negeri ini. (Elham)

Mahasiswa Kuliah di Lantai : UKT Elit, Fasilitas Sulit

Pada tanggal 2 September 2022 jam 6.30  dalam kelas mata kuliah Praktik Advokasi Sosial yang diampu dosen Pak Lukman Wijaya Baratha para mahasiswa Sosiologi FISIP UNEJ angkatan 2020 kekurangan kursi tempat duduk saat kuliah berlangsung. Ruangan yang dipakai berkapasitas terbatas dan berfasilitas kurang memadai. Kondisi itu terjadi karena ada 2 kelas pada jam yang sama, sehingga terlihat bahwa tatanan jadwal mata kuliah mahasiswa yang dirancang tidak terorganisir dengan baik. Karena hal tersebut menjadikan sekitar sembilan mahasiswa sebagian duduk di bawah untuk tetap mengikuti perkuliahan hingga selesai. Hal tersebut tentu berpengaruh besar untuk menunjang keefektifan proses perkuliahan dan suasana kelas yang nyaman.

Tentu saja permasalahan itu menjadi sorotan mahasiswa,  hal ini juga diramaikan di akun instagam maba unej dan tiktok HIMASOS dengan jumlah 17 ribu lebih viewers. “Sebagai maba aku bingung dengan fasilitas FISIP di UNEJ, padahal UKT dan SPI juga besar, tapi kenapa fasilitas tidak ada perubahan, uangnya kemana?” dari akun @nnmooo_ di tiktok HIMASOS. Hingga saat ini, material kursi yang dipakai di FISIP masih berbahan kayu. Hal ini tentu menjadi perbandingan yang jauh dengan perkembangan kelengkapan fasilitas di fakultas lain. Kondisi tersebut dikomentari @ar.nolll di Instagram maba unej dengan “Kursi jaman kerajaan Singosari”.

Tidak hanya itu, keterbatasan fasilitas lain di FISIP UNEJ juga menjadi sorotan. Seperti fasilitas sinyal dan kecepatan WIFI hingga kebersihan fasilitas di FISP yang dinilai kurang.

Pembagian dan ketersediaan kelas juga menjadi hal yang meresahkan. “Tentu sangat kecewa, karena fasilitas yang memadai sangat berpengaruh terhadap kualitas belajar mahasiswa” ucap Nauval dari Angkatan 2021.

Hingga saat ini permasalahan fasilitas dan jadwal yang bertabrakan tidak menemukan solusi yang tepat. Setiap pertemuan berlangsung demikian karena jadwal yang tidak sinkron dalam situasi kelas yang bahkan satu saja dirasa terbatas. Bahkan beberapa dosen mengajar dua kelas dalam waktu yang sama. Melihat kondisi saat ini yang sudah menyelenggarakan perkuliahan secara luring, tentu hal tersebut tidak memungkinkan dosen mengajar dua kelas sekaligus dalam satu waktu. Apalagi apabila mata kuliah yang berlangsung di antara keduanya berbeda. Hal tersebut tentu membuat mahasiswa merasakan bahwa penyelenggaraan perkuliahan secara luring tidak siap untuk dilakukan oleh pihak fakultas. Itu menjadi hal penting dan perlu didukung oleh ketersediaan fasilitas yang lengkap. Oleh karena itu ketersediaan fasilitas mahasiswa sangat perlu dilakukan peningkatan dan perkembangan secara berkal di Universitas Jember, khususnya Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. (Adiba)

Batasan Orang Tua Kepada Anaknya

Di tulisan ini saya sebagai penulis akan membahas hal yang mungkin banyak di pikirkan atau atau masalah yang sering di rasakan oleh remaja. Tulisan ini mungkin  banyak menuai pro kontra di antara pembaca, namun saya akan tetap menuliskannya. Opini yang akan saya sampaikan adalah mengenai batas-batasan remaja yang diberikan orang tua. Saya berharap pembaca dapat mengerti dan mungkin beberapa pembaca ada yang merasakan hal yang sama seperti yang aku tuliskan.

