Menyelami Kisah Jeffrey Dahmer Si Monster Milawaukee

Belakangan terkenalnya serial “Monster: The Jeffrey Dahmer Story” yang menimbulkan banyak reaksi bagi para penikmat film. Serial ini tayang di salah satu media penyedia layanan streaming film terkenal, Netflix, pada 21 September lalu. Serial ini diangkat dari sebuah kisah nyata pembunuh berantai, Jeffrey Dahmer, yang terjadi di Kota Milawaukee, Negara bagian Wiconnsin, Amerika Serikat pada tahun 1991.

Dalam serial ini, semua yang mengenai Dahmer ditampilkan secara gamblang. Serial dibangun berdasarkan sisi pandang masa hidup Jeffrey Dahmer, keluarga korban hingga warga kulit hitam di Kota Milawaukee. Pria yang berjumlah 17 dan anak laki-laki menjadi korban Dahmer secara keji selama 1978-1991. Kisah ini benar-benar mengingatkan betapa buruknya peradilan pada masa itu, kebrutalan, serta rasisme yang diikuti bobroknya sistem kepolisian.

Tidak mengagetkan bahwa serial ini mampu membawa mimpi buruk bagi para penontonnya. Rasa jijik dan mual bahkan mampu dihadirkan oleh serial ini. Reaksi-reaksi muncul dari banyak pihak. Beberapa memberikan pujian terhadap serial ini, sisi berlawanan menanggap serial ini tidak pantas karena tidak menghormati keluarga para korban.

Beberapa adegan kilas balik dalam serial ini, Dahmer ditampilkan sebagai sesosok pria dengan masa kecil yang tidak begitu menyenangkan: pertikaian kedua orang tua yang berujung perceraian. Dalam narasi yang disajikan pada awal serial, belum ada yang mengetahui apa yang membuat seorang Dahmer dapat melakukan kekejian seperti itu.

Dahmer kecil ditampilkan sebagai anak yang pendiam dan dianggap aneh bagi anak-anak seumurnya. Keanehannya ditambah dengan ketertarikannya pada nekropsi (pembedahan bangkai) hewan. Dahmer menyukai bagaimana cara dan proses melakukan pembedahan pada hewan yang telah mati: rakun, janin babi hingga tikus.

Ayah Dahmer—yang ingin menjadi seorang ayah yang baik untuk anaknya juga memiliki kemampuan dalam melakukan nekropsi mengajarkan Dahmer bagaimana cara melakukannya dengan benar. Ayah Dahmer melihat ketertarikan putranya sebagai hal yang dapat menjadikannya seorang saintis di masa depan.

Masa kecil semakin runyam ditambah dengan adanya masalah pada ibunya yang pencandu obat penenang hingga menimbulkan pertikaian dengan ayahnya. Ibunya menjadi pemarah dan tak acuh pada Dahmer, di sisi lain ayahnya sudah tidak kuasa menanggapi semua yang dilakukan istrinya. Pada akhirnya semuanya berdampak pada Dahmer kecil, menjadikannya anak yang sukar bersosialisasi dan lebih sering menyendiri. 

Dalam keluarga kecilnya itu, Dahmer tidak pernah mendapatkan perhatian secara penuh oleh kedua orang tuanya, terutama ibunya. Hingga menjelang remaja, Dahmer semakin menujukan keabnormalannya. Dia menjadi sosok yang kikuk dengan orientasi seksual pada laki-laki.

Hal yang dialami Dahmer dapat menunjukkan bahwa lingkungan sosial seseorang sangat berpengaruh terhadap pembentukan sifat dan perilaku dirinya, terutama lingkungan keluarga. Selain itu, luka masa lalu yang tidak disadari juga dapat menghasilkan pola perilaku yang menyimpang.

Ketika seorang anak melihat kedua orang tuanya bertengkar, anak akan merasa tidak nyaman, ketakutan bahkan merasa tidak nyaman berada di sekitar orang tuanya. Mereka akan cemas karena melihat kemarahan kedua orang tuanya dan menimbulkan pikiran negatif. Disisi lain, ayah atau ibu yang sering bertengkar berpotensi sukar menunjukkan sikap hangat dan kasih saya kepada anaknya.

Ketika semua kasih sayang yang diinginkan tidak tercapai akan mempengaruhi mental anak. Seperti yang dilakukan Dahmer, ketika seseorang yang dia sukai menyukainya juga, Dahmer merasa bahwa dia memiliki orang yang memberikan perhatian kepadanya dan dia merasa tidak sendirian. Sehingga, ketika orang yang dia sukai ingin meninggalkannya, walaupun hanya untuk kembali ke rumahnya, Dahmer merasa terancam akan ditinggalkan dan kembali sendirian. Berbagai cara dilakukan untuk membujuk mereka agar tinggal hingga menimbulkan pembunuhan yang entah disengaja olehnya atau tidak—agar mereka dapat tetap bersama.

Dalam serial ini, ditampilkan bobroknya kepolisian yang masih menunjukkan sikap rasis terhadap warga kulit hitam dan selalu menganggap mereka sepele. White supermacy benar-benar terlihat pada kasus ini. Hingga beberapa kali tetangga Dahmer melaporkan kecurigaannya pada polisi, namun polisi terus mengabaikannya karena dia merupakan wanita kulit hitam.

Pada akhirnya, kasus ini dapat memberikan pengajaran bagi para orang tua bahwa kasih sayang penuh terhadap anak sangat penting bagi tumbuh kembang mereka. Hal ini juga mengingatkan bahwa orang tua harus mengetahui minat maupun bakat anak yang dapat mengarah ke hal negatif sehingga dapat diantisipasi di masa dewasanya.

 

TEKS : ELHAM (TRAIPENMADAS 21)

EDITOR : TIM REDAKSI 

Menolak Lupa Black Story 30 September 1965

Berdasarkan catatan sejarah bangsa Indonesia, pada tanggal 30 september menjadi sejarah kelam bagi bangsa Indonesia.Pada waktu itu terjadi peristiwa pemberontakan G30S PKI yang mengincar perwira tinggi TNI AD Indonesia sebagai salah satu tragedy nasional yang mengancam keutuhan NKRI. Peristiwa G30S PKI sampai sekarang menjadi persada sejarah negara sebagai “Black Story” yang sampai saat ini masih menyimpan misteri. siapakah yang sebenarnya bersalah dan siapakah yang menjadi mangsa serta menjadi kambing hitam yang hingga saat ini masih menjadi persoalan yang senantiasa diperdebatkan di media Indonesia. Peristiwa pemberontakan ini berlangsung selama dua hari mulai tanggal 30 September 1965 hingga 1 Oktober 1965.

Latar belakang peristiwa G30S PKI ini terjadi karena adanya persaingan politik. PKI adalah sebagai kekuatan politik merasa khawatir dengan kondisi kesehatan presiden Soekarno yang memburuk. Dimana kejadian tersebut bermula pada awal 1 Agustus 1965 presiden Soekarno tiba-tiba pingsan setelah berpidato, sehingga banyak kalangan yang mempunyai anggapan bahwa masa hidup Soekarno tidak akan lama lagi, yang kemudian memunculkan sebuah pertanyaan besar mengenai siapa yang pantas untuk menjadi pengganti presiden soekarno berikutnya, hal tersebut menjadikan persaingan yang sangat sengit terjadi di kalangan PKI dan TNI.

Namun, sebelum peristiwa G30S PKI ini terjadi banyak pihak memaklumi mengenai pergeseran pengaruh antara pihak TNI yang sangatlah bertentangan dengan aliran faham komunis (PKI) dan pergeseran ini terjadi semakin parah tatkala pada waktu itu Soekarno dikatakan lebih condong memihak golongan Komunis (PKI). (Scoot,2009). Kecondongan Soekarno terhadap komunis semakin jelas, dimana pada waktu itu soekarno secara lantang mengkritik bantuan-bantuan barat dan menyatakan bahwa Indonesia tidak akan jatuh tanpa bantuan-bantuan tersebut. Pendirian Soekarno telah menjadi duri dalam politik Indonesia dari masa ke masa sehingga menjadikan pihak Komunis dan Tentara semakin berkonflik.

Konflik semakin panas yang kemudian terjadi pemberontakan selama dua hari satu malam, yakni mulai tanggal 30 September sampai tanggal 1 Oktober tahun 1965 yang dimulai pukul 03.00 yang melakukan penculikan dan pembunuhan enam jendral yakni Letjen Ahmad Yani, Mayjen. R. Soeprapto, Mayjen Harjono, Mayjen. S. Parman, Brigjen D.I.  Panjaitan dan Brigjen Sutoyo dan satu perwira yakni Lettu Pierre Tendean. Dimana mayat-mayat mereka dibawa ke pangkalan udara halim dan baru diketahui setelah tiga hari di satu tempat yang dikenali sebagai lubang buaya.

