Meningkatkan Kepercayaan Diri, Webinar Push Away Insecurity Punya Tujuan Mendalam

PRIMA FISIP - Webinar yang diadakan oleh BEM FISIP Universitas Jember pada hari minggu lalu berjudul “I Love Me Push Away Insecurity” diikuti oleh 120 partisipan yang berasal dari berbagai kalangan baik  siswa, mahasiswa maupun umum. Menurut keterangan Gabriella Dara Anabela, Ketua Pelaksana sekaligus anggota Departemen Pemberdayaan Perempuan BEM FISIP, terjadi penurunan antara jumlah partisipan yang mendaftar dengan partisipan yang mengikuti acara webinar ini,

Abel mengatakan “Partisipannya sekitar 120 orang tapi yang daftar itu aslinya hampir 300 orang dan yang masuk grup WA sekitar 260 orang”. Ia juga menjelaskan penurunan partisipan ini diakibatkan acara yang dilaksanakan pada akhir pekan sehingga banyak dari partisipan yang memiliki kegiatan-kegiatan lain yang bersamaan dengan acara ini.

“Akhir-akhir ini juga kita lihat banyak individu-individu yang mengalami insecurity atau krisis kepercayaan diri. Misalnya saat melihat orang lain lebih baik dan lebih beruntung daripada kita, sering kali kita membandingkan diri dengan mereka kemudian menjadi insecure dan kehilangan kepercayaan diri” tutur Abel, Minggu (25/10/2020).

Ia juga menjelaskan keadaan insecure merupakan suatu keadaan dimana individu merasa tegang, gugup, dan tidak aman atas kehidupannya. Maka dengan diadakan webinar ini diharapkan dapat mengembalikan kepercayaan diri individu sehingga dapat mengatasi keadaan insecure yang sedang dialami. Selain itu untuk menyadarkan individu bahwa setiap manusia memiliki kemampuan dan keistimewaan yang berbeda-beda sehingga kita harus membuang jauh-jauh perasaan insecure.

Dalam webinar ini juga terdapat tiga pemateri yang expert dalam bidang personality dan perlindungan perempuan. Menurut penjelasan Abel dalam webinar Push Away Your Insecurity ini membahas tentang insecurity yang lebih mengarah kepada perempuan baik dari skala mikro dan makro, isu-isu pelecehan yang dialami perempuan, regulasi dan kebijakan Pemerintah, serta yang menjadi point utamanya yaitu cara untuk mengembalikan kepercayaan diri dan membuang mindset yang buruk dari dalam diri individu.

Webinar yang diusung oleh departemen pemberdayaan perempuan BEM FISIP Unej ini, diharapkan dapat membantu setiap partisipan untuk bisa mengoptimalisasikan kemampuan yang ada di dalam diri sendiri terutama untuk kaum wanita. “Output dan tujuannya yang pasti memberikan ilmu kepada partisipan untuk lebih terbuka pikirannya tentang gimana caranya untuk lebih percaya diri, menyayangi diri sendiri, dan yang pasti mengoptimalisasikan kemampuan yang ada dalam dirinya,” jelasnya.

Abel juga mengatakan bahwa dari kegiatan webinar ini sebenarnya memiliki kegiatan yang berkelanjutan yaitu diadakannya proses konseling yang dilakukan oleh pemateri untuk mereka yang sedang mengalami perasaan insecure. Tapi kegiatan lanjutan ini masih menjadi harapan dari panitia pelaksana mengingat banyaknya kegiatan BEM yang akan dilaksanakan pada waktu dekat. (A, L)

DOKUMENTER RENTAL KOMIK TERAKHIR DI JEMBER, KARYA MAHASISWA UNEJ

PRIMA FISIP – Mahasiswa tingkat akhir jurusan program televisi dan film Universitas Jember (UNEJ) memproduksi sebuah film dokumenter yang berjudul “TAMAN BACA TERAKHIR DI JEMBER”. Film ciptaan dari Lintang Fairus Mahasiswa tingkat akhir asal Probolinggo, menceritakan tentang taman baca yang telah ada dari tahun 1995. Merupakan taman baca terakhir yang berada di Jember yang dimiliki oleh bapak Tosan Mangudi atau biasa dikenal dengan pak Uce yang sekaligus merupakan nama dari taman baca tersebut.

Lintang mengungkapkan bahwa ia sangat menyukai komik terutama komik Ema yang merupakan komik kesukannya. Lintang melakukan riset dari tahun 2013 dan memulai produksi dari tahun 2017 dan melakukan penelitian di Surabaya,Yogyakarta, dan Malang ini didasari oleh kesukaannya terhadap Komik. Produksi film ini selesai pada akhir tahun 2019 dan proses editing pada pertengahan tahunini. Lintang mengatakan tujuan dari pembuatan film ini adalah  selain dari tugas akhir, juga sebagai wadah untuk memperkenalkan taman baca yang tinggal satu-satunya di Jember, serta mengingatkan kembali memori-memori pelanggan lama dari taman baca pak Oce.

