Filosofi Teras

Penulis : Henry Manampiring 

Oleh : Sri Rahayu

Anggota LPM PRIMA

Mahasiswa Kesejahteraan sosial, Fisip, Unej.
 

Sinopsis Buku

"Kita memiliki kebiasaan membesar-besarkan kesedihan. Kita tercabik di antara hal-hal masa kini dan hal-hal yang baru terjadi. Pikirlah apakah sudah ada bukti yang pasti mengenai kesusahan masa depan. Karena sering kali kita lebih disusahkan kekhawatiran kita sendiri.” – Seneca

 

Isi Resensi 

"Filosofi Teras" merupakan sebuah karya filosofi yang ditulis oleh Henry Manampiring. Buku ini menawarkan pemahaman mendalam tentang berbagai aspek kehidupan manusia dan memberikan sudut pandang filosofis yang menarik.

Manampiring memulai bukunya dengan memperkenalkan konsep "teras" sebagai landasan utama dalam menjalani kehidupan. Ia berpendapat bahwa teras merupakan inti atau pusat dari segala sesuatu yang ada. Menurutnya, untuk mencapai kehidupan yang bermakna, manusia harus menyelami teras mereka sendiri dan memahami diri serta hubungannya dengan dunia di sekitarnya.

Buku ini tidak hanya membahas filosofi secara teoritis, tetapi juga memberikan panduan praktis untuk menerapkan prinsip-prinsip filosofis dalam kehidupan sehari-hari. Manampiring mengeksplorasi berbagai topik seperti kebahagiaan, kesadaran diri, cinta, tujuan hidup, dan makna hidup.

Salah satu kekuatan buku ini adalah gaya penulisan yang jelas dan lugas. Manampiring mampu mengomunikasikan ide-idenya dengan cara yang mudah dipahami oleh pembaca yang tidak memiliki latar belakang filosofi yang mendalam. Ia menggunakan contoh-contoh nyata dan anekdot pribadi untuk memperkuat argumennya dan membuat bukunya lebih relevan bagi pembaca.

Selain itu, "Filosofi Teras" juga menyajikan sudut pandang yang berbeda-beda dengan memasukkan gagasan-gagasan dari filosofi Timur dan Barat. Ini memberikan keragaman pemikiran dan memperkaya pemahaman kita tentang kehidupan dan eksistensi.

Namun, ada beberapa kritik yang dapat diberikan terhadap buku ini. Meskipun Manampiring mencoba untuk memberikan panduan praktis, beberapa pembaca mungkin merasa bahwa beberapa konsep yang disajikan masih terlalu abstrak dan sulit diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, beberapa bagian buku terasa repetitif dan bisa jadi memperlambat ritme pembacaan.

Secara keseluruhan, "Filosofi Teras" adalah sebuah buku yang menarik bagi mereka yang tertarik dengan pemikiran filosofis dan mencari pemahaman yang lebih dalam tentang makna hidup. Henry Manampiring berhasil menyampaikan pesan-pesannya dengan jelas dan memberikan wawasan yang bernilai bagi para pembaca. Meskipun tidak sempurna, buku ini tetap layak dibaca oleh siapa saja yang ingin memperluas pandangan mereka tentang kehidupan dan eksistensi manusia.
 

Kelebihan 

  1. Pendekatan yang jelas dan lugas

Penulis, Henry Manampiring, menggunakan gaya penulisan yang mudah dipahami dan tidak terlalu teknis. Ia mampu menyampaikan konsep-konsep filosofis dengan bahasa yang sederhana dan lugas, sehingga pembaca yang tidak memiliki latar belakang filosofi yang mendalam dapat dengan mudah mengikuti pemikirannya.

  1. Keterhubungan dengan kehidupan sehari-hari

Salah satu kelebihan utama buku ini adalah kemampuannya untuk menghubungkan konsep filosofis dengan kehidupan nyata. Manampiring menggunakan contoh-contoh nyata dan anekdot pribadi untuk memperjelas dan memperkuat argumennya. Ini membantu pembaca melihat relevansi dan penerapan langsung filosofi dalam kehidupan sehari-hari.

  1. Keragaman pemikiran

Buku ini menggabungkan gagasan-gagasan dari filosofi Timur dan Barat, memberikan sudut pandang yang beragam dan memperkaya pemahaman kita tentang kehidupan dan eksistensi. Pembaca akan mendapatkan paparan yang komprehensif tentang berbagai aliran pemikiran filosofis dan dapat menggali perspektif yang berbeda-beda.

  1. Inspirasi dan pemotivasian

"Filosofi Teras" tidak hanya menawarkan pemahaman konseptual, tetapi juga memberikan panduan praktis dan inspirasi untuk menghadapi tantangan hidup. Buku ini mengajak pembaca untuk mempertimbangkan makna hidup, menemukan tujuan hidup, dan hidup dengan penuh kesadaran. Hal ini dapat memberikan motivasi dan inspirasi bagi pembaca untuk menjalani kehidupan yang lebih bermakna.

  1. Gaya penulisan yang menarik

Henry Manampiring mampu mengemas ide-idenya dengan cara yang menarik dan menghibur. Buku ini tidak terasa kaku atau terlalu akademis, tetapi tetap menyenangkan untuk dibaca. Gaya penulisan yang mengalir membuat pembaca terlibat secara emosional dan terhubung dengan materi yang disampaikan.
 

Kelemahan 

  1. Konsep yang terlalu abstrak

Meskipun penulis berusaha memberikan panduan praktis, beberapa konsep yang disajikan dalam buku ini masih terasa abstrak dan sulit untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Pembaca mungkin mengalami kesulitan dalam menghubungkan konsep filosofis dengan pengalaman pribadi mereka atau mengimplementasikannya dalam tindakan nyata.

  1. Pengulangan yang berlebihan

Ada beberapa bagian dalam buku yang terasa repetitif, dimana penulis sering kali mengulang konsep atau gagasan yang sama dengan cara yang berbeda. Ini dapat memperlambat ritme pembacaan dan membuat pembaca merasa bosan atau kehilangan minat.

  1. Ketidakkeseimbangan dalam penggunaan referensi

Meskipun buku ini mencoba memadukan filosofi Timur dan Barat, ada kecenderungan untuk lebih memperhatikan pandangan Barat daripada Timur. Pembaca yang mencari wawasan yang lebih dalam tentang filosofi Timur mungkin merasa kurang terpenuhi, karena penulis lebih fokus pada pemikiran Barat.

  1. Kurangnya kritik atau sudut pandang yang berbeda

Buku ini terutama mencerminkan pandangan dan pemikiran penulis sendiri, dengan sedikit ruang bagi sudut pandang atau kritik yang berbeda. Sementara buku ini menghadirkan banyak gagasan yang menarik, pembaca mungkin merasa kurang mendapatkan pandangan alternatif yang dapat memperluas perspektif mereka.

  1. Kurangnya pengembangan konsep yang lebih mendalam

Beberapa konsep yang diperkenalkan dalam buku ini mungkin hanya disentuh secara permukaan, tanpa pengembangan yang lebih mendalam. Ini dapat membuat pembaca yang ingin mendapatkan pemahaman yang lebih komprehensif merasa kurang puas.
 

Identitas buku

Judul Buku: Filosofi Teras

Penulis: Henry Manampiring

Penerbit: PT Kompas Media Nusantara

Tahun Terbit: 2018

Tebal Buku: xxiv +320 halaman

ISBN: 978-602-412-518-9

What’s So Wrong About Your Self Healing

Penulis : Ardhi Mohamad

Oleh : Sri Rahayu

Anggota LPM PRIMA

Mahasiswa Kesejahteraan sosial, Fisip, Unej.

 

Sinopsis Buku 

Sebenarnya, kita butuh banget untuk selalu punya harapan hidup, karena bisa menjadi faktor terbesar kita bergerak. Walaupun kita berkali-kali menaruh harapan di tempat yang salah. Eventually, kita lagi-lagi membuat harapan baru, dan dari situ jadi penggerak untuk kita terus maju.

It is fascinating sebenarnya, kalau kita melihat orang-orang yang kehilangan orang-orang tersayang dalam hidupnya. Orang-orang penting dalam hidupnya, Ayah dan Ibu yang meninggalkan mereka duluan, atau cintanya, atau anak kesayangannya. Walaupun hancur pada saat itu, mereka akan bangkit seiring berjalannya waktu. (Hal 83)

 

Isi Resensi

Buku "What's So Wrong About Your Self Healing" yang ditulis oleh Ardhi Mohamad adalah sebuah buku yang mengajak pembaca untuk memahami pentingnya melakukan proses penyembuhan diri sendiri.