Dari adanya peristiwa tersebut kita sebagai generasi penerus bangsa tidak boleh kemudian melupakannya begitu saja, namun dibalik semua itu para tentara nasional Indonesia telah berkerja keras untuk mempertahankan keutuhan NKRI sampai saat ini. (Nora Zilawati)

 

Referesnsi :

https://journal.unisza.edu.my/jonus/index.php/jonus/article/view/172/141

https://news.detik.com/berita/d-6314325/kronologi-g30s-pki-secara-singkat-awal-hingga-pasca-tragedi

Batasan Orang Tua Kepada Anaknya

Di tulisan ini saya sebagai penulis akan membahas hal yang mungkin banyak di pikirkan atau atau masalah yang sering di rasakan oleh remaja. Tulisan ini mungkin  banyak menuai pro kontra di antara pembaca, namun saya akan tetap menuliskannya. Opini yang akan saya sampaikan adalah mengenai batas-batasan remaja yang diberikan orang tua. Saya berharap pembaca dapat mengerti dan mungkin beberapa pembaca ada yang merasakan hal yang sama seperti yang aku tuliskan.

   Sebagai remaja, di umur ini kita merasa bahwa kita dapat melakukan semua hal yang kita suka. Hal-hal terserbut tidak semua dapat berdampak positif, pastinya akan ada yang berdampak negatif. Kebebasan itu dapat membuat kita melakukan atau terjerumus ke hal hal yang negatif seperti narkoba, prostitusi dan lain-lain. Salah satu cara untuk menanggulangi hal tersebut adalah peraturan atau batasan-batasan yang di berikan oleh orang tua, seperti tidak boleh pergi hingga larut malam, tidak keluar rumah tanpa alasan yang jelas, dan lainnya.

   Seringkali batasan-batasan tersebut terasa menjadi beban bagi kita semua. Sebenarnya kita tahu bahwa batasan-batasan tersebut diberikan oleh orang tua kita untuk anak-anaknya agar mereka hidup dengan baik dan sesuai dengan peraturan. Kita sebagai anak sering merasa bahwa aturan atau batasan tersebut membuat kita berpikir bahwa orang tua kita tidak mempercayai kita. Sebenarnya jika kita liat dari dua perspektif orang tua dan anak, hal ini memang harus di diskusikan oleh kedua pihak,karena memang kedua pihak tidak ada yang salah.

   Kesalahan tersebut akan timbul jika orang tua membatasi hal-hal yang penting di hidup kita. Contohnya cita-cita anaknya. Sebagai seorang individu yang memiliki hak untuk menentukan pilihan hidup, kita dapat membela cita-cita yang ingin kita capai dan meyakinkan orang tua. Pertanyaannya adalah salah kah kita menolak batasan orang tua kita atas cita-cita kita? Tentu saja tidak. Kita semua harus dan wajib memilih cita-cita kita sendiri. Masa depan kita adalah milik kita bukan orang lain atau pun orang tua kita. Aku dan semua pembaca harus membuktikan kepada orang tua kita bahwa cita-cita yang ingin kita capai itu akan membuahkan hasil yang baik di masa depan. Bagaimana caranya? Dengan bekerja keras untuk menggapai cita-cita tersebut.

   Batasan-batasan ini jika diterapkan dengan benar memang membawa dampak positif namun batasan ini membuat banyak anak melakukan hal-hal yang ekstrem. Contohnya seperti siswa SMP berinisial DRP di Kalimantan Utara yang memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan gantung diri. DRP diduga melakukan hal tersebut lantaran dia dilarang untuk terus bermain game oleh orang tuany. Kasus lainnya adalah siswa SMP berinisial RG asal Kecamatan Sambong, ditemukan meninggal di kamarnya karena gantung diri. RG diketahui memutuskan mengakhiri hidupnya lantaran cintanya tidak di restui oleh orang tuanya. Kasus-kasus seperti diatas lah yang mengakibatkan batasan-batasan ini terlihat hanya mempunyai dampak negatif.

   Apa yang harus kita lakukan untuk melepas diri dari batasan-batasan ini? Kita tidak perlu lepas dari batasan-batasan ini. Selama kita tahu dan yakin bahwa batasan-batasan ini diberikan untuk melindungi dan menjaga diri kita. Kita juga wajib menunjukan kepada orang tua kita bahwa batasan ini mampu membantu kita menjadi orang yang benar jika batasan itu merupakan hal yang baik untuk kita. Bagamaina cara kita mengetahui bahwa batasan atau peraturan itu baik untuk diri kita? Pasti kita akan tahu. Lihatlah lebih dalam kepada diri kalian dan kalian akan mendapatkan jawabannya.(Rayhan)

Artikel Hasil Mini Riset Mahasiswa

Libur semester genap telah usai, liburan berdurasi satu bulan lamanya ini banyak dimanfaatkan  Mahasiswa untuk memanfaatkan waktu luang diluar aktivitas akademik, entah untuk melakukan hobi maupun mengerjakan hal yang dapat mendukung pengembangan diri. Sebagai langkah dalam mencari tahu apa saja yang dilakukan mahasiswa pada liburan kali ini, kami anggota Biro Penelitian dan Pengembangan LPM PRIMA mengadakan mini riset guna mengumpulkan respon  beberapa mahasiswa selama menjalani masa libur semester genap yang terhitung cukup lama ini.

Berbekal respon baik dan antusiasme yang disampaikan mahasiswa melalui mini riset dengan menyebarkan formulir untuk mengetahui bagaimana para mahasiswa melewati libur semester genap kali ini menunjukkan bahwa adanya beberapa perbedaan dari kepuasaan yang dirasakan mahasiswa selama menjalani liburannya. Responden yang antusias dan senang menjalani masa liburnya rata-rata banyak mengerjakan hal-hal menyenangkan yang termasuk dalam hobinya, maupun hal menarik yang menguntungkan dan dapat berguna bagi dirinya, sehingga mahasiswa merasa senang dan enjoy dalam menjalani liburannya. Beberapa kegiatan yang mereka lakukan ini juga dapat menjadi rujukan untuk dikerjakan selama masa liburan adalah ber-volunteer, mengikuti magang, kepanitiaan, meningkatkan self improvement secara mandiri, maupun hanya menghabiskan waktu untuk menghibur diri dengan membaca novel, marathon menonton series drama, atau hal lainnya. Berdasarkan jawaban para responden, mereka mengaku bahwa perubahan mood saat liburan mempengaruhi aktifitas yang mereka lakukan, sehingga untuk menikmati masa libur mereka berusaha meningkatkan mood dengan melakukan hal-hal yang disukai.

Sebaliknya, beberapa responden berkomentar bosan dan tidak terlalu menikmati libur semester yang ada diakibatkan karena terlalu lamanya masa liburan. Rata-rata mereka hanya bermalas-malasan atau terpaksa melakukan hal-hal produktif atas perintah sehingga libur semester yang dijalani karena terasa suntuk dan membosankan. Mereka mengaku bingung dan terbatas untuk melakukan sesuatu yang menarik dan produktif saat liburan, terlebih dengan durasi yang cukup lama.

Kesimpulan dari beberapa respon mahasiswa yang diberikan menunjukkan bahwa mahasiswa lebih banyak yang senang mendapat durasi jangka libur yang lama. Hal ini menurut mereka dapat menjadi masa dimana selain untuk membebaskan diri dari serentetan kewajiban akademik kuliah, juga sebagai langkah untuk fokus meningkatkan kemampuan diri secara mandiri. Disisi lain mereka yang merasa suntuk dan bosan memiliki alasan utama bingung dan terbatasnya kegiatan yang hendak mereka lakukan, ini bisa jadi dikarenakan mereka masih belum mengenal diri mereka sendiri, seperti apa yang mereka sukai dan tidak serta hal-hal positif apa yang dapat dikerjakan selama liburan semester.

Jordan Peele, Sutradara Film Horor Terbaik Melalui Film Khasnya Get Out (2017), Us (2019) dan Nope (2022)

Oleh: Elham Aprilian

Traipenmadas 2021

Jordan Peele adalah sosok sutradara yang digadang-gadang sebagai sutradara film horor terbaik sepanjang masa. Peele sendiri dikenal sebagai komedian, aktor, penulis naskah hingga produser Amerika Serikat.

Namanya terkenal ketika film bergenre horor-thriller besutanya, Get Out, yang rilis pada 2017 lalu yang sangat menyita perhatian publik. Kemudian, namanya semakin melambung ketika film keduanya rilis, Us, pada 2019. Hingga 2022 ini, film terbarunya telah ditunggu oleh penikmat film horor di seluruh dunia. Film yang bertajuk Nope yang rilis pada bulan Agustus (jadwal Indonesia) ini.

Ciri khas yang dapat dilihat dari film-film produksinya adalah menggunakan aktor dan aktris berkulit hitam sebagai pemeran utama. Hal ini dianggap sebagai upaya eksistensi para warga kulit hitam yang diketahui telah banyak terjadi kasus diskriminatif dan rasisme di Amerika Serikat. Bukan hanya itu, Peele rajin memasukkan beberapa pesan tersirat penuh makna yang sering kali tidak disadari oleh para penonton.