Film Dokumenter ini dikemas sesantai mungkin, tidak terlalu ribet dengan penyampaian pesan yang tidak terlalu berat, karena informasi yang ingin disampaikan, bahwasanya di Jember masih ada taman baca atau rental komik yang masih bertahan diberjalanya jaman. Film ini diproduksi menggunakan dana pribadi dengan masa produksi yang bisa dibilang memakan waktu yang cukup panjang yakni mulai tahun 2013 hingga pertengahan tahun 2020. Metode penampilan film ini ditampilkan di laman Youtube yang sifatnya privat sehingga bagi mereka yang ingin menonton film ini harus daftar terlebih dahulu, dengan penamplan dimulai jam 08.00  sampai jam 18.00 yang kemudian dilanjut dengan sesi diskusi pada jam 19.00 sebagai bentuk apresiasi.

Kesulitan atau kendala dari proses  produksi kemudian sampai ke pasca produksi kesulitannya adalah penyampaian apa yang Lintang mau, karena posisi Lintang adalah crew. Dokumenter ini  disampaikan dengan  gaya interaktif pertama versi Lintang sendiri, jadi untuk menyampaikan ke kameramen Lintang kesulitan  bagaimana harus mengambil gambar,  terutama ke editor karena  dokumenter ini tematik jadi segala macam kesulitan terdapat dalam proses. Sedangkan, proses transkip wawancara yang kemudian menyusun supaya film documenter menjadi satu kesatuan.

“oke harapan saya, harapan saya sih buat temen-temen yang ngerasa suka komik baik itu aneh meskipun udah tua, ga ada halangan lah umur berapa kita mau suka komik, persetan lah.  Intinya saya pingin ngasih tau ke temen-temen di Jember maupun di luar jember, rental komik di jember itu ya ini punya pak uce di Jl. Gatot Subroto disebelah barat istana mur dan warung Jawa Timur depannya Alfa, nitrogen tempat pompa angin itu jadi itu sih yang mau saya sampaikan” ugkap harapan Lintang

 

Penulis : Raffi & Irfan

Pandemi Tak Kunjung Mereda, Oprec UKM Tertunda

PRIMA FISIP - Banyak UKM FISIP yang memilih opsi menunda oprek sampai diberlakukannya kembali perkuliahan secara offline, hal ini dikarenakan mereka merasa tidak dapat melaksanakan oprek secara maksimal dikala pandemic. Mereka mengaku banyak kegiatan-kegiatan yang memang  sengaja diundur atau bahkan terpaksa dibatalkan dikarenakan banyaknya kendala, dimulai dari banyaknya angota masing-masing UKM FISIP yang mimilih untuk pulang ke daerah asal, sampai kendala komunikasi

Ketua UKM Voli, Fadilla Lestya R mengatakan “semua kegiatan yang direncanakan sama UKM voli itu udah gak berjalan gitu, kayak latihan jagak itu sudah gak berjalan kan semuanya pada pulang, gak ada di jemberkan. Terus untuk keaktifan anggota ya.. berubah, gak terlalu aktif kalo anggotanya pas COVID ini”.

Kepulangan ini menyebabkan tidak maksimalnya UKM membuat ataupun menjalankan suatu kegiatan dan juga banyak kegiatan yang mulanya direncanakan akan diadakan secara offline terpaksa harus dirubah ataupun diganti dengan kegiatan-kegiatan lain yang dapat dilakukan meskipun dalam keadaan pademi.

Hafis Faizin Tahzani, Ketua UKM Mapalus, saat diwawancarai mengatakan “nah, kan mulanya diawal kepengurusan prokernya Mapalus offline ada 6 proker, dan program offline yang pertama itu sudah dilaksanakan, setelah itu adanya pandemi jadi proker offline yang direcanakan udah gak bisa dilanjutkan, jadi kita rubah menjadi proker kegiatan daring yang hasilnya ada 4 proker”  

Masa pandemic ini membuat UKM  FISIP tidak dapat melakukan banyak hal, terlebih bagi UKM-UKM olahraga FISIP yang memang membutuhkan terjun langsung ke lapangan dan memerlukan pertemuan secara tatap muka. Pramana Dwi Putra, Ketua UKM Badminton mengatakan beberapa UKM  olahraga FISIP mengaku terjadi  beberapa kemancetan dalam UKM mereka seperti tidak adanya event yang diadakan saat pandemic, latihan rutin yang tidak bisa lagi dilaksanakan seperti sebelumnya, dan  tidak evektifnya sarana online bagi UKM olahraga.

