Selamat Datang Di Gedung Rimbun Fakultasku

FATAMORGANA

Oleh: Rosiana Balqis

“Selamat datang di gedung rimbun fakultasku.”

Jangan ditanya fakultas apa? Nanti akan kubuat kalian tahu tanpa kuberi tahu. Gedung tua dengan mayoritas dindingnya berwarna orange kekuningan yang membuatnya tampak lebih bersinar dari sebuah bohlam pijar. Di sekitar halamannya banyak tumbuh pepohonan hijau yang menjuntai, bahkan kala hujan pun bingung mencari celah untuk jatuh ke tanahnya. Tersebar beberapa saung yang terbuat dari kayu dengan posisi melingkar biasa digunakan untuk beradu humor dengan sesama, meski terkadang banyak serangga kecil menggigit yang seolah-olah ingin turut bercengkrama dengan manusia. Entah, mungkin karena fakultasku terlalu bersih dan asri hingga banyak serangga pun berebut ingin menempatinya. Saat malam tiba, terlihat beberapa lampu taman yang menyala sehingga tak perlu takut jika datang untuk kuliah di malam hari.

Tidak seperti hutan belantara yang menakutkan, itulah mengapa fakultasku tetap indah meski dipandang di gelapnya rembulan malam. Tentu dapat dibayangkan bukan suasana di sana? “Jangan Iri!” Ini masih bagian depan yang kuceritakan, selanjutnya ayo ikut aku masuk ke dalamnya. Fakultasku terbagi dalam 8 program studi dan saat ini aku menginjak semester pertengahan di program studi yang bergelut dalam keilmuan bisnis dan apa pun tentang perusahaan. Tak hanya itu, aku bahkan mempelajari dasar administratif dan sedikit tentang sosial ketatanegaraan.

Pasti cerebrum kalian sedang bertanya-tanya ini fakultas apa. Jangan terburu-buru! Masih banyak clue yang akan kusampaikan. Fakultasku terkenal sangat memperhatikan kenyamanan penghuni di dalamnya, bahkan banyak sekali fasilitas dan ornamen yang mendukung kegiatan mahasiswa di dalamnya seperti lapangan basket di samping gedung yang selalu dirawat sehingga tampak selalu bersih dan baru, musholah kecil lengkap dengan lemari berisi mukenah, sarung, Al – Qur’an bahkan tempat wudhu yang luas dan tertutup sehingga mahasiswa tidak perlu mengantri dan tidak terganggu dengan aktivitas lain. Ruang-ruang yang memadai untuk tiap unit kegiatan mahasiswa, bahkan fakultasku menyediakan aula khusus untuk kegiatan seni dan olahraga.

Tidak seperti fakultas sebelah yang meletakkan musholah disamping ruang seni, bagaimana penghuninya bisa beribadah dengan khusyu’ jika saat sujud justru terngiang lagu dangdut. “Huft! Untung saja bukan fakultasku”. Tak heran jika di sini tidak ada fasilitas atau ornamen terbengkalai dan tidak penting, semua fasilitas fisik dapat dimanfaatkan dengan baik dan bijak. Apa aku sudah berhasil membuat kalian iri ? Oke, belum. Selanjutnya kita masuk ke ruang kelas. Setiap ruang kelas dalam program studiku memiliki bangku yang menyatu dengan mejanya, terdapat satu papan dan satu proyektor di dalamnya, tak hanya itu ruang kelas kami dilengkapi dengan AC dan penerangan yang baik sehingga saat perkuliahan tidak merasa ‘pengap’ dan mengantuk. Sayangnya, aku baru beberapa kali menempati kelas itu karena terhambat pandemi.

Konon fakultas sebelah masih menggunakan bangku panjang terbuat dari anyaman rotan yang alas duduknya sudah remuk. Jenaka sekali bukan? Pasti mereka sedang bercanda. Selain fasilitas fisik, fakultasku juga terkenal dengan pelayanan yang amat baik. Mengapa demikian? Karena fakultasku selalu berusaha untuk bisa beradaptasi dengan perkembangan zaman.

Di era digitalisasi saat ini, tentu perubahan kurikulum dan sistem pun semakin maju. Untuknya, perlu berbenah dalam mengubah sistem yang masih bersifat konvensional ke sistem yang modern agar tidak tertinggal. Masalah pengadministrasian di fakultasku entah perizinan kegiatan, persyaratan beasiswa hingga permohonan dana dapat diatasi dengan sekejap melalui sistem online, hal ini karena orang-orang di dalamnya sangat tanggap dan responsif terhadap kebutuhan mahasiswanya.

Aku iba, fakultas sebelah masih belum bisa menyamai fakultasku, katanya kemarin sempat ada mahasiswa yang gagal mendaftar beasiswa hanya karena belum selesai mengurus administrasi yang dipersulit dengan proses yang lama sehingga ia tertinggal. Setelah sepanjang kisah dari mahasiswa jelata ini, apakah cukup membuat kalian iri? Apakah kalian bisa menebak fakultas apa ini? Yaaa betul sekali !!!.

“Kringgg!! Kringgg!! Kringgg!!” (suara alarm berbunyi.) Ternyata aku baru bangun dari tidur dan mimpi indah semalam.

(LITERAKSI BEM FISIP X LPM PRIMA) 

Wings

Oleh : Farhan Surya Indarta

Hari ini cuaca cerah, matahari memancarkan sinar cahayanya yang begitu terang dan terik seakan tersenyum. Aku selalu bersemangat ketika bel sekolah berbunyi tanda pembelajaran sudah berakhir. Seperti biasanya aku pulang sekolah berjalan kaki menyusuri jalan sambil bersenandung dan mengamati orang-orang disekitar yang sedang melakukan aktivitasnya masing-masing. Memang lelah rasanya, tetapi langkah kakiku begitu ringan karena sudah terbiasa berjalan kaki sejuh 2 km setiap harinya.

......

“Assalamualaikum, ibu !” Panggilku bersemangat.

“Waalaikumsalam nak, bagaimana perasaanmu sekolah hari pertama setelah libur semester selama 2 minggu?” Tanya ibuku.

“Senang sekali bu, tadi ibu guru yang mengajarku sangat ramah sekali. Beliau begitu telaten mengajariku dan teman-teman lainnya yang kesulitan dalam memahami materi.” Ceritaku dengan penuh semangat.

“Alhamdulillah kalau kamu senang, yaudah sana makan siang dulu ibu tadi sudah masak tempe penyet kesukaanmu.” Suruh ibuku.

“Baik bu.” Jawabku sambil bergegas menuju meja makan.

Sore harinya setelah tidur siang aku minta izin ibu untuk pergi bermain bola di lapangan karena kemarin sudah janji dengan Joko, teman bermain di rumah yang sepantaran denganku tetapi beda sekolah.

“Bu, aku izin pergi main dulu ya?” tanyaku sambil memohon.

“Iya Dika, hati-hati ya. Ingat jangan pulang larut malam, jam 4 kamu sudah harus ada di rumah.” Jawab ibuku dengan nada yang agak tinggi

“Siap bu.”

Sebelum pergi ke lapangan aku terlebih dahulu ke rumah Joko yang tidak terlalu jauh dari rumahku.

“Assalamualaikum, Joko!” Seruku.

“Waalaikumsalam, eh nak Andika.” Jawab ibu joko.

“Iya, Jokonya ada bu?” Tanyaku kepada ibu Joko.

“Ada nak Dika, sebentar ibu panggilkan.”

“Joko.. Joko.. Joko! dicari nak Andika di depan” Panggil ibu Joko

“Iya bu.” Jawab Joko.

“Ayo Ko main bola di lapangan!” Ajakku kepada Joko

“Baiklah, sebentar aku mau ambil bola dulu ya.”

Aku dan Joko pun bergegas menuju lapangan. Setelah bermain bola cukup lama, aku dan Joko beristirahat sambil bersandar di bawah pohon besar yang berada di tepi lapangan sembari berbincang-bincang.

“Eh Dika, tidak terasa ya kita sekarang sudah kelas 5 SD.” Ujar Joko memulai perbincangan.

“Iya Ko, habis kelas 5 naik kelas 6 habis itu kita akan masuk SMP.” Jawabku sambil memejamkan mata dan menikmati hembusan angin yang sangat sejuk.

“Oh iya, rencana kamu nanti mau masuk SMP mana?” Tanya Joko.

“Sepertinya aku mau masuk SMP Wijaya, kamu tau sendiri kan Ko bagaimana kondisi perekonomian keluargaku.” Jawabku sambil menghela nafa panjang.

“Jangan gitu dong Dika, bagaimanapun keadaannya kita harus tetap bersyukur.” Jawab Joko memberi semangat.

“Iya Ko, bagaimanapun keadaannya aku sudah berjanji pada diriku sendiri kalau aku harus tetap sekolah sampai jenjang yang paling tinggi.” Jawabku sambil mengepalkan tangan dan mengangkatnya tinggi-tiggi.

“Nah gitu dong semangat.” Jawab Joko sambil tersenyum.

“Eh Ko, udah sore nih ayo pulang.” Ajakku sambil bergegas karena takut dimarahin ibu kalau pulangnya kesorean.

Sesampainya dirumah aku langsung mandi kemudian sholat ashar. Setelah selesai sholat aku bersama ibu menonton televisi di ruang tengah sambil menunggu ayah pulang kerja. Tak lama kemudian terdengar suara montor ayah.

“Assalamualaikum.”

“Waalaikumsalam.” Jawab ibu sambil membukakan pintu rumah.

“Andika dimana bu?” Tanya ayah kepada ibu.

“Ada di ruang tengah lagi nonton televisi” Jawab ibu sambil melepaskan jaket yang dipakai ayah.

Ayahku berprofesi sebagai tukang ojek, maka dari itu setiap hari beliau mengenakan jaket untuk melindungi tubuhnya yang tak lagi muda dari teriknya matahari dan guyuran air hujan.

“Andika!” Panggil ayah sambil menghampiriku di ruang tengah.

“Ayah!” Sautku sambil memeluk ayah erat-erat.

“Nak, jangan lama-lama ya nonton televisinya. Ingat, jangan lupa belajar yang rajin supaya apa yang kamu cita-citakan bisa terwujud.” Pesan ayahku.

“Siap komandan.” Jawabku sambil sikap hormat dan kemudian bergegas ke kamar untuk belajar.