Buku ini mengungkapkan bahwa kita sebagai manusia memiliki kemampuan untuk menyembuhkan diri sendiri, namun seringkali kita lebih memilih untuk mengandalkan obat-obatan atau terapi eksternal lainnya. Padahal, dengan memahami prinsip-prinsip dasar self-healing, kita dapat mempercepat proses penyembuhan dan membangun kembali keseimbangan tubuh kita.

Ardhi Mohamad menjelaskan dengan sangat jelas tentang konsep self-healing dan prinsip-prinsip dasarnya. Dia juga memberikan tips praktis tentang bagaimana cara melakukannya, seperti teknik pernapasan dan meditasi. Selain itu, buku ini juga membahas berbagai penyakit dan kondisi yang dapat diatasi melalui self-healing, termasuk stres, kecemasan, insomnia, dan bahkan kanker.

Pembaca akan merasa terinspirasi dan terbantu dengan buku ini, terutama bagi mereka yang mengalami masalah kesehatan kronis dan ingin mencari cara untuk memperbaiki kondisi mereka dengan cara yang alami. Ardhi Mohamad berhasil mengajak pembaca untuk memahami bahwa melakukan self-healing bukan hanya alternatif, tetapi juga merupakan pilihan yang cerdas dalam membangun kembali kesehatan dan keseimbangan tubuh kita.

 

Kelebihan

 

  1. Memberikan Penjelasan yang Jelas dan Mudah Dipahami

Penulis buku ini, Ardhi Mohamad, dapat mengkomunikasikan konsep self-healing dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami oleh pembaca. Hal ini memungkinkan pembaca untuk memahami prinsip-prinsip dasar self-healing dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

  1. Berisi Tips Praktis dan Mudah Diterapkan

Selain memberikan penjelasan tentang konsep self-healing, Ardhi Mohamad juga memberikan tips praktis dan mudah diterapkan untuk memulai proses penyembuhan diri. Tips ini mencakup teknik pernapasan, meditasi, dan latihan fisik lainnya yang dapat membantu pembaca untuk mencapai kesehatan dan keseimbangan tubuh mereka.

  1. Membahas Berbagai Masalah Kesehatan

Buku ini membahas berbagai masalah kesehatan yang dapat diatasi melalui self-healing, mulai dari stres dan kecemasan hingga penyakit kronis seperti kanker. Hal ini membuat buku ini relevan dan bermanfaat bagi siapa saja yang ingin memperbaiki kesehatan mereka.

  1. Menjadi Panduan bagi Siapa Saja

Buku ini dapat dijadikan panduan oleh siapa saja, tanpa memandang usia atau jenis kelamin. Buku ini akan membantu pembaca untuk memahami bagaimana cara melakukan self-healing dan memperbaiki kesehatan mereka secara alami.

 

Kelemahan

  1. Tidak Terlalu Terstruktur

Buku ini terkadang terasa tidak terstruktur dan terkesan sebagai kumpulan artikel atau esai yang terpisah-pisah. Hal ini membuat alur cerita terasa kurang jelas dan sulit untuk mengikuti secara sistematis.

  1. Kekurangan Data Ilmiah yang Kuat

Walaupun buku ini berusaha untuk mendukung konsep self-healing dengan beberapa referensi ilmiah, namun buku ini kurang menampilkan bukti yang cukup kuat dan konsisten untuk mendukung klaim-klaim yang dijelaskan.

  1. Kurangnya Fokus pada Aspek Kesehatan Mental

Buku ini terkadang kurang fokus pada aspek kesehatan mental dan mengabaikan pentingnya pemulihan emosi dan psikologis dalam proses penyembuhan diri.

  1. Tidak Memberikan Solusi yang Konkrit

Buku ini dapat memberikan beberapa teknik dan tips untuk memulai proses penyembuhan diri, namun tidak memberikan solusi yang konkrit untuk beberapa masalah kesehatan yang lebih kompleks.


 

Identitas buku 

Judul buku: What's So Wrong About Your Self Healing

Penulis: Ardhi Mohamad

Penerbit: Gagas Media

Tahun terbit: 2018

ISBN : 978-623-97002-1-8

Jumlah Halaman: 224 halaman

Lebar : 13.0 cm

Panjang : 20 cm

Laskar Pelangi

Penulis: Andrea Hirata

Oleh: Maulyda Putri Pangesti

Anggota LPM PRIMA

Mahasiswa Kesejahteraan Sosial, Fisip, Unej

Sinopsis

Di latar belakangi sebuah daerah terkaya di Indonesia yaitu Belitong. Novel ini menceritakan kehidupan anak-anak di Desa Gantung, Kabupaten Gantung, Belitung Timur. Anak-anak yang berasal dari keluarga miskin yang menempuh pendidikan di suatu sekolah, walaupun penuh dengan keterbatasan.

Sekolah penuh keterbatasan itu bernama Sekolah Muhammadiyah, sekolah yang terancam dibubarkan di hari pertama penerimaan murid baru. Surat peringatan yang diberikan oleh pemilik sekolah pusat berisi “10 orang atau tidak sama sekali”. Di detik-detik kepala sekolah berpidato bahwa pembelajaran tidak akan diselenggarakan, Ibu Muslimah dengan tekadnya mencari satu anak untuk memenuhi standar yang sudah diberikan. Lalu munculah Harun seorang “anak istimewa” yang menyelamatkan mereka semua.

Kisah mereka berawal disini, julukan Laskar Pelangi diberikan Bu Muslimah kepada kesepuluh anak-anak hebat ini. Dalam novel ini, kisah perjalanan Laskar Pelangi dalam menempuh pendidikan di SD Muhammadiyah ditemani dengan beragam emosi, baik rasa bahagia, dramatis hingga mengharukan.

Kelebihan 

Novel ini mengharukan dan memuat banyak pelajaran dan amanah. Diksi yang digunakan bagus dan mudah untuk dipahami. 

Kekurangan

Cover yang digunakan kurang menarik minat perhatian. 

Identitas Buku

Penulis: Andrea Hirata

Negara: Indonesia

Genre; Roman

Penerbit: Bentang Pustaka, Yogyakarta

Tahun Terbit: 2005

Halaman: xxxiv, 529 halaman

ISBN: 979-3062-79-7

The Psychology of Money

Penulis: Morgan Housel

Oleh: Sherly Ananda C

Anggota LPM Prima

Mahasiswa Administrasi Negara, Fisip, Unej

“Kamu bisa membangun kekayaan tanpa pendapatan yang besar, namun kamu tidak bisa membangun kekayaan tanpa mindset yang benar tentang uang”

-Morgan Housel

 

The Psychology of Money merupakan buku karya Morgan Housel. Buku The Psychology of Money menjadi salah satu buku best seller internasional yang telah diterbitkan lebih dari 26 bahasa sejak penerbitan pertama pada tahun 2020. Bahkan, buku ini termasuk dalam 10 buku terlaris di Amerika Serikat versi Amazon. Buku ini ditulis oleh Morgan Housel, seorang mantan kolumnis The Wall Street Journal dan pemenang berbagai penghargaan seperti Best in Business Award dari Society of American Business Editor & Writers. Buku The Psychology of Money terdiri dari 262 halaman, di mana setiap halaman buku ini dikemas dengan ringkas dan mudah dipahami oleh pembaca. Sebagai penulis buku 262 halaman tersebut, Morgan Housel membuat 19 cerita pendek yang mengeksplorasi pembaca untuk memahami persepsi uang dari sisi psikologis. 

Buku ini menceritakan tentang hubungan antara manusia dengan uang yang dilihat dari sudut pandang perilaku manusia. Dari 19 cerita pendek yang ada dalam buku ini mengisahkan kisah nyata dari dua orang yang memiliki latar belakang yang berbeda. Orang pertama bernama Ronald James Read, seseorang yang berprofesi sebagai petugas kebersihan pom bensin Amerika Serikat. Orang kedua bernama Richard Fuscone, seseorang yang berprofesi sebagai eksekutif di Perusahaan Manajemen Investasi Merril Lynch. Dimana ia seorang yang memiliki latar belakang sarjana Pendidikan Ekonomi dan merupakan lulusan kampus ternama dunia, Harvard University. Walaupun Ronald memiliki latar belakang yang berbeda dengan Richard, namun sepanjang hidup Ronald memiliki perilaku dan gaya hidup sederhana serta rajin menabung. Hal tersebut terbukti pada masa akhir hayat Ronald, ia mampu memiliki uang sebesar 8 juta USD atau sekitar 114,6 miliar rupiah. Dimana dari sebagian besar uang tersebut telah disumbangkan ke rumah sakit lokal dan perpustakaan.