 “Untuk kegiatan-kegiatan kayak lomba-lomba itu gak ada, jadi bener-bener gak ada event-event jadi kondisi UKM badminton sendiri mancet. Kayak gitu sih.” Ucap Pramana Dwi Putra. (by, drw)

Tak Diberi Kepastian, Aliansi Jember Menggugat Rencanakan Aksi Lanjutan

PRIMA FISIP - Gugatan mahasiswa atas pencabutan UU Cipta Kerja, hingga saat ini belum juga mendapat kepastian dari pemerintah. Koordinator aksi Jember Menggugat, Nurul Mahmudah Hidayatullah, mengatakan pihaknya akan menggelar aksi lanjutan jika pemerintah tak kunjung menjawab tuntutan mahasiswa.

"Hingga hari ini tidak ada kepastian dari pemerintah dalam merespon apa yang menjadi tuntutan-tuntutan demostran. Semua menyatakan bahwa kita meminta untuk UU Cipta Kerja itu dicabut. Nah, dari sini langkah-langkah selanjutnya kita akan tetap melakukan aksi unjuk rasa atau aksi dalam bentuk apapun itu" Terang Nurul.

Mengenai rencana aksi lanjutan, Nurul mengungkapkan pihaknya saat ini sudah  melakukan koordinasi baik di tingkat daerah hingga tingkat nasional. Namun, pihaknya masih belum bisa memberikan kepastian perihal rencana waktu dan bentuk aksi lanjutan nantinya.

Nurul mengatakan "Terkait perencanaan, kita sedang melakukan koordinasi di tataran wilayah, daerah dan juga nasional. Nanti kawan-kawan media akan kami informasikan lebih lanjut kapan kami akan turun jalan atau dalam bentu aksi apapun"

Aliansi Jember Menggugat akan terus melakukan aksi unjuk rasa sampai tuntutan mereka berhasil terpenuhi. Nurul menegaskan kembali perihal narasi tuntutan yang dibawa oleh Aliansi Jember Menggugat, bahwa pihaknya menolak dengan tegas UU Cipta Kerja dan menuntut pemerintah untuk segera mencabutnya.

"Kami akan tetap melakukan perlawanan sampai kapanpun itu" Tegasnya.

(Pr, rkn)

Lingkar Daulat Rakyat Menuju Petani Mandiri

FISIP-Prima, Advokasi lanjutan dalam fokus mendampingi petani Puger tolak relokasi saluran irigasi pada tanggal 18 Oktober 2020, kini berlanjut dengan program lanjutan Pembuatan Pupuk Organik. Program ini merupakan salah satu langkah pendampingan petani puger untuk meringankan beban petani, salah satunya persoalan ketergantungan dan kelangkaan pupuk. Beberapa elemen yang terlibat yaitu mahasiswa dari PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) Jember dan IDF (Institute Dialektika Filantropi), dan Kelompok Tani Puger.

Mochammad Nicko Agung sebagai penanggung jawab acara menerangkan bahwa hal ini merupakan sebuah model resistensi petani dalam kaitannya dengan budidaya pertanian. Sehingga dengan ini dapat tercapainya petani berdaulat secara mandiri, khususnya dalam permasalahan pupuk.

“Sebagai bentuk kaya model perlawanan baru lah, ketika kita ngomong masalah perlawanan kemarin. kita menolak saluran irigasi yang direlokasi, di pindah, itukan opsi opsi untuk petani sendiri kan, masalah pertaniannya itu agak di hiaraukan atau berkurang lah masalah produksinya, ya jadi itu kita menyelipkan satu program yang itu bisa sekiranya untuk mengurangi beban petani dalam masalah budidaya pertanian”

Program acara berlangsung mulai dari sosialiasi kepada petani mengingat betapa pentingnya membuat pupuk organik secara mandiri, lalu dilanjutkan dengan praktek pembuatan pupuk organik oleh petani. Langkah akhir yaitu pembentukan kelompok petani yang dinamakan LDR (Lingkar Daulat Rakyat), sehingga dalam proyeksinya petani bisa mandiri.

“Kalo harapannya lagi lagi ya petani itu berdaulat, berdaulat itu banyak jenisnya, ada berdaulat benih, daulat pupuk, daulat tanah, daulat harga sama daulat pasar, kita orientasinya ke itu, aaplagi sampe bisa daulat pasar, petani bisa menentukan harganya sendiri di pasaran yang itu orientasinya ke membuat prodak sendiri, seperti itu” ungkap Nicko.

Berdasar pengalaman petani puger sendiri hal ini merupakan pendampingan yang sangat membantu dalam meringankan petani puger, karena selain dengan persoalan relokasi saluran irigasi, persoalan budidaya tani juga merupakan problem penting menyangkut kesejahteraan tani. Bapak Sugianto selaku penasehat LDR yang ditunjuk menuturkan bahwa hal semacam ini belum ada pendampingan dari pemerintah.