Hari sudah semakin malam, aku mengakhiri belajarku dan bersiap untuk tidur. Sebelum aku tidur terlebih dahulu aku ke kamar mandi untuk menggosok gigi. Setiap kali aku mau ke kamar mandi aku selalu mendengar ayah batuk. Entah kenapa setiap malam tiba-tiba ayah sering sekali batuk, aku selalu bertanya-tanya dalam hati. Sampai akhirnya suatu ketika aku bertanya langsung kepada ibuku mengenai hal tersebut. Ibuku bilang kalau ayah hanya sakit batuk biasa saja dan akan reda kalau sudah minum obat dari warung. Tetapi aku merasa ada yang disembunyikan oleh ibuku.

.....

Karena aku sudah berjanji untuk menomersatukan pendidikan, kulalui hari-hari dengan senang hati. Hingga aku merasa memiliki sayap yang bisa membawaku kesana kemari dengan ringannya. Aku membayangkan kalau sayap yang kumiliki ini merupan perwujudan dari kedua orang tua yang selalu mendampingiku dan menjadi motivasi terbesarku untuk terus belajar agar bisa mencapai apapun yang aku cita-citakan.

“Andika Pratama, putra dari Bapak Sujono.”

Pembawa acara wisuda dengan lantangnya memanggil namaku. Tak terasa aku sudah purna dalam menempuh pendidikan selama 6 tahun di SD Utomo. Aku sangat senang  dapat lulus dengan nilai tertiggi. Senyum lebar terpancar pada wajah kedua orang tuaku yayangelihatky menaiki panggung untuk diberi penghargaan karena telah lulus dengan nilai tertinggi.

.....

Aku melanjutkan jenjang pendidikan sekolah menengah pertama di SMP Wijaya walapun sekolah ini bukan termasuk sekolah favorit. Aku masuk SMP Wijaya karena menyesuaikan kondisi perekonomian keluargaku yang bisa dibilang pas-pasan. Selain itu, sekolah ini tidak terlau jauh dari rumah sehingga aku tidak menghabiskan terlalu banyak waktu untuk berjalan kaki pulang ke rumah agar bisa segera membantu ibu berjualan di pasar.

Setelah beberapa bulan masuk sekolah, wali kelasku Ibu Sundarsih memberithukan bahwa akan ada seleksi untuk mengikuti lomba olimpiade matematika tingkat kabupaten mewakili sekolah. Berhubung aku sangat suka dengan pelajaran matematika, begitu mendengar informasi tersebut aku langsung mendaftar dan mengikuti seleksi. Sebelum mengikuti seleksi aku mempersiapkan diri dengan belajar dengan sungguh-sungguh. Seringkali ibu mendapatiku tertidur di meja belajar dengan kondisi buku yang masih terbuka dan pena yang masih dalam genggaman.

“Dika!” Panggil ibuku lirih sambil mengusap kepalaku pelan berusaha membangunkanku.

“Iya bu.” Jawabku sambil merentangkan kedua tangan dan menguap.

“Kalau memang sudah benar-benar mengantuk tidurlah di tempat tidur nak, ini juga sudah larut malam.” Suruh ibuku.

“Baik bu.” Jamwabku sambil membereskan buku

Tiba saatnya seleksi berlangsung, dengan ucapan basmalah aku mulai mengerjakan soal-soal seleksi. Seleksi berjalan dengan lancar, beberapa hari kemudian hasil seleksi diumumkan di papan pengumuman. Aku terkejut dan merasa senang sekali karena namaku berada diposisi nomor 1 dan dinyatakan lolos seleksi dan berhak mengikuti lomba olimpiade matematika tingkat kabupaten mewakili sekolah. Aku langsung memberitahu kabar baik ini kepada ayah dan ibu setelah pulang sekolah.

“Ayah ibu, Andika punya kabar baik.” Kataku memulai obrolan.

“Kabar baik apa nak?” jawab serentak ayah dan ibu yang terlihat penasaran karena sebelumnya aku tidak memberitahu mereka kalau aku mengikuti seleksi olimpiade matematika.

“Mau tau aja atau mau tau banget?” Jawabku meledek.

“Kabar apa sih nak, ibu jadi tambah penasaran.” Jawab ibu sambil saling pandang dengan ayah.

“Andika berhasil lolos seleksi untuk mengikuti lomba olimpiade matematika tingkat kabupaten.” Jawabku sambil memeluk kedua orang tuaku.

“Alhamdulillah, kamu hebat nak. Ayah doakan kamu bisa menang dalam lomba olimpiade matemtika yang nantinya akan kamu ikuti.”

“Ibu juga akan terus mendoakanmu nak.” Saut ibu berkaca-kaca

“Terimakah yah, bu atas doanya, Dika janji akan berusaha semaksimal mungkin untuk melakukan yang terbaik.”

.......

Aku berhasil menjadi juara 1 olimpiade matematika tingkat kabupaten berkat doa dari kedua orang tua dan juga usaha kerasku selam ini. Juara 1, 2, dan 3 olimpiade matematika tingkat kabupaten berhak untuk mengikuti olimpiade matematika tingkat provinsi. Aku sangat senang dan bersemangat menyambut olimpiade matematika tingkat provinsi yang akan berlangsung satu bulan lagi. Disamping mempersiapkan untuk mengikuti lomba olimpiade matematika tingkat provinsi aku juga tidak lupa dengan tugas-tugas sekolah yang diberikan oleh bapak ibu guru.

Aku benar-benar sudah berusaha semaksimal mungkin dan ku pasrahkan semuanya pada Allah SWT. Lagi-lagi alhamdulillah terucap, aku berhasil menjadi juara 1 lomba olimpiade matematika tingkat provinsi dan berhak mengikuti lomba olimpiade matematika tingkat nasional. Selama dua minggu aku dibimbing oleh Pak Sucipto selaku guru pengajar pelajaran matematika di sekolah untuk mempersiapkan mengikuti lomba. Selama bimbingan aku mendapatkan dispensasi untuk tidak mengikuti pelajaran dalam kelas selama dua minggu.

Saat lomba akan berlangsung aku benar-benar merasa sangat gugup dan kurang percaya diri. Pak Sucipto yang saat itu mendampingiku berusaha untuk menenangkanku.

“Andika jangan gugup ya, Pak Sucipto yakin kamu pasti bisa.”

“Iya pak, bismillah mudah-mudahan lombanya berjalan dengan lancar.”

“Aamiin.” Saut Pak Sucipto.

Lomba berakhir, aku dan Pak Sucipto cemas menunggu hasil lomba yang akan langsung diumumkan segera. Setelah 2 jam menunggu, akhirnya hasilnya diumumkan. Namaku disebut pertama kali dan dinobatkan sebagai pemenang lomba olimpiade matematika tingkat nasional dan mendapatkan beasiswa masuk SMA favorit. Ucapan hamdalah tak henti-hentinya ku ucapkan sambil memeluk Pak Sucipto yang menangis bangga kepadaku. Setelah acara berakhir aku diantar Pak Sucipto pulang ke rumah. Sesampainya di rumah entah kenapa raut wajah ibu terlihat sedih.

“Bu, ada apa?” Tanyaku penasaran.

“Ayah nak, ayah masuk rumah sakit.” Jawab ibu terbata-bata.

“Kok bisa bu? Sebenarnya ayah sakit apa?” Tanyaku semakin penasaran.

“Ayah sebenarnya sakit paru-paru.” Jawab ibu sambil meneteskan air mata.

“Jadi selama ini batuk yang dialami ayah itu sudah parah? Kenapa ibu baru cerita sekarang.” Sedikit kecewa.

“Maafin ibu nak, ibu merahasiakan ini karena biaya untuk berobat ayah itu mahal dan ibu takut kamu cemas.”

“Seharusnya ibu tidak perlu seperti itu.”

Aku dan ibu pergi ke rumah sakit untuk mengetahui kondisi ayah.

“Yah, bagaimana kondisi ayah sekarang?” Tanyaku sambil berkaca-kaca.

“Ayah baik-baik saja nak tidak usah khawatir.” Jawab ayah berusaha kuat dan baik-baik saja.

“Alhamdulillah, ayah sehat-sehat terus ya jangan sampai kecapean.”

“Iya nak.”

“Yah, bu sebenarnya aku mau memberitahukan sesuatu.”

“Ada apa nak?” Tanya ayah.

“Aku berhasil menang lomba olimpiade matematika tingkat nasional.” Jawabku sambil meneteskan air mata karena masih tidak menyangka.

“Alhamdulillah Ya Allah.” Ucap ibuku sambil sujud syukur.

“Ayah bangga nak padamu.” Sambil meneteskan air mata dan berusaha memelukku dengan kondisi yang masih lemas.

.....

Sungguh tak disangka aku bisa masuk SMA Bangsa yang merupakan slah satu sekolah favorit. Sekarang aku tidak perlu memikirkan lagi mengenai biaya sekolah, karena aku masuk sekolah favorit ini melalui beasiswa yang dIberikan saat aku berhasil menjadi juara pada lomba olimpiade matematika tingkat nasional.

Satu tahun telah ku lalui di SMA Bangsa, menginjak kelas 11 aku mencoba mendaftarkan diri untuk mengikuti OSIS (Organisasi Siswa Intra Sekolah). Setelah mengikuti berbagai tahapan seleksi, pada akhirnya aku terpilih untuk mengemban jabatan sebagai ketua OSIS. Disela-sela kesibukan sekolah dan juga kegiatan OSIS aku juga tidak lupa untuk membantu ibu berjualan di pasar. Dari hasil jualan inilah ibu bisa membayar biaya rumah sakit ayah yang masih dirawat. Aku juga memberikan sedikit tabunganku kepada ibu untuk tambahan membayar biaya rumah sakit ayah walaupun sedikit memaksa karena sebenarnya ibu tidak mau menerima uang pemberianku.

Aku juga menyempatkan menjenguk ayah ke rumah sakit beberapa kali ditengah-tengah kesibukanku disekolah.

“Yah, sudah waktunya makan siang ini Dika bawakan makanan kesukaan ayah.”

“Iya nak, terima kasih ya.” Jawab ayah sambil meraih sendok yang ku pegang.

“Biar Dika suapin aja yah.”

“Baik nak.”

“Ayah harus makan yang banyak ya, biar cepat sehat dan bisa kumpul bareng lagi di rumah.” Ucapku sambil menyuapi ayah.

“Ayah sudah sehat nak, kamu jangan cemas.” Saut ayah.

“Sebentar lagi Dika mau naik kelas 12, Dika mau nanti ayah sama ibu bisa menghadiri acara wisuda.”

“Iya nak, ayah janji pasti bisa cepat sembuh dan akan menghadiri acara wisuda bersama ibu.”

