Pesan Untuk Jingga Yang Terluka

Kepada Jingga yang terkasih, telah lama aku mengenalmu di dalam perjalanan kehidupanku, satu tahun lebih lamanya. Banyak sekali cerita yang telah kita lalui bersama- sama dari cerita tentang pertemanan, tentang perjuangan, tentang menjadi dewasa, tentang percintaan, hingga cerita menyeramkan pun dirasakan.

Awal berkenalan denganmu semua seakan baik-baik saja, tak ada bedanya dirimu dari saudaramu yang lain. Engkau dikenal sebagai salah satu saudara tertua diantara saudaramu yang lain. Tampilan luarmu membuatku berpikir betapa sederhananya engkau dibanding dengan saudara yang berumur sepantaran denganmu. Namun, lebih lama dan jauh mengenalmu, semua hal yang aku pikirkan tentangmu telah berubah. Kau yang dulu aku anggap wajar dan baik-baik saja ternyata penuh luka.

Jingga, aku mengira dirimu memiliki penampilan yang begitu asri dan rindang, ada banyak pepohonan yang tumbuh subur di sekitarmu, sampai sulit melihat dirimu karena tertutup lebatnya pepohonan. Pepohonan yang aku anggap menenangkan dan menyejukan itu ternyata juga menyimpan ragam masalah. Lebatnya pepohonan di sekitarmu, mengakibatkan lembabnya tanah  dan banyak rumput liar yang tumbuh. Ketika hujan tiba, jalanmu yang bergelombang menjadi tempat air untuk menggenangkan diri kerena tak dapat mengalir menuju irigasi. Apakah engkau memang memiliki irigasi yang buruk sehingga air tak dapat mengalir?

Engkau memiliki ruang terbuka yang berukuran tak cukup besar, tempat yang kau sebut TSW (Taman Super Wi-fi). Dari awal mengenalmu, aku curiga dengan nama yang engkau berikan kepada tempat tersebut, agaknya melebih-lebihkan untuk diucapkan    . Akan benar sesuai dengan nama taman tersebut jika Wi-fi digunakan pada jam 12 malam ketika keadaan telah sepi.

 

Tak hanya nama taman yang tak sesuai dengan kenyataan, pencahayaan yang engkau berikan pada saat malam tiba juga sangat minim untuk digunakan sebagai ruang umum akibat dari lampu yang engkau berikan terlalu hemat untuk menerangi taman tersebut. Menghasilkan suasana yang remang cenderung horor, tidak bersahabat dengan para mahasiswa untuk membaca dan berdiskusi. Dedaunan yang jatuh dari pepohonan yang tak dibersikan menambah kesan seram sebagai tempat umum. Apakah engkau memang sengaja begitu adanya untuk membatasi ruang sosial mahasiswa untuk berdiskusi dan mencari ilmu? Ataukah begitu caramu membatasi ruang mahasiswa untuk membicarakanmu dari luar hingga dalam dirimu?

Masih ada sudut toilet yang tidak terawat bahkan lebih layak menjadi gudang saking kacaunya tempat itu. Bagaikan perasaan yang sensitif, dibutuhkan perawatan khusus untuk menjaga kebersihan itu. Kebersihan tempat tersebut juga datang dari mereka yang menggunakan, namun sebagai sudut “kotor” saja engkau masih belum memberikan fasilitas kebersihan. Bagaimana kebersihan bisa tercipta jika alat kebersihan sabun atau cairan pembersih saja masih kurang bahakan tidak tersedia?

 

 

Beranjak lebih kedalam, Jingga, engkau masih menggunakan peralatan penunjang pembelajaran seperti kursi dan bangku – mahasiswa sekarang menyebutnya “kursi prasejarah” yang kurang atau bahkan dikatakan tidak layak lagi digunakan. Kursi yang terlihat rapuh dan ringkah ketika digunakan sudah memakan cukup banyak korban akibat diduduki. Hal ini aku lihat sendiri sejak pertama mengenalmu. Kenyamanan dalam menjalankan kelas perkuliahan saja sulit didapatkan akibat tidak ada ruang yang nyaman ketika menggunakan kursi kayu tersebut. Bahkan saudara-saudaramu tidak ada yang memakai kursi semacam itu di dalam ruang kelas mereka.

Jingga, masih banyak yang harus engkau benahi dan perbaiki lagi, seperti tempat sampah, ruang sekret, lapangan olahraga dan fasilitas umum lainnya yang masih belum bisa dikatakan layak untuk digunakan. Besar harapan para mahasiswa yang menempatimu untuk mendapatkan keadilan berupa fasilitas yang memadai. Tidak hanya untuk mahasiswa yang menempatimu, tatapi mereka yang dari luar juga bisa menilai dan menempatimu dengan nyaman jika engkau memiliki fasilitas yang layak.

 

 

Kalimat penutup pesan ini untukmu, Jingga, Bagaimana kabarmu saat ini? Semoga engkau lekas sembuh dan untuk “mereka” yang bertanggung jawab kepadamu ,semoga dapat merawatmu dan membesarkanmu lebih baik lagi.

Penulis : Muhammad Rizky Al Zam Zami

Editor: Tim redaksi LPM Prima

Gie (2005)

Judul: Gie

Tahun: 2005

Sutradara: Riri Riza

Pemeran: Nicholas Saputra, Jonathan Mulia, Sita Nursanti 

Rating IMDB: 7.6/10

 

Film berjudul “Gie” adalah film biografi yang diadaptasi dari buku “Catatan Seorang Demonstran” karya Soe Hok Gie. Film yang diangkat dari kisah hidup Soe Hok Gie ini ditayangkan secara perdana pada tahun 2005.

Gie merupakan sebuah film yang menceritakan tentang kisah perjuangan seorang aktivis dan demonstran muda (Soe Hok Gie) yang melawan ketidakadilan untuk rakyat Indonesia pada masa Ir. Soekarno. Dengan pemikiran kritisnya terhadap politik, Gie seorang mahasiswa sastra Universitas Indonesia menggunakannya untuk memperjuangkan kesejahteraan rakyat Indonesia.

Di dalam isi film memperlihatkan tentang semua cerita Gie dari kecil hingga kematiannya di Gunung Semeru. Tidak hanya tentang biografi Gie, di dalam film juga memperlihatkan sejarah nyata kesengsaraan masyarakat Indonesia di tangan Ir. Soekarno. Berbagai hal seperti aktivis, demonstrasi, konflik, politik akan diperlihatkan di film itu.

Di luar dari kericuhan yang diceritakan, film ini juga menunjukkan tentang kisah cinta dari tokoh utama yaitu Gie. Film dibungkus rapi dengan berbagai karya puisi dari Gie sendiri. Hal ini membuat film terasa lebih hidup dan Indah. Hal ini menjadi kelebihan sendiri dari film ini dan cocok untuk seseorang yang menyukai sastra.

Film ini layak untuk ditonton karena film ini juga mendapatkan berbagai prestasi di dunia perfilman Indonesia. Film ini berhasil mendapatkan tiga penghargaan pada Festival Film Indonesia tahun 2005 melalui kategori Film Terbaik, Aktor Terbaik, dan Penata Sinematografi Terbaik.

Film ini cocok buat kalian terutama seorang mahasiswa yang sedang memperjuangkan kesejahteraan rakyat bawah. Dengan menonton film ini, mungkin anda bisa jadi akan termotivasi untuk belajar lebih tentang nilai kritis, aktivis dan demonstrasi. 

 

Penulis: Lio April Setiawan

Editor: Tim Redaksi LPM PRIMA FISIP

Filosofi Teras

Penulis : Henry Manampiring 

Oleh : Sri Rahayu

Anggota LPM PRIMA

Mahasiswa Kesejahteraan sosial, Fisip, Unej.
 

Sinopsis Buku

"Kita memiliki kebiasaan membesar-besarkan kesedihan. Kita tercabik di antara hal-hal masa kini dan hal-hal yang baru terjadi. Pikirlah apakah sudah ada bukti yang pasti mengenai kesusahan masa depan. Karena sering kali kita lebih disusahkan kekhawatiran kita sendiri.” – Seneca

 

Isi Resensi 

"Filosofi Teras" merupakan sebuah karya filosofi yang ditulis oleh Henry Manampiring. Buku ini menawarkan pemahaman mendalam tentang berbagai aspek kehidupan manusia dan memberikan sudut pandang filosofis yang menarik.

Manampiring memulai bukunya dengan memperkenalkan konsep "teras" sebagai landasan utama dalam menjalani kehidupan. Ia berpendapat bahwa teras merupakan inti atau pusat dari segala sesuatu yang ada. Menurutnya, untuk mencapai kehidupan yang bermakna, manusia harus menyelami teras mereka sendiri dan memahami diri serta hubungannya dengan dunia di sekitarnya.

Buku ini tidak hanya membahas filosofi secara teoritis, tetapi juga memberikan panduan praktis untuk menerapkan prinsip-prinsip filosofis dalam kehidupan sehari-hari. Manampiring mengeksplorasi berbagai topik seperti kebahagiaan, kesadaran diri, cinta, tujuan hidup, dan makna hidup.

Salah satu kekuatan buku ini adalah gaya penulisan yang jelas dan lugas. Manampiring mampu mengomunikasikan ide-idenya dengan cara yang mudah dipahami oleh pembaca yang tidak memiliki latar belakang filosofi yang mendalam. Ia menggunakan contoh-contoh nyata dan anekdot pribadi untuk memperkuat argumennya dan membuat bukunya lebih relevan bagi pembaca.

Selain itu, "Filosofi Teras" juga menyajikan sudut pandang yang berbeda-beda dengan memasukkan gagasan-gagasan dari filosofi Timur dan Barat. Ini memberikan keragaman pemikiran dan memperkaya pemahaman kita tentang kehidupan dan eksistensi.

Namun, ada beberapa kritik yang dapat diberikan terhadap buku ini. Meskipun Manampiring mencoba untuk memberikan panduan praktis, beberapa pembaca mungkin merasa bahwa beberapa konsep yang disajikan masih terlalu abstrak dan sulit diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, beberapa bagian buku terasa repetitif dan bisa jadi memperlambat ritme pembacaan.