“Selama ini kita tidak pernah tersentuh itu dari pemerintah, tidak ada pelatihan seperti itu.”

Ia juga menuturkan bahwa dengan pembuatan kelompok LDR secara terstruktur ini menjadi harapan bisa terlanjut program-program serupa.

“ Tadi sudah juga dibuat, istilahnya komunitasnya untuk mengeratkan kelompok ini kedepannya biar tertata dengan baik, beberapa struktur, program-program apa nanti yang akan dilaksanakan”

Dapat diketahui sebelumnya elemen-elemen yang tergabung dengan aksi penolakan  relokasi irigasi, melakukan aksi unjuk rasa kepada Pemerintah Daerah, tetapi sampai saat ini tidak ada tindak lanjut yang dilakukan oleh bupati.
 

Penulis : Priyo Labda Yusuf

Galang Donasi, UKM Siklus Bagi-Bagi Masker Dan Nasi Bungkus

PRIMA FISIP - Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Kerohanian Islam, Siklus, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Universitas Jember (Unej), melakukan kegiatan bagi-bagi masker dan nasi bungkus kepada masyarakat terdampak Covid-19 dalam agenda Siklus Berbagi.

Ketua umum UKM Siklus, Sulfan Aris Sandi, mengatakan kegiatan ini dilakukan guna membangkitkan kembali semangat gotong royong di masa pandemi yang telah memudar karena kasus Covid-19 yang terus meningkat. Kegiatan ini dilakukan setiap hari Jumat di sekitar wilayah kampus UNEJ dengan menyasar masyarakat yang membutuhkan, mulai dari tukang becak, pemulung, serta masyarakat yang tidak memakai masker.

Siklus Berbagi, ini merupakan kegiatan bagi-bagi nasi bungkus dan masker setiap hari Jumat kepada saudara kita yg membutuhkan, sumber dananya kita open donasi dek. Kegiatan ini semoga menjadi stimulus untuk membangkitkan kembali semangat gotong royong kita di masa pandemi yg sudah memudar, karena semua tahu kasus Corona terus meningkat

Aris mengungkapkan, respon positif dan doa yang di berikan oleh masyarakat membuatnya semakin bersemangat untuk terus berbagi dan melakukan kebaikan. Rencananya, program ini akan terus berjalan hingga masa kepengurusan Siklus berakhir.

“Alhamdulillah responnya baik, bahkan didoakan yang baik-baik oleh masyarakat ‘semoga dapat ganti yang lebih baik’ jadi itu menjadi tambahan semangat bagi kita untuk terus berbagi,” ungkap Sultan Aris.

Aris juga turut menaruh harapan pada beberapa program kerja yang tersisa agar dapat terlaksana dengan baik dan diberikan keberkahan. Selain itu, program ini juga diharapkan dapat memberikan kebermanfaatan bagi anggota siklus serta mahasiswa pada umumnya.

Harapannya untuk semua program kerja semoga terlaksana, diberi kelancaran dan keberkahan, dan semoga dapat bermanfaat bagi anggota siklus dan mahasiswa pada umumnya

Donasi Siklus Berbagi dibuka untuk umum. Bagi donatur yang ingin turut serta menyumbang dalam kegiatan ini bisa dilakukan melalui transfer ke rekening BTN 0003001610046239 atas nama Irma Wahyu Ramadaniyah dan Mandiri 1430018088078 atas nama Tri Septia Ayu Findriani. (Kr)

Digelar Di Masa Pandemi, KPUM Targetkan 9.800 Partisipasi Pemira

PRIMA Unej - Komisi Pemilihan Umum Mahasiswa (KPUM) Universitas Jember (Unej) menargetkan jumlah partisipasi pemilih pada Pemilihan Umum Raya (Pemira) tahun ini bisa menembus angka 9.800 partisipan. Angka ini masih jauh jika dibandingkan dengan jumlah total 28.000 Daftar Pemilih Tetap (DPT) yang tercatat oleh KPUM.

 

Ketua KPUM, Nanda Khoirur, menjelaskan target KPUM tahun ini justru jauh lebih tinggi dibandingkan dengan angka partisipasi pemilih pada Pemira sebelumnya. Di tahun 2019, jumlah partisipasi pemilih hanya mampu memperoleh 5.995 partisipan.

 

“angka ini sudah naik di bandingkan dengan tahun kemarin, kalau tahun kemarin itu untuk DPT nya sendiri.. partisipannya.. dengan DPT 28.000 partisipannya itu 5.995, tapi untuk saat ini target dari kami 9.800 partisipan” tutur Nanda, Selasa (13/11/2020)

 

Ketua KPUM mengaku, gelaran Pemira di tengah pandemi Covid-19 seperti saat ini menjadi tantangan tersendiri bagi KPUM. Pasalnya, kondisi yang berbeda dari Pemira di tahun-tahun sebelumnya membuat KPUM dituntut untuk bisa menyusun ulang strategi serta menciptakan inovasi baru guna tercapainya target 9.800 partisipasi pemilih.