Sementara itu, Richard yang memiliki latar belakang yang lebih beruntung bahkan ideal malah tidak mampu mengelola keuangan dengan baik. Ia berperilaku dan memiliki gaya hidup boros. Akibat perilaku dan gaya hidup Richard tersebut, membuat ia harus beberapa kali berhutang dan ketika terjadi krisis ekonomi pada tahun 2008 memaksa Richard untuk menyatakan kebangkrutan. Apabila berbicara mengenai pengetahuan, tentu Richard memiliki pengetahuan yang lebih besar daripada Ronald, namun apabila melihat perilaku dari keduanya tersebut. Ronald lebih beruntung atau memiliki nasib hidup yang jauh lebih baik daripada Richard. Sehingga, dapat diketahui bahwa latar belakang pendidikan dan profesi yang ideal belum tentu menjamin kesejahteraan hidup yang lebih baik apabila tidak diimbangi dengan perilaku dan gaya hidup yang sederhana, serta berorientasi pada masa depan.

Selain itu, dalam buku ini Morgan Housel memaparkan mengenai perbedaan yang mendasar antara makna rich dan makna wealth. Meskipun memiliki makna sama-sama kaya, namun Morgan Housel memaknai rich sebagai kekayaan yang terlihat dari seseorang, seperti rumah mewah, gadget terbaru, mobil mahal dan lain sebagainya. Sedangkan, wealth dimaknai sebagai kekayaan yang disimpan dan tidak serta merta dapat terlihat. Sehingga, terkadang seseorang tersebut dapat terlihat “rich” namun kenyataannya justru memiliki banyak hutang. Disisi lain, terkadang seseorang sebenarnya “wealth” namun tidak menunjukkan bahwa ia “rich”. Bagian akhir cerita pendek dalam buku The Psychology of Money tersebut, memaparkan bahwa Morgan Housel ingin memberikan saran mengenai suatu kekayaan yang telah dimiliki oleh seseorang sebaiknya untuk dipertahankan. Dalam mempertahankan kekayaan tersebut membutuhkan survival mindset, agar dalam mengambil keputusan dalam keuangan tidak dilakukan secara semena-mena.

Kelebihan dalam buku The Psychology of Money mampu dikemas dalam 19 cerita pendek yang memudahkan pembaca dalam memahami setiap cerita yang ada dalam buku ini. Selain itu, pembaca tidak harus membaca secara berurutan untuk menikmati tulisan-tulisan yang ada di dalamnya. Meskipun buku ini berbicara mengenai keuangan dan kekayaan, namun Morgan Housel berhasil membuat pembaca memahami buku ini dengan mudah melalui bahasa yang ia gunakan. Buku ini juga dapat dibaca oleh semua kalangan karena sangat berguna untuk mengetahui ilmu tentang pengelolaan keuangan. Morgan Housel juga menyampaikan bahwa sebaiknya kita hidup dengan kekayaan “wealth” daripada kekayaan “rich”.

 

Penulis : Morgan Housel

Penerbit : BACA

Tahun terbit : 2021 (cetakan pertama)

Tebal halaman : 262 halaman

Perempuan di Titik Nol

Penulis : Nawal el-Saadawi

Oleh : Allysa Salsabillah

Anggota LPM Prima

Mahasiswa Hubungan Internasional, Fisip, Unej

“Kini saya sadari bahwa yang paling sedikit diperdayakan dari semua perempuan adalah pelacur. Perkawinan adalah lembaga yang dibangun atas penderitaan yang paling kejam untuk kaum wanita”

-Nawal el-Saadawi-

 

Perempuan di Titik Nol merupakan novel karya Nawal el Sadawi. Novel ini pertama kali diterbitkan pada tahun 1975 dalam bahasa Arab dengan judul Emra'a enda noktas el sifr. Penulisan novel ini didasarkan pada pengalaman seorang perempuan yang ditemui Nawal el Saadawi di Penjara Qanatir. Sebelumnya penerbitan novel ini sempat ditolak oleh beberapa penerbit di Mesir, hingga pada tahun 1975 novel ini diterbitkan oleh sebuah penerbit di Lebanon. Novel ini juga tersedia dalam Bahasa Inggris yang diterbitkan oleh Zed Books Ltd dan Room 400 di New York pada tahun 1983. Untuk di Indonesia sendiri, novel ini diterbitkan oleh Yayasan Pendidikan Obor Indonesia dan penerjemahnya adalah Amir Sutaarga. Untuk saat ini Perempuan di Titik Nol sudah diterbitkan ke dalam berbagai bahasa di dunia.

Novel Perempuan di Titik Nol menceritakan seorang perempuan bernama Firdaus yang menerima ketidakadilan sejak kecil. Dalam lingkungan keluarganya, telah ditampilkan bahwa kodrat lelaki lebih tinggi dari wanita sejak dini. Hal tersebut terlihat dari sosok sang Ayah yang selalu diperlakukan bak raja oleh istri dan anak-anaknya. Bahkan Firdaus mendapat kekerasan dari Ayahnya. Ia juga dibiarkan kelaparan dan membasuh kaki Ayahnya. Firdaus diciptakan sebagai pengganti ibunya sebagai pelayan rumah. Dalam contoh tersebut menunjukkan ketidaksetaraan gender di dalam sebuah keluarga, yang mana sosok Ayah menjadi dominan. Tak hanya dalam lingkungan keluarga, ketika ia tinggal bersama pamannya, ia juga tidak diperbolehkan belajar di Kairo dengan alasan karena ia adalah seorang perempuan.

Firdaus juga mendapatkan pelecehan seksual dan pelakunya adalah pamannya sendiri. Ia menerima perbuatan yang tidak senonoh tersebut sedari kecil. Dari hal tersebut membentuk Firdaus menjadi perempuan pelacur. Firdaus juga dijual oleh pamannya atas dasar “kawin” dengan laki-laki tua bernama Syekh Mahmoud dengan harga mahar yang cukup mahal. Bukannya bahagia, Firdaus justru dihujani kekerasan oleh suaminya sendiri. Menyedihkannya lagi, ia tak punya tempat mengadu dan hanya bisa pulang ke rumah pamannya yang sebenarnya sama-sama neraka.

Budaya patriarki begitu melekat dalam novel ini. Firdaus sebagai seorang perempuan, dianggap nomor dua dari seorang laki-laki. Perempuan harus tunduk kepada laki-laki dengan embel-embel karena laki-laki merupakan seorang “kepala” keluarga. Hal tersebut seakan melumrahkan kekerasan yang dialami seorang istri oleh suaminya. Karena katanya kewajiban seorang istri adalah patuh kepada suami. Hidup dalam lingkungan yang patriarki dan penuh ketidakadilan membuat Firdaus merasa perempuan hanyalah objek yang bisa ditindas dan menerima perlakuan yang sewenang-wenang. Budaya patriarki tersebut juga membentuk Firdaus akhirnya menjadi seorang pelacur. 

Kelebihan dari buku ini adalah tulisannya yang keras dan pedas dalam mengkritik budaya patriarki. Dengan membaca buku ini kalian akan sadar bahwa budaya patriarki juga sebenarnya terjadi pada lingkungan sekitar kita. Kalian akan mengenali bagaimana budaya patriarki tersebut masih melekat dan mengajarkan kita untuk lebih melek terhadap ketidaksetaraan tersebut. Kekurangan dari novel ini adalah beberapa bahasa yang sulit dicerna atau dimengerti karena mungkin merupakan bahasa terjemahan.