Satu periode masa jabatan sebagai ketua OSIS sudah berakhir. Ini adalah tahun terakhirku menempuh pendidikan di SMA Bangsa. Berbagai rangkaian ujian telah terlaksana dan terselesaikan, waktu wisudapun akan segera dilangsungkan.

Aku merasa senang karena tidak lama lagi akan diwisuda untuk yang ketiga kalinya setelah wisuda SD dan SMP. Namun, disisi lain aku juga merasa sedih karena kondisi ayah yang semakin hari semakin memburuk. Disini aku merasa salah satu dari sayapku terluka parah dan aku tidak bisa terbang jauh lagi.

Undangan wali murid untuk menghadiri acara wisuda telah dibagikan kepada setiap siswa. Sampai akhirnya tiba dimana akan dilangsungkannya wisuda ayah masih terbaring di rumah sakit. Walapun ayah sudah berjanji akan datang tapi aku memaklumi karena kondisi ayah yang tidak memungkinkan untuk bisa hadir dalam acara wisuda.

“Mutiara Citra Patmasari, putri dari Bapak Sugeng.”

“Wisudawan selanjutnya, Muhammad Faisal Malik, putra dari Bapak Maliki.”

Satu per satu nama siswa sudah dipanggil, tibalah giliran namaku dipanggil.

“Andika Pratama, putra dari Bapak Sujono.”

Aku pun berjalan menaiki panggung dengan raut wajah campur aduk, tersenyum tetapi juga ada rasa sedih karena ayah tidak bisa hadir dalam acara penting ini. Ketika menuruni panggung aku melihat ibu nampak sedang berbincang-bincang ditelepon sambil sesenggukan. Ku hampiri ibu dan bertanya.

“Kenapa bu?” Tanyaku panik.

“Ayahmu nak?” Jawab ibu sambil tak berhenti meneteskan air mata.

“Ayah kenapa bu?” Tanyanku semakin panik dan cemas.

“Barusan ibu mendapat telepon dari dokter kalau ayahmu sudah dinyatakan meninggal dunia.” Jawab ibu sambil gemetar

“Tidak mungkin bu, pasti ayah baik-baik saja kan? Ayah pasti segera sembuh kan bu? Pasti ibu salah dengar.” Sambil menangis.

“Tidak nak, dokter benar-benar mengatakan kalau ayahmu sudah meninggal dunia.”

“Ayah! Ayah!” teriakku sekencang-kencangnya

Aku dan ibu segera bergegas ke rumah sakit meninggalkan acara wisuda yang masih berlangsung. Sesampainya rumah sakit, ayah sudah terselimuti oleh kain kafan. Disitulah tangisan ibu dan tangisanku pecah sejadi-jadinya.

“Ayah bangun! Yah bangun!” Seruku sambil menggerak-gerakkan badan ayah.

“Sudah nak, ikhlaskan saja ayahmu. Doakan agar ayah mendapatkan tempat terbaik disisiNya.” Ibu mencoba menenangkanku sambil mengelus bahuku.

Kemudian jenazah ayah dibawa ke rumah menggunakan mobil ambulan rumah sakit. Sesampainya dirumah jenazah ayah disholatkan kemudian segera dimakamkan di TPU (Tempat Pemakaman Umum) terdekat.

Terhitung dua bulan ayah telah meninggalkanku dan ibu untuk selamanya. Masih terasa sulit untuk melepaskan ayah, tetapi aku percaya ini semua sudah menjadi suratan dari Sang Pencipta. Sayapku patah satu, yang dulunya aku bisa terbang kesana kemari sekarang untuk berjalan saja aku sempoyongan seperti tak punya tenaga. Aku benar-benar terpuruk dengan kepergian ayah.

Aku tidak mungkin membiarkan ibuku yang hampir menginjak kepala lima bekerja sendirian, aku putuskan untuk mencari pekerjaan dan mengubur sementara impianku yang ingin melanjutkan pendidikan lebih tinggi lagi di bangku perkuliahan. Lulusan SMA sepertiku mungkin nantinya tidak bisa mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang tinggi, tetapi setidaknya aku bisa sedikit meringankan beban ibuku.

Aku diterima kerja di toko kelontong, setiap harinya aku harus menjaga toko tersebut hingga larut malam. Sebelum aku berangkat bekerja, setiap habis subuh aku membantu ibu untuk menyiapkan barang dagangan yang akan dijual di pasar. Mungkin seharusnya upah yang aku terima menyesuaikan jam kerjaku, tetapi realitanya upahku tak sebanding dengan lamanya aku bekerja. Meskipun begitu aku tetatap bersyukur menerima apa yang telah Allah SWT berikan kepadaku.

Semakin hari keadaan perekonomian keluargaku semakin memburuk karena lilitan beberapa hutang untuk tambahan biaya rumah sakit bapak dulu. Suatu ketika saat aku berangkat bekerja, aku melihat sosok laki-laki yang sudah lanjut usia menjajakan koran di lampu merah. Aku memanggil laki-laki itu dengan tujuan untuk membeli korannya.

“Pak! Pak!” Teriakku sambil melambaikan tangan kepadanya.

Sosok laki-laki itu menoleh dan menghampiriku di tepi jalan.

“Iya nak, ada apa ya?” Tanya laki-laki itu.

“Saya mau beli koran bapak.” Sambil menyodorkan uang yang sengaja kulebihkan.

“Wohh iya, ini nak korannya. Nak, ini uangnya kelebihan.” Ujar laki-laki itu.

“Tidak apa-apa pak, anggap saja itu rezeki dari Allah SWT.” Jawabku sambil menolak pengembalian dari laki-laki itu.

“Makasih ya nak. Maaf sebelumnya, ini dengan nak siapa ya?” Tanya laki-laki itu sambil mengajukan tangannya untuk bersalaman.

“Nama saya Andika pak, bapak sendiri namanya siapa?” Jawabku sambil bersalaman.

“Panggil saja Pak Sujiwo, saya lihat dari raut wajah nak Andika apa benar sedang ada masalah?” Ujar Pak Sujiwo yang seperti dapat membaca pikiranku.

“Iya pak.” Jawabku singkat sambil menundukkan kepala.

“Kalau nak Andika tidak keberatan, nak Andika bisa cerita ke bapak mungkin nanti bapak bisa memberikan solusi.”

“Baru beberapa bulan yang lalu saya ditinggal pergi selamaya oleh ayah saya, semenjak itu saya benar-benar terpuruk dan tidak tau lagi mau melakukan apa serta harus bagaimana?” Jawabku sambil menahan air mata.

“Apa ibunya nak Andika masih ada?”

“Masih pak, kenapa?” Tanyaku penasaran.

“Nak Andika, intinya kehidupan itu harus tetap berjalan bagaimanapun kondisi dan keadaannya. Kita harus tetap bersyukur dengan apa yang kita miliki saat ini. Nak Andika masih punya ibu, sudah sepatutnya kebahagian ibu nak Andika yang nomer satu. Nak Andika harus mencari dan menemukan cara bagaimana supaya ibu nak Andika selalu bahagai dalam kondisi apapun. Mungkin masalah nak Andika sekarang masih terbilang ringan karena Pak Jiwo dulu dilahirkan dalam keluarga yang terpecah, ayah dan ibu Pak Jiwo bercerai. Semenjak usia dua tahun Pak Jiwo dirawat dan dibesarkan oleh nenek hingga Pak Jiwo menemukan tambatan hati dan akhirnya menikah. Setelah usia 7 tahun pernikahan Pak Jiwo belum juga diberikan keturunan, dimana dalam berkeluarga itu yang dinanti-nantikan adalah seorang anak. Menginjak usia 8 tahun pernikahan istri Pak Jiwo mulai depresi karena permasalahan tersebut dan mulai menyalahkan diri sendiri serta yang paling parah ingin mengakhiri hidupnya. Tepat usia pernikahan ke 9 tahun, setelah pulang kerja Pak Jiwo mendapati istri Pak Jiwo gantung diri di pintu kamar. Kejadian itu juga membuat Pak Jiwo terpukul dan terpuruk. Semenjak meninggalnya istri Pak Jiwo, Pak Jiwo memutuskan tidak menikah lagi dan memilih untuk hidup sendiri. Seperti yang nak Andika bisa lihat sendiri, semangat Pak Jiwo saat ini masih membara setelah melewati masalah yang cukup berat dan juga usia yang tidak lagi muda.” Jawab Pak Jiwo panjang lebar.

Cerita Pak Jiwo membuat semangatku untuk melanjutkan kehidupan muncul lagi. Aku mulai mencari informasi mengenai beasiswa untuk kuliah melalui media cetak seperti koran, majalah, poster-poster di jalan hingga melaui media sosial. Aku juga menghubungi beberapa guru SMA untuk meminta bantuan agar aku diberitahu nantinya jika beliau-beliau mendapatakan informasi mengenai beasiswa untuk sekolah.

Beberapa hari kemudian setelah melakukan pencarian informasi beasiswa kuliah, Bu Sundarsih wali kelasku dulu waktu SMA menghubungiku dan memeberikan informasi terkait beasiswa masuk kuliah. Menurut informasi yang kudapatkan, beasiswa ini tidak hanya dapat digunakan untuk kuliah di dalam negeri tetapi juga dapat digunakan untuk kuliah di luar negeri. Aku segera mungkin mempersiapkan berkas-berkas yang butuhkan dan segera mendaftarkan diri. Untuk bisa mendapatkan beasiswa ini aku juga harus menempuh tes wawancara.

Satu minggu berlalu setelah aku mendaftar beasiswa. Pengumumanpun dikirim melalui email masing-masing. Beribu-ribu alhamdulillah ku ucapkan, aku dinyatakan lulus dari seleksi dan berhak mendapatkan beasiswa tersebut. Aku memberitahu ibu segara mengenai hal ini.

“Ibu!” Panggilku sambil sedikit berteriak.

“Iya nak, ada apa?”

“Ini lo bu, aku lolos seleksi beasiswa untuk kuliah.” Jawabku sambil memeluk erat ibu.

“Beneran nak?” Tanya ibu sekali lagi yang masih belum percaya.

“Iya bu, benar.”

“Ibu doakan kuliahmu nanti lancar, bisa mendapatkan nilai terbaik dan bisa lulus cepat.”

“Aamiin bu.” Sautku.

Terlihat jelas raut wajah ibu begitu sangat bahagia mendengar kabar baik dariku. Aku memutuskan menggunakan beasiwa itu untuk mendaftar kuliah di luar negeri dengan harapan bisa mendapatkan ilmu yang jauh lebih banyak dan beragam dan nantinya dapat dijadikan bekal untuk meningkatkan derajat ibu serta dapat selalu membahagiakan ibu. Sebenarnya berat meninggalkan ibu sendiri dirumah, tetapi aku benar-benar berjanji akan sungguh-sungguh dalam menempuh bangku perkuliahan agar bisa segera lulus dan kembali ke pelukan ibu.