Peele sebagai sutradara berkulit hitam, ingin memberikan tempat yang pantas bagi orang-orang kulit hitam melalui karya-karyanya. Hal ini jelas diperlihatkan oleh Peele melalui film perdananya dengan tema rasisme yang kental dan tajam, Get Out.

Secara garis besar, Get Out mengisahkan seorang pria kulit hitam, Chris Washington (diperankan oleh Daniel Kaluuya), dengan seorang wanita kulit putih, Rose Armitage (diperankan Allison Willimas).

Kisah ini dimulai ketika Rose mengajak Chris bertemu dengan keluarganya dalam pesta keluarga yang tinggal di pinggiran kota. Acara itu diketahui selalu diselenggarakan di setiap tahunnya. Namun, beberapa kejanggalan yang dirasakan Chris ketika ia berada di rumah Rose hingga membuatnya sadar bahwa ada sesuatu yang salah sedang terjadi. Beberapa orang yang berkulit hitam dalam acara itu yang ia temui tampak seperti orang aneh. Hingga Chris akhirnya menyadari adanya bahaya yang mengancam hidupnya dan ia harus melarikan diri.

Dalam film ini, Jordan Peele mengangkat isu-isu perbudakan orang-orang kulit hitam pada zaman modern. Pasalnya, Chris dan orang kulit hitam lainnya di rumah itu dijadikan sebagai komoditi oleh keluarga Rose untuk kepentingan-kepentingan khusus mereka.

Setelah sukses dengan film pertamanya serta mendapatkan penghargaan Oscars pada 2018 dalam kategori Naskah Skenario Orisinil Terbaik dalam Academy Awards, Jordan Peele mencoba peruntungan di film keduanya yang ia beri tajuk “Us”. Keberhasilan film keduanya ini juga membawa Peele sebagai sutradara film horor yang patut diperhitungkan.

Dalam Us, para pemeran utama adalah para aktor dan aktris yang sebelumnya sama-sama bermain dalam film Black Panther (2018), Lupito Nyong’o dan Winston Duke. Film ini mengisahkan teror yang sadis dan mengerikan tiada hentinya dari seseorang yang mirip dengan “kita”. Dari film ini, para penonton juga mendapat pesan yang cukup tegas di mana pemerintah harus memiliki tanggung jawab penuh dalam proyek yang mereka lakukan.

Ulasan positif dari para penonton dan para kritikus film membuat Jordan Peele semakin terkenal. Ditambah, film ketiganya yang telah rilis pada bulan Juli lalu disambut meriah oleh para penikmat film di seluruh dunia. Nope, film tentang fenomena misterius yang mempengaruhi perilaku hewan dan manusia dengan sentuhan horor-fiksi khas Jordan Peele.

Tentunya film-film seperti ini dapat menjadi referensi para sineas lain dalam memproduksi film-film horor mereka. Alih-alih mengedepankan unsur seram semata tanpa memberikan pesan penuh makna, menjadikan film lebih berkesan, membekas dan menantang untuk diminati adalah salah satu harapan para penikmat film.

Persaingan Film Horor Indonesia Dalam Kancah Internasional

 Oleh: Elham Aprilian

Traipenmadas 2021

Genre film horor masih menjadi pusat perhatian sebagian masyarakat Indonesia. Tak pelak para sineas berlomba-lomba membuat sebuah film yang dapat disukai masyarakat. Perbanyak rombak sana-sini adalah strategi para sineas untuk menyesuaikan cerita dengan perkembangan zaman dan perfilman horor di dunia yang tak melulu soal hantu seram yang ditonjolkan dan kesurupan yang membosankan. Tujuannya agar tak hanya diterima dikalangan masyarakat Indonesia, namun tentunya dunia.

Dengan mengangkat budaya Indonesia yang mempunyai ciri khas, apalagi mitos-mitos yang melegenda di berbagai daerah yang kental akan adat istiadat yang menjadi bagian kehidupan masyarakat, menjadikan film horor Indonesia cukup mampu bersaing.

Tentunya di mata dunia, mitos-mitos masyarakat tradisional dianggap sebagai hal yang unik dan sangat menarik. Budaya yang kental dapat membuat sebuah cerita semakin berwarna ditambah dengan menonjolkan sisi mistis yang menakutkan.

Tak hanya budaya, sama halnya dengan perkembangan perfilman horor dunia saat ini, sentuhan psikologis atau permainan pikiran tak luput ditambahkan sebagai pemanis. Sentuhan itulah yang telah memberikan kesan mengerikan dari pada hanya kekagetan semata.

Kini, seberapa seram sang hantu yang disajikan sudah tidak menjadikan patokan sebuah film agar dapat menghantui penonton di sepanjang pemutaran film. Sebagai gantinya, para sineas dapat menitikberatkan metode psikologis supaya dapat menyuguhkan fenemona mengerikan yang memberikan efek yang tak terduga dan berkesan, serta menancap dipikiran para penonton setelah menontonnya.

Sentuhan psikologis yang dapat mempermanis cerita menjadi tantangan yang penting untuk para sineas. Mereka harus membuat metode yang kuat untuk film mereka. Alih-alih menonjolkan hantu sebagai “bintang” utama, para sineas dapat lebih menonjolkan bagaimana peran utama menyelesaikan masalahnya dengan akhir yang sulit ditebak.

Mengingat perfilman horor 90-an yang mayoritas dibintangi oleh Suzanna, banyak menyuguhkan adegan “berperang” antara hantu dengan manusia. Tak hanya itu, budaya dan mitos-mitos juga turut dimasukkan dalam cerita dan hasilnya pun cukup diminati masyarakat Indonesia pada masa itu.

Namun, berbeda tahun sesudah zaman Suzanna atau tahun antara 2000-2010. Kebanyakan film horor lebih identik dengan adegan vulgar dan cerita yang monoton. Tak hanya itu, hantu-hantu yang disuguhkan pun hanya itu-itu saja, seperti halnya kuntilanak yang hampir ada di setiap film horor Indonesia pada zaman itu.

Sekarang pun para sineas muda mulai berlomba-lomba me-remake film-film jadul menjadi lebih modern. Contohnya Pengabdi Setan yang sebelumnya sudah diproduksi di tahun 90-an kemudian di remake oleh Joko Anwar. Hasilnya pun sangat memuaskan. Masyarakat sangat tertarik walaupun cerita telah diproduksi sebelumnya. Joko Anwar mengemas dengan sentuhan yang modern.

Selain itu, Perempuan Tanah Jahanam besutannya juga sudah wara-wiri di beberapa bioskop dan festival film di luar negeri. Dengan judul internasional Impetigore, masyarakat asing sangat menyukai jalan cerita yang segar, klenik dan tidak melulu soal hantu.

Menurut mereka sebagai masyarakat barat yang minim akan budaya, film yang menambahkan unsur budaya tradisional menjadi daya tarik yang tidak bisa dilewatkan. Hal yang serupa dengan film Bollywood atau India yang kental akan budayanya dan sudah dikenal dunia. Film Indonesia patut mengangkat unsur budaya dan menambahkan sentuhan modern di dalamnya.

Kini, film horor Indonesia sudah mulai dikenal karena mengangkat budaya Tanah Air yang dianggap unik. Unsur-unsur budaya yang dekat dengan masyarakat adalah aset yang dapat dikembangkan dan dipertimbangkan ke mata dunia. Seperti kisah-kisah mitos yang tumbuh di pedesaan yang berkaitan erat dengan adat istiadat dam tatanan sosial masyarakat tradisional. Menjadikan perfilman horor Indonesia dapat berjejer dengan film-film produksi barat.

 

Rumah Sekap Rapunzel

Banyak yang bilang, kampus merupakan miniatur negara. Terdapat beberapa Lembaga seperti eksekutif, legislatif dan yudikatif. Jika di FISIP Lembaga eksekutif adalah BEM, HMJ dan UKM. Sedangkan legislatif adalah BPM dan dekanat adalah presidennya. Pemerintah mempunyai tugas untuk memberikan dan melakukan pemberdayaan pada rakyatnya. Sama dengan mahasiswa, perlunya sebuah pemberdayaan melalui pembangunan kesejahteraan sosial untuk meningkatkan kualitas mahasiswa sendiri guna tercapainya kata ‘sejahtera’.

Pembangunan kesejahteraan sosial adalah usaha yang terencana dan melembaga yang meliputi berbagai bentuk intervensi sosial dalam pelayanan sosial untuk memenuhi kebutuhan manusia, mencegah dan mengatasi masalah sosial, serta memperkuat institusi-institusi sosial (Suharto, 1997). Tujuan pembangunan kesejahteraan sosial adalah untuk meningkatkan kualitas hidup manusia secara menyeluruh. Pada ontologi aliran dualisme, manusia dapat dikatakan sejahtera apabila terdapat keseimbangan. Jika melihat definisi tersebut maka untuk meningkatkan kualitas mahasiswa perlu melakukan pemberdayaan yang seimbang. Pemberdayaan yang seimbang bisa dilakukan dengan cara memberikan koginisi otak untuk meningkatkan skill mahasiswa dan terpenuhinya fasilitas-fasilitas pendukung proses belajar. Fasilitas pendukung haruslah nyaman, aman, dan bersih.  