 

Penulis             : Nawal el Saadawi

Penerbit           : Yayasan Pendidikan Obor Indonesia

Tahun Terbit   : 2020 (Cetakan ke enam belas)

Tebal halaman : 176 halaman

You Do You

Penulis: Fellexandro Ruby

Oleh: Niken Ayu Dyah Setyorini

Anggota LPM PRIMA

Mahasiswa Hubungan Internasional, Fisip, Unej

 

Berbicara tentang passion, bakat dan minat, pekerjaan, impian hidup dan semacamnya sudah tak  asing lagi di telinga kita. Terutama pada orang berusia dewasa (19+) yang sudah dituntut untuk mempersiapkan masa depan sebaik mungkin. Hal ini membuat kita mencari jati diri, kemampuan diri, dan mencari apa yang sebenarnya kita butuhkan dalam hidup. Tak jarang saat menjalani proses tersebut banyak dari kita yang merasa putus asa, bingung, dan tak tahu arah. Namun, saat ini sudah banyak tersebar buku-buku pengembangan diri (self improvement) yang secara tidak langsung dapat membantu kita para pembaca membangkitkan semangat hidup dan menemukan berbagai cara pandang baru dalam menjalani kehidupan. Salah satu buku yang terkenal yaitu You Do You: Discovering Life Through Experiments & Self Awareness karya Fellexandro Ruby yang terbit pertama kali pada tahun 2020 lalu. Buku ini membahas berbagai masalah yang umumnya terjadi dalam kehidupan manusia seperti mencari jati diri, bimbang dalam menentukan pilihan hidup, rasa kehilangan diri sendiri, dan lain sebagainya. 

Fellexandro Ruby dikenal sebagai food photographer dari Jakarta. Ia melakukan podcast dengan Ario Pratomo yang berjudul “Thirsty Days of Lunch” yang mendapat banyak apresiasi oleh pendengarnya. Selain itu, ia juga membuat komunitas untuk pemuda yang memiliki keinginan untuk belajar belajar bersama di akun instagram @negeripembelajar dan sangat aktif membagikan ilmunya dalam Instagram maupun kanal youtube. Hal inilah yang membuatnya menulis buku You do You yang menekankan pada self awareness sebagai sebuah langkah awal dalam mencari passion dan ikigai. Penulis menyertakan hasil riset yang menunjukkan keunggulan dari orang-orang yang memiliki self awareness yang baik. Selain itu, penulis juga merekomendasikan berbagai media yang bisa digunakan untuk mengenali diri sendiri secara lebih baik lagi.

Apa itu ikigai? Ikigai merupakan kata dari Bahasa Jepang yang berarti sebuah objek yang memberikan alasan untuk hidup, contohnya: keluarga, impian, atau orang tersayang. Ikigai bukan hanya soal apa yang mau kita lakukan dalam hidup (karier/pekerjaan/living), tapi soal kita menjadi siapa dan manusia yang seperti apa (being). Di dalam buku ini, penulis mengatakan bahwa ikigai bukan hanya sebuah ‘purpose’ atau ‘reason for being’ atau alasan untuk hidup. Namun, bisa juga berupa kebahagiaan-kebahagiaan kecil dalam keseharian yang dalam jangka Panjang akan membuat hidup lebih bermakna.

Buku ini merupakan buku yang menekankan pada pengembangan diri. Dengan isi yang padat dan materi bahasan yang komprehensif membuat kita memahami diri lebih baik lagi. Gaya penulisan yang terkesan santai dan ringan membuat kita sangat mudah memahami isinya dengan baik dan merasa dekat dengan penulis. Meskipun pembahasannya tentang karir dan tujuan hidup, buku ini sama sekali tidak membosankan serta membuat kita ingin terus membacanya dalam membantu kita merefleksikan diri. Untuk orang-orang yang sedang putus asa karena usahanya yang tidak membuahkan hasil, buku ini mengingatkan bahwa percobaan dan pengalaman dapat menjadi proses untuk mengenali diri sendiri lebih dalam. Terdapat kutipan yang berbunyi “embrace failure, habiskan jatah gagalmu” karena pencarian ikigai tiap orang berbeda. Jadi, tidak ada patokan khusus bagaimana cara mencapai ikigai karena kepribadian setiap orang pun berbeda. Karena itu, buku ini menekankan pada self awareness dan meningkatkan pengalaman merupakan hal yang sangat penting untuk mencapai ikigai tersebut.

Buku ini menggunakan bahasa gaul anak muda. banyak digunakan kata gue-elo sebagai kata ganti panggilan penulis dan pembaca, dicampur dengan Bahasa Indonesia serta Bahasa Inggris. Saat membacanya kita merasa sedang mengobrol dengan teman sebaya dengan santai. Untuk itu, buku sangat cocok untuk para pemuda yang baru memulai karir hidup dan tujuan hidup kedepannya. Selain itu, penulis menyajikan berbagai pengalaman hidup dalam menggapai tujuan hidupnya yang membuat kita merasa mampu mencoba dan memiliki keinginan improve yang tinggi. Sehingga kita tidak hanya merasakan iri atas kehidupan orang lain. Lalu, penulis memberikan link untuk menentukan tips belajar yang efektif sesuai dengan kepribadian seseorang yaitu visual, audio, membaca dan menulis, serta kinestetik. 

Buku You Do You adalah salah satu buku yang cukup menarik untuk dibaca. Sebab, tak hanya isinya saja yang bermanfaat bagi kehidupan karir kita, tapi juga gaya bahasa yang digunakan mudah untuk dipahami. Penjelasan yang ada di dalamnya mampu membuat para pembaca merefleksikan diri dan berpikir tentang ke arah mana kita harus berjalan untuk menemukan passion kita. Meski media atau link yang diberikan di dalam buku ini tergolong sedikit. Namun, isi dari buku ini sudah lebih dari cukup untuk membuat para pembaca sadar atas diri mereka sendiri dan membangkitkan rasa semangat dalam mencari jalan hidup serta mengerti dengan apa yang sebenarnya kita butuhkan dalam hidup ini.

Terimakasih, selamat membaca buku! 

 

Identitas Buku

Judul Buku : You Do You

Jenis Buku : Non Fiksi

Nama Pengarang : Fellexandro Ruby

Nama Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

Tahun Terbit : 2020

Ketebalan Buku : 235 Halaman

Nomor ISBN : 978-602-06-4934-4

Harga Buku : Rp 128.000,00

The Alpha Girls Guide

Penulis: Henry Manampiring 

Oleh: Sri Rahayu

Anggota LPM PRIMA

Mahasiswa Kesejahteraan Sosial, FISIP, Unej


 

Sinopsis Buku : 

"Pendidikan yang baik itu akan memberi efek domino positif ke banyak aspek kehidupan lain. Dengan berpendidikan yang baik kamu bisa punya akses ke pekerjaan yang layak, punya kesadaran hukum, kesadaran hidup sehat, keinginan berpartisipasi politik dan usaha memberdayakan orang sekitar." said Alpha Sister ( hal 30)

 

Isi Resensi:

Ditengah maraknya generasi galau dan sendu buku ini hadir sebagai antitesis karena ngebahas kalau perempuan itu tidak selemah apa yang orang pikirkan, bahwa perempuan itu memiliki pemikiran logis yang bisa diambil dalam keputusan yang dihadapinya. Buku ini banyak mengambil sudut pandang kenapa perempuan harus logis dan lebih menggunakan akal sehatnya. 

Di dalam buku ini menceritakan tentang alpha female yang diartikan sebagai perempuan ambisius, bertekad kuat, menginspirasi, memimpin dan menggerakkan orang sekitarnya untuk menciptakan perubahan yang berarti. Mereka adalah perempuan-perempuan cerdas, percaya diri (confidence), dan independen dengan keputusannya. Tak heran banyak orang yang segan dan mengaguminya. 

Di dalam buku juga memberikan actionable tips dan juga cara-cara yang bisa digunakan agar perempuan bisa tetap bersinar dan tampil percaya diri dengan apapun tindakan atau keputusan yang diambil.

Dalam buku ini memberikan guide atau panduan untuk bisa menjadi wanita yang smart, independen, mandiri dan dapat menjadi pemimpin. Buku ini memberikan motivasi agar wanita terdorong untuk bisa menjadi alpha female agar dapat meng-upgrade diri setiap harinya menjadi wanita yang lebih baik lagi. 

 

Kelebihan

Buku ini menarik untuk dibaca bagi para kaum alpha maupun wanita yang terdorong untuk dapat menaikan value dan juga meng-upgrade diri menjadi seorang alpha female. Buku ini ini juga mudah dipahami dan bisa menjadi teman rebahan yang bermanfaat, menelisik lebih dalam tentang alpha female dan juga berpetualang untuk mengembangkan diri menjadi mereka.
 