Secara keseluruhan, "Filosofi Teras" adalah sebuah buku yang menarik bagi mereka yang tertarik dengan pemikiran filosofis dan mencari pemahaman yang lebih dalam tentang makna hidup. Henry Manampiring berhasil menyampaikan pesan-pesannya dengan jelas dan memberikan wawasan yang bernilai bagi para pembaca. Meskipun tidak sempurna, buku ini tetap layak dibaca oleh siapa saja yang ingin memperluas pandangan mereka tentang kehidupan dan eksistensi manusia.
 

Kelebihan 

  1. Pendekatan yang jelas dan lugas

Penulis, Henry Manampiring, menggunakan gaya penulisan yang mudah dipahami dan tidak terlalu teknis. Ia mampu menyampaikan konsep-konsep filosofis dengan bahasa yang sederhana dan lugas, sehingga pembaca yang tidak memiliki latar belakang filosofi yang mendalam dapat dengan mudah mengikuti pemikirannya.

  1. Keterhubungan dengan kehidupan sehari-hari

Salah satu kelebihan utama buku ini adalah kemampuannya untuk menghubungkan konsep filosofis dengan kehidupan nyata. Manampiring menggunakan contoh-contoh nyata dan anekdot pribadi untuk memperjelas dan memperkuat argumennya. Ini membantu pembaca melihat relevansi dan penerapan langsung filosofi dalam kehidupan sehari-hari.

  1. Keragaman pemikiran

Buku ini menggabungkan gagasan-gagasan dari filosofi Timur dan Barat, memberikan sudut pandang yang beragam dan memperkaya pemahaman kita tentang kehidupan dan eksistensi. Pembaca akan mendapatkan paparan yang komprehensif tentang berbagai aliran pemikiran filosofis dan dapat menggali perspektif yang berbeda-beda.

  1. Inspirasi dan pemotivasian

"Filosofi Teras" tidak hanya menawarkan pemahaman konseptual, tetapi juga memberikan panduan praktis dan inspirasi untuk menghadapi tantangan hidup. Buku ini mengajak pembaca untuk mempertimbangkan makna hidup, menemukan tujuan hidup, dan hidup dengan penuh kesadaran. Hal ini dapat memberikan motivasi dan inspirasi bagi pembaca untuk menjalani kehidupan yang lebih bermakna.

  1. Gaya penulisan yang menarik

Henry Manampiring mampu mengemas ide-idenya dengan cara yang menarik dan menghibur. Buku ini tidak terasa kaku atau terlalu akademis, tetapi tetap menyenangkan untuk dibaca. Gaya penulisan yang mengalir membuat pembaca terlibat secara emosional dan terhubung dengan materi yang disampaikan.
 

Kelemahan 

  1. Konsep yang terlalu abstrak

Meskipun penulis berusaha memberikan panduan praktis, beberapa konsep yang disajikan dalam buku ini masih terasa abstrak dan sulit untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Pembaca mungkin mengalami kesulitan dalam menghubungkan konsep filosofis dengan pengalaman pribadi mereka atau mengimplementasikannya dalam tindakan nyata.

  1. Pengulangan yang berlebihan

Ada beberapa bagian dalam buku yang terasa repetitif, dimana penulis sering kali mengulang konsep atau gagasan yang sama dengan cara yang berbeda. Ini dapat memperlambat ritme pembacaan dan membuat pembaca merasa bosan atau kehilangan minat.

  1. Ketidakkeseimbangan dalam penggunaan referensi

Meskipun buku ini mencoba memadukan filosofi Timur dan Barat, ada kecenderungan untuk lebih memperhatikan pandangan Barat daripada Timur. Pembaca yang mencari wawasan yang lebih dalam tentang filosofi Timur mungkin merasa kurang terpenuhi, karena penulis lebih fokus pada pemikiran Barat.

  1. Kurangnya kritik atau sudut pandang yang berbeda

Buku ini terutama mencerminkan pandangan dan pemikiran penulis sendiri, dengan sedikit ruang bagi sudut pandang atau kritik yang berbeda. Sementara buku ini menghadirkan banyak gagasan yang menarik, pembaca mungkin merasa kurang mendapatkan pandangan alternatif yang dapat memperluas perspektif mereka.

  1. Kurangnya pengembangan konsep yang lebih mendalam

Beberapa konsep yang diperkenalkan dalam buku ini mungkin hanya disentuh secara permukaan, tanpa pengembangan yang lebih mendalam. Ini dapat membuat pembaca yang ingin mendapatkan pemahaman yang lebih komprehensif merasa kurang puas.
 

Identitas buku

Judul Buku: Filosofi Teras

Penulis: Henry Manampiring

Penerbit: PT Kompas Media Nusantara

Tahun Terbit: 2018

Tebal Buku: xxiv +320 halaman

ISBN: 978-602-412-518-9

Flipped

Judul : Flipped

Tahun : 2010

Sutradara : Rob Reiner

Pemeran : Callan McAuliffe, Madeline Carroll, Anthony Edwards, John Mahoney, Rebecca De Mornay.

Genre : Komedi, Drama, Romance

Rating IMDB : 7,7

 

Film Flipped merupakan film yang diadaptasi dari novel dengan judul yang sama karangan Wendelin Van Draane. Film ini dibuat dengan latar tahun 1960-an, dimulai pada tahun 1957 ketika seorang anak kecil bernama Bryce Loski (Callan Mcauliffe) pindah ke rumah baru bersama keluarganya. Saat memindahkan barang, Bryce bertemu dengan Juli Baker (Madeline Carroll). Juli seketika menyukai Bryce, cinta pada pandangan pertama. Namun tidak dengan Bryce yang justru merasa tidak nyaman dengan pertemuan pertama mereka. Seketika itu Bryce berusaha mencari cara untuk menjauhi Juli, salah satu caranya yaitu dengan mengencani Shelly Stalls. 

Namun, hubungan Bryce dan Shelly tak bertahan lama, karena Shelly tak menyukai alasan Bryce mengajaknya kencan. Bermacam upaya dilakukan Bryce untuk menjauhi Juli, namun gagal karena mereka satu sekolah dan tinggal berdekatan. Pada tahun 1962, kakek dari bryce, Chet Duncan (John Mahoney), datang dan tinggal bersama keluarganya. Chet kemudian berkenalan dengan Juli dan menganggapnya sebagai gadis yang spesial.

Di sekitar perumahan tempat mereka tinggal terdapat pohon besar yang sangat dicintai oleh Juli, namun sayang pohon tersebut telah ditebang untuk dibangun sebuah rumah dan membuat Juli merasa sedih. Sempat terjadi permasalahan kecil ketika Juli mendengar obrolan Bryce yang menjelekkannya, sehingga membuat Juli marah. Juli kemudian mulai menjauhi Bryce, sehingga membuat Bryce merasa bersalah dan mulai membuka perasaan kepada Juli.

Film berdurasi 90 menit ini memberikan kisah cinta remaja yang ringan dan mampu mengikat penonton akan kisah asmara mereka berdua. Tidak adanya kisah percintaan yang begitu kompleks membuat film ini nyaman untuk dilihat dan mudah dinikmati. Tak hanya itu, yang menarik dari film ini yaitu bagaimana sang sutradara menyuguhkan film dari dua perspektif antara Bryce dan juga Juli sehingga kita sebagai penonton mudah untuk memahami alur film ini. Selain dari unsur film yang ditampilkan secara sederhana, soundtrack yang digunakan dalam film ini juga enak untuk didengar.

Kekurangan dari film ini mungkin dari kisahnya yang terbilang sangat sederhana, tidak ada plot twist yang menarik dan juga alur cerita yang terkesan datar-datar saja. Meski begitu film ini tetap mendapat banyak masukan yang positif dari penonton dan masuk dalam nominasi best comedy dalam Grownups Award.

 

Penulis : Ghoffar Machmud

Editor : Tim Redaksi LPM PRIMA FISIP

What’s So Wrong About Your Self Healing

Penulis : Ardhi Mohamad

Oleh : Sri Rahayu

Anggota LPM PRIMA

Mahasiswa Kesejahteraan sosial, Fisip, Unej.

 

Sinopsis Buku 

Sebenarnya, kita butuh banget untuk selalu punya harapan hidup, karena bisa menjadi faktor terbesar kita bergerak. Walaupun kita berkali-kali menaruh harapan di tempat yang salah. Eventually, kita lagi-lagi membuat harapan baru, dan dari situ jadi penggerak untuk kita terus maju.

It is fascinating sebenarnya, kalau kita melihat orang-orang yang kehilangan orang-orang tersayang dalam hidupnya. Orang-orang penting dalam hidupnya, Ayah dan Ibu yang meninggalkan mereka duluan, atau cintanya, atau anak kesayangannya. Walaupun hancur pada saat itu, mereka akan bangkit seiring berjalannya waktu. (Hal 83)

 

Isi Resensi

Buku "What's So Wrong About Your Self Healing" yang ditulis oleh Ardhi Mohamad adalah sebuah buku yang mengajak pembaca untuk memahami pentingnya melakukan proses penyembuhan diri sendiri.

Buku ini mengungkapkan bahwa kita sebagai manusia memiliki kemampuan untuk menyembuhkan diri sendiri, namun seringkali kita lebih memilih untuk mengandalkan obat-obatan atau terapi eksternal lainnya. Padahal, dengan memahami prinsip-prinsip dasar self-healing, kita dapat mempercepat proses penyembuhan dan membangun kembali keseimbangan tubuh kita.

Ardhi Mohamad menjelaskan dengan sangat jelas tentang konsep self-healing dan prinsip-prinsip dasarnya. Dia juga memberikan tips praktis tentang bagaimana cara melakukannya, seperti teknik pernapasan dan meditasi. Selain itu, buku ini juga membahas berbagai penyakit dan kondisi yang dapat diatasi melalui self-healing, termasuk stres, kecemasan, insomnia, dan bahkan kanker.