   Sebagai remaja, di umur ini kita merasa bahwa kita dapat melakukan semua hal yang kita suka. Hal-hal terserbut tidak semua dapat berdampak positif, pastinya akan ada yang berdampak negatif. Kebebasan itu dapat membuat kita melakukan atau terjerumus ke hal hal yang negatif seperti narkoba, prostitusi dan lain-lain. Salah satu cara untuk menanggulangi hal tersebut adalah peraturan atau batasan-batasan yang di berikan oleh orang tua, seperti tidak boleh pergi hingga larut malam, tidak keluar rumah tanpa alasan yang jelas, dan lainnya.

   Seringkali batasan-batasan tersebut terasa menjadi beban bagi kita semua. Sebenarnya kita tahu bahwa batasan-batasan tersebut diberikan oleh orang tua kita untuk anak-anaknya agar mereka hidup dengan baik dan sesuai dengan peraturan. Kita sebagai anak sering merasa bahwa aturan atau batasan tersebut membuat kita berpikir bahwa orang tua kita tidak mempercayai kita. Sebenarnya jika kita liat dari dua perspektif orang tua dan anak, hal ini memang harus di diskusikan oleh kedua pihak,karena memang kedua pihak tidak ada yang salah.

   Kesalahan tersebut akan timbul jika orang tua membatasi hal-hal yang penting di hidup kita. Contohnya cita-cita anaknya. Sebagai seorang individu yang memiliki hak untuk menentukan pilihan hidup, kita dapat membela cita-cita yang ingin kita capai dan meyakinkan orang tua. Pertanyaannya adalah salah kah kita menolak batasan orang tua kita atas cita-cita kita? Tentu saja tidak. Kita semua harus dan wajib memilih cita-cita kita sendiri. Masa depan kita adalah milik kita bukan orang lain atau pun orang tua kita. Aku dan semua pembaca harus membuktikan kepada orang tua kita bahwa cita-cita yang ingin kita capai itu akan membuahkan hasil yang baik di masa depan. Bagaimana caranya? Dengan bekerja keras untuk menggapai cita-cita tersebut.

   Batasan-batasan ini jika diterapkan dengan benar memang membawa dampak positif namun batasan ini membuat banyak anak melakukan hal-hal yang ekstrem. Contohnya seperti siswa SMP berinisial DRP di Kalimantan Utara yang memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan gantung diri. DRP diduga melakukan hal tersebut lantaran dia dilarang untuk terus bermain game oleh orang tuany. Kasus lainnya adalah siswa SMP berinisial RG asal Kecamatan Sambong, ditemukan meninggal di kamarnya karena gantung diri. RG diketahui memutuskan mengakhiri hidupnya lantaran cintanya tidak di restui oleh orang tuanya. Kasus-kasus seperti diatas lah yang mengakibatkan batasan-batasan ini terlihat hanya mempunyai dampak negatif.

   Apa yang harus kita lakukan untuk melepas diri dari batasan-batasan ini? Kita tidak perlu lepas dari batasan-batasan ini. Selama kita tahu dan yakin bahwa batasan-batasan ini diberikan untuk melindungi dan menjaga diri kita. Kita juga wajib menunjukan kepada orang tua kita bahwa batasan ini mampu membantu kita menjadi orang yang benar jika batasan itu merupakan hal yang baik untuk kita. Bagamaina cara kita mengetahui bahwa batasan atau peraturan itu baik untuk diri kita? Pasti kita akan tahu. Lihatlah lebih dalam kepada diri kalian dan kalian akan mendapatkan jawabannya.(Rayhan)

Artikel Hasil Mini Riset Mahasiswa

Libur semester genap telah usai, liburan berdurasi satu bulan lamanya ini banyak dimanfaatkan  Mahasiswa untuk memanfaatkan waktu luang diluar aktivitas akademik, entah untuk melakukan hobi maupun mengerjakan hal yang dapat mendukung pengembangan diri. Sebagai langkah dalam mencari tahu apa saja yang dilakukan mahasiswa pada liburan kali ini, kami anggota Biro Penelitian dan Pengembangan LPM PRIMA mengadakan mini riset guna mengumpulkan respon  beberapa mahasiswa selama menjalani masa libur semester genap yang terhitung cukup lama ini.