Dengan ini, sayap patahku rasanya seperti kembali utuh dan aku bisa terbang lagi kesana kemari. Kembalinya sayapku membuatku tidak lagi merasakan beban dan aku akan terbang lebih tinggi lagi serta lebih jauh lagi untuk bisa menggapai semua yang telah aku cita-citakan. Tunggu aku bu, aku akan segera pulang dan juga akan mengajak ibu terbang bersamaku menuju kebahagiaan yang luar biasa.

 

 

 

Panggil Aku Kartini Saja

Penulis : Pramoedya Ananta Toer

Penerbit : Lentera Dipantara

Oleh : Wilda Aulia

Anggota LPM Prima 

Mahasiswa Hubungan Internasional, Fisip, Unej

“Barang siapa yang tidak berani, dia tidak bakal menang; itulah semboyanku! Maju! Semua harus dilakukan dan dimulai dengan berani! Pemberani-pemberani memenangkan tiga perempat dunia!” (R.A Kartini)

Sering kita mendengar nama “ R.A Kartini” dalam buku pelajaran sejarah yang kita pelajari pada bangku sekolah. R.A Kartini identik dengan perempuan Jawa yang berparas ayu, bersanggul dan berkebaya. Namun, jika ditanya lebih detail, siapa itu R.A Kartini? Tentu, mayoritas masyarakat mengatakan beliau adalah pahlawan nasional Indonesia, tokoh emansipasi wanita, perempuan penegak kesetaraan dan masih banyak hal serupa lainnya. Dengan rekam jejak dan kelebihan-kelebihan yang dimiliki R.A Kartini tersebut mampu membuat masyarakat Indonesia merasa kagum atas perjuangan yang telah dilakukan kala itu. Tidak terkecuali Pramoedya Ananta Toer, Seorang penulis legendaris yang menyatakan kekagumannya melalui karya tulisan. Karya tulisan Pram yang menggambarkan R.A Kartini dari berbagai sisi ini ia tuangkan melalui buku yang berjudul “Panggil Aku Kartini Saja”.

Dalam bukunya Pram memberikan pendapat bahwasannya R.A Kartini merupakan pelopor kesetaraan bagi perempuan sekaligus pemikir modern Indonesia. Perlu kita ketahui, pada masa lalu nilai-nilai budaya menjadi dasar utama dan satu-satunya untuk masyarakat bertindak. Salah satu dari nilai-nilai budaya tersebut adalah pendidikan bukan hal yang penting, sehingga buta huruf masih kerap dijumpai diberbagai daerah. Seperti termuat disalah satu suratnya Estelle Zeehandelaar tertanggal 25 Mei 1899 yang berbunyi “ Bocah perempuan sekolah masuk sekolah! Itu adalah suatu pengkhianatan besar terhadap adat kebiasaan negeriku, kami bocah-bocah perempuan keluar rumah untuk belajar dan karenanya harus meninggalkan rumah setiap hari untuk mengunjungi sekolah,” karena kata Kartini selanjutnya” lihatlah adat negeri kami melarang keras gadis-gadis keluar rumah . pergi ke tempat lain pun kami tak boleh.” Walaupun terdapat budaya demikian, R.A Kartini dengan semangat patriotisme menerjang nilai-nilai budaya yang menurutnya perlu mengalami perubahan. Pram menarasikan pada buku ini bahwasannya R.A Kartini dengan tegas mengatakan “Kami berhak untuk tidak menjadi bodoh” yang menjadi semangat perjuangannya menyuarakan kesetaraan pendidikan.

Pada buku ini Pram telah berhasil menyajikan cerita menarik tentang biografi R.A Kartini dan perjalanan hidupnya dengan begitu signifikan. Judul pada buku ini merupakan perkataan kartini yang menolak secara keras budaya feodalisme. Perkataan tersebut dikutip oleh pram yang termuat di salah satu suratnya ke Estelle Zeehandelaar tertanggal 25 Mei 1899 yang berbunyi: “Panggil aku Kartini saja—itulah namaku.” (hal. 231). Dengan membaca buku ini pembaca dapat memaknai peringatan Hari Kartini yang jatuh pada tanggal 21 April dengan penuh arti. Melalui buku ini pula Pram mempertegas ucapan Soekarno tentang sejarah yang berbunyi “ Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya”.

 

Penyalin Cahaya

Judul: Penyalin Cahaya

Produser: Adi Ekatama Ajish Dibyo

Sutradara: Wregas Bhanuteja

Pemain: Shenina Cinnamon, Chicco Kurniawan, Lutesha, Jerome Kurnia, Dea Panendra, dan Giulio Parengkuan.

Penulis Naskah: Henricus Pria dan Wregas Bhanuteja

Produksi Film: Rekata Studio dan Kaninga Pictures

Film Penyalin Cahaya merupakan salah satu film yang memenangkan 12 penghargaan di Festival Film Indonesia (FFI) tahun 2021 dengan berbagai kategori. Film ini menceritakan tentang fenomena yang terjadi di masyarakat, yaitu tentang kekerasan seksual. Gambaran di dalam film ini merupakan gambaran dari bentuk perjuangan para korban dalam menghadapi dampak dari kekerasan seksual, seperti kehilangan harapan, merasa ketakutan, dan kehilangan kepercayaan dirinya. 

Di Awal film ini kita akan diperlihatkan dengan pertunjukan kelompok teater dari kelompok teater matahari yang sedang berlomba. Kemenangan perlombaan teater ini menjadi awal perjalanan panjang dalam film ini. Suryani sebagai tokoh utama adalah seorang mahasiswi tingkat pertama yang sedang memperjuangkan beasiswa yang terpaksa dihapus oleh pihak beasiswa yang disebabkan foto-foto Suryani yang sedang mabuk tersebar. Demi mendapatkan beasiswa tersebut kembali, Suryani harus memberikan bukti bahwa semua rumor yang beredar itu salah karena merasa dirinya dijebak. Dalam mengumpulkan bukti tersebut Suryani dan Amin, sahabatnya  melakukan investigasi dengan berbagai lika-liku yang panjang melalui berbagai hal yang terjadi di hidup beberapa hari kebelakang. Konflik ini tidak hanya mengenai Sur dan beasiswanya, tetapi juga konflik keluarga dan anggota team teaternya.

Puncak konflik di film ini adalah saat pelaku kekerasan seksual ditemukan dan ternyata korban dari kekerasan seksual ini bukan hanya Suryani saja, tetapi juga beberapa anggota teater matahari. Suryani dan teman-teman lainnya berusaha untuk mendapatkan keadilan. Namun, hal yang diharapkan tidak semudah itu, banyak pihak-pihak yang memilih untuk menutup keadilan tersebut. Perjuangan Suryani dan semua korban dari pelaku kekerasan seksual di film ini merupakan gambaran nyata yang terjadi di masyarakat. Yang mana apabila pelaku memiliki kekuasan yang jauh lebih tinggi maka akan dengan mudah mengubah fakta yang ada.

Film sepanjang dua jam ini tidak akan membuat para penonton merasa bosan. Hal ini dikarenakan sepanjang film kita akan dibawa oleh emosi dari film ini. Bertanya-tanya hal apa yang akan terjadi selanjutnya. Selain itu, Film ini dibintangi dengan banyak wajah baru dalam dunia perfilman di Indonesia dengan kualitas akting yang tidak kalah jauh dengan aktor dan aktris senior. Diharapkan akan semakin banyak film-film di Indonesia yang menggambar kehidupan nyata di masyarakat, sehingga masyarakat di Indonesia dapat mengambil nilai moral dan belajar melalui setiap adegan dalam film. (Anggun Administrasi Negara 2020)

It Ends With Us, Proses Mengenal dan Keluar Dari Toxic Relationship

Penulis : Colleen Hoover

Oleh : Nora Jasmine 

Anggota LPM Prima 

Mahasiswa Sosiologi,Fisip, Unej 

Stop the pattern before the pattern breaks you” kiranya menjadi benang merah tentang apa yang dibahas oleh salah satu buku bersampul pink yang sedang ramai diburu oleh pecinta buku-buku Import ini. Berawal dari kisah pahit  Lily yang dibesarkan oleh seorang bapak yang abusive, tidak segan menyiksa ibunya secara fisik dan psikis bahkan didepan matanya sendiri hingga pertemuan manisnya dengan Ryle seorang pria yang ternyata membawa nasib serupa pada Lily dengan apa yang dialami oleh ibunya. Novel ini lengkap membahas naik turunnya sebuah hubungan, bahkan separuh dari buku akan membawa perasaanmu melejit naik bahkan senyum-senyum sendiri dengan kisah perjumpaan Lily dengan Ryle, istilahnya butterfly in my tummy melihat manisnya hubungan mereka. Di saat yang sama, pembaca turut dibawa jatuh dalam ekspektasi-ekspektasi hubungan mereka yang berjalan tidak sesuai dugaan.

Realita hubungan yang toxic terurai dengan jelas melalui perspektif korban dalam novel ini, hingga kita dapat meresapi sedih dan kepahitan yang dirasakan oleh Lily mulai dari suara hati hingga pemilihan aksi dalam menghadapi “ketergantungan” terhadap toxic relationship yang dihadapinya. Buku ini kiranya mengajak kita untuk menyadari, peringatan-peringatan awal hubungan “racun” yang terkadang tidak kita sadari, pola-pola yang muncul dalam hubungan seperti tidak ditepatinya janji, permohonan maaf berujung omong kosong dan aksi-aksi kekerasan fisik yang terus berulang menjadi kebiasaan dari seseorang yang abusive.

Novel  kurang lebih 300  halaman ini menggunakan bahasa Inggris yang cukup sederhana dan mudah dimengerti, sehingga cocok bagi para pemula yang inign membaca buku berbahasa asing. Perlu diketahui, trigger warning novel ini yaitu : domestic abuse, gun violence, mentions of suicide, attempted rape on a pregnant women karenanya, rate usia untuk membaca buku ini perlu ditaati dan dihindari oleh sebagian orang. Akhir kata, selamat mencermati dan memahami bagaimana hubungan toxic itu bisa terjadi melalui kisah Lily. Selamat membaca!