Banyak hal yang perlu dibenahi menyoal infrastruktur. Namun, melihat kondisi tersebut, apakah mereka tidak melihat sekitar mereka terlebih dahulu? Fakultas yang sehari-harinya kita tempati menjadi ruang belajar kita di kampus. Kebanyakan mahasiswa baru membayangkan kuliah dengan kursi putih serta meja sambung di depannya, gedung bertingkat dan masjid yang melintang serta area taman yang begitu nyaman sebagai tempat bersantai hingga berdiskusi bersama rekan mahasiswa lain. Membayangkan itu saja, ingin sekali menyegerakan memasuki bangku kuliah. Namun, setelah memasuki fakultas betapa mirisnya dan betapa kagetnya mahasiswa baru melihat kondisi yang sebenarnya. Ruang kelas sempit dengan kursi rotan Panjang dan diisi 3-4 orang dan pendingin ruangan yang rusak, taman yang penuh daun dan bangunan kuno, lapangan olahraga yang bolong dan tidak terawat. Apakah sebenarnya fakultas punya keinginan menjadikan tempat belajar seperti rumah penyihir yang digunakan untuk menyekap Rapunzel?

Mahasiswa baru tentunya membayangkan kuliah dengan kursi putih serta meja sambung di depannya, gedung bertingkat dan masjid yang melintang serta area taman yang begitu nyaman sebagai tempat bersantai hingga berdiskusi bersama rekan mahasiswa lain. Membayangkan itu saja, ingin sekali menyegerakan memasuki bangku kuliah. Namun, setelah memasuki fakultas betapa mirisnya dan betapa kagetnya mahasiswa baru melihat kondisi yang sebenarnya. Ruang kelas sempit dengan kursi rotan Panjang dan diisi 3-4 orang dan pendingin ruangan yang rusak, taman yang penuh daun dan bangunan kuno, lapangan olahraga yang bolong dan tidak terawat. Apakah sebenarnya fakultas punya keinginan menjadikan tempat belajar seperti rumah penyihir yang digunakan untuk menyekap Rapunzel?

Jika melihat kondisi fakultas perhari ini sangat jauh dari kata sejahtera dan dirasa belum mampu menyokong kesejahteraan mahasiswa. Jika dianalogikan sebuah negara, fakultas yang kurang akan pelayanan infrastruktur seperti perumahan kumuh yang ada di pinggir bantaran sungai dengan penuh sampah berserakan. Sehingga, negara tersebut merupakan salah satu negara yang masih berkembang karena belum bisa memenuhi kesejahteraan masyarakatnya. Andai aku jadi pemimpin, aku tidak ingin buta akan lingkungan sekitar rakyatku. Aku harus memberikan sebuah pelayanan fasilitas yang memadai untuk kesejahteraan rakyat. Tidak hanya itu, aku tidak ingin rumah yang ditempati rakyat untuk menimba ilmu menjadi rumah yang tidak nyaman dan berbahaya jika ditempati. Aku ingin meningkatkan kualitas masyarakatku dengan didukung oleh fasilitas yang memadai sehingga mereka dapat menimba ilmu dan meningkatkan kualitas diri untuk mewujudkan tujuan negaraku. (Nadia Rifatul Karomah)

(LITERAKSI BEM FISIP X LPM PRIMA FISIP)

Pentingnya Menjaga Kesehatan Mental bagi Mahasiswa

Dewasa ini kesehatan mental mulai mendominasi berbagai macam literatur dan ruang publik. Kesehatan mental merupakan salah satu pembahasan yang mulai mendapat atensi dari berbagai pihak. Begitu disayangkan apabila masih terdapat beberapa kekeliruan terkait pemahaman masyarakat umum mengenai kesehatan mental. Banyak diantara masyarakat yang masih menghubungkan kesehatan mental dengan gangguan kejiwaan. Pemahaman dan pandangan orang awam ini seringkali menjustifikasi makna penting dari kesehatan mental, menjadikan bahasan tersebut sebagai hal yang tabu. Akibatnya mereka yang mengalami gangguan kesehatan mental tidak jarang mendapat diskriminasi dan dianggap aneh untuk kemudian diasingkan.

Kurangnya literasi dan minimnya rasa empati menjadi penyebab terbesar seseorang melabeli gangguan kesehatan mental sebagai hal yang patut dikecam. Kesadaran masyarakat terkait pentingnya kesehatan mental sangat diperlukan. Pada dasarnya, kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik atau jasmani. Bahkan kondisi mental atau psikologis merupakan hal yang krusial bagi setiap orang agar tetap dapat menjalankan fungsi sosialnya dengan baik.

Dilansir dari Iidikti5. Kemendikbud.go.id realita gangguan mental saat ini sering dijumpai pada umur 18-25 tahun. Ditemukan 64,8% mengalami masalah kecemasan dan 61,5% mengalami gejala depresi. Tanda-tanda yang paling sering muncul adalah kecemasan, depresi, gangguan tidur dan nafsu makan, serta gangguan interaksi sosial. Umur yang mendominasi gangguan mental tersebut memiliki keterkaitan dengan mayoritas umur seorang mahasiswa.

Seseorang yang ber-label mahasiswa adalah mereka yang menjalani proses peralihan menuju fase dewasa. Yang mana hal tersebut mampu memicu keterkejutan dan masalah psikologis lainnya. Hal ini tidak lain disebabkan adanya perbedaan kondisi dan tuntutan antara masa Sekolah Menengah Atas (SMA) Dengan Perkuliahan. Keterkejutan ini dapat menimbulkan adanya beragam masalah psikologi seperti krisis emosional yang banyak di jumpai atau biasa disebut quarter life crisis.

Tak jarang mahasiswa yang sedang mengalami gangguan kesehatan mental memilih jalan untuk mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri. Pada tahun 2020 Mahasiswa salah satu perguruan tinggi swasta di Yogyakarta rela mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri. Polisi setempat memberikan penjelasan bahwasannya mahasiswa tersebut mengakhiri hidupnya lantaran depresi pada tugas skripsi yang sedang dijalaninya. Data tersebut menjadi bukti tentang begitu krusialnya seseorang mahasisawa untuk dapat menjaga kesehatan mentalnya.

Tidak hanya, hadirnya pandemi Covid-19 menjadi tantangan baru bagi mahasiswa untuk dapat memperhatikan kesehatan mental. Transisi perkulihan offline menjadi online menjadi hal baru yang begitu rawan dengan mengakibatkan mahasiswa mengalami kegoncangan mental. Akibat dari perubahan yang secara tiba-tiba tersebut, menimbulkan rasa stres pada sebagian mahasiswa. Ditambah lagi dengan terbatasnya aktivitas fisik sehingga menjadi penghalang untuk mahasiswa mengembangkan diri.

Hadirnya gangguan mental tersebut dapat diantusipasi atau diperbaiki dengan memperhatikan beberapa poin penting. Pertama, Lakukan perencanaan yang matang dalam setiap rencana yang akan direalisasikan. Kedua, Membuat skala prioritas dari rencana tujuan yang ingin dicapai. Ketiga, lakukan interaksi dengan orang lain atau meminta bantuan apabila sedang dalam kondisi stress. Keempat, atur kegiatan supaya memiliki waktu istirahat dan waktu untuk diri sendiri. Kelima, Lakukan perencanan step by step beserta pencapainnya agar kegiatan yang yang sedang atau ingin dilakukan tidak menjadi beban. Keenam lakukan konsultasi dengan psikolog atau psikiater sebagai penenang dan pemberi solusi dari permasalahan.

Mahasiswa yang dapat mengatasi permasalahan terkait dengan gangguan mental pada dirinya akan dapat lebih maksimal menjalankan perannya dalam keluarga, lingkungan dan masyarakat luas. Dengan begitu, pentingnya menjaga kesehatan mental menjadi hal yang krusial dan perlu diperhatikan.

 

REFERENSI

https://www.lp3i.ac.id/menjaga-kesehatan-mental-di-tengah-sibuknya-kegiatan-kuliah/

https://feb.ugm.ac.id/id/berita/3542-kesehatan-mental-mahasiswa-di-masa-pandemi

https://news.detik.com/berita-jawa-tengah/d-4880262/diduga-stres-skripsi-mahasiswa-yogya-tewas-bunuh-diri-dalam-kos

Perjalanan Jatuh Bangkitnya Menjadi Seorang Buruh

Berita tentang sejarah mengatakan Hari Buruh atau biasa dikenal dengan istilah May Day muncul di Amerika Serikat sejak abad 19, dimana pada saat itu banyak perusahaan yang memaksa buruh untuk bekerja selama 18 jam dalam sehari. Kegiatan tidak berperikemanusiaan tersebut begitu merugikan kaum buruh. pada 1 Mei 1886 para buruh akhirnya melakukan aksi demonstrasi besar-besaran menuntut agar jam kerja dikurangi menjadi wajar yakni 8 jam per hari. Tidak hanya itu, pemogokan kerja secara masal juga dilakukan bersama dengan anak-anak dan istri mereka. Hasil dari aksi tersebut menghasilkan keputusan pada tanggal 1 Mei Buruh diberikan kemerdekaan untuk tidak bekerja over time dan diperingatinya sebagai Hari Buruh.