Berbekal respon baik dan antusiasme yang disampaikan mahasiswa melalui mini riset dengan menyebarkan formulir untuk mengetahui bagaimana para mahasiswa melewati libur semester genap kali ini menunjukkan bahwa adanya beberapa perbedaan dari kepuasaan yang dirasakan mahasiswa selama menjalani liburannya. Responden yang antusias dan senang menjalani masa liburnya rata-rata banyak mengerjakan hal-hal menyenangkan yang termasuk dalam hobinya, maupun hal menarik yang menguntungkan dan dapat berguna bagi dirinya, sehingga mahasiswa merasa senang dan enjoy dalam menjalani liburannya. Beberapa kegiatan yang mereka lakukan ini juga dapat menjadi rujukan untuk dikerjakan selama masa liburan adalah ber-volunteer, mengikuti magang, kepanitiaan, meningkatkan self improvement secara mandiri, maupun hanya menghabiskan waktu untuk menghibur diri dengan membaca novel, marathon menonton series drama, atau hal lainnya. Berdasarkan jawaban para responden, mereka mengaku bahwa perubahan mood saat liburan mempengaruhi aktifitas yang mereka lakukan, sehingga untuk menikmati masa libur mereka berusaha meningkatkan mood dengan melakukan hal-hal yang disukai.

Sebaliknya, beberapa responden berkomentar bosan dan tidak terlalu menikmati libur semester yang ada diakibatkan karena terlalu lamanya masa liburan. Rata-rata mereka hanya bermalas-malasan atau terpaksa melakukan hal-hal produktif atas perintah sehingga libur semester yang dijalani karena terasa suntuk dan membosankan. Mereka mengaku bingung dan terbatas untuk melakukan sesuatu yang menarik dan produktif saat liburan, terlebih dengan durasi yang cukup lama.

Kesimpulan dari beberapa respon mahasiswa yang diberikan menunjukkan bahwa mahasiswa lebih banyak yang senang mendapat durasi jangka libur yang lama. Hal ini menurut mereka dapat menjadi masa dimana selain untuk membebaskan diri dari serentetan kewajiban akademik kuliah, juga sebagai langkah untuk fokus meningkatkan kemampuan diri secara mandiri. Disisi lain mereka yang merasa suntuk dan bosan memiliki alasan utama bingung dan terbatasnya kegiatan yang hendak mereka lakukan, ini bisa jadi dikarenakan mereka masih belum mengenal diri mereka sendiri, seperti apa yang mereka sukai dan tidak serta hal-hal positif apa yang dapat dikerjakan selama liburan semester.

Jordan Peele, Sutradara Film Horor Terbaik Melalui Film Khasnya Get Out (2017), Us (2019) dan Nope (2022)

Oleh: Elham Aprilian

Traipenmadas 2021

Jordan Peele adalah sosok sutradara yang digadang-gadang sebagai sutradara film horor terbaik sepanjang masa. Peele sendiri dikenal sebagai komedian, aktor, penulis naskah hingga produser Amerika Serikat.

Namanya terkenal ketika film bergenre horor-thriller besutanya, Get Out, yang rilis pada 2017 lalu yang sangat menyita perhatian publik. Kemudian, namanya semakin melambung ketika film keduanya rilis, Us, pada 2019. Hingga 2022 ini, film terbarunya telah ditunggu oleh penikmat film horor di seluruh dunia. Film yang bertajuk Nope yang rilis pada bulan Agustus (jadwal Indonesia) ini.

Ciri khas yang dapat dilihat dari film-film produksinya adalah menggunakan aktor dan aktris berkulit hitam sebagai pemeran utama. Hal ini dianggap sebagai upaya eksistensi para warga kulit hitam yang diketahui telah banyak terjadi kasus diskriminatif dan rasisme di Amerika Serikat. Bukan hanya itu, Peele rajin memasukkan beberapa pesan tersirat penuh makna yang sering kali tidak disadari oleh para penonton.

Peele sebagai sutradara berkulit hitam, ingin memberikan tempat yang pantas bagi orang-orang kulit hitam melalui karya-karyanya. Hal ini jelas diperlihatkan oleh Peele melalui film perdananya dengan tema rasisme yang kental dan tajam, Get Out.

Secara garis besar, Get Out mengisahkan seorang pria kulit hitam, Chris Washington (diperankan oleh Daniel Kaluuya), dengan seorang wanita kulit putih, Rose Armitage (diperankan Allison Willimas).