Kincir Waktu

INVESTIGASI KISAH KELAM

Oleh: Nindya Andwitasari

Mahasiswa Sosiologi Fisip, Unej

“Alam mengajarkan setiap Ibu yang melahirkan pasti mengeluarkan darah, Wi. Begitulah pemerintahan baru, juga akan diawali tumpahan darah rahim Ibu Pertiwi”

Siapa sebenarnya Dalang dari kerusuhan, pembantaian, dan pemerkosaan besar-besaran yang terjadi pada tanggal 13-15 Mei 1998? Apa motif mereka melakukan itu terhadap Etnis yang sedikit banyak membantu perekonomian Indonesia selama ini? Lalu apa hubungannya dengan pelengseran Pemerintahan diktator kala itu yang disebut dengan pemerintahan Orde Baru? Bagaimana bisa kasus sebesar itu, hingga saat ini tidak terpecahkan? Bagaimana nasib anak cucu para korban pembantaian sadis itu? Dimana mereka tinggal saat ini? Apakah masih ada semangat Merah-Putih di dalam hatinya? Pertanyaan demi pertanyaan berputar membuat asap pekat dalam pikiran Wikan Larasati setelah ia menerima telfon dari Inge dan melakukan perjalan ke kota dengan sebutan “The City that Never Sleep”. Ya telfon dari Inge, sebutan akrab yang bernama asli Elodie Appolonia Francois seorang pemimpin tertinggi Ordo Kesatria Pemeliharaan Kesucian Bumi itu telah mengantarkan Wikan, Jurnalis ternama Majalah Dimensi ke New York City.

            Setelah menginjakkan kaki di New York, tepatnya di depan patung yang masuk kedalam Situs warisan dunia UNESCO untuk bertemu dengan seseorang yang telah mengundangnya,  tragedi kecil terjadi yang ia alami di pelataran patung dengan warna hijau mint itu, tak di sangka tragedi tersebut sebagai ucapan selamat datang kepada Wikan yang akan membawa jurnalis muda terbaik majalah Dimensi kedalam hiruk pikuk tragedi-tragedi besar setelahnya terkait kasus investigasinya itu.

            Tugas pertamanya di kota kunang-kunang ini adalah menuju Safe House yang entah apa tujuannya datang kesana, ada sebuah kejanggalan, Wikan selama perjalanan menuju tempat tersebut harus menutup matanya, entah apa tujuannya yang ia bisa lakukan hanya menurut, sebab ia adalah tamu undangan disini. Tak disangka sesampainya disana ia bertemu dengan salah satu korban kejadian sadis beberapa dekade lalu itu.

Nemi, wanita cantik, berkulit putih bersih, namun sayang kondisi psikisnya tidak sebaik kondisi tubuhnya, ia diam, tatapan sinis di mata menyiratkan api amarah yang mendalam. Tidak banyak informasi yang ia dapatkan dari Nemi, sebab tak lama dari ucapan sapa Wikan yang lembut dan pelukan hangat yang ia berikan, Nemi mendadak pingsan. Tapi siapa sangka, pertemuannya dengan Nemi lebih membawa teka teki dan petualangan investigasi serta tragedi demi tragedi besar jika dibandingkan dengan tragedi kecil yang ia dapatkan di pelataran monument patung Liberty.

            Kecurigaan dan pertanyaan yang timbul setelah pertemuannya dengan Nemi gadis Tionghoa cantik asal Indonesia, ternyata membawa dia bertemu dengan banyak tokoh yang sedikit demi sedikit memberi sinyal jawaban, salah satunya yaitu pertemuannya dengan salah seorang konglomerat Chindo (China Indonesia) di Philadelphia, Papaf sebutan tenarnya dialek yang khas ketika berbicara dengannya, yakni dialek Chindo Semarang sangat kental di dalam tiap kata yang keluar, siapa sangka tokoh tersebut juga ada kaitannya dengan kasus yang di investigasi oleh Esa tentang Rumah Hantu di Tanggerang yang memakan dua korban pembunuhan di dalamnya, kebetulan yang tak disangka.

 Kasus ini semakin menarik, tak hanya Papaf, Wikan juga bertemu mantan aktivis 98 yang berperan penting saat tragedi tersebut, Baper lengkapnya Bagus Perkoso, seorang pelaku bom rakitan Tanah Kusir pada tragedi sebelum Reformasi 1998. Tak hanya Baper, dia ditarik oleh semesta untuk bertemu dengan nama besar lainnya. Seperti Jad dan Fir Tionang, saudara kembar seiras yang bisnis dan perangainya sangat licin. Perkenalannya dengan Domohadi Tjouw keponakan papaf yang hampir saja memperkosa Wikan di rumah kabin tepi sungai Schuykill dengan mencampurkan minumannya dengan obat perangsang. Bertemunya dia dengan Donna, sahabat Tabitha Suradipura, wawancaranya bersama Jenderal Zoelini, datangnya Eunice fotografer muda Dimensi yang mengenal baik Oxa.

 pertemanan antara tamu dan pengawal pribadi yang ditugaskan oleh Inge untuk Wikan selama di New York City yaitu Natasha yang ia rasa ada kejanggalan, Jam Rolex seri terbaik di dunia yang ternyata palsu, yang di dalamnya terdapat alat penyadap suara yang diberikan Glen, wawancara singakatnya dengan Gentari Mudaris anak dari pembisnis ulung yang juga ikut bermain api dalam kasus Investigasi ini. Semua kejadian dan orang yang ia kenal dalam investigasi ini sangat rumit dan spektakuler, sebab bagi Wikan ini seperti susunan Puzzle yang berserakan, yang semuanya saling terhubung kuat. Petualangan yang ia harus selesaikan demi tugasnya, nama baiknya, rahasia besar Ibu Pertiwi, dan martabat bangsanya di mata dunia.

            Novel series karya Akmal Nasery Basral ini sangat apik, bahasa yang mudah dipahami bagi pembaca setianya, alur cerita yang mampu menyulut segala emosi, kejutan-kejutan yang diberikan penulis dalam alur cerita yang membuat pembaca terus penasaran. Latar tempat dan suasana yang tergambar jelas, serta topik yang diangkat menjadi cerita dalam novel ini mampu membuat hati terenyuh dan membayangkan betapa rumit dan sadisnya kedaan dunia dalam melihat suatu tragedi kemanusiaan. Novel ini sangat di rekomendasikan untuk pembaca yang ingin mengenal dunia dan hiruk pikuk dunia hitam dari suatu tragedi di dalam negara dengan bahasa dan pembahasan yang tidak terlalu berat namun mampu menciptakan rasa cinta untuk membaca, namun terdapat beberapa kekurangan, seperti tidak adanya kalimat penjelas dari dialog-dialog pendek yang menggunakan bahasa asing di awal cerita.

 

Penulis: Akmal Nasery Basral

Penerbit: Republika Penerbit

Tahun Terbit: Cetakan I, November 2021

Tebal: 570 Halaman

ISBN: 978-602-9474-40-4     

Dare

Berani Berubah Karena Hidup Terus Berubah

Judul buku : Dare! A Book for Those Who Dare to Change Their Lives 

Penulis buku : Wendy Grant

Penerjemah : Laila Qadria

Penerbit : Bright Publisher

Didistribusikan oleh : Mitra Media Nusantara

ISBN : 978-602-5868-03-0

Tebal halaman : 211

Hidup adalah sebuah anugerah yang diberikan oleh Tuhan kepada setiap manusia yang tinggal di dunia. Setiap manusia memiliki perjalanan hidup yang berbeda. Dalam kenyatannya jika hidup ingin mengalami perubahan maka harus berani untuk memilih dan harus berani untuk berubah karena hidup setiap harinya terus berubah. Kehidupan yang sulit ditebak membuat sebagian orang sering mengalami setres sehingga tidak bisa menikmati kehidupannya.

Buku ini berisi tentang latihan mengendalikan diri, mengajak diri untuk pergi ke arah bawa sadar, bagaimana kita belajar mengendalikan emosi, dan keegoisan diri. Berbagai macam latihan yang terdapat di dalamnya sebagai bentuk hipnoterapi. Setelah mengikuti langkah-langkah yang ada, akan bemanfaat membantu berdamai dengan diri sendiri dimana perasaan lebih rileks dan mampu kembali menjadi orang yang lebih kuat dalam menjalankan kehidupan.

“Kemampuan untuk membuang segenap bentuk pertahanan diri membutuhkan pengalaman dan keberanian. Saat bisa menyingkarkan ketakutan dan menolaknya, tidak menyerah terhadap perasaan tersebut berarti anda telah berhasil membebaskan diri”, begitulah kutipan yang terdapat dibagian pendahuluan buku.

Belajar menerima kenyataan hidup bagi sebagian orang tidaklah mudah, belajar untuk terus mencintai diri sendiri atas segala hal yang terjadi dan mengajak untuk tetap percaya diri. Diarahkan untuk melakukan pemenuhan hak terhadap diri sendiri yaitu dengan cara mengekspresikan diri sesuai keinginan tanpa harus ribet memikirkan atau mendengarkan perkataan orang lain.

Lepaskan yang membuat kamu berat, berhenti mendengarkan kata orang ikutilah kata hati dan nikmatilah hidup menurut versi terbaik dari dirimu, karena hidup tidak harus satu rasa dan satu suara dengan orang lain. Setiap orang memiliki tujuan hidup yang berbeda.

Buku ini dikemas dengan apik, memuat sebuah narasi yang bagus. Diajak untuk melakukan meditasi sendirian untuk mengenali “siapa diri kita sesungguhnya” dibantu menggunakan Teknik visualisasi dalam membuat perubahan. Buku ini sangat cocok untuk siapa saja yang ingin berdamai dengan dirinya sendiri, membantu mengurangi rasa insecure dan kecemasan mengenai sesuatu yang sudah terjadi ataupun belum tentu terjadi. Dengan adanya buku ini bukan mengajak orang untuk egois melainkan sebuah langkah untuk mengekspresikan diri dengan jujur dan membantu orang meraih tingkat kehidupan yang lebih tinggi. (Leha)

 

 

 

 

Please Look After Mom

Mengenal Lebih Dalam Sisi Lain dari Ibu yang Kita Lupakan

 

Identitas Buku :

Judul buku : Please Look After Mom

Pengarang : Kyung Sook-Shin

Penerjemah : Tanti Lesmana

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

Waktu Terbit : Februari 2020

ISBN : 9786020315409

Tebal halaman : 296 Halaman

 

Sinopsis :

Sepasang suami-istri ke kota untuk mengunjungi anak-anak mereka yang telah dewasa. Sang suami bergegas naik ke gerbong kereta bawah tanah dan mengira istrinya mengikuti di belakangnya. Setelah melewati beberapa stasiun, barulah dia menyadari bahwa istrinya tidak ada. istrinya tertinggal di stasiun Seoul.