Di Indonesia sesuai dengan Undang-Undang Nomor 22 tahun 1957 tentang Penyelesaian Perselisihan Perburuhan mendefinisikan buruh sebagai orang yang bekerja pada majikan dan menerima upah. Posisi buruh sangatlah rendah jika mereka sudah menyandang istilah “Buruh” yakni semua orang yang menerima perintah untuk melaksanakan suatu pekerjaan pada waktu tertentu dengan imbalan berupa uang. Sistem perburuhan pada awalnya sangat mengiurkan banyak orang dengan iming-iming harapan berupa perlindungan kesejahteraan hidup yang menjanjikan. Namun, realitanya berbanding terbalik dengan buruh hanyalah mereka yang ditekan, diperas, dan ditindas sampai usia produktifnya lenyap ditelan perusahaan(Suwignyo, 2012). Berakhir menjadi buruh yang lemah dan menua. Kemudian dibuang seenaknya karena sudah tidak dibutuhkan perusahaan layaknya sampah ampas yang tidak digunakan lagi.

Kondisi tidak layak yang dialami buruh terjadi karena adanya pemikiran seorang pengusaha yang mengangap bahwa buruh tidaklah mempunyai tangunggan beban resiko usaha, seperti persaingan pasar yang tajam, bahan baku mahal, hingga resiko kebangkrutan. Buruh hanya dianggap sebagai mereka yang tidak mempunyai kreatifitas dengan kesehariannya hanya mengerjakan pekerjaan itu-itu saja dan menerima upah ala kadarnya kadang tidak sesuai dengan harapan mereka. Padahal sebuah perusahaan akan mengalami kelumpuhan atau tidak akan bisa melakukan kegiatan produksi tanpa adanya bantuan tenaga dari buruh.

Kemudian ditahun 2020 hingga 2021 menjadi tahun terburuk bagi para buruh utamanya di Indonesia. Krisis perusahaan terjadi akibat guncangan bencana Covid-19 yang memberikan dampak berat bagi buruh, dimana banyak buruh dirumahkan dan tanpa digaji perusahaan. Hal buruk lainnya adalah  dilakukannya pemutusan hubungan kerja (PHK) yang menyebabkan angka pengangguran di Indonesia meningkat drastis. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tingkat pengangguran terbuka (TPT) pada Agustus 2020 sebesar 7,09 persen mengalami peningkatan 1,84 persen dibanding Agustus 2019, dimana penduduk yang bekerja awalanya sebanyak 128,45 juta orang mengalami penurunan sebanyak 0,31 juta orang, dengan penurunan terbesar di sektor industri pengolahan. Data tersebut sejalan dengan terjadinya PHK besar-besaran dilakukan perusahaan dengan dalih untuk mengurangi jumlah tenaga kerja agar perusahaan tetap bisa bertahan dan terus bergerak mempertahankan bisnisnya, karena apabila tidak dikurangi jumlah tenaga kerjanya perusahaan akan gulung tikar di masa pandemi. hal demikian, menjadikan kesejahteraan buruh terombang-ambing ibarat sudah jatuh tertimpa tangga.

Namun, seiring berjalannya waktu dengan adanya bantuan dari pemerintah mengenai percepatan vaksinasi, Pandemi covid-19 sudah berlalu dan ditahun 2022 ini menjadi angin segar bagi para buruh untuk bisa Kembali bangkit. Memulihkan kondisi ekonomi dengan Kembali mencari lapangan kerja baru. Akan tetapi, untuk mengembalikan kondisi ekonomi seperti sebelum Covid-19 bukanlah hal yang mudah dilakukan, dengan menghadapi tantangan perubahan perilaku kerja pasca pandemi para buruh harus bangkit Kembali bekerja seperti sediakala. Dan berdasarkan data BPS tingkat penganguran terbuka mengalami penurunan sebesar 0,81 persen dan penduduk yang bekerja meningkat sebanyak 2,61 juta orang. Hal tersebut menunjukkan bahwa buruh Kembali bangkit setelah ancaman Pemutusan Hubungan kerja (PHK) akibat guncangan pandemi Covid-19.

Selamat Hari Buruh 1 Mei 2022 mari bersama jadikan situasi pandemic untuk lebih berarti sebagai pijakan untuk bekerja lebih keras, terampil dan produktif. (Nora Zilawati)

Referensi

https://www.cnnindonesia.com/nasional/20200501111833-20-499177/buruh-dihimpit-bayang-corona-phk-dan-ancaman-omnibus-law

https://m.antaranews.com/berita/2833409/ksbsi-respon-buruh-pada-pandemi-buat-produktivitas-sulit-meningkat

Suwignyo, A. (2012). Buruh Bergerak: Membangun Kesadaran Kelas. In Persepsi Masyarakat Terhadap Perawatan Ortodontik Yang Dilakukan Oleh Pihak Non Profesional (Vol. 53, Issue 9).

All About UU Tindak Pidana Kekerasan Seksual

Pada tanggal 12 April yang lalu RUU TPKS telah disahkan oleh DPR pada rapat paripurna DPR ke-19 masa persidangan IV tahun sidang 2021-2022. Dengan disahkannya undang-undang ini diharapkan masyarakat Indonesia akan merasa lebih aman dari tindakan kekerasan seksual.

Sebelum kabar gembira ini  datang, RUU TPKS yang awalnya disebut RUU PKS mengalami lika-liku perjalanan yang panjang. RUU PKS ini telah diinisiasi oleh Komnas Perempuan pada tahun 2012 lalu. Hal ini dikarenakan tindakan kekerasan seksual yang tiap tahunnya makin meningkat dan sangat meresahkan masyarakat terutama kaum wanita. Baru pada 2016 DPR dan pemerintah sepakat untuk memasukkan RUU tersebut dalam Program Legislasi Nasional (Prolegnas) Prioritas 2016. RUU PKS ini sangat lambat sekali dalam proses pengesahannya karena banyak menuai pro dan kontra dari berbagai kalangan maupun fraksi partai, sehingga sering mengalami penundaan dalam rapat pembahasannya.

Pada Juli 2020 RUU PKS sempat ditarik dari Prolegnas prioritas oleh Badan Legislasi DPR, menurut DPR usulan penarikan diajukan oleh Komisi VIII sebagai pembahas yang menilai bahwa pembahasan RUU PKS ini sulit dilakukan. Namun tahun berikutnya, RUU PKS dapat masuk kembali dalam daftar Prolegnas Prioritas 2021 yang kemudian terdapat perubahan nama menjadi RUU TPKS (Tindak Pidana Kekerasan Seksual). Pembahasan RUU ini pun tak kunjung selesai sehingga RUU TPKS ini masuk dalam Prolegnas Priorotas 2022.

Dari sepuluh tahun perjalanan RUU TPKS ini baru disahkan pada tanggal 12 April yang lalu. Disahkannya UU TPKS ini adalah hasil perjuangan dari berbagai pihak yang terus mendorong untuk mengesahkannya mulai dari Komnas Perempuan, Asosiasi Pusat Studi Wanita/Gender dan Anak Indonesia hingga para aktivis perempuan agar masyarakat Indonesia dapat merasa aman dan terhindar dari adanya kekerasan seksual.

Adanya UU TPKS ini agar dapat melindungi masyarakat Indonesia dari adanya kekerasan seksual dan dapat memberantas para pelaku kekerasan seksual. Korban kekerasan seksual memiliki hak untuk dilindungi seperti yang tercantum dalam Pasal 22 (1) Hak Korban meliputi: a. hak atas Penanganan; b. hak atas perlindungan; c. hak atas pemulihan. (2) Pemenuhan hak Korban sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan kewajiban negara dan dilaksanakan sesuai dengan kondisi dan kebutuhan Korban. Dengan adanya undang-undang ini maka diharapkan angka kekerasan seksual dapat menurun di Indonesia dan dapat menjadikan Indonesia sebagai negara yang aman dari tindakan kekerasan seksual. ( Bidang Penelitian dan Pengembangan LPM Prima)

 

References

Aditya, N. R. (2022, Februari 24). Perjalanan RUU TPKS, Enam Tahun Terombang-ambing di DPR.. Retrieved from Kompas.com: https://nasional.kompas.com/read/2022/02/24/06373451/perjalanan-ruu-tpks-enam-tahun-terombang-ambing-di-dpr?page=all

Isabela, M. A. (2022, April 13). Apa Itu RUU TPKS? Retrieved from Kompas.com: https://nasional.kompas.com/read/2022/04/13/16200051/apa-itu-ruu-tpks?page=all

