F8 Makassar Ide Lokal yang Sudah Mengglobal

Kebudayaan merupakan salah satu aspek yang paling membedakan manusia dari makhluk lain di planet ini. Ia mencakup seluruh sistem nilai, norma, kepercayaan, bahasa, seni, dan tradisi yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Kebudayaan mencerminkan identitas dan sejarah suatu masyarakat, menciptakan kerangka yang membimbing perilaku individu dan kelompok dalam kehidupan sehari-hari. Dalam kebudayaan, kita menemukan keanekaragaman yang luar biasa, baik dalam bentuknya maupun dalam cara masyarakat memahami dan merayakannya. Kebudayaan juga menjadi sarana untuk menyampaikan pengetahuan, menghormati leluhur, dan mempromosikan integrasi sosial. Oleh karena itu, menjaga dan menghargai kebudayaan adalah langkah penting dalam memahami dunia yang kita tinggali dan mempromosikan perdamaian serta pemahaman lintas budaya.

Kebudayaan bukan hanya seperangkat norma dan nilai, tetapi juga fondasi yang membentuk identitas kita sebagai manusia. Setiap masyarakat di seluruh dunia memiliki kebudayaan unik mereka sendiri, dengan bahasa, seni, tradisi, dan kepercayaan yang membedakan mereka satu sama lain. Kebudayaan memainkan peran sentral dalam mengarahkan cara kita berpikir, berperilaku, dan berinteraksi dengan lingkungan dan sesama manusia. Melalui pemahaman tentang kebudayaan, kita dapat memahami sejarah, konflik, kerjasama, dan evolusi manusia. Pendahuluan ini mengajak kita untuk menjelajahi kerumitan dan keindahan kebudayaan, yang membentuk bagian integral dari kehidupan kita sehari-hari. Perjalanan sealama beberapa hari di Makassar pun dimulai. 

Makassar merupakan sebuah kota yang terletak di bagian selatan Sulawesi, Indonesia. Kota ini memiliki sejarah yang kaya, menjadi pusat perdagangan penting di wilayah tersebut selama berabad-abad. Salah satu ciri khas Makassar adalah Benteng Rotterdam, sebuah benteng peninggalan Belanda yang menjulang di pinggir pantai, mengingatkan kita pada era kolonial di Indonesia. Selain itu, Makassar juga terkenal dengan kuliner khasnya, seperti Coto Makassar, konro, dan pallubasa, yang merupakan hidangan berbahan dasar daging sapi dan tulang yang diolah dengan rempah-rempah khas Makassar, sehingga menciptakan cita rasa yang unik.

Kota ini juga memiliki berbagai macam sejarah serta festival unik. Salah satunya festival F8 Makassar yang diselenggarakan 1 kali dalam setahun. Festival ini dimulai pertama kali pada tahun 2016 dan 2018, kemudian pada 2019 dan 2020 festival ini dikembangkan menjadi top 10 wonderful event Indonesia. F8 merupakan ajang tahunan nasional yang digelar di Makassar. F8 sendiri adalah singkatan dari fashion, food, fiction, writers and fonts, fine art, folks, fusion music, flora and fauna, dan film. F8 biasanya digelar pada bulan September namun kali  ini F8 digelar pada awal bulan Agustus 2023 dan bertepatan saat saya sudah berada di Makassar. F8 Makassar 2023 digelar oleh PTR Festival Delapan Indonesia kali ini mengusung tema “Next Gen Treasure”. Tema ini dimaksudkan sebagai harapan, festival nasional  ini menjadi warisan budaya generasi Z.

F8 digelar di Anjungan Pantai Losari sepanjang 1,4 km, tarif masuknya sebesar RP 20.000 per orang. Namun yang uniknya bagi pengunjung yang ingin mendapatkan potongan harga 50 persen, disilakan membawa 2 botol kosong. Botol ini nantinya akan dikumpulkan di tempat pembelian tiket, dan pengunjung cukup membayar Rp 10.000 saja. Festival ini jadi bagi para pelaku usaha dan kreator dalam menampilkan produk dan kreativitas yang dimilikinya, F8 ini diselenggarakan selama 5 hari, mulai dari tanggal 23 Agustus sampai 27 Agustus. Tentu festival ini juga di hadiri oleh kepala daerah di Indonesia, seperti Wali Kota Bogor Bima Arya dan Wali Kota Medan Bobby Nasution. Namun tak hanya sampai di situ saja festival ini juga dihadiri oleh 100 pemuda dari anak lorongna Makassar, mereka tampil dengan menyanyikan lagu khas anak lorong. Dari 100 anak Lorong, tiga diantaranya adalah perempuan yang memainkan gitar dengan penuh percaya diri dan membuat penonton terpukau. 
Meskipun mereka menggunakan pakaian pengamen, namun semangat dan juga tekad mereka begitu membara. Tak hanya anak Lorong saja yang ikut memeriahkan acara ini, ada juga puluhan remaja Makassar yang tergabung dalam ikatan Olahraga Dance Sport Sulawesi Selatan, mereka menampilkan beberapa pertunjukkan seperti tari, balet, tarian tradisional kontemporer, dan pencak silat khas Makassar. F8 menghadirkan atraksi wisata kelas dunia. Hal ini menjadi keuntungan bagi Indonesia karena akan menggerakkan pariwisata dan mendorong terbukanya peluang usaha dan laporan kerja. Tentu acara ini sangat bermanfaat bagi kota Makassar karena bukan hanya menampilkan keberagaman dan kebudayan yang ada di Makassar, namun memberikan pengetahuan serta wawasan dan juga gambaran bahwa keberagaman bukanlah hal yang patut dimaklumi tetapi hal yang patut dipelajari dan disyukuri. 