Perempuan yang hilang itu tak kunjung ditemukan, dan keluarga yang kehilangan ibu/istri/ipar itu mesti mengatasi trauma akibat kejadian tersebut. Satu per satu mereka teringat hal-hal di masa lampau yang kini membuat mereka tersadar betapa pentingnya peran sang ibu bagi mereka; dan betapa sedikitnya mereka mengenal sosok sang ibu selama ini. Perasaan-perasaannya, harapan-harapannya, dan mimpi-mimpinya.

 

Ibu, kata yang sering kita ucap untuk memanggil seseorang yang membawa kita ke dalam dunia ini. Seiring dengan waktu, kita cenderung melupakan banyak momentum dan orang-orang yang hadir dalam perjalanan hidup. Termasuk atas diri kita sendiri dan sosok “Ibu” yang kita kenal. Buku Kyung-Sook Shin yang mendapat berbagai penghargaan salah satunya Prix de I’Inapercu dari Prancis ini bercerita tentang hilangnya seorang perempuan tua di tengah-tengah kota Seoul ketika hendak mengunjungi anaknya. Anak-anaknya yang hidup jauh dari kampung halaman dan sibuk dengan kehidupannya sendiri-sendiri adalah alasan Park So-Nyo dan suaminya bergegas mengunjungi mereka untuk melepas kerinduan. Di tengah-tengah stasiun yang padat, di dalam kerumunan orang-orang yang sibuk di stasiun Seoul itu, dirinya menghilang dan lepas dari genggaman tangan suaminya.

Satu dua cara dilakukan oleh suami dan anaknya untuk menemukan ibu mereka yang hilang tak berbuah apa-apa. Ibunya yang hilang itu, hanya meninggalkan bekas langkah dan kenangan di dalam kepala semua orang yang merasa kehilangan dirinya.

Waktu berlalu, jurang antara ketidakpastian dan hilangnya harapan semakin dalam. Pada saat itu, barulah satu persatu orang yang ditinggalkan merasakan apa itu arti “kehilangan” pada diri mereka. Rumah mereka di desa kecil Chong-up yang hanya ditinggali berdua dengan sang suami menjadi semakin lengang dan berantakan, tidak ada tangan halus yang merapikan kasur dan menyiapkan makan siang. Sang suami pun teringat, bagaimana selama 50 tahun hidup bersama tidak pernah sekalipun ia menunjukkan rasa kasih dan sayang, hingga sesederhana membelikan obat untuk sakit kepala saja tidak dilakukannya “Baru sekarang kau menyadari, dengan hati pedih, bahwa selama ini kau telah menutup mata terhadap kondisi istrimu yang sering bingung dan lupa”.

Buku ini dikemas dengan apik, memuat narasi dan dialog antar tokoh-tokoh yang ada di dalamnya. Bahasa terjemahan yang mudah dipahami sedemikian rupa, tidak seperti buku terjemahan bahasa asing lain yang justru lebih sering membuat kebingungan.

Namun, suguhan alur yang maju mundur akan membuat sebagian pembaca sedikit kebingungan dan membutuhkan waktu lebih untuk mengingat kejadian yang sudah dipaparkan sebelumnya ketika kembali dibahas pada halaman yang saat itu dibaca. Hal inilah yang kiranya membuat sebagian orang akan kesulitan dalam membaca buku ini.

Terlepas dari itu semua, buku ini sangat perlu dibaca setidaknya sekali dalam hidup, mengingat buku ini menyuguhkan sudut pandang lain yang mungkin tidak kita sadari dalam melihat orang lain, khususnya sosok “Ibu” dalam kehidupan kita. Selain menjadi pelajaran, kisah dalam buku ini pun dapat menjadi renungan.

 

-nja.

 

BREATH

Bagaimana rasanya, menjadi sosok yang teramat dibanggakan walau hanya dengan sedikit tindakan? Bagaimana rasanya, menjadi kesayangan semua orang tanpa harus meminta belas kasihan. Pasti menyenangkan bukan?

Asya duduk termenung menatap kerumunan orang yang berada dihadapannya. Sosok yang berada ditengah kerumunan itu membuatnya iri hati. Bukan karena pencapaian yang didapatkannya namun iri terhadap kehangatan yang menyelimuti sosok itu. Dalam hatinya, Asya ingin merasakan kehangatan itu sekali saja. Sekali saja, ia ingin ditatap dengan pandangan bangga dan dielu-elukan oleh keluarganya. Sekali saja, ia ingin bertukar posisi dengan sang kakak. Sosok yang selalu menjadi nomor satu di keluarga kecilnya bahkan di keluarga besar.

Asya adalah mahasiswi semester awal yang masih berjuang untuk menyesuaikan diri dengan dunia perkuliahan. Jalannya menuju bangku perkuliahan tidak sehangat dan semudah jalan sang kakak, Jihan. Jika Jihan saat berjuang untuk mendapatkan kampus dan jurusan yang diinginkan mendapat dukungan penuh dari orang tuanya, berbeda dengan Asya yang harus mengadu urat sebelum akhirnya diperbolehkan. Jika Jihan melakukan sedikit kesalahan, orang tuanya akan memaafkan tanpa banyak bicara dengan diberi sedikit nasehat. Namun, jika Asya yang melakukan kesalahan sedikit saja, kesalahan itu akan nampak secara berlebihan dikedua mata orang tuanya.

“Hah....” Sudah kesekian kalinya, Asya menghela napas berat.

“Bengong aja...” Atensi Asya teralihkan oleh suara dengan logat jawa yang kental milik Dinda. Ia hanya menyunggingkan senyum kepada sahabatnya itu. Tak ada lagi suara yang terdengar. Asya kembali larut dalam pikirannya sendiri, sedangkan Dinda hanya duduk menemani.

Tujuh menit dihabiskan keduanya dalam diam. Dinda yakin dengan apa yang ada di pikiran Asya yang tengah menatap kakaknya saat ini. Dinda hanya menunggu Asya untuk memulai pembicaraan. Sepuluh tahun persahabatan mereka, menjadikan keduanya hafal tabiat masing-masing.

“Din, kapan ya aku bisa kaya Kak Jihan? Bisa dikerumunin keluarga kaya gitu? Dibanggain kemanapun mereka pergi.” Tanya Asya tanpa mengalihkan pandangannya.

“Sya..” Dinda tidak tahu harus menanggapi sahabatnya ini seperti apa. Hatinya ikut tersayat saat mendengarkan keluhan-keluhan yang keluar dari bibir Asya. Keluhan tentang keluarganya yang seakan tidak bisa adil dalam memberikan kasih sayang.

“Salah gak sih Din, aku suka iri sama Kak Jihan? Aku tahu ini salah, tapi aku gak bisa pungkiri kalau aku suka iri sama dia.”

Asya menatap nanar kearah gerombolan kakaknya yang tampak senang hati karena kelulusan mereka. Jihan menjadi salah satu lulusan terbaik dan mahasiswi berprestasi di jurusannya. Kedua orang tuanya sangat senang sampai tidak bisa membendung air mata. Sama seperti yang mereka lakukan saat mereka mengetahui Jihan diterima di kampus dan jurusan pilihannya.

“Aku berjuang keras untuk bisa ada di tahap ini Din. Di tahap aku kuliah di kampus dan jurusan yang aku mau. Walaupun jurusanku gak setenar jurusan Kak Jihan, setidaknya aku bisa satu kampus dan satu fakultas sama dia.”

Dinda yang paham betul hanya bisa menganggukkan kepalanya beberapa kali. Pernah sekali Asya bercerita perihal bagaimana tanggapan orang tuanya saat ia menjadi lulusan terbaik di SMA-nya dan berhasil masuk ke kampus juga jurusan pilihannya. Asya yang berangan-angan akan diberi pelukan hangat dan kata-kata menyenangkan untuk ia dengar, harus kandas dengan sebuah ucapan selamat tanpa mengalihkan pandangan dari aktivitas yang mereka lakukan.

“Sesak Din rasanya..” Tanpa disadari, air mata Asya jatuh membasahi pipinya.

OOO

Sedari kecil, Asya sering menyimpan semuanya sendiri. Ia merasa bahwa dirinya lebih aman dan nyaman ketika semua kekecewaan yang mendera dipendam dalam-dalam agar ia tidak kalut dan sedih perkepanjangan. Toh nanti akan berlalu. Begitu pikirnya sedari dulu. Asya tidak menyangka, rasa kecewa terhadap orang tua dan keluarganya itu akan mencapai titik puncak dimana dia sudah tidak sanggup lagi untuk menahan semuanya. Kilasan memori bagaimana ia diperlakukan tidak cukup adil oleh keluuarga semasa kecil hingga dewasa tengah melalang buana di pikirannya.

Ia duduk diatas kasur dengan lutut yang ditekuk, menyembunyikan parasnya di dalam sana. Dadanya seperti dihimpit oleh batu besar yang membuatnya sesak. Napasnya begitu pendek dibanding dengan biasanya. Asya merai gawai yang tergeletak tepat disamping tubuhnya. Menekan satu nama dan segera dibuat panggilan. Kurang dari satu menit, suara dengan logat jawa menyapa rungunya. Asya hanya diam, tidak memberi jawab walau sekedar menyapa kawannya itu.

Tidak seperti panggilan suara yang mendapat sahutan begitu cepat, Asya memilih untuk diam beberapa saat. Dinda, orang yang berada diseberang panggilan mengikuti kemauan kawannya ini. Dibiarkan Asya untuk menata hati serta kata-kata yang ingin ia lontarkan. Dibiarkannya Asya mencari waktu nyamannya untuk berbicara tanpa harus tergesa-gesa.

“Aku gak kuat Din.. semakin aku tahan, rasanya semakin sesak.” Keluhnya membuka suara setelah cukup lama.

“Kamu gak perlu tahan itu lagi Sya. Sudah banyak rasa kecewa yang kamu terima dan kamu pendam sendirian. Kamu gak akan kuat kalau harus menyimpannya sendiri Sya. Aku gak tahu seberat apa rasa kecewa yang kamu alamin, tapi aku yakin kamu butuh waktu seenggaknya sebentar aja buat luapin semuanya. Buat ambil napas yang cukup berat dan bisa buat kamu tenang.” Asya mendengarkan semua penuturan Dinda. Mungkin memang benar penuturan kawannya tersebut. Ia butuh waktu untuk meluapkan semuanya, dan mengambil napas walau barang sejenak.

“Sekarang waktunya kamu buat istirahat, tarik napas dampai kamu ngerasa lega. Kalaupun kamu mau nangis, gak masalah Sya. Manusia punya titik lemahnya masing-masing dan kamu dititik itu sekarang.”