Kisah ini dimulai ketika Rose mengajak Chris bertemu dengan keluarganya dalam pesta keluarga yang tinggal di pinggiran kota. Acara itu diketahui selalu diselenggarakan di setiap tahunnya. Namun, beberapa kejanggalan yang dirasakan Chris ketika ia berada di rumah Rose hingga membuatnya sadar bahwa ada sesuatu yang salah sedang terjadi. Beberapa orang yang berkulit hitam dalam acara itu yang ia temui tampak seperti orang aneh. Hingga Chris akhirnya menyadari adanya bahaya yang mengancam hidupnya dan ia harus melarikan diri.

Dalam film ini, Jordan Peele mengangkat isu-isu perbudakan orang-orang kulit hitam pada zaman modern. Pasalnya, Chris dan orang kulit hitam lainnya di rumah itu dijadikan sebagai komoditi oleh keluarga Rose untuk kepentingan-kepentingan khusus mereka.

Setelah sukses dengan film pertamanya serta mendapatkan penghargaan Oscars pada 2018 dalam kategori Naskah Skenario Orisinil Terbaik dalam Academy Awards, Jordan Peele mencoba peruntungan di film keduanya yang ia beri tajuk “Us”. Keberhasilan film keduanya ini juga membawa Peele sebagai sutradara film horor yang patut diperhitungkan.

Dalam Us, para pemeran utama adalah para aktor dan aktris yang sebelumnya sama-sama bermain dalam film Black Panther (2018), Lupito Nyong’o dan Winston Duke. Film ini mengisahkan teror yang sadis dan mengerikan tiada hentinya dari seseorang yang mirip dengan “kita”. Dari film ini, para penonton juga mendapat pesan yang cukup tegas di mana pemerintah harus memiliki tanggung jawab penuh dalam proyek yang mereka lakukan.

Ulasan positif dari para penonton dan para kritikus film membuat Jordan Peele semakin terkenal. Ditambah, film ketiganya yang telah rilis pada bulan Juli lalu disambut meriah oleh para penikmat film di seluruh dunia. Nope, film tentang fenomena misterius yang mempengaruhi perilaku hewan dan manusia dengan sentuhan horor-fiksi khas Jordan Peele.

Tentunya film-film seperti ini dapat menjadi referensi para sineas lain dalam memproduksi film-film horor mereka. Alih-alih mengedepankan unsur seram semata tanpa memberikan pesan penuh makna, menjadikan film lebih berkesan, membekas dan menantang untuk diminati adalah salah satu harapan para penikmat film.

Persaingan Film Horor Indonesia Dalam Kancah Internasional

 Oleh: Elham Aprilian

Traipenmadas 2021

Genre film horor masih menjadi pusat perhatian sebagian masyarakat Indonesia. Tak pelak para sineas berlomba-lomba membuat sebuah film yang dapat disukai masyarakat. Perbanyak rombak sana-sini adalah strategi para sineas untuk menyesuaikan cerita dengan perkembangan zaman dan perfilman horor di dunia yang tak melulu soal hantu seram yang ditonjolkan dan kesurupan yang membosankan. Tujuannya agar tak hanya diterima dikalangan masyarakat Indonesia, namun tentunya dunia.

Dengan mengangkat budaya Indonesia yang mempunyai ciri khas, apalagi mitos-mitos yang melegenda di berbagai daerah yang kental akan adat istiadat yang menjadi bagian kehidupan masyarakat, menjadikan film horor Indonesia cukup mampu bersaing.

Tentunya di mata dunia, mitos-mitos masyarakat tradisional dianggap sebagai hal yang unik dan sangat menarik. Budaya yang kental dapat membuat sebuah cerita semakin berwarna ditambah dengan menonjolkan sisi mistis yang menakutkan.

Tak hanya budaya, sama halnya dengan perkembangan perfilman horor dunia saat ini, sentuhan psikologis atau permainan pikiran tak luput ditambahkan sebagai pemanis. Sentuhan itulah yang telah memberikan kesan mengerikan dari pada hanya kekagetan semata.