Jika di Jember ada JFC maka di Makassar ada F8, setelah beberapa hari di Makassar mahasiswa PMM outbound Universitas Jember mendapatkan banyak sekali pengetahuan dan pengalaman untuk lebih banyak mengenal Makassar. Makassar dengan cerita hebatnya dan Makassar dengan sejarah yang dimilikinya, sebagai mahasiswa yang mengikuti program pertukaran pelajar di Makassar saya tentu bangga karena mendapatkan kesempatan emas ini untuk dapat lebih banyak mengeksplor Makassar dengan berbagai keunikannya. 
“F8 adalah globalisasi. Ide lokal yang sudah mengglobal, menjadi kebanggan kita semua,” kata Danny 

Penulis: Sri Rahayu

Penyunting: Tim redaksi

5 Lagu yang Cocok Menemani Patah Hatimu!

Patah hati merupakan metafora umum yang dipakai ketika seseorang sakit secara emosional atau mengalami penderitaan karena kehilangan orang yang dicintai. Nah, sebagai mahasiswa kita pasti pernah mengalami patah hati karena putus cinta, bukan? Berikut kami sajikan 5 lagu yang cocok menemani patah hatimu! 

  1. Kita – Garamerica

Garamerica adalah salah satu grup music indie folk asal Bandung. Lewat lagunya yang berjudul “kita”, mereka ingin menceritakan bahwa hubungan yang berakhir adalah normal. Semua akan baik-baik saja karena pada dasarnya dunia terus berputar. Kita tidak bisa stuck pada masa patah hati ini saja. 

Yuk Kawan Prima, yang masih stuck di satu orang kita move on bersama! 

  1. Sorai – Nadin Amizah

Lagu sorai yang dinyanyikan oleh Nadin ini menceritakan tentang dua insan yang pernah bertemu, namun pada akhirnya tak jadi satu. Dalam Video Clip lagu sorai tersebut, juga tergambarkan bahwa sorai erat kaitannya dengan perpisahan. Terlihat si nona baru saja meletakkan bunga pada makam, menandakan bahwa perasaan si nona baru saja mati. Tidak, mungkin lebih tepatnya ia memutuskan untuk merelakan dan mengikhlaskannya.  Disusul dengan kedatangan Sang Tuan yang tampaknya sudah jauh lebih dulu mati perasaannya. Kemudian mereka menari bersama, merayakan perpisahan mereka. 

Sedih banget kan kawan PRIMA? Jadi emang lagu ini cocok buat kamu yang baru saja merasakan putus cinta ☹

  1. Closure – Pamungkas

Closure berarti penutup. Jadi di lagu closure yang dinyanyikan oleh Pamungkas ini menceritakan seseorang yang udah capek sama hubungannya. Ia selalu merasa dibohongi dan dikhianati oleh pasangannya. Kemudian akhirnya seseorang tersebut memutuskan untuk “closure” atau menyerah pada hubungannya.

Relate gak nih kawan PRIMA sama hubungan kalian?

  1. Blue Jeans – Gangga

Tak kalah galau, lagu Blue Jeans milik Gangga ini menceritakan kerinduannya pada sang mantan kekasih. Diberi judul Blue Jeans karena ia selalu memakai celana jeans ketika bertemu sang mantan ketika masih menjalin hubungan sebagai kekasih. Maka dari itu, Gangga selalu teringat sang mantan ketika melihat celana jeansnya.

Gimana nih? Ada yang pengen dibikinin lagu sama mantannya juga ngga?

  1. If you could see me crying in my room – Arash Buana dan Raisa Anggiani

Lagu yang dinyanyikan oleh Arash dan Raisa ini menceritakan dua sejoli yang baru saja putus tetapi mereka berdua sebenarnya saling merindukan. Dari lirik tersebut bisa dimaknai bahwa meskipun keduanya memutuskan untuk berpisah, mereka ingin sama-sama kembali. Tetapi ada pihak yang tak ingin tersakiti satu sama lain. Mereka juga sesekali terputar atas memori yang mereka buat dan menangis di kamar mereka masing-masing.

Sedih banget, ngga sih Kawan Prima? Kira-kira mantan kita kangen sama kita juga ngga ya ? 

Jadi gimana, 5 lagu tadi ada yang relate ngga nih sama kisah percintaan kalian? Semoga lagu-lagu tersebut bisa menemani patah hatimu ya, kawan. Tapi ingat, jangan terlalu sedih berkepanjangan. Life must go on!

 

Penulis: Allysa Salsabillah

Editor: Tim Redaksi LPM PRIMA FISIP

Sindiran Terhadap Standar Ganda Dalam Video Klip dan Lagu “The Man” Taylor Swift

LPM PRIMA, Jember -- (06/05/2023) Musik merupakan medium atau perantara ekspresi, banyak orang yang menggunakan musik sebagai salah cara untuk menyampaikan sesuatu dan mengungkapkan perasaan mereka. Bahkan, banyak musisi terkenal yang menyisipkan pesan-pesan tersembunyi di dalam lirik maupun video klip yang mereka rilis. Salah satu musisi yang terkenal dengan permainan kata dan pesan-pesan tersembunyinya adalah Taylor Swift. Pada 27 Februari tahun 2020 lalu, Taylor sempat menjadi perbincangan hangat di sosial media setelah merilis video klip The Man untuk album barunya yang berjudul Lover. Mengapa video dan lagu tersebut bisa sampai menjadi trending topic saat itu?

Sebelum kita membahas isi video klip tersebut, mari kita lihat sedikit biografi dari musisi yang mendapat gelar Entertainer of The Year dari Country Music Association ini. Taylor Alison Swift adalah musisi perempuan berkebangsaan Amerika Serikat yang lahir pada tanggal 13 Desember 1989. Penulisan lagu dan pemilihan kata dalam lirik yang sering berpusat pada kisah dari kehidupan pribadinya telah menerima banyak pujian dan menjadi sorotan media sejak album debutnya rilis pada tahun 2006 lalu. Taylor Swift juga dikenal sebagai pribadi yang fearless dan tidak takut untuk mengungkapkan kritik maupun sindiran melalui lagu-lagunya, salah satu contohnya ada pada lagunya yang berjudul The Man.