Pembaca akan merasa terinspirasi dan terbantu dengan buku ini, terutama bagi mereka yang mengalami masalah kesehatan kronis dan ingin mencari cara untuk memperbaiki kondisi mereka dengan cara yang alami. Ardhi Mohamad berhasil mengajak pembaca untuk memahami bahwa melakukan self-healing bukan hanya alternatif, tetapi juga merupakan pilihan yang cerdas dalam membangun kembali kesehatan dan keseimbangan tubuh kita.

 

Kelebihan

 

  1. Memberikan Penjelasan yang Jelas dan Mudah Dipahami

Penulis buku ini, Ardhi Mohamad, dapat mengkomunikasikan konsep self-healing dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami oleh pembaca. Hal ini memungkinkan pembaca untuk memahami prinsip-prinsip dasar self-healing dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

  1. Berisi Tips Praktis dan Mudah Diterapkan

Selain memberikan penjelasan tentang konsep self-healing, Ardhi Mohamad juga memberikan tips praktis dan mudah diterapkan untuk memulai proses penyembuhan diri. Tips ini mencakup teknik pernapasan, meditasi, dan latihan fisik lainnya yang dapat membantu pembaca untuk mencapai kesehatan dan keseimbangan tubuh mereka.

  1. Membahas Berbagai Masalah Kesehatan

Buku ini membahas berbagai masalah kesehatan yang dapat diatasi melalui self-healing, mulai dari stres dan kecemasan hingga penyakit kronis seperti kanker. Hal ini membuat buku ini relevan dan bermanfaat bagi siapa saja yang ingin memperbaiki kesehatan mereka.

  1. Menjadi Panduan bagi Siapa Saja

Buku ini dapat dijadikan panduan oleh siapa saja, tanpa memandang usia atau jenis kelamin. Buku ini akan membantu pembaca untuk memahami bagaimana cara melakukan self-healing dan memperbaiki kesehatan mereka secara alami.

 

Kelemahan

  1. Tidak Terlalu Terstruktur

Buku ini terkadang terasa tidak terstruktur dan terkesan sebagai kumpulan artikel atau esai yang terpisah-pisah. Hal ini membuat alur cerita terasa kurang jelas dan sulit untuk mengikuti secara sistematis.

  1. Kekurangan Data Ilmiah yang Kuat

Walaupun buku ini berusaha untuk mendukung konsep self-healing dengan beberapa referensi ilmiah, namun buku ini kurang menampilkan bukti yang cukup kuat dan konsisten untuk mendukung klaim-klaim yang dijelaskan.

  1. Kurangnya Fokus pada Aspek Kesehatan Mental

Buku ini terkadang kurang fokus pada aspek kesehatan mental dan mengabaikan pentingnya pemulihan emosi dan psikologis dalam proses penyembuhan diri.

  1. Tidak Memberikan Solusi yang Konkrit

Buku ini dapat memberikan beberapa teknik dan tips untuk memulai proses penyembuhan diri, namun tidak memberikan solusi yang konkrit untuk beberapa masalah kesehatan yang lebih kompleks.


 

Identitas buku 

Judul buku: What's So Wrong About Your Self Healing

Penulis: Ardhi Mohamad

Penerbit: Gagas Media

Tahun terbit: 2018

ISBN : 978-623-97002-1-8

Jumlah Halaman: 224 halaman

Lebar : 13.0 cm

Panjang : 20 cm

Laskar Pelangi

Penulis: Andrea Hirata

Oleh: Maulyda Putri Pangesti

Anggota LPM PRIMA

Mahasiswa Kesejahteraan Sosial, Fisip, Unej

Sinopsis

Di latar belakangi sebuah daerah terkaya di Indonesia yaitu Belitong. Novel ini menceritakan kehidupan anak-anak di Desa Gantung, Kabupaten Gantung, Belitung Timur. Anak-anak yang berasal dari keluarga miskin yang menempuh pendidikan di suatu sekolah, walaupun penuh dengan keterbatasan.

Sekolah penuh keterbatasan itu bernama Sekolah Muhammadiyah, sekolah yang terancam dibubarkan di hari pertama penerimaan murid baru. Surat peringatan yang diberikan oleh pemilik sekolah pusat berisi “10 orang atau tidak sama sekali”. Di detik-detik kepala sekolah berpidato bahwa pembelajaran tidak akan diselenggarakan, Ibu Muslimah dengan tekadnya mencari satu anak untuk memenuhi standar yang sudah diberikan. Lalu munculah Harun seorang “anak istimewa” yang menyelamatkan mereka semua.

Kisah mereka berawal disini, julukan Laskar Pelangi diberikan Bu Muslimah kepada kesepuluh anak-anak hebat ini. Dalam novel ini, kisah perjalanan Laskar Pelangi dalam menempuh pendidikan di SD Muhammadiyah ditemani dengan beragam emosi, baik rasa bahagia, dramatis hingga mengharukan.

Kelebihan 

Novel ini mengharukan dan memuat banyak pelajaran dan amanah. Diksi yang digunakan bagus dan mudah untuk dipahami. 

Kekurangan

Cover yang digunakan kurang menarik minat perhatian. 

Identitas Buku

Penulis: Andrea Hirata

Negara: Indonesia

Genre; Roman

Penerbit: Bentang Pustaka, Yogyakarta

Tahun Terbit: 2005

Halaman: xxxiv, 529 halaman

ISBN: 979-3062-79-7

The Psychology of Money

Penulis: Morgan Housel

Oleh: Sherly Ananda C

Anggota LPM Prima

Mahasiswa Administrasi Negara, Fisip, Unej

“Kamu bisa membangun kekayaan tanpa pendapatan yang besar, namun kamu tidak bisa membangun kekayaan tanpa mindset yang benar tentang uang”

-Morgan Housel

 

The Psychology of Money merupakan buku karya Morgan Housel. Buku The Psychology of Money menjadi salah satu buku best seller internasional yang telah diterbitkan lebih dari 26 bahasa sejak penerbitan pertama pada tahun 2020. Bahkan, buku ini termasuk dalam 10 buku terlaris di Amerika Serikat versi Amazon. Buku ini ditulis oleh Morgan Housel, seorang mantan kolumnis The Wall Street Journal dan pemenang berbagai penghargaan seperti Best in Business Award dari Society of American Business Editor & Writers. Buku The Psychology of Money terdiri dari 262 halaman, di mana setiap halaman buku ini dikemas dengan ringkas dan mudah dipahami oleh pembaca. Sebagai penulis buku 262 halaman tersebut, Morgan Housel membuat 19 cerita pendek yang mengeksplorasi pembaca untuk memahami persepsi uang dari sisi psikologis. 

Buku ini menceritakan tentang hubungan antara manusia dengan uang yang dilihat dari sudut pandang perilaku manusia. Dari 19 cerita pendek yang ada dalam buku ini mengisahkan kisah nyata dari dua orang yang memiliki latar belakang yang berbeda. Orang pertama bernama Ronald James Read, seseorang yang berprofesi sebagai petugas kebersihan pom bensin Amerika Serikat. Orang kedua bernama Richard Fuscone, seseorang yang berprofesi sebagai eksekutif di Perusahaan Manajemen Investasi Merril Lynch. Dimana ia seorang yang memiliki latar belakang sarjana Pendidikan Ekonomi dan merupakan lulusan kampus ternama dunia, Harvard University. Walaupun Ronald memiliki latar belakang yang berbeda dengan Richard, namun sepanjang hidup Ronald memiliki perilaku dan gaya hidup sederhana serta rajin menabung. Hal tersebut terbukti pada masa akhir hayat Ronald, ia mampu memiliki uang sebesar 8 juta USD atau sekitar 114,6 miliar rupiah. Dimana dari sebagian besar uang tersebut telah disumbangkan ke rumah sakit lokal dan perpustakaan.

Sementara itu, Richard yang memiliki latar belakang yang lebih beruntung bahkan ideal malah tidak mampu mengelola keuangan dengan baik. Ia berperilaku dan memiliki gaya hidup boros. Akibat perilaku dan gaya hidup Richard tersebut, membuat ia harus beberapa kali berhutang dan ketika terjadi krisis ekonomi pada tahun 2008 memaksa Richard untuk menyatakan kebangkrutan. Apabila berbicara mengenai pengetahuan, tentu Richard memiliki pengetahuan yang lebih besar daripada Ronald, namun apabila melihat perilaku dari keduanya tersebut. Ronald lebih beruntung atau memiliki nasib hidup yang jauh lebih baik daripada Richard. Sehingga, dapat diketahui bahwa latar belakang pendidikan dan profesi yang ideal belum tentu menjamin kesejahteraan hidup yang lebih baik apabila tidak diimbangi dengan perilaku dan gaya hidup yang sederhana, serta berorientasi pada masa depan.

Selain itu, dalam buku ini Morgan Housel memaparkan mengenai perbedaan yang mendasar antara makna rich dan makna wealth. Meskipun memiliki makna sama-sama kaya, namun Morgan Housel memaknai rich sebagai kekayaan yang terlihat dari seseorang, seperti rumah mewah, gadget terbaru, mobil mahal dan lain sebagainya. Sedangkan, wealth dimaknai sebagai kekayaan yang disimpan dan tidak serta merta dapat terlihat. Sehingga, terkadang seseorang tersebut dapat terlihat “rich” namun kenyataannya justru memiliki banyak hutang. Disisi lain, terkadang seseorang sebenarnya “wealth” namun tidak menunjukkan bahwa ia “rich”. Bagian akhir cerita pendek dalam buku The Psychology of Money tersebut, memaparkan bahwa Morgan Housel ingin memberikan saran mengenai suatu kekayaan yang telah dimiliki oleh seseorang sebaiknya untuk dipertahankan. Dalam mempertahankan kekayaan tersebut membutuhkan survival mindset, agar dalam mengambil keputusan dalam keuangan tidak dilakukan secara semena-mena.