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN … TENTANG PENGHAPUSAN KEKERASAN SEKSUAL. (n.d.). Retrieved from dpr.go.id: https://www.dpr.go.id/doksileg/proses2/RJ2-20170201-043128-3029.pdf

Riwayat RUU PKS di DPR: Sarat Kecurigaan, Mengulur Pembahasan. (2020, July 2). Retrieved from CNN Indonesia: https://www.cnnindonesia.com/nasional/20200702090607-32-519880/riwayat-ruu-pks-di-dpr-sarat-kecurigaan-mengulur-pembahasan

Setyawan, H. (2022, April 15). Kilas Balik 10 Tahun Perjalanan UU TPKS. Retrieved from Tempo.co: https://nasional.tempo.co/read/1582527/kilas-balik-10-tahun-perjalanan-uu-tpks/full&view=ok

STIGMA POLITIK BURUK, PENTINGNYA ARGUMENTASI ASAS DEMOKRASI KAMPUS

Pandemi Covid-19 yang terjadi dua tahun belakang ini begitu berdampak terhadap tatanan kehidupan mahasiswa. Aktivitas yang terkait dengan identitas mahasiswa, cara pandang, cara berfikir bahkan ideologi masing-masing mahasiswa juga berubah. Dengan situasi yang serba daring, menjadikan media teknologi sebagai instrumen sehari-hari. Informasi yang masif cenderung membuat mahasiswa bingung dan terbawa arus.  Hal ini berimplikasi pada iklim demokrasi dan stigma mahasiswa terhadap agenda politik kampus. Salah satunya Pemira, stigma buruk mahasiswa terkait Pemira juga menjadi hal yang tak dapat dihindari. Banyak informasi-informasi yang cenderung menggiring mahasiswa untuk menghindari kata “politik”. Hal tersebut berakibat pada antusiasme mahasiswa untuk berpartisipasi pada agenda politik kampus.

Yang terjadi saat ini, mahasiswa mempunyai stigma buruk terhadap agenda politik kampus. Hal ini didasari dengan rasa tidak percaya terhadap agenda politik, dan aktivitas semacam itu. Oknum-oknum yang berkepentingan turut bersuka cita karena hal-hal yang menguntungkan kelompoknya dapat dilakukan dengan mudah. Kecurangan yang dapat dilakukan dalam hal ini adalah oknum-oknum dapat melakukan peretasan dan memanipulasi data-data calon yang dapat mempengaruhi hasil kontestasi tersebut. Disisi lain permainan banyak oknum yang berkepentingan juga memanfaatkan situasi ini untuk menggiring opini yang mengatasnamakan kepentingan mahasiswa. Menggiring opini masyarakat ini dapat dilakukan dengan cara penerapan Black Campaign. Black Campaign ini diterapkan dengan tujuan dapat mendeskriditkan calon lain yang berujung pada sikap apatis. Dengan adanya calon yang mendapatkan label buruk maka calon yang diusung tersebut akan memperoleh suara banyak yang berujung pada  kemenangan. Hal-hal yang demikian ini telah menodai asas-asas demokrasi dan memperkuat Stigma buruk mahasiwa terkait pemira dengan sikap acuh tak acuh.

Evaluasi pada Pemira sebelumnya yang memiliki kondisi yang cenderung sama, menjadikan Pentingnya elemen-elemen Pemira untuk dapat membaca kondisi Pemira pada tahun ini. Elemen-elemen Pemira ini dapat berkontribusi untuk memperbaiki Pemira dengan menanamkan nilai-nilai demokrasi. Seperti halnya dengan memberikan bentuk edukasi lewat propaganda, atau aksi program yang memberikan pemahaman pada mahasiswa mengenai pentingnya politik kampus. Nilai – nilai yang dapat diedukasikan seperti asas-asas Langsung, Umum, Bebas dan Rahasia (LUBER) Jujur dan Adil (JURDIL) adalah nilai-nilai demokrasi yang patut untuk diperhatikan secara cermat. Guna asas-asas demokrasi ini diterapkan agar Pemira dapat terselenggara dengan efektif dan efesien. Jika asas-asas demokrasi dapat tersampaikan dengan baik kepada mahasiswa, maka celah dalam memunculkan stigma buruk mahasiswa dan kegagalan pemira sehat tidak dapat terjadi. Maka pentingnya elemen-elemen dalam berkolaborasi satu sama lain untuk memperbaiki situasi semacam ini menjadi hal yang perlu diperhatikan. (Wilda Aulia)

Refleksi HUT RI Ke 76 “Merdeka atau Mati”

PRIMA, FISIP - Bulan ini adalah bulan dimana biasanya Rakyat Indonesia memperingati hari yang sangat istimewa, yaitu Hari Kemerdekaan Indonesia. Dalam memperingati hari kemerdekaan tahun ini mungkin berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, yang biasanya dipenuhi dengan lomba ataupun parade untuk menyemarakkan peringatan Hari Kemerdekaan, sebab saat ini Indonesia tengah dilanda pandemi covid-19. Karena pandemi yang masih berlangsung sampi saat ini, maka semua rakyat dihimbau untuk tetap melaksanakan protokol kesehatan dan tidak menimbulkan kerumunan.

Walaupun demikian, kita sebagai Rakyat Indonesia harus tetap memperjuangkan Kemerdekaan Indonesia di dalam diri kita. Dalam perjuangan tersebut, kita harus menumbuhkan kesadaran tentang hakikat merdeka yaitu dengan cara:

Melihat secara kritis tentang kondisi yang sedang terjadi di sekitar kita. Contohnya seperti kondisi yang saat ini kita alami yakni melonjaknya kasus covid-19. Kasus covid-19 saat ini meningkat tajam bahkan 7 kali lebih banyak dari data awal sekitar 30 ribu-an. Kita harus berfikir kritis tentang hal tersebut? Apa yang menyebabkan kasus ini semakin naik?Apa yang harus kita lakukan? Mengapa sampai saat ini kasus covid-19 belum juga selesai? Bagaimana cara kita melawan covid-19? Dengan berfikir kritis kita bisa memahami seperti apa kondisi di sekitar kita.

Setelah kita melihat dan berfikir secara kritis, kita harus mampu memberikan solusi dari kondisi/permasalahan yang sedang terjadi disekitar kita. Dengan begitu, kita sudah berperan dalam menyelesaikan permasalahan yang terjadi. Tidak hanya bisa melihat secara kritis dan memberikan solusi, tetapi kita juga harus melaksanakan gagasan yang telah kita sampaikan dalam menperbaiki kondisi sehingga terciptalah kesadaran tentang hakikat merdeka yang sempurna dalam diri kita.

Dalam mengisi kemerdekaan kita juga harus selalu beradaptasi dan berinovasi. Seperti saat ini, kita sedang beradaptasi dengan pandemi covid-19, kita dihimbau untuk selalu menjaga kebersihan dan mematuhi protokol kesehatan dan diharapkan ada inovasi yang ditemukan untuk membebaskan kita dari pandemi covid-19.

Mengingat kutipan Ir. Soekarno yaitu Kemerdekaan hanyalah didapat dan dimiliki oleh bangsa yang jiwanya berkobar-kobar dengan tekad “Merdeka, merdeka atau mati'!"

Dari kutipan Ir. Soekarno tersebut, dapat kita gunakan sebagai cerminan bahwa kita harus memiliki semangat dan tekad yang berkobar-kobar demi Kemerdekaan Indonesia. Bukan lagi “Merdeka atau Mati”, tetapi Merdeka sampai Mati.

Ditulis oleh Adinda Wiji P (Mahasiswa Administrasi Negara 2021)

Eksistensi Tradisi “Serabhien” Pada Masa Modern di Bondowoso

PRIMA FISIP – Menjelang lebaran, lebih tepatnya pada sepuluh hari terakhir ramadhan atau hari ke 21 ramadhan, warga desa Jetis, Bondowoso meyelenggarakan tradisi yang disebut “Serabhien”. Tradisi tersebut dilakukan pada hari ke-21 karena masyarakat setempat percaya jika pada 10 hari terakhir ramadhan atau disebut juga ‘lailatul qadar’ harus lebih memperbanyak ibadah. Salah satu caranya ialah dengan memberi dan membagikan makanan. Serabi dipilih karena serabi merupakan makanan yang dapat diterima oleh semua kalangan masyarakat dan sudah digunakan secara turun-temurun.