Kini, seberapa seram sang hantu yang disajikan sudah tidak menjadikan patokan sebuah film agar dapat menghantui penonton di sepanjang pemutaran film. Sebagai gantinya, para sineas dapat menitikberatkan metode psikologis supaya dapat menyuguhkan fenemona mengerikan yang memberikan efek yang tak terduga dan berkesan, serta menancap dipikiran para penonton setelah menontonnya.

Sentuhan psikologis yang dapat mempermanis cerita menjadi tantangan yang penting untuk para sineas. Mereka harus membuat metode yang kuat untuk film mereka. Alih-alih menonjolkan hantu sebagai “bintang” utama, para sineas dapat lebih menonjolkan bagaimana peran utama menyelesaikan masalahnya dengan akhir yang sulit ditebak.

Mengingat perfilman horor 90-an yang mayoritas dibintangi oleh Suzanna, banyak menyuguhkan adegan “berperang” antara hantu dengan manusia. Tak hanya itu, budaya dan mitos-mitos juga turut dimasukkan dalam cerita dan hasilnya pun cukup diminati masyarakat Indonesia pada masa itu.

Namun, berbeda tahun sesudah zaman Suzanna atau tahun antara 2000-2010. Kebanyakan film horor lebih identik dengan adegan vulgar dan cerita yang monoton. Tak hanya itu, hantu-hantu yang disuguhkan pun hanya itu-itu saja, seperti halnya kuntilanak yang hampir ada di setiap film horor Indonesia pada zaman itu.

Sekarang pun para sineas muda mulai berlomba-lomba me-remake film-film jadul menjadi lebih modern. Contohnya Pengabdi Setan yang sebelumnya sudah diproduksi di tahun 90-an kemudian di remake oleh Joko Anwar. Hasilnya pun sangat memuaskan. Masyarakat sangat tertarik walaupun cerita telah diproduksi sebelumnya. Joko Anwar mengemas dengan sentuhan yang modern.

Selain itu, Perempuan Tanah Jahanam besutannya juga sudah wara-wiri di beberapa bioskop dan festival film di luar negeri. Dengan judul internasional Impetigore, masyarakat asing sangat menyukai jalan cerita yang segar, klenik dan tidak melulu soal hantu.

Menurut mereka sebagai masyarakat barat yang minim akan budaya, film yang menambahkan unsur budaya tradisional menjadi daya tarik yang tidak bisa dilewatkan. Hal yang serupa dengan film Bollywood atau India yang kental akan budayanya dan sudah dikenal dunia. Film Indonesia patut mengangkat unsur budaya dan menambahkan sentuhan modern di dalamnya.

Kini, film horor Indonesia sudah mulai dikenal karena mengangkat budaya Tanah Air yang dianggap unik. Unsur-unsur budaya yang dekat dengan masyarakat adalah aset yang dapat dikembangkan dan dipertimbangkan ke mata dunia. Seperti kisah-kisah mitos yang tumbuh di pedesaan yang berkaitan erat dengan adat istiadat dam tatanan sosial masyarakat tradisional. Menjadikan perfilman horor Indonesia dapat berjejer dengan film-film produksi barat.

 

Rumah Sekap Rapunzel

Banyak yang bilang, kampus merupakan miniatur negara. Terdapat beberapa Lembaga seperti eksekutif, legislatif dan yudikatif. Jika di FISIP Lembaga eksekutif adalah BEM, HMJ dan UKM. Sedangkan legislatif adalah BPM dan dekanat adalah presidennya. Pemerintah mempunyai tugas untuk memberikan dan melakukan pemberdayaan pada rakyatnya. Sama dengan mahasiswa, perlunya sebuah pemberdayaan melalui pembangunan kesejahteraan sosial untuk meningkatkan kualitas mahasiswa sendiri guna tercapainya kata ‘sejahtera’.

Pembangunan kesejahteraan sosial adalah usaha yang terencana dan melembaga yang meliputi berbagai bentuk intervensi sosial dalam pelayanan sosial untuk memenuhi kebutuhan manusia, mencegah dan mengatasi masalah sosial, serta memperkuat institusi-institusi sosial (Suharto, 1997). Tujuan pembangunan kesejahteraan sosial adalah untuk meningkatkan kualitas hidup manusia secara menyeluruh. Pada ontologi aliran dualisme, manusia dapat dikatakan sejahtera apabila terdapat keseimbangan. Jika melihat definisi tersebut maka untuk meningkatkan kualitas mahasiswa perlu melakukan pemberdayaan yang seimbang. Pemberdayaan yang seimbang bisa dilakukan dengan cara memberikan koginisi otak untuk meningkatkan skill mahasiswa dan terpenuhinya fasilitas-fasilitas pendukung proses belajar. Fasilitas pendukung haruslah nyaman, aman, dan bersih.  