 

“KPUM pada tahun 2020 ini harus membuat strategi dan inovasi inovasi terbaru, sehingga dengan adanya strategi dan inovasi terbaru ini bisa meningkatkan partisipasi mahasiswa dalam memilih, sekaligus yang mencalonkan diri menjadi BPM atau BEM” Ungkap Nanda

 

Ketua KPUM menambahkan, KPUM menargetkan sebanyak 3 pasangan bakal calon (bapaslon) Ketua dan Wakil Ketua BEM Unej akan mendaftar pada Pemira tahun ini. Untuk bakal calon anggota BPM sendiri, KPUM berharap setidaknya akan ada 70 nama pendaftar. Hal ini tentu menjadi pekerjaan rumah bagi KPUM mengingat Pemira tahun lalu BPM hanya mampu memperoleh 6 pendaftar saja.

 

“Untuk paslon sendiri kami mentargetkan ada 3 paslon, kemudian untuk caleg atau calon legislatif kami menargetkan ada 70 caleg, kalau tahun kemaren itu ada 6 caleg sehingga disini kami mengharapkan walaupun ditengah pandemi ini antusiasme mahasiswa Unej masih membara”

 

Diketahui, KPUM telah melaksanakan kegiatan sosialisasi yang dimulai sejak tanggal 9 Oktober hingga 14 Oktober 2020 mendatang. Kegiatan ini merupakan salah satu dari rangkaian agenda Pemilu Raya yang rencananya akan dilaksanakan pada 10 Desember 2020. (rkn)

Gunakan Sistem Baru, UNEJ Akan Laksanakan Pemira Online

PRIMA FISIP - Komisi Pemilihan Umum Mahasiswa Universitas Jember (KPUM UNEJ) menerapkan sistem baru pada pelaksanaan Pemilihan Umum Raya (Pemira) tahun 2020, yakni melalui pelaksanaan pemilihan secara online. Adapun serangkaian agenda Pemira yang dimulai dari kegiatan sosialisasi, pendaftaran, kampanye hingga pemilihan dan penetapan, semuanya dilaksanakan secara daring.

Ketua KPUM UNEJ 2020, Nanda Khoirur Rijal, mengungkapkan bahwa tidak diijinkannya pengundangan massa dalam jumlah besar di lingkungan kampus menjadi faktor utama rangkaian Pemira tahun ini dilaksanakan secara online. Selain itu, pelaksankaan e-vote yang semula dilaksanakan pada tiap Fakultas kini hanya perlu dilakukan secara online di rumah masing-masing.

“Kalau yang sekarang itu kita terbatas karena tidak boleh mengundang massa terlalu banyak, setelah itu untuk kegiatannya pun akan dilaksanakan secara online untuk yang saat ini, bukan hanya itu saja, tapi pada saat e-vote pun yang biasanya dilaksanakan di e-TPS yang ada di Fakultas-Fakultas, tapi untuk saat ini dilaksanakan di rumah masing masing.” Ucap Nanda

Ketua KPUM menambahkan, kegiatan kampanye bagi pasangan calon (paslon) Ketua dan Wakil Ketua BEM serta calon BPM Universitas Jember nantinya juga akan dilaksanakan secara online. Hal ini dilakukan guna menghindari tumpukan massa pendukung di dalam lingkungan kampus. Selain itu, KPUM juga memberikan kebebasan bagi setiap calon dalam memilih konten-konten kampanye online nantinya.

“Untuk sesi kampanye ini juga sama, dilaksanakan secara online, dalam artian tidak bisa mengundang massa ke kampus sehingga nanti dari paslon ataupun caleg harus membuat konten ataupun hal hal yang bisa membuat temen-temen UNEJ itu tertarik, nah itu nanti juga dilaksanakan secara online juga, atau podcast pamflet segala macemmya” (nabiladev, herul)

Kelanjutan Aksi Lanjutan yang Belum Pasti

PRIMA FISIP, Kelanjutan dari aksi Aliansi Jember Menggugat tampaknya masih belum menemui kepastian, melihat dari belum dibuahkannya hasil konsolidasi lanjutan yang telah dilaksanakan pada Senin (12/10/2020). Sebagaimana informasi yang didapat dari Fairuz selaku Ketua BEM UNEJ melalui pesan singkat.

Saat ditemui sesaat sebelum dimulainya konsolidasi lanjutan, Fairuz memberikan pendapatnya perihal keinginan untuk dapat terwujudnya aksi lanjutan Jember Menggugat yang akan datang.