Kelemahan 

Buku ini terlalu banyak mengambil kutipan dan ungkapan dari para alpha girls yang seharusnya halaman tersebut bisa dijadikan sebagai ruang (space) untuk menuliskan hal-hal yang lebih penting. Akan tetapi justru hanya digunakan untuk menulis ungkapan ataupun komentar dari para pembacanya.
 

Identitas Buku

Judul Buku : The Alpha Girls Guide

Penulis: Henry Manampiring 

Penerbit : Gagas Media

Tanggal Terbit : 30 Januari 2020

ISBN : 9789797809546

Tebal Halaman : 280 halaman 

Panjang : 19 cm

Lebar : 13.0 cm

Omniscient Reader’s Viewpoint

Penulis: Sing Shong

Oleh: Rima Kumara Dewi

Anggota LPM PRIMA

Mahasiswa Hubungan Internasional, FISIP, Unej

 

Omniscient Reader’s Viewpoint atau sering disingkat menjadi ORV, merupakan sebuah webnovel yang bertemakan fantasi. ORV merupakan karya dari penulis Sing Shong. ORV ini sendiri menceritakan di mana novel favorit karakter utama, Kim Dokja, menjadi nyata. 

Pada awalnya, ORV ini terasa sama seperti novel-novel fantasi lainnya. Di mana sebuah novel menjadi kenyataan. Adanya skenario yang berlangsung, ada monster, kemudian ada status tiap-tiap pemain. Dan juga, di ORV ada sistem koin, di mana ini didapatkan sebagai hadiah setelah menyelesaikan quest. 

Dikarenakan pengetahuannya mengenai novel ini lebih banyak daripada yang lain, Kim Dokja dapat melalui skenario yang berjalan dengan metode-metode yang tidak biasa. Dan dengan metode-metode tak biasa ini, Ia bisa melewati skenario dengan memaksimalkan hadiah yang bisa Ia peroleh. 

Kelebihan dari novel Omniscient Reader’s Viewpoint adalah novel ini merupakan paket lengkap. Kita bisa menemukan pertarungan yang seru, adegan dramatis yang membuat tangis, hingga komedi yang membuat tawa menggelegar.  

Selain itu, ORV juga menyuguhkan kita sejarah serta mitologi yang ada di dunia ini. Dengan cerita sejarah dan mitologi dikemas dengan bumbu fiksi, kita tanpa sadar akan larut dalam cerita-cerita ini dan lebih menikmati saat membacanya.

Novel ORV ini tidak bisa kita temukan kekurangannya. Walaupun novel ini memiliki 551 chapters, keseluruhan isinya ialah detail-detail penting yang tidak bisa kita lewatkan. Oleh karena itu, kita tidak bisa menemukan kekurangan di dalam novel karya Sing Shong ini.

 

Penulis : Sing Shong

Penerbit : Webnovel (English Webnovel)

Munpia (Korean Webnovel)

LINE Webtoon (English Webtoon)

Naver Webtoon (Korean Webtoon)

Tahun Terbit    : 6 Januari, 2018 - 2 Februari 2020 (Korean Webnovel)

21 Desember, 2018 - 6 Maret 2020 (English Webnovel)

19 Agustus, 2020 - Ongoing (English Webtoon)

26 Mei, 2020 - Ongoing (Korean Webtoon)

 

Laut Bercerita

Penulis : Leila S. Chudori

Oleh : Allysa Salsabillah

Anggota LPM Prima

Mahasiswa Hubungan Internasional, Fisip, Unej

“Matilah engkau mati, kau akan lahir berkali-kali”

– Leila S.Chudori

 

Novel Laut Bercerita merupakan hasil karya Leila Salikha Chudori, penulis yang sama dengan resensi buku yang sebelumnya yang berjudul “Pulang”. Novel ini menjadi salah satu buku Leila yang best seller, bahkan meraih penghargaan tertinggi IKAPI Awards dengan kategori Book of the Year pada tanggal 9 November 2022 saat pembukaan Indonesia International Book Fair di Jakarta Convention. Buku ini mengambil latar belakang masa Orde Baru.  

Laut Bercerita menceritakan tentang kehilangan, kerinduan, dan keberanian. Buku ini mengambil dua sudut pandang yaitu Biru Laut, dan sang adik Asmara Jati. Biru Laut Wibisana adalah nama lengkapnya. Ia lahir pada tanggal 12 Desember. Tanggal ini kerap dirayakan oleh para pembaca buku Laut Bercerita karena begitu melekat dan menyentuh hati dengan sosok Biru Laut. Laut sendiri merupakan mahasiswa Universitas Gadjah Mada Yogyakarta dengan program studi sastra inggris. Ia begitu senang dengan dunia sastra, baik sastra klasik, sastra Bahasa Indonesia maupun Bahasa Inggris.

Laut cukup aktif menulis, hal tersebut tidak lepas dari kegemarannya membaca. Mungkin karena bapaknya merupakan seorang wartawan Harian Solo, sehingga erat kaitannya dengan membaca dan menulis. Setelah bertemu dengan Kinan, ia bergabung dalam Gerakan Mahasiswa Winatra yang kemudian berasosiasi dengan Wirasena. Laut dan kawan-kawannya juga tergabung dalam organisasi ini. Mereka memutuskan untuk mengadakan diskusi tentang buku-buku terlarang di tengah hutan Desa Pete, Seyegan. Sebuah rumah yang menurut mereka cukup aman dari pantauan intel.

Laut dan kawan-kawannya mengadakan diskusi buku-buku yang dilarang oleh pemerintah. Mereka menggandakan buku-buku yang dianggap “kiri” secara diam-diam. Buku-buku tersebut seperti buku Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa karya Pramoedya Ananta Toer. Mereka juga harus menyembunyikan buku-buku seperti pemikiran Karl Marx dan Malaka. Hal tersebut dilakukan karena masih banyak penangkapan para aktivis Yogyakarta yang membawa fotokopi buku karya Pramoedya Ananta Toer dan sejenisnya yang dianggap sama saja dengan menenteng bom dan pengkhianat bangsa.

Laut tentunya menyembunyikan kegiatannya Bersama Winatra supaya keluarganya aman. Semula kegiatannya hanya sebatas diskusi buku, kini telah merambah menjadi sebuah aksi. Mereka membuat aksi Tanam Jagung Blangguan pada tahun 1993. Aksi tersebut tercium oleh para intel, mereka melakukan penggerebekan di Pelem Kecut. Kinan, Bram, Sunu, Alex, dan Laut diangkut untuk diinterogasi sepanjang malam. Mereka menduga ada salah satu dari mereka yang membocorkan rencana ini. Seperti kata Bram, pengkhianat memang ada di mana-mana, bahkan di depan hidung kita. Hingga pada tahun 1996, organisasi yang diikuti Laut dan kawannya dinyatakan sebagai organisasi yang terlarang. Bahkan Laut beserta aktivis lainnya tercantum dalam daftar buronan. Mereka diinterogasi, disiksa, bahkan hilang tanpa kabar. 

Dalam bagian sudut pandang Laut memang banyak menceritakan kegiatan Laut sebagai seorang aktivis. Sedangkan dalam bagian sudut pandang Asmara Jati, adik Laut Biru menceritakan bagaimana kesedihan keluarganya, Anjani, dan kerabat lain karena peristiwa tersebut.

Kelebihan dari buku ini kamu akan tahu betul bagaimana sejarah perburuan aktivis pada tahun 1998, bagaimana mereka disiksa, dihilangkan, bahkan dibunuh. Apabila kamu mendengar tentang isu hilangnya 13 aktivis pada tahun 1998, maka buku ini erat kaitannya dengan hal ini. Kekurangannya tidak ada, kamu hanya akan dibawa ke ruang masa lalu yang gelap dan penuh ketidakadilan. 

 

Penulis          : Leila S. Chudori

Penerbit        : Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)

Tahun Terbit  : 2017

Cetakan       : Cetakan ketigabelas, Januari 2021

Tebal           : 379 halaman

 

Pulang

Penulis : Leila S. Chudori

Oleh : Allysa Salsabillah

Anngota LPM Prima

Mahasiswa Hubungan Internasional, Fisip, Unej

“Rumah adalah tempat di mana aku bisa pulang”

– Leila S.Chudori

 

Buku ini ditulis oleh seorang penulis dan sastrawan terkenal yaitu Leila S. Chudori. Beliau lahir di Jakarta pada tanggal 12 Desember 1962. Ia sudah menggeluti dunia kepenulisan sejak kecil. Bahkan ketika umur 12 tahun, karya-karyanya sudah terbit di majalah-majalah. Ia juga sempat bekerja di majalah berita Tempo pada tahun 1989 sebagai wartawan. Selain menulis buku, ia juga pernah menjadi penulis skenario drama televisi seperti Dunia Tanpa Koma yang dibintangi oleh Dian Sastrowardoyono pada tahun 2006.