Di dalam video klip tersebut, Taylor didandani dan berakting sebagai seorang laki-laki. Video klip tersebut dibuka dengan adegan seorang pria yang sedang menatap jendela kemudian berjalan masuk ke ruang kerja para karyawan dengan Langkah angkuh. "I'd be a fearless leader, I'd be an alpha type. When everyone believes ya, what's that like?" dalam penggalan lirik tersebut, Taylor mengatakan bahwa perempuan juga bisa menjadi seorang pemimpin seperti halnya kaum lelaki. Namun, sampai sekarang masih banyak orang yang beranggapan bahwa posisi tersebut tidak cocok untuk kaum perempuan dan mereka tidak akan sanggup untuk menjalankan tugas sebagai seorang pemimpin.

Taylor Swift juga melayangkan sindiran kepada Scooter Braun yang telah memanfaatkan dan mengambil hak kepemilikan dari keenam albumnya. Terdapat adegan yang menunjukkan dinding stasiun yang dicoret dengan judul dari albumnya. Sudah menjadi rahasia umum bahwa ada standar ganda yang “menjijikan” kerap terjadi di industri  hiburan Hollywood, dimana banyak orang yang merasa bahwa mereka memiliki kekuasaan atas seniman-seniman perempuan tersebut. Tidak hanya Taylor, juga ada beberapa musisi dan aktris juga membagikan cerita mereka yang diperlakukan tidak adil selama berada di industri hiburan.

Sindiran Taylor Swift tidak selesai sampai di situ saja, dia masih menyindir tingkah para lelaki yang dianggap merendahkan perempuan di kehidupan sosial, seperti kebanggaan dalam menjalani cinta semalam dengan banyak wanita. 

I'm so sick of running as fast as I can, Wondering if I'd get there quicker, If I was a man. And I'm so sick of them coming at me again, Cause if I was a man, Then I'd be the man."

 

Identitas Musik:

Tahun Rilis : 27 Februari 2020

Durasi : 3.10 Menit

Penyanyi : Taylor Swift

Album : Lover

Produser : Rebecca Skinner

 

Penulis : Alisha Dyah Shafira

Editor : Tim Redaksi LPM PRIMA FISIP

Mudik Lebaran, Tugas Kuliah Tetap Berjalan

Mudik lebaran tahun 2023 menjadi momen yang ditunggu-tunggu oleh kalangan mahasiswa perantau. Mudik atau pulang kampung (pulkam) ini biasa dilakukan mahasiswa ketika memasuki libur panjang. Bertepatan dengan libur perkuliahan menjadikan mudik lebaran sebagai momen paling penting mahasiswa untuk berkumpul dan bersenang-senang bersama keluarga tercinta di rumah. Namun, bagaimana dengan mahasiswa yang mudik dengan membawa beban pikiran karena deadline tugas setelah lebaran?

Normalisasi pemberlakuan mudik lebaran tahun ini menjadi kebijakan pemerintah setelah fenomena pandemi Covid-19 selama kurang lebih dalam kurun waktu 3 tahun terakhir. Tentu, hal ini menjadi momen yang dinantikan mahasiswa untuk berkumpul bersama keluarga, teman maupun kerabat di kampung halamannya. Setelah jadwal libur perkuliahan muncul, mahasiswa sangat bersemangat dan senang karena hal yang dinantikan akhirnya tiba (mudik lebaran). Bahkan, sebelum jadwal libur perkuliahan itu muncul, tidak sedikit dari mahasiswa yang bergegas membeli tiket kendaraan untuk mudik lebaran agar tidak kehabisan. 

Disamping kebahagiaan yang dirasakan, mahasiswa yang melakukan mudik lebaran dipaksa untuk terbiasa dengan kondisi yang bisa dibilang sedikit menyiksa. Pasalnya, mudik lebaran kali ini bertepatan dengan Ujian Tengah Semester (UTS). Sehingga, mau tidak mau mahasiswa harus melaksanakan tugas tersebut. Selain itu, tak sedikit dari mahasiswa yang mudik dengan menanggung beban lebih karena adanya tugas-tugas yang memiliki tenggat waktu (deadline) setelah lebaran. Tentu, hal ini menjadi beban pikiran bagi mahasiswa yang seharusnya mudik agar bisa berkumpul dan bersenang-senang dengan keluarga, teman maupun kerabatnya. Namun nyatanya mereka disibukkan dengan tugas-tugas kuliah yang menumpuk.

Terkadang, tugas-tugas perkuliahan menjadi beban tersendiri bagi mahasiswa. Namun, hal tersebut nyatanya telah menjadi bagian dari mahasiswa. Apabila seseorang telah berkomitmen menjadikan ia sebagai seorang mahasiswa, maka mengerjakan tugas menjadi salah satu hal yang bersifat wajib untuk dilaksanakan guna menunjang perkuliahan dan karir mereka. Mungkin banyak dari mahasiswa yang mengeluhkan hal tersebut, namun ketika mereka sadar akan tugas dan tanggung jawabnya maka tidak jarang dari mereka yang bersikeras untuk menuntaskan tugas mereka disamping kesibukan ataupun aktivitas mereka yang lainnya.

Namun, nyatanya tugas perkuliahan dan Ujian Tengah Semester (UTS) tidak menjadi hambatan bagi mahasiswa untuk melakukan mudik lebaran. Tidak sedikit dari mahasiswa yang telah melakukan mudik lebaran setelah perkuliahan mereka berakhir. Mereka bergegas menuju stasiun, terminal atau bahkan bersepeda motor untuk pulang ke rumah masing-masing. Mereka tetap bersemangat dan senang walaupun disisi lain harus disibukkan dengan tugas dan Ujian Tengah Semester (UTS).

Mungkin tidak sedikit pula dari mereka yang telah menyelesaikan tugas atau bahkan memiliki timeline tersendiri untuk bisa mengerjakan tugas dan mengerjakan ujian bersamaan dengan aktivitas-aktivitas mereka yang lain. Sehingga hal tersebut tidak menjadi persoalan bagi mereka untuk melakukan mudik lebaran. Namun, bagi mereka yang menjadikan hal tersebut persoalan, belum tentu mereka tidak mengeluhkan hal tersebut. Tidak jarang pula dari mereka menginginkan libur perkuliahan dengan tenang tanpa beban tugas yang mengintai. Melakukan mudik lebaran dan menikmati nuansa lebaran di rumah bersama teman, keluarga dan kerabatnya dengan santai tanpa memikirkan beban-beban perkuliahan yang sedikit menjengkelkan.