Banyak hal yang perlu dibenahi menyoal infrastruktur. Namun, melihat kondisi tersebut, apakah mereka tidak melihat sekitar mereka terlebih dahulu? Fakultas yang sehari-harinya kita tempati menjadi ruang belajar kita di kampus. Kebanyakan mahasiswa baru membayangkan kuliah dengan kursi putih serta meja sambung di depannya, gedung bertingkat dan masjid yang melintang serta area taman yang begitu nyaman sebagai tempat bersantai hingga berdiskusi bersama rekan mahasiswa lain. Membayangkan itu saja, ingin sekali menyegerakan memasuki bangku kuliah. Namun, setelah memasuki fakultas betapa mirisnya dan betapa kagetnya mahasiswa baru melihat kondisi yang sebenarnya. Ruang kelas sempit dengan kursi rotan Panjang dan diisi 3-4 orang dan pendingin ruangan yang rusak, taman yang penuh daun dan bangunan kuno, lapangan olahraga yang bolong dan tidak terawat. Apakah sebenarnya fakultas punya keinginan menjadikan tempat belajar seperti rumah penyihir yang digunakan untuk menyekap Rapunzel?

Mahasiswa baru tentunya membayangkan kuliah dengan kursi putih serta meja sambung di depannya, gedung bertingkat dan masjid yang melintang serta area taman yang begitu nyaman sebagai tempat bersantai hingga berdiskusi bersama rekan mahasiswa lain. Membayangkan itu saja, ingin sekali menyegerakan memasuki bangku kuliah. Namun, setelah memasuki fakultas betapa mirisnya dan betapa kagetnya mahasiswa baru melihat kondisi yang sebenarnya. Ruang kelas sempit dengan kursi rotan Panjang dan diisi 3-4 orang dan pendingin ruangan yang rusak, taman yang penuh daun dan bangunan kuno, lapangan olahraga yang bolong dan tidak terawat. Apakah sebenarnya fakultas punya keinginan menjadikan tempat belajar seperti rumah penyihir yang digunakan untuk menyekap Rapunzel?

Jika melihat kondisi fakultas perhari ini sangat jauh dari kata sejahtera dan dirasa belum mampu menyokong kesejahteraan mahasiswa. Jika dianalogikan sebuah negara, fakultas yang kurang akan pelayanan infrastruktur seperti perumahan kumuh yang ada di pinggir bantaran sungai dengan penuh sampah berserakan. Sehingga, negara tersebut merupakan salah satu negara yang masih berkembang karena belum bisa memenuhi kesejahteraan masyarakatnya. Andai aku jadi pemimpin, aku tidak ingin buta akan lingkungan sekitar rakyatku. Aku harus memberikan sebuah pelayanan fasilitas yang memadai untuk kesejahteraan rakyat. Tidak hanya itu, aku tidak ingin rumah yang ditempati rakyat untuk menimba ilmu menjadi rumah yang tidak nyaman dan berbahaya jika ditempati. Aku ingin meningkatkan kualitas masyarakatku dengan didukung oleh fasilitas yang memadai sehingga mereka dapat menimba ilmu dan meningkatkan kualitas diri untuk mewujudkan tujuan negaraku. (Nadia Rifatul Karomah)

(LITERAKSI BEM FISIP X LPM PRIMA FISIP)

3 Alasan FISIP Jadi Fakultas Paling Memprihatinkan di UNEJ

Kehidupan kampus pada situasi yang mengarah ke endemi perlu dihidupkan kembali. Kalau mendengar cerita dari angkatan terdahulu, kampus sudah menjadi “Rumah Mahasiwa”, setelah dipikir-pikir saya sepakat dengan pernyataan itu, mengingat peran kampus yang sangat vital baik dalam menunjang pembelajaran di dalam kelas, maupun produktifitas mahasiswa di luar kelas. Sayangnya tak semua kampus maupun fakultas mampu memfasilitasi mahasiswa dengan kondisi yang nyaman.