“Saya rasa kalau melihat dari daerah-daerah lain, daerah-daerah lain seperti contohnya di Kalimantan itu ada aksi lanjutan. Jadi kalau menurut saya lebih positif ke arah aksi lanjutan. Pandangan saya seperti itu, tapi kalaupun mau diambil jalan lain juga ga masalah”, ujar Fairuz perihal pendapatnya.

Di saat yang bersamaan, Fairuz pun mengajak para mahasiswa untuk turut serta mengkaji dan mengawal jalannya proses Omnibus Law yang sedang menjadi bahan pembicaraan saat ini.

“Mari saya mengajak pada seluruh mahasiswa untuk sama-sama mengawal sambil juga mengkaji per-individu maupun per-kelompok, karena itu ruang kritis kita mengenai kebijakan-kebijkan yang dikeluarkan”, ungkapnya.

Sebagai informasi, diadakannya konsolidasi lanjutan ini sebagai penentu dari langkah apa yang akan dipilih oleh aliansi selepas terlaksananya aksi Jember Menggugat pada Kamis (08/10/2020). Di mana aksi yang terjadi pada saat itu berhasil membuahkan pakta integritas yang ditandatangani oleh Ketua DPRD Jember, meski dalam jalannya aksi sempat terjadi kericuhan kecil. (Dimas)

UU Cipta Kerja Dikerjakan Kucing-Kucingan, Mahasiswa Geram

PRIMA FISIP - Ribuan massa aksi ‘Jember Menggugat’ yang terdiri atas aliansi mahasiswa, buruh, dan pelajar menggelar unjuk rasa tolak UU Cipta Kerja di depan gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Jember pada Kamis, 8 Oktober 2020.

Aksi unjuk rasa ini didasari oleh keresahan sejumlah masyarakat terhadap isi dari UU Cipta Kerja yang dinilai banyak merugikan kaum buruh. Sony Subianto, Ketua Rayon Fakultas Ilmu Budaya (FIB), mengaku dirinya geram terhadap Presiden Jokowi yang secara sepihak memutuskan omnibus law UU kontroversial ini. Tidak adanya transparasi dalam proses pembentukan perundang-undangan sekaligus pengesahan yang tidak berasaskan demokrasi menjadi salah satu penyebab gelombang aksi massa menyebar ke berbagai daerah.

Sony mengatakan “Berbuntut dari aksi-aksi sebelumnya, ketika bagaimana Presiden Jokowi memutuskan untuk meng-Omnibus law UU Cipta Kerja dengan UU Amdal dan hal hal lainnya, disitulah yang membuat mahasiswa geram. Karena keputusan kemaren malam itu DPR tidak melakukan koordinasi atau terkesan kucing-kucingan dalam melakukan hal tersebut”

Sementara itu, Andi, korlap aksi Jember Menggugat, juga turut menyayangkan sikap DPR Republik Indonesia yang seringkali mengabaikan suara rakyat. Minimnya partisipasi publik dalam proses penyusunan draft RUU menambah poin kecacatan dalam UU Cipta Kerja ini. Gelombang penolakan  dari banyak pihak disepelekan begitu saja oleh Pemerintah.

Andi menegaskan “secara formil (UU Omnibus Law, ed) cacat, secara isi dan substansinya juga cacat, kenapa begitu, karena juga dalam pelaksanaanya selalu tidak mengedepankan partisipasi publik, kita tau bahwa setiap ormas pada masa pembahasan Omnibus Law, seperti Nahdlatul Ulama kemudian Muhammadiyah, bahkan ormas-ormas yang lain juga mengirimkan koreksi, tapi kemudian pemerintah menyepelekan itu”, tambahnya.

Bentuk kekecewaan mahasiswa berbuntut pada pernyataan mosi tidak percaya yang dilayangkan kepada Pemerintah dan DPR RI. Andi mengharapkan, aksi ini mampu menekan pemerintah untuk segera mencabut UU Cipta Kerja ini.

Andi menambahkan “oleh karena itu kami harap dicabut Undang-Undang Cipta Kerja itu, dan kita memang menyatakan mosi tidak percaya kepada DPR RI dan Pemerintah, dalam hal ini Jokowi – Ma’ruf Amin.” (rkn)

Audiensi: Pakta Integritas Ditolak

PRIMA-FISIP. Audiensi diselenggarakan di Aula FISIP (fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik) oleh Himpunan Mahasiswa Ilmu Administrasi mendapat penolakan dari Kaprodi (kepala program studi). sebab salah satu poin tuntutan terdapat kesalahan diksi yang tidak menjamin hasil sesuai yang diharapkan. sehingga membutuhkan berbaikan ulang mengenai tuntutan tersebut. “silahkan direvisi.  Kalau “berusaha mengembalikan” Kita bisa, kita bukan tuhan kok, kalau harus A kami jawab insya allah, karena ini hukum fikih dan dunia akhirat” Ujar Bapak Sutomo Kaprodi Ilmu Administrasi.