Disamping itu, tren mudik mahasiswa perantau ini juga berlaku bagi mereka yang bertempat tinggal bisa dikatakan cukup dekat dengan kampus. Bahkan setiap seminggu sekali pun mereka bisa melakukan pulang kampung (pulkam). Namun, nyatanya tetap saja mereka ingin dikatakan mudik lebaran, hehe.

 

Selamat mudik lebaran, hati-hati di jalan dan jangan lupa tugasnya dikerjakan! 

 

Penulis: Sherly Ananda C. (SAC)

Metode 5D, Cegah Kasus Pelecehan Seksual

Mengutip berita (Liputan6, 2021) pada 10 Maret, terdapat kasus pelecehan seksual di ruang publik. Kabarnya, kasus ini menjadi riset penelitian yang disoroti oleh L’Oreal Paris yang kemudian dikerucutkan menjadi isu riset internal, bekerja sama dengan Ipsos International and Indonesia, serta dalam kemitraan dengan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) di bulan Januari yang diikuti oleh 1,498 responden. Survei mengatakan 59 persen responden, menganggap pelecehan seksual di ruang publik menjadi isu nomor satu di Indonesia. Sebanyak 82 persen diantara mereka pernah mengalami pelecehan seksual di ruang publik. Kemudian, di kabar (Kompas, 2021) berita tentang pelecehan seksual di ruang publik tetap terjadi selama pandemi. 

Menurut data Komnas Perempuan, hingga 03 Juli 2021 terdapat 1.902 kasus. Pembatasan sosial yang diterapkan oleh pemerintah selama pandemi, hampir menduduki usia tiga tahun di Indonesia membuat aktivitas masyarakat berpindah tempat. Sehingga, media sosial tempat yang berpotensi terjadi pelecehan seksual. Akan tetapi, tidak hanya media sosial yang menjadi sorotan utama, melainkan tempat umum menjadi potensi insiden pelecehan seksual, seperti di jalan umum, transportasi publik, lalu sekolah dan kampus menjadi sasaran predator seksual.

Pelecehan seksual merupakan hal yang dipahami sebagai seluruh sikap dan perilaku yang terindikasi mengarah terjadinya pada tindakan yang tidak disenangi, mulai dari mata dalam memandang, simbol-simbol dari anggota badan tertentu, siulan tidak pantas, mencolek, menunjukkan gambar yang tidak pantas, mencium, meraba, hingga tindakan pemerkosaan (Sumarni dan Setyowati, 1993: 3).

Artis terkenal di Indonesia yaitu Cinta Laura menjadi korban pelecehan ruang publik selepas turun dari mobil pribadinya, akan tetapi beliau masih mampu menyikapi persoalan ini dengan mendatangi orangnya.

Aku keluar dari mobil dengan mengenakan celana panjang dan pakaian tertutup, memakai masker juga. Tiba-tiba ada yang bilang uuu seksi sekali’,” ujar Cinta Laura.

Cinta kemudian menemui pelaku sambil mengeluarkan smartphone dan menyalakan rekaman video, kemudian mengatakan “Mas mau bilang seperti itu lagi? Atau saya laporkan langsung” akhirnya pelaku langsung terlihat takut. Tindakan yang dilakukan oleh artis terkenal ini menimbulkan efek jera pada pelaku, supaya mereka tidak mengulangi tindakan yang merugikan pihak-pihak korban pelecehan di ruang publik.

Ruang publik diartikan sebagai bentuk representatif dari adanya pertemuan, secara signifikan dapat dijadikan sebagai katalisator bagi adanya kegiatan-kegiatan sosial, rekreasi, dan budaya. Melalui interaksi sosial terjadi pembelajaran antar sesama individu ke individu, serta individu ke kelompok yang berlangsung secara terus-menerus hingga terjadi kesepahaman bahwa kemajemukan menjadi unsur keterimaan bersama-sama (Sunaryo, 2010).

Berdasarkan hasil responden yang menjawab, ruang publik tergolong menjadi sasaran masif predator seksual. Biasanya, kejadian ini terjadi dari pandangan pelaku yang melihat daya tarik seksualitas korban, diukur pada faktor berpakaian dan keterlihatan paras, serta kemolekan tubuh korban. Di Indonesia maraknya kasus pelecehan seksual sudah tersebar di berbagai media dan banyak terjadi pada skala ruang publik. Benar! Fakta membuktikan sebagian besar masih menyasat perempuan menjadi korbannya. Sementara, mitos berkata bahwa pelecehan seksual hanya terjadi pada perempuan yang sedang sendiri, bermalam hari, dan bertempat di kesepian.

Kita perlu memiliki sikap bodo amat, agar tidak mudah percaya dengan suguhan situs online, karena banyak orang-orang yang tidak bertanggung jawab untuk menggunakan data pribadi korban. Pelecehan seksual tidak hanya menyoal sentuhan lagi, pelecehan di jalanan, melakukan paksaan kencan, dan melontarkan pertanyaan yang sifatnya terlalu pribadi, atau sederet lainnya. Pelecehan di dunia maya pun dapat terjadi melalui komentar-komentar yang tidak sepatutnya dilakukan. Teman-teman! Pelecehan seksual di ruang publik ini bukan semata-mata jumlah angka korban, tetapi batasan dengan sepak terjang bagi para perempuan. Perempuan akan mengalami keterbatasan ruang gerak, diciutkan nyalinya, tidak diterima dalam berekspresi dan diberatkan langkahnya. Sehingga, dibuat bertanya-tanya “Apakah diri kita berharga?”. Ini semua terjadi di ruang publik, tempat yang seharusnya terlindungi karena tertoreh kata ‘publik’ yang terkadang fenomena ini menjelma di sekitar kita. Akan tetapi, kita hanya bisa memasang mata yang terpaku dan menjadi batu. Apakah kita terkejut, takut, bimbang dan ragu-ragu untuk menyikapinya?