Kelebihan dalam buku The Psychology of Money mampu dikemas dalam 19 cerita pendek yang memudahkan pembaca dalam memahami setiap cerita yang ada dalam buku ini. Selain itu, pembaca tidak harus membaca secara berurutan untuk menikmati tulisan-tulisan yang ada di dalamnya. Meskipun buku ini berbicara mengenai keuangan dan kekayaan, namun Morgan Housel berhasil membuat pembaca memahami buku ini dengan mudah melalui bahasa yang ia gunakan. Buku ini juga dapat dibaca oleh semua kalangan karena sangat berguna untuk mengetahui ilmu tentang pengelolaan keuangan. Morgan Housel juga menyampaikan bahwa sebaiknya kita hidup dengan kekayaan “wealth” daripada kekayaan “rich”.

 

Penulis : Morgan Housel

Penerbit : BACA

Tahun terbit : 2021 (cetakan pertama)

Tebal halaman : 262 halaman

Rumpang

Dia manusia yang membuatku merasa nyaman. Penyelamatku, cintaku, dan satu-satunya manusia tempatku bersandar. Ia hebat, pun kuat. Dia lelaki yang menyeretku dari gelapnya dunia. Dunia yang kala itu ku pandang sebagai neraka. Dunia dimana mereka menelantarkan anak gadisnya. Tempat yang membuatku trauma akan tatapan mereka. Dan ia datang, menatapku seraya tersenyum. Senyum yang tak pernah kulihat dari manusia manapun. Senyum murni yang menenangkan. Tangannya terulur menunggu untuk diraih. Dialah Sagara, laki-laki sebatang kara yang memiliki hati seluas lautan seperti namanya.

Kuberanikan diri menatap sorot matanya yang berbinar. Mata itu hitam dan bulat seakan menerawang. Ku ulurkan tanganku menggapainya. Kami duduk berdampingan di tepi jembatan. Ia tak bertanya, pun berbicara. Hanya menatap ke atas langit hitam tak berbintang sembari diiringi suara kendaraan yang ramai. Begitupun denganku, aku tak dapat berbicara sepatah katapun saat bersamanya. Di dalam benakku timbul banyak sekali pertanyaan seperti dia siapa, mengapa ia menemaniku, apakah ia mengenalku, berapa usianya, dari mana asalnya, dan banyak pertanyaan lain yang entah muncul darimana. Satu jam pun berlalu. Ia menoleh. Matanya menyorotiku seakan menembus ke relung jiwa. Kulihat bibirnya terbuka hendak berucap, tetapi berakhir diurungkannya. Sebenarnya apa mau manusia ini? Jika tak ingin berbicara, lalu mengapa ia menemaniku selama ini?

Malam itu hanya berlalu begitu saja tanpa ada percakapan di antara kami. Ia pergi begitu saja setelah menatapku dalam dan tersenyum seakan itu pertanda bahwa kita pasti bertemu lagi. Aku tertimpa perasaan asing yang tak bisa kuartikan sendirian. Perasaan bahwa aku ingin bertemu dengannya lagi dan memulai percakapan. Namun, apakah itu mungkin bagi diriku yang tampak lusuh ini. Senyumnya yang cerah telah menyelamatkanku yang ingin kabur dari bayangan mereka. Tatapannya membuatku memiliki harapan untuk berhenti berpikir bahwa mati adalah akhir dari segalanya. Auranya amat kuat hingga mengisi sedikit tenaga di jiwa dan ragaku. Untukmu, aku harap kita akan bertemu lagi.

Aku terus menelusuri jembatan panjang ini seraya berharap bertemu dengannya. Sejak pagi, tak henti-hentinya kulihat kendaraan yang melintas seolah ia ada disana. Petang pun tiba, ia tak kunjung menampakkan batang hidungnya. Kuputuskan untuk duduk menghadap sungai di bawah jembatan. Sungai yang kupikir akan menjadi akhir dari hidupku. Aliran sungai yang tak berhenti membuatku sadar bahwa waktu pun seperti itu. Waktu tak akan menunggu apalagi berhenti, itu mustahil. Sama sepertiku yang harus terus berjalan meskipun jiwa ingin beristirahat. Terkadang aku berpikir sebenarnya untuk apa aku dilahirkan. Katanya semua yang dilahirkan ke dunia merupakan anugerah dari tuhan. Tuhan mana yang mereka maksudkan? Tuhan mana yang membiarkan hambanya terlantar tak beraturan? Tuhan mana yang membuat seorang anak dibuang orang tuanya? Aku sungguh tak paham. Dunia ini seakan berpaling dariku yang hanya seorang gadis kecil sebatang kara. Tuhan, jika engkau memang ada, maka bawalah dia ke hadapanku. Biarkan ia yang menjadi perantaramu untuk melindungiku dan membawaku kembali ke jalanmu.

Malam telah kembali. Bulan pun menampakkan sinarnya yang lembut. Sapuan angin terasa sejuk membelai permukaan kulit. Kulihat seseorang datang menghampiriku. Wajahnya tersamarkan lampu jalanan yang menutupinya. Tangannya membawa sekantong plastik yang melambai terayun tangannya. Namun, aku tahu dia adalah seseorang yang kunanti. Saat dia mendekat, tanpa sadar ku lebarkan senyum ke arahnya. Tatapan lembut terpancar dari wajah laki-laki itu. Laki-laki yang berhasil menarikku dari kegelapan. Tuhan, kau berhasil meyakinkanku bahwa kau benar ada di dunia ini. Terimakasih telah menghadirkannya kembali di hadapanku.

“Kau menungguku?” ucapnya yang kubalas dengan cengiran.

Ia duduk disampingku seraya mengulurkan bingkisan itu yang kuterima tanpa rasa sungkan. Aku ingin bertanya, tetapi…

“Ini adalah makanan kesukaanku, aku harap kau juga menyukainya.”

“Terima kasih.”

“Maaf kemarin aku tak berbicara apapun karena kupikir kau butuh waktu.”

“Tak apa. Mengapa kau menghampiriku padahal kita tak saling mengenal?”

“Sebenarnya aku mengenalmu. Kau Azura, bukan? Kita tinggal di pemukiman yang sama.”

“Lalu kau siapa? Aku tak pernah melihatmu sebelumnya.”

“Namaku Sagara, rumahku tak jauh dari milikmu. Aku tau bahwa kau jarang bahkan hampir tak pernah keluar rumah.”

Ia bercerita panjang lebar mengenai bagaimana ia mengenalku, kisah yang kupikir tak ada orang lain yang tau, bagaimana ia menahan dirinya untuk tidak menemuiku, dan banyak cerita remeh temeh lain yang membuatnya terus membuka mulut. Namun, tak kusangka aku nyaman mendengarnya. Padahal ini merupakan kali pertama kami bercakap-cakap. Walau ku akui hanya dia yang berbicara sedangkan aku mendengarkan sembari menyantap makanan yang diberikannya. Aku menyantapnya dengan lahap karena tak menerima asupan selama sehari penuh. Tentu saja perutku berteriak kelaparan. Mendengar ceritanya, mengingatkanku kembali pada masa-masa suram itu. Dimana aku tak pernah dipedulikan dan selalu mendapat perlakuan kasar dari Ibu. Ibu yang sewaktu aku kecil sangat menyayangi dan melindungiku tiba-tiba saja berubah membenciku saat aku berusia 5 tahun. Harusnya aku tak perlu mengingatnya, tetapi pikiran berkehendak lain. Aku masih ingat ketika Ibu memaksaku masuk dalam bak mandi berisi air yang dingin. Aku menggigil hingga rona tubuhku pucat tapi ibu tak peduli. Saat itu aku berumur 6 tahun. Saat usiaku 9 tahun, ia membawa seorang lelaki ke rumah dan minum-minum yang berakhir dengan pelampiasan kemarahan Ibu padaku. Tak pernah sehari pun tubuhku bersih dari luka atau lebam. Walau aku sering merasakannya tetapi aku tak pernah terbiasa. Ingin aku kabur dari rumah dan mencari perlindungan baru. Namun, aku sadar bahwa aku hanya punya Ibu. Ibu yang masih kusayangi.

Saat ini aku berusia 12 tahun. Tepat 3 hari lalu Ibu meninggalkanku dan dunia ini. Aku tidak merasa senang karena orang yang memberiku trauma telah tiada. Karena ia lah satu-satunya Ibu yang kupunya. Sepeninggal Ibu, nenek yang tak pernah ku tahu datang ke rumah kami. Ia mengambil semua surat-surat yang ditinggalkan Ibu dan mengusirku dari tempat tinggalku sendiri. Aku berteriak marah padanya. Mengapa ia yang tak pernah berkunjung tiba-tiba mengambil barang yang bukan miliknya? Ibu macam apa tak pernah ingin tau kabar anaknya? Dan nenek mana yang menelantarkan cucunya? Namun, kalimat itu tak pernah tersampaikan. Kata terakhir yang kudengar darinya yaitu “Kau tak pantas menjadi cucuku! Manusia bermata biru itu tak pantas disebut keluarga. Pergilah pada ayahmu sang pecundang!”. Air mata yang luruh seketika membuat semuanya buram dan samar. Kulangkahkan kaki keluar rumah dan menelusuri jalanan malam tanpa membawa uang sepeserpun dengan pakaian seadanya. Di malam itu, ketika pertama kali bertemu dengannya.

“Kau tidak apa? Azura!”

Suaranya membuatku tersadar akan lamunan peristiwa beberapa hari yang lalu. Aku terkesiap ketika merasakan jemarinya menelusuri pipi seraya menghapus air mataku. Ah, ternyata aku menangis. Betapa malunya aku sekarang hingga ingin menjatuhkan diri ke sungai itu. Sagara terdiam memberiku waktu untuk menenangkan diri. Aku sangat menyukai kepekaannya tersebut.

“Kau tidak pulang, Sagara?” Tanyaku padanya.

“Kau juga tidak pulang, aku akan menemanimu, jika kau mau.”

“Mengapa?”

“Aku tak ingin kau sendirian.” 

“Baiklah.”