Indonesia merupakan salah satu negara yang tidak lepas dari sejarahnya yang kelam. Sebagai warga yang baik, kita tentunya harus merawat ingatan dengan terus banyak membaca sejarah supaya tidak dibodoh-bodohi. Hal tersebut tidak lepas dari banyaknya sejarah yang dikaburkan untuk kepentingan orang-orang tertentu. Dalam novel pulang ini menceritakan kehidupan para eksil politik, bagaimana mereka diburu dan dirampas hak-hak hidupnya. Cerita ini mengambil latar belakang kejadian pada bulan September 1965 di Indonesia, bulan Mei 1968 di  Prancis, dan bulan Mei 1998 di Indonesia.

Namanya Dimas Suryo, salah satu eksil politik Indonesia. Ia merupakan salah satu wartawan dalam redaksi berita Nusantara. Dalam sebuah tugas kerja ia terpaksa terbang ke Prancis untuk menggantikan seorang rekannya, Hananto. Dimas tidak sendiri, ia pergi Bersama rekan-rekan lainnya. Tugas tersebut ialah harus menghadiri konferensi para wartawan di Paris. Salah satu kota yang terkenal dengan pakaian warganya yang modis. Tak heran jika kota ini mendapat julukan pusat model dunia.

Berlanjutnya waktu, Dimas dan rekan-rekan lainnya yaitu Risjaf, Nugroho, dan Tjai Sin Soe terpaksa menetap di Paris. Hal tersebut karena suasana tanah air yang memanas stelah peristiwa 30 September. Beberapa dari mereka tercantum dalam buronan PKI. Mereka diburu karena bekerja di Kantor Berita Nusantara. Kawanan mereka yang di Indonesia pun juga diburu. Surti, istri dari Hananto terus memberikan kabar tentang situasi di tanah air. Ia dicecar banyak pertanyaan karena menjadi istri Hananto.

Sebagai upaya bertahan hidup, akhirnya mereka mendirikan restoran yang bernama Restoran Tanah Air. Dari penghasilan usaha tersebut mereka juga menyalurkan bantuan kepada keluarga dari rekan-rekan mereka yang hilang karena perburuan peristiwa 30 September tersebut. Aji, adik dari Dimas Suryo tak henti-hentinya mengirim pesan melalui telegram untuk jangan pulang dan terus mengabarkan keadaan di tanah air.

Lintang Utara, anak dari hasil perkawinan Dimas Suroyo dan Vivienne Deveraux berhasil masuk ke Indonesia karena bantuan dari kawannya yang berada di Kedutaan Besar Prancis. Dari sana ia bertemu dengan keluarga dari kawan-kawan ayahnya. Ia juga bertemu dengan Segara Alam anak dari Hananto, sosok yang pada akhirnya turut membantu Lintang dalam menyelesaikan penelitian untuk tugas akhirnya. Tak hanya itu, ia jadi tahu alasan mengapa ayahnya sangat ingin pulang. Secara tidak sengaja, Lintang, Alam, dan kawan-kawan lainnya juga menjadi saksi terjadinya kerusuhan Mei 1988.  

Buku ini cocok untuk kamu yang tertarik dengan sejarah Indonesia, khususnya sejarah pada tahun 1965 yang erat kaitannya dengan PKI. Dalam buku ini kalian akan diajak untuk melihat sisi kehidupan orang-orang yang menjadi korban dari pemburuan PKI pada tahun 1965.  Alurnya yang maju mundur mungkin akan membuat pembaca sedikit kebingungan. Tetapi tentunya tidak akan mengurangi eksistensi isi dari bacaan ini.

Penulis          : Leila S. Chudori

Penerbit        : Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)

Tahun Terbit  : 2012

Cetakan       : Cetakan kesembilan belas, Februari 2022

Tebal           : 461 halaman

 

 

Panggil Aku Kartini Saja

Penulis : Pramoedya Ananta Toer

Penerbit : Lentera Dipantara

Oleh : Wilda Aulia

Anggota LPM Prima 

Mahasiswa Hubungan Internasional, Fisip, Unej

“Barang siapa yang tidak berani, dia tidak bakal menang; itulah semboyanku! Maju! Semua harus dilakukan dan dimulai dengan berani! Pemberani-pemberani memenangkan tiga perempat dunia!” (R.A Kartini)

Sering kita mendengar nama “ R.A Kartini” dalam buku pelajaran sejarah yang kita pelajari pada bangku sekolah. R.A Kartini identik dengan perempuan Jawa yang berparas ayu, bersanggul dan berkebaya. Namun, jika ditanya lebih detail, siapa itu R.A Kartini? Tentu, mayoritas masyarakat mengatakan beliau adalah pahlawan nasional Indonesia, tokoh emansipasi wanita, perempuan penegak kesetaraan dan masih banyak hal serupa lainnya. Dengan rekam jejak dan kelebihan-kelebihan yang dimiliki R.A Kartini tersebut mampu membuat masyarakat Indonesia merasa kagum atas perjuangan yang telah dilakukan kala itu. Tidak terkecuali Pramoedya Ananta Toer, Seorang penulis legendaris yang menyatakan kekagumannya melalui karya tulisan. Karya tulisan Pram yang menggambarkan R.A Kartini dari berbagai sisi ini ia tuangkan melalui buku yang berjudul “Panggil Aku Kartini Saja”.

Dalam bukunya Pram memberikan pendapat bahwasannya R.A Kartini merupakan pelopor kesetaraan bagi perempuan sekaligus pemikir modern Indonesia. Perlu kita ketahui, pada masa lalu nilai-nilai budaya menjadi dasar utama dan satu-satunya untuk masyarakat bertindak. Salah satu dari nilai-nilai budaya tersebut adalah pendidikan bukan hal yang penting, sehingga buta huruf masih kerap dijumpai diberbagai daerah. Seperti termuat disalah satu suratnya Estelle Zeehandelaar tertanggal 25 Mei 1899 yang berbunyi “ Bocah perempuan sekolah masuk sekolah! Itu adalah suatu pengkhianatan besar terhadap adat kebiasaan negeriku, kami bocah-bocah perempuan keluar rumah untuk belajar dan karenanya harus meninggalkan rumah setiap hari untuk mengunjungi sekolah,” karena kata Kartini selanjutnya” lihatlah adat negeri kami melarang keras gadis-gadis keluar rumah . pergi ke tempat lain pun kami tak boleh.” Walaupun terdapat budaya demikian, R.A Kartini dengan semangat patriotisme menerjang nilai-nilai budaya yang menurutnya perlu mengalami perubahan. Pram menarasikan pada buku ini bahwasannya R.A Kartini dengan tegas mengatakan “Kami berhak untuk tidak menjadi bodoh” yang menjadi semangat perjuangannya menyuarakan kesetaraan pendidikan.

Pada buku ini Pram telah berhasil menyajikan cerita menarik tentang biografi R.A Kartini dan perjalanan hidupnya dengan begitu signifikan. Judul pada buku ini merupakan perkataan kartini yang menolak secara keras budaya feodalisme. Perkataan tersebut dikutip oleh pram yang termuat di salah satu suratnya ke Estelle Zeehandelaar tertanggal 25 Mei 1899 yang berbunyi: “Panggil aku Kartini saja—itulah namaku.” (hal. 231). Dengan membaca buku ini pembaca dapat memaknai peringatan Hari Kartini yang jatuh pada tanggal 21 April dengan penuh arti. Melalui buku ini pula Pram mempertegas ucapan Soekarno tentang sejarah yang berbunyi “ Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya”.