Predator Seksual mengakibatkan dampak secara psikis, ketika berusia remaja dalam perspektif kesejahteraan sosial diperuntukkan pada korban mulai mengalami stimulus penyintas gangguan kecemasan. Korban merasakan kecemasan adanya peristiwa dan terekam pada alam bawah sadarnya. Tingkat sadar merupakan kegiatan mental yang disadar dalam waktu tertentu. Sadar dapat dibagi pada bagian terkecil dalam kehidupan korban terutama dalam kehidupan korban, terutama pada kehidupan mental seperti pikiran, persepsi, perasaan, dan ingatan. Sebab, kesadaran adalah bagian terkecil dalam kehidupan mental, maka berarti tingkatan ini hanya memiliki peran yang paling kecil pula dalam teori Freundian, dalam bukunya: Bimbingan dan Konseling (Mufrihah, 2018).

Insiden tak diinginkan terjadi dikala pandemi Covid-19 menjelma. Masa yang sulit bagi kehidupan masyarakat sekitar, dimana seharusnya kita perlu tetap fokus pada kondisi kesehatan, namun dikejutkan dengan fenomena ini yang seakan-akan menarik perhatian khusus untuk mempelajari arti pentingnya memahami kemanusiaan. Insiden ini, jika melihat perkembangan masa produktivitas nanti dapat menghambat langkah berproses selanjutnya. Lagi-lagi dibingungkan dengan permasalahan moralitas yang memunculkan pertanyaan ‘Tindakan apa yang harus kita lakukan ketika melihat fenomena ini?’.

Hal ini memerlukan upaya penanganan komprehensif. Merealisasikan penanganan, sudah seharusnya peranan dilakukan oleh lembaga penyedia layanan, para pakar dan ahli, serta keterlibatan mahasiswa menjadi kaum perubahan yang lebih baik. Kaum perubahan dapat memberikan layanan terbaik, sebagai bentuk kepedulian yang sangat diharapkan oleh korban. Adanya masyarakat sebagai struktur lapisan sosial, menjadi kelompok terpenting dalam upaya perlindungan, maka diperlukan suatu kerja sama yang baik untuk mewujudkan kesejahteraan pada korban.

Sehingga melihat insiden ini, muncul pendekatan 5D sebagai tahapan melindungi seseorang dari adanya pelecehan seksual, yaitu: (1) Ditegur; (2) Dialihkan; (3) Dilaporkan; (4) Ditenangkan; dan (5) Direkam. Metode 5D ini, pada kampanye Pelatihan Stand Up Again Street Harassment dari L’Oreal Paris dalam kemitraan dengan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), mencetuskan program yang dirancang untuk membantu mencegah pelecehan di tempat umum dan mendirikan ruang yang aman dan inklusif bagi semua orang. Lembaga pembuat produk kecantikan di Indonesia, menyoroti dengan adanya isu sosial serta melihat masih banyak tindakan pelecehan seksual di ruang publik saat pandemi. Penggunaan pendekatan 5D ini menjadi upaya pemberantasan pelecehan seksual dengan melalui program pelatihan sebagai bentuk usaha edukasi yang ditawarkan kepada masyarakat.

Pelatihan yang ditawarkan pertama ialah mengenalkan tahapan ‘ditegur’, secara tegas terhadap pelaku yang melakukan tindakan pelecehan seksual yang disebabkan oleh hasrat pribadinya. Kabarnya, metode yang diteliti oleh L’oreal Paris ini merupakan cara yang paling beresiko dan membutuhkan keberanian lebih dari korban. Cara ini, memastikan kondisi korban harus benar-benar aman, karena permasalahan baru akan terjadi pada korban. Sudut pandang korban menjadi hal terpenting dalam cara ini, sebab korban akan melakukan suatu bentuk intervensi, jelas harus memikirkan sudut pandang pelaku.

Berlanjut tahapan kedua ‘dialihkan’, menggunakan bentuk pengalihan pada korban maupun pelaku. Sehingga, pelecehan yang terjadi bisa terhenti. Disini, kita berusaha menciptakan upaya gangguan saat terjadi aksi pelecehan seksual. Cara ini, dilakukan oleh kita yang menyadari dengan adanya fenomena lingkungan sekitar. Biasanya, kita sering mendengar istilah ‘sok kenal’, inilah langkah pencegahan yang sangat disarankan bagi pihak ketiga agar pelaku tidak menyasat si korban.

Kemudian, tahapan ketiga ‘dilaporkan’. Bila pihak ketiga sebutan ‘kita’ tidak mampu membendung atau mengalihkan aksi pelaku, sangat disarankan untuk meminta bantuan dari orang disekitar kita dengan terang-terangan meminta tolong untuk memberhentikan tindakan yang dilakukan pelaku. Lalu, siapapun dapat menjadi partner ajakan bersama-sama dan disatukan dengan pihak kepolisian, selaku lembaga perlindungan dan keamanan masyarakat. Akan tetapi, kita perlu mengetahui juga dan mengingat bahwa tidak semua korban nyaman dengan keterlibatan polisi. Maka, membutuhkan penilaian dan identifikasi secara cepat dan tepat menyoal tindakan yang harus dilakukan.

Setelah langkah-langkah sebelumnya belum dapat mencegah aksi pelaku, langkah keempat ini ‘ditenangkan’, yakni suatu upaya ketika pelecehan seksual di ruang publik telah terjadi. Upaya menanyakan pada korban, berusaha untuk tidak panik dan mencoba menenangkan dirinya terlebih dahulu. Upaya menawarkan bantuan pada korban yang dapat diberikan, dengan mengajak korban berdiam sejenak dengan santai. Menjadi catatan bagi kita, jangan sampai menanyakan keadaan yang tidak perlu pada korban.  

Metode terakhir dalam upaya mengentaskan pelecehan seksual, yaitu dengan ‘direkam’ dijadikan sebagai barang bukti valid dan dapat dipertanggungjawabkan atas kebenarannya. Merekam aksi pelecehan seksual bisa menggunakan kamera smartphone, gunakan kelengkapan fitur video dan potret kejadian secara langsung ditempat dengan diarahkan pada pelakunya, selain itu merekam tempat disertai tanggal dan waktu kejadian. Sehingga, korban terbekali dengan bukti bila ia ingin melaporkannya pada pihak berwenang. Wajib! Dicatat ini oleh kita pihak ketiga jangan sampai langsung menyebarkan ataupun mengunggahnya ke media sosial. Korban, memiliki hak atas ini semua untuk menentukan apa yang ia ingin lakukan dengan rekaman tersebut. Media menjadi ujung tombak.