Hampir setiap hari Sagara menemuiku di jembatan itu dan ia selalu membawakanku sesuatu seperti makanan, pakaian, bahkan sejumlah uang yang sering kali kutolak. Aku hanya merasa bahwa aku tak pantas untuk menerimanya. Sudah setahun lamanya sejak kematian Ibuku, dan ia masih bersikap sama seperti awal kami bertemu. Aku merasa senang sekaligus takut suatu saat ia akan pergi meninggalkanku. Aku sudah memiliki tempat tinggal. Saat itu, Sagara mengenalkanku pada sebuah panti asuhan di dekat kota. Aku menurut saja karena memang membutuhkannya. Beruntung ibu dan pengurus panti disana sangat baik dan tulus merawat anak-anak yang membutuhkan perlindungan. Karena usiaku yang beranjak remaja, maka aku pun ikut membantu mengurus anak-anak kecil yang ada di panti.

Kringg,,,, kringg,, kriingg!!!!!

“Ibu ada telpon!” Teriakku pada penjaga disana.

“Itu mungkin untukmu, angkatlah!”

“Halo, dengan Azura disini.”

“Halo Azura, kau merindukanku?” Nada bicara yang sangat kukenal.

“Kakak! Ada apa?” Aku kegirangan menerima telpon darinya.

“Ayo kita bertemu nanti, ada yang ingin kakak bicarakan denganmu.”

“Siap kak! Sampai jumpa nanti malam.”

Ya. Aku memanggilnya kakak sejak tau bahwa dia lebih tua dariku. Umur kami selisih 6 tahun dan ia sekarang berumur 19 tahun sedangkan aku 13 tahun. Malam ini aku bertemu dengannya di ruang tamu panti kami. Tak biasanya kita berbicara di dalam ruangan seperti ini. Apa pembicaraan ini sangat serius atau kak Sagara hanya tidak ingin kita pergi keluar. Entahlah.

“Hai Azura, bagaimana kabarmu hari ini?”

“Halo Kak, aku senang menantikan pertemuan ini.”

Kita pun berbincang dari hal yang remeh temeh seperti menceritakan kisah hari ini atau kisah berkesan lainnya seperti pertemuan kita biasanya. Hingga ia mulai menatapku lebih dalam dan sorot matanya seakan menembus penglihatanku. Aku tau hal ini sangat serius. Aku pun menyiapkan hati untuk mendengarkan apa yang akan diutarakannya. Dan ia pun berkata…

“Azura, aku akan meninggalkan negara ini dan pergi ke luar negeri untuk sementara waktu.”

Aku terdiam, terpaku sejenak mendengar perkataannya. Apa maksudnya dia akan pergi meninggalkanku?

“Aku tau seharusnya aku tetap menemanimu, tetapi aku harus pergi. Waktuku tidak bersisa banyak.”

“Sebenarnya apa yang sedang terjadi? Apa yang kakak maksud untuk pergi? Apa terjadi sesuatu dengan dirimu?”

“Aku diminta mengunjungi keluargaku di China. Mereka memintaku untuk menemui nenekku yang sedang sekarat. Maaf aku memberitahumu secara mendadak.”

“Ternyata seperti itu. Tak apa pergilah. Kau tetap akan kembali, bukan?”

“Aku harap bisa kembali setidaknya dalam 3 tahun.”

“APA?! 3 TAHUN?!” kunjungan keluarga macam apa hingga selama itu.

“Aku harus mengurus keperluan dan pabrik milik keluargaku disana. Maaf aku tak bisa menceritakannya lebih rinci lagi.” Raut wajahnya terlihat amat khawatir dan penuh penyesalan. Ia mengatakannya dengan air mata yang tertahan di pelupuk matanya.

“Baiklah, aku hanya bisa mendoakanmu dan berharap kau kembali secepat mungkin. Aku tau bahwa aku bahkan tak bisa jadi keluargamu. Namun, aku harap kau menganggap dan mengingatku sebagai orang terdekatmu.”

Ia pergi begitu saja setelah kami berpelukan. Pelukan pertama dan terakhir yang pernah kami lakukan. Ia pergi dengan senyuman yang menyiratkan kegundahan. Aku pun melepasnya dengan senyuman menyakitkan. Tak kusangka akhirnya aku pun melepas kepergiannya di hadapanku sendiri. Walaupun aku tau ia akan kembali, tetapi 3 tahun adalah waktu yang tidak sebentar. Terutama bagi kami yang sering menghabiskan waktu bersama.

Pada awal kepergiannya aku seperti merasakan déjà vu. Berat sekali menjalani hari tanpa kehadirannya. Berbulan-bulan aku menangis merindukannya. Mengharapkan suatu telpon atau pesan darinya. Hingga air mataku kering tak bersisa. Dan perasaan ditinggal oleh manusia tempat kita bernaung terulang kembali. Namun, sekarang berbeda dengan perasaanku saat ditinggal Ibu dulu. Aku masih punya harapan bahwa dia akan kembali suatu hari nanti. Hari-hari saat aku dan Sagara bercerita dan tertawa bersama terus terngiang di kepalaku. Aku ingat ketika dia mengajakku ke taman bermain di pinggir kota, betapa senangnya kami saat itu. Aku bercerita padanya bahwa itu kali pertamaku pergi ke taman bermain yang diresponnya dengan wajah muram karena dia merasa empati saat itu. Dia selalu ada saat aku membutuhkannya. Terutama saat aku teringat dengan perlakuan kasar Ibu. Aku tau penyebab ibu dan nenek berlaku kasar padaku. Ternyata mataku mengingatkan mereka pada seseorang yang menghancurkan hidup Ibuku. Ia menelantarkan kami dan pergi bersama wanita selingkuhannya. Aku tau dari tetangga lamaku yang kutemui beberapa hari lalu. Miris sekali hidupku ini.

Kini, sudah 5 tahun sejak kepergian Sagara. Ya, sudah lebih 2 tahun dari waktu yang dijanjikannya. Aku sudah tak terlalu bergantung lagi padanya. Aku pun sudah remaja yang akan beranjak dewasa. Ternyata benar, waktu akan menyembuhkan kita dari rasa sakit yang pernah dialami. Walaupun rasa itu tak hilang sepenuhnya, tetapi ini sudah cukup. Sagara, laki-laki yang kunanti kedatangannya hingga kini tak kunjung menampakkan dirinya. Setidaknya ia bisa memberiku kabar melalui surat atau telepon, tapi tak pernah ia lakukan. Mungkin dia punya alasan tersendiri yang tak bisa kumengerti. Biarlah. Hidup ini akan tetap berjalan meski tanpa dirinya.

Esok paginya seseorang tak ku kenal menemuiku di depan panti asuhan. Aku masih tetap tinggal disana dan mengurus anak-anak panti yang lainnya. Aku juga mendapat pendidikan khusus selama tinggal di panti ini. Orang itu menghampiriku dengan raut wajah yang tak bisa kugambarkan.

“Sudah lama aku mencarimu, Azura.”

“Maaf, anda siapa?” Tanyaku pada seorang pria yang usianya sekitar 30 tahunan.

“Aku adalah dokter yang menangani Sagara. Dia menyuruhku menyampaikan pesan ini langsung padamu.”

“Apa yang terjadi padanya? Mengapa ia tidak datang sendiri menemuiku?”

“Dia telah tiada sejak 2,5 tahun yang lalu saat menjalani pengobatan di Rumah Sakit Umum di China. Dia berkata bahwa ia sebatang kara sehingga tidak ada keluarga yang dapat kami hubungi. Namun, ia memberiku tulisan ini sebagai peninggalan terakhirnya untukmu.”

Aku tak mampu berucap sepatah katapun. Air mata mengalir deras menumpahkan kesedihannya. Apa yang telah kupikirkan selama ini. Bagaimana bisa aku tak sadar bahwa dia sedang kesakitan selama ini.

SAGARAAAA!!! AKKHHH!!

TUHAN, TAK BISAKAH KAU MEMBIARKANKU MEMILIKI SESEORANG SEPERTI DIRINYA?

Aku Lelah. Penantianku selama ini sia-sia. Selamat tinggal Sagara. Kakak yang paling kusayang. Lelaki satu-satunya yang kucinta. Ternyata seperti inilah perpisahan kita. Kita memang tak pernah memulai hubungan serius. Aku dengan perasaanku dan kau dengan keteguhanmu. Kita bukan pernah namun sudah. Maafkan aku yang terlambat mengetahuinya. Perlu kau tahu, hidupku memang terus berjalan. Namun, tanpa kehadiranmu ada suatu celah yang tak dapat kututup. Ada satu ruang kosong yang tak dapat kuisi. Hidupku tanpamu bagaikan kalimat rumpang yang tak akan pernah sempurna.

 

Penulis: Niken Ayu Dyah Setyorini

AMADEUS

Judul: Amadeus

Tahun: 1984

Sutradara: Miloš Forman 

Pemeran: Tom Hulce, F. Murray Abraham, Elizabeth Berridge, dll.

Genre: Drama, sejarah, seni klasik. 

Rating IMDb: 8.4/10

 

Film Amadeus dibuat berdasarkan buku karya Petter Shafer yang berjudul Amadeus. Film Amadeus adalah sebuah film yang menggambarkan biografi dari seorang komponis terkenal yaitu Wolfgang Amadeus Mozart (diperankan oleh Tom Hulce). Film ini memulai adegannya dengan sebuah teriakan seorang kakek tua yang mencoba membunuh dirinya sendiri di dalam sebuah kamar. Namun, usaha kakek tua untuk mencoba membunuh dirinya sendiri tidaklah berhasil dan kakek tua ini akhirnya dibawa ke suatu tempat. Tempat ini adalah sebuah penjara untuk menampung banyak orang-orang gila. 

Seorang kakek tua ini bernama Antonio Salieri (diperankan oleh oleh Murray Abraham). Antonio Salieri merupakan tesis utama dari film ini, tokoh ini adalah seorang komposer dari Italia yang sezaman dengan Mozart dan merasa iri dengan Mozart karena kesuksesan Mozart sebagai seorang Komposer. Terlepas dari sifat lemah dan irinya, Antonio Salieri memiliki rasa penyesalan karena menurutnya dia lah yang membunuh seniman terbaik itu. Film ini menceritakan masa lalu dan diceritakan dalam kilas balik oleh Saleri di akhir hidupnya. Curhatan dari Saleri menceritakan seluruh cerita di dalam film ini.  