 

It Ends With Us, Proses Mengenal dan Keluar Dari Toxic Relationship

Penulis : Colleen Hoover

Oleh : Nora Jasmine 

Anggota LPM Prima 

Mahasiswa Sosiologi,Fisip, Unej 

Stop the pattern before the pattern breaks you” kiranya menjadi benang merah tentang apa yang dibahas oleh salah satu buku bersampul pink yang sedang ramai diburu oleh pecinta buku-buku Import ini. Berawal dari kisah pahit  Lily yang dibesarkan oleh seorang bapak yang abusive, tidak segan menyiksa ibunya secara fisik dan psikis bahkan didepan matanya sendiri hingga pertemuan manisnya dengan Ryle seorang pria yang ternyata membawa nasib serupa pada Lily dengan apa yang dialami oleh ibunya. Novel ini lengkap membahas naik turunnya sebuah hubungan, bahkan separuh dari buku akan membawa perasaanmu melejit naik bahkan senyum-senyum sendiri dengan kisah perjumpaan Lily dengan Ryle, istilahnya butterfly in my tummy melihat manisnya hubungan mereka. Di saat yang sama, pembaca turut dibawa jatuh dalam ekspektasi-ekspektasi hubungan mereka yang berjalan tidak sesuai dugaan.

Realita hubungan yang toxic terurai dengan jelas melalui perspektif korban dalam novel ini, hingga kita dapat meresapi sedih dan kepahitan yang dirasakan oleh Lily mulai dari suara hati hingga pemilihan aksi dalam menghadapi “ketergantungan” terhadap toxic relationship yang dihadapinya. Buku ini kiranya mengajak kita untuk menyadari, peringatan-peringatan awal hubungan “racun” yang terkadang tidak kita sadari, pola-pola yang muncul dalam hubungan seperti tidak ditepatinya janji, permohonan maaf berujung omong kosong dan aksi-aksi kekerasan fisik yang terus berulang menjadi kebiasaan dari seseorang yang abusive.

Novel  kurang lebih 300  halaman ini menggunakan bahasa Inggris yang cukup sederhana dan mudah dimengerti, sehingga cocok bagi para pemula yang inign membaca buku berbahasa asing. Perlu diketahui, trigger warning novel ini yaitu : domestic abuse, gun violence, mentions of suicide, attempted rape on a pregnant women karenanya, rate usia untuk membaca buku ini perlu ditaati dan dihindari oleh sebagian orang. Akhir kata, selamat mencermati dan memahami bagaimana hubungan toxic itu bisa terjadi melalui kisah Lily. Selamat membaca!

Kincir Waktu

INVESTIGASI KISAH KELAM

Oleh: Nindya Andwitasari

Mahasiswa Sosiologi Fisip, Unej

“Alam mengajarkan setiap Ibu yang melahirkan pasti mengeluarkan darah, Wi. Begitulah pemerintahan baru, juga akan diawali tumpahan darah rahim Ibu Pertiwi”

Siapa sebenarnya Dalang dari kerusuhan, pembantaian, dan pemerkosaan besar-besaran yang terjadi pada tanggal 13-15 Mei 1998? Apa motif mereka melakukan itu terhadap Etnis yang sedikit banyak membantu perekonomian Indonesia selama ini? Lalu apa hubungannya dengan pelengseran Pemerintahan diktator kala itu yang disebut dengan pemerintahan Orde Baru? Bagaimana bisa kasus sebesar itu, hingga saat ini tidak terpecahkan? Bagaimana nasib anak cucu para korban pembantaian sadis itu? Dimana mereka tinggal saat ini? Apakah masih ada semangat Merah-Putih di dalam hatinya? Pertanyaan demi pertanyaan berputar membuat asap pekat dalam pikiran Wikan Larasati setelah ia menerima telfon dari Inge dan melakukan perjalan ke kota dengan sebutan “The City that Never Sleep”. Ya telfon dari Inge, sebutan akrab yang bernama asli Elodie Appolonia Francois seorang pemimpin tertinggi Ordo Kesatria Pemeliharaan Kesucian Bumi itu telah mengantarkan Wikan, Jurnalis ternama Majalah Dimensi ke New York City.

            Setelah menginjakkan kaki di New York, tepatnya di depan patung yang masuk kedalam Situs warisan dunia UNESCO untuk bertemu dengan seseorang yang telah mengundangnya,  tragedi kecil terjadi yang ia alami di pelataran patung dengan warna hijau mint itu, tak di sangka tragedi tersebut sebagai ucapan selamat datang kepada Wikan yang akan membawa jurnalis muda terbaik majalah Dimensi kedalam hiruk pikuk tragedi-tragedi besar setelahnya terkait kasus investigasinya itu.

            Tugas pertamanya di kota kunang-kunang ini adalah menuju Safe House yang entah apa tujuannya datang kesana, ada sebuah kejanggalan, Wikan selama perjalanan menuju tempat tersebut harus menutup matanya, entah apa tujuannya yang ia bisa lakukan hanya menurut, sebab ia adalah tamu undangan disini. Tak disangka sesampainya disana ia bertemu dengan salah satu korban kejadian sadis beberapa dekade lalu itu.

Nemi, wanita cantik, berkulit putih bersih, namun sayang kondisi psikisnya tidak sebaik kondisi tubuhnya, ia diam, tatapan sinis di mata menyiratkan api amarah yang mendalam. Tidak banyak informasi yang ia dapatkan dari Nemi, sebab tak lama dari ucapan sapa Wikan yang lembut dan pelukan hangat yang ia berikan, Nemi mendadak pingsan. Tapi siapa sangka, pertemuannya dengan Nemi lebih membawa teka teki dan petualangan investigasi serta tragedi demi tragedi besar jika dibandingkan dengan tragedi kecil yang ia dapatkan di pelataran monument patung Liberty.

            Kecurigaan dan pertanyaan yang timbul setelah pertemuannya dengan Nemi gadis Tionghoa cantik asal Indonesia, ternyata membawa dia bertemu dengan banyak tokoh yang sedikit demi sedikit memberi sinyal jawaban, salah satunya yaitu pertemuannya dengan salah seorang konglomerat Chindo (China Indonesia) di Philadelphia, Papaf sebutan tenarnya dialek yang khas ketika berbicara dengannya, yakni dialek Chindo Semarang sangat kental di dalam tiap kata yang keluar, siapa sangka tokoh tersebut juga ada kaitannya dengan kasus yang di investigasi oleh Esa tentang Rumah Hantu di Tanggerang yang memakan dua korban pembunuhan di dalamnya, kebetulan yang tak disangka.

 Kasus ini semakin menarik, tak hanya Papaf, Wikan juga bertemu mantan aktivis 98 yang berperan penting saat tragedi tersebut, Baper lengkapnya Bagus Perkoso, seorang pelaku bom rakitan Tanah Kusir pada tragedi sebelum Reformasi 1998. Tak hanya Baper, dia ditarik oleh semesta untuk bertemu dengan nama besar lainnya. Seperti Jad dan Fir Tionang, saudara kembar seiras yang bisnis dan perangainya sangat licin. Perkenalannya dengan Domohadi Tjouw keponakan papaf yang hampir saja memperkosa Wikan di rumah kabin tepi sungai Schuykill dengan mencampurkan minumannya dengan obat perangsang. Bertemunya dia dengan Donna, sahabat Tabitha Suradipura, wawancaranya bersama Jenderal Zoelini, datangnya Eunice fotografer muda Dimensi yang mengenal baik Oxa.

 pertemanan antara tamu dan pengawal pribadi yang ditugaskan oleh Inge untuk Wikan selama di New York City yaitu Natasha yang ia rasa ada kejanggalan, Jam Rolex seri terbaik di dunia yang ternyata palsu, yang di dalamnya terdapat alat penyadap suara yang diberikan Glen, wawancara singakatnya dengan Gentari Mudaris anak dari pembisnis ulung yang juga ikut bermain api dalam kasus Investigasi ini. Semua kejadian dan orang yang ia kenal dalam investigasi ini sangat rumit dan spektakuler, sebab bagi Wikan ini seperti susunan Puzzle yang berserakan, yang semuanya saling terhubung kuat. Petualangan yang ia harus selesaikan demi tugasnya, nama baiknya, rahasia besar Ibu Pertiwi, dan martabat bangsanya di mata dunia.