Tradisi Serabhien sendiri berasal dari kota Pamekasan, Madura. Dan dibawa menuju pulau Jawa khususnya di Kota Bondowoso, dimana sebagian besar warganya merupakan suku Madura.  Masyarakat Bondowoso sendiri mayoritas merupakan keturunan pendatang dari Madura, sehingga banyak kebudayaan serta kebiasaan masyarakat Madura yang berkembang. Serabi dipilih menjadi objek tradisi karena serabi merupakan makanan ringan tradisional yang disukai oleh seluruh kalangan masyarakat. Namun, tidak semua masyarakat melakukan tradisi ini. Biasanya yang menjalani tradisi serabhien ialah masyarakat pedesaan. Serabi sendiri memiliki sejarahnya. Kata serabi berasal dari bahasa Sunda yang artinya besar. Serabi merupakan makanan tradisional sejak tahun 1923. Asal-usul serabi sendiri banyak yang mengatakan bahwa serabi berasal dari India, serta ada juga yang mengatakan bahwa serabi berasal dari Belanda. Bentuk umum serabi ialah menyerupai pancake dengan ukuran yang lebih kecil dan tebal. Adonan serabi terdiri atas tepung beras atau tepung terigu, mentega, dan telur. Sedangkan cetakan menggunakan cetakan yang dibuat dari tanah liat dan menggunakan tungku. Namun, pada zaman modern seperti ini, penggunakaan cetakan berbahan tanah liat dan tungku sudah jarang terlihat.

Serabi akan dibagikan kepada tetangga, saudara, dan guru ngaji secara gratis. Selain itu, serabi juga akan dibagikan kepada warga sehabis sholat terawih di depan masjid, langgar, ataupun musholla. Serabi yang dibagikan dapat berupa serabi kuah dan serabi kering. Untuk menghindari hilangnya tradisi Serabhien dari masyarakat, pada saat pelaksanaan tradisi ini para tetua dan orang tua akan mengikutsertakan anak-anak kecil dan remaja wanita maupun lelaki. Dengan harapan mereka akan terus membawa tradisi ini sampai mereka dewasa dan mewariskan kepada anak cucu. (Rosa, Mahasiswa Administrasi Negara 2020)

BPM FISIP UNEJ, Pansel tak paham PEMIRA

Tanpa terasa, satu tahun sudah berjalan pasca pesta demokrasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jember (FISIP UNEJ). Melihat pengalaman pertama dalam hidup saya mengikuti pesta demokrasi kampus selama menjadi mahasiswa, ekspektasi dan harapan sayapun meninggi, lalu muncul narasi dari hati saya “saya harus bisa menjadi penggerak demokrasi kritis di kampus”. Demokrasi kritis yang seperti apa ? Demokrasi yang dikemukakan oleh Abraham Lincoln yaitu suatu sistem pemerintahan yang diselenggarakan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Sedangkan kriitis yang saya maksud disini adalah berpikir kritis sebagai landasan terbentuknya demokrasi, berpikir kritis sendiri menurut Walker (2006) adalah suatu proses intelektual dalam pembuatan konsep, mengaplikasikan, menganalisis, mensintesis, dan atau mengevaluasi berbagai informasi yang didapat dari hasil observasi, pengalaman, refleksi, di mana hasil proses ini diguanakan sebagai dasar saat mengambil tindakan. Maka demokrasi kritis yang saya maksudkan adalah suatu sistem miniatur negara FISIP yang diselenggarakan dari, oleh dan untuk mahasiswa yang berlandaskan intelektualitas dalam berbagai hal yang mengusung system pemerintahan tersebut, mulai dari dibentuk, berjalan hingga pertanggungjawabannya.

Namun seiring berjalannya waktu, banyak fakta yang terbentur dengan ekspektasi yang saya bangun. Saya tahu hal itu pasti terjadi, namun tidak pernah terbayang dalam fikiran saya akan bertemu fakta bahwa regenerasi yang ada di miniatur negara FISIP malah menjadi ajang praktik politik praktis oleh beberapa pihak. Berangkat dari fakta-fakta yang saya temukan, muncul niat dalam diri saya untuk bergabung pada alat penggerak demokrasi di FISIP yaitu Komisi Pemilihan Umum Mahasiswa (KPUM) FISIP untuk memperbaiki jalannya demokrasi yang benar-benar terbangun dari, oleh dan untuk mahasiswa dengan landasan berpikir kritis dari mahasiswa FISIP itu sendiri. Hal ini karena, menurut Undang Undang Ikatan Keluarga Mahasiswa FISIP (UU IKM FISIP) No. 1 Tahun 2008 (UU PEMIRA) Pasal 1 Ayat 9 yang berbunyi “ Komisi Pemilihan Umum Mahasiswa selanjutnya disebut KPUM adalah lembaga penyelenggara Pemilu Raya yang bersifat sementara, mandiri dan independent.” maka saya memahami bahwa KPUM menjadi salah satu alat penggerak demokrasi di FISIP melalui penyelenggaraan Pemilu Raya (PEMIRA) FISIP UNEJ.

Sayangnya mengejutkan bagi saya menemukan fakta janggal dalam berjalannya forum KPUM dan Banwaslu yang diadakan oleh Pansel. Beberapa kejanggalan yang saya temukan pada forum pertama kamis, 4 Desember 2020 yaitu Forum KPUM dan Banwaslu setelah terpilih masih dipimpin oleh Pansel sebagai presidium dan forum pertama yang dibuat oleh pansel langsung pada pembentukan kontrak forum dan pemilihan mandataris. Ketika saya mempertanyakan pertanyaan pertama pada otak saya, Pansel menjelaskan bahwa dalam forum ini Pansel hanya bertugas sebagai fasilitator agar forum berjalan dengan baik dan sesuai kebutuhan KPUM maupun Banwaslu.

Akan tetapi seiring berjalannya forum, saya semakin merasa janggal karena ketika saya bertanya mengenai hal-hal substansi dasar forum tersebut seperti “mengapa kita langsung menuju kontrak forum, bukankah forum pembentukan struktural seharusnya terpisah antara KPUM dan Banwaslu?” sesuai dengan UU PEMIRA pasal 7 yang berbunyi “Struktural KPUM dibentuk melalui musyawarah mufakat anggota KPUM” dan pasal 10 yang berbunyi “Struktural Banwaslu dibentuk melalui musyawarah dan mufakat anggota Banwaslu” kita dapat memahami bahwa seharusnya forum pembentukan mandataris sudah masuk pada forum internal masing-masing, baik KPUM maupun Banwaslu. Pertanyaan saya dijawab oleh Pansel bahwa forum akan dipisah setelah pembentukan kontrak forum dengan berkaca pada mekanisme tahun sebelumnya.

Tetapi yang menjadikan kebingungan adalah bukankah kontrak forum yang digunakan untuk pembentukan mandataris sudah masuk dalam susunan langkah pembentukan struktural yang seharusnya tetap ada dalam forum terpisah. Disini saya akhirnya menemukan kekurangan pada produk hukum PEMIRA FISIP yang mengatur mengenai mekanisme pembentukan struktural tersebut. Tetapi yang menjadikan kekecewaan pribadi pada saya, jawaban yang diberikan didampingi dengan penekanan bahwa hal-hal semacam ini memperlama forum dan menghilangkan esensi dari forum itu sendiri yaitu penyusunan kontrak forum dan pembentukan mandataris KPUM dan Banwaslu, seakan pertanyaan yang saya ajukan tidak berhubungan dengan adanya forum tersebut dan saya tidak mempertimbangkan kepentingan bersama.

Tentu pikiran saya memberontak, “loh esensi mengenai kenapa forum langsung memasuki penyusunan kontrak forum dan pembentukan mandataris aja ga dijelaskan!” tetapi saya berusaha diam dan membiarkan peserta forum yang lain untuk mengutarakan pemikirannya. Meski tentu disitu saya merasa diinjak dan dihakimi begitu saja padahal saya berusaha untuk memperjelas agar forum benar-benar menjalankan asas independen dan berintelektual. Tetapi bak kambing hitam, pertanyaan saya dibalik dan dihilangkan esensinya. Tak henti disitu, sebenarnya masih ada beberapa kejanggalan yang saya rasakan yang tidak dapat saya jabarkan satu-persatu.

Melanjutkan pada forum kedua tadi malam (terhitung sejak tulisan ini dibuat) yaitu hari Minggu, 6 Desember 2020 awalnya berjalan dengan tenang dan sudah sesuai kesepakatan pada forum sebelumnya, akan tetapi ada satu penjelasan yang membuat saya bingung yaitu mekanisme ketika Banwaslu menemukan kecurangan, maka Banwaslu akan membuat laporan kepada BPM. Kemudian saya menanyakan aturan hukum yang menjelaskan mekanisme tersebut, karena saya tidak dapat menemukannya. Tetapi lagi-lagi saya disudutkan dengan pernyataan “agar tidak memperlama forum” dan “pertanyaan tersebut tidak cocok dipertanyakan pada forum tersebut” tanpa bertabayyun atau menanyakan alasan saya mengajukan pertanyaan tersebut. Padahal apabila boleh saya menggaris bawahi, pimpinan forumlah yang mempersilahkan saya untuk bertanya bahkan telah mempersilahkan untuk dijawab, tetapi sebelum pertanyaan saya terjawab, salah satu peserta forum izin bertanya (padahal masih dalam pertanyaan saya) tetapi pimpinan sidang mengizinkan. Dimana pertanyaan tersebut beropini bahwa pertanyaan saya keluar dari pembahasan forum, dimana kemudian pimpinan forum dengan labilnya mengiyakan opini tersebut tanpa bertanya terlebih dahulu kepada saya. Hingga akhirnya saya yang merasa dilecehkan dan tidak dihargai tidak dapat menahan diri dan menyatakan walkout dari forum tersebut karena merasa forum sangat tidak sehat dan merasa kecewa atas sikap Pansel terhadap pertanyaan saya untuk kedua kalinya.