Asya mencerna apa yang dilontarkan Dinda. Semakin dicerna, semakin sesak pula dadanya. Satu persatu bulir air matanya membasahi pipi. Asya terisak dalam heningnya kamar, hanya ditemani Dinda diseberang sambungan. Ia berusaha menarik napas lebih dalam, menghembuskannya dengan kasar diiringi dengan sebuah isakan. Malam ini, Asya ingin menuntaskan rasa sesak di dadanya hingga habis tak bersisa.

Diseberang sana, Dinda masih dalam diamnya. Ia sedang menyusun kata-kata penenang untuk sahabatnya. “Gak akan ada yang nyalahin kamu sekarang Sya.. lepasin aja semuanya.”

Sekarang Asya paham bahwa semua yang dipendam itu tidak baik. Asya paham, kekecewaan yang ia pendam dari lama bukannya menghilang seiring berjalannya waktu, namun terpupuk dan tumbuh subur dalam dirinya tanpa disadari. Dan disinilah dia sekarang, menuai apa yang sedari lama telah disimpan. Kesedihan dan kekecewaan yang berlipat ganda.

Dinda yang menemani Asya membungkam mulutnya. Ia mecoba memposisikan dirinya di posisi Asya saat ini. Namun sayang, rasanya mustahil untuk dilakukan. Semakin dicoba, semakin tidak sanggup pula dirinya. Bagi Dinda, tidak apa membuat kesahan, karena orang lain juga pasti melakukan kesalahan. Tidak apa mengistirahatkan diri sejenak dari hiruk-pikuk dunia untuk menghela napas. Karena menurut Dinda, semua orang punya titik lemahnya masing-masing dan merupakan hak mereka untuk meluapkan isi hati.

“Aku memang gak bisa memposisikan diri jadi kamu Sya, aku gak tau seberat apa bebanmu selama menyimpan ini semua sendiri, tapi gak masalah. Kamu bebas sekarang. Aku disini buat temani kamu sampai kamu ngerasa lega. Kamu sudah terlalu lama berjuang sendirian Sya, aku tahu itu. Kamu sudah sangat bekerja keras selama ini. Sekarang waktunya kamu ambil napas dan istirahat dari hiruk pikuknya dunia untuk sejenak.”

Kalimat panjang dari Dinda, sepenuhnya menyadarkan Asya. Dirinya memang sedang tidak baik-baik saja. Tawanya adalah bentuk tipuan guna tutupi kesedihan. Sifat riang yang selalu dia tunjukkan merupakan sebuah tameng untuk membendung kesedhian yang semakin menerjang. Mungkin benar kata Dinda, saat ini dirinya harus bernapas lebih berat sejenak dan menyingkirkan diri dari ramainya dunia.

Penulis: W

Saudade

Aku menutup buku A Portugese: A Modern History setelah menyelesaikan separuhnya. Terbiasa membaca buku fiksi bertema ringan, bukan buku sejarah non-fiksi seperti ini membuatku agak kesulitan menamatkannya. Namun di separuh halaman, aku menemukan sesuatu yang menarik.

Sejarah mencatat, pada abad ke-15 Portugis mengirimkan para pemudanya ke berbagai penjuru dunia untuk membuka jalur perdagangan dan mendirikan koloni-koloni. Berpuluh-puluh tahun petualangan dan pelayaran membuat Portugis harus kehilangan sebagian besar dari mereka dan tak pernah kembali pulang.

Kehilangan itu bagi perempuan, anak-anak, dan orang tua yang ditinggalkan tidak hanya diiringi kesedihan dan mandalam, tetapi juga harapan bahwa kekasih, abang, dan anak-cucu mereka hilang bukan untuk selama-lamanya. Bukan hanya sekedar duka, apa yang mereka rasakan adalah melankolia kolektif. Melankolia membuat orang-orang mengubur objek kehilangan dalam ego masing-masing, bukan melepasnya pelan-pelan. Mereka menamai perasaan campur aduk itu saudade.

Aku menandai halaman itu dengan sticky notes sebelum berhenti membacanya dan berjanji akan menerusakannya ketika telah sampai di rumah. Menghela nafas panjang, aku merasa punya suatu hal dalam diriku yang berkaitan dengan itu. Aku memilih menyesap kopi dari papercup, lalu diam memandang keluar jendela di sisa waktu perjalananku dalam kereta Jayakarta dari Pasar Senen menuju Jogjakarta sore ini.

Tiba-tiba perasaan gugup menyergap dan reflek aku mengeratkan genggaman tangan sendiri.  Bagaimanapun, pulang ke Jogja setelah 5 tahun lamanya menjadi sesuatu yang berat buatku. Tiap libur semester saat kuliah dulu, aku lebih memilih menetap di Jakarta dan bekerja paruh waktu lebih banyak dari biasanya. Namun kali ini aku ingin pulang, tidak ada alasan partikular. Aku hanya ingin pulang

****

Di dalam rumah ini akhirnya aku berada. Semua furnitur dan hiasan dinding dalam rumah ber-cat krem ini masih terawat seperti terakhir kali aku berada disini. Tempat ini tidak pernah berubah namun keadaan iya. Aku masih dapat mengingat di ruang keluarga ini, bertahun-tahun lalu, setiap sore aku dan Ibu menonton televisi bersama sambil menunggu Ayah pulang bekerja. Semuanya terasa baik dan kami bahagia.

Lamunan ku hilang saat terdengar seorang membuka pintu. Ternyata budhe datang membawa dua tas yang aku tebak berisi rantang makanan. Belum sampai ia duduk, budhe sudah menyerangku dengan pertanyaan,

“Sampai Jogja jam berapa Kina? Kenapa ga telfon budhe? Dari stasiun naik apa kesini?”.

Aku mengambil tas budhe dan menaruhnya di atas meja.

“Jam 4 budhe, naik ojek online. Kina ngga mau merepotkan budhe makanya ngga telfon dulu.”

Budhe duduk di sampingku. Ia memandangku dengan sorot mata khawatir. Persis seperti 5 tahun lalu saat ia mengantarku ke stasiun untuk berangkat ke Jakarta. Kala itu satu-satunya yang aku punya adalah budhe dan keluarganya. Berbekal uang tabungan budhe yang cukup hanya untuk membayar biaya kuliah, makan, dan tempat tinggal selama satu semester, aku berangkat ke Jakarta untuk kuliah.

Budhe adalah kakak dari Ibu dan ia sudah kuanggap seperti Ibuku sendiri sekaligus orang yang paling mengerti aku. Ia tahu persis, aku ingin meninggalkan Jogjakarta bagaimanapun caranya. Ia lalu menyuruhku untuk mendaftar di kampus negeri yang tidak terlalu prestisius dengan uang kuliah yang tidak terlalu mahal di sana. Sepeninggal Ibu, aku hidup sendiri dan apa yang ingin aku lakukan selepas SMA  hanyalah kelur dari kota ini dan bekerja untuk menyambung hidupku sendiri.

Budhe berkali-kali meyakinkanku untuk meneruskan kuliah tapi aku yang sudah cukup dewasa saat itu mengerti bahwa biaya kuliah terlampau mahal untukku yang piatu. Namun karena budhe lah akhirnya aku berangkat. Budhe meyakinkanku berulang kali, dengan kuliah lah masa depanku dapat terjamin. Namun sepertinya kali ini budhe salah.

“Budhe senang sekali kamu pulang, nduk, setelah 5 tahun ini. Budhe tau berat buatmu ke Jogja lagi, apalagi pulang kesini,” Budhe menggenggam tanganku.

Benar, mengingat dan kembali ke Jogja sama halnya seperti menarikku ke lubang hitam masa lalu. Jakarta tidak lebih baik dari Jogja untuk urusan keteraturan, tapi setidaknya aku bisa memulai hidup menjadi Kina baru dimana tidak seorangpun di Jakarta tau aku siapa.

Aku mengelus pelan tangan budhe, tangannya terasa kasar karena harus bekerja keras memasak pesanan catering setiap hari. Aku menatap mata satu-satunya orang yang paling mempercayaiku, mengertiku, dan memberikan ruang luas untuk kasih sayangnya padaku. Wajah budhe tampak keriput dan rambutnya beruban. Perasaanku tiba-tiba menjadi sentimental. Doa  untuk keselamatan dan umurnya yang panjang adalah hal yang tak pernah selesai aku panjatkan. Aku berharap masih ada waktu buatku untuk memberi lebih dari apa yang telah budhe beri kepadaku selama ini.

Budhe tersenyum, “Gimana kabarmu, Kin? Baik?”

Aku tidak bisa menjawab apapun selain “Baik” meskipun kenyataanya sebaliknya. Memilih jurusan keguruan dan pendidikan saat kuliah, berharap aku bisa menjadi guru, suatu pekerjaan yang layak dan mapan menurutku.  Namun sepertinya hidupku tidak berakhir sebaik cerita novel atau film dimana anak yang hidup bekerja keras lalu mendapat ganjaran yang sesuai, yaitu cita-citanya terpenuhi dan sukses.

Kuliah sambil bekerja di salah satu toserba saat sore hingga malam hari adalah suatu hal yang tidak mudah. Akibatnya aku sering terlambat masuk kuliah karena terlalu lelah bekerja di hari sebelumnya. 4 tahun perkuliahan yang tidak berjalan mulus, ditambah saat setelah lulus aku susah mendapat pekerjaan dimana-mana.

Aku mendaftar di bimbingan belajar, sekolah dasar hingga menengah swasta, lembaga les privat, sampai CPNS, tidak ada satupun yang berjalan mulus kecuali salah satu sekolah dasar swasta di Jakarta Selatan yang menerimaku. Gajinya terbilang kecil, hanya cukup untuk biaya sewa kosku yang kecil dan kebutuhan sehari-hari yang harus di hemat sedemikian rupa selama satu bulan.

Selepas berbincang singkat aku membantu budhe memindahkan lauk dari rantang ke piring-piring di dapur.

“Kina apa tidak mau tinggal disini saja?” budhe bertanya padaku yang sedang mengelap piring. Aku tidak pernah siap dengan pertanyaan ini.

Rumah ini dan Jogja membawaku pada trauma masa lalu dan bagaimana aku membenci Ayahku sendiri. Aku tidak siap. Budhe masih fokus berkutat memindahkan makanan dan melanjutkan,

“Maksud budhe, Kina bisa melamar kerja jadi guru disini. SD tempat pakde mu mengajar sedang butuh guru. Budhe hanya khawatir.” Budhe melanjukan.