            Novel series karya Akmal Nasery Basral ini sangat apik, bahasa yang mudah dipahami bagi pembaca setianya, alur cerita yang mampu menyulut segala emosi, kejutan-kejutan yang diberikan penulis dalam alur cerita yang membuat pembaca terus penasaran. Latar tempat dan suasana yang tergambar jelas, serta topik yang diangkat menjadi cerita dalam novel ini mampu membuat hati terenyuh dan membayangkan betapa rumit dan sadisnya kedaan dunia dalam melihat suatu tragedi kemanusiaan. Novel ini sangat di rekomendasikan untuk pembaca yang ingin mengenal dunia dan hiruk pikuk dunia hitam dari suatu tragedi di dalam negara dengan bahasa dan pembahasan yang tidak terlalu berat namun mampu menciptakan rasa cinta untuk membaca, namun terdapat beberapa kekurangan, seperti tidak adanya kalimat penjelas dari dialog-dialog pendek yang menggunakan bahasa asing di awal cerita.

 

Penulis: Akmal Nasery Basral

Penerbit: Republika Penerbit

Tahun Terbit: Cetakan I, November 2021

Tebal: 570 Halaman

ISBN: 978-602-9474-40-4     

Dare

Berani Berubah Karena Hidup Terus Berubah

Judul buku : Dare! A Book for Those Who Dare to Change Their Lives 

Penulis buku : Wendy Grant

Penerjemah : Laila Qadria

Penerbit : Bright Publisher

Didistribusikan oleh : Mitra Media Nusantara

ISBN : 978-602-5868-03-0

Tebal halaman : 211

Hidup adalah sebuah anugerah yang diberikan oleh Tuhan kepada setiap manusia yang tinggal di dunia. Setiap manusia memiliki perjalanan hidup yang berbeda. Dalam kenyatannya jika hidup ingin mengalami perubahan maka harus berani untuk memilih dan harus berani untuk berubah karena hidup setiap harinya terus berubah. Kehidupan yang sulit ditebak membuat sebagian orang sering mengalami setres sehingga tidak bisa menikmati kehidupannya.

Buku ini berisi tentang latihan mengendalikan diri, mengajak diri untuk pergi ke arah bawa sadar, bagaimana kita belajar mengendalikan emosi, dan keegoisan diri. Berbagai macam latihan yang terdapat di dalamnya sebagai bentuk hipnoterapi. Setelah mengikuti langkah-langkah yang ada, akan bemanfaat membantu berdamai dengan diri sendiri dimana perasaan lebih rileks dan mampu kembali menjadi orang yang lebih kuat dalam menjalankan kehidupan.

“Kemampuan untuk membuang segenap bentuk pertahanan diri membutuhkan pengalaman dan keberanian. Saat bisa menyingkarkan ketakutan dan menolaknya, tidak menyerah terhadap perasaan tersebut berarti anda telah berhasil membebaskan diri”, begitulah kutipan yang terdapat dibagian pendahuluan buku.

Belajar menerima kenyataan hidup bagi sebagian orang tidaklah mudah, belajar untuk terus mencintai diri sendiri atas segala hal yang terjadi dan mengajak untuk tetap percaya diri. Diarahkan untuk melakukan pemenuhan hak terhadap diri sendiri yaitu dengan cara mengekspresikan diri sesuai keinginan tanpa harus ribet memikirkan atau mendengarkan perkataan orang lain.

Lepaskan yang membuat kamu berat, berhenti mendengarkan kata orang ikutilah kata hati dan nikmatilah hidup menurut versi terbaik dari dirimu, karena hidup tidak harus satu rasa dan satu suara dengan orang lain. Setiap orang memiliki tujuan hidup yang berbeda.

Buku ini dikemas dengan apik, memuat sebuah narasi yang bagus. Diajak untuk melakukan meditasi sendirian untuk mengenali “siapa diri kita sesungguhnya” dibantu menggunakan Teknik visualisasi dalam membuat perubahan. Buku ini sangat cocok untuk siapa saja yang ingin berdamai dengan dirinya sendiri, membantu mengurangi rasa insecure dan kecemasan mengenai sesuatu yang sudah terjadi ataupun belum tentu terjadi. Dengan adanya buku ini bukan mengajak orang untuk egois melainkan sebuah langkah untuk mengekspresikan diri dengan jujur dan membantu orang meraih tingkat kehidupan yang lebih tinggi. (Leha)

 

 

 

 

Please Look After Mom

Mengenal Lebih Dalam Sisi Lain dari Ibu yang Kita Lupakan

 

Identitas Buku :

Judul buku : Please Look After Mom

Pengarang : Kyung Sook-Shin

Penerjemah : Tanti Lesmana

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

Waktu Terbit : Februari 2020

ISBN : 9786020315409

Tebal halaman : 296 Halaman

 

Sinopsis :

Sepasang suami-istri ke kota untuk mengunjungi anak-anak mereka yang telah dewasa. Sang suami bergegas naik ke gerbong kereta bawah tanah dan mengira istrinya mengikuti di belakangnya. Setelah melewati beberapa stasiun, barulah dia menyadari bahwa istrinya tidak ada. istrinya tertinggal di stasiun Seoul.

Perempuan yang hilang itu tak kunjung ditemukan, dan keluarga yang kehilangan ibu/istri/ipar itu mesti mengatasi trauma akibat kejadian tersebut. Satu per satu mereka teringat hal-hal di masa lampau yang kini membuat mereka tersadar betapa pentingnya peran sang ibu bagi mereka; dan betapa sedikitnya mereka mengenal sosok sang ibu selama ini. Perasaan-perasaannya, harapan-harapannya, dan mimpi-mimpinya.

 

Ibu, kata yang sering kita ucap untuk memanggil seseorang yang membawa kita ke dalam dunia ini. Seiring dengan waktu, kita cenderung melupakan banyak momentum dan orang-orang yang hadir dalam perjalanan hidup. Termasuk atas diri kita sendiri dan sosok “Ibu” yang kita kenal. Buku Kyung-Sook Shin yang mendapat berbagai penghargaan salah satunya Prix de I’Inapercu dari Prancis ini bercerita tentang hilangnya seorang perempuan tua di tengah-tengah kota Seoul ketika hendak mengunjungi anaknya. Anak-anaknya yang hidup jauh dari kampung halaman dan sibuk dengan kehidupannya sendiri-sendiri adalah alasan Park So-Nyo dan suaminya bergegas mengunjungi mereka untuk melepas kerinduan. Di tengah-tengah stasiun yang padat, di dalam kerumunan orang-orang yang sibuk di stasiun Seoul itu, dirinya menghilang dan lepas dari genggaman tangan suaminya.

Satu dua cara dilakukan oleh suami dan anaknya untuk menemukan ibu mereka yang hilang tak berbuah apa-apa. Ibunya yang hilang itu, hanya meninggalkan bekas langkah dan kenangan di dalam kepala semua orang yang merasa kehilangan dirinya.

Waktu berlalu, jurang antara ketidakpastian dan hilangnya harapan semakin dalam. Pada saat itu, barulah satu persatu orang yang ditinggalkan merasakan apa itu arti “kehilangan” pada diri mereka. Rumah mereka di desa kecil Chong-up yang hanya ditinggali berdua dengan sang suami menjadi semakin lengang dan berantakan, tidak ada tangan halus yang merapikan kasur dan menyiapkan makan siang. Sang suami pun teringat, bagaimana selama 50 tahun hidup bersama tidak pernah sekalipun ia menunjukkan rasa kasih dan sayang, hingga sesederhana membelikan obat untuk sakit kepala saja tidak dilakukannya “Baru sekarang kau menyadari, dengan hati pedih, bahwa selama ini kau telah menutup mata terhadap kondisi istrimu yang sering bingung dan lupa”.

Buku ini dikemas dengan apik, memuat narasi dan dialog antar tokoh-tokoh yang ada di dalamnya. Bahasa terjemahan yang mudah dipahami sedemikian rupa, tidak seperti buku terjemahan bahasa asing lain yang justru lebih sering membuat kebingungan.

Namun, suguhan alur yang maju mundur akan membuat sebagian pembaca sedikit kebingungan dan membutuhkan waktu lebih untuk mengingat kejadian yang sudah dipaparkan sebelumnya ketika kembali dibahas pada halaman yang saat itu dibaca. Hal inilah yang kiranya membuat sebagian orang akan kesulitan dalam membaca buku ini.

Terlepas dari itu semua, buku ini sangat perlu dibaca setidaknya sekali dalam hidup, mengingat buku ini menyuguhkan sudut pandang lain yang mungkin tidak kita sadari dalam melihat orang lain, khususnya sosok “Ibu” dalam kehidupan kita. Selain menjadi pelajaran, kisah dalam buku ini pun dapat menjadi renungan.

 

-nja.