Dari sekian fakultas yang ada di Universitas Jember, saya rasa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) dalam hal pemenuhan fasilitas, layak untuk mendapat penghargaan dan dinobatkan sebagai “Fakultas Paling Memprihatinkan se-UNEJ”. Harusnya memang Pak Iwan Taruna minimal mengagendakan satu malam penganugrahan-lah di puncak Dies Natalies UNEJ untuk itu. Ya, eman aja kalau nama besar FISIP punya kesempatan penuh mendobrak panggung kancah rektorat tidak diapresiasi.

Ajang pamer fasilitas kampus macam yang ada di tren TikTok yakni “University Check” beberapa waktu lalu, jikalau untuk mahasiswa FISIP saya sarankan untuk numpang aja deh ke fakultas-fakultas lain. Saya sarankan, bisa kok nebeng ke Fakultas Hukum (FH) yang sampingnya sudah ada Taman Edukasi Kebangsaan lengkap dengan Soekarno-Hatta Corner. Tampak apik nan ciamik gedung CDAST, rektorat, IsDB, atau apalah pokok jangan FISIP, titik!.

Memang pertarungan antar kampus itu idealnya bukan soal fasilitas, akan tetapi soal akademis-nya. Namun, tak dapat dielakkan lagi jikalau fasilitas yang fundamental ndak terpenuhi, ya mahasiswanya juga kasian bos!. Kita nggak perlu ngomong ndakik-ndakik lah, soal charging station atau keran air minum di berbagai titik fakultas, udah jangan kesana dulu. Gimana mau kesana, lha wong fasilitas-fasilitas yang fundamental aja masih belum layak kok. Untuk itulah, akan saya coba jelaskan beberapa alasan dari judul yang telah tertera di atas.

  1. Sarana olahraga

Ngomongin soal sarana olahraga, FISIP memang juaranya dalam memenuhi hak-hak mahasiswanya untuk tidak bisa berolahraga di dilingkungannya sendiri. Padahal lho rek, di FISIP kita tercinta ini ada Unit Kegiatan Mahasiswa Olahraga (UKM O) yang terdiri dari UKM Futsal, Badminton, Bulutangkis, serta Bola Basket yang pusat kegiatannya, ya harusnya ada di fakultas. Sialnya lapangan futsal yang ada kondisinya sungguh menggenaskan. Lantai lapangan sudah bolong-bolong ra karuan, cat pudar juga mengelupas, Bayangkan kalau mahasiswa bermain futsal di sana, dapat dipastikan jika memakai sepatu, sepatunya ya wes pasti ancur. Belum lagi perihal keranjang ring basket yang sudah nggak layak pakai. Lebih mengerikan lagi, net bola voli yang hanya tinggal 1 tiang, dan yang super aneh adalah lapangan bulutangkis yang entah dimana rimbanya.

  1. Taman Super Wi-Fi (TSW) Kawasan Taman Super Wi-Fi (TSW) yang berisi sejumlah tempat duduk lengkap dengan payungnya yang sangat mengagetkan ketika cabang-cabang kayu jatuh dari atas, duaaang!. Menariknya, TSW yang kata tengahnya “Super” nyatanya nggak super-super amat kok. Lha wong kekuatan sinyalnya aja ndak bisa menyeluruh di semua sudut TSW, ya mungkin hanya dibeberapa sudut saja yang terjangkau. 
  2. Kamar Mandi

Sejauh pengalaman saya menjelajahi kamar mandi yang ada di FISIP, memang secara kebersihan cukup baik lah, meski ndak semua. Mirisnya, sampai saat ini nggak ada pembeda gender. Lha nek diterusnse kan bisa bahaya, apalagi habis ini kayaknya bakal kuliah luring lagi. Wahhh, sungguh juara bukan FISIP-ku?. (Aulian Milki Toha Larobi)

(LITERAKSI BEM FISIP X LPM PRIMA FISIP)

 

Mahasiswa Opurtunis, Mengiyakan Segala Cara

Aku tahu betul apa yang kawan-kawan baca ini pada akhirnya hanya akan menjadi bacaan yang dilupakan, entah dalam hitung hari, minggu, bulan, atau sewaktu dihadapkan dengan situasi yang tidak mengenakkan. Tapi, saya rasa tidak ada cara terbaik selain tulisan singkat yang selalu ingin saya tulis daripada hanya bergumam kata antar kawan, baik yang dikenal atau tidak, yang sekiranya hanya bertahan sampai waktu perpisahan.