Aku diam dan melanjutkan mengelap piring. Nafasku tercekat ditenggorokan dan tidak tahu harus menjawab apa.

Budhe membalikan tubuhku untuk menghadapnya, ia menggenggam tanganku lagi.

“Maafkan ayahmu, Kin. Apapun yang ia lakukan, maafkan.”

Aku tidak menyangka kita akan sampai pada topik ini. Aku menghindari pembicaraan tentang hal ini sejak hari itu, bahkan kepada Ibuku sendiri. Aku tidak ingin beliau berbicara apapun tentang Ayah.

“Kina, 6 bulan yang lalu istri kedua ayahmu datang ke rumah ini. Kebetulan budhe mampir untuk membersihkan rumah. Ia datang dan mengabari kalau Ayahmu meninggal. Budhe tidak langsung memberi tahu karena budhe tahu benar kamu tidak ingin membicarakannya.” Budhe melanjutkan dan setelahnya ia menunduk. Mungkin terlampau tidak tega melihat bagaimana ekspresiku setelahnya.

Tiba-tiba ada sesuatu dalam diriku yang bergejolak dan hendak tumpah, yang akhirnya aku tahu itu adalah semua kesedihan, kekecewaan, kemarahan dan kebencian kepada Ayahku. Dalam hidupku, hanya sampai umur 12 tahun aku menganggap Ayahku adalah sosok Ayah yang baik. Selebihnya, sejak hari itu hingga sekarang umurku 25 tahun, apa yang aku bayangkan dari Ayah adalah hanya kebencian.

Ayah meninggalkan aku dan Ibu saat usiaku 12. Hari itu Ayah menyeret kopernya keluar rumah, Ibu menahannya, yang kudengar adalah teriakan, tangisan Ibuku, dan suara tamparan Ayah pada Ibu. Beberapa minggu kemudian telah ku ketahui bahwa Ayah menikah lagi. Ibuku? Sakit jiwa. Aku tidak mengerti apa yang diderita Ibu secara spesifik. Namun setidaknya itu yang aku tangkap dari apa yang Psikiater katakan saat ia memeriksa Ibu.

Setahun sebelum kepergiannya, aku merawat Ibu sendiri dan budhe sesekali mengunjungi kami. Emosi ibu tidak stabil. Ibu yang melamun sendiri di depan jendela kamarnya, lalu tiba-tiba marah dan membanting semua barang-barang adalah hal yang aku lihat setiap hari. Ibu rutin minut obat meski kadang-kadang kambuh dan akhirnya tutup usia saat usiaku 17.

Apa yang kuharapkan saat pemakaman ibu adalah Ayah datang. Namun sampai hari ini, aku tidak pernah melihatnya lagi. Ayah meninggalkan kita, itu membuat Ibu sakit jiwa. Mereka berdua meninggalkanku dan aku sendirian. 

Aku jatuh terduduk di dapur. Budhe menenangkanku yang menangis. Hal yang tidak pernah benar-benar aku pahami, aku tahu aku masih mengharap Ayah datang kerumah ini lagi, betatapun aku membencinya. Sama seperti perempuan, anak-anak, dan orang tua yang ditinggalkan kekasih, abang, dan anak-cucu mereka dalam pelayaran Portugis 6 abad lalu dan masih mengharap kehadiran mereka, hal yang sama juga terjadi padaku. Ayah memutuskan untuk pergi dan aku kehilangannya, lalu aku membencinya, tapi masih mengharap kehadirannya. Selama ini aku tidak pernah bisa benar-benar melepaskan Ayah, aku mengubur Ayah dalam egoku.

The Platform

Genre: Sci-Fi/Thriller

Sutradara: Galder Gaztelu-Urrutia

Tahun: 2019

Film Spanyol besutan sutradara Galder yang ditayangkan pada platform Netflix ini memberikan gambaran pada penonton akan perjuangan tahanan yang terjadi pada setiap level. Dimana pada realitanya hal seperti ini merupakan gambaran dari kondisi yang terjadi di dunia nyata. Film yang sarat akan kekejian dan perebutan makanan oleh penghuni tahanan, menyiratkan dengan jelas bahwa terdapat kesenjangan sosial yang terjadi, baik pada penjara tersebut ataupun pada masyarakat.

Film ini dimulai dengan sebuah proses yang berjalan pada level 0, dimana orang-orang pada bagian tersebut merupakan gambaran akan sistem yang mengatur dan memiliki privilege terbesar akan apa yang terjadi pada level dibawahnya. Pada film, level inilah yang nantinya akan menentukan dan memberikan makan apa pada tahanan di bawah. Hal-hal yang berjalan secara terorganisir, perfeksionis, dan terstruktur pada level ini, merupakan suatu hal yang kontradiktif dengan keadaan yang didapati para tahanan. Dimana pada setiap Ievel yang bertambah turun, bertambah pula kesensaraan dan keputusasaan yang dirasakan oleh mereka.

Berbagai kejadian keji bermula dari seorang tokoh bernama Goreng, yang merupakan tokoh utama pada film ini. Goreng yang merupakan seorang tahanan, masuk secara sukarela demi mendapatkan sertifikasi diploma yang akan didapat ketika ia keluar dari penjara nantinya. Seiring dengan berjalannya waktu, timbul adanya kesadaran akan perjuangan dan perlawanan sistem yang harus dilakukan bersama oleh setiap tahanan. Hal ini didapati Goreng setelah melihat dan mendapati berbagai sisi liar manusia pada setiap level yang akan terus turun.

Berbagai kengerian tergambarkan secara vulgar dari setiap scene yang terjadi pada film. Dimana mimbar yang membawa makanan akan bergerak turun dan memberikan makan bagi tahanan beruntung yang ada di level atas -atau setidaknya level tengah dengan memakan bekas-bekas makanan yang tersisa walaupun telah tercampur dengan berbagai hal, termasuk kotoran. Tahanan yang saling berebutan dan memakan sepuasnya, merupakan gambaran akan bentuk ketamakan seseorang pada masyarakat. Dimana orang-orang ini mengakuisisi kepemilikan akan suatu makanan secara semena-mena dengan tidak memedulikan tahanan di bawahnya.

Tak cukup dengan kondisi yang ditampakkan pada level menengah, film ini pun menampakkan akan bagaimana kondisi tahanan di level terbawah. Dimana mereka harus bertindak sesuai dengan keadaan mereka. Para tahanan ini siap untuk saling memakan satu sama lain, seperti apa yang telah dilalui Goreng pada jalannya film. Goreng yang telah melalui ketiga macam level, mencoba untuk menyadarkan akan sesama tahanan, namun apa yang didapat justru pencelaan dan perlawanan dari tahanan lain. Hal ini membuat Goreng harus melakukan aksinya melalui kekerasan demi kepentingan bersama. Bukanlah hal yang asing bukan pada dunia nyata? Dimana hal tersebut identik dengan perjuangan kelas yang dapat dilalui dengan tindakan revolusioner.

Goreng sendiri tergambarkan sebagi seorang idealis sejati, dimana semenjak hari pertama ia telah mencoba untuk melakukan perlawanan terhadap sistem yang berlaku pada setiap tahanan. Selain itu, wujud kenampakan yang ingin diperlihatkan film pada sosok Goreng sendiri terlihat dari sebuah buku yang ia bawa, Don Quixote De La Mancha. Dimana buku ini merupakan kisah seorang kesatria yang berjuang melawan para monster raksasa, yang ternyata hal tersebut hanyalah imajinasi dari kesatria tersebut. Keadaan yang dialami dan dihadapi sosok Goreng di film ini sama dengan sosok Don Quixote pada buku, bahkan gambaran fisik pun terlihat serupa.

Pada film ini sosok akan tokoh antagonis dan protagonis pun menjadi kabur karena tuntutan dari sistem yang terjadi pada tahanan. Berbagai isu, baik isu sosial, ekonomi, dan permasalahan rasial pun tersaji menjadi suatu sistem yang saling mengikat. Kecacatan akan sistem pun ditunjukkan dengan twist pada bagian akhir film. Dimana seorang tahanan yang tidak semestinya ada, justru terdapat pada level terbawah. Gambaran penting lain yang menggambarkan masyarakat pada film ini yaitu level dari setiap tahanan yang akan selalu berpindah, menggambarkan akan bagaimana seseorang di dunia nyata tidak dapat memilih untuk terlahir dari kelas sosial yang diinginkan. Mereka harus melalui berbagai rintangan dan melawan sesamanya, walaupun moralitas yang menjadi taruhannya.

[Dimas Nugroho]

“KITA” MAHASISWA

Perkenalkan, aku adalah mahasiswa
Yang katanya selalu berjajar membela rakyat
Disebut sebagai civitas akademika karena melawan birokrasi
Namun pada era ini katanya hilang eksistensi

Tahun 1998 kata “kita” seakan menjadi agung bagi mahasiswa
Kata “kita” menyatukan mahasiswa, rakyat dan Indonesia
Tapi itu dulu pada era birokrasi menggila
Namun pada era ini apa arti “kita” bagi mahasiswa ?

“Kita” ialah sebuah kata pronomina pesona pertama
Yang terdefinisi dengan begitu banyak arti
Dan semua terarah pada sebuah makna
Tapi sering diartikan kata romantis muda mudi

Namun kini kata “kita” menjadi begitu tabu bagiku
Sering tak selaras dengan hati walau terbelenggu
Tak jarang kata “kita” seakan menjadi benalu
Tapi tetap ku terjebak pada sebuah gang buntu

Hai mahasiswa! Kini apa arti “kita” bagimu ?
Masihkah “kita” menjadi tanggungjawab sosialmu ?
Masihkah kepentingan bersama menjadi prioritas bagimu ?
Ataukah sudah tergerus zaman dan egoismu ?

”Tugas mahasiswa adalah belajar
namun sungguh sangat rugi jika belajar disempitkan 
hanya sebatas bangku perkuliahan saja“
Begitu najwa shihab berkata 

Lalu bagaimana saat ini hai mahasiswa yang agung!
Membawa nama universitas kasana kemari
Memakai jas sekedar untuk sombong pada teman SMU
Namun kerjamu tak berarti bagi negeri

Sungguh aku malu disebut sebagai mahasiswa
Dihormati sebagai orang berpendidikan
Menjadi harapan rakyat bagi keberlangsungan bangsa
Namun yang kulakukan hanya berdiam diri saja

Sungguh teman-temanku wahai mahasiswa 
Tunjukkan pada mereka bahwa kata “kita” tidak mati
Wujudkan tanggungjawab sosial “kita” hai mahasiswa!
Generasi muda bangsa Indonesia!

[Dev]