Kita semua berharga, kita berhak untuk melakukan tindakan pembelaan, dan kita berhak atas ini semua. Dikhawatirkan usia produktif menjadi masa-masa mencekam, tidak ingin lagi melihat hal positif, tidak ingin berjejaring secara sosial, tidak ingin mengetahui potensi yang dimiliki, dan mirisnya hingga melakukan upaya bunuh diri karena timbul anggapan dari dalam diri korban:

Aku sudah tidak berharga lagi, Aku telah ternodai oleh tangan-tangan kotor yang tidak bertanggung jawab” pandangan korban pelecehan seksual.

Menjadi tanggung jawab bersama untuk peduli pada peristiwa di sekitar, salah satunya ruang publik menjadi pusat perhatian khusus, sebab kita perlu menyadari dan peka dengan fenomena-fenomena sosial di masyarakat.

 

Penulis: Muhammad Farhan (MF)

Editor: Tim Redaksi LPM PRIMA FISIP

Libur Lebaran Sudah Dekat, Stop Bilang Dagangan UMKM di Tempat Wisata itu Mahal

Berlibur nyatanya menjadi alternatif dan dianggap mampu menghilangkan penat dan stres akibat keseharian kita yang itu-itu saja. Kebanyakan aktivitas di hari libur dilakukan setelah sepekan bekerja, sehingga usaha untuk mengalihkan kepenatan dimanfaatkan dengan berlibur di akhir pekan atau sengaja mengambil jatah cuti untuk menepi sejenak dari kesibukan yang biasa dilakukan. Bisa dikatakan, berlibur adalah deny from the reality, karena ketika waktu liburan telah usai, hampir banyak dari kita pasti menggunakan kalimat back to reality di Instastory kita.

Tulisan ini terinspirasi ketika saya dan keluarga berlibur ke salah satu wanawisata di Kabupaten Malang. Saat itu, saya membeli es krim yang dijual di gerobak sepeda. Mood di awal memang untuk membeli es krim, namun setelah memilih dan asal tunjuk hingga mas penjualnya menyebut harga total, sontak mulut saya diam membisu. “Ini harganya kenapa mahal banget?” batin saya.

Bayangkan saja, 2 bungkus es krim yang biasanya saya beli di minimarket dengan harga di bawah Rp10 ribu, melonjak jadi di atas Rp20 ribu. Rasanya dompet saya jadi tergendam halus karena harganya. Mau saya kembalikan satu bungkus sungkan karena ada adik saya, tidak dikembalikan pun KTP saya menangis sebab sendirian di dompet, nyelempit pula!

Tidak lama saya akhirnya mengikhlaskan dan es krim tetap saya makan dengan lahap. Kemudian saya berpikir, kejadian seperti ini sudah saya lakukan beberapa kali. Anehnya, kenapa saya lakukan lagi? Seharusnya kalau kapok ya jangan diulang, dong!

Kemudian saya makin penasaran, apakah mas penjual ini sengaja menaikkan harga seenaknya dan melepas harga eceran yang ditetapkan perusahaan mereka? Saya pun bertanya kepada penjual es krim itu, tidak lain adalah tentang keraguan saya soal harga es krim yang blio jual. Dengan bangga blio menjawab, “Ya memang di sini tempat wisata, Mas. Saya juga terpaksa menjual dengan harga segitu. Kalau masih ngikut harga minimarket, anak saya di rumah makan nasi dengan lauk nasi juga, dong!”

Panjang kali lebar keterangan yang penjual itu sampaikan kepada saya. Kalau bisa ditarik inti dari obrolan saat itu, kesimpulannya antara lain: Harga yang blio jual mengikuti peraturan tempat wisata, usaha mikro seperti berjualan es krim biaya izinnya cukup mahal, ongkos transportasi dari rumah ke tempat melancong cukup tinggi, pegiat usaha kecil yang menyewa kios justru menaruh harga lebih mahal daripada usaha mikro yang memilih berkeliling, turunnya angka wisatawan yang esktrem membuat gerah pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

Faktor-faktor tersebut menurut saya bisa dimaafkan, karena itu adalah hal yang wajar dan menjadi PR bagi pengelola wisata maupun pemerintah, di tengah kondisi perekonomian yang lesuh dan bikin menjerit. Kembali lagi kepada kemampuan finansial kita sebagai wisatawan, kalau mau ya beli, kalau tidak ya tinggalkan. So simple!

Beberapa tips yang bisa dilakukan untuk menghadapi kejadian semacam pengalaman saya, yang bisa terjadi pada liburan kalian sewaktu-waktu adalah:

1. Stop klaim “mahal” terhadap harga dagangan UMKM

Kenapa harus distop? Apakah kita melanggar? Tentu tidak. Realita yang diterima pelaku UMKM lebih pedih dibanding kita. Mengapa? Sebab mereka hanya sanggup berkeliling dan menunggu pelanggann/wisatawan untuk membeli produk dagangan mereka. Kedatangan kita adalah oase untuk mereka.

2. Jangan bilang mahal, tapi tawar!

Tips kedua ini berlaku hanya untuk benda-benda semacam kaus, suvenir, dan item-item buah tangan yang lain. Jangan tawar makanan dan minuman! Apalagi kalau sudah masuk perut, kan ndak mungkin bisa dimuntahin lagi!

3. Hadapi dengan kontrol diri, jangan kebablasan!

Pentingnya memahami diri sendiri dan orang lain harus kita tunjukkan kepada pelaku UMKM yang ada di tempat wisata. Hargai mereka dengan membeli, dan di antara kita dengan penjual se-visi dan saling win-win dan deal. Di waktu inilah kita harus lakukan olah rasa di samping olahraga mengelilingi tempat wisata.