Secara keseluruhan, isi film ini menampilkan berbagai instrumen yang dibuat oleh Mozart. Film juga menunjukkan berbagai macam budaya seni klasik seperti Teater Eropa yang sangat khas dengan drama-drama menariknya. Dengan latar belakang Vienna (Wina), Austria, film ini menjadi sangat cocok untuk seseorang yang benar-benar memiliki hobi pada seni dan tertarik dengan budaya Eropa. 

Amadeus membuktikan kesuksesannya dengan mendapatkan berbagai penghargaan di dunia perfilman. Penghargaan ini diantaranya adalah delapan Academy awards, empat BAFTA Awards, empat Golden Globe, dan juga mendapatkan sebuah penghargaan Director Guild of America (DGA). Meskipun termasuk film 90-an, pada tahun 2016 film ini berhasil mendapatkan banyak nominasi dalam kategori aktor terbaik. 

Kekurangan dari film ini adalah belum cukup dikenal oleh negara-negara barat termasuk negara kita, Indonesia. Sehingga akan sedikit sulit untuk mencari film ini dan mendapatkan penerjemahan bahasanya.   

Buat kalian yang sudah tertarik, yuk buruan nonton!

 

Penulis: Lio April Setiawan

Editor: Tim Redaksi LPM PRIMA FISIP

Onward

Judul : Onward

Tahun : 2020
Sutradara : Dan Scanlon

Produser : Kori Rae
Pemeran : Chris Pratt, Tom Holland

Genre : Petualangan, Fantasy, animasi

 

SINOPSIS

Berlatar di dunia fantasi modern, film ini berkisah tentang dua bersaudara Barley Lightfoot (Chris Patt) dan Ian Lightfoot (Tom Holland) yang menjalankan misi untuk menemukan kembali sisa-sisa keajaiban dunia.

Kisah dimulai saat Ian merayakan ulang tahunnya yang ke-16 dan mendapat hadiah spesial dari sang Ayah yang telah meninggal saat Lan belum dilahirkan. Sang Ayah memberikan tongkat ajaib disertai sepucuk surat dan batu pertama. Dalam pesan tersebut, tertulis sebuah mantra misterius yang dipercaya dapat mengembalikan sosok Ayah mereka selama 24 jam. Ini merupakan kesempatan dan hadiah terbaik bagi Ian.

Namun harapan tidak sesuai kenyataan, Ian dan Barley hanya berhasil mengembalikan setengah badan saja. Keduanya harus menjalankan sebuah misi spesial agar dapat mengembalikan sosok Ayah mereka seutuhnya. Ian dan Barley harus bekerja sama melalui berbagai rintangan yang akhirnya membawa mereka pada sebuah perjalanan yang tak terduga. Perjalanan Ian dan Barley penuh dengan canda dan cukup membawa emosi. Barley yang sembrono dan urakan serta Ian yang canggung, membuat petualangan mereka semakin seru.

Belum lagi saat Ian merasa bahwa kakaknya adalah seorang pecundang yang tidak bisa diandalkan. Sementara itu, Barley selalu beranggapan jika sang adik adalah segalanya bahkan dia rela melakukan apapun untuk keselamatan Ian. Onward adalah sebuah film keluarga yang menitikberatkan hubungan antara kakak dan adik, bagaimana keduanya memiliki pandangan masing-masing tentang sosok yang dirindukan dan cara membahagiakan orang terkasih.

Film yang disutradarai oleh Dan Scanlon ini juga ingin menunjukkan bahwa rasa peduli dan sayang pada saudara terkadang tidak diperlihatkan secara jelas. Namun ketika dibutuhkan, mereka akan berjuang dan berusaha untuk hadir walau dalam keadaan susah sekalipun. Kisah yang terdapat dalam film Onward bisa dibilang cukup unik dan belum pernah diangkat oleh Disney dan Pixar. Pasalnya, ide cerita tersebut merupakan pengalaman dari sang sutradara.

"Kisah ini terinspirasi dari cerita saya dengan saudara laki-laki saya dan hubungan dengan ayah kami yang telah meninggal saat saya berusia satu tahun. Kita semua pasti pernah merasa kehilangan, dan kesempatan untuk menghabiskan satu hari bersama orang yang telah meninggalkan kita tentunya merupakan sebuah impian yang tak ternilai harganya," kata Dan Scanlon melalui keterangan resminya beberapa waktu lalu.

 

KELEBIHAN

Pemilihan genre fantasi sangat pas untuk menggambarkan bagaimana keajaiban tersebut bisa terjadi. Karakter dari tokoh Ian dan Barley pun sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari, sehingga terasa begitu nyata. Onward juga menyuguhkan tontonan dengan gambar dan warna yang menyenangkan mata. Ada tawa, emosi dan air mata yang menemani perjalanan Ian dan Barley dalam menemukan keajaiban.

 

Penulis: Maulyda Putri Pangesti

Hujan

Sore ini, langit mendung berhiaskan awan kelabu. Gemuruh terus menggaung memenuhi pendengaran. Suara rintikan hujan sangat serasi menemaniku yang terduduk menatapnya. Ia terbaring, menghadap langit-langit putih. Entah sudah berapa lama ia menatapnya dengan tatapan kosong. Melihatnya tergeletak lemas seperti itu, sungguh terenyuh hatiku. Andai aku bisa menggantikannya berbaring, akan kulakukan hal itu. 

Tak terasa, sudah belasan jam aku duduk di ruangan ini. Ruangan yang tak pernah ingin kudatangi. Ruangan dengan bau menyengat yang tak ingin ku pijak. Namun, disinilah aku berada. Di rumah tempat manusia pergi menyembuhkan dirinya, Rumah Sakit Umum Jaya Kusuma.

Aku terbangun saat adzan magrib berkumandang. Kupandangi sekeliling, rupanya ini bukan sekedar mimpi. Kuputar balik memori mengingat kembali apa yang terjadi pada kami beberapa jam yang lalu. Hari Minggu adalah hari dimana kami biasa menghabiskan waktu bersama. Karena hanya hari itu kami dapat berbagi cerita dengan tenang. Hari yang selalu kunantikan setiap waktu. Dia berjanji akan membawaku berjalan di pusat kota. Disana terdapat banyak kuliner dan penjual barang-barang unik yang menarik perhatian. 

Kami berjalan di pusat kota untuk mengisi liburan dan membeli jajanan kaki lima. Disana ramai sekali manusia maupun kendaraan berlalu-lalang. Aku membeli beberapa makanan seperti crepes, kue kering, dan juga siomay. Semuanya makanan favoritku. Tentu saja dia yang membayar semuanya. Kulihat sekeliling, betapa senangnya ketika menemukan makanan yang paling aku suka. Kubilang padanya bahwa aku ingin membeli makanan manis kesukaanku, yaitu pudding. Aku menyukainya karena pudding mengingatkanku pada Ibu yang telah tiada beberapa tahun lalu.

“Ayah, aku ingin membeli pudding.”

“Dimana?” tanya Ayahku.

“Itu disana, pudingnya enak sekali.” kataku sambal bergegas menuju tempat penjual pudding yang kusukai, tanpa memedulikan Ayahku yang berteriak menyuruhku agar hati-hati.

Aku berjalan cepat menerobos kerumunan orang yang sibuk berjalan kesana kemari. Tempat penjual pudding itu berada di seberang jalan, tentu saja aku menyeberang jalan untuk mencapainya. Tepat sampai di ujung jalan, aku menunggu nyala lampu hijau untuk pejalan kaki. 

Tak lama kemudian, kulihat seekor kucing menyeberang tanpa memerdulikan kendaraan yang melaju. Tanpa banyak berpikir aku berlari untuk menyelamatkan kucing itu. Ayah yang sedang menyusulku, langsung sigap mendorongku agar terhindar dari sebuah mobil yang melaju kencang.

“BRAKKK!!!!!” suara tabrakan itu keras sekali hingga membuatku terkejut setengah mati. Aku terlempar beberapa meter dari kecelakaan itu.

“AYAHH!! AYAH BANGUN!” Aku berteriak panik dan histeris saat melihatnya terbaring bersimbah darah di jalanan. Rintikan hujan membasahi, membuat darah itu mengalir sampai di kakiku. Aku takut sekali saat itu.

Terdengar suara teriakan dan keributan di sekitar. Sirene ambulans pun terus terngiang menyakiti telinga. Hingga pandanganku kabur dan pendengaranku menjadi samar, tak lama aku pun pingsan. Aku masih bisa sedikit mendengar orang-orang yang memanggilku, seseorang dengan pakaian berwarna putih. Ia membawaku bersama rekan-rekannya ke dalam sebuah kendaraan. 

Setelah itu, aku tak ingat lagi apa yang terjadi. Begitu aku terbangun, aku sendirian di dalam ruangan yang bernuansa putih ini. Tak lama kemudian, datang seorang suster menanyakan keadaanku yang kujawab baik-baik saja. Jujur, aku hanya merasa kepalaku sedikit berdenyut, selebihnya tak apa-apa. 

“Sudah berapa lama aku tak sadarkan diri?” tanyaku begitu ia selesai memeriksa.

“Anda pingsan selama dua jam setelah kecelakaan.” jawabnya yang kutanggapi dengan anggukan saja. Begitu kuingat bahwa Ayahku lah yang mengalami kecelakaan, aku bergegas meminta suster untuk mengantarku pada Ayah.

“Suster, Ayah dimana? Aku ingin menemuinya.” tanyaku dengan gelisah.

“Beliau ada di ruang UGD untuk sementara waktu. Karena kondisinya masih kritis, anda baru bisa menemuinya ketika sudah dipindahkan ke ruang rawat inap.”