Bapak Supranoto selaku Sekertaris Jurusan Administrasi menegaskan bahwa akan melakukan usaha apapun untuk memperbaiki Akreditasi, namun kalau untuk mengharuskan meraih akreditasi A sesuai tuntan tersebut dirasa kurang pasti. “kalau saya gak mau mentandatangai, kalau pernyataan ‘harus mengembalikan’ saya gak mau mentanda tangani. Berbeda loh pak. kalau berjuang sekuat tenaga kita yes, Kalau harus mendapat A enggak kami gak menjamin” Ungkapnya saat Audiensi berlangsung.  

Sehingga dengan demikian membuat Ketua Himaistra (Himpunan Mahasiswa Ilmu Administrasi) Mahardika merasakan cukup kecewa terhadap Prodi yang tidak mentandatangani pakta integritas tersebut. “kita memiliki titik kekecewaan mana kala pihak prodi itu secara tegas meminta untuk perubahan dari tuntutan itu artinya ketika kita merubah poin tuntutan itu maka kita merubah isi dari kesepakatan bersama, maka hal ini bisa saya katakan untuk hasil pada hari ini sebenarnya cukup memberikan informasi namun belum cukup berani untuk memberikan kepastian dari poin-poin tuntutan yang kita sampaikan” ungkapnya      

Penulis: Priyo & NabilaDev

Audiensi Terlaksana, Tuntutan Solidaritas HMJ Dijawab Rektorat

Solidaritas Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) bersama dengan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dan Rektorat Universitas Jember, pada Senin (22/6/2020) melakukan audiensi terkait permasalahan yang terjadi di Universitas Jember. Audiensi yang dilakukan ini terjadi sebagai buntut dari tuntutan solidaritas HMJ kepada pihak Dekanat beberapa waktu lalu. 

Ali Ausath selaku koordinator solidaritas HMJ menuturkan, pihaknya telah mengirimkan surat permohonan audiensi melalui BEM kepada Rektorat dan ditindak lanjuti dengan pelaksanaan audiensi pada hari Senin (22/6/2020). Bertempat di lantai 3 gedung rektorat, audiensi tersebut dihadiri oleh solidaritas HMJ bersama dengan BEM Fakultas dan BEM Universitas. Pada audiensi tersebut, pihak HMJ menyampaikan 4 poin besar sebagai tuntutan kepada Rektorat.

"Untuk poin-poin yang dibawa sebenarnya sama, cuma kalo di poin-poin HMJ kita kan ada 6 poin besar, namun pada saat tadi kita audiensi kita membawa 4 poin besarnya yaitu yang pertama terkait dengan  permasalahan mahasiswa tingkat akhir terkait dengan pembebasan ukt, kemudian yang kedua terkait dengan ukt untuk mahasiswa on going, kemudian yang ketiga perihal bantuan kuliah daring dan yang keempat terkait denga transparansi realokasi anggaran covid di universitas jember” tutur Ali.

Ali juga menyampaikan, dalam audiensi tersebut pihak rektorat telah memberikan jawaban terkait dengan mekanisme dan permasalahan yang terjadi di lapangan. Namun dari audiensi tersebut tujuan dari Gerakan Solidaritas Mahasiswa ini belum tercapai sepenuhnya. Ali mengatakan bahwa tuntutan dalam pakta integritas belum ditanda tangani oleh Iwan Taruna selaku rektor Universitas Jember

“kalo untuk tujuannya sendiri dari kita (Gerakan Solidaritas Mahasiswa) bersama dengan bem fakultas, disana kan kita juga membawa pakta integritas dan pakta integritas itu terdapat 4 poin terkait dengan tuntutan kita dan pakta integritas itu sudah kita serahkan ke pihak rektor pak Iwan Taruna, namun ternyata masih belum ditanda tangani pada hari ini juga dengan dalih pak Iwan masih ingin mempelajari terkait dengan poin-poin”. 

Terkait dengan pakta integritas yang belum ditanda tangani oleh Rektor, Ali mengatakan Gerakan Solidaritas Mahasiswa akan terus melakukan tindak lanjut karena pihak Rektorat juga tidak memberi kepastian kapan pakta integritas tersebut ditanda tangani.

 

Penulis : Erdhi Setya

Peringatan Tidak Diindahkan Dekanat, Solidaritas HMJ Akan Layangkan Surat Kepada Rektorat

Prima Fisip - Tindak lanjut dari tuntutan solidaritas Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Jember rupanya berbuntut pada keputusan  HMJ untuk melayangkan surat kepada Rektorat Universitas Jember. Ali Ausath selaku koordinator solidaritas HMJ mengatakan, pihaknya telah mengirimkan surat kepada Badan Perwakilan Mahasiswa (BPM) Universitas Jember yang berisi permohonan advokasi dan pendampingan terkait dengan poin poin tuntutan yang akan diteruskan pada pihak Rektorat nantinya.