Kesimpulannya, membeli produk dan dagangan UMKM adalah keteladanan. Kita seharusnya berkaca, membeli barang branded dan impor saja mampu, pakaian stylish pun tergantung banyak di lemari. Kasus seperti pedagang es krim seperti yang saya temui bukan hanya satu, tapi ratusan, bahkan ribuan. Bukan hanya di wanawisata, ada juga yang di pantai, di pinggir jalan, dan sentra wisata yang lain.

Selama belum memberi arti lebih dan alternatif yang lebih baik bagi mereka, tidaklah salah mengatakan “hitung-hitung sedekah”. Kalau perlu jadikan tulisan ini sebagai instruksi setelah guide map perjalanan wisata kalian, agar kita bisa memaknai kesimpulan saya yang dibalut lelucon almarhum Gus Dur, “Kontrol diri, kalau suka ya borong. Kalau kemahalan ya tawar. Kalau tidak cocok ya tinggalkan. Gitu aja kok repot?”

 

Penulis: Amiq Ikmaal S. (Anggota LPM Prima FISIP Universitas Jember)

Artikel pernah tayang di Kanal Terminal Mojok (13/2/21)

Buya Hamka: Sastrawan Sekaligus Ulama Terpandang di Indonesia

Nama Buya Hamka sudah tak asing lagi di telinga kita semua. Beliau sangat terkenal karena karya tulisnya serta perjuangannya dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia dalam masa revolusi. Sosok yang Bernama asli Prof. Dr. H.  Abdul Malik Karim Amrullah Datuk Indomo ini merupakan seorang sastrawan, filsuf, ulama, bahkan politikus Indonesia. Beliau berkarir sebagai wartawan, filsuf, dan penulis. Beliau lahir di Sungai Batang, Sumatera Barat pada 17 Februari 1908. Hamka ialah nama pena yang digunakannya, singkatan dari Haji Abdul Malik Karim Amrullah. 

Pencipta karya Tenggelamnya Kapal Van der Wijck' ini merupakan anak dari Abdul Karim Amrullah yang juga seorang ulama terkemuka sekaligus reformis Islam di Indonesia di Minangkabau. Melalui karyanya 'Tafsir Al-Azhar' dan 'Di Bawah Lindungan Ka’bah' membuat namanya dikenal sebagai sastrawan. Sedangkan nama Buya sendiri merupakan panggilan kehormatan bagi ahli agama dalam tradisi Minangkabau.

Saat berusia 4 tahun, beliau mengikuti orang tuanya pindah ke Padang Panjang. Ia mempelajari bacaan Al-Qur’an dan bacaan sholat di bawah bimbingan Fatimah, kakak tirinya. Baru pada tahun 1915, Buya Hamka belajar pengetahuan umum di Sekolah Desa di waktu pagi serta ikut Pendidikan agama di Diniyah School pada sore harinya. Kesukaannya di bidang bahasa Arab membuatnya cepat sekali menguasai bahasa tersebut. Permasalahan keluarga membuatnya sering bepergian seorang diri, berkelana ke sejumlah tempat di Minangkabau. Sehingga ayahnya memberinya julukan “Si Bujang Jauh” karena ia selalu menjauh dari orang tuanya sendiri. Pada 1918, Hamka berhenti dari Sekolah Desa dan pindah ke Thawalib (organisasi Islam) atas arahan ayahnya. Namun, ia merasa kurang puas dengan keadaan pendidikannya saat itu. Ia memilih menghabiskan waktunya di perpustakaan yang dikelola oleh salah satu gurunya, Afiq Aimon Zainuddin.

Pada Juli 1924, ia mulai merantau kembali ke tanah Jawa (Yogyakarta) berbekal ongkos pemberian andungnya. Disinilah ia menemukan Islam sebagai sesuatu yang hidup, perjuangan, serta suatu pendirian yang dinamis sebab pergerakan Islam yang ada di Jawa. Lalu, ia juga berkunjung ke Bandung yang membuatnya bertemu dengan tokoh-tokoh Masyumi, salah satunya Muhammad Natsir. Setelah setahun di jawa ia pun kembali ke Padang Panjang dan menulis majalah pertamanya yang berjudul Chatibul Ummah yang berisi kumpulan khotbah. Ia juga sempat berdakwah di Padang Panjang, tetapi tak disambut baik oleh masyarakatnya bahkan oleh ayahnya sendiri. Untuk memperluas ilmu agamanya, ia pergi ke Mekkah sekaligus melaksanakan ibadah haji pada tahun 1927. Disanalah ia bertemu jurnalis lain yaitu Haji Agus Salim. Selain itu, ia juga seorang penulis novel yang handal. Novel pertama yang ia tulis yaitu 'Si Sabariah', dilanjutkan salah satu novelnya yang terkenal 'Di Bawah Lindungan Ka’bah' yang membuatnya aktif melanjutkan tulisan buku-bukunya. Novel yang terkenal diantaranya yaitu 'Merantau ke Deli', 'Di Lembah Kehidupan', 'Ayah', 'Filosofi Hidup', dan lain sebagainya.

Pada masa pendudukan Jepang, Buya Hamka sempat menjadi penasihat agama Jepang, yang membuatnya dipandang sebagai kaki tangan penjajah oleh banyak orang. Lalu pada masa revolusi, ia turut berjuang melawan Belanda dan bergabung dengan para gerilyawan hutan di Medan. Buya Hamka juga bergabung dalam organisasi Muhammadiyah dan pernah menjadi ketua Majelis Pimpinan Muhammadiyah Sumatera Barat. Setelah Indonesia merdeka, Hamka diangkat sebagai pegawai di Kementerian Agama dan mengajar di beberapa perguruan tinggi di Jakarta. Ia juga aktif di Partai Majelis Syuro Masyumi Indonesia (MASYUMI) yang juga membuatnya dipenjara selama dua tahun (1962) karena partai tersebut dianggap terlibat dalam pemberontakan negara. Hingga pada 26 Juli 1975 dibentuk Majelis Ulama Indonesia (MUI) dengan ia menjadi ketua pertamanya.