Aku hanya duduk terdiam mendengar jawaban dari suster, merenungi perbuatanku beberapa jam yang lalu. Setelah beberapa waktu, suster datang kembali ke kamarku dan mengajakku untuk menemui ayah di ruangannya. Aku berjalan dengan perasaan yang tak karuan. Gelisah, takut, sedih, dan segala macam perasaan negatif menyelimutiku. Namun, aku harus kuat dan bisa menerima apa yang akan kulihat nantinya. Dan disinilah aku, menatapnya terbaring lemah tak berdaya.

Ayah, maafkan aku.

Dia terbaring dengan selang yang menempel di hidungnya dan juga alat electrocardiogram yang berdiri di sampingnya. Ia sangat nyenyak sama sekali tak terusik oleh suara tangisanku. Aku takut ia nyaman dalam kondisinya saat ini dan tak akan pernah terbangun lagi. 

Andai saja aku tak berlari hari itu. Andai aku tak menginginkan pudding kesukaanku. Andai saja aku tak menolong kucing yang sedang menyeberang, pasti ini tak akan terjadi. Aku mulai menyesali semua tindakan ceroboh yang kulakukan.

Ya tuhan, kuatkanlah Ayahku dalam menghadapinya. Aku pasrah kepadamu atas semua yang terjadi pada kami.

Aku terus menemani di sisinya, berharap ia akan segera bangun dari tidurnya. Segala doa telah kucurahkan pada Yang Maha Kuasa. Sampai aku pun tak tau apalagi yang harus kusampaikan padaNya. Jangan tanyakan kemana keluargaku yang lainnya. Aku hanya hidup berdua dengan Ayah semenjak Ibu tiada. Kami hidup sebagai pendatang di tengah kota yang memiliki gedung pencakar langit ini. Untuk itu, aku tak ingin merasakan kehilangan untuk yang kedua kalinya.

Air mata terus menghujani pipi tanpa henti. Hingga kurasakan tangan yang menggenggam lengan Ayahku bergerak perlahan. Ya, dia tersadar. Ayahku telah sadar. Aku melihatnya membuka mata dan menatapku dengan netranya.

Ayah,,,

Cepat-cepat kutekan bel untuk memanggil dokter. Setelah dokter selesai memeriksa, ia memberitahuku mengenai kondisi ayah. Dia berkata bahwa Ayahku mengalami kelumpuhan ingatan sementara karena kepalanya terbentur sangat keras ketika kecelakaan itu terjadi. Ayah juga mengalami keretakan tulang pada lengan kanannya saat berusaha mendorongku menjauh. 

Setelah mendengarnya, aku pun terdiam kembali. Apa Ayah tak mengenaliku? Apa Ayah akan baik-baik saja seperti semula? Apa kami dapat berjalan-jalan kembali? Berbagai pertanyaan terus terngiang di kepalaku. Dan yang terpenting, bagaimana aku akan menjalani hari-hariku dengan Ayah yang terbaring seperti ini? kuatkanlah aku Ya Tuhan.

Selang seminggu semenjak kecelakaan itu terjadi, Ayah mulai mengingatku sebagai anaknya. Lengannya juga sudah mulai bisa digerakkan dengan perlahan. Aku bahagia sekali dengan perubahan ini. walau kuakui tak mudah merawatnya saat hari pertama, tetapi kini aku sudah terbiasa. 

—------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Setiap hari aku pulang pergi dari rumah sakit ke sekolah. Aku adalah murid SMA kelas akhir, tentu saja aku harus rajin agar bisa lulus dengan nilai sempurna. Saat malam, ketika Ayah terlelap, aku menyempatkan waktu untuk mengulang pelajaran hari itu. Terkadang, aku juga termenung memikirkan kapan Ayah pulih sepenuhnya dan kami bisa pulang ke kediaman. Hah.. sungguh tak terkira apa yang menimpa kami saat ini.

Hari-hari telah kami lalui bersama di rumah sakit. Tak terasa, kini sudah hampir tiga minggu Ayahku dirawat dan hari ini dokter mengizinkan kami pulang. Namun, dengan beberapa syarat dan peraturan yang harus kami lakukan untuk membantu pemulihan Ayahku. Dokter juga menyarankan untuk melakukan check-up satu minggu sekali ke rumah sakit dalam memastikan kondisi Ayah. Tentu semua itu kusanggupi demi kebaikan ayahku.

“Ayah, sekarang kita sudah pulang.” kataku begitu tiba di kediaman kami.

“Maaf, karena Ayah kamu menjadi tidak terurus dengan baik.”

“Tidak kok, aku bisa merawat diriku sendiri.”

Ayah hanya tersenyum menatapku, tapi aku tau bahwa ia merasakan kesedihan di balik senyumnya itu. Senyumannya hanya kubalas dengan anggukan kecil seraya memapahnya ke dalam kamar.

“Ryura, sini duduk di samping Ayah.”

“Kenapa, Ayah?”

“Kamu fokus belajar aja ya untuk ujian, sudah dekat kan ujian kelulusannya?”

“Tentu saja aku rajin belajar. Aku ingin jadi lulusan yang terbaik saat kelulusan nanti.”

“Ayah harap kamu memilih jalan yang benar. Apapun yang kamu pilih nanti, Ayah berharap kamu dapat bertanggung jawab sampai akhir.”

Air mata menggenang ketika mendengar ayah berpesan seperti itu. Namun, aku harus kuat menahannya agar tidak jatuh di hadapannya.

“Kamu anak yang kuat, kamu mandiri. Kelak, kamu akan jadi manusia hebat yang selalu ayah banggakan.” Perkataannya membuat tangisku pecah seketika. Aku memeluknya erat, sangat erat hingga membuatku sesak. Ada apa ini, mengapa Ayah berkata seperti ini. Tangisku tumpah di dada Ayahku.

Keesokan paginya, aku menyiapkan sarapan kesukaan Ayahku, sup ayam. Ya, aku pandai memasak sejak ditinggal oleh ibu. Setelah masakan siap, kupanggil Ayah untuk bersiap sarapan. Tiga kali aku memanggil, tak ada satu pun yang terjawab. Aku mulai khawatir, bergegas lari ke kamar Ayahku. 

Dan benar saja, Ayah terbaring di lantai dengan detak jantung yang amat cepat. Lagi-lagi aku menangis seraya menelpon ambulans untuk datang ke rumah. Belum genap sehari aku bersamanya di rumah, tetapi hal tak terduga terjadi lagi. Pikiranku kacau balau mencerna semua peristiwa yang kualami.

Ya Tuhan, mengapa ini terjadi lagi…

Aku menunggu di depan ruang UGD dengan perasaan cemas dan was-was. Jangan sampai hal buruk terjadi lagi pada Ayah. Selang beberapa waktu, dokter datang menemuiku dengan raut wajah tak terbaca. Perasaanku semakin tak karuan melihatnya. Hingga kudengar dia berkata

“Mohon maaf, kami berusaha semaksimal mungkin untuk menormalkan detak jantungnya, tetapi Ayah Anda tetap tidak tertolong.”

Seketika kakiku lemas, aku jatuh terduduk di lantai rumah sakit yang dingin itu. Pandanganku buram dan pendengaranku semakin samar. Lantas dokter membawaku untuk duduk demi menyadarkanku. Benar, aku harus sadar dalam situasi ini. Ayah hanya punya aku, demikian juga diriku yang hanya punya Ayah. Kutatap nanar ruangan yang berbau antiseptik itu. 

Ternyata Ayah pulang untuk selamanya

Bukan ke rumah kami, melainkan rumah-Nya

—------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Kini, aku sedang berdiri di atas podium. Aku, Ryura, berhasil menjadi siswi lulusan terbaik diantara ribuan siswa lainnya. Namun, aku tak tahu apa yang kurasakan. Aku tidak merasa bahagia dengan penghargaan ini. mungkin karena beliau telah tiada. Mereka telah tiada, untuk selamanya.

Ayah, kupersembahkan ini untukmu. 

Jaga aku dari tempatmu berada.

Aku takut akan salah langkah.

Ibu, aku berhasil menjadi yang terbaik, sesuai harapanmu dulu.

Aku selalu merindukan kalian. Aku selalu mendoakan kalian. 

Ku harap Tuhan selalu menyertaiku dan membimbingku di jalan yang benar. 

Karena itu merupakan harapan terbesar kalian.

Itulah perkataanku di hadapan makam Ayah dan i=Ibu dengan disaksikan hujan lebat yang menghantamku. Bait terakhir yang terucap sebelum aku pergi ke tempat yang asing tak kukenali. 

Aku pergi untuk menenangkan diri, dan mungkin tak kan pernah kembali. Hatiku kutinggalkan disini. Ternyata benar, takdir tak kan kemana. Begitu pula dengan kematian mereka. 

Hujan, engkau selalu setia menemani mereka. Ya, hujan selalu mejadi saksi kisah memilukan yang kualami.

 

Penulis: Niken Ayu Dyah Setyorini (NADS)

Perempuan di Titik Nol

Penulis : Nawal el-Saadawi

Oleh : Allysa Salsabillah

Anggota LPM Prima

Mahasiswa Hubungan Internasional, Fisip, Unej

“Kini saya sadari bahwa yang paling sedikit diperdayakan dari semua perempuan adalah pelacur. Perkawinan adalah lembaga yang dibangun atas penderitaan yang paling kejam untuk kaum wanita”

-Nawal el-Saadawi-

 

Perempuan di Titik Nol merupakan novel karya Nawal el Sadawi. Novel ini pertama kali diterbitkan pada tahun 1975 dalam bahasa Arab dengan judul Emra'a enda noktas el sifr. Penulisan novel ini didasarkan pada pengalaman seorang perempuan yang ditemui Nawal el Saadawi di Penjara Qanatir. Sebelumnya penerbitan novel ini sempat ditolak oleh beberapa penerbit di Mesir, hingga pada tahun 1975 novel ini diterbitkan oleh sebuah penerbit di Lebanon. Novel ini juga tersedia dalam Bahasa Inggris yang diterbitkan oleh Zed Books Ltd dan Room 400 di New York pada tahun 1983. Untuk di Indonesia sendiri, novel ini diterbitkan oleh Yayasan Pendidikan Obor Indonesia dan penerjemahnya adalah Amir Sutaarga. Untuk saat ini Perempuan di Titik Nol sudah diterbitkan ke dalam berbagai bahasa di dunia.