"jadi kami meminta pendampingan advokasi kepada BPM Universitas atas permasalahan yang kami ajukan kepada pihak Dekanat FISIP untuk kemudian diteruskan kepada pihak Rektorat, hal ini agar kami mahasiswa FISIP mendapat solusi perihal permasalahan tersebut"

Diketahui pada 10 Juni lalu, solidaritas HMJ telah melayangkan surat permohonan audiensi kepada Dekanat perihal poin poin tuntutan yang telah tertulis di dalam press release. Namun menurut keterangan, pihak Dekanat menyanggupi audiensi dilakukan pada hari Selasa tanggal 16 Juni, yang mana telah melampaui 3 hari dari batas waktu yang telah ditentukan.

"kemarin kami pada tanggal 10 Juni 2020 telah melayangkan surat kepada Dekanat yang berisi permohonan untuk dilakukannya sebuah audiensi perihal poin poin tuntutan yang terdapat pada press release, namun ternyata dari pihak Dekanat menginginkan audiensi pada hari Selasa, dan hal tersebut sangat bertentangan pada apa yang terdapat pada surat kami, yakni tentang batas waktu 3 hari untuk dilakukannya audiensi"

Terkait dengan informasi serap aspirasi Dekanat yang diedarkan oleh BPM pada 11 Juni lalu, Ali memberikan tanggapan bahwa informasi yang disampaikan masih belum dapat menjawab dan merepresentasikan poin poin pokok yang menjadi tuntutan mereka. Hal ini juga yang menguatkan pihak HMJ untuk meneruskan tuntutan ini kepada Rektorat.

"kemarin sempat ada sebuah informasi yang disampaikan oleh BEM dan BPM dalam akun ignya BPM FISIP, disana terdapat beberapa poin poin yang menegaskan terkait dengan informasi perihal ukt dan bantuan daring, dari poin poin tersebut kita lihat apa yang dibawakan dari BEM dan BPM masih belum merepresentasikan apa yang menjadi poin poin pokok apa yang menjadi tuntutan dari kolaborasi HMJ ini, maka dari itu, kami akhirnya melayangkan surat kepada Rektorat" [rkn, pry]

Solidaritas HMJ FISIP Desak Dekanat Berikan Solusi

Prima - Fisip, Solidaritas Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Jember mengeluarkan sebuah Press Release pada Selasa, 10 Juni 2020, pagi tadi. Diketahui, press release tersebut memuat beberapa poin tuntutan yang selama ini menjadi keresahan mahasiswa terkait beberapa permasalahan yang ada di kampus.


Ali Ausath selaku koordinator Solidaritas HMJ mengatakan, ada tiga poin tuntutan dasar yang melandasi beberapa point yang disebutkan dalam press release tersebut. Pertama mengenai birokrasi kampus yang  dinilai tidak konsisten dalam menjalankan kebijakan, khususnya mengenai bantuan kuliah dalam jaringan (daring) yang sempat berubah-ubah dalam pelaksanaannya. Kedua, mengenai pengajuan pembebasan Uang Kuliah Tunggal (UKT). Lalu yang terakhir mengenai kebijakan keringanan pembayaran UKT. 


"Kita membicarakan secara umum ada 3 hal yang menjadi pokok pembahasan ini. Yang pertama terkait dengan inkonsistensi kebijakan bantuan kuliah daring kemudian ada juga terkait pengajuan pembebasan ukt, kemudian yang terakhir berkaitan dengan kebijakan keringanan pembayaran UKT. Jadi dilihat dari 3 poin ini yang menjadi permasalahan dasar" Ungkap Ali saat ditemui.


Ali menambahkan, pasca diterbitkannya press release ini, pihaknya akan mengadakan audiensi dengan Dekanat untuk membahas poin poin tuntutan yang mereka bawa. Hal ini merupakan desakan bagi pihak kampus untuk segera merespon dan menindak lanjuti terkait permasalahan permasalahan yang ada.
 

"Jadi alur seperti apa yang sebenarnya nantinya diterapkan di Fakultas, kemudian juga terkait dengan keringanan tersebut. Jadi mungkin dari pihak Fakultas nantinya akan ada beberapa opsi seperti misalnya terkait dengan penundaan pembayaran, atau misalnya cicilan atau seperti apa, nanti pihak Fakultas bisa memberikan respon."
 

Ali juga menegaskan, apabila selama 3 hari ini pihak Dekanat tidak memberikan tanggapan atau respon yang diharapkan, maka pihaknya akan membawa tuntutan ini pada tingkatan Rektorat.
 

"jadi kalau semisal dalam waktu 3 hari belum ada respon dari pihak fakultas kami kemungkinan besar akan membawa hasil press release ini kepada pihak rektorat" Tutup Ali. 

 

Penulis : Priyo Labda