Selama 57 tahun berkarya, Buya Hamka telah menghasilkan sebanyak 84 buku. Setelah ia memberikan banyak pengorbanan dan juga sumbangsih kepada bangsa Indonesia baik dalam bidang sastra, politik, serta keagamaan, kemudian beliau wafat pada 24 Juli 1981. Beliau dimakamkan di Pemakaman Tanah Kusir, Jakarta. Untuk mengenang jasa yang telah diberikan, Buya Hamka ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada 07 November 2011.

 

Penulis: Niken Ayu Dyah Setyorini (NADS)

Editor: Tim Redaksi LPM PRIMA FISIP 

 

Referensi

Adryamarthanino, Verelladevanka. 2022. “Buya Hamka, Pahlawan Nasional dan Penulis Novel Terkenal”. Diakses pada 22 Maret 2023 melalui https://www.kompas.com/stori/read/2022/04/09/120000279/buya-hamka-pahlawan-nasional-dan-penulis-novel-terlaris?page=all

Ciputra, William. 2022. “Peristiwa Sejarah 17 Februari: Hari Lahir Buya Hamka, Pahlawan Asal Sumbar yang Jadi Ketua MUI Pertama”. Diakses pada 22 Maret 2023 melalui https://regional.kompas.com/read/2022/02/17/132000578/peristiwa-sejarah-17-februari--hari-lahir-buya-hamka-pahlawan-nasional-asal

 

Chairil Anwar, Sosok Penyair Legendaris di Tanah Air

Kalian pasti sudah tidak asing lagi mendengar nama “Chairil Anwar”. Ya, Chairil Anwar merupakan salah satu penyair yang cukup tersohor di Indonesia. Ia telah melahirkan 96 karya sastra, diantaranya ada 70 puisi. Chairil sendiri merupakan anak dari Toeloes dan Saleha yang lahir pada tanggal 26 Juli 1992 di Medan, Sumatera Utara. Ia juga merupakan seorang keponakan dari Perdana Menteri pertama di Indonesia, yakni Sutan Syahrir. Pada usia 18, Chairil memutuskan untuk tidak lanjut sekolah, sejak umur 15 tahun ia sudah gigih ingin menjadi seorang seniman. Pada usia 19 tahun ia harus mengikuti jejak ibunya ke Jakarta setelah kedua orang tuanya memutuskan untuk cerai. Sejak saat itulah, ia mulai menggali lebih dalam mengenai dunia sastra di Jakarta.

Chairil Anwar memulai kariernya di bidang sastra pada 1942. Nisan merupakan karya sastra pertama beliau yang terinspirasi dari berpulangnya sang nenek ke pangkuan Sang Pencipta. Ia juga cukup rajin mengirimkan puisi-puisinya ke majalah Pandji Pustaka sejak tahun 1943. Sayangnya perjalanannya tak semulus itu, ia kerap mendapat penolakan karena puisinya dianggap terlalu individualis. Salah satu puisi tersebut adalah puisi dengan judul Aku. Dengan begitu, puisi-puisinya kebanyakan berakhir di kertas-kertas murah dan tak pernah terbit sampai tahun 1945.

Dengan datangnya Jepang pada tahun 1943, Chairil sebenarnya geram dengan sikap pemerintahannya yang terlihat memanfaatkan semangat kebudayaan bangsa Indonesia untuk menjadi tumbal dari kepentingan mereka. Maka ia ingin melakukan revolusi dalam bidang sastra dengan mengkritik Angkatan Pujangga Baru baik dari sisi semangat maupun bentuk sajaknya. Karya-karya Chairil Anwar menggambarkan perlawanan dari dalam jiwanya. Dari sajak-sajaknya itulah beliau membuat perubahan yang apik untuk kesusastraan Indonesia supaya lebih bebas dalam berpikir meskipun masih di bawah kekuasaan Jepang, sejak saat itulah Chairil Anwar dikenal sebagai pelopor Angkatan 45.

Evawani Alissa, sebagai anak satu-satunya dari Chairil Anwar mengaku bangga meskipun tidak begitu kenal dengan sosok Ayahnya. Ia ditinggalkan oleh sang Ayah ketika berusia 1 tahun 10 bulan. Jadi ia hanya mengenal sosok sang Ayah dari cerita ibunya. Ibunya menceritakan bahwa sang Ayah adalah sosok yang nyentrik dan cukup nakal. Ayahnya cenderung lebih senang menghabiskan uangnya untuk membeli buku ketimbang membeli bahan masakan. Sudah 74 tahun berlalu sejak berpulangnya Chairil Anwar ke pangkuan Tuhan, tetapi karyanya masih banyak dikenal dan dikenang oleh banyak orang. Raganya memang sudah mati puluhan tahun lalu, tetapi karyanya tetap abadi.

Aku berbenah dalam kamar, dalam diriku jika kau datang

dan aku bisa lagi lepaskan kisah baru padamu;

tapi hanya tangan yang bergerak lantang

tubuhku diam sendiri, cerita dan peristiwa berlaku beku

(Penggalan puisi Chairil Anwar yang bertajuk Yang Terampas dan Yang Putus)

 

Penulis : Allysa Salsabillah

Editor   : Tim Redaksi LPM Prima

 

Referensi

Adryamarthanino, Verelladevanka. 2021. Biografi Chairil Anwar, “Si Binatang Jalang”. Diakses pada 21 Maret 2023 melalui https://www.kompas.com/stori/read/2021/10/27/100000279/biografi-chairil-anwar-si-binatang-jalang?page=all 

Adryamarthanino, Verelladevanka. 2022. Perjuangan Chairil Anwar. Diakses pada 21 Maret 2023 melalui https://www.kompas.com/stori/read/2022/05/25/130000879/perjuangan-chairil-anwar?page=all 

Khoiri, Agniya. 2017. Chairil Anwar di Mata Putri Tunggal : Jahil tapi Membanggakan. Diakses pada 21 Maret 2023 melalui https://www.cnnindonesia.com/hiburan/20170428121052-241-210879/chairil-anwar-di-mata-putri-tunggal-jahil-tapi-membanggakan