Tulisan ini sejatinya simpanan saya seorang, sebagai tulisan pelampiasan. Namun melihat banyaknya hal yang tidak saya senangi dan sepahami, saya putuskan untuk membagikannya kepada siapapun. Dengan tiada alasan selain hasrat melawan. Oleh karenanya kini tulisan ini ditujukan pada siapapun yang ingin membaca, bacalah, terkhusus pada kawan-kawan yang saya kenal atau tidak. Saya tuliskan nama karena bagi saya penulis harus dapat mempertanggung jawabkan tulisannya, menunjukkannya, meski harus memilih untuk melawan yang banyak dan kebisuan di udara.

Saya sering pandangi dan tentu bukan hal baru lagi menyoal banyak kawan memilih jalannya masing-masing. Ada yang mengabdikan diri pada satu hal dan ada pula yang lain. Tidaklah masalah, tidaklah merusak. Tapi ketika kawan mencampurkan semua hal menjadi satu, bahkan apa yang baik dan buruk menjadi tidak kentara antara perbedaan satu sama lain maka ini menjadi persoalan berbeda.

Banyak contoh jika dapat saya sebut sebagai dosa-dosa kawan, seperti:

  • Berkata menuntut perubahan, nyatanya aktif melindungi hal yang ingin dirubah.
  • Berkata sedia di awal, nyatanya meninggalkan ketika ada posisi yang lebih nyaman.
  • Berkata pelajar, tapi menanggalkan budayanya hanya karena proyek uang.
  • Berkata melawan ketidakadilan, nyatanya sukarela menjadi yang tertindas.
  • Berpendidikan sosial, parahnya mengiyakan segala cara hingga melupakan etika.

Apa yang beberapa kawan lakukan sejatinya penghinaan atas apa yang kita dan kawan perjuangkan. Atau mungkin sejatinya kawan tidak pernah memperjuangkan hal yang saya dan kawan lain perjuangkan selama ini?

Lantas untuk apa kawan memilih dan bersedia membayar mahal biaya pendidikan kampus, jika pada akhirnya kawan justru menjadi hal yang seharusnya dilawan dalam setiap pembahasan kuliah? Apakah hanya karena gelar? Tuntutan dunia kerja? Mencari jejaring? Jika kawan memang ingin menjadi oportunis kenapa tidak sekalian saja tanggalkan predikat pelajarmu dan menjadi oportunis sejati yang tidak mempertimbangkan satu dan dua hal. Boro-boro memikirkan persoalan bersama, kalau yang dipikirkan hanya soal diri sendiri.

Apakah mungkin ini sebab persoalan kampus? Atau justru masalah lain yang lebih besar? Mungkin, tapi tidaklah saya tahu pasti hal tersebut. Yang pasti masih ada kenyataan pahit dari persoalan kampus yang hanya akan membuat tulisan ini semakin panjang dan membosankan.

Banyak kawan berkata atau mungkin dapat berkata, saya memilih dan berlaku layaknya ini karena saya tercukupi. Memang benar. Saya tercukupi. Memang benar. Saya tercukupi. Saya menerima hal itu, tapi saya tidak menerima hal yang lain. Hanya karena persoalan tercukupi tidaknya maka kita dapat melunturkan bahkan meninggalkan budaya kita untuk berpikir dan mengkritisi banyak hal di dunia? Lantas budaya siapa lagi perihal itu, tugas siapa lagi itu, atau mungkin kita hanya perlu mengikuti kuatnya arus dan menerima apa yang dunia berikan tanpa usaha memikirkannya, apalagi untuk merubahnya.

Seperti kata Soe, lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan. Maka lebih baik memilih untuk menentang banyak hal, kampus, perkuliahannya, janjinya, bahkan kawanannya meski harus merasa terasing dari sekelilingnya.

Oleh    : Dimas Nugroho