Novel Perempuan di Titik Nol menceritakan seorang perempuan bernama Firdaus yang menerima ketidakadilan sejak kecil. Dalam lingkungan keluarganya, telah ditampilkan bahwa kodrat lelaki lebih tinggi dari wanita sejak dini. Hal tersebut terlihat dari sosok sang Ayah yang selalu diperlakukan bak raja oleh istri dan anak-anaknya. Bahkan Firdaus mendapat kekerasan dari Ayahnya. Ia juga dibiarkan kelaparan dan membasuh kaki Ayahnya. Firdaus diciptakan sebagai pengganti ibunya sebagai pelayan rumah. Dalam contoh tersebut menunjukkan ketidaksetaraan gender di dalam sebuah keluarga, yang mana sosok Ayah menjadi dominan. Tak hanya dalam lingkungan keluarga, ketika ia tinggal bersama pamannya, ia juga tidak diperbolehkan belajar di Kairo dengan alasan karena ia adalah seorang perempuan.

Firdaus juga mendapatkan pelecehan seksual dan pelakunya adalah pamannya sendiri. Ia menerima perbuatan yang tidak senonoh tersebut sedari kecil. Dari hal tersebut membentuk Firdaus menjadi perempuan pelacur. Firdaus juga dijual oleh pamannya atas dasar “kawin” dengan laki-laki tua bernama Syekh Mahmoud dengan harga mahar yang cukup mahal. Bukannya bahagia, Firdaus justru dihujani kekerasan oleh suaminya sendiri. Menyedihkannya lagi, ia tak punya tempat mengadu dan hanya bisa pulang ke rumah pamannya yang sebenarnya sama-sama neraka.

Budaya patriarki begitu melekat dalam novel ini. Firdaus sebagai seorang perempuan, dianggap nomor dua dari seorang laki-laki. Perempuan harus tunduk kepada laki-laki dengan embel-embel karena laki-laki merupakan seorang “kepala” keluarga. Hal tersebut seakan melumrahkan kekerasan yang dialami seorang istri oleh suaminya. Karena katanya kewajiban seorang istri adalah patuh kepada suami. Hidup dalam lingkungan yang patriarki dan penuh ketidakadilan membuat Firdaus merasa perempuan hanyalah objek yang bisa ditindas dan menerima perlakuan yang sewenang-wenang. Budaya patriarki tersebut juga membentuk Firdaus akhirnya menjadi seorang pelacur. 

Kelebihan dari buku ini adalah tulisannya yang keras dan pedas dalam mengkritik budaya patriarki. Dengan membaca buku ini kalian akan sadar bahwa budaya patriarki juga sebenarnya terjadi pada lingkungan sekitar kita. Kalian akan mengenali bagaimana budaya patriarki tersebut masih melekat dan mengajarkan kita untuk lebih melek terhadap ketidaksetaraan tersebut. Kekurangan dari novel ini adalah beberapa bahasa yang sulit dicerna atau dimengerti karena mungkin merupakan bahasa terjemahan.

 

Penulis             : Nawal el Saadawi

Penerbit           : Yayasan Pendidikan Obor Indonesia

Tahun Terbit   : 2020 (Cetakan ke enam belas)

Tebal halaman : 176 halaman

Surat dari Praha

Judul: Surat dari Praha

Tahun: 2016

Sutradara: Angga Dwimas Sasongko 

Film berjudul “Surat dari Praha” adalah inspirasi dari kisah nyata pelajar Indonesia di Cekoslovakia karena perubahan situasi politik tahun 1966. Film ini dirilis pada 28 Januari 2016 dan memiliki durasi 94 menit. 

Surat dari Praha menceritakan tentang seorang gadis bernama Larasati yang diperankan oleh Julie Estelle. Larasati dalam kisah ini mendapatkan tugas untuk memenuhi wasiat ibunya yang bernama Sulastri. Pada awal kisah diperlihatkan bahwa hubungan Larasati dan Sulastri tidaklah baik, karena Larasati berfikir jika ibunya terlalu cuek kepadanya. Suatu ketika, ketika Sulastri sakit, Larasti meminta hak milik rumah dari ibunya.

Singkat cerita ketika Sulastri wafat, Sulastri memberikan sebuah kotak wasiat kepada Larasati. Kotak wasiat ini berisi surat-surat lama yang dimilikinya. Tugas Larasati adalah memberikan semua surat ini kepada seorang laki-laki bernama Jaya di Praha, Republik Ceko. Jaya diperankan oleh Tio Pakusadewo sebagai seorang pria tua yang dulunya merupakan seorang pelajar Indonesia yang tidak bisa pulang dikarenakan situasi politik pasca Gerakan 30 September. Jaya adalah mantan tunangan Sulastri, tetapi Jaya gagal memenuhi janji untuk pulang kembali ke Indonesia. Larasati beranggapan bahwa surat-surat ini adalah penyebab ketidak harmonisan antara dia dan ibunya.

Dalam film diperlihatkan perjuangan Larasati yang berangkat dari Indonesia ke Ceko untuk menemui Jaya. Adanya beberapa masalah yang dihadapi Larasati saat di Ceko membuat film ini semakin menarik. Film ini juga dibungkus oleh music karya Glen Fredly sebagai elemen utama cerita membuat film ini menjadi hidup. Di dalam film juga memperlihatkan latar belakang Benua Eropa dan Kota Praha yang indah.

Film Surat dari Praha ini membuktikan kesuksesannya dengan beberapa penghargaan yang didapatkan. Sama hal nya film karya Angga sebelumnya, film ini mendapatkan berbagai penghargaan yang luar bisa, seperti Indonesian Movies Actors Award yang dimenangkan oleh Julie Estelle sebagai pemeran utama wanita terfavorit 2016 dan Piala Maya untuk Tata Musik Terpilih 2016. Surat dari Praha juga berpartisipasi di Oscar 2017 untuk kategori Best Foreign Language. 

Surat dari Praha tidak hanya menceritakan tentang kisah cinta terbaik dalam sejarah film Indonesia, tetapi banyak pesan dari surat-surat yang ada di film tersebut yang ditujukan kepada bangsa Indonesia untuk mengetahui dan merasakan bagaimana negara ketidakpedulian pada para Eksil yang terangsingkan karena persitiwa politik tahun 1965 tersebut. Film ini mengajarkan kita untuk berdama dengan diri sendiri dan mencoba untuk melupakan apa yang terjadi di masa lalu.

Film ini sangat layak untuk menjadi pilihan film mingguan kalian untuk kalian yang mungkin bermimpi bisa pergi ke Benua Eropa dan melihat keindahan kota Praha di Republik Ceko. Film ini memberikan inspirasi sendiri terhadap penonton, baik dari segi cinta maupun pendidikan.

Penulis : Lio April Setiawan

Editor   : Tim Redaksi LPM PRIMA FISIP 

Kill Boksoon

Judul: Kill Boksoon

Tahun: 2023

Director: Byun Sung-hyun

Perusahaan Produksi: Seed film, Ssiat film

Pemeran: Jeon do-yeon, Sol Kyung-gu, Kim Si-a, Lee jae-wook, Esom, Koo Kyo-hwan

Genre: action, thriller, drama

SINOPSIS

   Film ini berkisah tentang Gil Boksoon (Jeon Do Yeon) yang menjalani kehidupannya sebagai pembunuh bayaran legendaris. Tidak hanya itu, ternyata Boksoon mempunyai sisi kehidupan lain yaitu sebagai seorang ibu. Dalam film ini kita bisa melihat bagaimana Boksoon berusaha untuk menyeimbangkan kondisinya yang berkerja sebagai pembunuh bayaran dan juga sebagai seorang ibu yang berusaha membantu menyelesaikan masalah anaknya.

   Boksoon merupakan pembunuh bayaran yang bergabung dengan suatu perusahaan bernama MK ent. MK di ketuai oleh Cha Min Kyu (Sol-Kyung-gu) dan juga adiknya yang tidak menyukai Boksoon bernama Cha Min-hee (Esom). Saat Boksoon memutuskan untuk keluar dari perusahaan dan berhenti bekerja sebagai pembunuh bayaran, untuk mendekatkan dirinya kepada putrinya, ternyata pihak MK tidak setuju. Hal ini dikarenakan MK mempunyai beberapa peraturan yang mengikat dan harus dipatuhi anggota-anggotanya. Disini lah kita dapat melihat keseruan Boksoon bertarung dengan pihak MK ent.

KELEBIHAN

   Film ini memiliki alur cerita yang seru. Mempunyai unsur action yang bagus dan juga dilengkapi dengan sisi humanis Boksoon kepada anaknya. Alur cerita yang tidak membingungkan juga menjadi nilai tambah di dalam film ini. Film ini berhasil memuncaki top 10 Global Netflix dalam kurun waktu 3 hari setelah perilisannya. Kill Boksoon berhasil menempati posisi pertama pada Top 10 Global Netflix (non-inggris) termasuk di Hong Kong, Taiwan, Korea Selatan, Vietnam dan negara-negara lain.

KEKURANGAN

   Hanya sedikit kekurangan yang dapat dilihat di dalam film ini. Kekurangan yang paling menonjol adalah ada beberapa plot dan tindakan di film tersebut yang belum digambarkan lebih jelas, mungkin hal itu akan menyebabkan beberapa penonton bingung. Tidak hanya itu kekurangan lainnya adalah pertarungan Boksoon dengan Cha Min Kyu, yang dianggap anti klimaks dan kurang mengeksplore unsur actionnya.

SARAN

   Film ini seru jika ditonton bersama teman-teman. Unsur action dan drama di dalam film ini akan membuat penonton terhibur. Film ini kurang cocok ditonton oleh anak di bawah umur dikarenakan adanya unsur atau plot dewasa di dalam film ini. Pecinta film John Wick pasti juga akan menyukai film ini, karena memang keduanya mempunyai garis alur cerita yang mirip.

 

Penulis: Muhammad Rayhan