Pasca forum selesai, saya kemudian bertanya kepada anggota KPUM yang lain mengenai apa yang terjadi setelah forum, untuk memastikan diri saya tidak tertinggal informasi dan tetap menjalankan kewajiban saya sebagai anggota KPUM. Sayangnya anggota KPUM yang saya tanyai kemudian menjelaskan bahwa, ia telah berusaha menanyakan kelanjutan nasib saya pada forum tersebut, tetapi Pansel menjelaskan bahwa itu adalah hak sepenuhnya dari saya, sehinggapun tidak terucap permintaan maaf ataupun klarifikasi atas terjadinya hal tersebut. Saya juga mendapat informasi dimana sempat ada pertanyaan dari peserta forum mengenai Banwaslu (saya tidak dapat menjelaskan secara spesifik pertanyaan tersebut) tetapi Pansel tidak dapat menjawab pertanyaan tersebut dan malah melemparkan pertanyaan tersebut kepada demisioner Banwaslu yang saat itu tidak dapat hadir. Sehingga disini saya semakin bertanya-tanya, BPM sebagai Pansel disini sebenarnya memahami atau tidak mengenai PEMIRA yang akan dipersiapkan ini?

Selain itu, disini saya semakin merasa intervensi BPM selaku pansel dalam menekan forum KPUM dan Banwaslu untuk segera memulai penyusunan kontrak forum dan pemilihan mandataris KPUM dan Banwaslu menunjukkan seakan hal itu memang menjadi hajat dari Pansel sendiri.. Padahal apabila kita buka kembali pada penjelasan pasal 7, forum pembentukan struktural tersebut adalah berdasarkan asas kebutuhan, tetapi pansel tidak bertanya terlebih dahulu kepada anggota KPUM maupun Banwaslu apakah yang paling dibutuhkan saat itu adalah pembentukan struktural. Tentu disini saya tidak merasakan independensi yang merupakan sifat dasar KPUM. Padahal seharusnya BPM sebagai lembaga tertinggi di miniatur negara FISIP dapat memberikan pendidikan politik secara ideal, namun kenyataannya forum yang mereka contohkan sangat jauh dari kata ideal. Hingga tulisan ini selesai dibuat, belum ada klarifikasi baik resmi maupun secara pribadi yang disampaikan oleh Pansel kepada saya atas apa yang terjadi dalam forum tersebut.

(Dev)

Kecenderungan Mahasiswa, Afektif atau Rasionalitas

“Yuk pilih A soalnya agamanya islam!”

“Yuk vote si B, kan dari Jember juga kaya kita!”

“Pilih C aja deh, yang lain keturunan Cina.”

“Vote yang D yuk, ganteng ketuanya.”

 

Pernah nggak sih mendengar kalimat yang mirip dengan empat contoh di atas? Tanpa kita semua sadari, perilaku memilih berdasar adanya kesamaan dan afeksi yang melibatkan emosi seakan sudah menjadi budaya, menjadi peraturan tidak tertulis yang diterapkan di negara kita entah sejak kapan. Contoh paling besar adalah bagaimana pemilu di Indonesia berlangsung, siapapun kandidatnya, jika kandidat oposisinya merupakan orang yang bukan beragama islam, maka seakan otomatis gagal. Tanpa perlu melihat kompetensi dan pencapaian baik yang telah ia lakukan.

Apabila ada ajang pencarian bakat, maka para peserta akan meminta dukungan dari masyarakat daerahnya, dengan bicara menggunakan bahasa daerah mereka sebagai penunjang. Seperti, “Hai, aku Anisa dari Lombok, warga Lombok, dukung aku ya!”. Tentunya, masyarakat yang merasa memiliki kesamaan daerah dengan si peserta ajang pencarian bakat tersebut akan berlomba-lomba mengirim dukungan. Mirisnya lagi, banyak yang tidak melihat apakah orang tersebut pantas dan cukup kompeten untuk menjadi pemenang dan mendapat banyak dukungan.

“Ah, yang penting orang Lombok jadi juara.”

Hal semacam ini seakan telah tertancap di negara kita cukup lama. Penolakan terhadap ‘sesuatu’ yang dianggap berbeda. Padahal negara kita menganut ideologi Pancasila, dengan Bhinneka Tunggal Ika sebagai semboyan yang menegaskan adanya sifat saling rangkul saat berbeda sekalipun. Perlukah orang yang beragama sama dengan kita mendapat dukungan apabila perilakunya meresahkan dan kontroversial? Perlukah mendepak calon pemimpin yang beragama lain sekalipun yang ia lakukan tegas dan benar? Perlukah menjual ‘kesamaan’ tersebut sebagai syarat untuk mendapatkan dan mencapai sesuatu? Perlukah mengabaikan dan tidak menimbang faktor lain jika sudah melihat kesamaan dengan orang tersebut?

Zaman sudah berevolusi dan yang sama belum tentu selalu baik, belum tentu selalu benar, belum tentu layak untuk terus didukung. Miris rasanya melihat banyak sekali orang menjadi buta dan membela apapun yang menurut mereka ‘sama’ sekalipun banyak kebobrokan pada orang atau kelompok tersebut. Bagaimana negara bisa maju jika yang diagungkan selalu “Yang penting satu RAS dengan kita”? 

Mengenai contoh kalimat terakhir pada kalimat pembuka, masyarakat Indonesia juga cenderung memilih dengan melihat fisik atau cover seseorang. Yang penting yang ia pilih merupakan kandidat yang dianggap memiliki paras yang rupawan, maka ia yang akan mendapat banyak suara. Contoh seperti ini masih sering saya temukan di kalangan remaja seumuran saya sendiri sejujurnya.

Menurut saya pribadi sebagai penulis, tidak masalah jika ingin mendukung individu atau kelompok berdasarkan adanya kesamaan atau melibatkan afeksi. Namun tetap, pertimbangannya tidak boleh hanya karena poin tersebut saja. Kita sebagai generasi muda penerus bangsa harusnya dapat memihak yang benar, yang baik, yang kompeten, bukan hanya yang sama dengan kita, atau memiliki fisik sesuai dengan ‘tipe ideal’ kita. Toh apa masalahnya jika memilih yang berbeda? Yang penting kan tujuannya baik dan membawa kita pada sebuah kemajuan. Bukannya kemunduran moral. Yang memiliki fisik rupawan juga belum tentu akan menciptakan sebuah perubahan. Karakteristik yang masuk pada istilah kompeten seperti di atas maksudnya dapat dilihat dari bagaimana prestasi akademik maupun non akademik calon, sifat dan perilakunya pada orang lain, visi misi dan keahliannya dalam bidang yang ia pilih, dan sebagainya. Beberapa hal yang tadi disebutkan masuk dalam faktor yang rasional.

Memperhatikan bagaimana sistem demokrasi yang ada di Indonesia, pada dasarnya manusia melakukan sesuatu berdasar pada sesuatu yang dinamakan ‘akal’. Rasionalitas bertumpu pada adanya akal sehat. Bukannya mahasiswa seharusnya selalu menggunakan akal fikiran dalam melakukan setiap tindakannya? Namun dalam situasi demokrasi saat ini di dalam masyarakat, khususnya lingkungan mahasiswa yaitu kampus, kebanyakan mahasiswa masih membuat keputusan atau bertindak diluar akal rasional. Masih banyak mahasiswa yang saya sendiri perhatikan membuat keputusan berdasar afeksi atau perasaan, berdasar adanya kesamaan dan melibatkan emosi. Dari sini sudah dapat dilihat bahwa generasi ‘sekarang’ juga masih mengabaikan pentingnya penggunaan rasionalitas dalam menentukan sebuah pilihan. Sering terjadi di lingkungan mahasiswa seakan telah menjadi sebuah budaya untuk dilakukan pada tiap rentang waktu.

Untuk menciptakan sistem demokrasi yang mengutamakan rasionalitas di kalangan masyarakat, khususnya mahasiswa, dibutuhkan adanya kesadaran pada diri mahasiswa masing-masing. Berkaca pada perilakunya dan memperbaiki diri apabila selama ini termasuk sering menggunakan afeksi dalam membuat sebuah keputusan. Mahasiswa yang seharusnya menjunjung tinggi rasionalitas dalam akademik semestinya mengutamakan akal fikirannya daripada berpacu pada adanya kesamaan atau emosi yang jatuhnya jauh dari rasionalitas. Dalam PEMIRA kali ini, saya mengajak para pembaca untuk menunjukkan sisi rasional dalam dirinya untuk menentukan pilihan nanti supaya calon yang terpilih merupakan mahasiswa yang kompeten, baik, berdedikasi tinggi, berprestasi, dan menguasai bidangnya seperti semestinya.

Penulis : Alrounesya